Akatsuki no Yona

Chapter 28 – The Reason I Hate You

.


"salah paham apanya? bukankah sudah jelas sekarang? sejak awal, permaisuri tak mencintai yang mulia dan membenci yang mulia karena sampai sekarang permaisuri masih..." ujar Joo Doh terhenti karena Lily menamparnya.

Belum selesai para jenderal yang mengejar mereka berdua baru tiba disitu terbengong-bengong karena melihat Lily menampar Joo Doh, Lily menunjuk Joo Doh dan lanjut bicara "tutup mulutmu, jenderal Joo Doh... kau benar-benar tak tahu perasaan dan isi hati wanita!? dasar pria tak sensitif!? Wajar saja tak ada wanita yang mau menikah denganmu!?".

Sementara Geun Tae berusaha keras menahan tawa dan An Joon Gi terbelalak tanpa tahu harus berkata apa melihat tindakan putrinya, Kyo Ga heran "kenapa malah anda yang marah, nona Lily?".

"tentu saja aku marah?! kalian bicara seenaknya, tapi kalian tak tahu penderitaan kak Aina!? demi orang yang ia sayangi dan orang yang ingin ia lindungi, ia harus berada di titik terendah hidupnya sebagai wanita!? Meski begitu, ia tetap tersenyum karena tidak ingin orang yang ia sayangi mengkhawatirkannya... orang sebaik itu... kenapa..." ujar Lily terhenti karena Agni memeluknya dari belakang sambil menutup mulut Lily.

"baiklah, cukup sampai disini, nona Lily..." ujar Agni menenangkan Lily dengan mengelus kepala Lily.

"mengulangi ucapan nona Lily barusan, jenderal Joo Doh... kau memang tak tahu perasaan dan isi hati wanita, pria tak sensitif, wajar jika tak ada wanita yang sudi menikah denganmu" ujar Yuria yang tersenyum lebar dengan aura yang jahat "jangan heran dengan apa yang kalian lihat barusan, itu namanya baby's blue syndrome dimana sang ibu mengalami kesedihan secara tiba-tiba saat tahu dirinya sedang mengandung, bisa dibilang itu shock sementara... yang namanya wanita hamil itu emosinya gampang naik turun, bisa kadang gembira, sedih atau marah tiba-tiba dan itu semua karena pengaruh hormon dalam tubuh yang bergejolak selama si ibu sedang hamil, kurang lebih sama seperti saat wanita sedang datang bulan yang jadi gampang marah-marah karena rasa sakit di tubuh yang membuat wanita jadi uring-uringan, bukan begitu, nona Lily?".

"jadi ceritanya yang satu emosinya naik turun karena sedang hamil dan yang satu lagi karena sedang datang bulan, ya" ujar Agni menghela napas.

"Agni?! Tak perlu mengatakannya terang-terangan, kan?!".

"rupanya kau memang lagi datang bulan? Pantas marah-marah begitu" ujar Joon Gi.

"biar!?" sahut Lily memalingkan wajahnya.

"terima kasih banyak, nona Lily..." ujar Tae Woo tersenyum lebar karena merasa senang bisa melihat ada orang yang peduli pada Aina di kastil ini, membuat jenderal lain terkejut karena baru kali ini mereka melihat Tae Woo yang biasanya selalu cemberut di depan mereka (karena ada Soo Won) tersenyum.

Tae Woo tersenyum melihat Lily, meski senyuman itu berubah menjadi seringai saat ia melirik Joo Doh dan yang lain "selama ini kak Aina selalu menyimpan semua lukanya dan rasa sakitnya seorang diri, setidaknya biarkan beliau melampiaskan perasaannya sesekali... dan perlu digarisbawahi, kak Aina bukan tipe orang yang bisa membenci orang lain dengan mudah atau tanpa alasan, setahuku yang bisa membuat kak Aina berkata benci padanya hanya orang yang membohonginya atau orang yang tidak punya semangat hidup dan menyia-nyiakan nyawa sendiri... nah, yang mulia Soo Won masuk yang mana, ya? sampai-sampai emosi kak Aina naik begitu...".


Aina menutup mata perlahan sambil mendongakkan kepalanya, linangan air matanya tumpah ruah tanpa bisa ia tahan kali ini. Perasaannya campur aduk, ia merasa mungkin lebih baik jika semua yang harus ia alami dan akan ia alami nantinya hanyalah mimpi belaka.

Soo Won menemukan Aina duduk di bawah pohon Sakura, melihat Aina yang menangis sambil mendongakkan kepala dan menutup matanya, entah kenapa Soo Won merasa seperti melihat ilusi, seolah sosok Aina akan menghilang dari hadapannya sehingga ia bergegas menghampiri Aina dan memeluk Aina dari belakang. Andai saja Aina tak menyadari gemetar tubuh Soo Won yang memeluknya dari belakang, Aina pasti mendorongnya tanpa ragu sehingga Aina hanya bisa bertanya "...kenapa memelukku?".

"aku merasa jika aku tak menangkapmu barusan, kau seolah akan menghilang" ujar Soo Won mempererat pelukannya "jangan menghilang... tetaplah di sampingku, jangan pergi kemana-mana...".

"memangnya aku bisa pergi kemana lagi? aku takkan kemana-mana, karena ada orang yang membutuhkanku disini..." ujar Aina memegang tangan Soo Won, menepis pelan kedua tangan Soo Won yang ia turunkan dari tubuhnya "jika hanya itu keperluanmu, tinggalkan aku sendiri".

"dengar, ini semua bukan karena perasaan bertanggung jawab!? Ini kulakukan bukan karena kewajiban!?" ujar Soo Won memegang rambut dan kepala Aina, menciumnya selama beberapa detik yang membuat mata Aina terbelalak.

Dengan napas tertahan, Soo Won membuka matanya perlahan sebelum melepaskan Aina dan mengadu dahi. Di tengah keheningan itu, hanya terdengar suara napas mereka yang berusaha diatur sampai akhirnya Soo Won memegang wajah Aina dan menyeka air mata di wajah Aina "aku sudah sadar sepenuhnya... aku menginginkanmu... aku terlanjur terbiasa bersamamu, itu sebabnya... kumohon, tetaplah di sampingku... aku mencintaimu, Aina...".

"kalau begitu kenapa... kenapa kau malah berpikir seperti itu?! kenapa semudah itu kau berpikir soal kematian?! jangan coba-coba membohongiku karena aku tahu apa yang kau pikirkan... setelah semua yang kau lakukan, kau berpikir 'aku tak berharap bisa hidup damai dan mati dengan tenang'... kau juga berharap suatu saat aku akan membunuhmu... apa-apaan itu, hah?" ujar Aina meneteskan air mata sambil mencengkram baju Soo Won "jangan bercanda?! Aku takkan mengotori tanganku dengan membunuhmu meskipun itu demi balas dendam, dan sesuai harapanmu, takkan kubiarkan kau mati dengan tenang tapi itu hanya akan terjadi jika kau tak berniat menebus semua kesalahanmu...".

"bukankah kau membenciku?".

"benar, aku memang membencimu... karena kau selalu berbohong padaku dan kau tak punya semangat hidup..." ujar Aina menundukkan kepala setelah menyeka air matanya "sebelumnya kau pernah bertanya apa yang kuinginkan, kan? jawabannya, aku ingin tetap hidup... saat hampir mati di tangan Wu Tian, aku merasa kalau aku sudah di ujung tanduk, selama beberapa hari aku tak sadarkan diri dan terombang-ambing antara hidup dan mati... setelah aku selamat dari kematian, aku berpikir kalau aku tak ingin menyerahkan nyawaku pada siapapun, aku akan lakukan apapun yang aku inginkan tanpa peduli apa akibatnya nanti, agar kelak aku tak menyesal dan bisa pergi ke surga menemui orang tuaku dengan tenang...".

"jangan bicara yang bikin sial, dong... kesannya seolah kau takkan panjang umur saja" protes Soo Won.

"aku hanya berusaha hidup sejujur mungkin, kok" ujar Aina tersenyum.

"kalau begitu, katakan... apa yang harus kulakukan setidaknya agar kau tak meninggalkanku" ujar Soo Won mengepalkan tangannya.

"pikirlah sendiri" ujar Aina melepaskan cengkramannya, mendorong Soo Won dan tersenyum sinis sambil menunjuk Soo Won "ini akibatnya jika kau membuat wanita marah... aku tahu apa yang bisa kulakukan untuk menolongmu, tapi aku takkan pernah menolongmu... aku hanya akan berdiam diri di tempatku berdiri, melihat bagaimana kau berusaha meraih uluran tanganku dari kejauhan...".

"aku mengerti alasan kenapa kau membenciku dan kuterima itu... aku tahu tak sepantasnya aku mengatakan ini padamu, tapi..." ujar Soo Won mengecup kening Aina dan memeluknya erat "aku ingin kau mengandung anak ini, Aina...".

"kenapa hatiku terasa sakit? bukankah selama ini semua berjalan sesuai dengan apa yang kurencanakan?" pikir Aina mengepalkan tangan erat-erat, sebelum mengulurkan tangannya pada Soo Won "kalau begitu, gendong aku ke kamar...".

"kau ternyata punya sisi manja juga, ya" ujar Soo Won tertawa sambil menggendong Aina.

"jika kau mengeluhkan soal berat badanku, kutendang kau, mengerti?" sahut Aina memiting leher Soo Won dari belakang.

"kecekik beneran... mau membunuhku, ya?" ujar Soo Won menghela napas dan mengerutkan kening sambil tertawa "justru kau harus makan yang banyak, tubuhmu itu ringan sekali...".

Teringat saat Aina menangis di hadapannya, Soo Won menyadari sesuatu saat menggendong Aina seperti saat ini "kau begitu kuat dan tegar, tapi kenapa aku baru sadar betapa rapuhnya kau... kau tetap gadis biasa yang memiliki perasaan dan air mata...".

"Aina... kau tak sekuat yang kau kira, kok".

"kau ngajak kelahi?".

"aku bilang begitu, karena aku melihat kau berusaha mati-matian menahan air matamu, tahu".

Hening, hingga Soo Won terkejut begitu menyadari ada yang basah di bahunya. Ia menurunkan Aina di ranjang dan melihat Aina menangis, sesuai dugaannya "Aina? kenapa menangis lagi?".

Aina hanya bisa tersenyum sambil berusaha menghentikan air matanya "ahaha... eh? kenapa ini... duh, maaf... bukan maksudku menangis... entah kenapa, air mataku...".

"tak apa-apa... menurutku, tak ada salahnya menangis saat kau ingin menangis, kau tak perlu merasa malu atau takut akan dianggap lemah... jujurlah pada perasaanmu, semua lukamu, rasa sakit dan sifat burukmu adalah bagian dirimu, akan kuterima semuanya... jadi menangislah..." ujar Soo Won mengelus-elus kepala Aina sambil memeluk Aina untuk menenangkan Aina.

"mana bisa kukatakan padamu... kalau aku tak ingin mati..." pikir Aina menangis sambil menggenggam erat lengan Soo Won "kenapa terasa berat bagiku menerima kebaikanmu? apa karena aku tahu, begitu anak-anak ini lahir, mungkin aku sudah tak bisa berada disisimu? aku sudah tahu itu semua sejak lama, tapi kenapa... kenapa sekarang itu semua menjadi terasa sangat menyakitkan dan menakutkan?".