What's on Park-ssaem's Mind?

BTS fanfiction

Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit

Minyoon

Kisah seorang guru kasmaran

.

.

.

"Mau tambah cuti lagi?"

Suara Pak Bang menggema di seisi ruangan. Saya mengulum bibir. Sebelum mengajar, saya datang ke ruangan Kepala Sekolah untuk menyerahkan surat izin cuti. Mulanya saya tak mau lakukan ini, karena saya pikir Pak Bang pasti tak akan memberikan izinnya dengan mudah. Beda kalau Yoongi yang lakukan, mungkin begitu disodorkan, suratnya langsung ditandatangani. Hanya saja, calon istri saya tak bisa melakukan itu, karena jadwal ajarnya padat, sementara saya hanya ada satu kelas yang mesti diajar di jam kedua.

"Maaf, Pak. Hanya sehari. Kami perlu mengurusi banyak hal sebelum acara pernikahan. Bapak tahu lah, orangtua dan kerabat. Mereka datang hari Kamis ini jadi saya—"

"Tapi kenapa mendadak?"

"Maaf lagi, Pak. Tadinya kami pikir persiapan untuk Sabtu nanti tidak begitu merepotkan—"

"Mana ada pernikahan yang persiapannya tidak merepotkan?"

"Nah, maka dari itu, Pak. Saya minta izin untuk menambah satu hari cuti—"

Kursi berderit ketika Pak Bang menyandarkan punggungnya. Pria gemuk berkacamata itu melipat tangan di depan dada, lantas menaikkan dagunya dengan angkuh. "Kemarin mintanya cuti untuk Jumat, lalu sekarang mau tambah di hari Kamis, begitu?"

"Iya, seperti itu, Pak."

"Tapi harusnya tidak mendadak beginiiii!" Nada Pak Bang naik, dia mengetuk meja, dan saya jadi kesal dibuatnya.

"Karena tadinya—argh! Pak, saya mohon, beri saya dan Min-ssaem izin untuk menambah cuti."

"Tidak ada tambah-tambah cuti. Itu konsekuensi karena Anda datang terlambat untuk minta izin pada saya."

Pak Bang menggeser surat saya dengan ujung telunjuk sampai ke tepi meja. Dia lalu membuka toples wafer dan bersikap tak acuh pada saya yang masih berdiri di depannya.

"Tapi, Pak … tambah cuti … sehari…"

"Tidak.," tegas kepala sekolah yang mulutnya penuh wafer cokelat itu.

"Saya mohon. Demi kedamaian dunia."

"Apa peran Anda bagi kedamaian dunia? Memangnya Anda pahlawan super?"

"Bukan, sih. Tapi, Pak, saya harap Anda mengerti."

Pak Bang berhenti mengunyah. Toplesnya dia tutup. Setelah menyingkirkan remahan dari jas, dia menautkan kedua tangannya. "Baiklah."

"TERIMAKASIH!"

"Saya belum selesai bicara!"

"I-iya, maaf."

"Baiklah, setengah hari. Saya beri setengah hari untuk kalian berdua. Di hari Kamis, Anda dan Min-ssaem baru boleh pulang setelah jam istirahat siang."

"Pak…"

"Tidak cukup?"

"Kalau bisa kami inginnya tak usah ke sekolah saja."

"Seenaknya! Sudah, jangan tawar-tawar lagi!"

Begitulah, minta izin dari Kepala Sekolah hampir seperti menjaring angin, sudah pasti susah. Akhirnya saya mesti menelan kekecewaan. Padahal niatnya kami mau bersiap di rumah ketika orangtua dan kerabat kami datang hari Kamis nanti, tapi apalah daya kalau hanya setengah hari yang diberi.

Sebelum ke kelas untuk memulai pembelajaran, saya mengirim pesan pada Yoongi.

Yoongi, Kepala Sekolah hanya memberi setengah hari. Kamis, sampai jam istirahat siang, kita masih wajib mengajar.

Tak berapa lama, Yoongi membalas.

Ya sudah, tak apa.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Materi pengembangan kebugaran jasmani adalah satu dari banyak materi yang tak begitu saya sukai. Biasanya, saya hanya perlu mengamati setelah selesai mengajari teknik-teknik dasar olahraga kepada siswa. Tidak perlu repot. Saya hanya tinggal duduk dan menilai dengan santai. Tapi di materi pengambangan kebugaran jasmani ini, saya diharuskan untuk ikut serta dalam kegiatan para siswa. Mereka saya suruh lari keluar sekolah, mengitari perumahan. Tujuannya untuk mengetes daya tahan otot dan kekuatan. Ada banyak kasus ketika murid tak dipantau guru. Mereka berbuat curang. Saya turut serta dalam kegiatan ini untuk meminimalisir kecurangan itu. Tapi memang, mata hanya dua, badan hanya satu. Kalau yang di depan berhasil terpantau, yang di belakang terabaikan. Saya tidak bisa menghentikan mereka yang sengaja memperlambat larinya demi mencari jalan pintas atau sekedar mampir ke warung membeli jajanan. Pada akhirnya, nilai-nilai yang ada di tabel bukan murni dari pengamatan, melainkan perkiraan. Yaa, sulit memang menjadi guru.

"Park-ssaem, ini minuman dingin untuk Bapak. Tolong diterima, ya."

"Ah? Terima kasih."

Seorang siswi memberikan sebotol minuman isotonik dingin ketika saya tengah mengibas-ngibaskan kerah kaos karena kegerahan. Saya lihat pipinya merah merona ketika saya menerima minuman itu. Kenapa mesti merona? Ah, iya, mungkin karena dia kepanasan habis berlari di bawah matahari.

Mereka yang sampai duluan ke sekolah langsung berpencar meski saya belum mengakhiri pelajaran secara resmi. Paling-paling hanya beberapa yang masih berkumpul di lapangan. Saya sih tidak terlalu peduli. Sebab susah mengatur banyak kepala. Biarkan saja.

"Istirahaaat!"

Bel berbunyi. Para siswa berseru. Mereka mulai meninggalkan lapangan untuk kembali ke kelas. Karena sudah tak ada lagi yang mesti saya lakukan, saya pun beranjak dari tempat itu. Cuaca yang panas membuat gerah badan tak kunjung habis. Ingin rasanya bertelanjang dada. Tapi itu tak mungkin. Nanti saya disergap keamanan.

Saya berjalan di bawah bayang bangunan dan pohon untuk sampai ke gedung utama tempat ruang guru berada. Minuman yang siswi saya berikan tadi sudah habis. Saya buang botolnya di tong sampah terdekat. Di lorong, saya menemukan keteduhan. Angin kencang yang berembus memberi kesejukan walau singkat. Saya diam di dekat tong sampah itu hanya untuk menunggu angin lain yang mungkin akan datang.

"Oh benarkah? Aku tak biasa berbagi ID Line atau akun media sosial pada orang lain, tapi kalau kalian mau aku bisa beritahu. Mana ponsel kalian? Sini biar kuketikkan namaku."

Mengabaikan angin, saya menajamkan pendengaran. Seseorang yang bicara dari sisi lain lorong seperti saya kenal suaranya. Itu tak asing. Nadanya, gaya bicaranya. Ketukan sepatu bersahutan. Ada beberapa orang yang berjalan. Mereka semakin mendekat dan saya mencoba lebih fokus untuk mengenali siapa itu.

"Ingat ya, aku berbeda dengan Park Jimin, guru kalian itu. Kalau kalian bandingkan, aku ini lebih—"

Saya menoleh ke kiri. Langkah-langkah itu berhenti. Beberapa meter di depan saya ada dua siswi dengan rok pendek berdiri di kanan kiri seorang lelaki yang berpakaian hitam-hitam. Lelaki itu menatap saya dengan mata melotot. Saya juga!

"Jihyun?!"

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

"Kenapa kau bisa ada di sini?"

Saya berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. Jihyun duduk di sebuah bangku panjang sambil memeluk ransel dan menyeruput susu melon yang saya belikan. Saya sengaja membawanya ke tempat sepi supaya tak ada yang mengganggu. Saya tidak mau dia menjadi perhatian orang. Bukan karena fisiknya yang serupa dengan saya, tapi karena dia tipe yang suka show off di depan umum, apalagi di depan perempuan. Saya tak mau ada siswi yang jadi korban seperti dua yang berrok mini itu. Bisa rusak nama saya gara-gara dia.

"Jawab, jangan cuma minum saja."

"Iya, iya!" Jihyun menyeruput susunya kuat-kuat sampai isi botol kecil itu habis tak bersisa. Dia lempar botolnya ke tong sampah. Untung lemparannya tepat, kalau tidak, saya akan menendangnya supaya dia mau memasukkan botol itu ke tempat yang seharusnya.

"Hei."

Dia mendengus. "Aku kabur dari rumah."

"Heh! Kenapa?!"

"Aku bertengkar dengan Ibu."

"Bertengkarnya kenapa?"

"Ibu mau aku putus dengan pacarku yang sekarang."

"Memangnya apa yang kamu lakukan dengan pacarmu sampai Ibu mau kalian putus?"

Jihyun tiba-tiba memegangi kedua lengan saya, dengan raut sedih dia berkata, "Kami tidak melakukan apa-apa! Lagipula alasan Ibu juga tidak masuk di akal!"

"Ya, kenapa memang?"

"Ibu bilang pacarku kurang cantik, kurang muda, kurang baik, kurang lemah lembut!"

"Ooh…" Saya mengangguk. "Tunggu! Apa katamu tadi? Kurang muda? Memang berapa usianya?"

"Tiga puluh lima."

"Aish! Bocah ini!"

"Sakit, Jimin!"

Adik saya berteriak. Tadi saya memukul kepalanya dengan papan dada lantaran kesal. Pantas Ibu marah. Jihyun baru dua puluh lebih satu, sedang pacarnya berusia tiga puluh lima tahun? Yang benar saja! Waktu Jihyun berkunjung ke apartemen saya, dia memang pernah katakan kalau dia suka yang lebih tua. Tak sangka, ternyata itu terbukti. Saya kira dia hanya membual gara-gara Yoongi cantik dan dia ingin dekati.

"Kenapa kau suka sekali memukul aku?"

"Kenapa kau pacaran dengan ibu-ibu?"

"Dia bukan ibu-ibu, dia belum punya anak. Meski sudah pernah menikah, sih. Tapi dia kaya, Hyung! Siapa yang tak mau berhubungan dengan wanita mapan dan mandiri?"

"Aissh…" Saya hanya bisa mendesis. Rasanya kepala ini mendadak pening. "Lalu kau kabur kemari untuk apa? Kau pikir aku akan menerimamu, begitu?"

"Tak apa kalau kau tak mau menerimaku. Kuyakin Yoongi-hyung mau."

"Tidak. Tidak bisa. Pulanglah ke Busan. Kau kabur terlalu jauh. Ibu pasti khawatir padamu."

"Aku tidak mau pulang."

"Apa harus kukasih uang dulu?"

"Mana sini uangnya?"

Saya merogoh saku, kebetulan ada dua lembar uang 1000 won. Saya berikan itu pada Jihyun, tapi bukannya diterima, dia malah menatap saya dengan nyalang.

"Yang benar saja! Segini mana cukup!"

"Ya Tuhan, aku hanya ingin kehidupan yang damai tanpa gangguan dari adikku, tolong singkirkan dia, buat hidupku damai lagi seperti biasa…" Saya berdoa.

"Kau! Kau benar-benar menyebalkan! Aku mau cari Yoongi-hyung saja. Dia pasti lebih peduli padaku ketimbang kau."

"Eh, apa? Mau apa kau? Jangan macam-macam!"

Saat dia beranjak dari duduknya dan hendak pergi, saya cekal lengannya. Jihyun berontak, lalu dia lari. Saya tidak tahu dia mau lari ke mana. Yang jelas, karena tidak ingin ada hal-hal aneh yang terjadi karena dia, saya pun mengejarnya.

"Jihyun!"

Anak itu masuk ke gedung utama. Murid-murid yang sedang beristirahat sampai-sampai memerhatikan kami yang berkejaran di koridor. Sudah jelas ada peringatan yang tertulis di dinding, dilarang berlarian di koridor, tapi bukannya mencontohkan murid untuk patuh, saya malah melanggarnya. Jihyun benar-benar membuat kacau!

"Jihyun! Berhenti!"

"Pergi sana! Aku benci kamu—"

Brukk! Di persimpangan menuju tangga, adik saya terjatuh bersama orang yang dia tubruk. Saya yang tak sempat mencegah hanya dapat memicing dengar bunyi gedebuk itu.

"Ahhss…," ringis Jihyun.

Buru-buru saya mendekat, dan betapa terkejutnya saya sewaktu tahu bahwa orang yang Jihyun tubruk adalah Yoongi. Aaargh! Kenapa harus Yoongi sayangku!

"Yoongi kau tidak apa-apa?"

"Y-ya aku tidak apa-apa."

Saya segera membantu Yoongi untuk bangkit. Setelah dia berdiri, saya pungut buku dan lembar-lembar kertas miliknya yang tercecer di lantai. Adik saya mengaduh karena dia jatuh tersungkur dan hidungnya berbenturan dengan ubin. Tapi saya tidak peduli. Keselamatan calon istri saya lebih penting.

"Jihyun! Lihat siapa yang kau tubruk! Cepat minta maaf!"

"M-maaf, Yoongi-hyung, aku tidak sengaja."

"Tidak apa-apa," kata Yoongi sambil tesenyum kering.

Saya lihat dia mengelus bokongnya sendiri. Mungkin masih terasa sakit di bagian itu. Kalau sampai dia terluka, awas saja!

"Omong-omong kenapa adikmu bisa ada di sini, ya?" tanya Yoongi pada saya, setengah berbisik.

"Itu…" Saya berpaling muka, menggigit bibir. Bingung bagaimana mesti jelaskan perkaranya.

"Aku kabur dari rumah. Hyung, Hyung cantik, tampung aku, dong. Jimin sangat jahat padaku, dia mau menyuruhku pulang ke Busan, padahal aku tak mau pulang…"

"E-eh?"

"Hyung, selamatkan akuu!"

Saya melotot terkejut waktu Yoongi diseruduk oleh Jihyun. Yoongi hanya bisa menekuk tangan di depan dada, terperangkap dalam pelukan yang begitu eratnya. Tanpa tahu malu, tiba-tiba Jihyun mengecup pipi calon istri saya!

Hei! Itu sudah kelewatan namanya!

"A-eng-anu...," ucap Yoongi gagu.

"Waa … pipimu memerah, Hyung. Manis sekali, jadi ingin kukecup lagi."

"Eh, jangan—"

Cup! Sebelah pipi Yoongi yang lain kembali dikecupnya. Jihyun tertawa puas. Yoongi mau bicara tapi tak bisa. Sedang saya? Ah, tak usah tanya. Diam-diam saya mengepalkan tangan sekuat tenaga, menahan segala amarah yang memuncak di kepala dan cemburu yang berkobar di dada.

"Jihyun, hentikan—"

"Kau sangat manis, aku suka padamu."

"Jihyun, Yoongi bilang berhenti," sela saya.

"Kenapa kau malah memilih Jimin, padahal kau bisa menikah dengan aku—"

"PARK JIHYUN!"

"AARRGH!"

Tulang keringnya saya sepak. Jihyun terhuyung dan pelukannya lepas. Yoongi yang terbebas segera mundur, berjongkok, menempelkan punggung di tembok dan memeluk dirinya sendiri. Pipi dan telinganya merah, matanya tak fokus. Dia seperti kucing yang ketakutan. Mungkin dia shock habis diserang begitu. Saya sendiri tak pernah memperlakukan Yoongi dengan sebegitu kurang ajarnya. Dia lembut dan rapuh seperti kapas. Saya takut dia menangis!

"Yoongi, maaf."

Yoongi tak katakan apa-apa. Dia melihat saya masih dengan kebingungan yang tersirat jelas di matanya.

"Maaf, ya." Saya usap bahu Yoongi sesaat sebelum saya berdiri dan membalik badan ke hadapan Jihyun. "PARK JIHYUN!"

Jihyun tersentak. Dia menunduk dalam. Saat saya melangkah maju, dia beringsut mundur.

"I-iya, Hyung?"

"Berhenti bersikap kurang ajar. Sopanlah sedikit, dia calon kakak iparmu. Lagipula ini di sekolah, banyak anak murid yang berkeliaran. Kalau mereka melihat, bagaimana? Jangan berbuat onar. Aku tahu kau playboy kelas kakap, tapi kalau kau mau beraksi di sini, kau salah tempat."

"Iya, maaf, Hyung."

"Aku tak dengar permintaan maafmu."

"Maaf, Hyung."

"Minta maaf pada Yoongi."

"Maaf ya, Yoongi-hyung."

"Minta maaf juga pada orang-orang seisi lantai satu."

"Kau mau mengerjai aku, ya?!"

"Pokoknya kau harus minta maaaaf!"

"Tidaaak!"

Jihyun mendorong dada saya. Dia lari lagi. Belum jauh, terdengar gedebuk keras. Entah karena dia sedang sial atau apa, dia bertubrukan dengan orang lagi di koridor. Saya terpaksa meninggalkan Yoongi sebentar untuk melihat apa yang sudah terjadi dengan adik saya. Dan ternyata kali ini, Jung-ssaem yang jadi korbannya.

"Anda ini, ya! Kalau jalan lihat-lihat!"

"Aku lari, bukan jalan! Lagipula kalau lari mana kelihatan kalau ada yang muncul tiba-tiba?"

"Park-ssaem, memangnya saya hantu, muncul tiba-tiba?"

"Eh, tunggu!" Saya menyela sebab Jung-ssaem sudah salah mengira kalau yang menubruknya adalah saya. "Itu bukan saya! Saya di sini!"

"Lho?" Guru sastra itu celingak-celinguk kebingungan, menatap saya dan Jihyun secara bergantian. "Kok Park-ssaem ada dua?"

Saya mesti menyelesaikan segala masalah yang terjadi di waktu makan siang. Menjelaskan pada orang yang berpapasan dengan kami dan mengatakan bahwa saya dan Jihyun adalah orang yang berbeda adalah satu yang paling membuat lelah. Kalau pada guru-guru, tak jadi masalah, tapi ketika berhadapan dengan murid-murid, saya mesti ekstra sabar. Jihyun, tanpa bosan, tanpa malu-malu, memperkenalkan diri pada mereka dan menggoda beberapa siswa yang cantik sembari sedikit-sedikit menyindir saya yang katanya tua dan tidak menarik.

Karena tak mau membawanya mengajar, saya pun menitipkannya pada Jin-ssaem. Saya suruh dia menunggu di ruang kesehatan, hitung-hitung menemani Jin-ssaem yang berjaga sendirian. Jihyun saya beri roti, susu, dan camilan supaya dia betah menunggu sampai jam pelajaran terakhir selesai. Sementara Jin-ssaem, saya janjikan seloyang kue stroberi esok hari.

Pst, yang ini jangan katakan pada Yoongi!

Oh ya, tentang Yoongi, saya tidak bisa berbuat banyak. Dia diam melulu. Bicarapun hanya iya dan tidak. Kadang diganti dengan anggukan dan gelengan saja. Bahkan sampai waktunya pulang pun dia masih seperti itu. Rasa-rasanya saya hanya perlu membiarkan keadaan membaik dengan sendirinya.

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Saya masih merasa tak enak pada Yoongi. Melihat adik saya yang susah diatur, saya merasa seperti seorang kakak yang tak bertanggungjawab dan tidak dapat mengajari adiknya dengan baik. Di kamar mandi saya berdiam lama, merenung, meresapi tetes air yang jatuh dari shower. Saya pikir saya perlu bicara dengan Jihyun dan Yoongi, nanti. Setelah berpakaian, saya keluar dari kamar mandi dengan jari-jari tangan dan kaki yang keriput karena terlalu lama terkena air. Begitu melewati dapur, saya takjub melihat Yoongi dan adik saya yang sedang bercengkrama dengan akrabnya.

He? Ada apa ini?

"Kalian? Bagaimana bisa—"

"Kenapa, Jimin?" tanya Yoongi yang sedang mencuci beras.

"Bukankah kalian seharusnya bermusuhan?"

"Kenapa harus bermusuhan? Jihyun kan sudah minta maaf," jawabnya.

"EEEH, TAPI—"

Jihyun menopang dagu di atas meja bar. Dia tersenyum lebar pada saya. Alisnya naik-turun. Sialan. Apa yang sudah dia lakukan sehingga Yoongi bisa dengan mudahnya kembali bersikap baik seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa? Bagaimana bisa!

"Malam ini kita buat nasi jamur, ya."

Selesai dengan berasnya, Yoongi beralih ke lemari penyimpanan di atas kompor. Dia membuka lemari itu sambil sedikit berjinjit.

"Hyung mau ambil apa? Sini kuambilkan."

Saya tadinya hendak membantu, tapi Jihyun mendahului. Dengan kecewa saya menghempaskan bokong ke kursi. Saya hanya bisa gigit jari karena kalah cepat dari adik sendiri.

"Ooh, bumbu baru? Yang lama sudah habis?"

"Iya."

"Harusnya kalau sudah habis bilang saja, supaya wadah kosongnya bisa cepat diisi ulang."

Percakapan mereka mengalir begitu lancar. Tak terlihat kalau mereka baru satu kali bertemu sebelum ini. Entah karena wajah dan suara kami yang serupa, saya seperti melihat Jihyun sebagai diri saya yang lain. Yang benar-benar lain. Yang bisa mengatakan apa yang dia ingin katakan, dan mengekspresikannya dengan jujur tanpa kebohongan. Dia bisa membuat Yoongi tertawa terbahak-bahak. Dia pandai bercanda, pandai membawa suasana. Kejadian tadi siang di sekolah mungkin memang bukan apa-apa kalau sikapnya begini. Sedikit saya merasa iri. Jihyun punya nilai lebih yang tak saya miliki.

"Jimin, kau kenapa?"

Lamunan saya dipecah oleh seujung jari Yoongi yang menyentuh hidung saya. Matanya berkedip bingung. Sebetulnya saya juga bingung. Tapi untuk menghilangkan kecanggungan, saya putuskan untuk melepas kekeh saja.

"Ehehe, tidak."

"Dia pasti sedang memikirkan cara untuk menaklukkanmu di malam pertama."

Jihyun berbisik kasar, Yoongi memukulnya sambil tertawa. Adik saya itu sengaja memfitnah, rupanya. Padahal saya sama sekali tak memikirkan itu. Tapi gara-gara dia saya mendadak terpikirkan tentang malam pertama.

"Duh, pingin pipis," celetuk Jihyun. Dia menggeluyur ke kamar mandi.

Tersisalah saya dan Yoongi. Kami bertatap-tatapan dengan canggung. Karena bingung mau bicarakan apa, kami hanya diam. Yoongi menyibukkan diri dengan bahan makanan sementara saya menyibukkan diri dengan barang-barang yang bisa saya jangkau di atas meja. Seperti hiasan tanaman sintesis dalam pot, misalnya.

"Jihyun itu … sangat berbeda dengan kamu, ya," gumamnya.

Saya berdeham, "Iya. Begitulah dia, kau lihat sendiri."

"Dia terlihat sembrono, tapi aku suka."

"Kau suka Jihyun?"

Kegiatannya terhenti. "Bukan begitu, aku—ah, eng—menurutku kalau kau bisa—kau tahulah,"

Saya mengernyit dengar perkataannya yang menggantung. Yoongi gelagapan. Dia mengigiti ibu jarinya dengan gelisah. Selang beberapa detik saya baru sadar apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan. Ya ampun! Jadi begitu!

"Yoongi." Saya bangun. Meja bar saya kitari untuk sampai padanya. Di samping Yoongi saya berdiri. Saya tatap dia. Saya ambil langkah maju sampai Yoongi terhimpit di antara badan saya dan pintu kulkas. Sambil menaruh tangan di kedua sisian pinggangnya, saya berucap, "Yoongi apa kau suka kalau aku … jadi bad boy?"

"H-ha?"

"Bad boy. Be-a-de-be-o-ye. Jujur saja selama ini aku menahan diri untuk tetap terlihat baik karena aku ingin menjadi pria baik-baik. Tapi kalau kau mau, aku bisa jadi bad boy untukmu. Begini-begini, aku bisa katakan hal-hal kotor, tahu."

"M-misalnya?"

"Lehermu yang mulus ini," bisik saya. Kulit lehernya saya sentuh dengan punggung tangan. "membuatku ingin meninggalkan bukti-bukti konkret supaya orang tahu kalau kamu adalah milikku. Aku akan membuat tanda kepemilikan itu di sini dan di sini."

Yoongi meneguk ludah setelah saya membelai bagian kanan dan kiri lehernya. Tatapannya dilempar ke samping. Sebelah tangannya menutup mulut. Meski coba disembunyikan, saya masih dapat melihat semburat merah di wajahnya.

"Jangan katakan itu," cicitnya. Dada saya didorong pelan. Otomatis, rangkulan tangan saya di pinggangnya pun saya lepaskan.

"Kau tak suka?"

Yoongi menggeleng. "Aku—"

Dia meraih kerah kaos saya, lalu pelan-pelan mengubur wajahnya di dada saya. Dia seperti ragu untuk lakukan itu. Saya bingung, apakah dia tak suka mendengar bisikan nista seperti itu?

"Jangan katakan, aku suka."

"Eh?"

"Aku suka..."

"EEH?"

"Ayo katakan lagi."

"T-tidak ah, aku malu."

"Iih, kau ini!"

.

.

What's on Park-ssaem's Mind?

.

.

Jam sepuluh malam, Jihyun pergi ke toko kelontong dekat rumah untuk membeli soju. Dia mengajak saya dan Yoongi untuk menemaninya minum. Yoongi mau-mau saja. Tapi mengingat esok hari calon istri saya itu masih harus mengajar, saya pun tak lantas membiarkannya minum soju bersama Jihyun. Saya belikan dia cola sebagai pengganti. Padalah hanya sekaleng, dan itu pun belum benar-benar habis, tapi Yoongi bilang dia sudah kembung. Akhrinya sisa cola itu Jihyun yang ambil untuk dicampurkan dengan soju. Dia bilang pada saya kalau soju berasa-rasa seperti itu lebih enak walau bikin cepat mabuk. Saya hanya bisa geleng-geleng saja, karena baru tahu kalau setelah legal, kebiasaan minum adik saya seperti ini.

Jarum jam hampir sampai ke angka dua belas. Di tivi sedang tayang berita malam. Bahasannya tak menarik, tentu saja. Sebab itu hanya rangkuman dari berita pagi sampai sore. Karena merasa sedikit lapar, saya beranjak ke dapur, meninggalkan Yoongi yang terlelap di sofa dan Jihyun yang sedang menuang sisa-sisa soju ke dalam gelas kecilnya.

Saya hendak membuat ramen. Setelah mengambil sebungkus ramen instan dari dalam lemari penyimpanan, saya teringat Jihyun dan Yoongi. Saya lupa bertanya apakah mereka mau ramen juga atau tidak. Saya pikir Jihyun mau. Kalau Yoongi, mungkin tak usah ditanya. Hanya saja, saya perlu memastikan, supaya nanti ramen yang saya buat tak terhambur percuma karena tak habis dimakan. Saya pun kembali ke ruang tengah untuk menanyakan itu.

"Jihyun, aku mau buat ramen, kau—"

Saya terdiam di tempat saya berdiri ketika melihat Jihyun yang sedang menatap Yoongi lamat-lamat dan dalam satu kedipan, dia mendaratkan sebuah ciuman di bibir itu.

.

.

.

As you look into my eyes

You're just imagining baby

You're peacefully looking at me

As you lay in front of me, swimming through the dawn

Don't be shy, come to me, don't think too much

Don't hesitate, there's no tomorrow

Don't be shy, come to me, don't think too much

Seize the day, there's no tomorrow

What's on Park-ssaem's Mind?

CONTINUED

*primary – don't be shy