Unexceptionable
Disclaimer: It's sad, but I just own the plot
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.
A/N: Inspired from "Dangerous Twin" written by aninkyuelf
.
.
Enjoy!
.
.
"Jangan tinggalkan aku berdua dengan Sasuke."
Baik Tsunade dan Neji tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan keterkejutan mereka. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan kejutan lain setelah kejutan yang mereka dapatkan dini hari tadi ketika mendapati keadaan Sasuke di ruang rawat.
Mereka merasa terkejut bukannya tanpa alasan. Keduanya merasa wajar mengalami ketekejutan ketika melihat pemuda berkulit pucat itu sudah kembali sadar. Tapi hal yang membuat mereka lebih terkejut adalah ketika menyadari keberadaan Naruto yang tengah menyembunyikan si pemuda berambut raven di pelukannya.
Neji tidak tahu kapan Naruto kembali ke Rumah Sakit karena ia sudah mengantarkan pemuda pirang itu kembali ke apartemennya ketika jam besuk berakhir. Ia sama sekali tidak menyukai usulan sang Uzumaki untuk menemani Sasuke karena bagaimanapun juga Naruto harus tetap bekerja esok hari. Itulah kenapa ia menawarkan diri untuk mengantar Naruto pulang.
Baik Tsunade maupun Neji sama sekali tidak tahu apa yang membuat Sasuke menangis ketika mereka datang ke kamarnya dini hari tadi, setelah seorang suster memberitahukan keadaan pasien muda itu kepada Tsunade.
Tidak sulit bagi Neji dan Tsunade untuk menyadari kalau Sasuke tidak termasuk ke dalam kelpompok orang-orang yang emosional dan apa yang mereka saksikan tentu bertolak belakang dengan fakta tersebut. Butuh waktu kira-kira setengah jam sampai akhirnya putra bungsu keluarga Uchiha itu tenang dan kembali tertidur.
"Kalian tidak boleh meninggalkanku berdua saja dengannya."
Tsunade dan Neji saling melemparkan pandangan pada satu sama lain. Tunggu. Apa mungkin... apa mungkin Naruto menyadari apa yang sudah ia lakukan kepada Sasuke?
"Kenapa kau meminta kami melakukan itu? Kau tahu kan kalau Sasuke sedang sakit? Bukankah sebagai kekasih yang baik kau memiliki kewajiban untuk menemaninya?" tanya sang dokter hati-hati.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi," Naruto menghela napas panjang dan mengusap sisi wajahnya dengan sebelah tangan, "tapi aku merasa kalau kalian tidak boleh meninggalkanku berdua saja dengannya."
Rasa terkejut nyatanya tidak hanya menimpa sang dokter dan sang Hyuuga. Naruto tidak tahu apa yang sedang menimpanya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Pada tubuhnya. Pada ingatannya. Pada tindakannya. Naruto sama sekali tidak tahu.
Ia tidak tahu kenapa ia bisa berada di kamar rawat Sasuke. Ia tidak tahu kenapa Sasuke menangis. Ia tidak tahu kenapa Sasuke memeluknya dengan sangat erat. Ia tidak tahu kenapa ia bisa membuat Sasuke ketakutan.
Naruto tentu ingat bagaimana tubuh Sasuke bergetar hebat di pelukannya dan bagaimana isakan demi isakan sampai ke telinganya. Tidak perlu waktu lama baginya untuk menyadari kalau kekasihnya itu tengah melawan rasa takut yang muncul entah karena apa.
Kalau biasanya ia mempercayai vonis Tsunade bahwa ia adalah seorang sleepwalker, kali ini ia sama yakin seratus persen kalau apa yang dikatakan dokter pribadinya itu meleset karena ia tidak mungkin berjalan dari apartemennya ke gedung ini. Ia tidak mungkin bisa pergi sejauh ini dengan selamat. Ia tidak mungkin membuat Sasuke ketakutan dengan kebiasaan yang jelas-jelas sudah diketahui pemuda Uchiha satu itu sejak pertama kali mereka tinggal bersama.
"Naruto, kau baik-baik saja?"
Tsunade mengeraskan pandangan ketika tubuh pasiennya bergetar. Ini bukan pertama kalinya ia melihat Naruto menangis, tapi bukan berarti ia sudah terbiasa dengan rasa kecewa yang membuatnya sesak. Ia selalu merasa kecewa karena gagal menjalannya tanggung jawabnya untuk menjaga Naruto tiap kali pemuda itu ada di posisi seperti ini.
Suara ketukan pintu membuat Tsunade menarik napas panjang, berusaha memenangkan diri. Ia meneriakkan kata masuk dan mengerutkan dahi ketika salah satu suster muncul.
"Uchiha-san sudah sadar dan dia ingin bertemu Uzumaki-san."
Sang dokter mengangguk dan meminta wanita itu untuk kembali bekerja. Ia melemparkan tatapan khawatir pada si pemuda pirang.
"Apa kau ingin menemuinya, Naruto?" tanyanya dengan nada selembut mungkin. Walaupun ia ingin memenuhi permintaan sang pemuda, ia juga tahu kalau saat ini tidak ada yang lebih dibutuhkan Sasuke selain sosok kekasihnya ini.
Setelah membiarkan suasana ruangan berubah hening selama beberapa saat, akhirnya sang dokter mengikuti tindakan sang Uzumaki bangun dari duduknya. Wanita itu menghentikan langkah dan membiarkan Naruto keluar lebih dulu saat sebelah tangannya ditarik pemuda lain yang ada di ruangannya.
"Apa mungkin Naruto menyadari apa yang sudah dia lakukan kepada Sasuke?"
"Aku tidak tahu," Tsunade kembali menarik napas panjang. "Untuk saat ini aku tidak bisa memperkirakan apapun, Neji."
.
-0-
.
Sasuke menaikkan alis dan kembali membuka mulut ketika sepotong apel sudah kembali disodorkan padanya.
"Neechan, berhenti. Seharusnya aku yang menyuapi Sasuke," cetus pemuda pirang yang sedang duduk dengan nyaman tepat di samping sang Uchiha.
"Kau bisa memanjakannya nanti, Naru. Saat ini biar aku yang menyuapinya, oke?"
Shion melepaskan tawa ketika Naruto mengurungkan niat untuk membalas ucapannya. Pemuda itu kini mengulaskan senyum lebar dan membiarkan pemuda di sebelahnya menyandarkan kepala di sisi bahunya.
Beberapa menit yang lalu wanita berambut pirang itu memang datang untuk menjenguk calon adik iparnya. Baik Sasuke maupun Naruto hampir lupa kalau masih ada satu orang selain Sakura, Neji dan Tsunade yang mengetahui kalau Sasuke dilarikan ke Rumah Sakit.
"Seharusnya kau menjaga kesehatanmu dengan baik, Sasuke. Perubahan musim seperti ini memang rawan," papar Shion sembari kembali menyuapi sang Uchiha.
"Hn."
"Kau juga, Naruto. Bukankah kalian tinggal bersama? Seharusnya kau menjaga Sasuke lebih baik dari ini."
"Ha'i."
"Membiarkan dua pemuda sibuk tinggal bersama sepertinya bukan ide yang baik. Apa aku harus mencari pembantu untuk kalian? Setidaknya dia bisa datang untuk membereskan apartemen dan membuatkan makanan."
Kerlingan mata yang diberikan sang Uzumaki sukses mendapatkan pukulan bantal dari sang gadis. Sasuke menaikkan alis melihat tingkah kekanakan dua orang yang sedang menemaninya ini.
"Aku mengusulkan ini untuk kebaikan kalian, jangan mengolok-olok ideku, otouto!"
Sasuke menggelengkan kepala ketika sepotong apel kembali disodorkan padanya. Sebelum Shion sempat menarik kembali uluran tangannya, ia meraih potongan buah itu dan menyuapkannya ke mulut kekasih pirangnya.
Setelah pertemuan keduanya dengan Sasuke pagi tadi, Naruto sama sekali tidak membicarakan apa yang terjadi diantara mereka berdua dini hari tadi. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk memulai pembicaraan mengenai kejadian mengejutkan itu dan ia tidak tahu apakah ia harus mempertanyakan alasan Sasuke menangis atau tidak.
Naruto menarik napas panjang dan membiarkan kepalanya bersandar di puncak kepala sang Uchiha.
"Kenapa niichan tidak datang bersamamu, nee?"
Shion meletakkan piring berisi potongan apel di meja lampu dan mengangkat bahu. Ia menyamankan posisinya yang tengah duduk di sisi tempat tidur.
"Kurasa dia harus mengajar. Mungkin siang nanti dia akan datang kemari. Entahlah."
Sasuke mendongakkan kepala dan menatap sepasang iris mata berwarna biru yang juga tengah menatap iris oniksnya.
"Apa sesuatu terjadi? Neechan, apa kalian baik-baik saja?"
Pertanyaan Naruto hanya dibalas dengan senyum pahit yang secara tidak langsung sudah menjawab pertanyaan yang telah diajukan.
"Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi kurasa kalian harus tahu kalau aku sudah mengetahui alasan kenapa aku ditunangkan dengan Itachi."
Naruto mengalihkan pandangan ke sebelah tangannya yang kini digenggam erat pemuda di sampingnya. Ia meremas pelan tangan di genggamannya ketika merasakah bagaimana tubuh Sasuke menegang.
"Kurasa aku akan meminta orang tuaku untuk membatalkan pertunangan ini. Aku tidak mau mempercayakan hidupku kepada seseorang yang jelas-jelas masih mencintai orang selain diriku, bukan?"
Naruto sama sekali tidak tahu apa yang harus ia katakan untuk membalas ucapan kakak perempuannya ini. Ia bahkan tidak tahu apakah ia memiliki hak untuk membuka mulut.
Ia menundukkan kepala dan menatap Sasuke yang kini menundukkan kepala. Setelah pemuda ini memberitahukan pertengkarannya dengan Itachi, Naruto yakin saat ini Sasuke pasti tengah merasa bersalah dan bertanggung jawab atas apa yang menimpa Shion.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengatakan apapun kepada mereka terkait alasanku membatalkan semua ini," cetus Shion disertai senyum lebar.
"Neechan—"
"Sumimasen."
Shion membulatkan mata dan menggelengkan kepala. Niatnya mengatakan semua ini kepada kedua pemuda ini bukan untuk membuat mereka merasa bersalah. Ia tidak memiliki niat untuk membuat mereka merasa tidak enak padanya.
"Kalian tidak melakukan apapun yang mengharuskan kalian meminta maaf padaku. Itachi memiliki hak untuk menyukai Naruto dan kau memiliki hak untuk menjadi kekasih Naruto, Sasuke. Dalam hal ini kalian sama sekali tidak melakukan kesalahan."
"Neechan—"
"Tidak, dengarkan aku." Shion memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum menatap dua pemuda yang kini sudah mengangkat kepala mereka. "Aku tidak mau kalian memutuskan hubungan kalian hanya karena hubunganku dan Itachi tidak berjalan dengna lancar, oke? Aku tidak mau melihat drama televisi menjadi kenyataan di depan mataku, mengerti?"
Gadis dengan iris mata berwarna hijau itu mengulaskan senyum tenang dan meraih tangan sepasang kekasih di depannya dan menyatukannya sebelum menggenggamnya dengan erat.
"Aku ingin kalian bahagia dan aku tahu kalian bahagia. Jangan lakukan hal bodoh yang tidak akan merubah apapun. Jangan korbankan apa yang kalian miliki karena perasaan bersalah, mengerti? Sebagai seorang adik yang baik kalian memiliki kewajiban untuk mematuhi ucapanku atau aku akan melakukan hal buruk yang tidak pernah kalian bayangkan."
Nada main-main yang digunakan Shion di akhir kalimat berhasil membuat Sasuke mendengus geli dan Naruto mengulas senyum tipis.
"Kalian harus berjanji untuk terus bersama sampai akhir. Aku tidak akan melepaskan pengawasanku sebelum mendapatkan buket bunga di hari pernikahan kalian," tuturnya dengan nada menasehati.
Sasuke menatap pemuda yang tengah melepaskan tawa sebelum tersenyum tipis dan kembali menatap mantan calon kakak iparnya.
"Tentu." Sasuke bisa merasakan genggaman tangan Naruto mengeras. "Aku akan berusaha sebaik mungkin."
.
.
TBC
.
.
Review Reply:
.
.
Kaoru Yukina: dari chapter ini pertanyaan yang kedua kejawab kan? Jawaban buat pertanyaan pertama saya serahkan ke masing-masing reader ^^ Yep, pendapat Kaoru bisa diterima :D
Yuto: Gaara suka sama Sasu? Hmmm... mungkin? Aku ga nyangka kalo kesannya malah jatuh ke arah sana ^^"
