PARADISE

Part XXIX

"Si Me Amas, Serva Me"

Jadi apakah sebenarnya yang kita dapatkan setelah berhasil memperoleh cinta yang kita inginkan? Apakah kemudian kehadiran orang itu dan perhatiannya sepanjang waktu adalah imbalan yang cukup? Atau bisa melewati hidup bersamanya merupakan cinta yang kita maksudkan itu? Lalu apa bedanya cinta itu dengan keinginan untuk memiliki sebuah barang? Ketika kita memutuskan untuk menyukai sebuah benda, kemudian berusaha mati-matian untuk mendapatkannya –membelinya, hanya agar bisa menyimpannya di dalam tempat yang aman di dalam rumah. Apakah itu cinta yang kita bicarakan?

Chanyeol muda pernah berpikir, seandainya suatu saat nanti ia benar-benar jatuh cinta pada seseorang, berapa lama perasaan itu akan bertahan? Apakah ia benar-benar sanggup mencintai orang itu hingga ia tua –bahkan mati, nanti? Apakah akan selama itu? Karena tinggal dalam lingkungan di mana orang-orang di sekelilingnya jarang mengungkapkan perasaan mereka, mencintai seseorang adalah pekerjaan yang berat baginya. Di mana hal itu akan menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan sekaligus melelahkan. Tapi ketika Chanyeol memikirkan hal itu, ia belum jatuh cinta, setidaknya ia memutuskan begitu.

Ketika Chanyeol membuka matanya, hal pertama yang menyambutnya adalah sakit kepala yang menyerang dengan hebatnya. Dokter Kim tidak bercanda ketika mengatakan jika ingatannya kembali dalam satu waktu, maka rasanya seperti ada sebuah bom meledak di kepalanya. Chanyeol mengernyit dan menggerakkan kepalanya yang rasanya seperti sedang ditimpa sebuah batu, untuk kemudian membuat wajahnya berhadapan dengan wajah Yifan.

Pemuda berusia 28 tahun itu tanpa sadar menahan nafasnya. Rasanya apa yang sedang dialaminya saat ini adalah mimpi. Chanyeol memperhatikan bagaimana kedua kelopak mata Yifan tertutup ketika ia masih terlelap dalam tidurnya, bagaimana kedua bibir kecil itu membuka sedikit, dan bagaimana hembusan nafas Yifan menerpa pipinya. Hangat. Perhatian Chanyeol kemudian tertuju pada kedua tangan mereka yang terkait di antara tubuh keduanya yang hampir menempel.

Chanyeol tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya. Bagian kosong di dalam hatinya yang selama ini membuat dadanya sakit tiba-tiba terasa penuh hingga rasanya begitu sesak dan mencekat. Chanyeol tidak yakin apakah ingatannya yang mengisi kekosongan itu atau perasaannya karena bertemu dengan Yifan. Tapi setelah sekian lama, apakah—

Racauan di dalam kepala Chanyeol terhenti ketika Yifan terbangun dan membuka matanya. Chanyeol baru menyadari luka lebam yang mulai muncul di sudut bibir Yifan akibat pukulannya semalam. Pemuda itu tiba-tiba merasa bersalah.

Pandangan keduanya beradu ketika Yifan sudah tersadar penuh dan menatap Chanyeol.

"Morning, Vancouver." Adalah kata-kata pertama yang Chanyeol ucapkan pagi itu.

Panggilan yang tidak pernah didengarnya selama bertahun-tahun itu membuat Yifan menarik kedua sudut bibirnya dan mendengus pelan.

Kecanggungan mau tidak mau tetap menyelimuti keduanya dan meskipun Chanyeol juga ikut tersenyum, tidak ada kalimat apapun yang meluncur dari mulut mereka setelahnya.

Yifan meremas pelan jemari tangan Chanyeol sebelum melepaskan kaitan mereka. Pemuda itu kemudian menyingkap beberapa helai rambut yang terjatuh pada dahi Chanyeol tanpa memutus tatapan mata mereka. Yifan kemudian menangkup salah satu pipi Chanyeol menggunakan telapak tangan besarnya dan mengusap bibir bawah pemuda itu pelan. Ia seolah ingin memastikan bahwa apa yang ada di hadapannya ini bukanlah mimpi –seperti yang sudah terjadi selama beberapa tahun ini.

"Apa aku menyakitimu?" Tanya Chanyeol.

Yifan tidak mengerti dengan kesakitan mana yang Chanyeol bicarakan. Apakah wajahnya –atau hatinya?

Yifan menggeleng pelan. Karena pada kenyataannya mereka telah menyakiti satu sama lain.

Yifan meneliti setiap jengkal wajah Chanyeol demi menyegarkan memorinya melalui sentuhan sambil menduga-duga apakah masih ada yang tersisa di antara mereka.

Yifan lega bahwa ingatan Chanyeol sudah kembali dan bagaimana pemuda itu segera menemuinya. Namun Yifan tidak yakin bahwa perasaan di antara mereka berdua tetap sama. Bisa jadi ini hanyalah sentimen yang Chanyeol rasakan begitu ingatannya kembali.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Chanyeol ketika melihat kedua alis Yifan yang saling terpaut.

Yifan kembali merapikan rambut Chanyeol yang terjatuh di dahinya.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Yifan yang akhirnya membuka suara.

Chanyeol terdiam sejenak sebelum tersenyum. Mungkin beberapa hal tidak dapat berubah, pikir Yifan kala itu.

"Kepalaku rasanya seperti akan pecah. Tapi aku baik-baik saja." Jawab Chanyeol.

Pemuda itu masih tidak habis pikir ketika ia dengan begitu mudahnya bisa mengingat cerita mengenai Ibunya yang bunuh diri atau tentang Ayahnya yang begitu membencinya, tetapi butuh waktu bertahun-tahun bagi Chanyeol untuk mengingat Yifan.

Yifan tidak ingin bertanya bagaimana Chanyeol bisa mendapatkan kembali ingatannya. Tidak ingin bertanya kenapa kepala Chanyeol terasa sakit atau apakah ia butuh bantuan mengenainya. Yifan hanya ingin mereka tetap tinggal seperti ini selamanya, menyimpannya agar pemuda itu tetap berada di sampingnya.

Tapi bahkan sejak awal hubungan rumit yang mereka jalani adalah tanpa komitmen dan Yifan merasa tidak memiliki hak untuk mengklaim Chanyeol menjadi miliknya. Meskipun berulang kali Yifan menganggap pemuda itu sebagai Chanyeol -nya.

Chanyeol menyingkirkan tangan Yifan dari wajahnya dan mengangkat kepalanya sedikit. Pemuda itu kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Yifan sebelum menyatukan bibir mereka. Tidak ada pagutan atau lumatan dalam ciuman itu, bibir mereka hanya menempel dan menekan satu sama lain.

Beberapa hal mungkin memang sulit berubah, pikir Yifan ketika ia menyesali bahwa hingga saat ini pun selalu Chanyeol yang memulai terlebih dahulu.

.

.

.

Luhan sedang melipat mantelnya di satu lengan ketika ia berjalan menyusuri trotoar jalan menuju apartemennya. Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah mobil yang tampak tidak asing baginya. Demi mengobati rasa penasarannya, Luhan menghampiri mobil itu dan menemukan sosok yang dikenalnya. Laki-laki itu terlihat menyandarkan kepalanya di atas kemudi dengan mata terpejam.

Sinar matahari yang belum terbit pagi itu membuat suasana musim gugur menjadi mendung. Angin yang berhembus membuat Luhan setengah menyesal karena sudah melepas mantelnya.

"Baekhyun-sshi?" Luhan awalnya tidak ingin mengganggu tidur dokter itu, namun ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya mengenai apa yang ia lakukan di tempat ini. Dan kenyataan di mana dokter itu mengemudikan mobil Chanyeol semakin membuat Luhan penasaran.

Laki-laki yang dipanggil namanya itu kemudian membuka matanya dan mengernyit. Ia memperhatikan sekitarnya sebelum fokus menatap Luhan.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Luhan.

Baekhyun melirik ke arah gedung apartemen Luhan sebelum menatap ke arah laki-laki itu lagi.

"Kau baru saja pulang?" Tanya Baekhyun sambil memperhatikan penampilan Luhan.

Laki-laki berperawakan tubuh ramping itu mengangguk.

"Sebaiknya kau tidak masuk dulu." Kata Baekhyun sambil menatap ke arah gedung apartemen itu lagi.

Luhan mengikuti arah pandangan Baekhyun dengan berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya.

.

"Terima kasih." Ucap Baekhyun ketika ia menerima cup berisi kopi panas yang baru saja Luhan berikan untuknya.

Dua orang laki-laki itu duduk di sebuah bangku di depan kompleks apartemen yang Luhan tinggali. Baekhyun akhirnya bercerita bahwa Chanyeol sudah mengingat Yifan semalam.

"Apa kau akan menunggu Chanyeol sampai ia keluar dari apartemen?" Tanya Luhan.

Baekhyun menyesap kopi di tangannya sebelum menggeleng pelan.

"Aku sudah berniat untuk meninggalkan tempat ini begitu Chanyeol masuk semalam, tapi aku ingat aku sebaiknya berjaga-jaga barangkali semuanya tidak berjalan lancar dan Chanyeol membutuhkan bantuanku." Baekhyun menghela nafas.

"Tapi sepertinya Chanyeol tidak membutuhkan apapun dariku dan aku jatuh tertidur di mobil." Lanjutnya.

Keduanya kemudian terdiam. Luhan memandang ke arah langit-langit yang semakin terang begitu matahari mulai menyembul.

"Kau tahu semuanya?" Tanya Baekhyun tiba-tiba.

Luhan menoleh ke arah Baekhyun sebelum memalingkan wajahnya pada kopi di tangannya.

"Maksudmu mengenai Yifan dan Chanyeol?"

Baekhyun mengangguk.

"Aku hanya tahu sedikit dari Ibu Yifan setelah mereka pindah ke Nanjing. Aku tidak tahu pasti kekacauan apa yang sebenarnya terjadi hingga semuanya menjadi seperti ini." Kata Luhan sambil sesekali menyesap kopinya yang mulai dingin.

"Yifan tidak pernah cerita?"

Luhan menggeleng. "Yifan bukan orang yang bisa bercerita –aku tidak tahu bagaimana ia bisa menulis novel itu dengan kepribadiannya yang tertutup."

Baekhyun menghirup nafas dalam-dalam dengan kedua matanya yang menerawang jauh.

"Kenapa Yifan tidak langsung memperkenalkan diri sebagai teman lama Chanyeol ketika mereka bertemu? Kenapa kalian seperti menutup-nutupi identitasnya di depan Chanyeol?"

Luhan memikirkan jawaban atas pertanyaan Baekhyun sejenak sebelum mengangkat bahunya.

"Aku pikir itu adalah hak Yifan untuk membuat keputusan. Ketika aku memberitahunya bahwa Chanyeol hilang ingatan, aku pikir Yifan akan berusaha melakukan sesuatu agar Chanyeol mengingatnya, tetapi yang ia lakukan justru kebalikannya."

"Jadi dia pengecut?"

Luhan mendengus begitu mendengar pertanyaan itu dari Baekhyun. Ia menatap ke arah dokter itu sebelum menggelengkan kepalanya dengan tidak percaya.

"Aku pikir Yifan adalah orang yang tahu diri."

Baekhyun terdiam sebelum akhirnya tersenyum. Ia melirik ke arah arlojinya sebelum undur diri karena waktu terus berjalan dan ia tidak bisa selamanya berada di tempat itu, menunggu sesuatu yang ia sendiri tidak tahu jawabannya.

"Baekhyun-sshi," Panggil Luhan ketika Baekhyun sudah akan memasuki mobil Chanyeol.

Baekhyun berhenti dan menolehkan kepalanya.

"Apa yang akan kau lakukan jika Yifan dan Chanyeol kembali bersama?" Tanya Luhan, tidak bisa menahan rasa penasarannya.

Baekhyun tersenyum hingga kedua matanya menyipit. "Memangnya apa yang bisa aku lakukan, kan?"

.

.

.

"Kau yakin tidak mau aku temani?" Tanya Yifan untuk ke sekian kali ketika Chanyeol keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.

Pemuda itu memakai kaos abu-abu dan celana jeans milik Yifan sebagai baju ganti kemejanya semalam. Chanyeol mengangguk dengan yakin sebelum meraih ponsel dan dompetnya.

"Aku akan meneleponmu setelah selesai." Kata Chanyeol sambil menyerahkan ponselnya pada Yifan agar mengetikkan nomor ponselnya.

Yifan meraih benda itu dengan ragu-ragu sebelum menyimpan nomornya di dalam ponsel Chanyeol yang berniat untuk menemui Dokter Kim, psikiaternya. Banyak hal yang perlu mereka bicarakan, tetapi Chanyeol pikir ia harus menata diri terlebih dahulu sebelum melakukannya. Dan sakit kepala yang saat ini membuatnya tersiksa serta kelebatan memori yang terus memenuhi kepalanya membuat Chanyeol merasa harus menemui Dokter itu.

Yifan memperhatikan punggung Chanyeol yang semakin menjauhinya ketika ia berjalan di koridor apartemen itu menuju lift.

"Chanyeol..."

Pemuda itu membalikkan tubuhnya dan dalam keadaan tidak siap ketika Yifan melangkah dengan tergesa sebelum menghamburkan diri padanya.

"Kau harus berjanji padaku kalau kau akan kembali." Kata Yifan dengan nafas terengah.

Chanyeol mengeratkan lengannya pada punggung Yifan sebelum berbisik di leher pemuda itu.

"Aku janji."

Karena ke mana lagi Chanyeol akan pulang, selain pada Yifan.

.

.

.

Rasanya aneh ketika Luhan harus memencet bel untuk masuk ke dalam apartemennya sendiri. Tapi demi menghindari rasa canggung, pemuda keturunan China itu rela melakukannya. Beberapa menit kemudian Yifan membuka pintu dengan ekspresi cemas di wajahnya. Luhan menyimpan pertanyaan yang sudah akan meluncur dari mulutnya dan memilih untuk masuk ke dalam apartemen.

Ruangan itu sepi ketika Luhan mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan sosok Chanyeol bahkan di dalam kamar Yifan yang pintunya terbuka.

"Um, Chanyeol sudah pergi?" Tanya Luhan yang sudah tidak bisa menahan diri.

Yifan tidak menjawab pertanyaannya dan justru beranjak untuk meraih jaketnya dan berlari ke luar dengan tergesa.

Luhan hanya bisa menghela nafas panjang melihat pemandangan itu.

.

.

Yifan tidak hentinya merutuki dirinya sendiri yang justru tidak menyimpan nomor Chanyeol di dalam ponselnya. Sudah hampir satu jam pemuda itu meninggalkan apartemen dan ia belum menghubungi Yifan lagi. Rasa panik yang menguasai tubuhnya membuat Yifan memutuskan untuk pergi menuju rumah sakit di mana ia pernah melihat Chanyeol dirawat di sana.

"Maaf, Dokter Kim sedang ada tugas di luar kota dan beliau tidak menerima konsultasi selama satu minggu ke depan." Jelas petugas di bagian informasi rumah sakit itu setelah Yifan sedikit memaksanya untuk memberikan informasi mengenai jadwal konsultasi Dokter Kim.

Tubuh Yifan bergetar dan ia tidak sanggup untuk berpikir jernih setelah mendengarnya. Jika memang Chanyeol datang ke rumah sakit ini dan mengetahui kenyataan bahwa Dokter Kim sedang tidak ada, maka ia seharusnya sudah menyelesaikan urusannya sejak beberapa saat yang lalu.

Yifan beberapa kali memeriksa ponselnya untuk melihat ada pesan atau panggilan masuk pada benda itu namun hasilnya nihil. Satu-satunya hal yang terbesit dalam pikiran Yifan kala itu adalah seorang psikiater bernama Byun Baekhyun.

"Maaf, Dokter Byun mengambil cuti sakit hari ini. Apa Anda ingin membuat janji untuk berkonsultasi? Kami akan menghubungi Anda jika Dokter Byun sudah mulai bekerja kembali."

Yifan tidak bisa menunggu selama itu.

"Apa aku bisa meminta alamat rumahnya?" Tanya Yifan yang segera disesalinya begitu petugas itu menggelengkan kepalanya.

Yifan membuka ponselnya dan menghubungi Luhan.

.

.

.

Chanyeol berjalan perlahan dan meniti trotoar jalan itu dengan langkah kaki besarnya. Setelah mengetahui bahwa ia tidak bisa melakukan konsultasi dengan Dokter Kim hari ini, Chanyeol justru mengubah tujuannya menuju sebuah tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi.

Debar nostalgia membuat Chanyeol mengangkat tangannya dan meraba tembok yang tinggi menjulang begitu ia memasuki kompleks perumahan yang seharusnya tidak asing baginya itu. Tembok itu terasa lembab ketika hujan beberapa kali mengguyur tempat itu selama musim gugur ini.

Ada bekas las di antara sambungan pagar rumah itu ketika Chanyeol memperhatikannya. Seperti ada cacat yang tinggal pada besi yang pernah ia tabrak menggunakan mobilnya. Ingatan mengenai bagaimana Chanyeol meninggalkan rumahnya untuk terakhir kali membuat sakit kepalanya tidak menjadi lebih baik.

Chanyeol kemudian mengalihkan pandangannya pada bangunan megah yang berdiri di hadapannya saat ini. Sebuah tempat di mana ia menghabiskan tujuh belas tahun hidupnya dengan perasaan tidak diinginkan yang begitu kuat. Pemuda itu sudah tergoda untuk memencet bel dan memberitahukan kedatangannya, tetapi Chanyeol memilih untuk mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Memangnya dengan apa ia akan menghadapi laki-laki itu?

Tidak ada satpam atau penjaga yang biasanya berjaga di balik pagar, tetapi suara gonggongan anjing yang tiba-tiba terdengar membuat tubuh Chanyeol menegang.

"Kukkie!" Kemudian suara gonggongan anjing itu disusul suara seorang laki-laki yang dengan lantang menghardik anjing itu.

Kali ini tubuh Chanyeol bergetar dan rasa panik membuat dada pemuda itu berdebar tidak beraturan. Seorang laki-laki bertubuh tinggi berjalan dengan sedikit membungkuk keluar dari pintu utama dan berniat memeriksa keadaan di luar ketika matanya menangkap sepasang mata yang tepat menatapnya. Laki-laki itu mengernyit untuk membuat pandangannya lebih jelas, tetapi Chanyeol buru-buru bersembunyi di balik tembok dengan nafas tersengal.

Rasa takut dan gelisah membuat nafas Chanyeol terengah-engah dan tubuhnya gemetaran. Beruntung Kukkie berhenti menyalak dan Chanyeol bisa mendengar suara pintu yang ditutup kembali.

Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada tembok yang dingin itu demi menenangkan diri. Dadanya bahkan mulai terasa nyeri ketika jantungnya berdebar hebat dan paru-parunya yang memompa nafas pendek-pendek. Pemuda itu menangkup mulutnya menggunakan telapak tangannya ketika rasa mual juga mulai mengganggu perutnya. Chanyeol kemudian berjongkok sambil terus berusaha menguasai dirinya sendiri lagi.

Hingga tanpa pemuda itu sadari, ada seseorang yang telah mengamati gerak-geriknya sejak beberapa menit yang lalu. Chanyeol akhirnya menemukan sosok bertubuh tinggi itu berdiri dengan jarak beberapa meter darinya. Kedua matanya yang tajam tidak bergeming menatapnya. Chanyeol merendahkan pandangannya untuk mengalihkan kontak mata mereka.

Langit mendung siang itu akhirnya menjatuhkan gerimis dan Yifan menyesal ketika ia harus menyaksikan ketakutan Chanyeol pada rumah itu. Mereka seolah kembali pada masa lalu dan Yifan melihat kembali bagaimana Chanyeol menyembunyikan kesakitan dan kegelisahannya dengan mata besarnya.

Dengan tubuh masih bergetar Chanyeol kemudian bangkit dan berjalan mendekat ke arah Yifan. Lalu tanpa berkata sepatah kata pun Chanyeol berjalan mendahului Yifan yang kemudian mengikutinya dalam bisu.

Chanyeol akhirnya berhenti ketika mereka tiba di sebuah tempat yang begitu familiar. Pemuda itu kemudian membalikkan tubuhnya dan menatap Yifan yang berdiri dengan jarak beberapa meter darinya.

Gerimis pada musim gugur mempertemukan keduanya kembali di tempat itu.

"Dari mana kau tahu aku ada di tempat itu?" Tanya Chanyeol sambil memainkan jemarinya, membersihkan kukunya yang sudah ia potong hingga tumpul.

Air hujan yang berjatuhan dari langit mengguyur semakin deras dan membuat tubuh keduanya mulai basah kuyup.

"Kau tidak perlu mengikutiku sepanjang waktu. Aku bisa menjaga diriku sendiri." Suara Chanyeol bergetar, entah karena kegelisahannya, atau dinginnya air hujan.

Yifan melangkah perlahan untuk mendekat pada Chanyeol. Namun pemuda itu justru bergerak mundur dan tetap membuat jarak di antara mereka.

"Chanyeol..."

"Aku sudah tidak pernah bermimpi buruk atau memimpikan Ibuku lagi. Aku sudah tidak ingin mati setiap waktu. Aku sudah baik-baik saja, Yifan."

Tapi entah kenapa kalimat itu justru bertolak belakang dengan apa yang Yifan saksikan saat ini. Bagaimana Chanyeol yang terus menghindari tatapannya, tubuhnya yang bergerak dengan gelisah—

Yifan melangkahkan kakinya lagi dan seolah tidak peduli ketika Chanyeol berniat untuk lari darinya. Pemuda yang satu tahun lebih tua itu menarik pergelangan tangan Chanyeol dan menahan lengannya pada pinggang pemuda itu.

"Chanyeol.." Yifan menggertakkan giginya hingga rahangnya menajam.

Chanyeol melemaskan tubuhnya yang sempat kaku dalam perangkap lengan Yifan dan menatap kedua manik itu dengan kedua matanya yang memerah.

"Jika mengingatku justru membuat rasa takutmu pada Ayahmu kembali, maka sebaiknya kau tidak usah mengingatku sama sekali."

Yifan tidak bisa membedakan lelehan yang mengalir dari sudut mata Chanyeol sebagai air hujan atau air mata yang ia tahan. Chanyeol menggelengkan kepalanya sebelum melingkarkan lengannya pada leher Yifan.

Tubuh Chanyeol berguncang ketika isakan demi isakan berhasil lolos dari mulutnya. Yifan mengeratkan dekapannya pada punggung Chanyeol dan seolah berusaha untuk menyatukan tubuh keduanya.

Air hujan masih dengan derasnya mengguyur ketika Chanyeol melonggarkan lingkaran lengannya pada bahu Yifan dan menatap pemuda itu. Chanyeol mengusap wajah Yifan yang basah sebelum menangkup pipi kanan dengan cukup kuat.

"Aku tidak pernah ingin melupakanmu lagi."

Kali ini tidak bisa dipastikan siapa yang memulai duluan ketika bibir keduanya menyatu dengan putus asa. Pagutan demi pagutan berubah menjadi lumatan ketika tidak ada lagi yang sanggup mengungkapkan betapa mereka membutuhkan satu sama lain saat ini –dan entah sampai kapan.

Bibir keduanya bahkan masih saling menempel ketika kebutuhan akan oksigen memaksa mereka berhenti sejenak. Dengan nafas yang masih terengah, keduanya kembali menyatukan bibir satu sama lain, mencampur saliva dengan air hujan yang tak berhenti menetes dari langit.

Kemudian dengan debar dada yang tidak beraturan dan nafas yang masih terengah, Chanyeol menggenggam tangan Yifan dan menuntunnya untuk meninggalkan tempat itu. Mereka memberhentikan sebuah taksi dan memberitahukan tempat tujuan pada sang supir dengan tangan yang masih menggenggam.

Memori cinta pertama saling berkelebat di dalam kepala mereka seperti deretan bangunan dan toko-toko yang mereka lewati di dalam taksi.

.

.

.

Produksi zat endorphin terjadi ketika seseorang merasa bahagia. Zat yang diproduksi sel tubuh itu mampu membuat seseorang merasa rileks dan bahkan meredakan rasa sakit.

Chanyeol mencengkeram bagian depan jaket Yifan ketika pemuda itu menelusupkan telapak tangannya di balik kaos basah yang ia kenakan dan mengelus perutnya. Bibir keduanya berhenti saling melumat ketika Yifan membantu Chanyeol menarik kaosnya ke atas untuk melepasnya. Keduanya buru-buru menyatukan bibir masing-masing sebelum melanjutkan kegiatan untuk melucuti pakaian mereka satu per satu.

Tidak ada yang dapat menghentikan mereka saat ini ketika tubuh dan kemauan dari keduanya adalah milik mereka sendiri.

Bulu-bulu halus pada tubuh Chanyeol menegak ketika kulitnya membuat kontak dengan tubuh Yifan yang sudah polos tanpa sehelai benang pun menghalangi mereka. Sementara itu Yifan menahan nafasnya ketika memandang wajah Chanyeol yang terbaring di bawahnya.

Cahaya lampu dari luar apartemen yang dibiarkan gelap itu memantul ke dalam kamar yang biasanya Chanyeol tempati sendiri. Hujan yang masih tidak bosan menderai membuat titik-titik air menempel pada jendela kaca yang tidak tertutup tirai.

Tidak pernah Yifan bayangkan bahwa saat ini benar-benar terjadi, ia yang memuja setiap jengkal tubuh Chanyeol tanpa penghalang dengan geliat pemuda yang selama ini menjadi objek fantasinya itu. Chanyeol menutup matanya rapat-rapat ketika Yifan memastikan bahwa tidak ada bagian tubuhnya yang tidak ia jamah.

Yifan mencengkeram kedua telapak tangan Chanyeol ketika ia akan memulai penyatuan mereka. Kedua mata mereka terpaut hingga akhirnya Chanyeol mendongakkan kepalanya dengan membunyikan teriakan tanpa suara di antara mulutnya yang terbuka. Nafas keduanya tersengal ketika Yifan menunggu hingga Chanyeol siap sebelum bergerak.

Setetes air mata meluncur dari sudut mata kanan Chanyeol sementara Yifan berusaha membuatnya rileks dengan mengecupi wajahnya. Bisikan nama Chanyeol yang keluar dari mulut Yifan juga tidak ubahnya seperti sihir yang membuat keduanya jatuh ke dalam utopia.

Entah harus mereka namai apa malam itu. Sekadar seks untuk memproduksi endorphin, atau bercinta seperti yang selayaknya sepasang kekasih lakukan. Apapun itu, hanya inilah yang mereka tahu ketika kata-kata cinta rasanya sudah tidak cukup.

.

.

.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk memberikan peringatan pada orang lain bahwa mereka tidak seharusnya mencintai kita? Bahwa gambaran untuk dicintai oleh orang lain terkadang begitu menakutkan bagi beberapa orang. Begitu juga sebaliknya, dari mana tanda peringatan bahwa ketika kita tidak seharusnya mencintai orang lain?

Karena cinta biasanya tidak datang sendiri, ia membawa serta rasa kepemilikan, ketakutan dan ketergantungan. Dan tidak semua orang sanggup merasakan perasaan bertubi-tubi itu sekaligus dalam satu waktu.

Chanyeol membuka matanya dengan tiba-tiba ketika warna langit sudah kembali memutih. Pemuda itu melirik ke arah jam di dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 11 siang. Otaknya tidak bisa menghitung berapa jam lamanya ia tertidur. Namun jika merasakan tubuhnya yang lebih rileks dan kepalanya jauh terasa lebih ringan membuat pemuda itu yakin ia tertidur cukup lama.

Yang menjadi perhatian Chanyeol selanjutnya adalah keadaan di sekitarnya. Ia jelas terbangun di dalam kamar apartemennya sendiri, dengan keadaan telanjang dan tidak ada Yifan di tempat tidurnya. Perasaan rileks yang sebelumnya Chanyeol rasakan berubah menjadi rasa panik hingga membuat pemuda itu buru-buru bangkit.

Chanyeol tidak sempat meraih pakaian bersih dan hanya menarik bed cover untuk menutupi tubuh polosnya ketika ia berjalan tergesa keluar dari kamar. Sepi.

"Yifan..." Chanyeol memanggil dengan suara tercekat.

Rasa takut menguasai tubuh Chanyeol ketika ia tidak menemukan Yifan di setiap sudut apartemennya. Pemuda itu sudah berniat untuk kembali ke kamar dan meraih ponselnya ketika ia mendengar suara pintu apartemennya terbuka.

Yifan muncul dengan sebuah kantung plastik di tangannya. Pemuda itu heran ketika mendapati Chanyeol bergelung dengan bed covernya dan memasang wajah panik.

"Dari mana saja?" Tanya Chanyeol yang tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.

Namun belum sempat Yifan menjawab, Chanyeol menghamburkan diri padanya dan mendekap tubuh Yifan.

Chanyeol menghirup bau asap rokok yang menempel pada pakaian yang Yifan kenakan. Namun bau asap rokok yang biasanya membuat dadanya kepayahan itu justru membuatnya merasa lebih tenang.

"Aku keluar sebentar untuk merokok dan membelikan sarapan untukmu. Kau mungkin lapar." Kata Yifan sambil membimbing Chanyeol kembali ke dalam kamar tanpa melepaskan pelukannya.

"Kau bisa merokok di sini. Dan aku tidak lapar." Chanyeol mengeratkan lengannya yang melingkar pada punggung Yifan ketika mereka berbaring di tempat tidur.

Yifan mendengus pelan sebelum mengusap rambut yang terjatuh pada dahi Chanyeol.

Ketika Chanyeol masih terlelap tadi, Yifan yang sudah bangun terlebih dahulu awalnya juga enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Pemuda itu mengamati wajah Chanyeol yang tidur dengan begitu pulas sebelum ia ingat bahwa ada sesuatu yang harus ia lakukan. Yifan mengecup singkat pundak Chanyeol yang terbuka sebelum meraih ponselnya dan keluar dari kamar itu.

Beruntung benda itu masih berfungsi setelah basah oleh air hujan kemarin. Yifan membaca beberapa pesan singkat dari Luhan dan sebuah kontak yang belum lama ia simpan. Pemuda itu memutuskan untuk memanggilnya.

"Yifan?" Suara dokter muda itu terdengar serak ketika panggilan Yifan terhubung.

"Kau sudah menemukan Chanyeol?" Tanya Baekhyun lagi dengan nada suara khawatir.

"Dia sedang tidur sekarang." Kata Yifan singkat.

Setelah mendapatkan kontak nomor Baekhyun dari Luhan, Yifan menghubungi dokter itu jika ia mengetahui keberadaan Chanyeol. Namun Chanyeol belum menghubungi Baekhyun sejak ia mengantar Chanyeol ke apartemen Yifan malam sebelumnya.

Dan malam itu, Baekhyun mengirimkan pesan untuk mengetahui keadaan Chanyeol pada Yifan yang baru sempat dibaca pagi ini. Yifan pikir Baekhyun akan terus khawatir jika ia tidak memberikan kabar mengenai keadaan Chanyeol.

"Dia baik-baik saja?" Tanya Baekhyun yang seperti belum yakin.

Yifan mengangguk seolah Baekhyun akan melihat gesturnya saat itu.

"Hal ini mungkin akan terasa berat bagi Chanyeol." Baekhyun menarik nafas dalam-dalam sebelum meneruskan, "Kau tidak boleh membiarkannya sendiri. Pastikan dia merasa aman. Jangan—" Baekhyun tiba-tiba berhenti.

"Aku tahu. Aku akan memastikan Chanyeol baik-baik saja." Kata Yifan menyambung kalimat Baekhyun yang terhenti.

Hening.

"Tentu saja." Yifan bisa mendengar suara Baekhyun yang mendadak sengau.

"Selamatkan Chanyeol." Ucap Baekhyun lirih.

Dokter itu kemudian buru-buru mencari alasan untuk segera menutup teleponnya yang Yifan balas dengan ucapan terima kasih.

Baekhyun pikir dengan mempelajari sikap dan isi kepala orang lain adalah salah satu hal yang bisa membuatnya lebih berhati-hati dengan perasaannya sendiri. Namun tidak pernah satu pun dosennya mengatakan, buku-buku yang ia baca menjabarkan, bahwa cinta adalah salah satu hal yang tidak pernah bisa ia kendalikan. Kapan atau kepada siapa hati kita memutuskan untuk jatuh cinta.

Dan patah hati adalah satu dari sekian banyak kasus yang selama ini pasiennya keluhkan. Baekhyun rasa ia bisa mengatasi permasalahan ini pada dirinya sendiri. Maka pemuda itu menyeka kedua sudut matanya yang sudah basah sejak ia menanyakan keadaan Chanyeol dan menarik nafas dalam-dalam.

.

.

.

"Kau akan menetap di sini lagi kan?" Tanya Chanyeol setelah ia menghabiskan makan siang yang ia lahap sore hari itu.

Setelah Yifan berhasil membujuk Chanyeol untuk bangkit dari tempat tidur dan membersihkan diri, pemuda itu akhirnya mau memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

Yifan mencerna pertanyaan yang Chanyeol utarakan sebelum memandang ke arah pemuda itu.

"Aku tidak tahu." Yifan benci ketika ia harus menghancurkan tatapan penuh harap dari kedua mata Chanyeol. Namun ia juga tidak bisa berbohong dan memberikan harapan palsu pada pemuda itu. Ia benar-benar tidak tahu.

"Kalau begitu aku ikut denganmu ke China? Kita bisa menemui Ibumu? Aku sudah lama—" Kalimat Chanyeol terhenti ketika Yifan meremas tangannya.

Yifan memagut bibir bawah Chanyeol yang kemerahan sebelum menatap pemuda itu.

"Kau tidak mau tinggal bersamaku?—"

"Chanyeol..." Yifan meletakkan telapak tangannya pada pipi Chanyeol.

"Kita tidak usah terburu-buru. Aku tidak akan pergi."

Chanyeol menatapnya dengan ragu-ragu.

"Kau janji?"

"Aku janji."

Hati Yifan retak ketika melihat kerapuhan dibalik senyuman yang Chanyeol berikan saat itu.

BERSAMBUNG

Ingin rasanya menyudahi Paradise di chapter ke-29 ini, tapi kok ya teteup one more chapter—one more chapter—one more chapter—semacam jadi mantra di kepala. Seperti banyak yang belum selesai. Mereka. Duh.

Chapter depan barangkali jadi chapter terakhir. *finger-crossed*

Maaf untuk yang sudah menunggu lama. Demi dewa kerang ajaib, sudah puluhan kali draft ini dibuka-tutup dan dibuat beberapa versi, tapi akhirnya baru kesampaian sekarang. Semoga worth the wait.

Terima kasih untuk yang sudah setia menunggu dan membaca fanfic ini dari jaman kapan sampai hari ini *feels like it's the last chap already*

Sejak awal fanfic ini memang ingin saya tulis dengan sungguh-sungguh tapi nggak nyangka sampai puluhan chapter macam ini *cries in Chinese*

Maaf lagi untuk kosakata, EYD, atau istilah yang kurang tepat. Mari belajar bersama.

PS. Ini di update malem minggu tapi aku nggak kelihatan jomblonya kan? #plak

Dengan cinta,

Mutmut Chan.