Bagian 3 "Aerial Negeri Cahaya, Negeri Kegelapan"
~ Chapter 34 ~
Cast :
VIXX N as Yeonie & Cha Hakyeon (GS)
VIXX Leo as Leo & Jung Taekwoon
DBSK U-Know
B1A4 CNU
BTOB Minhyuk
Bigbang TOP
VIXX Hongbin (GS)
~ AERIAL ~
Yeonie memilih memejamkan mata. Jadi ini rasanya mati…
"Kuatkan diri kalian, Nak! Aku akan menarik kalian berdua sekaligus."
Di antara reruntuhan batu pada tebing terjal itu, Yeonie menyadari dirinya belum mati. Ia tidak sedang berada di dasar jurang. Ia masih mengambang—tangannya digenggam begitu erat sampai hampir mati rasa.
"Jenderal U-Know!" Yeonie melihat siapa gerangan si penolong dengan tangan besar itu.
"Pegangan yang erat, Jenderal raksasa!"
Di belakang Jenderal U-Know, Yeonie melihat sekumpulan orang—prajurit—dengan seragam yang sama sekali bukan dari negerinya. Salah satu dari mereka, tampak sebagai panglima tertinggi dan dipanggil Jenderal CNU, sosok besar itu sibuk memerintahkn anak buahnya untuk mengecek keadaan di sekitar Aerial setelah gempa mereda.
Mereka ternyata sekumpulan prajurit kegelapan yang tadi menyerang Castrum Niveus. Dan para prajurit itu kini di komando langsung oleh Leo, yang pada wajahnya bersemburat kebahagiaan.
"Yeonie…" Leo memanggilnya, lega. Lalu hidungnya tampak tengah membaui sesuatu. Darah, lebih tepatnya lagi. "Kau memang wanita luar biasa. Bau darahmu bahkan bisa setenang ini."
Yeonie tersenyum lebar, wajah kecokelatannya sangat cerah di bawah permainan sinar mentari. "Aku bukannya tenang, tapi pasrah! Dan tentu saja aku takut—tapi tidak setakut yang kukira dan—"
Leo sudah merangkulnya erat sekali begitu Yeonie berpijak di atas lagi.
"Diam, yang penting kau selamat sekarang," ucap pemuda ini.
Beberapa detik ekmudian terjadi peristiwa yang sangat luar biasa, kilauan cahaya kuning menyelimuti tubuh Yeonie dan Leo. Lalu cahay itu berpindah ke sisi mereka masing-masing dan menjelma menjadi sosok manusia.
Taekwoon dan Hakyeon.
Begitu sosok Taekwoon dapat utuh terlihat, laki-laki ini jatuh bersimpuh di atas lututnya, kelelahan dan menahan sakit yang teramat-sangat.
"Taekwoon!" Hakyeon menahannya, ikut duduk di tanah.
Darah segar mengalir dari lengan kanan Taekwoon.
Jenderal U-Know membantu si penolong dari dunia lain ini bangkit. "Kau terluka, Nak."
"Ini bukan gara-gara Minhyuk. Tapi ada interupsi kecil sewaktu melewati terowongan Pintu Ilusi." Taekwoon buang muka, rikuh karena perhatian semua orang kini justru terpusat kepadanya.
Leo maju ke depan, menjabat erat tangan Taekwoon. "Apa pun itu, kau dapat beristirahat dulu. Perang seharusnya tidak akan terjadi. Rupanya sejak tadi Jenderal U-Know berhasil mencegah itu dan Ayah menyadari selama ini sebenarnya ia telah diperalat Siwon. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi."
"Tapi," Hakyeon tampak cemas akan satu hal, "bagaimana dengan kami? Apakah kami dapat kembali ke dunia kami, tanpa… tanpa…" Ia teringat kejadian menegangkan di dalam Porta Illusia dan tidak ingin mengalami hal itu lagi, "…tanpa melewati terowongan itu."
"Jangan khawatir." Hongbin tersenyum penuh dukungan. "Kali ini Linc yang akan mengirim kalin langsung. Tidak perlu lewat tempat itu lagi."
Prosesi mengirim jiwa penjaga lebih mudah daripada mendatangkannya ke sini, apalagi kini hanya aku kuda terbang yang tersisa. Di dalam benak Hakyeon dan Taekwoon, mereka dapat mendengar jelas suara Linc.
Setengah mati Taekwoon mencoba berdiri tegak, namun ia pun menyerah. Dari luar lengannya memang hanya terlihat luka dan berdarah, tapi rupanya di dalamnya ia merasakan ada yang retak atau bahkan patah.
Lalu Taekwoon menoleh ke sesuatu yang mengganggunya sejak tadi, atau bisa dibilang yang membikin dia nggak henti-hentinya merasa malu dan menghangat pipinya: sebuah tangan yang menyangga sisi kiri tubuhnya.
Hakyeon.
Ini…? Taekwoon bingung mau memulai bagaimana. Bukannya kita musuh, ya?
"Kalian pasti sepasang kekasih yang juga lagi kasmaran seperti kakakku dan Leo!" Hongbin berseru tanpa basa-basi melihat kedekatan Taekwoon dan Hakyeon.
"A-Apa?!" Muka Taekwoon langsung merona kemerahan.
Hakyeon hanya cekikikan geli.
"Maaf ya mengganggu waktu pacaran kalian di dunia lain hingga harus ke sini segala," dengan cuek Leo malah meneruskan.
"Kita sama sekali bukan—" Taekwoon bersiap berteriak sekuat tenaga.
"Iya, iya, kami mengerti," tapi Yeonie sudah memotongnya. "Setelah luka Taekwoon diobati, kalian dapat meneruskan kisah cinta kalian di negeri kalian. Terima kasih banyak, ya!"
"WOOOIIII! Mengapa tidak ada yang mendengarkan sama sekali sih?!" Taekwoon semakin sewot dan berteriak seperti ibu-ibu cerewet.
"Sudah, sudah." Hakyeon setengah mati mengendalikan tawanya. "Kalau kamu banyak gerak begini nanti lukanya makin lebar, tau?"
Taekwoon menatap Hakyeon seperti anak kecil yang bari direbut permennya; terlihat keras kepala karena ngambek.
Setelah lingkungan di sekitar mereka lebih sepi, Taekwoon menahan jemari tangan Hakyeon. "Oi, lu kok tenang banget sih? Kita masih terdampar di negeri antah-berantah, tau?!"
Hakyeon tersenyum kekanak-kanakan, tampak manis sekali di mata pemuda panasan ini. "Soalnya aku di sini kan sama Taekwoon, jadi nggak perlu khawatir. Lagi pula Aerial ini aslinya memang indah sekali. Ingin tinggal di sini lebih lama lagi…"
"Cih!" lagi-lagi Taekwoon hanya buang muka. "Lu yakin banget sih."
Dan Taekwoon pun menyerah mendebat Hakyeon. Mungkin… ia memang lumayan bisa diandalkan. Buktinya selama di Porta Illusia ia dapat menjaga Hakyeon tidak terluka sedikit pun, walau itu berarti dirinyalah yang berakhir babak-belur.
~ The End? ~
