WARNING! This fanfiction contains sex scenes and other mature contents. Rated: M (25+)
(Sebelumnya, di Roughest Desire...)
Aku mencium kening Seokjin untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi. Ah, nampaknya aku butuh mencium bibir Seokjin juga, jadi aku pun mengecupnya sebentar sebelum aku berjalan keluar kamar.
Harapanku hanya satu. Yaitu, agar hatiku bisa sembuh dengan cepat.
ROUGHEST DESIRE
Chapter 35: Last Kiss
Special Seokjin's POV for final chapter
Thank you for cheering me up until I finish this story. I love you all my readers!
Aku tidak pernah tahu.. kalau ciuman malam itu.. akan menjadi ciuman terakhir kita.
The words that you whispered..
Aku tidak pernah menyangka.. ketika kau membisikkan kata itu di telingaku.. bahwa itu adalah terakhir kalinya aku mendengarnya.
You told me you loved me, so why did you go away?
Sudah enam bulan kau pergi, Yoongi.
Kau bilang kau mencintaku. Kau bilang kau tidak bisa meninggalkanku. Tapi, di mana kau sekarang? Jangankan pulang, menelepon pun kau tidak pernah!
Kegiatanku setiap detiknya hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu. Agar kau selalu berada di dalam lindungan Tuhan. Agar kau selalu sehat dan baik-baik saja. Agar kau makan dengan baik. Dan.. agar kau tetap mencintaiku dan juga Yoonjin sama besarnya seperti dulu.
Ah.. turun hujan. Ya, sekarang sudah musim gugur. Selama ini lah kau pergi, Yoongi..
Aku ingat masa itu. Ketika kita masih kecil dulu, berlarian di halaman belakang, bermandikan shower terbesar dari Tuhan. Kita bermain hujan-hujanan hingga tangan kita menjadi keriput seperti kakek-kakek dan nenek-nenek. Akhirnya besok kita sama-sama terkena demam. Aku rindu masa itu.. di kala kita tidur bersama sambil berpegangan tangan.
Yoongi, apa kabarmu? Aku di sini baik-baik saja.. Yoonjin juga.. hanya saja, kami sangat merindukanmu.
Sejujurnya aku sudah lelah berbohong pada Yoonjin. Dia anak yang cerdas, kau tahu, kan? Dia sudah mulai tidak percaya kau bekerja di luar negeri setelah aku bohongi selama dua bulan.
"Mungkin appa butuh liburan. Semoga appa bersenang-senang.", begitu katanya. Gadis kita sangat pintar, kan, Yoon? Dia bahkan mengerti, bahwa orang dewasa terkadang membutuhkan waktunya untuk sendiri. Aku terkadang jadi takut sendiri, jangan-jangan Yoonjin sebenarnya orang dewasa yang terjebak di dalam tubuh anak-anak? Hehe.
Dan, maaf, aku tidak bisa menutupi masalah kita pada eomma dan appa. Mereka sudah jauh lebih dewasa daripada kita, Yoon. Mereka tidak bisa dibohongi seperti Yoonjin. Mereka tahu ada yang salah dengan hubungan kita. Dan aku pun menceritakannya pada mereka. Tentunya tidak semuanya, aku tidak mau mereka shock. Aku hanya mengatakan kalau aku berselingkuh dan kau kecewa padaku. Akhirnya mereka juga merasa menyesal karena telah menutupi soal Hyosang padaku. Mereka jadi merasa bersalah karena mereka berpikir akar masalahnya itu dimulai dari sana.
Tapi, aku bilang itu semua bukan salah mereka. Perselingkuhanku sepenuhnya salahku.
Karena kebodohanku, aku jadi kehilangan satu-satunya pria yang aku cintai.
I'll watch your life in pictures like I used to watch you sleep
Hhh.. aku bosan memandangi fotomu terus, Yoon. Aku bosan duduk di lantai di ruang kerjamu, sambil memandangi foto-foto di album keluarga. Aku bosan duduk di sini, menggunakan kemejamu, sambil mengelusi pipimu yang ada di foto.
Aku inginnya mengelus pipimu secara langsung.
Cepatlah pulang, kami semua merindukanmu.
Terutama.. aku.
Ω
Because I love your handshake, meeting my father
Aku ingat waktu di mana kau tiba-tiba berkata dengan lantang, "Aku akan menikahi Seokjin."
Semua orang tercengang. Bahkan aku yang sedang dalam fase 'gila' karena Hyosang waktu itu pun ikut terkejut. Tidak ada angin. Tidak ada badai. Kau tiba-tiba berkata seperti itu di hadapan orang tuaku dan orang tuamu.
Yang paling menentang adalah orang tuamu sendiri.
"Min Yoongi, apa kau sudah tidak waras? Atas dasar apa kau berpikir bisa menikahi Nona Seokjin?"
"Yoongi sayang.. walaupun kau dan Seokjin sudah bersama sejak kecil, bukan berarti kau bisa menikah dengan Nona Seokjin.."
"Kenapa tidak?", kata ayahku.
"Eh? T-tuan?"
"Toh, sejak dulu aku dan istriku memang ingin menjodohkan anakmu dengan Seokjin. Tidak ada yang mengenal Seokjin sebaik Yoongi di dunia ini. Aku rasa mereka memang berjodoh."
"T-tapi.. kami hanya pelayan—"
"Shh.. aku paling tidak suka kalau kalian membahas status. Kita ini sama saja, di mata Tuhan, kita semua satu derajat. Keluarga Min tidak ada bedanya dengan keluarga Kim. Mari hilangkan pembatas tak kasat mata ini dengan menyatukan kedua anak kita."
"Baiklah kalau Tuan dan Nyonya berkata begitu.. kami akan mewakili Yoongi untuk melamar Nona Seokjin secara resmi.."
"Pertama-tama, hilangkan dulu embel-embel tuan, nyonya, dan nona. Kedua, kalian sudah kami anggap keluarga sejak dulu, tidak perlu seformal itu. Ketiga, Yoongi.."
"Ya?"
"Kau kami terima sebagai menantu."
Ω
I love how you walk with your hands in your pockets
Di tahun pertama pernikahan kita, sepertinya setiap hari adalah hari kencan dan honeymoon. Waktu itu kau belum memegang perusahaan, jadi kau masih punya banyak waktu luang. Kita sering menghabiskan waktu untuk sekedar jalan-jalan di taman atau menonton film di bioskop.
How you kissed me when I was in the middle of saying something
Aku ingat, kau selalu memasukkan kedua tanganmu ke dalam saku celanamu. Biar kelihatan keren, katamu. Aku pun tertawa mengejekmu, keren darimananya, kataku. Lalu kau akan mengeluarkan tangan itu dari saku, menarikku ke dalam dekapanmu, dan mencium bibirku.
There's not a day I don't miss those rude interruptions
Ω
I never thought we'd have a last kiss
Aku memeluk lenganku sendiri. Sekarang dingin, Yoon. Hujan tidak berhenti sejak pagi tadi, dan suasana begitu sunyi tanpa kau di sini.
Kau ada di mana? Apakah di sana hangat? Apakah di sana ramai?
Hope it's nice where you are
Ω
Never imagined we'd end like this
Aku selalu mendapatkan mimpi yang sama setiap malamnya, yaitu kau tidak pernah pulang. Aku selalu terbangun dengan perasaan menyedihkan, melihat ranjang di samping kananku masih saja dingin dan kosong.
Yoongi, kapan kau pulang?
TING TONG.
Ah, nampaknya Yoonjin sudah pulang. Kau melewatkannya, Yoon. Sekarang Yoonjin sudah mulai masuk sekolah dasar. Kau melewatkan mengantarkannya ke SD di hari pertama. Kau pasti sangat menyesal setelah kuberi tahu nanti.
"Halo, sayang..", sapaku ketika menyambut Yoonjin di depan rumah.
"Eomma!", Yoonjin langsung memelukku dan mencium pipiku. "Aku kangen eomma."
"Hei.. kau kan cuma kemping dua malam saja di sekolah, sayang? Sebegitu kangennya sama eomma?"
"Iya, dong! Di sana rasanya aneh karena tidak ada eomma."
Aku menggendong Yoonjin lalu menutup pintu depan. "Jadi.. coba ceritakan sama eomma, Yoonjin ngapain aja kemarin?"
"Seruuu, deh, eomma! Yoonjin bobok di tenda di tengah lapangan, terus ada api unggunnya, terus Yoonjin makan pagi sama nasi kare, enaaak banget deh, tapi masih enakan nasi kare eomma, sih.. Terus-terus—"
"Hey.. hey.. pelan-pelan saja ceritanya, sayang..", aku mendudukkan Yoonjin di meja saji di dapur. "Yoonjin tidak haus?", Yoonjin menggeleng.
"Tidak lapar?", Yoonjin menggeleng lagi. "Memangnya Yoonjin sudah makan?"
"Sudah!", serunya lantang.
"Loh, kapan? Memangnya di sekolah dikasih makan siang lagi? Eh! Ngomong-ngomong, Yoonjin pulang sama siapa? Perasaan Pak Lee tidak menjemput Yoonjin, deh?"
Yoonjin terkikik sebelum menjawab, "Sama appa!"
Aku tertegun. Apa anak ini jadi berhalusinasi saking merindukan ayahnya? "Sayang.. appa kan masih liburan, belum pulang.."
"Eomma ngomong apa, sih? Orang tadi Yoonjin dijemput sama appa terus di ajak makan siang sama appa."
Aku jadi mulai khawatir. Jangan-jangan ada seorang pria asing yang mendekati Yoonjin, memberikannya makan, lalu setelah Yoonjin lengah ia akan menculik Yoonjin.. tidak! Jangan!
"Sayang, dengarkan eomma. Tadi Yoonjin pergi sama siapa? Kan eomma sudah bilang jangan pergi dengan orang asing, walaupun orang itu terlihat baik dan memberikan Yoonjin makanan!"
"Eomma! Aku sungguhan pergi sama appa!", balas Yoonjin gemas. "Tuh, appa."
Yoonjin menunjuk ke arah belakang punggungku. Mendadak jantungku berhenti. Untuk sesaat aku berpikir itu adalah pria jahat yang mau menculik Yoonjin. Tapi.. kemudian aku menciumnya. Ini parfum Yoongi. Dengan perlahan aku berbalik, dan benar saja, di sana ada seseorang yang sudah sangat kurindukan semenjak ia pergi meninggalkan rumah ini.
"Y-yoon.. Yoongi..."
Yoongi tersenyum, "Hi, honey. I'm home.."
Tubuhku bergerak dengan sendirinya mendekati Yoongi. Aku hendak menyentuhnya tapi aku merasa ragu, jadinya tanganku bergerak melayang-layang di udara dengan gerakan patah-patah seperti robot. "A-a.. Kau.. Kau pulang?"
Yoongi mengangguk. Ia berjalan mendekatkan dirinya padaku, hingga dadanya menubruk tanganku yang melayang.
"Yoon.. ini kamu? Ini sungguhan kamu? Kamu pulang?!"
Air mataku tidak bisa berhenti mengalir ketika Yoongi mengangguk lalu menarikku ke dalam sebuah pelukan.
"Maaf menungguku lama.", Yoongi bergumam di rambutku. "Nampaknya hatiku punya daya tahan yang lemah. Dia butuh waktu yang cukup lama untuk sembuh."
Tawaku teredam karena aku menangis dan karena wajahku terbenam di dadanya. "Tidak apa.. kau sudah pulang sekarang.. dan asalkan kau tidak pernah pergi lagi... aku tidak apa-apa.. Yoonjin tidak apa-apa.."
Yoongi mengisyaratkan Yoonjin untuk turun dari meja dan menghampiri kami. Yoonjin langsung melompat dan berlari ke arah kami. Yoongi menggendongnya dan kami bertiga pun berpelukan erat.
"Appa sudah selesai liburannya. Sekarang keluarga kita lengkap lagi.", kata Yoonjin polos. Ia melihat masalah ini dengan sudut pandang anak kecil. Baik aku dan Yoongi sangat bersyukur memiliki anak sedewasa, secerdas, dan selapang dada Yoonjin.
Ω
It's a beautiful day
And something reminds you, that you wish you had stayed
Di sinilah kami sekarang. Berdiri di balkon dengan lengan kekarnya memelukku dari belakang. Aku menyandarkan punggungku di dada bidangnya yang begitu kurindukan. Kami menikmati momen ini dalam keheningan.
Kami telah sampai di titik di mana seorang pasangan tidak memerlukan ribuan topik perbincangan hanya untuk merasakan kesinambungan. Walau pun kami tidak berbicara, tapi kami merasakannya. Keheningan ini kami isi dengan perasaan yang bersatu. Dan itu sudah cukup untuk kami.
"Kau tahu, sayang?"
Aku menoleh menatap Yoongi.
"Ada satu kesalahan yang pernah kulakukan. Dan kesalahan ini terus menghantuiku."
"Dan apakah itu..?"
Yoongi melepas pelukannya dan membuatku berhadapan dengannya. "Kukira aku mampu untuk melupakanmu. Aku kira mungkin suatu saat nanti aku bisa melepasmu. Tapi.. ternyata.. hingga kini aku tetap tidak bisa."
Yoongi mencium keningku, lamaaa sekali. "Ternyata hanya sementara. Hanya sebentar saja, aku bisa untuk melupakanmu."
Yoongi menatap mataku, berkata dengan sangat lembut. Ada apa dengan atmosfir ini? Kenapa dia bertingkah seperti dulu waktu hendak melamarku?
"Jangan biarkan aku terus menyesali kebodohanku kemarin karena telah meninggalkanmu, meninggalkan Yoonjin. Bisakah.. Bisakah kau dengar permintaanku, Seokjin?"
Aku mengangguk.
"Mari berjanji untuk terus bersama hingga maut memisahkan. Karena aku tak mampu, aku tak mampu melupakanmu."
Aku menangis terharu. Aku menunggu Yoongi untuk mengatakan ini sejak enam bulan yang lalu. Tapi, sebenarnya, aku tidak apa-apa menunggu Yoongi selama apa pun. Seberapa lama pun itu, aku akan terus menunggu.
Menunggu hingga hatinya sembuh.
Menunggu hingga dia pulang.
Menunggu hingga dia menciumku lagi, seperti dulu, ketika kami melakukannya untuk yang terakhir kalinya.
Bedanya, ciuman ini bukanlah yang terakhir untuk kami.
Your name, forever the name on my lips
Just like our last kiss
Forever the name on my lips
Just like our last.
END
orul2's corner:
jadi, siapa yang nyangka kalau chapter terakhirnya aku upload hanya beberapa jam setelah chapter 34? HAHAHHHAHAHA. aku sudah tidak sabar mengendingkan ff ini. karena aku punya segudang ff lainnya yang harus kutamatkan (i dont like having a debt) (lalu ditabok readerku di cerita yg lain) "banyak woy ga cuma A DEBT tapi LOTS OF DEBTS"
(lalu orul2 kabur)
oke orul2 balik lagi. di chap ini aku kan bilang mau ngasih penjelasan tentang ff ini. karena pasti banyak spot yang kurang jelas atau justru tidak jelas sama sekali. tapi sebelumnya aku mau bales review dulu, pyeong!
puppyyeol614: ih kamuuu jadinya mau namjin apa yoonjin nih? :p ini udah aku terusin. cepet banget kan? hehe
evitaaaa : jangan nangis terus, nanti air matamu kering nak :') ini udah.. happy ending kan?
Ceicoung : yeay! akhirnya, ya!
awbangtan : halo awbangtan adiknya awkarin/? bener banget, untung aja yoonjin mau jadi pendengar yang baik. pelajaran ya buat kita semua (ceileh) selalu kasih orang lain kesempatan untuk ngejelasin. hidup ini terlalu singkat untuk memendam dendam, maafkan, move on :) *lalu orul2 buka lapak jadi motivator*
bxjkv : kenapa tiap aku update kamu lagi baca teori terus, padahal aku updatenya seenak jidat aku. jangan2 kita jodoh (ini apa) iyaaa mas yoongi kode keras :3 aku juga kayaknya bakal kangen berat sama yoon-jin :') secara aku ngerjain cerita ini setaun lamanya. ini udah happy ending menurutku, kalau menurutmu? :D
istrinya-taetae : nah ini beneran last chappie. ngga sad ending ko, aku ga kuat sama yang sad sad. aku tidak se-maso-itu.
Kim Joungwook: permintaanmu terkabulkan! :D
lmnwind: haiii cerita ini sudah tamat. huhu aku juga yang nulis suka baper sendiri tau. maaf ya menularkan ke-maso-anku padamu. btw covernya aku dapet dari gugel TT aku mah ga ngerti edit2 gambar biar keren. aku taunya picsart aja :(
nindyaxx: thank u. sudah selesai belum baca ff ini? udah tamat lho XD
Ririn-ah: rumah tangga yoon-jin terselamatkan :)
pinkeualmond: baby dont you cry TT actually that was not the last time the versace lies on the floor :p kan hubungan yoon-jin tobekontinyu ihihii
DoTaekook : hehe makasih kak udah baca ulang dari awal :* ini udah tamat.. mau baca lagi dari awal ga ka? :'D
: halo pembaca baru! selamat datang! tapi ini ff udah tamat lagi aja hiks. baru nyambut udah udahan lagi. aw... im so sorry to hear that! :( alhamdulillah ya yangpenting udah bahagia lagi *lovelove* makasih semangatnya. yoongi sama seokjin dah saling ngerti kok. dan mereka gamau kehilangan lagi :)
: ah, iya nih ko uname kamu ilang pas aku upload chapter ya? sekarang bakal ilang lagi ga ya? sungguh bukan salahkuu, ini mah salah ffn nya :") cuel deh :')
Clausy: aku juga sayang kamuu unch. janganbaper berkepanjangan.. ini udah tamat ko ceritanya. hehe. iya sama2, makasih juga ya udah baca dan nyemangatin aku terus dnegan review yang lucu2. kamu ga nangis dipojok kasur kan?
Loud A. Fervent : bagian itunya? bagian ITU tuh yang mana? :') iya orul2 setuju banget yang pantes disalahin di sini cuma hyosang aja. yang lain mah ada alesan, kalau hyosang mah pure karena jahat. mari kita boikot hyosang! etapi yang di ff ini aja ya. kalau di dunia nyata mari kita sayangi hyosang :') aku sayang jin hyosang di dunia nyatah :') alhamdulillah kalau unasnya lancar :)
dawon... nanti dia muncul lagi ko. lalu muncul pertanyaan "eh nanti kapan, kan ffnya udah tamat" nah itu biarkan jadi surprise aja ya buat kalian hahahaha
pharrel1510wu: sesuai harapanmu, yoongi ga jadi cerein jin. mana sini cun aku dulu dong, bilang makasih/?
ayuya24 : gpp ko kamu kekeuh :D ini sesuai harapan mu kan, yoonjin :D
NitaPark : banyak banget yang ngomen kayak kamu "aku tuh namjin shipper tapi di sini aku maunya yoonjin". same, girl, same. aku jg namjin shipper garis keras. tapi aku membuat cerita mereka begini, jadinya aku pisahin deh kali ini namjinnya. aku juga sayang yoonjin soalnya.
Phcxxi : /menengangkan/ /ngasih tisu/
OKEY TERIMAKASIH UNTUK SEMUA DUKUNGAN, MASUKAN, PUJIAN, FOLLOW, FAVORITE, DAN PROMOSI KALIAN KE TEMEN2 TERHADAP FF INI
jujur beraaaat menamatkan ff ini karena ff ini adalah satu2nya ff yang aku garap sepenuh hati. ff aku yang lain mah ga segininya aku kasih hati. suer deh.
mari membahas ff ini
jadi, mungkin udah pada paham kan kalo seokjin tuh dulu sempet ngalamin yg namanya cinta buta waktu sma. aku ga bisa ngejelasin detilnya gmn caranya hyosang dapetin seokjin, yang jelas hyosang juga susah dapetinnya, karena seokjin kan udah sayang sma yoongi dah lama. tapi akhrnya hyosang bisa ngambil hati seokjin. terus perlahan2 seokjin mulai lupa perasaannya sama yoongi (semacam menutup hati dan membatasi diri), karena waktu itu yoongi kan masih kecil banget (anak smp) terus seokjin anak sma, kayak yg tidak mungkin gitulah kalau seokjin ngarepiin yoongi untuk jadi imamnya (cie futuristik banget lu jin :v) udah gitu kan yoon-jin tuh kayak tuan dan pelayan gitu, jadi kayak yang ilang aja harepan seokjin, karena dia takut kalau orang tuanya bakal ngelarang hubungan yoon-jin, padahal justru sebenernya orang tua seokjin dukung 100%
di sini aku tidak menyebutkan sma sekali nama ayah ibu seokjin dan yoongi karena aku pikir kalau disebutin nama harus ada dialog dan perkenalan lagi (aku malas) (maafin). sebenernya orang tua seokjin baik ko. mereka udah tau kalau hyosang itu anak ga bener, makanya mereka niat ngejauhin hyosang sama seokjin. tapi namanya juga anak sma yang lagi ditabok cinta, susah diomongin, jadinya kebobolan kan. terus seokjin tuh jadi gila karena ya bayangin aja diperkosa terus disiksa gitu kan pasti syok banget. terus dia jg ngerasa udah ngecewain keluarganya, keluarga yoongi, dan so pasti yoongi. dia pendem dan akhirnya jadi depresi. orang tua seokjin ga tega ngeliat anaknnya begitu, jadi aja mutusin untuk ngehapus sebagian memori seokjin
dari situ seokjin jadi dingin dan angkuh. dia kan ga inget udah diapa2in sama hyosang. dia ingetnya hyosang sama dia masih baik2 aja tapi tiba2 yoongi ngelamar dan akhirnya dijodohkanlah mereka berdua. akhirnya seokjin nylahin yoongi seumur2 dan ngebenci yoongi. dia jadi lupa kalau dari dulu dia sebenernya udah sayang banget sm yoongi
tapi karena orang tuanya kekeuh mau jodohin dia sma yoongi, akhirnya seokjin pura2 nurut (pasang topeng sanasini) supaya ga ada yang tahu perasaan dia yang sebenernya. karena dia jg gamau nyakitin hati orang tua dia, ortu yoongi, dan yoongi sendiri. itu kebawa2 sampai ke kehidupannya di kampus sebagai dosen.
dia kayak punya time-mask gitu. dia tahu kapan harus menampilkan wajah seperti ini, kapan waktu untuk wajah seperti itu. ngeri sih sebenernya, kalau aku niat mah bisa jadi lebih dalem lagi konflik tentang penyakit jiwa si seokjin. tapi, sekali lagi, akunya males. haha
LALU aku tuh berniat untuk memasukkan banyak teori psikologi dan sasta (karna aku suka juga). tapi ya itu. AKU MALES hhahahahahahahahahahahhaha. atuhlah. maapin aku. mager euy
yang jelas namjoon itu mengidap eodipus complex. yang mau tahu apa itu, bisa googling. tapi ya intinya sih dia punya perasaan yang salah terhadap ibunya sendiri (ibu kandungnya yang udah meniggal). jadi dari kecil mereka kan hidup susah, terus dia jadi ngeliat ibunya tuh kayak super hero yang bisa segaalanya, dia kagum banget. terus ibunya sakit mendadak gitu kan. dia yang masih kecil panik luar biasa gatau harus ngapain. ayahnya jg gitu kan brengsek ga bisa diandelin. akhirnya konflik2 itu membuat namjoon dewasa lebih cepat dariapda seharusnya. apalagi dia jadi pelacur gitu kan. so pasti lah otaknya langsung gesrek dan tidak polos lagi. seiring berjalannya waktu, dia mikir kalau ibunya ga pantes mendapatkan takdir menyedihkan seperti ini. ibunya ga pantes dapet cowo kayak hyosang. akhirnya dia mkir kalau ibunya harus dapet cowo yang pantes, dan akhirnya dia membuat dirinya sendiri sebagai si cowo yang pantes untuk ibunya itu (yan gbisa ngebiayain, ngejagain, mencintai)
setelah ibunya meninggal, tentu namjoon terpukul. hingga akhirnya pas ketemu seokjin (takdir memang gila) yang punya ciri2 mirip ibunya (Cantik, baik, ramah, keibuan, pinter, kuat, mandiri), namjoon jadi kayak ngerasa nemuin sosok ibunya yang sangat dia cintain lagi. akhirnya perasaannya sama seokjin tumbuh jadi lust karena dulu dia ga bisa milikin ibunya. jangan salahin namjoon, karena wajar aja dia tumbuh jadi begitu karena faktor lingkungan dan hidupnya yang keras.
terus vkook, jimsan, marknay, danlain2 yang sempat eksis di sini. sebenernya mereka hanya selingan supaya ff ini tidak terlalu serius. kalau jungkook sih memang ada peranan disini, tapi kalo yang lain cuma daun peterseli di piring sushi, pemanis doang.
kecuali dawon kali ya. dawon kan punya peran juga. dan aku harap kalian ga benci dawon, karena dia sesungguhnya hanya remaja yang hamil diluar niikah dan sakit hati. kebayang dong labilnya gmn? nanti aku mau buat cerita dawon namjoon di epilog
yaudah ah gitu aja dulu. nanti kita ketemu di epilog (katanya udah tamat tapi masih ada lagi haha)
