Master of Solomon and Dark Magic
.
.
.
.
By Victorianus
.
.
.
.
.
Namikaze Naruto
.
.
.
.
Supranatural, Fantasy, Adventure, Romance
.
.
.
.
.
.
Chapter 29
.
.
.
.
.
.
Langit malam menyelimuti Kerajaan Api. Suasana Istana juga sunyi senyap karena kebanyakan penduduk yang mengungsi kembali ke dalam tempat mereka masing-masing. Magic knights juga kebanyakan yang sudah beristirahat di asrama setelah menyelesaikan aktifitas mereka hari ini, tapi berbeda dengan beberapa penyihir yang sedang berkumpul di ruangan Kaisar. Hiruzen melihat tulisan yang ada di dalam kertas putih di genggaman tangan kanannya itu, tertera beberapa nama yang dipilih oleh seorang pemuda berambut pirang gelap melawan gravitasi yang berdiri beberapa meter di depan mejanya berada. Mata tuanya melirik kertas yang ada di genggamannya sekali lagi, kemudian dirinya melirik ke arah sosok pemuda yang berdiri dengan tegap, menatap lurus tanpa ada keraguan di kedua iris azurenya. Orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut, menatap Naruto berdiri tanpa keraguan maupun ketakutan merasakan tekanan dari Kaisar di hadapannya itu, menunggu kalimat yang akan dikeluarkan oleh Kaisar Kerajaan Api itu. Hiruzen menegakkan tubuhnya, meletakkan kertas di pegangannya itu di atas meja, menekuk kedua sikunya dengan kedua telapak tangannya disatukan, menatap serius pemuda di depannya.
" Apa kamu yakin dengan orang-orang yang kamu pilih, Kolonel Naruto?" tanyanya serius, terlihat tubuh pemuda berambut pirang gelap itu menegak dengan dadanya yang membusung ke depan.
" Tentu saja Kaisar. Saya yakin dengan orang-orang yang saya pilih bisa membantu saya untuk melaksanakan misi malam ini." jawabnya mantap membuat Hiruzen yang mendengarpun terdiam. Hiruzen melirik ke samping kanannya, terlihat Danzo yang melipat kedua tangannya di depan dada dengan kedua matanya terpejam, pertanda jika dirinya memberikan semua keputusan kepadanya. Menghembuskan nafas panjang, dirinya kembali menatap ke arah pemuda di depannya itu, menunggu jawaban yang akan di lontarkannya. Menyandarkan punggungnya di sandaran kursi empuk tempatnya, kedua mata tuanya menatap sosok Naruto yang masih berdiri tenang beberapa meter di hadapannya, kemudian menatap ke arah orang-orang sekeliling ruangan luas itu, menunggu dirinya membuka suara. Membuang nafas panjang melalui hidungnya, dirinya kembali menatap ke arah sosok pemuda tersebut.
" Apa benar jika kamu ingin melaksanakan misi penyelamatan Jendral Minato dan yang lainnya dengan magic knights pilihanmu dan bergerak pada malam ini juga?" tanyanya sekali lagi, yang di jawab anggukan pasti oleh pemuda Namikaze tersebut.
" Tentu saja Kaisar. Semakin cepat semakin baik, apalagi kita tidak mengetahui kapan mereka akan bertahan dengan iblis yang menjadikan tubuh mereka sebagai inangnya." jawabnya pasti. Danzo sedikit membuka kedua matanya, dirinya sangat yakin jika menangkap suara sedikit bergetar dari ucapan pemuda Namikaze itu, walaupun berhasil di sembunyikan dengan baik oleh nada tegas miliknya. Dirinya yakin jika pemuda tersebut menyembunyikan sesuatu tanpa sepengetahuan dirinya maupun orang lain tentang masalah ini. Kedua mata topaznya melirik ke arah Hiruzen yang menghembuskan nafas kembali, yang tidak lama setelahnya bibirnya membentuk sebuah senyum kecil sambil kepalanya mengangguk pelan.
" Ada benarnya juga dengan apa yang kamu katakan, tapi sekali lagi, apa kamu yakin hanya bertujuh saja? Apa kamu tidak ingin penambahan anggota lagi?" tanyanya.
" Tidak Kaisar. Semakin banyak yang mengikuti ekspedisi ini maka akan semakin membuat kehadiran kami akan mudah di ketahui oleh musuh. Saya memilih penyihir yang bisa memiliki kemampuan supports maupun daya serangan yang bisa membantu saya untuk mensukseskan ekspedisi penyelamatan ini." jawabnya tenang membuat Hiruzen menatap kembali kertas yang ada di atas mejanya itu. Mengambil kertas tersebut, dirinya membaca kembali tulisan yang tertera dalam lembaran putih itu. Kaisar Kerajaan Api tersebut menatap kembali ke arah Kolonel muda di depannya itu. Menghembuskan nafas kembali, samar-samar bibirnya melengkung sedikit ke atas, membentuk senyum kecil di wajah tuanya.
" Otsutsuki Zetsu, Otsutsuki Kaguya, Hyuga Hinata, Hidan, Nara Shikamaru, Akimichi Chouji, Jirobo!" panggilnya tegas membuat nama-nama magic knights tersebut maju beberapa langkah dari tempat mereka berada, berdiri tegap sambil memberi hormat kepada pemimpin tertinggi Kerajaan Api tersebut.
" Siap Kaisar!" tegas mereka kompak membuat Hiruzen yang mendengarpun mengangguk sekali, menatap serius ke arah keenamnya.
" Kalian bertujuh adalah orang-orang yang dipilih langsung oleh Kolonel Namikaze Naruto untuk mengikutinya menjalankan ekspedisi penyelamatan Jendral Minato beserta penyihir lainnya yang tertawan di Kerajaan Batu." jelasnya terlihat seorang pemuda berambut coklat tua dengan model seperti bulu landak sepunggung, mengenakan jubah kulit coklat tanah lengan panjang, dengan postur tubuh yang sedang, tidak gemuk maupun kurus, tapi berisi, yang menutup baju dalamnya berwarna senada di kombinasi celana coklat tua panjang juga sepatu kulit berwarna senada dan sebuah grimoire tersimpan di dalam gantungan ikat pinggangnya, juga seorang pemuda bertubuh gempal kekar dengan rambut berwarna orange bermodel jabrik, dengan jubah sihir kulit berlengan panjang berwarna jingga gelap yang melapisi baju coklat muda di dalamnya, dikombinasi dengan celana panjang kulit berwarna coklat karamel dan sepatu kulit berwarna hitam, sebuah grimoire yang tersimpan dalam ikat pinggangnya. Kedua pemuda tersebut a.k.a Chouji dan Jirobo sedikit terkejut mendengar misi yang akan mereka laksanakan dengan Kolonel muda di depan mereka. Kushina yang juga berada dalam ruangan itu hendak memprotes dengan perintah yang di berikan oleh Kaisar Negara Api itu, tapi tatapan tajam yang di berikan oleh Perdana Menteri itu berhasil membungkam mulutnya. Hiruzen yang merasakan suasana tiba-tiba menjadi tegang kembali mengeluarkan kalimat lain.
" Dan tentu saja, Jendral Kushina akan ikut bersama dengan kalian. Aku rasa kamu tidak keberatan bukan, Kolonel Naruto?" lanjutnya menatap ke arah pemuda Namikaze di depannya itu.
" Saya tidak masalah, asalkan Jendral Kushina mengikuti peraturan saya. Di regu ini, saya sebagai pemimpin dan walaupun beliau berpangkat Jendral, tidak bisa seenaknya mengambil langkah. Saya tidak akan bertanggung jawab dengan keselamatan beliau jika melanggar peraturan yang saya miliki, karena kemungkinan besar lawan kita nanti bukanlah manusia. Jendral Kushina sendiri sudah melihat bukan sosok yang saya hadapi, dan saya tahu sejauh kemampuan yang anda miliki, jadi selama ekspedisi ini berlangsung, ikuti perintah yang saya miliki." jawabnya tegas membuat Kushina yang mendengarpun terdiam, merenungi ucapan Kolonel muda tersebut.
" Naruto sangat kenal baik bagaimana sifat yang kamu miliki Kushina, walaupun baru-baru ini kalian berdua bertemu, atau lebih tepatnya hanya beberapa kali saja bertemu satu sama lain, itupun tidak dekat. Dan Kushina, ini ekspedisi yang menyangkut nyawa-nyawa magic knights, sekali saja salah langkah maka akan tewas di tempat. Naruto sudah bercerita jika musuh yang di hadapi kemungkinan besar adalah iblis bukan manusia. Jadi, apa kamu bisa mengikuti kebijakan yang di miliki olehnya?" tanya Danzo serius terlihat Kushina yang menundukkan kepalanya, mengigit bibir bawahnya mendengar perkataan pemimpin kedua tertinggi Kerajaan Api tersebut. Dia mengerti maksud dari Perdana Menteri maupun Kolone muda tersebut, karena dia sendiri memiliki sikap sangat gegabah, pemberontak maupun berpikir pendek jika menghadapi sesuatu. Menghembuskan nafas panjang, wanita berusia pertengahan tiga puluan itu menegakkan tubuhnya, mengangguk paham.
" Saya akan usahakan agar tidak melakukan tindakan yang membuat kegagalan dalam ekspedisi ini." jawabnya.
" Saya tidak ingin jawaban meragukan, tapi saya ingin jawaban pasti yang anda berikan, Jendral Kushina." kalimat tegas keluar dari Kolonel muda tersebut, terlihat Naruto yang menyampingkan tubuhnya menghadap ke arah wanita Uzumaki tersebut, terlihat raut keterkejutan di wajah cantiknya, begitupula orang-orang yang mendengarpun sedikit terkejut dengan keberanian yang di miliki oleh pemuda tersebut. Kedua dark azure Naruto maupun iris violet Kushina saling bertemu satu sama lain, entah sejak kapan iris azure tersebut perlahan-lahan menjadi lebih gelap dari sebelumnya yang begitu cerah juga tatto ungu kelam bermotif kobaran api yang muncul di sisi tubuh kanannya, walaupun hanya terlihat di lengan kanannya, tapi dirinya yakin dalam tubuhnya memiliki lukisan tersebut. Memalingkan wajahnya ke kanan, dirinya tidak berani menatap lama-lama dark azure pemuda yang memiliki rupa seperti suaminya itu, terlihat lehernnya naik turun menandakan kerongkongannya menelan salivanya.
" A-Ak-kan sa-say-ya u-us-sah-hkan.." jawabnya parau tapi tubuh Kolonel muda itu sepenuhnya menghadap ke arah wanita berambut merah itu, kedua azure gelapnya menajam mendengar jawaban yang keluar dari mulut wanita tersebut.
" Saya ingin jawaban yang pasti." ulangnya menekan lebih dalam kata 'pasti', membuat tubuh Kushina terlonjak kaget mendengarnya. Jiraiya maupun Orochimaru mencoba membuka suara, tapi di tahan oleh tatapan tajam Tsunade juga tatapan lurus Kakashi, Obito, Asuma dan Ibiki agar tidak menganggu pembicaraan kedua penyihir tersebut. Jiraiya maupun Orochimaru saling menatap satu sama lain, yang kemudian keduanya menghembuskan nafas panjang dengan kedua bahu yang merosot ke bawah.
' Ini juga demi kebaikan Kushina.' pikir keduanya lalu menatap ke arah Naruto yang berdiri tenang, menunggu jawaban yang akan di keluarkan oleh wanita berambut merah tersebut. Kushina yang merasa seluruh orang-orang yang ada di dalam ruangan itu menatap ke arahnya, menunggu jawaban pastinya itu. Memantapkan hatinya, wanita itu menegakkan tubuhnya, mendongakkan kepalanya, menatap lurus iris dark azure pemuda tersebut.
" Saya akan mendengarkan apapun perintah yang anda perintahkan, Kolonel Namikaze Naruto!" ucapnya tegas tanpa keraguan sedikitpun dari nada suaranya, membuat suasana ruangan tersebut menjadi hening. Sudut bibir pemuda Namikaze itu sedikit terangkat, yang kemudian dirinya membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Hiruzen dan Danzo yang ada di hadapannya, memberi hormat kepada kedua petinggi Kerajaan Api tersebut.
" Saya, Kolonel Namikaze Naruto dari anggota squad Namikaze sekaligus dari Kesatuan Kepolisian, siap melakukan ekspedisi dengan anggota squad penyelamatan terhadap Jendral Uzumaki Minato dan anggota magic knights lainnya kapanpun!" ucapnya lantang membuat Hiruzen dan Danzo sedikit membulatkan kedua mata mendengar ucapan tegas pemuda tersebut. Tersadar dari keterkejutannya, kedua petinggi Istana itu menatap satu sama lain, terlihat keduanya saling mengangguk, kemudian menatap kembali ke arah pemuda di depannya itu. Bangkit dari kursi masing-masing, Hiruzen maupun Danzo tersenyum tipis.
" Kalau begitu, kami akan mengantar kalian sampai ke luar." ucap Kaisar Kerajaan Api tersebut.
.
.
.
.
.
.
Mereka akhirnya sampai di gerbang Istana Barat Laut, terlihat suasana tempat tersebut begitu sunyi. Naruto, Zetsu, Kaguya, Hinata, Shikamaru, Hidan, Jirobo, Chouji dan Kushina siap kapanpun melaksanakan misi penyelamatan Minato beserta lainnya. Udara malampun begitu dingin, walaupun masih dalam pertengahan musim panas, tapi tidak akan terpengaruh apapun untuk menjalankan misi mereka. Hiruzen dan danzo berjalan mendekati Naruto yang sedang mengencangkan kedua sarung tangannya, seperti menyadari akan kehadiran keduanya, Naruto menyampingkan tubuhnya menghadap ke arah kedua petinggi Kerajaan Api itu yang sepertinya ingin mengucapkan sesuatu. Naruto menunggu dalam diam apa yang akan di ucapkan oleh salah satu dari kedua pemimpin Kerajaan Api tersebut sebelum mereka berangkat melaksanakan misi ini, yang rencana harus selesai sebelum fajar tiba. Jarak dari Konoha menuju ke perbatasan membutuhkan tiga jam jika menggunakan mantra sihir pemanggil mahkluk yang memiliki kecepatan tinggi, tapi Naruto memiliki mahkluk yang bahkan kemampuannya mampu membawa mereka sampai ke perbatasan satu setengah jam.
" Apa kamu yakin kalau kamu akan berhasil menuntaskan ekspedisi ini dan membawa mereka semua selamat?" tanya Danzo tiba-tiba membuat suasana di tempat tersebut menjadi hening, semua mata menatap ke arah Kolonel muda tersebut, sedangkan yang di tatap hanya terdiam, tidak berkata apa-apa. Membalikkan tubuhnya, Kolonel muda itu berjalan beberapa langkah ke depan dengan seluruh tubuhnya yang mengeluarkan aura ungu kelam yang begitu tenang, sedangkan grimoire milikinya melayang di sampingnya dalam keadaan terbuka juga seluruh permukaan buku tersebut mengeluarkan aura ungu kelam yang begitu peka, mencari halaman yang diinginkan olehnya itu.
" Datanglah Bune! Kamu adalah iblis yang mengendalihkan arwah-arwah penasaran di dunia ini! Bangsawan Duke Pemberani yang memimpin 30 iblis, muncullah di hadapanku!" panggilnya yang kemudian di atas langit malam perlahan-lahan membentuk sebuah portal hitam dengan roh-roh halus yang melayang-layang di luar lubang hitam tersebut juga kilatan-kilatan petir hitam yang keluar di setiap sisi lubang tersebut. Dari dalam lubang tersebut, keluarlah tiga kepala yang berukuran cukup besar berbentuk naga dengan leher panjang dengan sisik kasar berwarna hitam kelam, dua pasang tanduk di setiap kepala tersebut dengan sepasang yang menjulang ke langit, sedangkan sepasangnya mengarah lurus mengikuti wajahnya, gigi tajam seperti samurai yang begitu mengerikan, sepasang bola mata merah bersinar seperti api abadi yang menyala, rambut abu-abu panjang sampi leher atasnya dan kobaran api hitam abadi yang menjalar di punggung lehernya sampai ke punggung tubuh besarnya itu, sepasang tanduk runcing panjang berwarna hitam kelam yang muncul di setiap pangkal leher masing-masing leher naga tersebut, dan sayap besar yang ujungnya sangat tajam dengan kombinasi garis-garis merah di setiap empat pasangnya mengepak begitu agungnya, memperlihatkan jika mahkluk tersebut adalah penguasa atas langit itu sendiri. Empat kaki naga berkepala tiga itu mendarat tepat di hadapan Kolonel muda tersebut, terlihat sayapnya yang terbuka lebar menghembuskan angin yang cukup kencang membuat semua orang yang ada di sana mencoba melindungi diri dari badai dadakan ciptaan dari keempat pasang sayap naga tersebut. Zetsu yang melindungi dirinya dengan kedua tangannya, menatap tidak percaya sosok salah satu iblis yang memiliki kekuatan hampir setara dengan sepuluh Raja Iblis tertinggi dalam grimoire Kolonel muda tersebut. Ketiga leher naga itu merendah yang kemudian berhenti tepat beberapa meter dari tempat Naruto yang menatap ke arahnya. Kedua ruby membara masing-masing dari kepala naga iblis tersebut menatap dalam kedua dark azure yang menatap balik ke arahnya. Bibir masing-masing naga tersebut membentuk sebuah sengiran mengerikan, yang kemudian kepala yang berada di tengah terangkat beberapa meter ke atas.
" Aliran sihir dalam tubuhmu, ternyata sudah berkembang secara pesat. Aku yakin jika tatto yang tercetak di tubuhmu itu beberapa hari lalu keluar dari dalam tubuhmu, bukan begitu?" suara kharismatik namun mencekam keluar dari dalam mulut naga tersebut, sedangkan orang-orang yang mendengarpun terkejut, menatap ke arah punggung Naruto yang masih berdiri tenang di hadapan naga iblis berkepala tiga itu. Naruto yang mendengarpun bibirnya membentuk sebuah sengiran kecil, mendongakkan wajahnya sedikit, menatap tidak kalah menantang ke arah naga tersebut.
" Tentu saja. Aku sudah mendengar penjelasan dari kakek Purson dan Paman Balam tentang makna tatto ini." jawabnya membuat ketiga wajah naga itu tertawa mengerikan mendengarnya.
" Tapi, kemampuan yang kamu miliki belum sempurna keluar. Tatto tubuhmu hanya keluar setengahnya saja, dan masih belum seluruhnya keluar ke permukaan tubuhmu. Biar aku tebak, kamu hanya bisa mengendalikan salah satu dari beberapa mantra sihir terkuat juga membuat semua iblis dalam grimoire itu berbicara seperti sepuluh Raja tinggi, bukan begitu?" ucap naga berkepala sebelah kiri itu sambil menatap intents ke arah Naruto yang memejamkan kedua matanya, sedangkan orang-orang yang mendengar perkataan makhluk panggilan pemuda Namikaze tersebut. Ketiga leher panjang naga tersebut mendekat ke arah pemuda tersebut, terlihat leher masing-masing wajah tersebut menyentuh ke tanah dengan kedua matanya yang menunggu jawaban dari pemuda di depannya tersebut. Perlahan-lahan kedua kelopak matanya terbuka, memperlihatkan dark azure kelam yang begitu mencekam, sedangkan Bune yang melihatpun hanya menyengir pelan.
" Kamu masih membutuhkan usaha untuk membangkitkan kemampuanmu sampai sempurna. Aku dengar jika kali ini lawan yang akan kamu hadapi adalah iblis. Apa kamu yakin dengan kemampuanmu sekarang?" tanyanya sarkastik sedangkan Naruto hanya menatap datar sosok naga iblis di depannya itu.
" Walaupun kemampuanku sekarang tidak mungkin menghadapi mereka dalam jumlah banyak, tapi jika kalian semua dan teman-temanku sesama magic knights membantuku, aku yakin bisa menang melawan iblis sehebat apapun yang akan kita hadapi." jawabnya pasti membuat keenam mata ruby naga iblis tersebut sedikit membulat mendengarnya. Ketiga pasang mata itu kembali seperti biasanya, tapi tidak ada pancaran sinis lagi melainkan pancaran kasih yang begitu dalam menatap pemuda di depannya tersebut.
" Heh… ayah dan anak sama saja. Sifat kalian berdua benar-benar sama." ucapnya sedangkan Naruto hanya diam melihat sosok naga tersebut, terlihat empat pasang sayap seperti taring raksasa itu mengibas kuat, menciptakan hembusan angin yang cukup kuat di sekitarnya. Kedua mata ketiga naga tersebut menatap ke arah pemuda itu kembali, terlihat sudut bibir masing-masing wajahnya membentuk senyum tipis.
" Kamu memanggilku pasti ada sesuatu untuk dilakukan bukan? Jadi, apa yang bisa aku bantu?" tanyanya ingin tahu, terlihat sudut bibir kanan Kolonel muda itu sedikit terangkat mendengarnya. Menegakkan tubuhnya, dengan wajah mendongak pasti, pemuda tampan itu menatap ketiga wajah naga iblis raksasa yang menunggu jawabannya tersebut.
" Aku ingin kamu membawa kami menuju ke perbatasaan Kerajaan Batu secepatnya." ucapnya membuat keenam mata naga iblis tersebut membulat. Tiba-tiba saja suasana di sekitar mereka menjadi mencekam juga angin kencang berhembus kencang menerpa mereka semua. Kedelapan sayap milik naga iblis tersebut terbuka lebar memperlihatkan keagungannya juga ketiga kepala naga itu menunduk kebawah, terlihat mulutnya sedikit terbuka, memperlihatkan gigi-gigi tajam siap mencabik Naruto yang berdiri dengan raut wajahnya berubah menjadi datar tanpa takut dengan hawa membunuh di keluarkan olehnya itu. Hiruzen, Danzo, Kakashi, Asuma, Obito, Ibiki, Zetsu, Kaguya, juga orang-orang yang menyaksikan kejadian di depan mereka mengeluarkan keringat dingin juga tubuh mereka bergetar ketakutan merasakan hawa membunuh yang begitu mencekam.
" Kamu tidak bercanda?" tanya Bune dengan suara yang begitu rendah namun menusuk, juga asap tipis keluar dari kedua sudut bibir masing-masing mulutnya, menandakan jika dirinya dalam keadaan mood buruk, sedangkan Naruto yang mendengarpun mengangguk kepala pasti.
" Apa kamu melihat jika aku bercanda?" tanyanya tanpa takut, terlihat iris dark azure pemuda tersebut menantang balik iris ruby menyala iblis di depannya itu. Kepala tengah Bune mendekati sosok Naruto membuat ujung dagunya hanya di pisahkan beberapa sentimeter dari Kolonel muda tersebut, kedua lubang hidungnya mendengus, mengeluarkan asap panas yang menghembus tubuh pemuda di depannya itu, terlihat jubah sihir juga rambut pirang gelap pemuda tersebut bergerak mengikuti hembusan udara dari hidung naga tersebut.
" Kamu tidak tahu siapa diriku? Aku adalah Great Duke yang memilik kekuatan hampir setara dengan kesepuluh Raja Iblis Pengabdi Yang Mulia Azazel. Kamu tahu bukan artinya?" tanyanya dingin dengan kedua matanya menatap marah ke arah Naruto yang menatap diam, menunggu kelanjutan ucapannya.
" Aku tidak akan sudi membawa manusia-manusia terkutuk itu denganku jika bukan hanya dirimu maupun Yang Mulia Azazel. Harga diriku sebagai salah satu dari Bangsawan Duke terkuat di Neraka terinjak jika membawa manusia-manusia kotor di atas tubuhku. Kamu sendiri sudah tahu bagaimana sifat kami semua dan aku yakin Forneus juga tidak akan sudi membawa manusia menjijikan itu di atas punggungnya jika bukan dirimu sendiri." lanjutnya tapi kedua mata rubynya membulat tubuh putra tunggal dari Raja Tertinggi Neraka tersebut terjatuh berlutut dengan kedua sikunya menyentuh tanah, tubuhnya yang membungkuk dengan tangan kiri di bawah, sedangkan tangan kanan ke atas dimana telapak tangan kanannya menyentuh kening kepalanya.
" Aku mohon kepadamu, Great Duke Bune. Sebagai keturunan terakhir pengguna sihir Solomon, aku mohon kepadamu untuk membawa diriku dan rekan-rekanku untuk pergi menyelamatkan magic knights yang tertangkap oleh penyihir Kerajaan Batu. Aku akan melakukan apapun agar Engkau bisa mengabulkan permintaanku ini." ucapnya dengan kedua mata terpejam erat, membuat Bune juga orang-orang yang mendengarnya terkejut. Zetsu melihat tuan mudanya melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh kaum budak seperti dirinya menatap ke arah ketika kepala naga iblis tersebut. Pria itu maju beberapa langkah kedepan, terlihat kepala kanan naga tersebut menyadari tindakannya, membulatkan kedua matanya menyadari sesuatu.
" Kau…." ucapnya terputus karena melihat Zetsu melakukan hal yang sama seperti dilakukan oleh pemuda Namikaze tersebut.
" Great Duke Bune! Hamba tahu jika tindakan yang hamba lakukan termasuk lancang, tapi melihat tuan muda Naruto bersujud kepadamu, saya sangat tidak terima. Saya merasa harga diri tuan muda Naruto sebagai 'tuan' yang mengendalikan anda juga ketujuh puluh satu iblis lainnya terinjak-injak." ucapnya lantang membuat kedua mata masing-masing kepala naga iblis tersebut membulat mendengarnya.
" Jangan ikut campur masalahku, Zetsu." terdengar suara seseorang membuat kepala Zetsu mendongak, menatap ke arah sosok Naruto yang masih posisinya.
" Tapi.." ucapannya terputus, kedua matanya membulat melihat aura ungu kelam yang perlahan-lahan keluar dari dalam tubuh pemuda tersebut, begitupula orang-orang yang melihat hal itu terkejut merasakan aura imitasi yang di keluarkan oleh Kolonel muda tersebut.
" Jangan. Ikut. Campur." ucapnya dingin menekan setiap kata-katanya membuat Zetsu bergetar mendengar nada mencekam keluar dari mulut pemuda tersebut. Menunduk dalam kepada Kolonel muda di depannya, perlahan-lahan tubuhnya bangkit dengan kedua kakinya melangkah mundur.
" Ma-Maafkan atas tindakan lancang saya." ucapnya gemetar, sedangkan Naruto tidak bergeming sama sekali dari posisinya. Bune menatap kembali ke arah sosok pemuda yang masih dalam posisi membungkuk ke arahnya itu, dirinya menatap dalam tubuh pemuda di depannya itu. Bune menghembuskan nafas panjang, menatap dalam sosok pemuda di depannya itu.
" Kenapa? Kenapa kamu menolong penyihir bangsawan yang sangat kamu benci itu? Mereka belum tentu juga akan menolongmu jika kamu dalam kesusahan." tanyanya dengan suara cukup berat sedangkan Naruto yang mendengarpun masih dalam posisinya, tidak bergerak sama sekali. Semua orang yang ada di sana menunggu jawaban yang akan diutarakan oleh Kolonel muda tersebut, dan mereka sangat tahu jika pemuda Namikaze itu sangat membenci dengan hukum yang mengekang antara penyihir rakyat biasa dengan penyihir bangsawan.
" Aku memang membenci penyihir bangsawan karena keegoisan yang mereka perlihatkan, kesombongan yang selalu menunjukkan jika mereka yang terbaik, juga sifat provokator yang selalu memojokkan para penyihir rakyat biasa seperti diriku sendiri. Menyalahkan semuanya kesalahan yang mereka lakukan kepada penyihir rakyat yang akhirnya menerima hukuman dari petinggi setiap Kesatuan." jawabnya membuat semua orang yang mendengarnya menjadi hening, terutama Hiruzen, Danzo, Asuma, Kakashi, Obito dan Ibiki yang merupakan petinggi istana, memahami semua perkataan yang di lontarkan oleh Kolonel muda tersebut.
" Tapi, sejahat-jahatnya manusia pasti tetap memiliki sedikit celah kebaikan di dalam hati mereka. Perbedaan itu indah karena kita mengetahui jika sifat manusia yang bermacam-macam di dunia ini. Kita semua mengetahui sisi positif maupun negatif diri sendiri maupun orang lain, dan berusaha untuk mengubah diri untuk yang lebih baik. Jika semua manusia memiliki sifat yang sama, maka kehidupan di dunia akan sangat bosan. Semua orang memiliki sikap baik juga tidak akan bagus karena jika misalkan tidak berani membunuh binatang-binatang di hutan, maupun memanen hasil pertanian maupun ladang, maka kita akan mati kelaparan, karena tidak tega untuk menyakiti makhluk hidup lain. Terlalu jahat juga tidak bagus, karena jika setiap hari berperang dan saling membunuh, manusia tidak akan pernah berpikir akan kehidupan, perdamaian dan persahabatan, yang malah membuat semua populasi manusia di bumi ini punah. Aku tidak bisa memaksa akan pendapatku untuk menyamakan derajat antara penyihir rakyat dan penyihir bangsawan karena pasti ada pro maupun kontra. Jadi, kesadaran kita inilah yang di tunjukkan, karena sebagai ciptaan sempurna-Nya, kita harus tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk masa depan kita di dunia ini." lanjutnya membuat Bune maupun orang-orang mendengar penjelasan panjang yang di ucapakan oleh pemuda tersebut. Ketiga kepala naga iblis itu menunduk dengan kedua matanya yang terpejam, mencerna setiap kalimat demi kalimat yang di ucapkan oleh keturunan terakhir Dewa Penguasa Neraka tersebut.
' Naruto benar-benar putra anda, Yang Mulia Azazel. Kepribadian, tingkah laku maupun pemikiran yang dimilikinya sangat mirip dengan anda. Saya maupun yang Raja maupun bangsawan-bangsawan lainnya berterima kasih karena anda memimpim kami, menjunjung kami sebagai pengikut anda.' batin iblis naga tersebut yang perlahan-lahan kedua sepasang mata masing-masing naga tersebut terbuka, menatap ke arah sosok Naruto yang masih belum bergeming dari posisinya itu. Mulut ketiga naga iblis itu menghembuskan nafas panjang, lalu menurunkan wajahnya mendekati tubuh tengkurap Naruto.
" Walaupun dengan terpaksa dan menjatuhkan harga diriku sebagai salah satu Great Duke, aku akan membawa manusia-manusia sialan itu menuju ke tujuan yang kamu maksud." ucapnya membuat tubuh pemuda di depannya itu sedikit memberikan reaksi. Ketiga wajah naga iblis tersebut terlukis sebuah senyum tipis melihat reaksi kecil pemuda di depannya itu, kemudian dirinya melanjutkan ucapannya.
" Asalkan kamu bisa memenuhi satu syarat yang akan aku berikan kepadamu." lanjutnya.
" Apapun. Aku akan mengabulkan persyaratan yang kamu inginkan." jawabnya langsung dengan posisi yang masih sama sedangkan Bune menatap sambil tersenyum di ketiga wajahnya.
" Aku yakin kamu sudah tahu apa keinginan kami semua. Jadi, itulah syarat yang harus kamu penuhi." ucapnya . Naruto yang mendengarpun tersenyum tipis, perlahan-lahan dirinya mengangkat kepalanya, menatap ke arah kedua mata ruby kepala tengah naga itu. Menarik kaki kanannya sedikit ke depan yang kemudian dirinya menekukkannya, perlahan-lahan bangkit sambil menarik kaki kirinya, lalu dirinya akhirnya berdiri tegak dengan percaya diri.
" Tentu saja. Aku tidak akan mengecewakan kalian semua." jawabnya mantap membuat ketiga kepala naga iblis itu mengangguk mendengarnya. Leher tengah naga iblis tersebut menurun, mendekatkan kepala naga itu kepada pemuda Namikaze itu, terlihat kedua iris rubynya menatap begitu tenang kepada sosok pemuda tersebut.
" Ayo kita berangkat. Waktu yang kamu miliki tidak banyak." ucapnya membuat pemuda Namikaze itu tersenyum tipis, kemudian dirinya mengambil ancang-ancang, lalu melompat ke udara, tidak lama setelahnya dirinya mendarat tepat di antara sepasang tanduk yang menjulang ke langit. Mengangkat kembali lehernya ke atas, naga iblis itu menyampingkan tubuhnya ke kanan, kepala kanannya menatap Zetsu juga Kaguya yang membalas menatap ke arahnya lalu ke arah Toneri yang menatap ke arahnya.
" Aku kenal kalian bertiga. Diantara kalian bertiga juga manusia-manusia yang ikut menjalankan misi ini, naiklah ke punggungku. Jangan berani mencoba menyentuh api hitam itu atau kalian akan langsung mati." ucapnya membuat Zetsu dan Kaguya tersentak dari lamunan mereka. Zetsu dan Kaguya saling menatap satu sama lain, kemudian kembali menatap ke arah sosok naga iblis itu, berjalan mendekati tubuh raksasa tersebut. Berhenti beberapa meter untuk menjaga jarak, keduanya membungkuk hormat kepada sosok makhluk supernatural tersebut.
" Great Duke Bune, saya Otsutsuki Zetsu beserta adik perempuan saya Otsutsuki Kaguya, meminta izin untuk menunggang punggung Agung yang Engkau miliki." ucap pria tersebut meminta perizinan dari naga iblis itu, sedangkan kepala kanan naga iblis itu mendengus, lalu memalingkan wajahnya ke depan.
" Jangan banyak omong, waktu adalah uang. Malam juga sudah semakin larut dan aku tidak yakin kalian bisa menyelesaikannya sampai fajar. Cepat naik." ucapnya dengan suara evil miliknya, membuat Zetsu maupun Kaguya menengakkan tubuh mereka mendengarnya. Zetsu lalu menyampingkan wajahnya ke belakang, menatap ke arah Hidan, Shikamaru, Chouji dan Jirobo yang ragu sedangkan Hinata maupun Kushina takut mendekati sosok naga iblis tersebut.
" Tunggu apa lagi. Kita sudah di beri kehormatan untuk menunggang salah satu Great Duke iblis panggilang tuan muda Naruto. Dengan kecepatan yang di milikinya, kita akan sampai ke perbatasan hanya waktu setengah jam." ajak Zetsu tapi keenamnya masih bertahan di posisi tempat mereka berada, meragukan perkataan pria bermarga Otsutsuki tersebut.
" Apa kamu yakin?" tanya Hidan sedikit takut membuat Zetsu mengangguk menyakinkan kepada pria berambut perak tersebut.
" Tentu saja. Untuk apa aku bohong kalian semua, tidak akan ada gunanya juga. Duke Bune sudah mengizinkan kita untuk naik ke punggungnya, jadi tidak perlu takut." jawabnya tapi bukannya membuat tenang, malahan mereka memberanikan diri untuk menatap wajah naga iblis itu. Hidan menatap kembali ke arah pria berambut putih hitam tersebut, membuka kembali mulutnya untuk mengucapkan sesuatu.
" Ta-tapi…" ucapannya terputus karena hentakan keras ekor naga iblis tersebut yang langsung meretakkan tanah tersebut cukup dalam juga debu dari tanah tersebut terangkat cukup banyak. Kepala kanan naga iblis tersebut berbalik menatap Hiruzen, Danzo juga yang lainnya terkejut dengan kelakuannya itu, menatap nyalang ke arah mereka semua.
" Jangan banyak omong. Jika tidak mau ikut tinggal kembali saja kalian ke kamar masing-masing dan tidur. Jangan membuang waktu karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Kalau mau ikut langsung naik, jangan manja seperti bayi." nada tajam keluar dari mulut naga tersebut membuat Hidan, Shikamaru, Chouji juga Jirobo mengangguk paham bagaikan robot, berlari pelan mendekati Zetsu yang tersadar dari keterkejutannya, yang tidak lama setelahnya keempat magic knights mengambil ancang-ancang, melompat ke udara, mendarat tepat di sisi kanan punggung naga iblis tersebut. Hidan, Shikamaru, Chouji dan Jirobo menatap ngeri ke arah kobaran api hitam yang membara begitu liarnya di garis punggung naga iblis tersebut. Sedikit mengenai api hitam tersebut akan langsung mati, itu sudah membuat keempat penyihir tersebut tidak akan macam-macam dengan ucapan makhluk supernatural dari Kolonel muda tersebut. Kushina dan Hinatapun menyusul melompat ke atas, mendarat tidak jauh dari keempatnya. Kaguya melompat ke atas menyusul, gadis berambut salju itu mendarat tidak jauh dari kedua penyihir wanita di grup tersebut. Zetsu melompat terakhir, pria itu mendarat berkumpul dengan regu laki-laki. Naruto hanya bisa menggeleng pelan kepalanya sambil terkekeh pelan, sedangkan Bune hanya melirik ke arah pemuda Namikaze tersebut, mendengus tidak peduli.
" Jangan tertawa. Aku melakukan ini juga demi kamu. Apa kamu yakin jika manusia-manusia itu bisa membantumu? Aku cukup yakin dengan kedua penyihir yang merupakan keturunan Otsutsuki itu, tapi aku meragukan dengan kemampuan yang lainnya. Musuh yang akan kamu hadapi bukan manusia, apa mereka bisa membantumu?" tanyanya panjang lebar juga nadanya terselip kekhawatiran yang cukup kentara. Naruto yang mendengar menaiki alis kananya, sedikit heran dengan sikap kekhawatiran yang ditunjukkan oleh iblis tersebut.
" Tumben sekali kamu khawatir, biasanya kamu akan acuh saja dengan orang-orang yang akan aku hadapi." jawabnya sedikit menyindir, tapi malah membuat Great Duke tersebut membuka sekali kedelapan sayapnya kuat, juga kedua leher kiri dan kanan naga iblis itu menyamping menghadap ke arah pemuda tersebut, terlihat iris ruby menyalanya menatap tajam.
" Aku serius." ucapnya dalam membuat Naruto terkekeh pelan, yang kemudian dirinya menghembuskan nafas pelan. Kolonel muda tersebut melipat kedua tangannya di depan dada, menatap balik keempat ruby iblis naga tersebut.
" Kamu pikir siapa aku? Aku adalah Kolonel muda di Kerajaan Api dan aku sangat yakin kamu mengetahui kemampuanku. Jika aku sendirian menjalankan misi ini, tentu akan gagal, tapi aku bersama dengan orang-orang yang sudah aku seleksi. Aku tidak membutuhkan semua penyihir penyerang, karena tanpa support, penyerang juga akan kalah. Jangan kamu meremahkan kemampuan orang-orang yang aku pilih Paman Bune, karena kekuatan mereka bukan isapan jempol belaka." katanya tidak kalah serius, kedua dark azurenya menatap tajam balik ke arah iblis tersebut. Bune yang mendengar jawaban dari pemuda itu tersenyum tipis, kemudian leher kiri dan kanannya menghadap ke depan, masing-masing sisi matanya menatap ke arah sosok Kolonel muda tersebut.
" Itu jawaban yang ingin aku dengar." jawabnya yang kemudian mengambil ancang-ancang terlihat tubuh naga iblis itu mengeluarkan aura ungu kelam, kedelapan sayap besar runcingnya yang di lapisi oleh aura tersebut terbuka lebar, terlihat garis-garis merah setiap sayap itu mengeluarkan cahaya. Naruto yang melihat jika makhluk panggilannya siap melayang ke udara menatap ke arah para petinggi Kerajaan Api, rekan squadnya juga beberapa penyihir yang juga ikut mengantar mereka.
" Kami pergi dulu, Yang Mulia Kaisar." pamit Naruto terlihat Hiruzen yang tersenyum tipis mendengarnya, mengangguk.
" Hati-hati. Kami akan menunggu kepulangan kalian." ucapnya membuat Naruto terdiam sejenak, tapi tidak lama setelahnya dirinya memberi senyum kecil, mengangguk. Kedelapan sayap Bune mengepak kencang, yang kemudian tanpa di duga, mereka sudah berada di atas langit malam. Zetsu, Kaguya, Hidan, Shikamaru, Jirobo, Chouji, Hinata dan Kushina yang tidak merasakan getaran apapun saat naga iblis tersebut membawa mereka. Zetsu yang merasakan jika aura kegelapan tersebut melindungi mereka dari kelembaman tubuhnya. Mendongakkan kepalanya, dirinya menatap sosok punggung tuan mudanya yang kokoh dengan jubah sihirnya yang tertiup kencang mengikuti arah angin dan rambut pirang gelapnya berhembus, berdiri kokoh tanpa takut apapun yang menghalanginya. Mengepalkan kedua tangannya kuat, memperlihatkan buku-buku jarinya yang cukup dalam.
' Apapun yang terjadi, aku pasti akan melindungi anda, tuan muda Naruto.' batinnya yang kemudian dirinya menatap kedepan, terlihat langit malam yang sangat luas juga bintang-bintang yang bersinar sangat banyak menghiasi malam tersebut.
" Bersiap-siaplah Naruto, karena kita akan langsung sampai ke tempat tujuan yang kamu inginkan. Aku akan memfokuskan kekuatan kecepatan yang aku miliki." ucap Bune tiba-tiba, sedangkan Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum tipis.
" Aku tidak mungkin jatuh walaupun kecepatan yang kamu miliki sama seperti kecepatan suara ataupun kecepatan cahaya sekalipun." jawabnya membuat ketiga bibir naga iblis itu menyengir mengerikan mendengarnya. Seluruh tubuh naga iblis tersebut di lapisi oleh aura ungu yang keluar dari dalam tubuhnya, kemudian kedelapan sayap runcing itu mengepak sekali, langsung saja menghilang dalam sekejab di hadapan Hiruzen, Danzo juga yang lainnya. Suasana menjadi hening setelah kepergian regu ekspedisi penyelamatan Jendral Minato beserta magic knights yang tertangkap oleh penyihir Iwagakure.
" Apa mereka akan baik-baik saja?" ucap Tsunade membuka suara, memecahkan keheningan di antara mereka setelah melihat kepergian mereka dari langit malam tersebut. Orochimaru yang mendengar perkataan rekannya itu hanya menghembuskan nafas pelan, memejamkan kedua matanya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
" Kita hanya bisa berdoa agar Naruto juga yang lainnya bisa menuntaskan ekspedisi ini. Aku tahu jika waktu yang kita miliki tinggal seminggu, tapi kenapa tiba-tiba Naruto ingin melaksanakannya malam ini?" tanya Orochimaru kembali membuka kedua matanya, menatap ke arah Hiruzen, Danzo juga Kakashi yang terdiam mendengar pertanyaannya.
" Dalam waktu seminggu, bukan berarti hari keempat, kelima ataupun keenam bukan? Lebih cepat, lebih baik karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka." jawab Jiraiya membuat Orochimaru terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu. Dirinya yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan di antara Hiruzen, Danzo ataupun Kakashi, entah itu apa sampai-sampai membuat mereka mengabulkan Kolonel muda tersbeut melaksanakan ekspedisi tersebut malam ini. Menyerah, dirinya menghembuskan nafas, lalu berbalik berjalan meninggalkan orang-orang yang ada di sana dalam keheningan, diikuti yang lainnya, meninggalkan Hiruzen, Danzo juga keempat Jendral Kesatuan tersebut. Hiruzen menghembuskan nafas pelan, kemudian dirinya berbalik dengan kedua tangannya di belakang pinggangnya, diikuti Danzo yang menyusul di belakangnya, juga Obito, Ibiki dan Asuma. Kakashi mendongakan kepalanya ke langit, tempat sebelumnya salah satu Kolonelnya juga team yang di bentuknya untuk melakukan ekspedisi penyelamatan tersebut.
" Semoga kalian kembali membawa kabar baik." bisiknya pelan yang kemudian dirinya membalikkan tubuhnya, menyusul rekan-rekannya kembali ke istana.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
