Ini bukanlah kali pertama bagi Sasuke dalam menghadapi kematian yang terjadi di keluarganya. Sebelumnya ia sudah pernah menghadapi kematian ayahnya, juga kematian kakek dan neneknya. Namun kali ini ia bahkan tak tahu apa yang seharusnya ia lakukan.

Haruskah ia membuat status di sosial media untuk memberitahu pengikutnya? Atau setidaknya memberitahu rekan-rekannya? Atau mungkin cukup diam saja?

Ketika ayahnya meninggal, Sasuke tidak sedang berada di Jepang. Saat itu ia bahkan tidak mengetahui apapun soal kondisi ekonominya hingga akhirnya sang ibu memintanya pulang dan ia tiba di hari terakhir ayahnya disemayamkan di rumah duka dan akan dikremasi keesokan harinya.

Sasuke bahkan belum memikirkan apakah ia akan mengubur atau mengkremasi kakaknya? Apakah lebih baik jika ia langsung melakukannya? Atau setidaknya menyemayamkan jenazah kakaknya di rumah duka selama beberapa hari?

Saat ini Sasuke masih harus menjaga ibunya yang bahkan belun stabil setelah operasi. Dan ia juga tidak tahu harus menjawab apa jika ibunya sadar dan langsung menanyakan keberadaan Itachi.

Seandainya ibunya baik-baik saja, ia akan meminta saran dari ibunya yang sudah berpengalaman dalam mengurusi kematian. Namun saat ini jelas mustahil untuk meminta pendapat ibunya.

"Aku harus bagaimana?"

Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari mulut Sasuke setelah tangisnya reda dan ia akhirnya berniat bicara.

Sasuke tak biasanya bertanya begini. Biasanya ia akan langsung melakukan apapun sendiri, atau kalaupun ia benar-benar tidak tahu, ia akan mencari solusinya di internet.

Kali inipun sebetulnya ia bisa saja membuka internet dan mencari tahu mengenai prosedur mengurus jenazah. Namun Sasuke bahkan kebingungan mengenai keputusan apa yang seharusnya ia ambil.

Naruto dan Sakura hanya terdiam. Rasanya menyakitkan melihat Sasuke yang tampak hancur saat ini.

"Biar kutanyakan pada okaasan," ucap Naruto.

"Tidak usah. Merepotkan."

Naruto mendesah pelan. Ia sudah hafal kebiasaan Sasuke dan ia langsung menepuk punggung lelaki itu keras-keras, "Siapa yang kerepotan? Okaasan tidak keberatan, tuh. Aku juga tidak."

Sasuke sedang tidak mau berdebat dan ia membiarkan Naruto bangkit berdiri dan menelpon ibunya.

Naruto berjalan menjauh, entah apa yang dikatakan lelaki itu pada ibunya. Sakura sendiri mengeluarkan ponselnya, mengabarkan mengenai kematian Itachi dan Sasuke yang kebingungan mengurus jenazah.

Sakura tak tahu apa yang bisa ia katakan pada Sasuke. Ia hanya merangkul lelaki itu dan berkali-kali menepuk punggungnya. Bagaimanapun juga, Sasuke terlihat menyayangi kakaknya hingga menangis sampai seperti ini. Padahal, tidak semua orang akan menangis saat salah satu anggota keluarganya meninggal. Sakura sendiri tidak menangis saat kematian kakek dan neneknya, dan pada akhirnya ia menangis setelah memaksakan diri untuk menangis.

Bukan berarti Sakura merupakan cucu yang kurang ajar. Ia hanya tidak begitu dekat dengan kakek dan neneknya karena hanya bertemu beberapa kali setahun. Terkadang dalam setahun mereka sama sekali tidak bertemu sehingga tidak ada kedekatan emosional. Sehingga jika seseorang menangis di kematian orang lain, maka orang itu pasti memiliki kedekatan emosional.

"Kalau okaasan sadar dan bertanya soal aniki, aku harus bagaimana?" tanya Sasuke pada akhirnya. Ia sudah tak tahan lagi sehingga akhirnya menyuarakan apapun yang muncul dibenaknya.

Sakura berpikir sejenak sebelum berkata, "Tentu saja kau harus jujur. Walaupun kau berbohong, seorang ibu memiliki insting yang kuat dan akan segera menyadarinya."

Seandainya Sasuke berada di posisi sang ibu, ia lebih memilih mendengar fakta yang sesungguhnya meski menyakitkan ketimbang mendengar kebohongan yang manis. Namun ia tak tahu seperti apa reaksi sang ibu jika mengetahui yang sesungguhnya.

"Apa dia akan baik-baik saja kalau kukatakan yang sesungguhnya?"

Sasuke sadar jika ibunya sebetulnya lebih dekat dan sepertinya lebih menyayangi Itachi meskipun lelaki itu memiliki keterbelakangan mental. Ia tahu kalau ibunya merasa nyaman karena Itachi lebih emosional dan sering memberikan sentuhan fisik, juga lebih hangat ketimbang dirinya.

Namun Sasuke tak bisa memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan sifatnya meski kini ia berjanji pada dirinya untuk bersikap lebih hangat dan memberi lebih banyak sentuhan fisik pada ibunya.

"Ibumu akan kecewa jika kau membohonginya, Sasuke-kun."

"Hn."

Keheningan mengalir di antara kedua insan berlainan jenis itu. Tak seorangpun berniat bicara setelahnya.

Sakura memberanikan diri mengulurkan tanggan dan meraih telapak tangan Sasuke serta mengenggamnya.

Sasuke menoleh. Ia merasa terkejut, namun sebetulnya merasa lebih nyaman setelah Sakura mengenggam tangannya. Rasanya seolah gadis itu mentransfer energi padanya.

"Hn?"

Wajah Sakura memerah dan mendadak ia merasa malu. Sebenarnya apa yang ia pikirkan hingga seenaknya memegang tangan lelaki itu? Meski mereka teman dekat, bukan berarti ia boleh seenaknya menyentuh tangan orang lain.

"Ah..umm.. aku hanya refleks menyentuhnya. Kupikir, kau mungkin merasa lebih nyaman jika aku menyentuhmu."

Sasuke tak menjawab apapun. Ia mengenggam tangan Sakura dengan erat,dan gadis itu kembali mengelus surai hitam Sasuke.

.
.

Kushina tiba di rumah sakit dengan mata yang memerah karena menangis. Ia merasa sedih karena kehilangan bocah polos yang bermain di rumahnya dua hari yang lalu.

Ia berjalan bersama Naruto dan langkahnya mendadak terhenti ketika melihat Sasuke yang sedang menundukkan kepala seraya mengenggam tangan Sakura.

"Okaasan?" Naruto menoleh ketika menyadari ibunya berhenti berjalan.

"Sepertinya kita menganggu, nih."

Naruto mengernyitkan dahi, "Menganggu apanya?"

Kushina mendengus kesal. Putranya benar-benar tidak peka, tidak heran kalau lelaki itu hanya pernah punya satu pacar sepanjang hidupnya.

Kushina tidak menyalahkan kalau tidak ada gadis yang mau menjadi kekasih anaknya. Ia sendiri kesal setelah mendengar pengakuan dari Naruto kalau ia mengajak kekasihnya ke kedai ramen favoritnya setiap kencan, lalu jarang membalas pesan. Yang terparah, bahkan lelaki itu pernah membalas pesan setelah lebih dari dua puluh empat jam.

"Lihat saja temanmu sedang apa."

"Berpegangan tangan. Memangnya kenapa?"

Kushina meringis. Padahal putranya sangat pervert mirip ayahnya, kenapa dia tidak menyadari hal seperti itu, sih?

Sakura menyadari kedatangan Kushina dan ia segera melepaskan tangannya

"Ah, halo," ucap Sakura dengan gugup seraya menatap Kushina.

Sasuke ikut menoleh dan mengucapkan salam dengan suara yang serak dan pelan. Matanya masih memerah setelah menangis, dan ia bangkit berdiri untuk menghampiri Kushina.

Kushina langsung memeluk Sasuke dengan erat dan menepuk punggung lelaki itu, "Sabar, ya. Pasti sulit menghadapi semua ini. Aku akan berusaha membantu sebisa mungkin."

Sasuke merasa canggung dengan Kushina yang langsung memeluknya begitu saja. Kalau saja Sakura dan Naruto tidak mengenal Kushina, mereka pasti berpikir kalau Kushina adalah sugar mommy.

Pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk membalas pelukan Kushina sebagai bentuk sopan santun dan wanita itu melepaskan pelukan terlebih dulu beberapa detik kemudian.

Kushina berkata, "Kau pasti khawatir kalau ibumu sudah sadar dan menanyakan soal kakakmu, 'kan? Tenang saja, biar aku yang akan menjelaskannya kalau dia sudah sadar."

Sasuke terkejut. Ia bahkan membelalakan mata sesaat sebelum berkata, "Bagaimana kau tahu?"

Kushina tersenyum. Sebetulnya ia sudah sering mendengar mengenai kepribadian Sasuke dari Mikoto dan putranya sendiri. Ia menyadari kalau Sasuke adalah orang yang kesulitan menghadapi situasi emosional jika dilihat dari sikapnya yang canggung setiap kali ia memeluk lelaki itu.

"Hanya menebak saja. Lagipula siapa yang tidak akan kebingungan jika berada di posisimu?"

"Hn."

"Omong-omong, kau sudah memutuskan apa yang akan kau lakukan pada jenazah kakakmu?" tanya Kushina sambil menatap Sasuke lekat-lekat.

"Belum."

"Astaga!" seru Kushina seketika. "Sebaiknya tentukan secepat mungkin. Apakah kau ingin menyemayamkan jenazah nya di rumah duka atau tidak? Kalau iya, kau harus cepat menentukan berapa lama kau akan menyemayamkannya karena jenazah harus disuntik dengan formalin. Semakin lama kau ingin menyemayamkannya di rumah duka, kau perlu meminta suntikan formalin yang semakin banyak. Kalau kau terlambat, jenazah akan segera membusuk."

Sasuke terdiam. Ia merasa mengurus kematian keluarga sendirian jauh lebih sulit ketimbang mengurus anggota bandnya. Ketika petugas yang akan memandikan jenazah dan menanyakan apakah ia memilih untuk memakai jas pada jenazah seperti yang dipilih beberapa orang Jepang atau shinishozoku (kimono berwarna putih yang dipakai saat kematian), Sasuke memilih shinishozoku karena setahunya ayah maupun kakek dan neneknya juga mengenakan shinishozoku sebagai pakaian terakhir mereka.

"Aku… tidak tahu."

"Kau ingin memilih prosesi kematian sesuai agama apa?"

Sasuke semakin bingung. Keluarganya, sama seperti penduduk Jepang pada umumnya, bukanlah orang yang religius meskipun setiap tahun pergi ke kuil. Kunjungan ke kuil yang dilakukan setiap tahun lebih seperti sebuah tradisi yang harus dilakukan.

Di Jepang, cukup banyak orang yang pergi ke kuil setiap tahun baru, tetapi menikah dengan cara Kristen dan meninggal dengan cara Buddha. Meskipun demikian, ada juga beberapa orang yang cukup religius dan menganut agama tertentu sejak lahir hingga meninggal. Yang jelas, Sasuke tidak termasuk sebagai orang yang religius.

"Biasanya bagaimana?"

"Biasanya kita akan menghubungi kuil terdekat. Setelah itu akan dilakukan pendeta Buddha akan datang ke rumah duka dan membaca sutra. Lalu akan ada prosesi yang harus dilakukan anggota keluarga. Dan kau juga harus memberikan sumbangan ke kuil itu untuk nama Buddha baru yang akan diberikan pada jenazah. Semakin besar sumbanganmu, nama yang diberikan juga akan semakin bagus. Aku tidak tahu cara di agama lain, tapi kalau di agama Buddha sih seperti itu."

Sasuke berpikir, jika memang itu adalah cara yang paling umum, maka ia akan melakukannya. Dan ia berniat memberi donasi yang besar agar kakaknya mendapat nama yang terbagus.

.

.

Sasuke menghabiskan beberapa jam berikutnya dengan pergi ke kuil yang ditunjukkan secepatnya, pergi ke rumah duka untuk menyewa ruangan dan membeli peti mati, serta megurus dokumen kematian yang harus diurus.

Naruto memutuskan untuk menghubungi manajer, anggota band, maupun orang-orang lainnya yang juga mengenal Sasuke. Sedangkan Sakura memutuskan untuk membantu membeli 'hadiah' yang akan diberikan kepada pelayat yang akan datang.

Mebuki dan Kushina memutuskan untuk menghubungi teman-teman mereka yang mengenal Mikoto sembari menjaga Mikoto di rumah sakit. Mereka semua tahu kalau Sasuke tak mungkin mengurus semuanya sendirian, dan lelaki itu pasti tak akan menghubungi siapapun jika dibiarkan mengurus semuanya sendiri.

Kushina menatap wajah Mikoto yang masih tertidur setelah operasi. Ia sendiri juga merasa tak tega jika harus menjelaskan mengenai Itachi. Dan ia melirik Mebuki serta bertanya, "Aku jadi ragu. Bagaimana memberikan penjelasan pada Mikoto kalau dia sampai menanyakan soal Itachi-kun?"

Mebuki mengendikkan bahu. Ia merasa kasihan pada sahabatnya. Sebagai seorang ibu ia mengerti bagaimana sakitnya kehilangan seorang anak meski sampai saat ini ia tak pernah kehilangan anak.

"Kita harus berusaha menjelaskan baik-baik kalau Itachi-kun sudah meninggal," ucap Mebuki pada akhirnya.

"Aku juga berpikir begitu. Tapi kondisinya sedang seperti ini. Aku takut kalau dia malah semakin sedih karena kehilangan putra kesayangannya."

Mebuki menghela nafas dan berkata dengan suara pelan, "Aku kasihan padanya. Tapi kupikir sebenarnya ini ada baiknya untuk Sasuke-kun."

Kushina mendelik, "Apa baiknya? Menurutmu kehilangan seorang kakak adalah hal yang baik?"

Mebuki menggeleng, "Maksudku, kondisi Mikoto sedang seperti ini, dan Sasuke-kun juga sedang memiliki banyak masalah. Jika Itachi-kun masih hidup, bukankah Sasuke-kun akan semakin sulit karena harus mengurus kakaknya yang keterbelakangan mental dan harus menanggung biaya untuk dua orang tambahan? Lagipula bagaimana kalau bandnya tur lagi? Mikoto jelas tidak mungkin mengurus Itachi-kun sendirian."

Kushina merasa ucapan Mebuki terdengar kejam, namun sebetulnya ucapan wanita itu ada benarnya. Ia tahu bagaimana sulitnya kehidupan keluarga sahabatnya, dan ia merasa sangat kasihan pada Sasuke.

"Sebenarnya Sasuke-kun kasihan sekali, ya. Rasanya aku kagum sekali pada anak itu," puji Kushina dengan tulus.

"Kau benar. Anak itu sangat mengagumkan."

"Uh.. kalau saja aku punya anak perempuan, pasti akan kujodohkan anakku dengan Sasuke-kun. Seharusnya kau berusaha mendorong Sakura-chan untuk lebih agresif pada Sasuke-kun. Dia itu menantu yang ideal, lho."

"Ya ampun! Lama-lama kau bisa jatuh cinta pada Sasuke-kun karena terus menerus memujinya."

"Hey! Aku masih waras, tahu! Mana mungkin aku jatuh cinta pada putra sahabatku, sih?"

Mebuki tersenyum. Kushina benar-benar tidak berubah sejak dulu. Wanita itu adalah orang yang ekspresif sejak dulu dan sangat banyak bicara, namun sebetulnya cukup baik. Karena itulah ia bisa berteman lebih dari tiga puluh tahun dengan wanita itu.

"Habis kau terus menerus memujinya. Lalu kau bahkan memeluknya, padahal anak itu terlihat canggung."

"Memang apa salahnya aku cuci mata dengan melihat lelaki muda tampan? Ibarat buah, Sasuke-kun adalah buah yang masih segar."

Mebuki merasa malu mendengar ucapan sahabatnya yang terdengar gila. Untunglah ucapan Kushina selama ini tidak benar-benar serius. Sejauh ini ia tidak pernah mendengar kalau wanita itu berselingkuh, hanya saja wanita itu memang sangat menyukai lelaki tampan sejak dulu.

"Kalau aku punya anak perempuan dan anakku menikah dengan Sasuke-kun, aku tidak akan khawatir sama sekali. Kurang apa lagi dia? Sudah pintar, mau bekerja keras, tampan, tubuhnya seksi, bisa diandalkan, bisa mengurus keluarga juga. Aku tak mengerti bagaimana bisa ada lelaki sesempurna d-"

Ucapan Kushina terhenti seketika saat ia menyadari kalau tangan Mikoto tampak bergerak-gerak. Ia melirik Mebuki yang juga menyadarinya.

"Aduh. Kurasa kita terlalu berisik," Kushina meringis dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Mebuki tak menjawab dan ia segera menghampiri Mikoto yang perlahan membuka matanya. Wanita itu menyipitkan matanya saat melihat sinar lampu dan ia menatap dengan bingung.

Mebuki tahu kalau di saat seperti ini sebaiknya ia memanggil dokter, dan ia berusaha mencari letak bel untuk memanggil dokter atau perawat.

"Aku… dimana?" tanya Mikoto dengan suara yang hampir tidak terdengar.

"Kau sedang berada di rumah sakit sekarang. Beristirahatlah, aku akan memanggil dokter untukmu," ucap Mebuki.

"Jang-" ucapan Mikoto terputus. Seketika ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di pinggangnya dan ia tanpa sadar meletakkan jari di area pinggangnya. Ia memekik tertahan karena semakin kesakitan dan menyadari kalau pinggangnya terluka.

Mebuki cepat-cepat menekan bel ketika menemukan tombol itu dan tak lama kemudian seorang dokter segera memasuki ruangan. Dokter itu menyadari kalau Mikoto mungkin akan kesakitan setelah benar-benar tersadar sehingga ia membawa suntikan painkiller.

Dokter segera menyuntikkan pain killer dan obat itu tak langsung bekerja. Mikoto mengernyitkan dahi dan bertanya, "Apa yang terjadi… padaku?"

"Anda baru saja menjalani operasi transplantasi ginjal, Nyonya," jawab dokter itu.

Mikoto membelalakan mata, "Transplantasi? Siapa donornya?"

"Putra sulung anda yang mendonorkan ginjal kepada anda."

"Itachi-kun? Dimana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?"

Mikoto seketika tersadar akan situasinya saat ini. Sebelumnya ia tak menyadari apapun, ia bahkan tak mengingat apa yang terjadi padanya sebelumnya. Namun kini ia mulai mengingat apa yang terjadi padanya sebelum kehilangan kesadaran.

Obat pain killer itu mulai bekerja dan dokter segera melakukan pemeriksaan terhadap Mikoto.

Kushina dan Mebuki hanya bisa saling berpandangan, seolah menyuruh salah satu dari mereka untuk memberi penjelasan.

"Kalian berdua tahu sesuatu, 'kan? Tolong jelaskan padaku."

Kushina segera mendekat dan menepuk lengan sahabatnya, "Kau tenang, ya. Yang terpenting kau harus fokus pada kondisimu."

"Bagaimana bisa aku merasa tenang kalau tidak mengetahui kondisi Itachi-kun?"

Mikoto biasanya adalah orang yang tenang dibanding dengan Kushina yang sangat ekspresif. Namun kali ini wanita itu bahkan terlihat penuh dengan emosi.

"Itachi-kun pergi ke tempat yang lebih baik," ucap Mebuki sambil menatap Mikoto lekat-lekat.

Seketika mata Mikoto tampak berkaca-kaca dan setetes air mata langsung mengalir. Tak lama sesudahnya bibir wanita itu bergetar dan ia mulai terisak.

"Bagaimana mungkin? Kalian sedang bercanda, 'kan? Siapa yang seenaknya memutuskan begitu?"

Kushina mengeluarkan tisu dari tasnya dan memberikannya pada Mikoto, sedangkan Mebuki berusaha menenangkan sahabatnya.

"Aku merasa sangat egois," ucap Mikoto disela isakannya.

Air matanya mengalir deras tanpa terkendali dan ia melanjutkan ucapannya, "Aku memilih mati saja ketimbang mengorbankan putraku."

Baik Mebuki maupun Kushina merasakan tekanan yang amat berat meski mereka tidak mengurus hal ini secara langsung. Mereka tak bisa membayangkan bagaimana perasaan Sasuke nanti jika lelaki itu kembali dan bertemu dengan ibunya.

"Sasuke-kun membutuhkanmu, Mikoto. Anak itu terlihat sangat hancur saat ini. Kau harus mendukungnya," ucap Kushina.

Kushina diam sesaat sebelum berkata, "Tolong jangan salahkan Sasuke-kun. Dia juga tak menginginkan hal ini terjadi. Bahkan Itachi-kun sendiri yang meminta pada dokter. Dan saat itu kondisimu juga sangat buruk sehingga butuh transplantasi secepatnya. Sasuke-kun saja tak memberitahu kami kalau kau akan menjalani operasi."

Tangisan Mikoto semakin keras setelah mendengar penjelasan Kushina. Ia merasa dirinya begitu egois, dan ia merasa bersalah karena ia masih hidup sedangkan putra sulungnya tidak. Ia juga merasa bersalah karena tak bisa melakukan apapun dan terus menerus membebani Sasuke yang harus melakukan segalanya sendirian.

-TBC-