Prenote:
I'll be back either by the end of the year or in the first half of 2018. ID LINE: earlydecember, let's connect! See you, loves 💕💋
A sequel of Love Unconditionally
LOVE FAITHFULLY
by goodgalriri
Chapter 3: String of Fate
Baekhyun kira ia bisa berlalu pergi setelah pamit undur diri pada lelaki di sebelahnya, namun apa yang diperkirakan tidak semulus kenyataan. Baru selangkah ia berbalik, suara baritone itu berucap penuh penekanan.
"Tunggu. Bisa kita bicara sebentar?"
Baekhyun berhenti namun ia tidak ingin berlama-lama, maka dengan jelas ia menolak dengan alasan, "Tidak bisa. Aku sudah ada janji"
Kemudian melanjutkan langkah dengan lebar sebelum lengannya ditahan, membuat tubuhnya sedikit memutar ke belakang.
"Please.." ucap lelaki yang kini memegangnya memohon.
"Jangan sentuh—"
"Kenapa semalam kau menghindar dariku? Apa ada hubungannya dengan ingatanku yang hilang karena kecelakaan itu? Sebelumnya ada hubungan apa diantara kita, Baekhyun?" Chanyeol menyela dengan mengajukan pertanyaan secara bertubi-tubi yang berhasil membuat wanita dalam genggamannya bungkam seketika.
Waktu terasa berjalan begitu lambat dengan Chanyeol masih menahannya sembari melempar tatapan intens menanti jawaban. Baekhyun tidak menyangka lelaki dihadapannya ini akan menyinggung masa lalu yang ia kira sudah terlupakan— musnah tak bersisa bersama ingatannya yang hilang akibat cidera pasca kecelakaan 1,5 tahun yang lalu.
Tapi untuk apa pula Chanyeol bertanya? Baekhyun pikir tidak ada pengaruhnya sekarang, toh mereka sudah menjalani hidup masing-masing. Chanyeol menikahi Seohyun, Baekhyun menjalin hubungan dengan Sehun. Penjelasan tidak akan berarti apa-apa, tidak mampu merubah apa yang sudah terjadi. Daripada berkata yang tidak perlu maka lebih baik berkilah.
"Bukan urusanmu," jawab Baekhyun akhirnya, "dan diantara kita tidak pernah ada apapun. Sekarang lepaskan—"
"Liar," Chanyeol menggeram pelan. Baekhyun menelan ludah, merasakan cengkraman di lengannya lebih erat dari sebelumnya.
"Kau pikir aku sebodoh itu untuk tidak menyadari kalau kau sedang berbohong? Apa salahnya memberitahuku yang sebenarnya —"
"Tidak ada gunanya memberitahumu karena itu tidak akan merubah keadaan, Chanyeol" kali ini Baekhyun menyela, tidak ingin terlihat lemah seperti malam sebelumnya.
Chanyeol terdiam, meresapi perkataan Baekhyun yang memang ada benarnya. Tapi kembali lagi ke sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya saat berhadapan dengan Baekhyun atau hanya dengan mengingat kehadiran Baekhyun dalam mimpinya. Rasanya masih ada satu hal yang belum selesai, sayangnya ia sendiri tidak tahu itu apa.
Selagi Chanyeol larut dalam pemikirannya, Baekhyun memanfaatkan kesempatan itu untuk melepaskan diri lalu meninggalkan Chanyeol yang masih mematung di tempat.
"Ingatanku mulai kembali.." Chanyeol bergumam pelan, entah apa maksudnya mengutarakan hal itu. Namun telinga Baekhyun masih mampu menangkap getar suara lelaki di belakangnya.
Baekhyun menghentikan langkah, kedua tangan terkepal erat. Kenapa Chanyeol terdengar seperti membutuhkan pertolongan, seberapa penting baginya ingatan yang hilang itu sampai ia sedikit memaksa Baekhyun untuk memberitahu yang sebenarnya.
Baekhyun hampir saja luluh, ingin berbalik dan bertanya apa yang terlintas dibenaknya. Namun ia menahan keinginan itu. Percuma, batinnya miris. Sebelum benar-benar pergi Baekhyun berujar,
"Benarkah? Kalau begitu ku harap aku tidak akan muncul dalam ingatanmu"
~L.F~
Sehun baru saja selesai menangani seorang pasien yang datang untuk berkonsultasi kemudian melirik jam tangannya, sudah memasuki jam makan siang. Ia lepas jas putihnya lalu menyampirkannya di sandaran kursi, berniat mengunjungi cafetaria rumah sakit untuk membeli makanan.
Si dokter muda hampir terlonjak ketika membuka pintu ruang prakteknya dan langsung berhadapan dalam jarak dekat dengan—Oh? Bukankah dia perempuan yang diruangan dr. Bae tadi pagi?
"Hai, dokter Oh," sapanya disusul tawa ringan karena sempat menangkap ekspresi kaget lelaki tampan dihadapannya.
"Ngg—hai..?" sahut Sehun ragu.
"Aku Suzy. Mau makan siang bersamaku tidak?"
"Ha?" Sehun melongo. Gadis ini. Baru saja berkenalan kenapa tidak ada rasa sungkan mengajak makan orang asing?
"Baiklah, kalau begitu ayo ikut aku. Aku tahu restoran yang menyediakan menu favorit disekitar sini. Kuberitahu jangan coba makan di cafetaria rumah sakit karena makanannya tidak enak. Sebagai perkenalan maka kali ini aku yang traktir, okay?" Tanpa menunggu persetujuan dari sang dokter, Suzy dengan seenaknya menarik tangan Sehun.
"T-tunggu nona! Tapi—"
"Aku tidak suka penolakan dokter Oh—" Suzy berhenti sebentar hanya untuk menanggapi Sehun, "—dan panggil aku Suzy"
Kemudian ia kembali menyeret Sehun untuk ikut dengannya. Sehun pun pasrah dan tidak bisa menolak, gadis ini begitu pemaksa. Selain itu mana mungkin ia tidak menerima ajakan putri kepala rumah sakit tempatnya bekerja—terlepas dari apapun niat dan tujuannya, Sehun tidak punya pilihan.
Suzy membawa Sehun ke sebuah restoran yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumah sakit, jadi mereka hanya perlu berjalan kaki untuk sampai ke sana.
"Kudengar kau baru pindah dari Busan ya?" tanya Suzy disela waktu saat mereka menunggu pesanan datang.
"Ya, aku baru dipindahtugaskan dari Busan ke Seoul"
"Bagaimana rasanya bekerja di Severance?"
"Ini masih hari pertamaku, jadi aku masih belum terbiasa. Tapi staff dan perawat yang kutemui menyambutku dengan baik, kurasa hanya perlu waktu untuk penyesuaian"
Obrolan mereka pun berlanjut, lebih ke Suzy yang banyak bertanya atau memulai kembali percakapan sementara Sehun hanya menjawab dan menyahut seadanya. Namun karena merasa tidak enak, kali ini Sehun yang bertanya.
"Kalau boleh tahu, kau masih kuliah atau..?"
"Fresh-graduated" jawab Suzy singkat.
"Hmm, jurusan dari almamater?"
"Fashion design Universitas Yokohama"
"Oh, jadi kau baru kembali dari Jepang?"
"Ya begitulah.."
Tadinya Sehun ingin bertanya lebih jauh lagi, tapi nampaknya Suzy terlihat enggan dan tidak tertarik untuk membahas mengenai dirinya sendiri. Setelah menyantap makan siang, Suzy berniat mengantar Sehun kembali ke rumah sakit. Namun saat hendak meninggalkan restoran ponsel Suzy yang tergeletak di atas meja bergetar, panggilan masuk.
"Maaf, bisa tunggu aku sebentar? Aku harus menjawab panggilan ini" pinta Suzy setelah melihat caller ID di layar ponselnya.
"Ya, silahkan"
"Terima kasih," Suzy sedikit berpaling dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya, "もしもし.."
Sehun sedikit penasaran mendengar Suzy berbicara tidak dalam bahasa Korea dengan seseorang di seberang sana.
"ねお母さん ... 大丈夫, 大丈夫 ... ちょうど昼食を食べました, 今薬を飲みます... わかった, でも そんなに心配しないで, 私は体に気をつける... 病院にお父さんを訪れ, あまり話をしません, 彼は忙しかった... はい... "
Percakapan pun berakhir, Suzy memasukan ponselnya ke dalam tas lalu tersenyum menghadap Sehun.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit"
Sebenarnya Sehun ingin bilang tak masalah kalau Suzy tidak mengantarnya, tapi lagi-lagi ia merasa sungkan, berbeda dengan Suzy yang tidak malu berjalan berdampingan sambil memeluk lengan Sehun meski mereka sudah berada di rumah sakit dimana beberapa perawat mengenali keduanya dan menyapa mereka saat bepapasan.
"Bae Suzy!"
Mendengar namanya dipanggil, Suzy menoleh dan mendapati sang ayah—dr. Bae melangkah cepat menghampiri dengan raut wajah khawatir.
"Masih disini kau rupanya. Kenapa tadi tidak langsung pulang? Appa menghubungimu dari tadi tapi—dr. Oh?" dr. Bae tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena terheran melihat putrinya bersama Sehun.
"Aku baru selesai makan siang bersama dr. Oh, appa" jelas Suzy.
"Ya sudah lebih baik kau pulang. Jangan mampir kemana-mana. Kau harus jaga kondisimu, Suzy. Besok jadwalmu tera—"
"Appa cerewet sekali. Baiklah aku pulang sekarang. Terima kasih dokter Oh, sampai bertemu lagi," Suzy melenggang pergi begitu saja sebelum Sehun membalas ucapan terima kasihnya.
Dokter Bae menghela nafas melihat tingkah putrinya lalu beralih ke Sehun, "Terima kasih dokter Oh sudah menjaga Suzy. Saya khawatir terjadi sesuatu karena ketika saya hubungi ke rumah pelayan bilang ia belum pulang. Anak itu memang susah diberitahu, harusnya ia jangan banyak beraktifitas di luar dan beristirahat di rumah," keluh dokter Bae.
"Justru saya yang harusnya berterima kasih pada Suzy dan maaf dokter Bae, saya tidak tahu kalau putri anda harus segera pulang, setidaknya saya bisa menolak ajakannya tadi"
"Bukan salah anda, Suzy memang anak yang keras kepala. Maaf sudah merepotkanmu dokter Oh, silahkan kembali bekerja"
"Baik,"
Kemudian dokter Bae kembali ke ruangannya, meninggalkan Sehun yang tertegun, sedikit mempertanyakan perilaku protektif sang kepala rumah sakit pada putrinya.
~L.F~
.
.
.
Sudah beberapa minggu berlalu sejak pertemuan terakhirnya dengan Chanyeol dan selama itu pula Baekhyun masih dibayangi oleh kalimat terakhir Chanyeol sebelum ia meninggalkan lelaki itu di bandara. Apakah benar ingatan Chanyeol mulai kembali? Jika memang begitu adakah kemungkinan ia akan mengingat hubungan yang telah mereka lakukan Busan 1,5 tahun yang lalu?
"Apa kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat dan lemas akhir-akhir ini"
Sehun menghampiri kekasihnya yang sedang duduk di balkon sambil membawakan dua mug teh hangat, satu untuknya dan satu lagi diberikan ke Baekhyun.
"Terima kasih," Baekhyun menerimanya lalu menangkup mug itu dengan kedua tangan untuk menghangatkan telapak tangannya yang dingin karena cukup lama berada di luar pada malam hari.
"Aku baik-baik saja, mungkin dampak siklus menstrualku yang tidak teratur"
Disamping keresahannya tentang Chanyeol yang terkadang menyita pikiran, yang Baekhyun jawab memang ada benarnya. Nyeri yang ia anggap sebagai kram beberapa waktu lalu jadi sering ia rasakan, belum lagi jadwal datang bulannya yang tidak teratur itu kadang melebihi jangka waktu normal.
"Periksakan ke dokter ginekologi jika mulai mengkhawatirkan" Sehun duduk disebelah Baekhyun lalu merangkulnya untuk mendekat.
"Tidak perlu, paling hanya sementara," Baekhyun bersandar ke dada kiri Sehun yang bidang, "Ngomong-ngomong apa Suzy masih menemuimu?"
Karena tidak ingin ada yang disembunyikan dari hubungan mereka, maka Sehun bercerita tentang Suzy yang kerap kali datang mengunjunginya di rumah sakit pada Baekhyun. Sehun sadar gadis itu memiliki ketertarikan khusus kepadanya, namun ia berusaha tidak menanggapinya dengan serius, walaupun sulit baginya untuk menolak mengingat Suzy adalah anak dari kepala rumah sakit tempat ia bekerja.
"Beberapa hari ini tidak, tapi biasanya dia akan datang lagi,"
"Kurasa dia memang menyukaimu" ucap Baekhyun ringan, ia tidak mempermasalahkannya karena yakin Sehun bisa menjaga perasaannya.
"Aku tahu. Oh ya besok kau jadi memenuhi panggilan interview?" Sehun mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas hal itu saat quality time mereka.
"Hm-m, di perusahaan furniture yang kuceritakan padamu waktu itu"
"Baiklah besok aku akan mengantarmu dulu sebelum ke rumah sakit. Kalau sekiranya prospek kerja disana tidak begitu bagus lebih baik tidak usah dilanjutkan, oke?"
"Iyaa," Baekhyun tersenyum, merasakan ketidakrelaan Sehun yang sepertinya masih keberatan kalau ia bekerja.
Kemudian mereka tidak melanjutkan pembicaraan, menikmati keheningan sambil sesekali menyesap teh hingga Sehun mengajak Baekhyun masuk sembari menggandeng tangannya.
~L.F~
Seohyun menyadarinya.
Bagaimana belakangan ini Chanyeol menjadi lebih pendiam dan sering melamun di berbagai kesempatan kecuali di lingkungan kantor dimana sang suami selalu bersikap profesional jika dihadapkan dengan pekerjaan. Seohyun mengira-ngira apa alasan dibalik perubahan sikap suaminya itu.
Jika mengenai perusahaan, ia rasa Park Inc. sedang berada dalam posisi stabil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan mengenai kelangsungannya. Kondisi keluarga mereka pun biasa-biasa saja, tidak ada konflik serius atau apa. Setiap kali Seohyun bertanya Chanyeol selalu tertutup dan terkesan menjaga jarak.
Namun hari itu Seohyun merasa perlu mengambil tindakan. Bersamaan dengan mengantar laporan ke ruangan Chanyeol, ia akan coba membahasnya.
"Ini laporan dari divisi logistik mengenai analisa kebutuhan serta rencana pengadaan perabotan baru kantor kita. Tinggal menunggu konfirmasi darimu maka undangan tender akan disebarkan besok pada beberapa perusahaan furnitureyang memenuhi spesifikasi seperti yang terlampir dalam dokumen," Seohyun meletakan map hitam diatas meja kerja Chanyeol.
"Hn, terima kasih, akan kuteliti lebih dulu. Tolong sampaikan pada bagian logistik hasil validasinya akan kukabari nanti sore"
"Baiklah. Tapi bisa aku minta waktumu sebentar?"
Chanyeol yang tadinya terfokus pada layar monitor iMacnya kini beralih mendengar ucapan Seohyun, "Ada yang ingin kau bicarakan?"
"Ya, ini tentangmu"
Chanyeol mengernyit, menunggu Seohyun melanjutkan.
"Berhentilah mengganggapku sebagai orang lain dalam kehidupanmu, Chanyeol" Seohyun memulai.
"Maksudmu?"
"Jangan kau kira aku tidak cukup peka untuk menyadari tingkahmu yang tidak seperti biasanya"
Chanyeol mulai paham arah pembicaraan ini membatin, am I that obvious?, "Aku sedang tidak ingin membahasnya disini. Kita bicarakan nanti di ru—"
"See? Kau masih tetap menghindar. Aku berusaha menjalani peranku sebaik mungkin sebagai istri di rumah maupun sebagai sekretarismu di kantor. Tapi sesulit itukah mempercayaiku setelah 1 tahun lebih kita menjalani hidup bersama? Kenapa kau tidak pernah terbuka dan bercerita apapun padaku?"
Merasakan tensi Seohyun mulai naik, Chanyeol bangkit dari kursinya "Aku bisa mengatasinya sendiri dan jangan sangkut-pautkan urusan rumah tangga dengan masalah pribadiku"
Seohyun berdecak, "Kenapa kau selalu seperti ini? Aku sudah berbesar hati menerima segala keputusanmu karena kau suamiku. Kau tidak ingin berhubungan denganku karena tidak mau memiliki anak dulu hingga si kembar sudah cukup besar, aku terima. Kemudian kau menundanya lagi dengan segala kesibukan kerja, aku pun bersabar. Jika kau belum menginginkanku untuk memuaskanmu secara batin, maka untuk saat ini setidaknya biarkan aku membantu dan menjadi istri yang berguna sekali saja" kini nadanya terkesan memohon.
Chanyeol tidak menyahut lagi, menatap Seohyun dalam diam sambil menimbang-nimbang apakah akan menyinggung perasaan sang istri jika menanyakan hal yang mengganjalnya akhir-akhir ini? Tapi toh Seohyun yang memaksa, Chanyeol menarik nafas sebelum mengucapkan satu nama,
"Baekhyun,"
Raut wajah Seohyun seketika berubah mendengar nama itu keluar dari mulut Chanyeol.
"Apa kau mengenalnya?"
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan wanita itu?"
Melihat respon yang tidak menyenangkan dari Seohyun, Chanyeol memilih untuk tidak meneruskan, "Lupakan saja"
"Jawab dulu pertanyaanku!" tanpa sadar Seohyun sedikit membentak, ia sudah terlanjur panik dan marah mengetahui alasan dibalik perubahan sikap suaminya adalah karena satu wanita yang bahkan menyebut namanya saja ia tidak sudi. Lalu ia teringat pertemuannya dengan dokter Lim saat ia menemani Chanyeol untuk berkonsultasi beberapa waktu lalu.
Apa jangan-jangan dia sudah mulai mengingat semuanya...
"Aku tidak bisa memberitahu. Memang tidak seharusnya aku menanyakan hal ini padamu, maaf jika membuatmu tersinggung. Sekarang bisa tinggalkan ruanganku? Aku harus memeriksa laporan ini" Chanyeol mengakhiri pembicaran dengan mengusir Seohyun secara halus.
Sementara Seohyun menahan kekesalan karena usahanya untuk menggali informasi pun gagal, sekeras apapun ia memaksa Chanyeol malah menarik diri semakin jauh dan sekarang keadaan diperburuk dengan munculnya nama itu. Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Seohyun keluar lalu memasuki ruangannya sembari membanting pintu.
"Sialan!" umpatnya penuh emosi.
Sebegitu pentingnya kah sampai Chanyeol memikirkannya berhari-hari? Seohyun tidak mengira prosesnya akan secepat ini, bagaimana kalau ingatan Chanyeol bisa pulih sepenuhnya? Ia nyaris kalap namun nalarnya lebih dulu menguasai, tunggu dulu.. harusnya ia tidak perlu panik.
Chanyeol sudah menjadi suami sahnya. Kalaupun ingatannya benar-benar kembali, Chanyeol tidak akan setega itu untuk menceraikannya bukan? Lagipula Baekhyun berada di Busan sana jadi tidak akan ada kemungkinan mereka akan bertemu lagi.
Kemudian Seohyun menyeringai, terkekeh pelan hingga akhirnya tertawa keras seperti kehilangan akal sehat. Kalaupun kemungkinan terburuk terjadi—sekali lagi ia tegaskan—Seohyun akan mempertahankan Chanyeol untuk tetap berada di sisinya.
~L.F~
Menjadi salah satu brand furniture ternama dengan berbagai produknya yang sudah di ekspor ke berbagai negara, bangunan Curve&Line Co. berdiri kokoh bersanding dengan main office perusahaan-perusahaan besar di kawasan bisnis Seoul.
Baekhyun kini berada di bagian HRD yang terletak di lantai 5 bangunan, sedang duduk dengan kedua tangan berpangku pada kedua pahanya sembari menanti namanya dipanggil setelah pelamar sebelumnya keluar dari ruang interview. Ia menjadi yang paling terakhir diwawancara.
Begitu salah satu staff yang berjaga diluar menyuruhnya masuk, Baekhyun menarik nafas dalam-dalam lalu menggeser pintu, dihadapkan dengan 4 orang yang terdiri dari interviewer HRD maupun user, 3 diantaranya wajah yang baru Baekhyun lihat namun tidak dengan wanita yang duduk di paling pinggir sana.
Hyojin?
Sementara Hyojin tersenyum, seakan sudah tahu sebelumnya bahwa ia akan menjadi interviewer Baekhyun. Kemudian sesi wawancara dimulai dari staff HRD dan dilanjutkan oleh user yang salah satunya adalah Hyojin. Interiew berlangsung lancar, Baekhyun dapat memberikan jawaban yang sesuai serta dengan pertanyaan yang diajukan.
Setelah diberitahu untuk menunggu hasil test wawancara sebagai tanda berakhirnya interview, Baekhyun bersalaman dengan keempat staff tadi. Saat tiba gilirannya berhadapan dengan Hyojin, wanita itu berucap sambil menjabat tangan Baekhyun dengan yakin,
"Sampai bertemu lagi, Baekhyun-ssi"
~L.F~
Siang itu Suzy kembali mengunjungi Sehun setelah beberapa hari tidak muncul. Namun hari ini gadis itu terlihat berbeda, ia nampak tidak sehat dalam balutan turtleneck dilapisi mantel.
"Hai, Sehun!" sapanya dengan senyuman lebar, merasa sudah lebih akrab karena intensitas pertemuan mereka, kini ia sudah memanggil Sehun langsung menggunakan nama.
"Hai," balas si dokter muda lalu melihat keadaan Suzy, "Kau... baik?"
"Aku baik," sahutnya kemudian memeluk lengan Sehun seperti biasa, "Ayo kita makan bersama lagi. Aku sudah menyiapkan sesuatu"
"Baiklah,"
Sehun hanya menurut dan mengikuti Suzy yang ternyata membawanya ke taman kota. Suzy menuntun Sehun menuju ke sebuah pohon teduh dimana sudah tersedia kain alas beserta keranjang makanan. Cuaca siang itu tidak terlalu panas dan sedikit berangin, cukup mendukung untuk melakukan kegiatan outdoor.
"Ku harap kau tidak keberatan kita akan makan di area terbuka seperti ini,"
"Tidak masalah "
Suzy tersenyum, mulai mengeluarkan beberapa wadah makan dan membukanya satu persatu, "Apa sushi oke? Aku tidak bisa memasak selain menu makanan Jepang"
"Kau yang membuat ini semua?"
"Iya, kenapa kau heran begitu? Kau pikir aku tidak bisa?"
"Siapa bilang? Aku hanya terkesan"
"Aku yakin masakanku tidak kalah enak dengan buatan pacarmu itu" tantang Suzy.
"Oh ya? Aku jadi tidak sabar ingin mencoba—hei, hidungmu kenapa?" perdebatan mereka terhenti, Sehun terkesiap melihat cairan berwarna merah pekat perlahan turun dari lubang hidung Suzy.
Refleks gadis itu menghentikan aktifitas dan langsung menyentuhkan jemari ke bagian bawah hidungnya, merasakan rembesan cairan itu menetes sampai menodai turtleneck putih yang ia kenakan.
"Sudah kuduga kau memang sedang tidak sehat," Sehun mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya, menggantikan tangan Suzy untuk menyumbat aliran darah, "Ayo kuantar kembali ke rumah sakit"
"Ini hanya mimisan biasa. Nanti juga berhenti sendiri"
"Mimisan merupakan gejala berbagai jenis penyakit, pembuluh darah pecah bukanlah pertanda baik. Apalagi ini bukan disebabkan oleh trauma fisik, kau harus ditangani"
"Sudah kubilang tidak—akh.." Suzy merintih pelan, sakit yang sedari tadi sebenarnya ia rasakan kini sudah tidak tertahankan lagi, membuatnya tergeletak dengan posisi meringkuk.
"Suzy!" Sehun langsung mendekati Suzy yang setengah sadar lalu memeriksa denyut nadinya sambil menepuk pelan pipinya berulang kali, menjaganya agar tetap sadar.
"Kau masih mendengarku? Mana yang sakit?"
Suzy tidak sanggup menjawab, rasa sakit luar biasa itu lebih dulu mengambil alih kesadarannya.
~L.F~
Baekhyun dengan tergesa menekan passcode apartemen, melempar tasnya ke sembarang arah selagi melewati ruang tamu lalu merangsek masuk ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya akibat rasa mual yang datang tiba-tiba. Saat berada dalam lift tadi kepalanya mulai diserang pusing disertai gejolak aneh dalam perutnya.
Dengan kedua lutut yang gemetar, Baekhyun berpegangan pada pinggiram wastafel sembari mengatur nafas. Kemudian ia menyalakan keran, menangkupkan tangannya dibawah aliran air lalu berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa pahit di dalam mulut akibat cairan lambung yang naik. Padahal ia tidak pernah memiliki riwayat penyakit pencernaan kronis atau semacamnya.
Terakhir kali ia merasa seperti ini yaitu ketika—
Tidak mungkin aku hamil lagi kan..?
Baekhyun mengenyahkan prasangka itu mengingat ia tidak pernah melakukan apapun dengan Sehun. Mungkin ini memang gangguan pencernaan, pikir Baekhyun.
Tidak lama setelah keluar dari kamar mandi, sayup-sayup Baekhyun mendengar dering ponsel dari dalam tasnya. Ia keluarkan benda pipih itu lalu mengangkat panggilannya.
"Ya, Hun?"
"Baek, kau sudah pulang?"
"Baru saja sampai, ada apa?"
"Uhm.. sepertinya hari ini aku akan pulang terlambat. Ada pasien yang harus kutangani secara intensif"
"Oh, begitu. Ya sudah, selamat bekerja. Jangan lupa makan malam. Pulangnya hati-hati,"
"Ya. Terima kasih dan... maafkan aku,"
"Sehun, ini bukan pertama kalinya kau pulang terlambat. Tidak perlu minta maaf, aku mengerti" ucap Baekhyun maklum.
"Baiklah.. sudah dulu ya"
"Hm,"
Pip. Sambungan terputus, seandainya Baekhyun tahu maksud permintaan maaf Sehun yang sebenarnya.
~L.U~
.
.
.
.
3 hari kemudian Baekhyun menerima panggilan dari Curve&Line yang mengabarkan bahwa dirinya diterima sebagai staf departemen marketing dan public relation dan sudah mulai bekerja keesokan harinya. Sesampainya di kantor, Baekhyun diminta menemui manajer MPR diruangannya.
"Hai, Baekhyun. Kita bertemu lagi," sambut si manajer yang tidak lain adalah Hyojin.
Baekhyun melangkah mendekati meja kerja Hyojin, "Selamat datang di departemen MPR Curve&Line" lalu mereka berjabatan tangan.
"Terima kasih,"
Hyojin mempersilahkan Baekhyun, "Sejujurnya, ekspektasiku cukup besar padamu, Baekhyun. Selain pengalaman dan skill yang kau miliki, riwayat pekerjaanmu turut menjadi bahan pertimbangan karena saat ini, kami baru menerima undangan tender dari perusahaanmu terdahulu dan aku secara pribadi merasa diuntungkan dengan bergabungnya kau disini,"
"Perusahaanku terdahulu? M-maksudmu—"
Oh tidak..
"Yup, Park Inc.," Hyojin terdengar antusias, "—dan aku ingin kau menjadi bagian dari tender ini"
.
.
.
To be continued..
A/N
Terima kasih untuk yang masih bersedia mengikuti LF serta feedback positif yang sudah diberikan. Maaf banyak typo. Berikan masukan jika kalian merasa perlu untuk perbaikan saya maupun fic ini. Salam, Riri.
