Previously, in chapter 28... Mantan Tres Espada bertemu dengan wanita yang menggantikan posisinya. / Apa yang akan dilakukan Akatsuki? / Seperti apa rencana Espada di "medan perang"?
.
Past, Present, and Future
Chapter 29: The Biggest Thief of Life
[Present Time: December 1, 1974]
.
Hari ini.
Zaragoza, 1 Desember 1974.
Embrujo Avenida 305.
.
"Kau melihatnya?"
"Aku melihatnya."
"Di mana perempuan itu?"
"Berdiri dekat pintu bersama tiga polisi laki-laki."
"Awasi terus."
"Barusan ada pramusaji masuk lewat pintu itu."
Diam sejenak di kedua ujung alat komunikasi itu.
"Perundingan untuk penandatanganan pakta pengembangan nuklir ini akan dilanjutkan setelah istirahat selama lima belas menit..." terdengar suara bernada resmi di podium. Beberapa orang berpakaian formal bangkit dari kursi sambil meregangkan tubuh lalu mencari toilet, sementara yang lain tetap berbincang sambil mengudap kue yang dibawa masuk ke ruang pertemuan.
"Dia tetap di sana?" Suara di seberang sana berbunyi di telinga.
"..."
"Hei! Jawab aku!"
"Eh... Dia sudah pergi."
Suara geram yang kasar. "Kejar dia."
"Baik."
Pria itu berjalan ke arah pintu, sepasang netra mengawasi sekeliling. Dan dia bukan satu-satunya yang berbuat demikian dalam ruangan berkapasitas kursi seratus orang itu.
.
.
Sepanjang hari itu saraf Nelliel Tu Odelschwanck tegang. Dia sudah mengarang-ngarang alasan terkait bandar narkoba yang dulu—penjelasan kenapa Pesche dan Dondochakka tidak pulang semalam—supaya Konan tidak curiga, dan dia bilang bahwa malam ini dia ada kerja lembur. Nelliel tidak akan memunculkan diri di depan Konan sebelum besok pagi—semoga ia masih bisa menjumpai hari esok!
Dan malam itu, sebelum pukul sepuluh, Nelliel sudah berada di alamat yang dimaksud. Lengkap dengan seragam polisi dan embel-embelnya—dia datang ke tempat itu memang dengan izin resmi kapolda Zaragoza. Di Embrujo Avenida 305 malam itu, digelar perundingan tentang teknologi nuklir antara kepala negara Spanyol dengan sebuah organisasi independen Rusia.
Raja Spanyol, Francisco Franco, didampingi dua pengawal kerajaan di dalam ruangan. Direktur organisasi Rusia yang bersangkutan, Yhwach, dikawal dua bodyguard. Sementara di tiap pintu juga ada dua penjaga dari istana kerajaan Spanyol selain personil polda Zaragoza dan kepolisian pusat Madrid. Di luar gedung, penjaga ada di mana-mana.
Gedung pertemuan yang sekaligus hotel itu memiliki dua tempat parkir: halaman luas di muka gedung, dan basement yang sedang direnovasi di bawah lantai satu. Perundingan itu sendiri digelar di lantai dua, dan kamar-kamar tamu ada di lantai dua atau tiga.
Ini pertama kalinya Nelliel bisa melihat orang nomor satu sedataran Spanyol itu, meskipun dalam kesempatan aneh seperti ini. Tapi tegangnya sarafnya bukan secara langsung berhubungan dengan para Espada yang sengaja memintanya datang ke sini sendirian.
Penyebab itu adalah Perenna, rekan polwan di kantor. Dan kebenaran menyakitkan yang disampaikannya. Serta kenyataan bahwa dia benar-benar sendirian di tempat ini.
Tidak ada yang mau memberinya pertolongan—karena keputusannya sendiri.
Dan barusan si pramusaji, seorang anak muda bertubuh kecil, melewatinya di pintu dan berbisik dalam bahasa Jepang,
"Turun ke basement sekarang."
Dan Nelliel tahu, akhir dirinya sudah dekat.
.
.
Dua belas tahun yang lalu.
Castellon de la Plana, Spanyol bagian barat, November 1962.
.
Gin Ichimaru merasa lelah. Dalam sebulan terakhir ini, dia mengurusi banyak sekali jiwa-jiwa yang agak tak beres.
Dan hari itu, cobaan yang paling keras datang menghantamnya, karena gadis yang diincar Sousuke Aizen untuk direkrut ternyata benar-benar memakan umpannya dan memutuskan untuk bunuh diri—
—terjun bebas dari tebing di pinggir laut.
Tim darurat yang dibentuk Ichimaru melakukan beberapa trik dan berhasil membawanya keluar dari laut. Sungguh mukjizat gadis itu tidak mati, hanya rusuknya retak sedikit dan dia histeris begitu bangun.
Dalam beberapa hari, masalahnya akan beres, demikian pikir Ichimaru waktu itu.
Tapi rencananya membentur halangan di sana-sini. Gadis itu seorang penganut agama yang taat, dan sulit sekali mengubah keyakinannya. Ichimaru mulai merasa salah strategi dalam menjebak gadis itu—dengan mengorek-ngorek fakta sang ayah yang korupsi dan sang ibu yang selingkuh dengan pejabat, lalu menyebarkannya—rupanya itu sangat mengguncangkan batin si gadis yang bernama lengkap Nelliel Tu Odelschwanck.
"Kenapa... kenapa kau... menyelamatkanku?" ujar Nelliel setelah agak tenang.
"Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya membantu hatimu menemukan jalannya." Ichimaru berhenti sebentar. "Jauh di dalam hatimu, sebetulnya kau belum ingin mati. Kau masih mau hidup, tapi sadar bahwa hidupmu tak berguna lagi. Kau sedang bimbang di antara dua jalan: hidup dengan kekosongan dan penyesalan, atau mati."
Gadis itu membenci ayah dan ibunya.
"Hidupmu bahagia. Kenapa kau mau membuang nyawamu gara-gara hal memalukan yang dilakukan orang lain?"
"Aku hanya tidak berpikir..."
"Tentu saja tidak. Kau bahkan tidak berpikir saat melempar asbak itu ke kepala si pendeta, bukan?"
Kecelakaan kecil yang tak disengaja di rumah seorang hamba Tuhan yang berniat membantu, membuat Nelliel merasa tak ada harapan lagi baginya untuk hidup.
"Aku bisa membuat hidupmu berharga kembali," Ichimaru berujar.
Nelliel menatapnya, pandangan setengah fokus. "Hmm..."
"Banyak orang di dunia ini," Ichimaru meneruskan, "adalah sampah masyarakat. Tapi hanya sedikit yang mengetahui kebenaran itu. Kedua orang tuamu, mereka adalah sampah. Kau setuju kalau orang-orang semacam itu disingkirkan, bukan?"
Dengan bantuan sedikit opiat—getah buah opium, sebangsa morfin—lebih banyak kesabaran, dan banyak sekali waktu... sebelum pertengahan tahun berikutnya Ichimaru akhirnya berhasil mengendalikan benak Nelliel dan menyetirnya sedemikian rupa.
"Kau sudah diangkat dari hidup yang sia-sia kepada kesempatan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Akankah kau ambil kesempatan ini?"
"Ya."
"Termasuk, bila cara ini menuntut tindakan-tindakan di luar peraturan?"
"Peraturan hanya lambang bahwa manusia berbeda dari binatang. Tapi yang ada di dalamnya, semua sama saja."
Fase selanjutnya adalah porsi Kaname Tousen. Nelliel yang telah berhasil dipengaruhi, dilatih fisiknya untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian-ujian. Pertarungan pedang, gulat tangan kosong, menembak sasaran, dan beberapa uji daya tahan individu.
Sekarang Gin Ichimaru punya banyak waktu senggang. Tugasnya dalam rekrutmen perdana Espada sudah selesai, dan kini dia menikmati menonton beberapa pertarungan antara orang-orang yang pernah masuk ruang konselingnya.
Dia nyaris terbahak menyaksikan betapa Nelliel, yang mengkombinasikan jurus karate dalam pertarungan pedang, mengalahkan anak angkat Aizen yang kecil-kecil cabe rawit hanya dalam setengah menit dan berjalan dengan dagu terangkat, meninggalkan anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu tertegun di arena, mencengkeram tangannya yang sepertinya dibuat patah oleh Nelliel.
"Gadis yang tangguh," gumamnya pada Aizen yang juga menonton. "Ulquiorra bisa mengalahkan pria dewasa sedari tadi. Tapi dia kalah oleh seorang gadis remaja."
Aizen mengulum senyum. "Kita lihat ujian lainnya nanti."
Selama menjadi mitra kerja Aizen dan teman setianya sejak usia belia, pria berambut keperakan itu belum pernah merasakan kepuasan sebesar ini. Dia bisa mengeksplorasi bakat sugestivitasnya dan membuktikan bahwa dirinya bisa menguasai jiwa orang lain.
Di waktu-waktu yang lampau, tak banyak yang menghargai bakat gelapnya itu, termasuk orang-orang yang sama kejinya di Gestapo—kepolisian rahasia Nazi. Gin Ichimaru hanya bertahan setahun dalam Gestapo, selebihnya ia memilih mengundurkan diri sebelum ditendang ke luar; banyak prinsip mereka yang tidak sesuai dengan pemikiran pria Jepang itu, dan saat itu Aizen juga sedang memerlukan bantuannya untuk bisa keluar dari tanah airnya. Kekacauan ini terjadi tahun 1945, dan Ichimaru bersyukur dirinya tidak berakhir di perang dunia kedua sebagai koloni Hitler—dan di sinilah, di Spanyol, dirinya sekarang, membantu Aizen mewujudkan organisasi kriminalnya yang ideal, bersama seorang kawan Aizen lainnya yang buta sejak lahir, Kaname Tousen.
Hal yang paling sulit adalah tahap setelah ujian-ujian itu: Bagaimana membuat agen yang tanpa-ikatan. Tak punya kehidupan apapun di luar sana yang bisa mempengaruhi profesionalitas, dan tak punya tempat untuk kembali suatu saat.
Aizen tidak mau punya agen yang terikat dengan masa lalunya. Karena itu, demi kebaikan si agen sendiri, keluarga harus disingkirkan.
Beberapa agen memilih menghabisi sendiri perkara itu, dan yang masih agak labil tidak dibebani oleh Ichimaru; melainkan, misi itu dilimpahkan pada agen lain yang berkenan melenyapkan orang yang tak dikenal. Tidak semua cara penyingkiran ini dengan pembunuhan.
Nelliel, tentu saja, tidak melakukan apa-apa untuk itu. Ayahnya masuk penjara untuk waktu yang tidak sebentar dan ibunya melarikan diri ke luar negeri. Keluarga mereka berantakan seperti periuk tanah liat yang pecah; sia-sia untuk dipersatukan kembali.
Tahap terakhir dalam rekrutmen jauh lebih mudah. Penentuan peringkat.
.
.
Sebelas tahun yang lalu.
Las Noches, Madrid, akhir 1963.
.
"Antara Tres dan Cuatro terbentang jarak yang terlalu lebar," ujar Ichimaru.
Sousuke Aizen bersama dua bawahannya sedang mengadakan rapat.
"Ujian-ujian itu sifatnya relatif," bantah Tousen. "Menurutku, begini sudah yang terbaik."
"Tapi… Peringkat-peringkat ini, apa sudah pasti?"
"Sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu, Gin," sela Aizen.
"Ah, Aizen-sama. Saya hanya berpikiran, kalau peringkat ini akan ditato di tubuh mereka, tentunya peringkat itu jadi permanen. Lalu bagaimana," Ichimaru berdeham, "jika ada sesuatu yang terjadi dan salah satu anggota... gugur? Maksud saya bukan... tewas dalam misi." Ia memandangi Aizen penuh arti.
"Kita cari orang lain," jawab Aizen tegas. "Yang kemampuannya setara. Dan ya, aku tahu yang kau pikirkan. Tapi itu hampir pasti tak akan terjadi." Dia tersenyum dingin pada sang psikolog. "Bukankah begitu, Gin?"
"Benar, Aizen-sama. Tentang keadaan psikis mereka, memang sudah beres," sahut Ichimaru. "Empat orang ini memang sudah dibelokkan dari keyakinan mereka semula. Tapi tentang profesionalisme—"
"Hal itu bisa dilatih," potong Tousen. "Tidak semuanya dari kesepuluh calon itu yang betul-betul mahir. Beberapa masih perlu diajari. Bocah itu misalnya."
"Ah, ya. Tentang anak itu. Anda yakin akan menjadikannya salah satu agen, Aizen-sama?" ujar Ichimaru.
"Bagaimana tidak? Dia punya potensi luar biasa dan dia sendiri menginginkan hal ini," sahut Aizen.
Ichimaru menanggapi, "Kalau sampai sesuatu terjadi padanya..."
"Tidak, aku cukup yakin Ulquiorra mampu menjaga dirinya," ujar Aizen. "Jika ia memang layak menjadi putraku, dia akan bertahan pada tahun pertama."
"Dan jika ternyata tidak?" Kali ini Tousen menanyainya.
"Kuharap hal itu tidak akan terjadi, tapi... kupikir aku akan mempertimbangkan orang lain untuk menjadi ahli warisku." Meski begitu, Aizen tampak tidak menyukai gagasan satu ini.
Ichimaru dan Tousen terdiam.
"Kalian tahu, aku berharap banyak pada anak itu. Dan aku bisa melihat bahwa dia mampu."
Wajah Aizen sangat serius, dan Ichimaru memang tidak menyangsikan hal itu jika melihat kejiwaan Ulquiorra saat ini. Tapi psikologi adalah ilmu yang rumit karena manusia berubah setiap saat. Menurutnya tetap berbahaya menempatkan putra angkat Aizen sebagai agen. Bukan hanya bagi Ulquiorra sendiri, tapi juga langsung pada Aizen. Tapi Ichimaru menyimpan semua ini dalam pikirannya.
"Lantas, mengenai nomor tujuh, delapan, dan sembilan, mereka ini hanya mengurus lab?" Ichimaru melanjutkan topik utama mereka.
"Harus ada orang-orang di litbang, bukan?" ujar Tousen. "Kalau fraccion saja, tidak cukup. Perlu orang yang lebih berpendidikan tapi juga mengerti situasi yang diminta."
Ichimaru mengalah.
"Jadi," ujar Aizen, "bacakan, Gin."
"Begini urutan yang pasti:
"Peringkat tertinggi adalah Cero, yaitu Yammy Llargo, usia dua puluh lima. Buronan Italia yang menjadi pelaku pembunuhan berantai di Venesia, enam kali masuk penjara dan tujuh kali meloloskan diri dari polisi—yang ketujuh, dia baru digiring ke penjara.
"Peringkat kedua, Primera, Starrk Coyote, dua puluh satu. Pengangguran sejak usia dua puluh dan melakukan delapan belas pembunuhan dengan cara sniping di Cuenca dan sekitarnya tanpa ketahuan. Jasanya disewa oleh bermacam orang.
"Segunda, adalah tuan rumah—"
"Pemilik sahnya, tapi bukan tuannya," gumam Tousen.
"—Las Noches. Barragan Louisenbarn, lima puluh sembilan. Ya, kau betul. Surat-surat rumah adalah atas namanya. Seorang mantan tentara, ikut terjun dalam Perang Dunia Pertama. Sedikit trauma akibat perang dan pernah menjadi tawanan di Eropa Timur.
"Tres, satu-satunya perempuan, Nelliel Tu Odelschwanck. Enam belas tahun, asal Castellon de la Plana, mengalami guncangan dan depresi sampai nyaris bunuh diri. Meguasai kendo dan-2 dan karate sabuk hitam.
"Cuatro, Ulquiorra Chifer. Sebelas tahun. Anak panti asuhan Sevilla, awalnya cacat kornea namun secara kebetulan berhasil melenyapkan teman serumahnya yang menyebalkan. Kelak menjadi pewaris Aizen Sousuke."
"Sebetulnya, dia masih terlalu kecil," gumam Tousen. "Anda benar-benar yakin tentang ini, Aizen-sama?"
"Tanpa ragu," sahut Aizen.
Ichimaru melanjutkan.
"Quinta, Nnoitra Gilga. Sembilan belas. Penjudi dan pemeras. Pernah bergabung dengan rombongan sirkus keliling dengan atraksi cemeti dan belati. Domisili di Madrid.
"Sexta, Luppi Antenor, dua belas, asal Coslada. Punya ingatan fotografis. Jago anggar dan kenjutsu.
"Septimo, Zommari Leroux, asal Lourdes, Perancis. Dua puluh empat. Apoteker yang terlibat bentrokan kelompok rasis dengan rombongan gipsi pengelana.
"Octavo, Szayel-Apporro Grantz. Sembilan belas tahun. Dikeluarkan dari sekolah kedokteran karena malpraktik. Pernah ditahan atas tuduhan mutilasi. Dari Valencia.
"Noveno, Aaroniero Arruruerie, dua puluh. Dari Santa Cruz, keturunan Jepang. Dulunya ilmuwan badan intel Jepang namun dikeluarkan karena kesalahan fatal dalam penelitian."
Aizen mengatupkan tangannya di atas meja. Dia memandangi kedua rekan—yang sekarang jadi bawahannya—itu. "Tato hari ini?"
"Ya, sudah disiapkan, Aizen-sama," sahut Tousen.
"Mengenai fraccion..." cetus Ichimaru.
"Barragan butuh pelayan," ujar Tousen. "Nelliel, Nnoitra, dan Luppi perlu pembantu dalam misi, lalu Szayel-Apporro perlu beberapa pekerja litbang."
"Yang lain?"
"Untuk sekarang, sepertinya mereka belum memerlukan fraccion. Tapi fraccion mudah direkrut."
.
.
Empat orang yang 'dibelokkan' oleh Ichimaru adalah Nelliel, Ulquiorra, Luppi, dan Zommari. 'Cuci otak', istilah yang lebih kasar. Dua yang masih anak-anak, memang perlu didoktrinasi karena belum memiliki keyakinan sendiri. Nelliel dan Zommari, tadinya termasuk kategori orang-orang 'lurus'.
Yang lain-lain sudah punya otak kriminal dan pikiran yang memang menyimpang dari hukum, jadi prosedur yang dijalankan Ichimaru terhadap mereka berbeda.
Lain lagi untuk Szayel dan Aaroniero. Keduanya hanya bisa didekati dari sisi ilmiah yang membuat Ichimaru sampai pusing mengurusnya. Mereka berdua jenius, sama-sama menginginkan sesuatu yang sistematis dan sempurna, dan penolakan yang mereka alami sepertinya agak mengguncang jiwa mereka.
Ilmuwan memang manusia yang rumit.
.
.
Aizen menghendaki sepuluh orang sebagai agen utamanya. Dari sekian puluh orang yang lolos, ia menguji orang-orang yang dianggapnya paling berpotensi dengan serangkaian tes, salah satunya pertarungan pedang. Di luar sepuluh orang itu, Aizen menjadikan mereka sebagai fraccion. Ichimaru dan Tousen-lah yang menentukan siapa menjadi bawahan siapa.
Meskipun pada awal rekrutmen puluhan orang itu dikelompokkan berdasarkan bidang keahlian, setelah Aizen memilih sepuluh Espada ia menguji mereka kembali dan menetapkan peringkat-peringkat itu dengan berbagai pertimbangan.
Assassin antara lain Yammy, Barragan, dan Nnoitra. Starrk adalah satu-satunya sniper. Spy yakni Nelliel, Ulquiorra, dan Luppi. Zommari bersama Szayel dan Aaroniero termasuk scientist. Pembagian kerja ini nantinya berubah setelah beberapa tahun terutama untuk misi istimewa, tapi di tahun-tahun pertama hal ini memang membawa gengsi tersendiri bagi Espada tingkat atas.
Pada tahun berikutnya, Ulquiorra dilatih untuk menjadi assassin dan Zommari diikutsertakan dalam misi mata-mata. Nelliel dan Luppi tidak mendapat tugas tambahan karena alasan tertentu.
Ichimaru memandang bahwa Nelliel tidak mungkin diberi tugas sebagai assassin; pria itu tidak yakin dampak apa yang akan terjadi karena tampaknya gadis itu belum mampu menerima kenyataan bahwa dirinya pernah membunuh orang. Sedangkan Luppi, semata-mata karena kecerobohannya. Hal satu itu tidak bisa hilang dari dirinya dan Ichimaru tidak mau mempertaruhkan misi penting hanya gara-gara agen termuda kedua itu.
Nelliel dimasukkan dalam sepuluh agen utama karena kemampuan bela dirinya. Usia tidak terlalu berpengaruh, namun sebenarnya inilah alasan peringkatnya berada di atas Ulquiorra atau Luppi. Tadinya Nnoitra akan dijadikan Tres, namun ia tidak bisa mengalahkan Nelliel dalam pertarungan dengan tangan kosong dan ia kalah dari Ulquiorra dalam uji ketangkasan menembak. Sedangkan Luppi, selain karena juga hebat dalam bela diri, ia punya ingatan fotografis. Sekali dia melihat sesuatu atau seseorang, gambaran itu tidak akan dilupakannya; akurasi ingatannya seperti foto.
Nnoitra tidak terlalu suka ditempatkan di Nomor Lima. Oke-oke saja jika seniornya adalah orang yang usianya lebih tua, tapi ini? Dengan si bocah Ulquiorra satu angka di atasnya? Apalagi dirinya dikalahkan oleh perempuan.
Barragan juga tidak suka dijadikan Nomor Dua. Tapi karena Yammy dan Starrk bukan tipe orang yang suka pamer peringkat, hal itu tidak terlalu dipermasalahkannya.
Aizen sudah meminta Ichimaru dan Tousen untuk mengawasi keempat orang yang disebutkannya tadi secara ketat. Melaporkan setiap ada perubahan sikap dan perilaku.
.
.
Individualisme secara tidak langsung menjadi bagian dari keyakinan masing-masing Espada. Meskipun, tidak semuanya serta-merta demikian. Beberapa Espada lebih suka menjadi soliter, misalnya Starrk dan Barragan yang memang tak perlu banyak berinteraksi dengan Espada tingkat bawah berhubung mereka punya tempat tinggal sendiri. Atau Nelliel yang memang berbeda gender dengan yang lain. Atau Aaronierro yang misterius dan selalu memakai topeng putih ke mana-mana.
Nnoitra sangat cepat merasa cocok dengan Szayel, karena keduanya sama-sama suka mengkritik orang.
Yammy dekat dengan Ulquiorra lewat cara yang aneh; ketika masih anak-anak, Ulquiorra tampak sangat mengagumi Yammy dan sebaliknya si Cero Espada menghargainya karena pesatnya perkembangannya. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan mereka tetap begitu-begitu saja. Setidaknya Yammy tidak pernah merendahkan Ulquiorra meski ia memang sering mengerjainya tanpa orangnya paham.
Luppi, yang cukup mengherankan, sangat dekat dengan Zommari. Ingatan anak itu sangat berguna bagi si apoteker dalam mengarsip obat-obatannya, dan Zommari suka saat seseorang cepat mengingat nama-nama obat seperti yang Luppi lakukan. Dan anak itu rupanya juga punya minat dalam bidang semacam itu. Zommari sendiri sangat perhatian pada anak itu, apalagi setelah mengetahui bahwa ternyata Luppi mengidap penyakit genetik bernama hemofilia—dan menyarankan supaya Luppi menghindari membawa-bawa senjata tajam dalam misinya.
Tewasnya Luppi sulit untuk diterima Zommari; tapi, sebagai Espada ia tahu hal itu tidak benar. Luppi hanya rekannya yang bernasib sial, dan ia kini punya tugas untuk menelusuri siapa pembunuh Luppi selain mencari jejak Nelliel.
Masuknya Harribel dalam Espada di tahun yang sama tidak bisa tidak membawa kembali memorinya di Perancis bersama wanita itu—atas usulan Zommari-lah Harribel dicalonkan. Dan ternyata wanita itu menduduki tempat ketiga menggantikan Nelliel. Pada awalnya ia bertingkah seperti tidak mengenal Zommari setelah direkrut; tapi Zommari ingin Harribel mengakui dirinya, bahwa wanita itu masih mengingatnya dan segala yang mereka jalani bersama di Perancis dulu—tapi Aizen dan Ichimaru tidak pernah membiarkan hal ini terjadi.
Dan dua tahun setelahnya, terjadi peristiwa yang penting. Tuan Aizen mengundang Zommari ke ruangannya, memberinya kabar mengejutkan, serta memintanya bersumpah. Karena hari itu, Ulquiorra Chifer ditemukan pingsan di rumahnya—dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi. Zommari diminta mengurusinya dan menjaga agar hal itu tetap menjadi rahasia—dan ia akhirnya tahu status Ulquiorra yang sebenarnya.
Sejak hari itu, Zommari menjadi pengawas bagi kesehatan anak angkat Aizen itu—dan ia jadi jauh lebih membenci tuannya dari yang sudah-sudah.
Mengapa?
Karena hari itu Aizen sendirilah yang mencari Ulquiorra di rumahnya; si Cuatro seharusnya melakukan misi di pagi harinya, dan rupanya dia tidak berangkat.
Aizen bukannya khawatir; ia malah marah pada Ulquiorra karena melalaikan misinya—untuk pertama kalinya. Meski Yammy yang cepat tanggap langsung menggantikan Ulquiorra dalam misi itu sehingga klien mereka tetap terpuaskan.
Dan apa yang dikatakan Aizen mengenainya saat Zommari mengutarakan diabetes itu?
"Ulquiorra tidak ada gunanya jika penyakit itu membelenggunya."
Aizen bahkan tidak cemas pada penyakit itu sendiri—ia hanya memikirkan apa jadinya jika Ulquiorra tidak bisa diberi misi sebebas dahulu.
Gila. Ayah macam apa dia itu? Sepertinya akan lebih baik jika Ulquiorra tidak diangkatnya sebagai anak!
Dengan adanya masalah Ulquiorra dan kesulitan lepas dari masa lalunya bersama Harribel, Zommari menjadi pencetak rekor Espada yang paling sering datang ke ruang hukuman Ichimaru.
.
.
Selain Harribel dan ketiga fraccion-nya, satu anggota baru yang direkrut setelah insiden di Amakusa adalah Grimmjow Jaegerjaques.
Pada rekrutmen kedua ini, Ichimaru tidak perlu terlalu bersusah payah. Dari Zommari yang merekomendasikan, dia tahu banyak latar belakang si gadis gipsi; jiwanya memang pemberontak dan mau menghalalkan apapun demi sesuatu yang dianggapnya benar. Ketiga gadis yang mengikutinya—Mila-Rose, Apache, dan Sun-sun—setuju saja pada apapun prinsip Harribel, dan dengan demikian Ichimaru menjadikan mereka fraccion tanpa banyak repot.
Sementara Grimmjow, kebetulan diingat oleh Kaname Tousen yang pernah merekrut orang di daerah Coslada, selatan Madrid. Ditelusurinya jejak pemuda itu, yang rupanya dua tahun sebelumnya sempat masuk lembaga pemasyarakatan didampingi psikiater lantaran sedikit kelainan jiwa yang membuatnya menikmati melukai orang sampai mati. Rehabilitasi yang diterimanya berhasil membebaskannya dari hukuman kurung, tapi jiwa psycho itu tetap ada dalam dirinya. Yang perlu dilakukan Ichimaru hanyalah menekan tombol yang tepat.
.
.
Gin Ichimaru punya kebiasaan aneh sejak Espada dibentuk.
Karena ia memiliki data pribadi setiap Espada, ia tahu tanggal ulang tahun mereka masing-masing. Dan dia selalu memberi kado secara spesial tanpa diketahui yang bersangkutan. Masing-masing Espada hanya mendapati kado itu tergeletak di samping tempat tidur saat mereka bangun pagi harinya.
Beberapa, seperti Nelliel dan Szayel, tidak menyukai cara Ichimaru seperti itu meski lebih tidak menyukai isi kadonya. Pelanggaran privasi! Seenaknya saja masuk ke kamar orang sementara pemiliknya tidur!
Isi kado itu sendiri bervariasi. Cerita ini biasanya dibawa oleh Nnoitra dan Szayel yang memang suka menjelek-jelekkan orang. Kadang isinya adalah hewan hidup—kodok atau kelabang, misalnya—atau bangkai hewan. Pernah telur busuk. Pernah awetan bola mata—entah dari mana dia bisa mendapatkannya! Intinya, isi kado itu selalu mengagetkan, dan sejak tahun kedua para Espada belajar untuk membuang kado itu tanpa membukanya.
Ichimaru tersinggung dan ia berhenti memberi kado. Ulquiorra yang berulang tahun di bulan Desember adalah sasaran terakhirnya di tahun 1965.
Tapi dari reaksi-reaksi mereka berkaitan dengan kado anehnya, Ichimaru belajar banyak hal.
Ia tahu ada yang salah dalam diri Nelliel. Ia punya dugaan bahwa gadis itu akan berbalik melawan Aizen suatu saat.
Meski begitu, Ichimaru menyimpan hal itu untuk dirinya sendiri. Ia bertaruh. Kalau ia memang berhasil, maka Nelliel akan bertahan dalam Espada. Kalau ia gagal...
Maka kemampuan sugestinya masih harus dipoles. Begitu saja.
Ketika akhirnya dia tahu dirinya gagal dengan terjadinya insiden Amakusa, Ichimaru membongkar lemarinya dan membaca kembali semua literatur dan dokumentasi selama perekrutan pertama. Mencari tahu letak kekurangannya.
Perekrutan kedua berjalan mulus dan lima tahun sudah berlalu sejak saat itu. Dalam perekrutan yang ketiga, dia tidak boleh gagal lagi. Tahun 1974, Aizen kembali membuka kesempatan masuknya anggota baru—meski belum satupun anggota inti Espada gugur. Tapi Kisame Hoshigaki akan direkrut bukan untuk dijadikan seorang fraccion. Lalu?
Perlu untuk sedikit menengok sejarah. Dari keempat orang yang dibelokkan secara ekstrem dalam perekrutan pertama, tersisa dua yang masih bertahan. Dari fakta yang ada, Nelliel dikeluarkan dari Espada karena masalah nurani. Luppi mati karena tidak berhati-hati dan seenaknya sendiri—penyebab utama kematiannya adalah kehabisan darah, dan itu pasti berhubungan dengan kecerobohannya terhadap senjata tajam. Ulquiorra sepertinya sudah matang dalam hal prinsip, sementara selama setahun terakhir ini Zommari menunjukkan tanda-tanda kebimbangan akibat nurani juga.
Aizen meminta Ichimaru untuk memantau Zommari selama beberapa waktu, dan ketika kesimpulannya mengecewakan, Aizen memutuskan untuk menggantikan Zommari dengan Kisame. Peringkat Zommari akan dicopot dan dia akan dijadikan fraccion Szayel.
Saat Grimmjow bertanya dengan lancang pada Aizen terkait siapa yang akan digantikan Kisame, Aizen tidak bersungguh-sungguh menjawab. Sama sekali tak terpikir olehnya mengeluarkan Grimmjow dari Espada. Si Sexta cukup profesional dan kesalahan yang pernah diperbuatnya tidak cukup fatal untuk mencopotnya. Jawaban asal-asalan Aizen itu ditujukan untuk memberi Grimmjow kejutan hebat atas kelancangannya.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, Aizen juga melihat bahwa Ulquiorra hampir mencapai batas kemampuan fisiknya. Diabetes itu musuhnya yang terbesar, dan sering kali luka kecil sekalipun perlu waktu sebulan sebelum benar-benar kering dan sembuh. Ketika latihan daya tahan ditingkatkan dan tidak berdampak signifikan, Aizen mengurangi jam terbang Ulquiorra namun beberapa tuntutan tetap harus dilakukannya. Puncaknya, ketika anak itu diculik Akatsuki, Aizen mengubah keputusannya untuk mengeluarkan Zommari. Ulquiorra hanya akan menjadi pewaris Aizen, tidak yang lain, tidak menjadi agen apapun dan cukup memikirkan kuliah strata dua di bidang manajemen.
Jadi Aizen sebetulnya hanya mempertimbangkan dua orang untuk dikeluarkan dan keputusan finalnya adalah mengeluarkan si Cuatro. Tapi satu peristiwa lain yang terjadi dalam waktu yang sangat mendadak malah membuat Aizen ingin mempertahankan Ulquiorra di Espada, padahal dia sudah terlanjur...
Apapun yang terjadi, Aizen tetap meminta Ichimaru meneruskan doktrinasinya pada Kisame.
Ichimaru melihat bahwa karakter Kisame mirip dengan Nelliel dalam beberapa hal. Sama-sama sulit diubah keyakinannya—Kisame tidak menganut agama atau kepercayaan tertentu, tapi dia punya prinsip yang teguh dari ayahnya, Fuguki Hoshigaki. Ichimaru tidak boleh salah langkah lagi kalau begitu.
.
.
Lima tahun yang lalu.
Las Noches, Februari 1969.
.
"Target Misi Landlord bernama Orihime Inoue."
Aizen menekan remote control yang dipegangnya. Gambar seorang gadis Jepang berambut cokelat stroberi memenuhi layar.
"Culik dia secepatnya, lenyapkan bukti dan saksi, lalu tuntut tebusan pada ayahnya, Sora Inoue."
Aizen bicara pada tiga orang Espada yang duduk di kursi masing-masing.
"Kalau itu tidak juga ditanggapi, kirim anak itu ke Taiwan. Klien kita mau Sora Inoue menderita untuk beberapa waktu. Balasan atas kekikiran dan kelicikannya. Kata kunci untuk Sora adalah landlord."
Aizen menampilkan beberapa gambar lagi, yang menunjukkan di mana Orihime bersekolah, siapa saja teman-temannya, dan lain-lain.
"Sekian. Ada pertanyaan?"
Ketiga Espada di sekitar meja itu—Tres, Cuatro, dan Quinta—menyahut, "Tidak, Tuan."
.
.
Nelliel berjalan di lorong sambil berpikir.
Salah satu foto tadi...
Foto lapangan basket yang penuh remaja, di mana si target memegang piala dan tampak luar biasa gembira, dibopong oleh teman-temannya yang tak kalah bahagia.
Kepuasan saat tim basketmu memenangkan kejuaraan... Sorakan teman-temanmu yang bersamamu merayakan kemenangan yang manis...
.
Nelliel mengerjap.
Kenangan itu.
Kenapa kembali lagi? Dia sudah melupakannya bertahun-tahun lalu. Dikuncinya dalam peti dan disurukkannya ke sudut ruang memorinya, dibiarkan terkubur dalam debu.
Beberapa misinya sebelum ini juga...
"Ah," desahnya sembari menggeleng.
Mereka di sini memang membalaskan perbuatan orang-orang sampah. Tapi, apa benar jika keluarga dan teman orang semacam ini jadi korban?
Namun disingkirkannya pikiran-pikiran itu dan kembali pada topik.
Sora Inoue itu...
Salah satu sampah.
Ya. Sampah.
Orang yang ingin kusingkirkan dari dunia.
Itu sudah benar.
Tapi, misi ini...
Menawan anak gadisnya.
Buat apa? Aku tak setuju. Gadis itu 'kan tidak salah apa-apa. Ayahnya yang salah.
Tapi, ini perintah Tuan Aizen...
Sementara pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam benak Nelliel, wanita itu tak menyadari bahwa kakinya membawanya ke kantor litbang.
"Sial. Ngapain pula aku ke sini?" gerutunya setelah sadar bahwa itu bukan arah yang ditujunya. Ia berbalik mendadak, nyaris menabrak seseorang yang membawa setumpuk dokumen.
Nelliel terpekik.
"Eits. Salahmu sendiri, berbalik tiba-tiba," ujar seseorang itu. Szayel-Apporro Grantz.
Nelliel mengerjap dan sudah akan mengatakan sesuatu, tapi Szayel lebih cepat.
"Sekarang, kalau kau tidak keberatan, menyingkirlah dari pintu. Kau menghalangi jalanku," ujar si ilmuwan dengan nada memerintah.
Nelliel mendesis, "Berani tak sopan padaku, ya, Octavo..." Tapi wanita itu minggir dan berjalan ke arah berlawanan.
Szayel belum jadi masuk ke kantor. Dia bertahan di depan pintu. Pandangannya terpancang pada Tres Espada itu.
Ada sesuatu... batinnya.
Szayel sejak tadi berjalan di belakang Nelliel—kebetulan saja—dan dia sempat mendengar gumam rendah wanita itu sebelum dia berbalik barusan.
Nnoitra muncul dari belokan sebelah sana.
"Sedang apa kau, Szayel?" Quinta Espada itu bertanya heran, karena si Octavo mematung di depan pintu.
Szayel mengalihkan pandangannya pada yang mengajaknya bicara.
"Tres," gumamnya, "sepertinya dia menyimpan sesuatu." Tapi Szayel lalu mengedikkan bahunya. "Peduli setan. Bukan urusanku." Dan dia masuk ke kantor litbang dengan bawaannya yang setumpuk itu.
Nnoitra tetap di sana, pikirannya sedang bekerja.
Menyimpan sesuatu, hah? pikirnya, mari kita lihat apa yang kau simpan, Perempuan.
.
.
Hari ini.
Zaragoza, 1 Desember 1974.
Embrujo Avenida 305.
.
Oke, ini bukan saat yang tepat untuk merasa takut.
Tapi debar jantungnya tidak mau diajak kompromi. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
Malam ini, di dalam gedung terbesar di Zaragoza ini, mungkin segala hal dalam hidupnya sedang akan dipertaruhkan.
Perempuan yang dipanggil Nelliel Tu Odelschwanck itu menarik napas dalam-dalam. Ia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi Espada yang menanti di depannya. Namun ada satu hal lain...
...nasib Akatsuki. Wanita itu merasa bahwa tidak seharusnya ia sebegitu percaya terhadap organisasi itu, apalagi karena mereka mungkin sudah tahu bahwa dirinya tidak bisa dipercaya.
Ia tidak membawa senjata selain pistol, pentung dan borgol—perlengkapan kepolisian. Ini mungkin disebut bunuh diri; ia mungkin mampu mengatasi satu orang jago pedang, atau satu orang penembak jitu. Tapi tak mungkin ia menang melawan kombinasi semuanya hanya dengan kemampuan bela dirinya.
Nelliel membuka pintu basement dan masuk. Menuruni beberapa anak tangga dan melompati beberapa material bangunan di parkiran bawah tanah yang memang sedang direnovasi itu.
Ada sedikit cahaya masuk lewat jendela-jendela kecil dekat langit-langit, dan Nelliel bisa melihat siluet seseorang yang berdiri di tengah ruangan.
Seorang laki-laki—yang seolah memang menunggu kehadirannya.
"Lama tak berjumpa, Gamuza."
Nelliel membeku di tempat. Suara itu familier. Ya, dia tahu siapa pemilik suara itu. Dan dia bisa mendengar ada orang lain dalam ruangan yang nyaris gelap itu.
Laki-laki di tengah ruangan itu bertubuh besar, dan dia mengangkat tangannya ke samping. Sebentuk pistol terlihat di ujung tangan itu.
Sebelum Nelliel sempat bereaksi, peluru itu ditembakkan hampir tanpa suara.
Seseorang di kegelapan roboh.
Si laki-laki menembak lagi ke arah yang sama, dan seseorang ambruk sambil mengerang.
"Pesche!" Nelliel terkesiap begitu mengenali suara itu.
"Mereka sudah mati," ujar si laki-laki. Ada nada nikmat dalam suaranya. "Dan sebentar lagi giliranmu, Gamuza. Oh, tentu saja kau tidak perlu disiksa pelan-pelan seperti mereka. Informasi dari mereka sudah lebih dari cukup."
Nelliel menarik pistol dari sabuknya dan langsung menembak si laki-laki—yang menghilang tiba-tiba.
Bunyi tembakan itu menggema sangat keras, dan Nelliel menyadari kesalahannya. Bagaimana kalau orang-orang di atas sampai mendengarnya? Dia mengertakkan gigi lalu berseru, "Keluar dan hadapi aku secara jantan, laki-laki pengecut!"
Ada desing logam di samping Nelliel dan wanita itu refleks melepas tembakan lagi—namun ke udara kosong. Tiba-tiba seseorang menendang tangannya dalam gelap dan pistol Nelliel terlempar. Sekali lagi terdengar desingan dan Nelliel berkelit, menangkis dengan pentungannya.
"Kenapa kau bunuh mereka?!" sembur mantan Tres Espada itu.
"Dasar penipu," sahut lawannya, dan kali ini Nelliel merasa ada sesuatu yang salah.
Dia tidak kenal suara ini...
Tapi orang itu mengenalnya.
Siapa?
"Mana rekan-rekan sebangsamu," ujar laki-laki itu lagi,
"Nelliel Tu Odelschwanck palsu?"
Pedang diayun, menumbuk sesuatu diiringi jeritan, dan satu orang lagi roboh di ruangan itu.
Tepat saat itu seseorang di lantai satu meraung marah. Bahkan di basement sampai terdengar apa yang diucapkannya.
"PENCURI...!"
.
.
Lima tahun yang lalu.
Las Noches, Februari 1969. Sebelum keberangkatan dalam Misi Landlord.
.
Sambil berjalan, Pesche dan Dondochakka saling lirik gelisah.
Nelliel-sama baru saja memberi mereka perintah yang aneh.
Pagi ini, mereka berdua baru tiba dari Portugal bersama pria Negro bernama Kaname Tousen yang selama ini melatih mereka banyak hal. Baru beberapa jam menginjak Spanyol, mereka langsung ditugaskan sebagai bawahan seorang agen wanita bernama Nelliel untuk ikut berangkat ke Jepang.
Begitu mereka bertemu wanita itu, mereka disumpah untuk setia pada apapun perintahnya.
"Kita tak punya waktu untuk saling mengenal," ujar Nelliel setengah jam yang lalu. "Tapi aku memerintahkan kalian: awasi orang-orang yang ikut bersama kita ke Jepang dan percayalah, mereka adalah musuh kita."
Lima menit lagi mereka semua yang diutus dalam Misi Landlord akan berangkat ke bandara. Hanya Ulquiorra yang sudah berangkat lebih dulu empat jam yang lalu.
Sementara itu, si Nomor Tiga masih bersiap-siap di kamarnya.
Ia sedang memasang alat komunikasi yang wajib itu di tangan kirinya.
Apa masih ada jalan? batin wanita itu, gusar. Cari mati ini namanya. Tapi... keterlaluan. Apa sih yang sebetulnya dipikirkan para laki-laki ini? Mereka memang tak berhati atau hanya tak punya otak?
Alat mirip jam tangan bernama sonido itu berhasil dipasang.
Piip. Tulisan angka tiga berpendar di layarnya.
'Hapus masa lalu dan pandanglah yang di depan', memangnya apa yang dilihat di depan itu?
Lorong panjang. Lurus. Di kiri-kanannya ada pintu-pintu, membuka ke ruangan-ruangan yang di dalamnya berserakan uang dan emas dan permata.
Dindingnya kokoh, iya. Aman berada di dalam, iya. Kaya-raya dan hidup terjamin, jelas sekali.
Tapi ujung lorong itu gelap.
.
.
.
To be continued.
.
"Our lust for future comfort is the biggest thief of life"
- Joshua Glenn Clark -
[updated: December 10, 2015]
