"Give Me A Second Chance" Chapt. 29

*sebelumnya*

Donghae menangis meratapi penyesalannya di depan Makam Ji Won. Matanya sembab, dan ia memukul dadanya karena sesak akibat rasa bersalahnya.
"Kenapa kau tidak mengatakan padaku bahwa kau sakit, Ji Won?!, kenapa kau harus menanggungnya sendiri?!, KENAPA?!"
"Kau tahu!, aku juga sangat mencintaimu!, tapi kenapa kau membuatku harus menyakiti kalian?!"
"Kenapa Ji Won?!, kenapa kau harus menyelamatkan nyawaku?!" "Aku bersalah padamu!, aku sangat bersalah!" sesalnya.
Donghae menangis dan terus menangis.

*selanjutnya*

Suny kembali menemui Donghae di Pemakaman, karena ia lupa memberikan sebuah benda yang merupakan barang peninggalan Ji Won yang harus diberikan pada Donghae.
Suny melemparkan sebuah buku bergambar dua boneka Beruang yang berpelukan, di depan Donghae, hingga ia terkejut, lalu menatap Suny.
"Itu adalah benda terakhir yang harus kuberikan padamu, sesuai dengan permintaan Ji Won onni, sebelum kejadian itu terjadi!" ucapnya ketus dan menatap Donghae penuh kebencian.
Donghae memandangi buku tersebut, tangannya meraih buku itu.
"Ku harap, setelah kau membaca semua isi dari buku itu!, kau sadar dengan semua kesalahan yang telah kau lakukan pada orang-orang yang telah kau sakiti!"
Donghae tidak menjawab, ia hanya tertunduk dan memandangi buku yang dipegangnya. Meski Suny merasa kasihan melihat Donghae, tapi Suny masih tetap membencinya.
Suny pergi meninggalkannya, tatapan mata Donghae tampak kosong, tangannya bergetar saat ia mulai membuka lembar demi lembar dari buku yang berisi curahan hati Ji Won.

Hari ini aku sangat bahagia. Aku berkenalan dengan seorang namja tampan yang dikenalkan Eunhyuk oppa padaku. Namanya Lee Donghae, wajahnya sangat cute, terutama saat dia tertawa. Baru kali ini, aku benar-benar merasa jatuh cinta. Tapi, apa dia benar-benar mau menerimaku?, karena selain Mahasiswi, malam hari aku kerja di rumah pelacur. Tapi, aku tidak bekerja seperti wanita-wanita itu, aku hanya bekerja bermain Piano, karena rumah pelacur itu juga merupakan Club malam.

Aku bersyukur, karena Donghae oppa mau menerimaku, bahkan dia tidak mempermasalahkan tentang pekerjaanku. Aku rasa dia adalah namja sempurna yang kutemui, karenan diaa sangat baik dan sangat mencintaiku.

Hari ini Donghae oppa mengajakku ke rumah makan langganannya. Kami menulis di sebuah dinding curahan hati, tentang rasa cinta sebagaimana semua pengunjung rumah makan itu melakukanya.
Aku memiliki impian untuk menikah dengannya, dan memiliki anak bersamanya. Aku sangat mencintai Donghae oppa, aku sangat bahagia jika bersamanya.

Beberapa hari lalu, aku melakukan test untuk memeriksakan kesehatanku. Hatiku benar-benar hancur saat aku mengetahui bahwa aku menderita Kanker Hati stadium akhir. Apa yang harus kulakukan? ,apa aku harus mengakhiri cinta ini padanya?

Semalam Donghae oppa datang dalam keadaan mabuk berat. Aku rasa dia sedang memiliki masalah. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya, tapi hati ini sulit sekali untuk berpisah darinya. Aku tidak tahu, apakah Donghae oppa melakukan hubungan intim denganku semalam atas dasar cinta, atau ia tertekan karena masalahnya.

Semakin hari penyakitku semakin sering kambuh. Aku tidak tahan dengan rasa sakit ini!, mungkin lebih baik, aku mengakhiri hubunganku dengannya, agar Donghae oppa tidak terbebani karenaku.

Hatiku sakit…sangat sakit, ketika melihat Donghae oppa pergi saat melihat Joo Woon menciumku. Yah…aku yang salah, karena aku sengaja meminta Joo Won untuk melakukannya, agar Donghae oppa cemburu dan memutuskan hubunganku dengannya. Aku pikir, ini adalah jalan yang terbaik. Ternyata aku salah, justru ketika dia pergi, hatiku merasa hampa.

Hamil?, yah…aku hamil, dan anak ini adalah anak Donghae oppa, karena hanya bersamanya aku melakukan hubungan intim berkali-kali, terutama setiap kali dia mabuk berat. Aku ingin memberitahunya tentang kabar bahagia ini, tapi dia pergi, dan aku kehilangan kabar tentangnya. Yah, ini adalah salahku, karena sejak kejadian itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Donghae oppa.

Oppa memintaku untuk menggugurkan janin yang ku kandung ini. Tapi aku menolak, karena janin ini adalah anugerah dari Tuhan, atas apa yang kulakukan bersama Donghae oppa. Aku harus mempertahankannya, apapun yang terjadi.

Sakit!, Donghae oppa…aku membutuhkanmu!.
Setiap kali melakukan Kemoterapi, aku ingin Donghae oppa memberiku semangat untuk melawan penyakitku ini. Tapi sayang, aku telah membuat Donghae oppa terluka, hingga ia pergi meninggalkanku.

Semakin hari perutku semakin buncit, dan penyakitku juga sering kambuh. Dokter memintaku untuk menggugurkan bayiku, karena dapat mengancam nyawaku. Tapi aku menolak, karena aku ingin anak ini hidup, dan melihat appa nya.

5 hari lalu, aku melahirkan. Aku sempat koma setelah bersalin selama 4 hari. Aku bahagia sekali dapat melihat wajah anakku yang sangat cantik, dan sesuai dengan impianku jika memiliki anak dari Donghae oppa, aku akan memberinya nama Lee Haru. Aku berharap, semoga Donghae oppa dapat menyayangi Haru.

Setahun telah berlalu, Dokter telah memberitahuku, bahwa umurku tidak akan lama lagi. Aku meminta oppa juga Suny untuk merawat Haru jika aku tiada, tapi mereka menolak. Yah…karena situasinya tidak memungkinkan mereka untuk mengurus Haru.
Oppa selalu memintaku untuk menyerahkan Haru pada Donghae oppa, agar ia dapat merawatnya, setidaknya Donghae oppa mau bertanggung jawab, karena Haru adalah anak kandungnya.

Aku bersyukur karena telah bertemu Eunhyuk oppa saat di Cafe, dan dia memberiku nomor ponsel Donghae oppa. Aku sangat berharap dia mau memaafkanku dan mau bertanggung jawab untuk membesarkan Haru.

Donghae oppa telah berubah, dia terlihat sangat membenciku, bahkan dia menolak Haru, anak kandungnya sendiri. Aku kecewa, tapi rasa cinta ini padanya sangat besar, hingga aku tidak bisa membencinya.
Donghae oppa memintaku untuk bersandiwara bersamanya, ia memintaku untuk memfitnah namdongsaeng nya sendiri. Awalnya aku menolak, tapi ia mengancamku akan membunuh Haru. Kenapa Donghae oppa bisa berubah seperti itu?, yang aku lihat dari matanya saat kami bertemu, matanya terlihat penuh kebencian. Apa karenaku Donghae oppa berubah? Aku seperti tidak mengenalnya lagi.

Hari ini aku berkunjung ke rumah oppa, aku sengaja pergi ke sana, karena di depan rumah oppa, Haru tinggal bersama namdongsaeng Donghae oppa. Ketika aku melihatnya, saat aku membuka sedikit pintu rumahnya, Haru terlihat sangat bahagia bersamanya. Mungkin ini adalah jalan terbaik bagi Haru, karena namja itu sangat perhatian dan peduli pada Haru. Aku merasa bersalah karena telah membuat hidup namja itu menderita. Tapi, aku malu untuk mengaku di depannya, bahwa aku adalah eomma kandung Haru, dan karena aku memfitnahnya, dia jadi diusir oleh keluarganya.

Aku mendengar dari oppa, bahwa Haru sakit, karena asmanya kambuh. Aku segera ke rumah sakit, karena aku ingin melihat anakku, aku ingin menemaninya. Tapi…ketika aku tiba di sana, aku tidak berani untuk mendekat dan menemui namja itu. Hatiku begitu sedih mendengarnya, dia bukan appa kandung Haru, tapi dia begitu menyayangi Haru. Sedangkan Donghae oppa!, aku benar-benar sangat kecewa padanya, tapi kenapa?, kenapa hatiku justru tidak bisa membencinya?!, aku benci diriku yang terlalu mencintainya, hingga membuat diriku jadi pengecut untuk mengaku di depan namja itu, bahwa akulah penyebab dia diusir dari rumah.

Entah kenapa, hari ini aku begitu merindukan Donghae oppa. Aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ingin mengatakan padanya, bahwa 'Aku sangat mencintainya', aku ingin melihat senyumnya, walau aku harus melihatnya untuk terakhir kali, sebelum aku benar-benar pergi dari Dunia ini.

Donghae menangis terisak-isak. Ia sangat menyesali semua perbuatannya, ia meletakkan buku itu di atas rerumputan. Mata sembabnya menatap nisan Ji Won.
"Mianhe chagiya…cheongmal mianhe…mianhe…mianhe…mianhe…" Donghae berulang kali meminta maaf di depanya, tapi Ji Won tidak akan mungkin hidup lagi.

"Kau yakin ingin pulang saat ini juga, Kyu?" tanya Changmin menatapnya cemas.
"Nde, malam ini aku harus pergi kerja, bisakah kau membantuku untuk mengantar Haru pulang, dan menitipkannya pada Shindong hyeong?"
"Kau belum berapa lama sadar, Kyu. Kondisimu masih lemah, jika terjadi sesuatu padamu, bagaimana?"
"Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja"
"Tidak!, malam ini kau tidak boleh bekerja dulu!, aku akan minta izin pada Eunhyuk hyeong agar kau istirahat dulu malam ini"
"Tapi aku tidak enak, aku baru saja diterima kerja, dan aku harus minta izin tidak masuk?, bagaimana dengan tanggapan pegawai yang lain?"
"Appa mau kemana?" tanya Haru bingung, dan memandang wajah Kyuhyun dengan tatapan sedih.
"Appa mau kerja, chagi" sahutnya.
"Appa gak boleh kerja, appa kan masih sakit"
"Kyu, dengarkan!, apa yang dikatakan Haru. Apa kau ingin melihat Haru semakin mencemaskanmu?"
Kyuhyun diam dan memandang wajah Haru yang terlihat sedih, bahkan matanya sedikit bengkak akibat menangis.
"Kyu" Siwon datang mengunjunginya, setelah Yoochun memberitahunya bahwa Kyuhyun masuk rumah sakit.
"Ajussi" Kyuhyun tampak bingung harus bagaimana, karena Siwon tidak tahu bahwa Kyuhyun memiliki Haru.
"Appa" panggil Haru.
Siwon membulatkan matanya karena terkejut sekaligus heran dengan kehadiran Haru dan memanggil Kyuhyun dengan panggilan 'Ayah'.
"Ap…pa?"
" Kau mengenal Dokter Siwon, Kyu?"
"Nde, Dokter Siwon adalah Dokter keluarga" sahut Kyuhyun.
"Kyu, kenapa anak ini memanggilmu, appa?" tanya Siwon dengan tatapan curiga.
"Ajussi kenalkan, ini Haru, dia adalah anakku"
"Mwo?!, anak ini adalah anakmu?!, apa selama kau di Inggris, kau berbuat hal yang memalukan , dan…" perkataan Siwon terputus karena pertanyaan Changmin.
"Inggris?, apa ajussi tidak tahu, bahwa Kyuhyun diusir dari rumah karena perbuatan yang tidak pernah dilakukannya?"
"Maksudmu?"
"Changmin!" tegur Kyuhyun agar Changmin tidak melanjutkan perkataannya di depan Siwon.
Haru menatap bingung apa yang sedang dibicarakan mereka di depannya.
"Kyu!, ada apa ini sebenarnya?!, appa mu mengatakan kau Kuliah di Inggris!, tapi Changmin mengatakan kau diusir dari rumah!, apa yang terjadi sebenarnya?!, kenapa appa mu berbohong pada ajussi?!"
"Appa~, kenapa haraboji ini marah-marah?" tanyanya polos.
"Ajussi, aku akan mengatakan yang sebenarnya, tapi tidak sekarang, dan ku mohon, jangan beritahu mereka, bahwa ajussi bertemu denganku, dan jangan beritahu mereka tentang penyakitku. Ku mohon" pinta Kyuhyun memelas.
"Appa~" Haru terlihat sedih ketika melihat Kyuhyun memohon di depan Siwon dengan mengatup kedua tangannya, hingga Haru meneteskan air matanya.
"Ku mohon ajussi" melasnya lagi.
"Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu, sebelum kau mengatakan yang sejujurnya!" tolak Siwon.
"Changmin~ah, tolong ajak Haru pergi sebentar bersamamu" pinta Kyuhyun.
"Ne"
"Haru mau sama appa"
"Haru~ah, appa harus bicara dulu dengan Dokter Siwon, nanti kalau appa sudah selesai, appa akan temui Haru. Ok, anak pintar!"
"…" Haru diam dan menatapnya, Haru tampak berat hati meninggalkan Kyuhyun.
"Sebentar~~, saja" ucap Kyuhyun.
"Haru~ah, ayo ikut ajussi temui Hana di luar" ajak Changmin.
"Ne" sahut Haru.
Changmin menggandeng tangan Haru dan membawanya ke luar dari UGD, sesekali Haru menoleh ke belakang untuk melihat Kyuhyun. Tapi sesuai permintaan Kyuhyun, Haru terpaksa meninggalkannya bersama Siwon. "Kyu!, katakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya denganmu?!" tanya Siwon penasaran, dan berdiri di tepi ranjang menatapnya tajam. Kyuhyun pun mau tidak mau menceritakan kejadian sebenarnya pada Siwon, karena Kyuhyun tidak ingin berbohong lebih lama lagi.

Hari menjelang malam, setelah pergi dari Pemakaman, Donghae bermabuk-mabukkan di Club malam. Kali ini, Donghae tidak ingin ditemani wanita penghibur. Donghae meratapi penyesalannya, Donghae terus menegak beberapa botol Soju, hingga ia mabuk berat.

Kyuhyun diperbolehkan pulang oleh Siwon, tapi dengan syarat, besok Kyuhyun sudah bisa melakukan Kemoterapi. Siwon menatap kepergian Kyuhyun yang masuk ke dalam Mobil Changmin bersama Haru.
"Kenapa Teukie tega mengusir anaknya sendiri, akan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya?!, bagaimana bisa, Teukie dan Hyorin bisa seegois itu. Tapi…,kenapa Kyuhyun yang harus merawat anak kecil itu?!, lantas dimana kedua orang tuanya?" gumam Siwon.

Meski Kyuhyun menceritakan kejadian yang sebenanrnya, tapi Kyuhyun masih menutupinya dari Siwon, bahwa Donghae adalah ayah kandung Haru.

Hari semakin larut, Haru tertidur dipelukan Kyuhyun. Changmin mengantar Kyuhyun pulang, sedangkan Hana pulang lebih dulu bersama Yoochun.
"Gumawo Changmin~ah, besok kau tidak perlu menjemputku. Setelah mengantar Haru ke Sekolah, aku akan pergi ke rumah sakit"
"Tapi…"
"Kau tidak perlu cemas, aku pasti akan datang ke rumah sakit, karena aku sudah berjanji pada Siwon ajussi" Kyuhyun meyakinkannya.
"Kau pulanglah, hari ini kau bolos Kuliah gara-gara aku. Mianhe, jika aku selalu merepotkanmu"
"Sudah kukatakan berapa kali padamu!, kita ini sahabat!, kau jangan berkata bahwa kau selalu merepotkanku!, aku tidak suka mendengarnya, Kyu!"
"Ne, mianhe. Kau pulanglah, ini sudah jam 12 malam. Cheongmal gumawo, Shim Changmin"
"Ne, kalau begitu aku pulang dulu. Ingat!, besok kau harus menepati janjimu"
"Ne" sahut Kyuhyun.
Changmin masuk ke dalam Mobil, kemudian pergi meninggalkan Kyuhyun di depan gangnya. Kyuhyun yang menggendong Haru, karena Haru tertidur pulas akibat kelelahan. Kyuhyun berjalan menuju rumahnya, sewaktu hampir tiba di rumah, Kyuhyun melihat Shindong berdiri di depan rumahnya. Kyuhyun menghampiri Shindong , dan Kyuhyun dapat melihat dari raut wajah Shindong, bahwa dirinya mencemaskan Kyuhyun.
"Apa hyeong menungguku?"
"Kau dari mana saja, Kyu?, kenapa kalian baru pulang?"
"Aku dan Haru tadi jalan-jalan" sahutnya berbohong.
"Aku pikir, kau masuk rumah sakit lagi"
"Ani, hyeong" bohongnya.
" O iya, Kyu. Ini untukmu" Shindong menyodorkan amplop berisi uang padanya.
"Apa ini hyeong?" tanya Kyuhyun hanya menatap amplop itu, lalu memandang Shindong dengan tatapan bingung dengan maksud Shindong.
"Uang ini tidak seberapa, Kyu. Hyeong hanya ingin menolongmu, setidaknya uang ini bisa membantumu untuk membayar biaya Kemoterapi"
"Tidak perlu hyeong. Aku tidak ingin menerima uang itu. " tolaknya.
"Kenapa kau menolaknya, Kyu?!, selama ini hyeong yang membuat hidupmu menderita"
"Aku cukup bahagia dengan adanya Haru disisiku hyeong. Dan, jika hyeong ingin menebus kesalahan hyeong, maukah hyeong mempertemukan Haru dengan eomma nya?" pinta Kyuhyun.
"Eomma Haru sudah meninggal, Kyu. Dia meninggal karena kecelakaan, setelah menolong Donghae"
Kyuhyun sangat shock mendengarnya, "Kenapa hyeong baru mengatakannya padaku?!, apa hyeong tidak kasihan pada Haru, yang selalu mencari dimana eomma nya?!"
"Mianhe, aku tidak sanggup mengatakannya padamu juga Haru. Aku tidak ingin melihat Haru menangis karena kehilangan eomma kandungnya"
"Setidaknya Haru harus mengetahui kebenarannya, hyeong!"
"Mianhe ,Kyu" sesalnya.
"Aku lelah hyeong!, aku ingin istirahat!" ucap Kyuhyun yang terlihat kecewa padanya, kemudian Kyuhyun masuk begitu saja. Shindong terdiam, dan dirinya merasa bersalah padanya.
Shindong menggenggam erat amplop berisi uang yang ditolak Kyuhyun. Lalu, Shindong kembali ke rumahnya.

Malam semakin larut, Donghae yang mabuk berat, berjalan sempoyongan di jalan sekitar rumah Kyuhyun.
Donghae menghentikan langkah kakinya sambil memegang tiang lampu jalan, dan Donghae muntah akibat mabuk berat.
Donghae menyeka bibirnya dari bekas muntahannya. Kemudian Donghae melanjutkan langkahnya menuju rumah Kyuhyun. Setibanya di depan rumah, Donghae terdiam sejenak, lalu ia masuk ke dalam, langkahnya yang sempoyongan naik ke teras Kyuhyun, kemudian Donghae menggedor-gedor pintu rumah Kyuhyun, hingga membangunkannya.
Kyuhyun bergegas membuka pintu, saat Kyuhyun membukanya, ia tampak terkejut karena Donghae datang dalam keadaan mabuk.
"Kyuhyun~ah…hik…"
"Hyeong?"
Kyuhyun memapah Donghae masuk. Kyuhyun membantu Donghae duduk, lalu ia membuatkan Donghae minuman hangat, agar Donghae merasa lebih baik.
Sewaktu Kyuhyun terlihat membuat sesuatu untuknya, Donghae menatap Kyuhyun dari balik punggungnya.
"Mianhe" ucapnya, hingga membuat Kyuhyun diam sejenak tanpa berbalik menatap Donghae.
"Aku tahu, kau pasti sangat membenciku!, nde…itu hal yang wajar…hik…"
"Karena aku telah membuat hidupmu sengsara…hik…"
"Mianhe…,cheongmal…"
Kyuhyun berbalik, kemudian mendekat dan duduk di sampingnya sambil meletakkan minuman hangat di atas meja.
"Untuk apa aku membencimu, hyeong?, apakah jika aku membencimu, akan membuat semua kembali normal?, apakah dengan membencimu, maka appa akan memaafkanku?"
"Mianhe…" sesal Donghae menitikkan air matanya.
"Kau adalah hyeong ku. Sebesar apapun kesalahan yang hyeong lakukan padaku, tapi aku tidak bisa membencimu hyeong. Jujur…aku sangat kecewa, saat aku mengetahui kau adalah appa kandung, Haru. Tapi…karena Haru, aku belajar banyak hyeong. Aku cukup bahagia hidup bersama Haru"
"…" Donghae diam dan hanya bisa menangis. Walau setengah sadar, tapi Donghae mendengar jelas apa yang dikatakan Kyuhyun padanya. Haru terbangun dari tidurnya, karena tidak menemukan Kyuhyun disisinya, Haru ke luar mencari Kyuhyun.
"Appa" panggil Haru sambil mengucek-ucek matanya.
Donghae menoleh menatap Haru, air mata Donghae semakin deras, Donghae langsung memeluk Haru dengan erat.
"Mianhe, Haru~ah…mianhe…" tangisnya sesenggukkan.
Haru bingung kenapa Donghae memeluknya.
"Appa~, kenapa ajussi ini menangis?, kok Haru dipeluk?" tanya Haru bingung.
"Haru~ah…maukah kau memaafkan appa?"
"Appa?" Haru bingung dan menatap Kyuhyun yang terdiam dan meneteskan air mata.
"Kenapa appa menangis?" tanya Haru pada Kyuhyun.
"Haru~ah…aku adalah appa mu,…mianhe…" tangis Donghae.
Mendengar apa yang dikatakan Donghae, Haru mendorong Donghae kuat, hingga Donghae terjatuh.
"Haru~ah" tegur Kyuhyun.
Haru bergegas lari dan memeluk Kyuhyun erat, "Bohong!, Haru cuma anak appa, bukan anak ajussi!" serunya.
Donghae menangis karena Haru menolaknya. Karena mabuk berat, hingga membuat Donghae tidak sadarkan diri.

TBC

Mian kalau lanjutannya jelek.