FINAL FANTASY VERSUS
029
NYX
28.08.756 M.E. | 07.45 AM
Nyx tiba di markas lebih awal lima belas menit. Tak dapat dipungkiri bahwa berangkat bersama Libertus yang menggunakan kruk untuk berjalan memperlambat dia dan Crowe. Dokter tulang menyarankan Libertus untuk istirahat total selama tiga minggu. Namun Libertus memaksakan diri tetap bekerja. Temannya itu mempercepat masa pemulihan dengan mengonsumsi obat pereda rasa nyeri tanpa memedulikan efek samping yang berpotensi merusak organ-organ internalnya dalam jangka panjang. Nyx mengerti bahwa Libertus ingin senantiasa menjaga Crowe seburuk apapun kondisi fisiknya. Tapi mirisnya, tindakan Libertus menjadi bukti nyata akan peribahasa klise yang berbunyi "cinta membutakan segalanya".
Sambil mengisi waktu untuk berangkat ke gerbang pos kota, Nyx bersama Libertus duduk di tangga yang menghadap ke ruang-luar latihan. Meskipun hari masih pagi, ada seorang Glaive sedang melakukan pemanasan sebelum memulai sesi latihan. Berdasarkan pengalaman pribadi, mudah ditebak bahwa Glaive itu belum lama melakukan ritual dari Raja. Dia masih ingat sensasi menggelitik ketika kekuatan asing mengalir melalui pembuluh darahnya. Sebuah kekuatan sihir yang tak dapat dijelaskan secara ilmiah. Sebuah kekuatan ilahi yang hanya dapat dihasilkan oleh Kristal Agung. Sebuah kekuatan yang saking dahsyatnya bisa membawa malapetaka jika jatuh ke tangan pihak yang salah. Nyx meyakini bahwa pihak yang salah itu adalah Niflheim, karena siapa lagi kalau bukan mereka?
Tiupan angin kencang menerpa wajah Nyx. Di saat bersamaan, dia mendengar teriakan panjang seorang pria. Nyx mendongak dan menemukan Glaive yang sedang berlatih itu terombang-ambing di langit setinggi sepuluh meter. Angin adalah musuh terberat kemampuan teleportasi. Keseimbangan badan menjadi goyah dan kemungkinan kukri salah bidik meningkat tajam. Glaive itu meluncur terlalu cepat. Untuk menghindari maut, sang Glaive melempar kukri hingga menancap di lantai batu. Tubuhnya berpindah seketika ke permukaan. Dia buru-buru membuka helm dan memuntahkan isi lambungnya.
Libertus terkekeh menyaksikan pemandangan memilukan itu. "Siapapun bakal memuntahkan makanan kalau pakai warp," komentarnya seolah bercermin bahwa dia sendiri tidak menyukai kemampuan spesial itu. "Beginilah seni kuno yang dirahasiakan Kerajaan. Cuma bikin perutmu bergejolak."
Nyx tak sepenuhnya sependapat dengan Libertus. Pertama kali dia mencoba teleportasi, memang jantungnya hampir meletus akibat reaksi dari dematerialisasi dan rematerialisasi. Sudah menjadi kodrat alam bahwa tubuh manusia tidak didesain untuk melawan kecepatan cahaya. Namun latihan ekstensif—ditambah bakat terpendam—menjadikan tubuh Nyx cepat terbiasa hingga dia menganggap teleportasi sebagai sihir yang paling disukainya. Tanpa kemampuan itu, dia tak akan mampu menolong Pelna, Libertus dan rekan-rekan Glaive lainnya.
Dan selincah teleportasi, Crowe menghampiri mereka. "Libertus! Nyx!" panggilnya. Sepatu bot wanita itu berderap di lantai. Wajahnya sama muramnya dengan bodysuit hitam yang dikenakannya. "Kemari, teman-teman. Kalian harus melihat ini."
Mengikuti ajakan sang mage, Nyx dan Libertus berjalan ke ruang-dalam latihan tepat di belakang mereka. Ruang itu berbentuk seperti gudang barang yang luas. Tembok dilapisi jeruji besi yang mulai berkarat. Di langit-langit tergantung empat buah televisi LCD. Semua Glaive menengadahkan wajah menonton televisi. Ekspresi mereka seram seolah sedang menonton film horor.
Entah acara apa yang terinterupsi oleh breaking news. Seorang pria penyiar dari saluran LN24 News berpakaian rapi menatap serius dari balik layar kecil. Di bawah pria itu ada sebuah tagline bertuliskan "Pemerintah Mengumumkan Gencatan Senjata".
"Hari ini situasi di ibu kota cukup ricuh saat pemerintah Lucian mengumumkan bahwa mereka menerima syarat-syarat perdamaian unilateral yang diajukan Kanselir Ardyn Izunia dari Niflheim. Kesepakatan gencatan senjata meliputi penyerahan seluruh wilayah Lucis kepada Kekaisaran, kecuali Insomnia. Sebagai gantinya, Niflheim menjamin keamanan Insomnia beserta penduduknya. Begitu pula dihentikannya segala bentuk perselisihan untuk mengakhiri perang berkepanjangan ini."
Nyx menggeleng-geleng dalam upaya menolak apa yang baru didengarnya. Dia sudah menduga bahwa semua petunjuk mengarah pada berita menyesakkan ini. Dia ingin menjerit. Dia ingin melempar barang-barang. Dia ingin menghadap Raja dan memohon agar beliau mempertimbangkan kembali keputusan ini. Tapi Nyx tahu dia tak bisa melakukan hal-hal semacam itu. Tak peduli sebesar apa pun keinginannya untuk melampiaskan semua frustasi dan kekecewaan, dia tak akan pernah melakukan itu pada Raja. Tapi, mau tak mau, dia bertanya-tanya. Para Glaive melakukan patroli berkala di seantero Lucis. Mereka telah merebut wilayah Leide, Duscae, Cleigne dan Galahd dengan tangan penuh keringat dan darah dari Niflheim. Kenapa sekarang Raja malah melepas apa yang mereka perjuangkan lebih dari satu dekade belakang?
Libertus menoleh pada Nyx. Temannya menggigit bibir bawah begitu kencang. Dahinya mengerut dan matanya memicing. Napasnya menjadi berat. Nyx ingin meredakan amarah Libertus, tapi dia sendiri sedang dilanda emosi yang sama. Lebih baik tidak menuangkan bensin pada api yang membara.
"Semua perjuangan yang kita lakukan…," komentar Crowe geram, "semua tak ada artinya."
Begitu juga para Glaive yang gugur di medan perang. Nyawa mereka menjadi tak bernilai. Tidak ada orang yang akan mengingat pengorbanan mulia mereka. Bagaimana reaksi keluarga yang mereka tinggalkan ketika mengetahui bahwa kerabat mereka mati sia-sia?
Membalikkan badan dan menatap sinar matahari yang menembus ruangan, Nyx mencoba memahami bagaimana dia dan rekan sesama Glaive bisa sampai ke titik ini. Raja mengunjungi Galahd dalam rangka membentuk Kingsglaive. Pada saat bersamaan, Niflheim menginvasi kampung halamannya. Para tentara Galahdian melayangkan sumpah setia atas dasar Lucis dan Galahd berbagi musuh yang sama. Tapi sekarang Raja membiarkan Niflheim memerintah Galahd begitu mudahnya.
Niflheim menjamin keamanan Insomnia beserta penduduknya. Pernyataan penyiar berita itu terdengar seperti lelucon yang sama sekali tidak lucu. Di luar Tembok, Kekaisaran tak berhenti mengerahkan pasukan IT, MT, monster dan daemon untuk menghancurkan barikade kota. Lantas sekarang tiba-tiba mereka berjanji memelihara penduduk kota yang ingin mereka hancurkan selama ratusan tahun. Apa Raja Regis dan Royal Council yang terhormat begitu buta untuk tak menyadari tipu daya ini?
Nyx begitu larut dalam kemarahannya sampai dia tak menyadari Kapten Drautos tiba di ruangan itu. "Glaive, berkumpul di ruang komando." Semua mata spontan tertuju pada sang Kapten. "Sekarang!" serunya. Matanya melotot, membuat wajahnya tampak lebih menakutkan dari biasanya. Kapten Drautos pasti sama-sama terguncang mendengar berita itu. Terlebih lagi, dia adalah orang yang menandatangani persetujuan dengan Raja Regis.
Membuntuti Kapten, para Glaive berjalan bergerombol. Semua membatalkan pekerjaan mereka. Berbagai gumaman berbunyi tak sedap terdengar dari arus tentara itu. Kebanyakan berupa umpatan yang ditujukan pada Raja seolah ada awan hitam yang meledakkan halilintar di atas kepala mereka. Nuansa ini jauh lebih buruk daripada rasa letih saat mereka baru pulang dari pertarungan di Tembok.
Mereka mengarah ke lantai dua. Kapten membuka pintu ruangan komando yang berbahan metal. Setibanya di sana, para Glaive membentuk dua barisan dan memasang pose siaga. Jarang sekali ruang komando penuh sesak karena Kapten selalu memberi perintah ke dalam beberapa grup. Tapi kali ini semua Glaive yang berjumlah dua ratus orang berbaur menjadi satu. Nyx melihat Pelna, Luche, Tredd, Axis dan Sonitus di sana.
Intensitas cahaya matahari semakin terik di luar, menembus jendela tinggi di timur ruangan, jadi ruangan lebih terang dan lebih panas, apalagi lampu-lampu dibiarkan menyala di langit-langit. Di seberang pintu ada peta Eos dan meja kayu yang dipernis. Dua buah modem diletakkan di atas meja untuk mengatur sinyal ke transceiver. Kapten berdiri di sisi seberang jendela, tepatnya di tengah dua tiang bendera hitam berlogo tengkorak khas Kerajaan Lucis.
Sang Kapten tampak gagah dalam seragam merah dan jubah hitamnya. Dia berjalan sambil mengamati satu per satu Glaive di hadapannya, lalu berdiri berkacak pinggang di depan Nyx.
"Raja telah mengumumkan. Kalian juga sudah mendengarnya," Kapten Drautos memulai. Mata hijaunya mengitari barisan. "Seluruh wilayah di luar Tembok akan diserahkan pada Kekaisaran."
"Apa tidak ada wilayah yang disisakan?" tanya Luche. Dia berdiri di antara Crowe dan Pelna.
Kapten mengerling pada sang penanya. "Tidak ada," jawabnya pendek.
"Tapi rumah Anda juga ada di sana!" sambar Libertus meledak-ledak.
Sang Kapten menoleh pelan dan menjawab datar, "Benar."
"Kenapa Raja melakukan ini?" tanya Libertus. Desakan genting merasuki pertanyaan yang ditujukan kepada Kapten.
Urat wajah Kapten menegang. Luka codet di pelipis kirinya tampak semakin jelas. "Demi menghentikan perang busuk ini! Apa kau tidak lelah terus bertempur tanpa hasil yang jelas? Bukankah kita memimpikan perdamaian selama ini?"
"Persetan dengan perdamaian! Aku tidak terima kalau caranya seperti ini!" protes Libertus.
"Daripada mengutuk, lebih baik kau bersyukur lehermu tidak patah!" balas Kapten, murka. Dia menatap setajam pisau kepada Libertus. Glaive itu membungkam mulut walau tubuh lebarnya masih bergetar. "Aku tidak mau mendengar keluhan lain," ujarnya.
Nyx dan para Glaive membisu.
Kapten membuang muka dari Libertus, lalu melangkah ke kiri. "Crowe!" serunya lantang.
Crowe yang berdiri di samping Nyx membalas tidak kalah lantang dari sang Kapten. "Ya, Sir!"
"Bersiaplah. Kau akan dikirim untuk menyusup ke Tenebrae."
"Tenebrae, Sir?" tanya Crowe keheranan.
"Rincian misinya dirahasiakan," kata Kapten. "Menghadap ke ruang kerjaku untuk pengarahan setengah jam lagi." Dia melirik pada Nyx. "Dan Nyx. Kau dibebastugaskan dari gerbang barat. Mulai besok pagi kau dipindahkan menjadi penjaga Citadel."
Nyx menerima perintah itu dengan lapang dada. Dia tak perlu berhadapan dengan Petra lagi. Menjadi penjaga Citadel menandakan dia semakin dekat dengan Raja Regis. Barangkali ada kesempatan dalam kesempitan baginya untuk bertanya langsung pada Raja mengenai kesepakatan damai ini. Atau mungkin dia bisa bertemu Pangeran Noctis. Sebagai putra Raja, sang Pangeran semestinya tahu mengenai kesepakatan dengan pengaruh besar pada wilayah kekuasaannya seperti ini. Dan hal ini mengonfirmasi perkataan Cindy bahwa Crownsguard dikerahkan keluar Citadel untuk keperluan evakuasi Insomnian. Para Glaive yang menganggur akhirnya dipindahkan ke Citadel untuk menggantikan tugas mereka. Semuanya menjadi satu alur yang berhubungan.
"Itu saja," sang Kapten menutup pertemuan, lalu berjalan keluar ruang komando. Para Glaive membubarkan diri dari barisan. Ekspresi mereka semuram orang yang baru menghadiri upacara pemakaman. Ungkapan itu akurat ditambah pakaian mereka yang serba hitam. Beberapa detik kemudian, tertinggal Nyx, Libertus, Crowe, Pelna, Luche dan gerombolan Tredd di sana.
Dengan tertatih-tatih, Libertus melangkah ke depan dan memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan teman-temannya. "Jadi, ini yang kemarin malam kau katakan, Luche?"
Luche mengangkat bahu. "Kau dengar sendiri dari Kapten. Ini bukan keputusan kita," jawabnya. Sebagai Glaive kepercayaan Kapten, tak mengejutkan bahwa Luche bisa memprediksi berita ini berhari-hari sebelumnya. Nyx mengakui bahwa Luche memang pandai.
"Bukan keputusan kita?" Libertus membeo. Dia menghampiri Luche, kedua tongkat kruknya berketuk-ketuk di lantai. "Tapi itu rumah kita! Rakyat kita!" geramnya. Crowe dan Pelna segera menahan laju Libertus yang tampak siap menghantamkan tinju ke bagian tubuh Luche manapun. "Kau menerimanya begitu saja dan meninggalkan mereka?"
Luche tak terlihat takut atau terintimidasi. "Kalau kita tidak menurutinya, Kekaisaran akan memorakporandakan Insomnia." Dia bertatap wajah dengan Libertus. Ada api berkobar di mata Libertus, sedangkan sorot mata Luche sedingin es.
Merasa tersinggung, Libertus memajukan badan sambil berseru, "Kalau begitu kita serang balik mereka!"
Nyx menahan satu bahu Libertus, membantu Crowe dan Pelna yang melakukan hal serupa. "Tenang, tenang. Dia bukan musuh," Nyx mengingatkan sobatnya untuk mengendalikan emosi.
Dari balik punggung, Tredd bertanya, "Apa kalian tidak mengerti?" Nyx menoleh malas kepada penindas itu. Pria berambut coklat itu membuka kedua lengan lebar-lebar, lalu menidurkannya lagi hingga menimbulkan suara tepukan tak santai dari jasnya. Dia berjalan mendekati Nyx dan Libertus sambil berceloteh, "Kita tak ada apa-apanya bagi Kerajaan. Kita cuma tikus yang menyelinap masuk dari luar Tembok. Tentu saja mereka memberdayakan kita ketika menyadari bahwa kita bisa menggunakan sihir mereka. Jadi mereka mencomot kita dari semua tikus lainnya di luar sana dan membiarkan kita mengerat kekuatan yang mereka agung-agungkan. Tapi begitu perang ini berakhir, mereka akan membuang kita untuk hidup kembali di selokan." Pria berambut coklat itu menatap rendah pada Nyx. "Itu juga termasuk kamu, pahlawan." Mendengar sindiran itu, Nyx membalas dengan senyum sungging. Pria arogan itu jelas sedang mencoba memancing emosinya. Tredd terus memojokkan mereka, kali ini Libertus menjadi sasarannya. "Kamu sangat merindukan rumah, Libertus. Kenapa kau tidak mengajak Nyx pulang bersamamu? Aku yakin Niflheim bakal menyambut kalian dengan gembira."
Nyx tidak peduli dirinya dihina oleh Tredd, tapi lain hal kalau yang dihina adalah teman-temannya. Dia merasakan amarah mendidih di balik kulitnya. Dengan satu dorongan ke dada Tredd, dia mengerang, "Rumahmu juga di luar sana!"
Dalam sesaat yang menegangkan, mereka bertatap mata. Nyx membaca siratan pengkhianatan terpancar dari mata coklat lawan bebuyutannya itu. Tredd menepis lengan Nyx dengan kasar. "Apa kau sudah melupakannya?" desak Nyx. Dia membenci kenyataan bahwa mereka sama-sama berasal dari Galahd. Di kala Nyx ingin memperbaiki reputasi kampung halamannya, Tredd melakukan sebaliknya. Galahd tak akan mampu bangkit dari keterpurukan sepanjang pria kotor seperti Tredd masih bebas bernapas.
Crowe bergerak ke hadapan Tredd dan menampar pria itu begitu keras dengan tangan kanannya, menyebabkan pria itu terkesiap dan pipinya memerah seperti tomat. "Jangan kira aku akan diam saja melihatmu menghina Libertus!" erangnya.
Tredd mengenyahkan pernyataan Crowe seolah itu tak ada artinya. Dia meludah sembarangan ke lantai, seperti biasa. Nyaris saja sepatu bot Nyx terciprat air dari mulut menjijikkan pria itu. Bersama Sonitus dan Axis yang dari tadi tak berkomentar apa-apa, Tredd meninggalkan ruangan.
Tinju Nyx spontan terkepal erat. Dadanya naik turun mengikuti irama jantung yang berpacu cepat. Seharusnya Tredd yang tertimpa bongkahan batu, bukan Libertus. Kalau itu terjadi, Nyx tak segan meninggalkan Tredd diremukkan oleh taring Cerberus atau diinjak oleh Diamond Weapon.
"Brengsek! Aku tak sudi berakhir seperti ini!" cetus Libertus. Dia melempar satu kruk sejauh yang dia mampu. Bunyi kelontang dari kruk yang terpental di lantai bergema nyaring di ruang komando yang sekarang terasa suram dan dingin dari sebelumnya.
Setelah makan siang, Nyx bersama Libertus dan Crowe menumpang van hitam khusus Kingsglaive untuk menemani Crowe pergi ke gerbang barat kota. Sesuai perintah Kapten, Crowe ditugaskan untuk menjemput Nona Lunafreya dari Tenebrae secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Niflheim. Sebagai persiapan, Crowe mengganti seragamnya menjadi pakaian kasual. Dia mengenakan kaos hijau muda yang dilapisi jaket denim hijau tua, celana jeans panjang, sabuk kulit, dan sneaker hitam.
Perjalanan normal dari markas di Distrik D ke gerbang kota barat di Distrik C memakan waktu satu jam melalui jalan tol. Mereka bertiga terbiasa menjelajahi dua distrik ini setiap hari dari kos ke markas dan sebaliknya. Kapten mengizinkan Nyx dan Libertus pulang lebih awal setelah menurunkan Crowe karena para Glaive memang sedang tidak ada pekerjaan. Dan Libertus memerlukan waktu lebih untuk memulihkan cedera tulangnya.
Duduk bersama dua sahabatnya di ruang belakang dalam van tanpa perlu menuju Cavaugh adalah kesempatan langka bagi Nyx. Dia merasa bagaikan menempuh perjalanan untuk bertamasya. Tak ada rasa khawatir atau tegang karena membayangkan sengitnya pertempuran melawan Kekaisaran. Kali ini dia duduk santai sambil mengobrol dengan teman-temannya. Ada satu hal yang mengganjal di benak Nyx. Dia pun bertanya kepada Crowe yang duduk di hadapannya. "Kenapa Putri Lunafreya harus repot-repot kau jemput?"
"Yah, kata Kapten, sang Puteri menjadi simbol perdamaian antara Lucis dan Niff. Rencananya dia akan dinikahkan dengan Pangeran Noctis di Altissia. Aku bertugas untuk mengantar Putri sampai ke sana dengan aman," jawab Crowe.
"Aneh banget," komentar Libertus. Dia meluruskan dan menidurkan kaki kiri di kursi satunya. "Kenapa mereka nggak menikah di sini? Kayak mereka kekurangan hotel bagus saja. Mereka 'kan punya hotel privat yang mewah di Distrik E. Apa ya namanya?"
"Caelum Via Hotels & Resorts Insomnia," jawab Nyx mewakili. Dia mengingat nama itu di luar kepala setelah dua kali melewatinya dalam perjalanan menuju Citadel.
"Ya, Caelum apalah itu," timpal Libertus malas. "Kadang-kadang susah buat mengerti cara berpikir orang elit kayak mereka."
"Altissia terkenal sebagai kota romantis. Kurasa Raja menginginkan yang terbaik untuk putra tunggalnya. Tidak seperti Insomnia, Altissia bebas dari perang. Dari semua kota yang ada di Eos, Altissia adalah tempat yang paling sempurna untuk menikah," kata Crowe menjelaskan.
"Jadi kamu juga mau menikah di sana?" tanya Libertus kepada Crowe. Ada nada menggoda dalam setiap patah kata. Dia memandang penuh arti pada wanita itu.
"Sori ya, aku nggak pernah mikir sejauh itu. Menikah, melahirkan, mengurus anak, menjadi ibu rumah tangga. Bikin aku merinding saja," tukas Crowe.
Libertus mendengus. "Masa kamu mau melajang sampai tua? Kamu cuma menyia-nyiakan kecantikanmu."
Untuk sesaat Nyx melihat wajah Crowe merona. Nyx menahan gelak tawa. Sepasang "kekasih" ini memang super ajaib. Crowe yang tertutup dan Libertus yang tidak peka. Sampai kapan mereka akan terus begini? Peperangan antara Lucis dan Niflheim akan berakhir dalam waktu dekat. Perdamaian akan mengurangi drastis total kebutuhan personil tentara Glaive. Meskipun Galahd berada di bawah otoritas Niflheim, Libertus dan Crowe bisa pensiun dari Kingsglaive untuk membina keluarga kecil di sana. Mungkin sudah tiba waktunya bagi Nyx untuk membuka rahasia Crowe pada Libertus. Secepat-cepatnya ketika Crowe pulang nanti supaya tidak mengganggu konsentrasinya selama menjalani misi pengawalan rahasia.
"Kau dapat mempelajari etika untuk menjadi seorang wanita sungguhan dari sang Puteri," celetuk Nyx. Dia membayangkan dinamika pertemanan unik antara Crowe, sang petarung, dan Lunafreya, sang Putri merangkap Oracle. Mereka bisa saling berbagi ilmu dari perbedaan yang kontras antara kehidupan rakyat jelata dan kaum bangsawan. Sepengetahuan Nyx, Crowe tidak punya seorang pun teman perempuan karena dikelilingi para Glaive pria sepanjang hari.
"Oh, kalau begitu selama ini aku berpura-pura menjadi seorang wanita?" sindir Crowe. "Aku kecewa padamu, Nyx. Kupikir kamu berbeda dari kebanyakan pria."
Nyx merespon dengan nyengir.
"Nyx terlalu sibuk buat mengurusi hal semacam itu. Dia 'kan pahlawan Kingsglaive," balas Libertus. Dia melepas jasnya dan menggantungkannya di kedua bahunya. "Satu hal yang aku benci dari van ini. Panas kayak di dalam oven!"
Crowe meneliti Libertus dengan cermat sampai membuat pria itu tegang. "Itu karena rambutmu kepanjangan, bodoh." Dia berdiri dan mendekat pada Libertus dalam gestur seolah ingin menerkam mangsa.
"Tidak, jangan potong rambutku!" Libertus buru-buru melindungi rambut hitamnya yang terurai sepanjang bahu. Mobil menjadi bergoyang tak karuan. Sopir mengetuk jendela sempit di depan sambil mengingatkan mereka untuk tetap tenang.
Crowe meninju halus paha Libertus hingga membuat pria itu tercekat. Dia merogoh sebuah plastik bening berisi beragam bentuk ikat rambut hitam dari saku jaketnya dan menunjukkannya tepat di depan wajah Libertus.
"Dari mana kamu mendapat benda itu?" tanya sang pria tambun. Sebelah alisnya terangkat.
"Aku sengaja membeli ini untuk kalian. Kuberi solusi mudah biar kamu nggak kepanasan lagi. Sini, kuikat rambutmu yang kumal."
Seperti balita yang baru dikasih permen, Libertus mengangguk cepat. Nyx pindah kursi untuk memberi ruang bagi Libertus bergeser dan Crowe duduk di samping pria bertubuh besar itu.
Crowe tidak membawa sisir, jadi dia merapikan rambut Libertus dengan jemari kanannya. Muka Libertus lambat laun menjadi merah seperti tomat ketika wanita itu menyentuh kulit kepalanya. Dengan sabar, Crowe memisahkan ujung rambut Libertus menjadi dua bagian: kiri dan kanan. Bagian kanan dia bagi rata lagi menjadi dua, lalu dia mengepang keduanya dengan teliti dan mengikatnya menjadi satu hingga tampak seperti tali tambang yang melingkar. Untuk jumput rambut kiri, dia hanya membentuknya menjadi ekor kuda yang sederhana. "Nah, begini kau terlihat rapi," puji perempuan itu.
"Aku nggak bisa melihatnya dari sini," kata Libertus. Dia mengeluarkan smartphone dari saku celananya dan menyerahkannya kepada Nyx. "Tolong potret rambutku dari belakang, sobat." Nyx memenuhi permintaan itu, lalu menyerahkan foto pada Libertus. Sobatnya lantas terpukau. "Wow, aku kelihatan tambah ganteng." Dia terkekeh-kekeh. "Aku nggak menyangka kamu jago menata rambut, Crowe!"
Crowe tertawa. Dia melirik pada Nyx. "Kamu masih meragukan kemampuanku sebagai seorang wanita?" Merespon pertanyaan itu, Nyx menggeleng. Kalau ada bendera putih, dia akan mengibarkannya tinggi-tinggi. Senyuman lebar mengembang di wajah Crowe. Dia bergerak ke kursi satunya, lalu berkata kepada Nyx, "Ayo, sekarang giliranmu."
"Uh, nggak perlu, deh," tolak Nyx. Dia tidak pernah memedulikan rambutnya. Dan dia sudah nyaman dengan gaya rambutnya saat ini.
"Aku tahu kalau kalian berdua punya tato yang sama. Apa salahnya kalau aku membantu kalian supaya semakin identik?" desak Crowe.
Dia terkejut Crowe bisa mengetahui hal sedetail itu. Tato di tubuhnya hampir tidak kentara untuk dilihat dengan mata telanjang. Dia sengaja mengukir tato berbentuk garis tipis di bagian-bagian tubuh yang biasanya luput dari perhatian awam, seperti di daun telinga, bawah leher, jari tengah kirinya dan jari telunjuk kanannya. Ada tato lain di wajahnya: di pipi kanan dan di bawah mata kirinya, tapi itu pun berukuran kecil. Ternyata mata Crowe jeli untuk menemukan tato-tato tersembunyi itu. Nyx mendesah dan melihat Libertus ikut memaksa dirinya. Yah, tak ada ruginya juga mengikuti kemauan temanku, batinnya. "Baiklah. Lakukan apa yang kau mau," ucapnya pasrah.
Crowe menyeringai. Dia mulai merapikan rambut Nyx yang sama panjangnya dengan Libertus. "Rambutmu lebih tipis dari Libertus. Aku terpaksa harus menggunakan model yang agak berbeda." Wanita penyihir itu menghabiskan sepuluh menit ke depan untuk menata rambut Nyx. Berbeda dari Libertus, wanita itu kesulitan memilah rambut Nyx menjadi beberapa jumput. Jadi dia memutuskan untuk hanya memodifikasi bagian terpanjang di ujung kiri dan kanan, melilitnya seperti kabel kusut dan menghiasnya dengan bola-bola hitam berdiameter mini.
Libertus berinisiatif memotret hasil prakarya wanita idamannya, lalu menunjukkan fotonya pada Nyx.
"Bagus. Aku suka hasilnya. Sampai mati pun aku nggak bakal memotongnya," komentar Nyx sarkastik.
"Sekarang kita beneran kayak saudara kembar, sobat." Libertus menepuk pundak Nyx dengan antusias. Dia tertawa nyengir sampai semua giginya terlihat.
"Yeah, kembar kalau dilihat pakai sedotan dari jarak lima puluh meter," kata Nyx sarkastik. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba Crowe menarik pergelangan tangan kanan Nyx. Entah apa yang membuat semangat wanita itu melonjak tinggi. Apa lagi?"
"Aku ingin kita bertiga foto bersama. Kita telah berteman selama dua belas tahun, tapi tidak ada satu pun foto yang memuat kita bertiga. Orang bilang foto dapat mengabadikan momen-momen spesial. Kurasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk melakukan itu."
"Aku sepakat dengan Crowe," kata Libertus. "Ayo kita abadikan momen ini!"
Mengikuti saran itu, mereka bertiga duduk berhimpitan di satu kursi. Crowe duduk di antara Libertus dan Nyx. Dia mengeluarkan smartphone berwarna merah tua dengan gantungan monster mini Ultros. Kemudian dia memberi aba-aba kepada para lelaki untuk bersiap-siap. Nyx memasang pose tenang sambil melipat tangannya, Libertus tertawa lebar sampai giginya terlihat, dan Crowe tersenyum manis. "Sip," komentar Crowe, puas dengan foto tersebut.
"Hei, jangan lupa untuk membagikan foto itu padaku!" seru Libertus.
"Tunggu sampai aku pulang dari Tenebrae," balas Crowe. Dia tertawa ringan.
Di saat bersamaan, van berhenti melaju. Kegiatan salon mendadak dan foto bersama membuat perjalanan terasa begitu singkat. Menyadari bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan, Nyx membuka pintu belakang dan mereka turun dari van.
Dia melihat para polisi berjaga—atau lebih tepatnya menganggur—di setiap pos seperti biasa, lega tidak menemukan Petra di sana. Ada sebuah van kuning dengan stiker bertuliskan "Speedy Chocobo: Cleaning Service" di kedua sisi body kendaraan itu. Menggunakan van Kingsglaive yang mencolok di luar kota memang bukan ide yang baik untuk menjalankan misi rahasia.
Nyx dan Libertus mengambil jarak beberapa senti dari van kuning itu saat Crowe membuka pintu belakang kendaraan tersebut. Kemudian dia menghampiri Nyx dan Libertus dengan mata terpaku pada sebuah jepit rambut di dalam kotak perhiasan di tangannya. Jepit rambut itu mewah karena dihiasi oleh banyak berlian yang mengilat. Untuk sesaat Crowe tampak mengutak-atik jepit rambut itu dan jam tangannya, entah untuk apa.
"Ada jepit rambut lain lagi? Tak kusangka kau punya banyak koleksi," kata Nyx, takjub akan feminisme Crowe. Dia terkekeh serempak dengan Libertus.
"Bukan buat aku. Ini hadiah untuk Putri Lunafreya," tukas Crowe. Dia menutup kotak perhiasan itu dan menyimpannya dalam saku jaket. "Tapi jangan bilang siapa-siapa. Tidak boleh ada yang tahu tentang ini."
"Kuharap kau tidak mati kebosanan cuma ditemani sopir selama dua hari penuh," kata Libertus.
"Tepatnya aku sendiri mengendarai sepeda motor ke Tenebrae," Crowe mengoreksi. "Sopir itu cuma menurunkan aku sampai pertigaan sebelum Hammerhead."
Nyx melirik sebentar ke balik pintu van yang terbuka dari tempatnya berpijak dan sesuai pernyataan Crowe, dia menemukan sepeda motor di dalam sana. Dia mengoreksi pemikiran awalnya. Semakin sederhana kendaraan yang digunakan, seseorang tak akan mudah dideteksi oleh Niflheim di tengah jalan. Meski itu berarti Crowe terpapar sinar matahari yang terik di Leide atau kehujanan di Duscae yang dipenuhi hutan tropis. Tapi Crowe adalah wanita tangguh, dia tak akan roboh hanya karena masalah cuaca.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klakson dari van kuning itu.
"Saatnya aku pergi," kata Crowe.
"Hati-hati di sana," pesan Nyx.
Libertus menelan ludah sebelum mengucapkan pesannya. Dia berjalan terseok-seok dengan kruknya, mendekati sang mage. "Aku tahu kau pasti muak mendengarnya, tapi kau itu seperti—"
"—adik kecilmu," sela Crowe. "Iya, aku muak mendengarnya." Dia tersenyum cantik ketika mengatakan itu, menandakan bahwa dia sebenarnya menghargai statusnya sebagai adik angkat Libertus. Kemudian, dia berputar dan segera masuk ke dalam ruang belakang van.
"Pokoknya kembali tanpa terluka, ya?" Libertus kembali berpesan.
"Kata orang yang kakinya terluka," balas Crowe.
Sepasang "kekasih" itu saling menatap dalam selama sepuluh detik seolah sedang mengirimkan pesan-pesan tak terucap dari pelosok hati mereka yang terdalam.
Ada yang istimewa dengan sorotan matanya. Nyx teringat pengakuan Libertus pada suatu malam di kamar kosnya. Baru kali ini dia menyadari bahwa Crowe memiliki sepasang bola mata coklat yang indah. Perempuan itu bisa memunculkan sihir dari tangan kosongnya, tapi sihir dari sorotan matanya jauh lebih memikat dan mematikan.
Tanpa berkata-kata lagi, Crowe menutup pintu van dan kendaraan itu melaju kencang melewati gerbang pos hingga menghilang dari pandangan kedua lelaki Glaive itu.
