Tales Of Darkness And Light

By: Razux

Beta Reader: Giselle Gionne

.

.

.

.

Disclaimer: Gakuen Alice BELONGS to Higuchi Tachibana.


Chapter XXXIII

Dia berjalan dengan cepat tanpa mempedulikan gadis kecil yang sedang mengejarnya.

"Tunggu! Tunggu aku!" teriak gadis itu, memohon.

Dia tetap tidak mempedulikan panggilan gadis kecil tersebut. Ia tidak ingin berada di sampingnya ataupun berada di dekatnya, sebab dia tahu sekali siapa gadis itu sesungguhnya. Gadis kecil di belakangnya adalah Sang Cahaya, makhluk sihir yang ditakdirkan untuk membunuhnya.

Musuh abadinya.

Sesungguhnya, ia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Sang Cahaya dalam keadaan seperti ini. Ironis sekali, dari seluruh manusia yang ada di dunia, justru dialah yang menemukannya. Melihatnya dilahirkan dan membuka matanya untuk pertama kali di dunia.

Ketika ia melayangkan pandangan pada sosok tersebut, tidak terlintas sedikitpun dalam hatinya untuk menghabisi ataupun melukainya. Dirinya terpikat dalam pesona yang ia lihat, cahaya bulan yang jatuh menyinari Sang Cahaya benar-benar membuat matanya terbelalak. Gadis tersebut sangat cantik dan suci. Makhluk paling sempurna da indah yang pernah dilihatnya, sesuai dengan apa yang tertulis di dalam buku ramalan itu.

Lalu, senyum sang agdos. Senyum dan pandangan mata penuh kegembiraan serta kehangatan yang ditujukan padanya benar-benar membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang pernah tersenyum dan menatapnya dengan hangat seperti itu selama ini. Dia tidak mengerti, mengapa Sang Cahaya tersenyum seperti itu kepadanya? Mengapa Sang Cahaya bisa menunjukkan senyum penuh kebahagiaan padanya yang merupakan Sang Kegelapan?

Kontan saja ia merasa sepasang tangan kecil menarik pakaiannya. Tanpa melihat ke belakang pun, dia tahu siapa itu.

Sang Cahaya.

Aura keberadaan, suara napas serta aroma tubuh dari Sang Cahaya yang berada sangat dekat dengannya, membuatnya menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepalanya ke belakang.

Mata merah darahnya seketika langsung bertemu dengan sepasang mata berwarna coklat madu besar. Dia bisa melihat dengan jelas wajah cantiknya yang disinari bulan purnama di atas mereka.

"Akhirnya kau menoleh juga." senyum Sang Cahaya.

Melihat senyum itu untuk yang kesekian kali, dia benar-benar kebingungan walau dia tetap memasang wajah tanpa ekspresi.

"Lepaskan aku, idiot." Perintahnya kasar, dan juga dingin.

Namun Sang Cahaya sama sekali tidak melepaskan tangannya. Dia menatapnya dengan lurus. "Aku lapar!" keluhnya.

"Apa kaitannya denganku? Lepaskan aku!"

Sang Cahaya tidak melepaskan tangannya, namun semakin mempererat genggamannya. Tiba-tiba saja, dia melepaskan tangan yang tengah menggenggam kepalan tangan Sang Kegelapan dan memeluknya dengan erat sembari menangis. "Aku lapar!"

Ia benar-benar tidak mengerti dan tidak mempercayai apa yang terjadi sekarang. Seseorang baru saja memeluknya tanpa gentar dan tanpa rasa takut. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Sang Cahaya yang memeluknya dengan lembut. Kehangatan yang sama sekali tidak pernah dirasakannya selama ini.

"AKU LAPAR!" teriak Sang Cahaya lagi dan semakin mempererat pelukannya.

"Baiklah, baiklah! Aku akan mencarikanmu makanan, karena itu lepaskan pelukanmu!" balasnya jengkel, tidak tahu mengapa dia tidak menyukai air mata Sang Cahaya. Baginya, air mata itu membuatnya kesal. Gadis manis sepertinya tidak pantas menangis, menunjukkan air mata di wajahnya. Senyuman terasa lebih terlihat indah ketika berada di wajahnya dan dia ingin melihat senyumannn itu lagi.

Harapannya terkabul. Mendengar ucapannya, Sang Cahaya segera melepaskan genggaman tangannya dan menatap lawan bicaranya sambil tersenyum. "Benarkah?"

Mata merah darahnya sama sekali tidak bisa meninggalkan wajah Sang Cahaya saat melihat senyum itu lagi. Hatinya terasa sangat hangat, sesuatu yang tidak pernah dirasakannya selama ini. Namun, dia segera membuang perasaannya itu jauh-jauh. Tidak boleh ada rasa suka ataupun minat yang menunjukkan ketertarikan dalam konteks kehidupannya.

"Ya, tunggulah di sini." perintahnya pelan tanpa menolehkan wajahnya sedikitpun dari wajah Sang Cahaya.

Dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya, Sang Cahaya segera menganggukkan kepalanya.

Tanpa mengatakan apapun lagi, dia segera berjalan menjauh dari Sang Cahaya. Dia tidak boleh berada di sini, dia harus meninggalkannya. Sang Cahaya tidak seharusnya memeluk dan tersenyum seperti itu padanya. Sudah konkrit bagi Sang Cahaya untuk tidak meminta pertolongan padanya, dan yang paling krusial adalah, dia tidak seharusnya menolongnya.

Saat dia akan menghilang dari pandangan mata Sang Cahaya, tiba-tiba saja dia mendengar Sang Cahaya berteriak, "Cepat pulang, ya, aku akan menunggumu di sini."

Dia segera membalikkan wajahnya untuk menatap Sang Cahaya begitu mendengar ucapannya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun hatinya benar-benar sangat terkejut.

Menunggumu di sini.

Kalimat tersebut membuatnya tertegun.

Menunggunya? Seseorang mau menunggunya? Sang Cahaya berjanji akan menunggu kehadirannya? Makhluk seperti dia mau menunggunya yang seperti ini? Tidak. Ini salah, dia tidak seharusnya memikirkan ini semua. Sang Cahaya baru terlahir, dia tidak tahu apa-apa, jika dia tahu siapa dia sebenarnya, sikapnya pasti akan berubah.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi, dia membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam semak-semak. Dia terus berjalan dengan cepat menjauh dari tempat itu, semakin cepat hingga akhirnya dia berlari.

Dia tidak boleh memikirkan apapun lagi. Dia berusaha mengosongkan pikirannya, namun tidak peduli bagaimana dia mencobanya, senyum hangat Sang Cahaya terus saja terbayang dalam pikirannya. Dia masih mengingat dengan jelas bau badan serta kehangatan tubuhnya.

Apa yang terjadi padanya? Dia tidak pernah merasa seperti ini selama ini. Apa yang telah Sang Cahaya lakukan terhadapnya? Dia harus segera menjauh darinya, dia tidak boleh berada di sampingnya, tetapi kenapa di dalam lubuk hatinya yang terdalam dia merasa tidak ingin meninggalkannya?

Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti saat dia merasakan adanya aura-aura makhluk sihir lain di dalam hutan ini yang berjalan mendekati aura Sang Cahaya. Rasa kalut tiba-tiba menyerangnya. Tanpa mempedulikan apapun dia langsung membalikkan badannya dan berlari ke arah Sang Cahaya. Makhluk sihir apa yang sedang mendekati Sang Cahaya? Apa yang akan dilakukan mereka terhadap Sang Cahaya? Melukainya? Membunuhnya? Tidak, dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

Sambil berlari mendekati Sang Cahaya, dia terus mengeluarkan aura hitamnya untuk mengusir para makhluk sihir itu tanpa disadarinya. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang berani melukai Sang Cahaya, namun yang paling penting, dia kembali merasakan emosionalitas yang sudah sangat lama tidak pernah dirasakan olehnya.

Takut. Takut dia akan terlambat. Namun, saat dia merasa aura-aura makhluk sihir yang mendekati Sang Cahaya sudah menjauh, dia segera menghela napas lega.

Dia sudah tiba di tempat Sang Cahaya berada. Namun dia tidak berani untuk menghampiri gadis tersebut. Ia hanya berdiri di samping pohon, mencuri pandang sedikit kepada Sang Cahaya.

Sinar rembulan menyinari Sang Cahaya. Rambut panjang berwarna coklat madu, sepasang mata berwarna coklat madu besar yang bersinar penuh kebahagiaan dan kehangatan, dan terakhir, sebuah senyum kecil di wajah yang luar biasa cantik itu. Betapa cantiknya dia, betapa memesonakannya dia.

Jantungnya berdetak sangat cepat hingga tidak bisa dia kendalikan. Dia ingin menatapnya gadis tersebut tanpa henti. Dengan hanya melihatnya saja, dia sudah merasa sangat hangat.

Mengapa dia merasa emosionalitas seperti ini? Dia tidak pernah mengerti.

Sang Cahaya tiba-tiba mengangkat tangannya menyentuh perutnya dan itu langsung membuat dia tahu, Sang Cahaya lapar. Dia teringat dengan rasa lapar yang dirasakannya saat dia baru terlahirkan. Perasaan itu tidak menyenangkan dan juga menyakitkan. Dia tidak mau Sang Cahaya mengalami perasaan tidak mengenakkan tersebut.

Tanpa berpikir panjang, dirinya segera membalikkan tubuhnya untuk mencari makanan. Dia memetik semua buah-buahan yang dilihat olehnya di sekelilingnya. Setelah tangannya penuh dengan buah-buahan, dia segera berlari menemui Sang Cahaya.

Sebuah senyum langsung terukir di wajah Sang Cahaya ketika melihat dirinya. Tanpa membuang waktu, Sang Cahaya langsung berlari mendekatinya, memeluknya dengan erat hingga buah-buahan yang ada di tangannya terjatuh ke atas tanah.

Dia sangat terkejut. Sang Cahaya kembali memeluknya untuk yang kesekian kalinya. Sebuah pelukan yang tidak ia duga. Namun, Sang Cahaya tiba-tiba melepaskan pelukkannya dan bersimpuh untuk memungut buah-buahan yang berada di bawah mereka. Begitu juga dengan dia. Segeralah ia menunduk ke arah bawah untuk membantu Sang Cahaya memungut buah-buahan yang ada.

Dia terus menatap wajah Sang Cahaya dan saat dia melihatnya memungut sebutir jeruk, mulutnya bergerak sendiri, "Mikan (jeruk), makan saja Mikan (jeruk) itu."

Mendengar ucapannya itu, Sang Cahaya segera mengangkat kepala menatapnya. "Hah?"

"Maksudku, makan saja jeruk yang ada di tanganmu itu."

"Um bukan. Biar kuperjelas —apa yang baru saja kamu katakan?"

"Aku mengatakan, barusan 'Mikan (jeruk), makan saja Mikan (jeruk) itu.', idiot." ujarnya agak kesal, sebab dia tidak mengerti kenapa Sang Cahaya yang ada di depannya ini tidak mengerti dengan apa yang dikatakan olehnya. Namun, kekesalannya tidak bertahan lama, sebab tiba-tiba saja Sang Cahaya kembali membuka tangannya dan memeluknya dengan erat.

"Mikan, kau tadi memanggilku Mikan. Namaku Mikan."

Dia tidak dapat berkata apa-apa. Segenggam pelukan, penuh dengan kehangatan yang begitu ia rindukan. Dia tidak mengerti alasannya mengapa Sang Cahaya kerap memeluk tubuhnya berulang kali? Dan mengapa jatungnya terus berdetak dengan tempo yang tidak seharusnya?

Sang Cahaya tiba-tiba melepaskan pelukannya, namun tangannya masih berada di pinggangnya, "Siapa kamu? Bisa kau beritahukan aku nama mu?"

Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang gadis kecil itu lontarkan. Mata merah darahnya bertemu dengan mata coklat madu itu selama beberapa detik. Kesedihan melandanya walau ia terus memasang wajah dingin tanpa ekspresi.

Siapa dia? Bagaimana dengan namanya? Dia tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dan di dalam hatinya yang terdalam, dia tidak ingin Sang Cahaya mengetahui siapa dirinya. Dia adalah Sang Kegelapan, musuh abadinya, makhluk yang harus gadis itu bunuh kelak, penghancur dunia ini, makhluk gila, tak berperasaan dan haus darah. Lalu, untuk namanya, dia tidak memilikinya. Selama ini orang kerap menyebutnya iblis, setan, pembawa bencana, pembunuh, Kucing Hitam dan Sang Kegelapan.

Dia mengalihkkan wajahnya untuk menatap buah Natsume (jujube) yang berada di tangannya dan berkata dengan suara pelan, seperti berbisik, "Namaku… Namaku…. Tidak ada… Aku tidak mempunyai nama… Namaku…"

Dia tidak mendapatkan balasan apapun dari Sang Cahaya. Karena hal itulah dia mengangkat kepalanya untuk menatap gadis tersebut dan yang dilihatnya adalah sepasang mata coklat madu yang tengah menatap buah Natsume (jujube) di tangannya dengan penuh tanda tanya.

"Natsume (Jujube)." Jawabnya singkat, menjelaskan apa nama buah yang berada di telapak tangannya.

Namun yang membuatnya terkejut, adalah Sang Cahaya kembali tersenyum dan mengangkat wajah untuk menatapnya, "Natsume? Jadi namamu Natsume, ya?"

"Buah ini." jelasnya sembari menunjuk buah natsume (jujube) yang berwarna merah itu. Dia mengerti sekarang, Sang Cahaya pasti tidak mendengar ucapannya yang berkata dia tidak punya nama. Namun, kenapa Sang Cahaya ini begitu bodoh, polos dan tidak tahu apa-apa? Bukankah di buku ramalan tersebut, tertulis dengan jelas bahwa Sang Cahaya sudah sepatutnya mengetahui apa yang seharusnya ia ketahui?

"Maksudmu, namamu sama dengan buah ini ya,? Mirip sekali, warna matamu dan warna buah ini mirip sekali, Natsume." tawa Sang Cahaya.

Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan hanya menatap Sang Cahaya dengan kedua mata merah darahnya. Dia merasa, tidak perlu untuk menjelaskan apa maksud ucapannya tadi, sebab gadis di depannya ini pasti tidak akan mengerti, dan ia hanya membuang waktunya saja.

Tiba-tiba, Sang Cahaya mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah Sang Kegelapan yang penuh luka. Sinar hangat memancar dari kedua belah tangannya untuk menyembuhkan lukannya.

Dia tertegun.

Sihir tanpa lingkaran sihir dan mantra sihir? Tidak salah lagi, gadis kecil di depannya benar-benar merupakan Sang Cahaya. Namun, yang paling mengejutkannya adalah Sang Cahaya tiba-tiba mengangkat jari telunjuknya dan mengarahkannya kepadanya lalu dirinya sendiri sambil tersenyum.

"Natsume… Mikan…"

Kedua belah matanya terbelalak, mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sang Cahaya walau ekspresi wajahnya tetap tidak mempedulikan apapun, Sang Cahaya kembali mengangkat tangan, sekadar hanya untuk memeluk laki-laki ini dan kerap mengucapkan seuntai nama.

"Natsume... Natsume…. Natsume…"

Kehangatan tubuh Sang Cahaya, bau harum bunga ceri, suara lembut yang terus menerus mengucapkan sebuah nama, dan nama yang ia percayai sebagai nama dari anak lelaki ini, semua itu membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.

Natsume.

Ada yang memanggilnya dengan sebuah nama yang sangat sederhana dan juga lazim. Gadis beriris coklat madu itu tidak memanggilnya dengan sebutan setan, iblis, pembunuh, Pembawa Kematian, Sang Kegelapan ataupun Kucing Hitam.

Gadis itu memanggilnya dengan Natsume.

Natsume.

Nama itu terus tergiang di dalam kepalanya. Nama itu terdengar begitu lazim, seolah nama itu memang namanya.

Tidak. Natsume memang namanya. Bukan setan, iblis, Sang Kegelapan ataupun Kucing Hitam.

Dia adalah Natsume.

Dengan perlahan dia mengangkat tangannya sembari menatap Sang Cahaya yang sedang memeluknya. Gadis kecil di depannya memang Sang Cahaya, namun namanya bukan Sang Cahaya, namanya adalah…

"Mikan…" panggilnya pelan sambil memeluk Mikan.

Hangat.

Hatinya terasa sangat ringan, tenang, dan juga damai. Ini adalah suatu perasaan yang tidak pernah ia peroleh. Perasaan tenang yang begitu ia dambakan. Dia tahu ini salah, dia tidak seharusnya memeluk Mikan, Sang Cahaya. Namun, dia tidak bisa menghentikan perbuatan yang tengah dilakukan oleh dirinya sendiri. Ia semakin mempererat pelukannya, seakan takut kehangatan ini akan memudar, dan membenamkan kepalanya pada rambut Mikan, menghirup tubuhnya yang menenangkan, mematrinya dengan jelas di dalam otaknya.

"Natsume... Natsume... Nat...su...me…" panggil Mikan untuk yang kesekian kalinya, dan semakin terdengar samar hingga kemudian tidak terdengar lagi. Kedua tangan Mikan yang tadi memeluknya tubuhnya, terlepas dan jatuh ke bawah sedangkan kepalanya tersandar pada bahunya.

Dengan pelan dia melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuh Mikan hingga dia bisa melihat wajahnya. Sebuah senyum lebar penuh kebahagiaan terlukis di wajahnya dan kedua mata coklat madu besar itu telah tertutup rapat.

Tertidur. Mikan tertidur dengan begitu tenang di dalam pelukannya.

Dia kembali memeluk badan Mikan dan membenamkan kepala Mikan pada dadanya. Kedua tangannya memeluk pinggang Mikan dengan erat. Dengan pelan dia membaringkan punggungnya pada rumput di bawahnya.

Satu malam.

Cukup satu malam saja, walau ini salah, dia ingin merasakan perasan ini lebih lama lagi. Esok, saat dia membuka matanya lagi, dia akan segera meninggalkan Mikan dan tidak akan pernah melihatnya lagi.

Ya. Itulah keputusan yang dibuatnya jauh di dalam hati sembari menutup mata, karena itu biarkanlah dia memeluknya dan merasakan kehangatan ini untuk lebih lama.

Untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia tidak merasa terkucilkan maupun sendiri. Dia tidak sendiri lagi malam ini. Dia merasa hangat, sangat, sangat hangat. Namun yang terpenting, dia juga tahu, tidak akan ada mimpi buruk lagi. Malam ini dia akan segera terbebas dari mimpi buruk yang kerap membelenggunya.

Karena ada Cahaya di sisinya.

.OXOXO.

"Natsume, kau tidak mau makan? Tidak lapar ya?" tanya Mikan pelan sambil menatapnya.

Dia tidak mengatakan sepatah katapun. Dia tetap diam dengan wajah tanpa ekspresi, menatap Mikan.

Pagi hari datang begitu cepat. Matahari telah terbit di ufuk timur, dan dia tidak mengerti alasannya mengapa dia masih terduduk di samping Mikan, melihat gadis tersebut menikmati buah-buahan yang dicarinya semalam. Dia seharusnya meninggalkan Mikan sekarang juga, namun kenapa dia tidak bisa?

Dirinya sudah terbangun pada pagi-pagi buta saat Mikan masih tertidur. Terjaga dengan perasaan hangat dan damai untuk pertama kalinya. Dia seharusnya segera meninggalkan Mikan saat itu, tapi tangannya tidak mau melepaskan pinggang Mikan, dan matanya juga tidak bisa lepas dari wajah cantiknya yang sedang tertidur sambil tersenyum. Dia terus menatap, dan menatap wajahnya hingga akhirnya Mikan membuka kedua kelopak matanya, tersenyum dengan lebar dan memanggilnya dengan suara yang lembut.

"Natsume, apakah tidak ada makanan lagi? Aku masih lapar..." ujar Mikan secara tiba-tiba, menyadarkannya dari lamunanannya yang tengah berkecamuk di alam imajinasi.

"Apakah buah-buahan itu masih tidak cukup untuk mengenyangkan perutmu?" tanya Natsume dengan wajah tanpa ekspresi.

"Tentu saja tidak cukup, aku masih sangat lapar. Aku tidak makan apa-apa sejak semalam, aku tertidur sebelum makan, karena itu rasa lapar ini jadi dua kali lipat." sanggah Mikan cepat.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak makan saja sebelum tidur, bodoh?" tanyanya lagi, sedikit kesal, mengapa gadis di depannya ini bodoh sekali, mau-mau saja dia tidur dalam kondisi lapar seperti itu.

"Karena kau memelukku. Aku merasa sangat hangat dan nyaman hingga jadi mengantuk dan tertidur. Tubuhmu sangat hangat, Natsume. Aku suka sekali dengan kehangatan tubuhmu itu." jelas Mikan polos sambil tersenyum lebar.

Dia tidak tahu harus membalas apa ketika mendengar penjelasan dan melihat senyum Mikan. Jantungnya kembali berdetak cepat. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

Mikan merasa nyaman dalam pelukannya? Gadis cantik tersebut merasakan kehangatan yang datang dari dirinya. Terlebih lagi, yang terpenting, dia menyukai kehangatan itu? Hatinya terasa sangat nyaman dan ingin sekali rasanya dia berteriak memberitahu pada semua yang ada di dunia, bahwa Mikan menyukai kehangatannya.

Dia merasa sangat…. Sangat bahagia.

Matanya terbelalak kembali saat dia sadar. Dia bahagia. Ini adalah pertama kalinya dia merasa bahagia. Suatu perasaan yang sangat asing baginya, namun sangat menyenangkan, berbeda sekali dengan perasaan yang selama ini kerap ia peroleh.

Mikan tiba-tiba tertawa pelan sambil mengangkat sebutir buah stroberi di tangannya dan memasukkan buah beri tersebut ke dalam mulut anak laki-laki di depannya.

"Makanlah, Natsume."

Sambil menatap Mikan, dia membuka mulutnya dengan perlahan, memberi kesempatan pada buah stroberi kecil yang disodorkan Mikan agar masuk ke dalam mulutnya.

Manis.

Sebuah rasa yang begitu ia senangi. Manis sekali. Makanan yang memiliki cita rasa kental, begitu manis. Berbeda dengan apa yang selama ini kerap ia jamah.

Dengan senyum yang masih terlukis di wajahnya, Mikan kembali mengangkat tangan untuk memeluknya, "Bagaimana? Enak, kan, Natsume?"

Yang ditanya tidak menjawab pertanyaannya lagi, dan dengan perlahan dia juga mengangkat tangannya untuk memeluk Mikan.

Hangat, dia kembali merasa hangat, jantungnya berdetak cepat, kebahagiaan memenuhi hatinya lagi.

Mikan tertawa, "Ayo, kita cari lagi aneka makanan yang lain dan makan bersama-sama, Natsume."

Dia hanya menganggukkan kepalanya. Ya. Dia akan mencarikan makanan lagi untuknya, setelah itu dia akan meninggalkannya, dan tidak pernah melihatnya lagi. Itulah keputusan yang telah ia buat.

Karena itulah dia tidak mengerti, mengapa setelah dia mencarikan gadis tersebut makanan, dia tetap tidak bisa meninggalkannya? Kenapa dia sekarang hanya terduduk sembari menyandarkan punggungnya pada sebatang pohon sakura di samping danau, tempat Sang Cahaya dilahirkan setelah dia selesai makan dan membersihkan tubuhnya? Kenapa dia duduk di tempat itu, menatapnya yang sedang bermain Mikan sambil tertawa?

Mata merah darahnya tidak bisa meninggalkan sosoknya yang sedang bermain air. Rambutnya yang terbang dibawa angin, suara tawanya yang bagaikan denting lonceng dan senyum di wajahnya yang luar biasa cantik. Napasnya bagaikan tertahan, dia begitu memesonakan, begitu cantik dan suci, berbeda sekali dengan dirinya.

Tiba-tiba saja. Mikan membalikkan wajah kepadanya dan berjalan dengan pelan ke arahnya. Dia langsung menjatuhkan diri di sampingnya dan menyandarkan badan pada batang pohon sakura itu juga.

Anak laki-laki itu tidak mengatakan apapun, dia hanya bisa berusaha untuk mengendalikan detak jantungnya yang terus berdebar kencang.

"Aku lelah, Natsume..." keluh Mikan pelan sambil memiringkan kepalanya hingga tersandar pada pundak anak laki-laki itu. "Kalau aku sudah bangun, kita cari makanan sama-sama lagi… ya…"

Dia tahu Mikan sudah tertidur. Dengan pelan dia menolehkan wajahnya, menatap Mikan. Dia tidak bisa bergerak, dia takut dia akan membangunkan Mikan jika dia bergerak sekarang sebab dia tidak ingin menganggu tidur sang gadis yang damai itu.

Angin sepoi-sepoi yang bertiup membuatnya dapat mencium bau tubuh Mikan yang harum. Suasana sekeliling mereka yang tenang serta damai, dan juga kehangatan tubuh Mikan yang ada berada di sisinya mengundang kantuk.

Dengan perlahan dia memiringkan kepalanya hingga menyentuh kepala Mikan dan menutup matanya.

Tidur. Dia ingin tidur sekarang, karena itu dia kembali mengubah keputusan yang telah dibuatnya.

Ini bukanlah waktu yang tepat untuk meninggalkan Mikan. Di lain kesempatan saja, setelah ia terbangun dari istirahat malamnya.

.OXOXO.

Satu bulan telah berlalu sejak Mikan terlahirkan di dunia ini, dan satu bulan ini pula dia telah mencoba untuk meninggalkannya meskipun tidak pernah berhasil. Setiap kali dia membuat keputusan untuk meninggalkannya, dia pasti akan menunda dan menundanya, hingga akhirnya ia tidak tahu lagi, kapan dia akan meninggalkan gadis itu.

Dalam satu bulan tersebut, diapun tahu siapa dan bagaimana sifat Mikan, Sang Cahaya itu. Mikan sangat bodoh, polos dan tidak tahu apa-apa. Sekali lihat saja, dirinya tahu bahwa gadis cantik tersebut tidak akan mungkin bisa hidup sendirian di dalam hutan ini. Dia tidak bisa mencari makanan sendiri, dia tidak bisa membedakan mana yang bisa dimakan dengan yang tidak bisa dimakan. Dia juga sangat ceroboh, dia sering jatuh karena tersandung batu. Dia juga sangat cerewet, mulutnya tidak pernah berhenti berbicara dan apa yang dilontarkannya selalu merupakan sesuatu yang tidak penting dan juga bodoh.

Melihat Mikan, dia jadi ragu sekali, apakah Mikan benar-benar merupakan Sang Cahaya yang diramalkan mampu membunuhnya? Mikan sama sekali tidak seperti yang tertulis dalam buku ramalan tersebut. Dia tidak kuat, melainkan dia sangat lemah. Ia bahkan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir apapun kecuali sihir penyembuh.

Lalu, Mikan juga suka tertawa, tersenyum, dan memeluknya. Jujur, dia menyukai itu semua, walau dia tidak akan pernah mau untuk mengakuinya. Merasakan kehangatan tubuhnya, mencium aromanya, mendengar suara tawanya dan juga melihat senyum di wajahnya, selalu membuat hati dirinya terasa sangat hangat dan juga bahagia.

Dia bisa menutup matanya dan tertidur dengan tenang semenjak ia dipertemukan dengan Sang Cahaya. Sebab dia tahu, tidak akan ada mimpi buruk lagi yang menghantuinya. Keberadaan Mikan disisinya setiap malam telah mengusir semua mimpi buruknya selama ini.

Dia sebenarnya tidak tahu di mana mereka berada, namun dia tahu, hutan ini berbahaya dan penuh dengan makhluk sihir yang sangat kuat. Dia tahu para makhluk sihir di hutan ini sudah menyadari keberadaan dirinya dan juga keberadaan dan Mikan.

Mikan memiliki aura yang ganjil. Meskipun dia merupakan makhluk sihir, auranya sangat berbeda dengan aura para makhluk sihir lainnya. Aura yang dipancarkannya sangat hangat dan juga lembut. Aura dirinya bagaikan matahari musim semi yang hangat, dan dia yakin sekali, aura tidak akan mampu ia temukan di dalam diri mahluk lainnya.

Penyebab para makhluk sihir itu tidak berani mendekati mereka, hanyalah satu, yaitu keberadaannya. Para makhluk sihir di hutan ini tentulah turut bisa merasakan auranya dan tahu betapa berbahayanya dia. Dia terus saja mengeluarkan aura kegilaannya, sebab setiap kali dia membayangkan para makhluk sihir itu mendekati Mikan, menyentuhnya dan yang paling buruk melukainya, dia akan sangat marah. Dia tidak mengijinkan siapapun untuk melukai gadis tersebut.

Dia tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa ia bisa berperilaku seperti itu? Tidak peduli bagaimana dia berusaha mencari jawabannya, ia pasti tidak akan pernah bisa mendapatkannya. Dia merasa tidak berdaya, dia tidak bisa menghentikan dirinya yang ingin selalu berada disisi Mikan.

Waktu yang ia lewati selama satu bulan di dalam hutan ini adalah waktu yang tidak pernah ia pikirkan dapat dirasakannya dalam hidupnya. Tidak ada perasaan sakit, takut, sedih, dingin dan kesepian yang dirasakan olehnya. Sesuatu yang kerap ia terima dan rasakan adalah ketenangan, kedamaian, kehangatan dan kebahagiaan.

"AHHH!" teriak Mikan secara tiba-tiba hingga membuatnya yang sedang duduk di bawah pohon sakurai tersadar dari lamunannya. Kedua mata merah darahnya langsung menatap Mikan dengan penuh perasaan terkejut. Dia tidak tahu dengan apa yang tengah terjadi. Mengapa Mikan tiba-tiba berteriak seperti itu? Namun, saat dia melihat Mikan yang sedang terselungkup di bawah tanah, dia langsung mengerti bahwa Mikan terjatuh lagi.

Dengan pelan dia bangkit dari posisinya dan berjalan mendekati Mikan, "Ada apa lagi, idiot?"

Mikan mengangkat wajah untuk menatapnya dengan penuh amarah, "Jangan panggil aku idiot! Aku punya nama, dan namaku adalah Mikan!"

Dia hanya menghela napas melihat sikap Mikan meski wajahnya tetap stoic. Namun saat dia melihat adanya darah merah yang mengalir di lutut Mikan yang lecet, dia langsung mengepalkan tangannya.

Darah. Darah merah. Mikan terluka.

Mikan benar-benar ceroboh, sepertinya tidak ada hari tanpa dia tidak terjatuh karena terpeleset atau tersandung batu. Perasaan bersalah, kesal, dan benci pada dirinya sendiri tiba-tiba muncul dalam hatinya. Apa yang telah dia lakukan? Seharusnya, dia tidak melamun dan memalingkan penglihatannya dari menjaga Mikan. Seharusnya, dia bisa melindungi Mikan sebelum gadis itu terjatuh. Dia seharusnya bisa mencegah Mikan dari terluka.

Mikan terlihat peduli dengan lukanya. Dia bangkit dan duduk di atas tanah sembari menghembuskan napas lembut ke lututnya yang terluka.

Tiba-tiba saja anak laki-laki bermata merah darah itu membungkukkan badannya dan membopong Mikan yang sedang terduduk di atas tanah dengan lembut. Dia tidak mengalami sedikitpun kesulitan untuk membopongnya. Berat tubuh Mikan tidaklah berat, melainkan sangat ringan.

"Na-Natsume..." panggil Mikan pelan dengan penuh keterkejutan. Gadis itu sangat terkejut, sebab tidak pernah terlintas sedikitpun di dalam pikirannya bahwa anak lelaki ini akan membopongnya. Kedua pipinya kontan bersemu merah.

"Jangan bergerak, dan lingkarkan tanganmu pada leherku kalau kau tidak mau terjatuh, idiot!" perintahnya kasar, tetap dengan wajah tanpa ekspresi. Kedua mata merah darahnya menatap lurus wajah Mikan yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.

Wajah Mikan semakin memerah karena menahan malu. Tanpa berucap sepatah kata apapun lagi, dia segera menganggukkan kepala dan melingkarkan tangan pada leher anak laki-laki itu. Menuruti perintahnya.

Anak laki-laki itu tidak mengatakan sepatah katapun. Ia masih menatap wajah Mikan yang merah padam dan membuat gadis ini terlihat sangat manis, serta lucu dalam mata merah darahnya. Dia kemudian melangkahkan kakinya kembali ke bawah pohon sakura tempatnya ia duduk tadi dengan perlahan, tidak ingin menyakiti Mikan.

Dia mampu merasakan dan mendengar dengan jelas detak jantung Mikan yang sangat dia juga tahu, detak jantungnya juga tidak kalah cepatnya dengan jantung Mikan dan dia hanya bisa berharap Mikan tidak akan menyadarinya.

Saat dia tiba di bawah pohon sakura itu, dia langsung menurunkan Mikan dan membiarkannya terduduk di atas tanah. Dengan pelan dia duduk di depan Mikan dan menarik kakinya yang terluka.

Dia memeriksa luka Mikan dengan saksama. Dia hanya bisa bernapas lega karena luka itu sama sekali tidak besar, namun saat dia membayangkan adanya rasa sakit yang menyerang Mikan akibat luka itu, dia merasa bersalah. Apalagi, kenyataan bahwa dia tidak bisa menggunakan sihir penyembuh untuk menyembuhkan luka kecil seperti itu.

"Sakitkah?" tanyanya pelan sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Mikan. Mikan hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Tidak sakit, Natsume. Tidak apa-apa, kok. Aku bisa menyembuhkan luka ini sendiri." Dengan cepat Mikan mengangkat kedua tangan kecilnya ke arah lututnya yang terluka, dan secercah cahaya hangat keluar dari tangannya, menyembuhkan luka tersebut.

"Lihat! Sudah sembuh, kan?" senyum Mikan sambil menatapnya.

"Hn." balasnya cuek walau di dalam hatinya ia merasa sangat bersyukur. Dia kemudian menyandarkan badannya pada sebatang pohon sakura yang berada di belakangnya, sedangkan kedua tangannya bergerak untuk memeluk Mikan dan memaksanya membenamkan wajahnya pada dadanya.

"Natsume? Ada apa?" tanya Mikan pelan dari dalam pelukannya dengan penuh ketidaktahuan.

Dia tidak menjawab pertanyaannya, namun ia semakin mempererat pelukannya. Dia tidak tahu alasan mengapa ia selalu merasa protektif terhadap Mikan; dia tidak ingin Mikan terluka. Dia ingin Mikan selalu tersenyum dan tertawa.

"Natsume?" panggil Mikan lagi karena tidak mendapat respon dari yang ditanyanya.

Dia tetap tidak menjawab panggilan Mikan. Dengan pelan dia melepaskan pelukannya dan memutar badan Mikan hingga punggung Mikan menghadap dadanya. Kedua tangannya bergerak ke pinggang kecil Mikan dan memaksa gadis kecil itu untuk menyandarkan punggungnya pada dadanya.

"Tidurlah." perintahnya pelan.

Mikan sesungguhnya tidak mengerti kenapa Natsume bersikap seperti itu padanya, wajahnya dipenuhi dengan kebingungan, namun dia tidak mengatakan sepatah katapun, dia menganggukkan kepalanya dengan perlahan.

Seakan sudah terbiasa dengan kehangatan dan aroma tubuhnya, badan Mikan mulai rileks, sambil menutup mata dan tertawa kecil dia membiarkan kehangatan dan bau tubuh anak laki-laki yang memeluknya menyelimutinya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanyanya pelan tanpa menatap Mikan. Mikan menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil tersenyum lebar. "Aku tidak tahu, Natsume. Aku tidak tahu kenapa aku tertawa, hanya saja aku merasa sangat gembira."

"Hn." balas Natsume cuek dan mempererat pelukannya, meskipun dalam hatinya dia sesungguhnya merasa sangat bahagia. Hanya dengan satu kalimat yang begitu sederhana saja dari bibir munggil Mikan, dia sudah merasa cukup dan terlengkapi.

Suasana sekeliling mereka yang hangat dan juga tenang, ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang bertiup membawa turun kelopak-kelopak bunga sakura di atas mereka. Dengan pelan Mikan menutup matanya dan tertidur dengan tenang sambil tersenyum.

Dia hanya menatap Mikan yang tertidur dalam pelukannya dengan perasaan aman dan tenang. Dia kemudian mengangkat tangan kanannya, menyentuh pipi Mikan.

Hangat.

Suhu tubuh Mikan benar-benar sangat hangat. Gadis ini benar-benar berbeda dengan makhluk lainnya yang pernah ia lihat ataupun dijumpainya selama hidupnya. Mikan begitu cantik, suci, dan tidak ternoda.

Dia masih ingat dengan jelas, apa yang dilihatnya beberapa hari yang lalu. Saat dia kembali dari mencari makanan, dia melihat Mikan yang terduduk di bawah pohon ini tertawa sembari bermain dengan beberapa binatang kecil di hutan ini.

Mikan disukai, Mikan dicintai semua hewan, dia yakin sekali, begitu juga dengan manusia. Makhluk hidup apapun di dunia ini pasti tetap akan mencintainya jika mengenalnya meskipun mereka tahu dia adalah makhluk sihir, sebab dia memang dilahirkan untuk dicintai.

Dia mungkin seharusnya merasa marah ataupun membenci Mikan. Mereka makhluk yang sama, sejenis, tetapi mengapa perlakuan yang mereka terima begitu berbeda. Namun, dia tidak bisa membencinya, dan tidak pernah sedetikpun terbesit di dalam hati untuk membencinya atau perasaan lain sejenis itu sejak pertama kali dia melihatnya. Melihat Mikan yang dicintai oleh semuanya, dia hanya bisa merasa satu hal; bersyukur. Merasa lega karena Mikan tidak akan pernah mengalami nasib buruk seperti dirinya di masa lampau.

Dia telah membuat keputusan sekarang. Besok, dia akan membawa Mikan keluar dari hutan ini. Dia akan membawanya dan meninggalkannya di kota ataupun desa terdekat. Itu adalah keputusan terbaik yang bisa dia buat sekarang.

Dia harus memisahkan dirinya dari Mikan. Mereka tidak boleh bersama. Mikan bisa bersikap seperti ini padanya karena dia tidak tahu siapa mereka, jika dia sudah tahu siapa mereka sebenarnya dan apa yang telah dia lakukan, dia pasti akan membencinya dan menjauhinya. Dia tidak mau melihat ekspresi wajah Mikan yang menatapnya dengan penuh kebencian, amarah dan rasa enggan karena jijik. Sebelum itu terjadi, lebih baik dia berpisah dengannya dan tidak akan pernah kembali di hadapannya lagi.

Dia tidak perlu takut ataupun khawatir jika Mikan akan menderita, kelaparan maupun kesepian, sebab Mikan pasti akan diterima oleh manusia dengan hangat. Dia pasti akan dicintai dan disukai. Sedangkan untuk dirinya, dia pasti bisa melewati harinya dengan baik, walau dia juga tidak tahu apa perasaan sedih, takut, kesepian, derita akan kembali menyelimutinya lagi atau tidak. Namun, dia tahu keputusannya itu adalah keputsan terbaik yang ada.

Ya. Itulah yang terbaik, untuk Mikan dan untuk dirinya sendiri.

Mencoba untuk menghindari takdir mereka berdua.

Deangan pelan dia menutup matanya untuk tertidur. Dia tidak akan merubah keputusannya untuk yang kesekian kalinya. Besok pagi saat dia membuka matanya, dia akan langsung menjalankan keputusannya ini, keputusannya yang telah ia rencanakan masak-masak.

.OXOXO.

Tidurnya yang tenang terganggu ketika dia merasakan adanya aura dari para makhluk sihir di dalam hutan ini yang bergerak dengan kecepatan tinggi ke tempat mereka berdua berada. Jumlah para makhluk sihir itu sangat banyak, dan dia langsung membuka kedua bola mata merah darahnya. Apa yang mereka inginkan? Mengusirnya dari hutan ini? Atau membunuhnya? Namun saat dia menyadari kehangatan tubuh Mikan yang berada dalam pelukannya. Di dalam hatinya, kepanikan tiba-tiba muncul walau wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apapun —kosong dan juga hampa.

Mikan.

Para makhluk sihir itu pasti mengincar Mikan jika melihatnya. Auranya yang bagaikan matahari pasti akan membuat para makhluk sihir itu menginginkannya. Amarah memenuhi hatinya saat dia membayangkan para makhluk sihir itu mengambil alih Mikan dari dirinya. Membayangkan mereka akan menangkap Mikan, melukainya, menyakitinya, dia tidak bisa membiarkan hal semacam itu terjadi.

Dia kemudian memindahkan Mikan yang berada di dalam pelukannya ke samping tanpa membangunkannya. Saat dia menatap wajah Mikan yang tersenyum dalam tidurnya, dengan perlahan dia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Mikan. "Tidurlah yang tenang, Mikan. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu…"

Selesai mengatakan hal demikian, dia segera bangkit dan berjalan menjauh. Hanya dua langkah dia melangkah dari Mikan, dia membalikkan badannya menatap dan sosok Mikan yang tengah tertidur untuk sejenak.

Mikan tidak akan ia perkenankan untuk melihat para makhluk sihir itu, dia lebih baik tidak tahu apa-apa dan yang lebih krusial, para makhluk sihir itu tidak boleh datang kemari. Dia tidak mau Mikan ketakutan, dia harus menghabisi para makhluk sihir itu secepatnya.

Ya, dia tidak akan membiarkan para makhluk sihir itu mendekat kemari, mendekati Mikan. Tanpa membuang waktu lagi, dia membalikkan badannya dan berlari mendekati para makhluk sihir itu.

Dia bisa merasakan kumpulan makhluk sihir itu berhenti bergerak melalui aura mereka. Dia tahu, para makhluk sihir itu pasti telah menyadari dirinya yang bergerak mendekati mereka dan memutuskan untuk menunggunya.

Laba-laba raksasa, ular raksasa berkepala tiga, serigala sihir, burung raksasa berkepala elang dengan badan berbentuk singa dan makhluk sihir lainnyalah yang dilihatnya saat dia tiba di tempat itu. Jumlah mereka sangat banyak dan mereka semua telah menunggu kedatangannya dengan penuh waspada. Dia bisa merasakan aura membunuh yang ditujukan padannya dari para makhluk sihir di depannya, namun dia juga bisa merasakan ketakutan dari mereka. Dia tidak mengatakan sepatah katapun, tidak ada sedikitpun ketakutan terpancar di wajahnya saat melihat mereka. Dia sudah terbiasa melawan para makhluk sihir seperti ini selama dia hidup di kerajaan Theoden. Makhluk sihir semacam ini sama sekali bukanlah ancaman yang berarti baginya.

Tidak ada seekorpun makhluk sihir yang berani mendekatinya, namun dia tahu, itu semua hanya tinggal mengenai waktu saja. Dengan jumlah mereka yang begitu banyak, mereka pasti akan menyerangnya. Semua makhluk hidup di dunia ini sama saja, tidak peduli itu adalah manusia, binatang, maupun makhluk sihir, mereka tidak akan berani jika bertarung secara sendirian. Mereka akan lebih berani jika menyerang secara berkelompok. Namun, dia juga tahu, di dalam sebuah kelompok pasti ada ketua, sebuah kelompok yang besar pasti akan langsung kehilangan komando dan tercerai berai jika ketua mereka menghilang atau lebih tepatnya; mati.

Mata merah darahnya bergerak, mengamati para makhluk sihir itu untuk mencari ketua perkumpulan mereka. Dia tahu, bagi makhluk sihir yang memiliki kekuatan penghancur yang sangat besar, ketuanya pasti merupakan makhluk sihir terkuat. Matanya kemudian menangkap sosok seekor burung yang hinggap di atas pohon di belakang para makhluk sihir itu. Melihat burung tersebut, dia langsung tahu, burung itulah ketuanya.

Burung itu berukuran sekitar setengah meter dan sangat cantik, berbulu merah keemasan dengan ekor yang sangat indah. Ukurannya mungkin memang sangat kecil dibandingkan makhluk sihir lainnya, namun dia bisa merasakan dengan jelas betapa kuatnya burung itu. Ah, yang paling penting, dia juga tahu jenis makhluk sihir apa burung itu meski ini adalah untuk pertama kalinya dia melihat burung semacam ini. Burung itu adalah makhluk sihir yang sangat kuno dalam legenda, seekor burung abadi.

Burung Phoenix.

Mata emas sang Burung Phoenix terus menatapnya, dan dengan suara yang sangat tenang burung itu berbicara dengannya,"Tinggalkan hutan ini, makhluk berbahaya."

Dia hanya diam mendengar suara Phoenix itu. Suaranya memang terdengar sangat tenang dan lembut, tapi dia bisa merasakan adanya kekuatan hebat dalam suara itu.

Tinggalkan hutan ini? Ya, dia memang bermaksud untuk meninggalkan hutan ini besok pagi.

"Dan tinggalkanlah dia, tinggalkan makhluk yang selalu kau jaga itu." lanjut sang Phoenix.

Mata merah darahnya langsung terbelalak karena terkejut saat mendengar apa yang dikatakan makhluk sihir itu. Dia langsung mengepalkan tangannya. Ternyata benar, tujuan utama para makhluk sihir ini adalah untuk memiliki Mikan.

Mereka menginginkan Mikan.

"Aku tahu siapa kau sebenarnya. Kau adalah makhluk berbahaya dan aku juga tahu siapa makhuk yang selalu kau jaga itu. Tinggalkan dia, tidak seharusnya kalian bersama. Kau sama sekali tidak pantas untuk berada di sisinya."

Amarah memenuhi hatinya. Tidak pantas berada di samping Mikan? Apa maksud ucapannya? Beraninya mahluk sihir tersebut berkata demikian!

Para makhluk sihir dan juga Phoenix itu bisa merasakan amarahnya dengan jelas. Mereka tetap tidak bergerak, namun kewaspasdaan mereka semua semakin meningkat.

"Tutup mulut sialanmu itu." perintahnya dingin, dan mata merah darahnya kini bersinar penuh dengan amarah. Dia tidak bisa berpikir dengan jelas sekarang. Keputusannya yang ingin membawa Mikan keluar dari hutan ini dan meninggalkannya di kota atau desa terdekat langsung menghilang dari dalam benaknya.

"Sepertinya kau tidak akan melepaskannya, karena itu kami terpaksa akan merebutnya darimu." ujar Phoenix itu lagi dengan tenang sambil membuka lebar kedua sayapnya.

Ucapan dan sikap Phoenix tersebut bagaikan suara dentingan lonceng dalam sebuah pertandingan, sebab semua makhluk sihir yang ada di sana langsung bergerak maju untuk menyerangnya.

"JANGAN PERNAH MENCOBA MEREBUT MIKAN DARIKU!" teriaknya penuh amarah dan bergerak maju untuk melawan para makhluk sihir itu. Tangannya langsung membesar, termasuk pula dengan kukunya yang memanjang, hingga akhirnya berubah menjadi seperti cakar binatang buas. Dia tidak mempedulikan apapun, meski hanya seorang diri. Dia tidak akan mungkin mengalah. Tanpa ragu sedikitpun, dia mengangkat tangannya untuk menyerang para makhluk sihir di depannya. Dia menggunakan sihirnya, tidak peduli itu sihir berelemen api, air, angin, tanah, petir, namun dia tidak mau untuk menggunakan elemen kegelapan.

Darah merah mengalir ke mana-mana membasahi tanah tempatnya berdiri. Dia memang kembali membantai para makhluk sihir dan terluka lagi, namun pembantaiannya kali ini berbeda dengan pembantaiannya selama ini. Dia tidak merobek dan mencabut para makhluk sihir itu. Dia benar-benar sadar dan tahu dengan apa yang sedang dia lakukan. Dia mempertahankan kesadarannya, dan tidak mau lagi menyerahkan dirinya pada kegelapan untuk yang kesekian kalinya.

Tidak ada tawa sedikitpun di wajahnya. Tidak ada kegembiraan di dalam hatinya. Hanyalah amarah yang terlukis di wajahnya kepada para makhluk sihir yang ingin merebut Mikan dari sisinya. Yang ada di dalam hatinya juga hanya ada satu, yaitu untuk melindungi Mikan. Dia tidak akan mempersilakan siapapun untuk merebut gadisnya.

Burung Phoenix itu hanya menatapnya membantai para makhluk sihir di depannya dengan tenang. Makhluk sihir yang dilawannya mulai kewalahan. Mereka tidak bisa menandingi kelebihan yang dimilikinya. Kekuatan, kecepatan dan sihirnya sangat luar biasa, kekuatannya berada jauh di atas mereka. Dia masih sangat kecil, tetapi kekuatannya sudah menakjubkan seperti ini. Mereka tidak berani membayangkan betapa kuatnya dia jika sudah besar nanti.

Tetap menyerang. Dia bergerak maju untuk mendekati Phoenix itu. Dia harus segera membunuh burung tersebut. Jika burung itu mati, maka seluruh makhluk sihir ini pasti akan tercerai-berai karena kehilangan pemimpin. Mereka tidak akan berani untuk menghadapinya, dan tentunya tidak akan mencoba merebut Mikan untuk yang kedua kalinya. Dia tidak ingin Mikan terpisah darinya. Dia ingin Mikan selalu berada di sampingnya. Persetan dengan semuanya.

Dia hanya tidak ingin kehilangan Mikan semata.

Iris merah darahnya langsung terbelalak saat dia sadar dengan apa yang tengah ia pikirkan. Gerakkannya langsung terhenti. Semua makhluk sihir yang melihatnya berangsur-angsur berhenti menyerang. Mereka semua menatapnya dengan penuh kekalutan, meskipun mereka juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka.

Dia mengangkat kedua tangannya, menyusuri rambutnya. Hatinya berdetak tidak karuan. Ia sadar sekarang.

Mengapa dia tidak bisa meninggalkan Mikan? Mengapa dia kerap mengubah keputusannya? Sesungguhnya hal itu semua adalah karena dia tidak akan pernah sanggup untuk meninggalkan Mikan. Sejak pertama kali dia melihat gadis beriris coklat madu tersebut, dia telah tertarik padanya, dan ingin selalu berada di sampingnya.

Tidak ingin kehilangannya.

Mikan bagaikan sebuah magnet yang berbeda kutub dengannya, dan dia tidak bisa menolaknya, karena dia akan selalu tertarik padanya.

Apakah karena Mikan adalah makhluk pertama yang tersenyum padanya? Memberinya panggilan yang rasional, serta memanggilnya dengan lembut? Karena Mikan adalah makhluk pertama yang memeluknya dengan erat dan mengusir semua mimpi buruknya? Karena itukah dia tertarik pada Mikan dan ingin agar selalu berada di sampingnya? Karena itukah?

Ya, pasti karena itu. Tetapi, mengapa hatinya ragu? Kenapa dia merasa bahwa hal itu adalah salah? Kenapa dia merasa itu bukanlah alasan yang sebenarnya bagi dirinya untuk berada di sisi Mikan?

Phoenix itu tiba-tiba membuka sayapnya dengan lebar, sembari mengeluarkan suara pekikan yang sangat keras. Mendengar sahutan yang tidak enak didengar itu, para makhluk sihir yang menjadi santapan penyerangan lezat baginya kembali maju untuk menyerang dirinya.

Meski hatinya masih sangat terkejut dan juga bingung, dia tidak akan membiarkan para makhluk sihir itu untuk menyerangnya. Ia kembali mengangkat tangannya untuk menyerang parah mahluk sihir ini. Namun, mata merah darahnya langsung terbelalak karena terkejut saat melihat sang Phoenix meloncat dan terbang ke atas langit malam. Dia tahu ke mana Phoenix itu akan pergi. Burung itu terbang menuju ke arah danau.

Danau tempat Mikan di lahirkan, ke arah pohon sakura itu, tempat di mana Mikan berada sekarang.

Natsume ingin mengejar Phoenix itu, tetapi dia tidak bisa, disebabkan oleh para makhluk sihir yang dihadapinya tidak membiarkan dirinya untuk mengejar sang Phoenix. Rasa cemas memenuhi hatinya saat dia melihat Phoenix itu terbang menjauh.

Apakah burung itu akan merebut Mikan darinya? Apakah burung itu akan membawa pergi Mikan? Apakah ia tidak akan bisa merasakan kehangatan badan Mikan lagi? Apakah dia tidak akan bisa mendengar suaranya, mencium aromanya, dan melihat wajahnya lagi?

"Natsume."

Wajah Mikan yang sedang tersenyum lebar memanggilnya dengan lembut tiba-tiba terlintas di dalam pikirannya. Dia tahu, dia tidak akan bisa melihatnya Mikan lagi. Dia akan kehilangan senyum itu. Dirinya dengan segera akan kehilangan kehangatan itu.

Dia akan kehilangan Mikan.

"TIDAK! TIDAK!" teriaknya penuh amarah yang bercampur dengan rasa takut. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi, dia tidak akan membiarkan Phoenix itu membawa pergi Mikan darinya. Dia tidak mempedulikan apapun lagi. Tanpa ragu, dia mengangkat tangannya untuk merobek dan mencabik para makhluk sihir yang berada di hadapannya.

Mikan, Mikan, Mikan.

Amarah yang tidak tertahankan memenuhi relung hatinya. Dia tidak akan memaafkan siapapun yang mencoba merebut Mikan darinya, dia akan membunuh siapapun yang mencoba untuk membawa jauh Mikan dari sisinya.

Dengan kondisinya yang sudah seperti ini, beberapa makhluk sihir yang tersisa sama sekali tidak berani untuk mendekatinya lagi. Mereka semua menatapnya dengan penuh ketakutan.

Mati, mereka akan mati jika masih berniat untuk menyerangnya, karena mereka tidak akan mampu untuk membunuhnya, tidak peduli sekuat apa yang mereka lakukan untuk membunuhnya, mereka tidak akan pernah bisa.

Melihat para makhluk sihir itu tidak menyerang atau menghalanginya lagi, dia segera berlari mengejar Phoenix itu secepat yang dia bisa.

Tidak akan dia biarkan! Ia akan membunuh burung Phoenix itu, dan dia akan memberi pelajaran pada semua penghuni hutan ini. Dia tidak akan pernah memaafkan siapapun yang berani mencoba untuk merebut Mikan darinya.

Saat dia hampir berhasil mengejar Phoenix itu, tiba-tiba dua buah bola api yang besar melayang menembus angin ke arahnya. Terimakasih atas gerakan refleksnya yang cepat, dia berhasil menghindari kedua bola api itu dengan meloncat ke samping.

Namun saat dia baru berhasil mendarat, Phoenix tersebut telah berada di hadapannya, tengah membuka kedua cakar kakinya yang tajam untuk menyerang dirinya. Dia segera mengangkat kedua tangannya untuk melindungi dirinya, sebab dia tahu, sudah terlambat, dia tidak akan bisa menghindari serangan burung itu lagi.

Kedua cakar Phoenix tersebut menusuk tangannya dan mencengkeramnya dengan kuat. Darah merah segar mengalir turun dari tangannya dengan mudah tanpa cela, dan Phoenix itu tiba-tiba mengangkat badannya, melemparnya ke belakang hingga menabrak sebatang pohon.

Saat dia membuka matanya dan berusaha untuk berdiri, Phoenix itu telah kembali berada di hadapannya. Burung tersebut tidak mau memberikannya sedikitpun kesempatan baginya untuk menyerang sebab burung itu tahu dengan pasti betapa berbahayanya makhluk yang ada di hadapannya sekarang.

Phoenix itu membuka mulutnya sambil memekik dengan suara yang menyakitkan telinga, dan sebuah lingkaran sihir berwarna merah muncul di hadapannya. Dalam sekejap mata saja, semburan api merah yang luar biasa besar dan kuat tercipta dari dalam mulutnya.

Dia mengangkat tangannya untuk melindungi dirinya sembari menciptakan dinding sihir yang berbahan dasar air, dengan harapan bisa menahan serangan sihir Phoenix itu. Namun, semuanya sia-sia, sebab sihir Phoenix itu terlalu kuat. Dia kembali terhempas ke belakang, menabrak pohon-pohon hingga patah.

Sakit. Seluruh tubuhnya terasa sakit, dan berangsur-angsur dia memuntahkan darah merah dari mulutnya. Dia bisa merasakan beberapa tulang punggungnya patah. Saat dia mengangkat wajahnya untuk menatap sang Phoenix, burung tersebut telah hinggap di depan sebatang ranting pohon di atasnya.

"Tinggalkan dia, makhluk berbahaya. Pergilah dari hutan ini." ujar Phoenix itu pelan.

Tinggalkan dia, tinggalkan dia, tinggalkan dia, tinggalkan Mikan? Pergi dari hutan ini sendirian dan meninggalkan Mikan? Dia tidak mau, dia tidak mau melakukan itu. Tanpa mempedulikan rasa sakit yang menyerang tubuhnya, dia segera bangkit dan berusaha untuk menyerang Phoenix itu.

"JANGAN MENYURUHKU UNTUK MENINGGALKAN MIKAN! JANGAN MEMISAHKAN MIKAN DARIKU!" teriaknya penuh amarah. Dia kembali berusaha untuk menumpahkan amarahnya dalam bentuk serangan-serangan kepada sang Phoenix.

Phoenix itu segera terbang ke atas langit untuk menghindari serangannya. Saat dia hinggap di atas dahan pohon, dia segera mengamatinya dengan saksama. Melihatnya sekarang, Phoenix itu tahu, makhluk berbahaya di depannya ini tidak akan pernah mau melepaskan makhluk yang selalu dijaganya itu walau dia juga tahu betapa salahnya hal ini.

Kondisinya sudah sangat kacau. Bajunya telah terkoyak di sana-sini, darah mengalir dari badannya yang terluka. Mata merahnya memancarkan amarah yang amat sangat serta kepanikan yang diiringi oleh rasa takut, dia terus saja berteriak tanpa mempedulikan apapun.

" JANGAN KAU REBUT DIA DARIKU! JANGAN KAU REBUT DIA DARIKU!"

"Kau tidak memberikanku pilihan, makhluk berbahaya. Aku mungkin tidak bisa membunuhmu, tetapi aku yakin bahwa aku mampu mengalahkanmu." tukas Phoenix itu dengan pelan, dan sejurus kemudian mahluk sihir itu sudah membuka kedua sayapnya dengan lebar. Lingkaran sihir berwarna merah keemasan muncul di kaki Phoenix itu, dan tiba-tiba saja seluruh badannya mengeluarkan api merah keemasan yang sangat besar. Tanpa membuang waktu lagi, Phoenix tersebut langsung terbang ke arah arahnya, menyerangnya.

Dia tidak bisa memikirkan apapun. Dengan hanya melihat Phoenix itu terbang ke arahnya, dia segera mengangkat kedua tangannya dan berlari untuk menghadapi burung besar itu sambil berteriak, "JANGAN REBUT MIKAN DARIKU!"

Tangannya yang seperti cakar dan juga kaki Phoenix itu saling beradu, dia tidak mempedulikan api dari seluruh tubuh burung Phoenix yang kini telah membakar tangannya.

Serangan demi serangan terus dia lancarkan, namun itu semua tidak berguna. Lawannya sekarang adalah Burung Phoenix, seekor burung abadi. Tidak peduli bagaimana dia melukainya, lukanya akan segera menutup dan sembuh. Dia tidak akan pernah bisa untuk melukainya. Sementara bagi dirinya, semua serangan dari Phoenix itu memberikan dampak yang sangat besar baginya. Darah terus mengalir dari lukanya, badannya telah babak belur, namun dia seakan telah kebal dengan rasa sakit. Dia terus menyerang burung tersebut tanpa henti.

Phoenix tersebut kontan terbang ke langit dengan kecepatan yang sangat luar biasa, dan dia tiba-tiba menukik ke bawah sambil membuka kedua cakar kakinya. Dirinya berusaha untuk menghindar, tapi dengan kondisi tubuhnya yang sudah lemah, dia tidak berhasil untuk menghindar lagi. Cakar kaki kanan Phoenix itu berhasil melukainya, menusuk jantungnya.

"AAAHHH!" teriaknya berusaha menahan rasa sakit yang menyerangnya.

Tanpa membuang kesempatan yang ada, Phoenix itu semakin memperdalam cakarnya. Darah mengalir menuruni dada dan mulutnya. Dengan segenap kekuatan yang tersisa, dia segera mengangkat kedua tangannya dan mendorong tubuh Phoenix itu agar menjauh darinya.

Burung Abadi tersebut kembali terbang ke atas langit sambil menatapnya. Dia masih berdiri, dan menggunakan kedua tangannya untuk menekan jantungnya, berusaha unuk menghentikan darah mengalir dengan deras yang jatuh meniti dadanya.

Serangan Phoenix itu seharusnya bisa membunuh makhluk apapun yang ada di dunia ini. Tidak mungkin ada makhluk hidup yang mampu menahan ilusi antara kehidupan dan kematian dengan lubang cakaran di dalam jantungnya. Namun, dia masih berdiri, meski terlihat sangat menderita dan kesakitan, dirinya masihlah bernapas.

Sakit, sakit, sakit sekali, luar biasa sakit. Badannya mulai kehilangan tenaga, seluruh badannya terasa sangat dingin, pandangan matanya mengabur. Kedua kakinya sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi, kontan tubuhnya jatuh ke atas tanah.

Phoenix itu tidak menyerangnya lagi, melihatnya yang terkapar di atas tanah dengan penuh rasa sakit dan penderitaan, burung tersebut merasa bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan keadaan ini. Makhluk berbahaya di depannya memang telah bertarung mati-matian dengan segenap kemampuannya, namun dia berbeda dengan apa yang dulu ia dengar, bahwa wujud asli makhluk berbahaya ini bukanlah dalam bentuk seorang anak kecil. Mahluk ramalan itu belum kembali ke fisik aslinya.

Tanpa perintah apapun, Phoenix itu membalikkan badannya dan terbang menjauh. Dia tidak mau melawannya lagi, dan dia tidak mau mengambil resiko apapun. Tujuan utamanya sejak awal bukanlah membunuh makhluk berbahaya itu, melainkan adalah untuk merebut makhluk yang selalu dijaganya, memisahkan Mikan dari makhluk yang dianggap berbahaya ini. Secara tidak kasat mata, ia telah menang, walaupun dia tidak bisa membunuhnya, setidaknya dia telah berhasil mengalahkannya.

Mata merah darahnya terus mengikuti ke mana burung Phoenix bergabung dengan langit. Walau pandangan matanya mulai mengabur, dia masih bisa melihat dengan jelas bahwa burung tersebut terbang ke arah danau, ke arah Mikan. Dia tidak bisa berdiri lagi, tidak ada tenaga lagi yang tersisa di dalam dirinya. Suhu tubuhnya mendingin, dan sayup-sayup penglihatannya jatuh kepada kegelapan.

Mati.

Apakah dia akan mati? Jika jawabannya adalah ya, apakah semuanya akan lebih baik? Sudah pasti semuanya akan lebih baik jika dia mati. Tapi, apakah dia bisa mati? Tidak, dia tidak akan mati, luka ini tidak akan membunuhnya. Luka semacam ini pastilah akan sembuh dengan sendirinya. Mungkin akan membutuhkan waktu yang cukup lama, namun satu hal yang pasti; dia tidak akan mati hanya karena luka seperti ini.

Penglihatannya tenggelam kepada kegelapan, dan dia merasa sangat lelah. Dengan perlahan ia menutup matanya seiring dengan kesadarannya yang semakin menipis.

Tidak akan ada yang berubah dari kesehariannya. Lain hari saat dia membuka kelopak matanya, semua akan kembali seperti semula. Tidak akan ada yang berubah, semuanya tetap akan sama.

Sama? Jika dia menutup matanya dan membukanya kembali, apakah semuanya akan tetap sama? Tidak, semuanya tidak akan sama, karena ia yakin bahwa Mikan sudah hilang dari jangkauannya. Burung Phoenix itu pasti akan membawa Mikan pergi dari sini, dan dia akan kehilangan Mikan.

"Natsume."

Wajah Mikan yang sedang tersenyum kembali terbayang di dalam pemikirannya.

Mikan, Mikan, Mikan.

Ia tidak akan membiarkan siapapun yang berani merebut Mikan darinya. Jangan rebut kehangatan itu dari dalam hidupnya. Sudah cukup, benar-benar sudah cukup. Dia sudah cukup menyelami berbagai perasaan yang tidak menyenangkan, seperti kesedihan, ketakutan, kedinginan dan kesepian. Katakanlah dia ini gila, katakanlah dia ini bodoh, karena dia ingin berada di samping Mikan yang telah ditakdirkan sebagai makhluk yang akan membunuhnya.

Dia tidak peduli lagi.

Dia tidak ingin melewati malam yang dingin secara sendiri lagi. Dia ingin Mikan ada di sisinya. Dia membutuhkan perasaan yang menenangkannya, merasakan kehangatan tubuhnya, menghirup dan menikmati aroma tubuhnya yang manis, mendengar celotehnya, dan melihat tawa serta senyum indahnya. Dia ingin selalu berada di samping Mikan, dan dia bersedia memberikan segala yang dipunyainya untuk itu.

Dia kembali membuka kedua bola mata merah darahnya dan berusaha bangkit dari tempatnya terkapar dengan susah payah.

"M-Mikan... Ja-Jangan rebut M-Mikan dariku…," ujarnya pelan sambil terbata-bata. Penderitaan yang diwarnai dengan rasa sakit yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya, namun dia tahu bahwa rasa sakit secara fisik seperti ini tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit jika dia kehilangan Mikan.

Dengan langkah pelan dan tertatih-tahih dia berjalan untuk mengejar Phoenix itu. "J-Jangan… Aku mohon… Jangan rebut Mikan dariku…"

Kembali, penglihatan kehitaman legam itu menyinggahi pelupuk matanya. Namun, keinginannya untuk menghentikan Phoenix itu dari merebut Mikan semakin menguat, hingga dia merasakan sesuatu yang janggal. Sebuah kekuatan baru dari dalam dirinya, sebuah kekuatan yang menakutkan, yaitu kegelapan. Dia tahu jika dia menggunakan kekuatan asing ini, dia pasti akan kehilangan kesadarannya lagi. Namun dia juga tahu, satu-satunya cara baginya untuk menghentikan Phoenix itu sekarang hanyalah dengan menggunakan kekuatan murni Sang Kegelapan.

"Natsume."

Sunggingan senyum Mikan kembali terbayang di dalam pikirannya untuk kesekian kalinya, dan saat dia teringat dengan senyuman itu, dia pun tahu, dia tidak punya pilihan lain lagi, selain dengan menggunakan kekuatan Sang Kegelapan yang sesungguhnya.

Meskipun ia akan kembali terjatuh dalam ketidak sadarannya sendiri.

Dia menutup mata dengan perlahn dan membiarkan kesadarannya ditelan oleh kegelapan.

Saat dia membuka kedua bola mata merah darahnya lagi, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. Ia kehilangan kendali, dan hal ini terpancar dengan jelas dari matanya, penuh kegilaan. Rambut hitamnya yang penuh darah mulai memanjang dan berubah warna menjadi perak. Tato hitam mulai menjalar memenuhi wajah dan tubuhnya.

Kepalanya terasa hampa. Ia tidak bisa berpikir secara jernih, selain keinginan untuk menghancurkan dan membunuh sesuatu. Dengan langkah kaki yang tegap dan kuat, dia langsung berlari mengejar Phoenix itu. Luka yang ada di sekujur tubuhnya tidak meninggalkan komplikasi yang berarti, setidaknya bagi dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan, ia kerap tertawa tanpa henti.

Burung Phoenix tersebut mendengar suara tawanya yang seperti orang kehilangan kendali. Saat dia hampir mencapainya, segeralah burung besar itu berhenti. Dia, yang kini sudah muncul lagi dihadapan sang Burung Abadi, sungguh membuat Phoenix itu tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejut dan khawatirnya lagi. Wujudnya telah berubah.

Makhluk yang berada dihadapan Phoenix itu sekarang telah jauh berbeda dengan makhluk yang tadi ia lawan. Auranya yang dipancarkan mahluk mengerikan tersebut untuk saat ini sudah jauh berbeda dengan auranya tadi. Jika pada pertarungan yang sebelumnya dia adalah makhluk berbahaya, maka sekarang dia adalah makhluk yang mengerikan dan tanpa kendali.

Dia tersenyum dan terus tertawa sembari melayangkan pandangan pada Phoenix itu dengan mata merah darahnya yang bersinar penuh kegilaan, dan tanpa membuang waktu dia tiba-tiba bergerak maju ke depan untuk menyerang burung tersebut.

Phoenix itu sangat terkejut dengan serangannya yang dilancarkan secara tiba-tiba tersebut dan segera terbang ke atas langit untuk menghindar, namun dirinya yang berada di atas tanah juga tidak memberikan kesempatan untuk menghindar bagi Phoenix itu. Dia meloncat ke atas langit sambil mengangkat tangan kanannya untuk menyerang.

Serangan itu tidak meleset, dan berhasil melukai sayap kiri Phoenix. Luka tersebut tidak parah, namun luka yang dihasilkan oleh Sang Kegelapan tidak sembuh dengan sendirinya. Tidak menutup, juga tidak menunjukkan adanya tanda-tanda penyembuhan. Phoenix itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya lagi. Bagaimana mungkin luka ini tidak menutup? Bagaimana mungkin lukanya tidak menghilang? Dia adalah seekor Burung Abadi. Ia terkenal memiliki kekuatan regenerasi yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, tetapi kenapa kemampuannya itu seakan menghilang?

Phoenix itu segera mengangkat wajahnya untuk menatap seseorang yang telah melukainya. Sebuah senyum sinis, itulah yang dilihat sang Phoenix saat menurunkan kepalanya untuk menatap musuh yang berada di atas tanah.

Kekuatan dan kecepatannya sekarang sangat berbeda dengan kekuatannya tadi. Phoenix itu bisa merasakan kelemahannya dengan jelas. Inilah kekuatan aslinya, kekuatan yang tidak bisa diterima akal sehat, kekuatan dari makhluk sihir terkuat yang paling ditakuti di dunia.

Kekuatan Sang Kegelapan yang sesungguhnya.

Tanpa membuang waktu lagi, Phoenix itu membuka kedua sayapnya selebar mungkin dan membuat sebuah lingkaran sihir di bawahnya. Sambil memekik dengan keras, api berwarna kebiruan tiba-tiba keluar dari cakar kakinya, perlahan-lahan naik dan menyelimuti seluruh tubuhnya.

Phoenix itu kemudian mengepakkan kedua sayap dan terbang ke atas langit malam. Saat dia berada cukup tinggi di atas langit, dia membalikkan badan dan menukik ke bawah dengan kecepatan yang luar biasa cepat ke arahnya. Api biru yang membungkus dirinya bersinar semakin terang hingga dirinya kini bagaikan telah berubah menjadi sebah bola meteor berwarna api biru yang berukuran besar.

Api biru ini adalah ilmu sihir terkuat yang bisa ia rapalkan.

Ini adalah taruhan sekarang. Phoenix itu tidak tahu apakah sihirnya ini bisa mengalahkan makhluk di depannya atau tidak. Jika ia gagal, dia tahu, tidaklah mungkin baginya untuk dapat melihat matahari pada keesokan harinya.

Dia sama sekali tidak gentar ataupun takut saat melihat Phoenix itu menukik ke arahnya dengan sihir yang luar biasa kuat itu. Sebaliknya, ia malah tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat tangan kanannya yang seperti cakar binatang liar, dan sebuah lingkaran sihir hitam besar muncul di bawah kakinya dan berputar dengan sangat cepat, cahaya hitam yang muncul dari dalam lingkaran sihir itu dan naik melilit tangan kanannnya. Tanpa membuang waktu lagi, diapun berlari mendekati burung itu.

Bunuh. Bunuh. Hancurkan. Bunuh semuanya!

.OXOXO.

Mikan membuka kedua mata coklat madunya saat dia sadar akan kehangatan tubuh yang setiap malam berada di sampingnya menghilang. Dia segera bangkit dan menatap sekelilingnya untuk mencari sosok yang selama ini selalu menjanganya, di sisinya kala malam naik ke peraduan.

"Natsume! Natsume, di mana kau?" teriaknya pelan.

Namun tidak ada jawaban, dan tiba-tiba saja di dalam hatinya, perasaan yang tidak mengenakkan hatinya, mulai menyelimuti dirinya. Ketakutan dan kegelisahan yang sangat luar biasa menyerang hatinya. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera bangkit dan berlari untuk mencari orang itu.

Natsume.

.OXOXO.

Di bawah sinar bulan di dalam hutan yang lebat, dia berdiri sambil tersenyum menyeringai, sembari tangan kirinya mencengkeram leher Phoenix yang sudah tidak bertenaga dengan kuat, sedangkan tangan kanannya menusuk dada Phoenix itu hingga tembus ke belakang.

Burung Phoenix itu menatap wajahnya dengan lemah, "L-Lepaskan…"

"Melepaskanmu? Bisakah kau memberiku alasan untuk mengampunimu?" tanyanya kembali sambil tersenyum lebar yang menyiratkan kejahatan.

"B-Bukan aku, tapi lepaskan dia, lepaskan makhluk yang selalu kau ja-jaga itu..." Burung Phoenix itu tahu dengan jelas betapa berbahayanya makhluk di hadapannya ini. Kekuatannya memang tidak bisa diterima akal sehat, dan hanya dengan melihatnya sekarang, dia tahu, kelak dia pasti benar-benar akan menghancurkan dunia ini, karena itulah makhluk yang selalu dijaganya tidak boleh berada di sisinya. Apapun yang terjadi, Sang Cahaya tidak boleh berada di sampingnya. Jika tidak, dunia ini tidak akan memiliki harapan lagi.

Amarah langsung menyelimuti hatinya saat dia mendengar apa yang diucapkan oleh Phoenix tersebut.

"JANGAN MEMERINTAHKU UNTUK MELEPASKAN MIKAN!" teriaknya dengan penuh amarah. Dengan cepat dia mencabut tangan kanannya yang melubangi dada Phoenix itu dan mencabut sayap kanannya.

Phoenix itu hanya bisa berteriak kesakitan, namun suara teriakannya juga tidak bisa dia keluarkan dengan lantang karena lehernya yang masih dicengkeram oleh mahluk kuat di hadapannya.

"AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN MIKAN! AKU TIDAK AKAN MELEPASKANNYA SEUMUR HIDUPKU!" teriaknya kasar.

"Lepaskan dia, kau tidak pantas untuk berada di sampingnya. Kau yang penuh darah tidak pantas untuk menyentuhnya, ka-" ucapan burung itu tidak penah terselesaikan, sebab sebelum dia menyelesaikan ucapannya, sebuah lingkaran sihir hitam telah muncul di depannya dan mengeluarkan cahaya hitam yang segera meluncur ke arahnya untuk menyerangnya.

Saat cahaya kehitaman itu menyentuh tubuh burung Phoenix itu, tubuhnya langsung mengering dan hancur menjadi debu.

Dia tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan ini. Phoenix itu sudah mati. Burung Abadi yang menurut legenda tidak akan bisa mati, kenyataan telah berputar di tangannya. Burung Phoenix itu terlalu meremehkannya. Keabadian atau dengan kata lain, kemampuan beregenerasinya tidak akan pernah berguna di hadapannya. Dia bisa mentiadakan kemampuan itu dengan mudah jika dia mengunakan kekuatan elemen kegelapan.

Dialah Sang Kegelapan, makhluk yang terlahir dari salah satu elemen yang menciptakan segalanya di dunia ini. Mahluk pembawa kehancuran, yang turut serta membawakan kematian dan ketiadaan.

Tidak akan ada yang bisa merebut Mikan darinya lagi. Mikan akan selalu di sampingnya, dia akan memastikan bahwa hal ini tidak akan pernah berubah.

Kau tidak pantas untuk berada di sampingnya. Kau yang penuh dengan darah tidak pantas untuk menyentuhnya.

Ucapan terahir Phoenix itu tiba-tiba terlintas di dalam kepalanya. Tawanya langsung terhenti dan dia segera menurunkan kepalanya untuk menatap tangan dan seluruh tubuhnya yang penuh dengan luka dan darah.

Phoenix itu sangatlah kotor dan penuh dengan lumuran darah, namun dia tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Phoenix tersebut. Dia segera mengangkat tangannya, dan tiba-tiba dari atas kepalanya, air jatuh membasahi tubuhnya membersihkan darah yang melekat di sekujur tubuhnya.

Jika dia kotor dan penuh darah, dia akan membersihkan tubuhnya dari hal tersebut. Jika wujudnya mengerikan, maka dia akan menyembunyikannya. Dia tidak akan membiarkan Mikan tahu siapa mereka sebenarnya.

Ya. Mikan tidak akan tahu apa-apa, dia akan merahasiakan ini semua darinya. Dengan begitu Mikan akan selalu berada di sisinya. Egois memang.

"HAHAHAHAHAHAHAHA!" tawanya penuh kegilaan sembari mendongakkan kepalanya, menatap langit malam di atasnya.

Tiba-tiba saja dia merasakan aura seseorang yang berada di depannya. Dia segera berhenti tertawa dan menurunkan kepalanya untuk menatap orang asing tersebut.

Jantungnya bagaikan berhenti berdetak saat dia melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.

Mikan.

Mikan ada di hadapannya sekarang, dan tengah menatap dirinya dengan ekspresi wajah yang menyiratkan keterkejutan gadis itu.

Mengapa Mikan ada di sini? Mengapa dia tidak menyadari keberadaan Mikan yang sudah berada sedekat ini dengannya? Apa yang telah dia lakukan?

"Natsume…" panggil Mikan pelan.

Bola mata merah darahnya langsung membesar karena terkejut saat dia teringat wujudnya sekarang. Wujudnya sangat mengerikan dan juga menakutkan. Dia tidak ingin Mikan melihat wujudnya yang seperti ini.

Dia segera mengangkat kedua tangannya dan menutup wajahnya, "JANGAN MELIHATKU! JANGAN MELIHATKU! PERGI! PERGI DARI SINI, MIKAN!"

"Natsume…" panggil Mikan kembali dan berjalan mendekatinya.

"JANGAN MENDEKAT! PERGI DARI SINI, MIKAN!" teriaknya kalut ketika melihat Mikan berjalan mendekatinya.

Mikan tidak mempedulikan apa yang dikatakannya. Ia berjalan semakin cepat, mendekat dan megulurkan tangan untuk menyentuhnya. Namun saat tangan kecil Mikan hampir menyentuhnya, dia segera meloncat mundur ke belakang dan berlari meninggalkan tempat itu.

"TUNGGU! NATSUME, TUNGGU!" teriak Mikan sambil berlari mengejarnya.

Dia tidak mempedulikan panggilan Mikan. Dia takut, dan apa yang paling tidak diinginkannya telah terjadi.

Mikan telah melihat sosoknya yang menyeramkan ini. Apa yang akan terjadi ke depannya? Mikan pasti akan takut padanya, dia pasti akan merasa jijik padanya, Mikan pasti akan menghindarnya, tidak mau berada di sampingnya, dan yang lebih penting lagi, Mikan pasti akan menatapnya dengan penuh kebencian.

Dia mengangkat tangannya dan menyusuri rambut perak panjangnya. Tidak, tidak, dia tidak mau itu terjadi, dia tidak ingin semua ini menjadi realita. Dia tidak berani membayangkan apa jadinya dirinya jika dia kehilangan senyum itu. Dia tidak mau hidup lagi, dia tidak mau hidup lagi di dunia ini. Ia tidak mau berada di dunia ini lagi jika dia benar-benar akan kehilangan senyum di wajah itu.

Langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Rasa sakit yang luar biasa tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya hingga dia akhirnya jatuh ke bawah. Angin yang sangat kencang bertiup, sebuah lingkaran sihir hitam besar muncul di bawah kakinya dan berputar dengan cepat.

"AAAHHH!" teriaknya penuh kesakitan.

Sakit. Sakit, tubuhnya terasa sakit bagaikan tercabik-cabik. Kulitnya yang berwarna putih berubah menjadi warna hitam dan pecah-pecah menjadi sisik. Air mata darah mengalir dari kedua bola matanya, dahinya terkoyak dan muncul sebuah bola mata merah darah besar.

Sakit, sakit, rasa sakit ini semakin menjadi-jadi. Asap hitam pekat muncul di atasnya, dan dari balik punggungnya, tumbuh dua punuk besar, dan terkoyak hingga sepasang sayap berbulu hitam besar dan membentang seluas yang sayap itu bisa rentangkan.

"NATSUME!" teriak Mikan takut saat dia menunjukkan wujudnya di hadapan dirinya. Namun, dia tidak bisa mendengar suara apapun lagi, tidak bisa merasakan ataupun memikirkan apapun lagi. Yang ia rasakan sekarang hanyalah rasa sakit, sakit yang tidak tertahankan. Dia bangkit dari atas tanah dan mengangkat kepalanya ke atas.

Bunuh, hancurkan, bunuh, hancurkan, bunuh dan hancurkan semua yang ada di dunia ini.

Rumput di bawah kakinya tiba-tiba mengering dan hancur menjadi debu, sedangkan tanah di bawahnya segera mengering dan retak seakan mengalami kemarau panjang. Kekeringan itu semakin meluas, asap hitam tebal di atasnya semakin menebal dan berputar turun ke bawah, menyelimutinya tubuhnya.

"NATSUME!" teriak Mikan penuh ketakutan dan berlari untuk mendekatinya. Mikan tidak tahu apa yang terjadi, tapi sebuah perasaan buruk menyelimuti dirinya. Gadis kecil itu tahu, jika dia membiarkan ini semua terus berlanjut, dia akan kehilangan seorang yang penting baginya untuk selamanya.

Kaki Mikan melangkah masuk menuju tanah kering tersebut. Air mata mengalir membasahi pipinya. Rasa takut memenuhi hatinya.

Takut, Mikan sangat takut, namun dia ketakutan bukan karena melihat sosoknya, dia sangatlah takut sebab dia tidak ingin kehilangan sosoknya.

Mata coklat madu Mikan langsung terbelalak saat dmelihat dia merentangkan kedua sayap dengan lebar. Dia akan meninggalkannya, dia akan meninggalkannya seorang diri. Tanpa mempedulikan apapun, Mikan segera mengangkat kedua tangan dan meloncat, memeluknya dengan erat, membenamkan kepala pada dadanya.

"Natsume… Natsume..." panggil Mikan terisak-isak. Dia tidak peduli walau darah merah mengalir turun dari seluruh tubuhnya akibat sisik yang tajam itu.

Aktivitas yang tengah dilakukan oleh Sang Kegelapan langsung terhenti saat dia merasakan kehangatan tubuh kecil yang sedang memeluknya dengan erat. Dia kenal dengan aroma tubuh ini.
Dia kenal kehangatan tubuh kecil yang memeluknya sekarang ini.

Mikan menjauhkan kepala dari dadanya dan mengangkat kepala untuk menatapnya dengan lurus.

Antara sadar dan tidak sadar, di antara pikirannya yang penuh dengan kegilaan, air mata yang mengalir turun dari kedua bola mata coklat madu di depannya, berhasil membuat semua yang ada di dalam pikirannya menghilang.

Wajah yang ada di hadapannya ini. Air mata yang mengalir menuruni mata coklat madu itu, wajah penuh ketakutan dan kesedihan itu, luka yang ada di sekujur tubuh dan wajahnya itu, siapa gadis ini? Siapa gadis kecil yang berada di depannya sekarang? Mengapa dia merasa seperti mengenal gadis kecil ini? Dan yang terpenting, mengapa seorang gadis seperti dia menangis? Apa yang menyebabkan kulit sang gadis penuh dengan luka?

"Jangan tinggalkan aku… Jangan tinggalkan aku sendirian, Natsume…" pinta Mikan lembut.

Kedua mata merah darah itu langsung terbelalak karena terkejut. Ia mengenal gadis ini. Wajah ini, aroma ini, suara ini, kehangatan ini. Dia adalah Mikan, gadis ini adalah Mikan.

"M-Mikan…" ujarnya terbata-bata.

Lingkaran sihir yang berputar di bawah mereka segera terhenti. Asap tebal yang berada di atas mereka segera menipis dan menghilang. Secara perlahan-lahan, sayap hitam di punggungnya menyusut, dan lambat laun menghilang. Sisik hitam di badannya perlahan-lahan menghilang dan mengembalikan kulit putihnya. Bola mata di tengah keningnya berangsur-angsur menutup dan menghilang, begitu juga dengan rambut peraknya dan tangannya, seluruh tubuhnya kembali lagi ke wujudnya yang biasa.

Mikan tersenyum melihat itu semua, walau air matanya masih terus saja mengalir menuruni pipinya. Orang yang ia sayang sudah kembali seperti semula. Natsume telah kembali menjadi Natsume yang selama ini dikenalnya, Natsume yang tidak akan pernah meninggalkannya...

Pandangan mata Mikan mendadak menghilang di telan kegelapan. Tubuhnya menjadi sangat lemas dan tak bertenaga hingga tangannya yang memeluk dirinya terlepas.

Dengan sigap, dia segera mengangkat kedua tangannya dan menangkap tubuh Mikan yang jatuh ke bawah. Ia sangat takut melihat kondisi Mikan yang seperti ini.

"M-Mikan.. kau tidak apa-apa? M-Mikan.." tanyanya terbata-bata sambil menatap Mikan dengan wajah yang pucat pasi.

"J-Jangan tinggalkan aku… Tetaplah bersamaku, Natsume..." ujar Mikan pelan sambil menutup kedua bola matanya.

.OXOXO.

Dia tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Mikan yang terbaring tidak sadarkan diri dengan badan penuh luka ditambah dengan demam tinggi yang menyerangnya, dia benar-benar bingung, takut dan juga tidak berdaya. Dia tidak bisa menyembuhkan luka Mikan. Dirinya yang menguasai segala macam elemen sihir, tidak memiliki satu kemampuan, yaitu sihir penyembuhan.

Dia ingin membawa Mikan keluar dari hutan ini, menuju desa atau kota terdekat dan meminta siapapun untuk menyembuhkannya. Tapi, dia tidak bisa. Terdapat banyak sekali makhluk sihir di hutan ini. Ia juga sedang terluka parah akibat pertempurang sengitnya dengan Burung Phoenix itu. Dia tidak yakin bisa mengendalikan dirinya jika melawan lebih banyak makhluk sihir lagi.

Yang bisa dia lakukan hanya satu, mencari tumbuhan obat-obat di dalam hutan ini untuk mengobati luka Mikan. Meski lelah, ia tetap tidak beristirahat ataupun menyerah. Dia terus saja berada di sisi Mikan, menjaganya sejak matahari terbit di Timur hingga kembali bersembunyi malu-malu di ufuk Barat.

Perasaan bersalah memenuhi hatinya. Jika saja dia tidak kehilangan kendali akan dirinya, jika saja dia bisa mengalahkan Phoenix itu tanpa menggunakan kekuatan kegelapan, jika saja dia lebih kuat, jika saja dia tidak begitu egois untuk berada di samping Mikan, semua ini pastilah tidak akan terjadi. Mikan pasti tidak akan terbaring lemah dalam keadaan yang menderita seperti ini.

"N-Natsume…" panggil Mikan pelan sambil membuka kedua matanya.

"Aku di sini Mikan, aku di sini." ujarnya cepat sambil menggenggam kedua tangan Mikan dengan erat dan menatapnya dengan kedua mata merah darah yang bersinar penuh dengan kekhawatiran.

"Natsume..." sanggah Mikan lembut dengan tersenyum.

Melihat senyum lemah yang ditujukan seperti itu, dia hanya bisa menahan rasa sakit dalam hatinya dan mengangkat tangan kanan kecil Mikan, menyentuh dahinya, "Maaf… Maaf… Maafkan aku... A-Aku… "

"Jangan meminta maaf, Natsume… " potong Mikan lemah sambil menggelengkan kepala dan mengangkat tangan kiri untuk menutup mulutnya. Dirinya terdiam mendengar ucapan Mikan. Ia tidak tahu harus mengatakan apapun lagi. Ini semua jelas-jelas adalah salahnya, tetapi mengapa Mikan mengatakan bahwa dia tidak perlu meminta maaf? Mengapa Mikan tidak menimpakan kesalahan pada dirinya?

"Kau terluka, Natsume..." ujar Mikan pelan sambil mengangkat tangan kirinya ke arah luka di dadanya. Cahaya hangat keluar dari telapak tangan Mikan untuk menyembuhkan luka tersebut.

"HENTIKAN, MIKAN! AKU TIDAK APA-APA! JANGAN MEMAKSAKAN DIRIMU SEKARANG! SIMPANLAH TENAGAMU!" teriaknya panik sambil menjauhkan tangan Mikan dari dadanya saat melihat apa yang dilakukan oleh Mikan.

"MIKAN! HENTIKAN! JANGAN AKU! SEMBUHKAN DIRIMU SAJA!" teriaknya lagi. Dia tidak apa-apa. Lukanya memang parah, namun untuknya luka semacam ini adalah tidak berarti apa-apa baginya. Luka tersebut sudah mulai menutup, dan dia tidak akan mati hanya karena luka seperti ini. Namun Mikan tidak peduli. Meski keadaannya masihlah sangat lemah, dia bangkit dari tempatnya berbaring dan menggunakan sihir penyembuh tanpa henti untuk menyebuhkan luka anak laki-laki di depannya.

Saat Mikan melihat luka di dalam tubuh lawan jenisnya telah menutup, dia mengangkat kepala untuk menatapnya dan tersenyum lemah dengan wajah yang pucat pasi, "Tidak sakit lagi, kan, Natsume?"

Dia tidak sanggup menjawab pertanyaan seperti ini. Ia segera melepaskan tangannya yang mengenggam tangan Mikan dan memeluknya dengan erat.

Sakit, sakit, hatinya sangat sakit. Mengapa Mikan masih menghawatirkan dirinya padahal dia telah membuatnya terluka seperti ini? Kenapa Mikan lebih memilih untuk menyembuhkannya daripada dirinya sendiri? Mengapa Mikan bersikap baik seperti ini padanya? Kenapa?

Kau tidak pantas untuk berada di sampingnya, kau yang penuh darah tidak pantas menyentuhnya.

Dia segera melepaskan tangannya yang memeluk Mikan saat ucapan Phoenix itu kembali terlintas dalam kepalanya. Burung itu benar, dia tidak pantas berada di samping Mikan. Dirinya yang hina dan lusuh, disertai darah merah yang telah mengering tidak akan pernah pantas untuk berada di sisi Mikan. Ia yakin, suatu hari nanti pasti dia akan mencelakai gadis ini untuk yang kedua kalinya. Dan juga tentang ramalan itu. Takdir mereka berdua yang akan saling membunuh kelak.

Tidak seharusnya ia berada di dekat Mikan.

"Natsume..." panggil Mikan, tidak mengerti melihat Natsume yang seakan tenggelam di dalam alam pikirannya sendiri.

"A-Aku... Aku melukaimu, Mikan. Aku telah menyakitimu, aku tidak pantas berada di sampingmu…" Natsume terlihat sangat menyesal. Intonasinya terdengar pelan, dengan terbata-bata dan penuh dengan rasa takut.

Ia paham, bahwa ia tidak boleh berada di sisi Mikan. Tidak boleh menyentuhnya lagi, namun dia tidak tahu apakah dia bisa memenuhi perkataan tersebut. Walau hanya untuk satu bulan saja, keberadaan Mikan di sampingnya telah menjadi sesuatu yang tidak tergantikan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya kelak jika dia akan kehilangan sosok seorang Mikan. Terlebih, jika ia akan benar-benar kehilangan senyuman dan kehangatan itu.

Apa jadinya dirinya nanti tanpa kehadiran Mikan di sampingnya?

Tiba-tiba saja dia merasakan sepasang tangan yang sangat dikenalnya memeluk tubuhnya. Dia segera mengangkat kepalanya, menatap pemilik kehangatan seorang yang sangat penting baginya. Mikan.

"Tidak apa-apa, aku tidak peduli jika kau melukaiku, Natsume. Aku hanya ingin kau ada di sampingku, dan jangan pernah tinggalkan aku..."

Jangan pernah tinggalkan aku.

Kalimat yang sangat sederhana, namun benar-benar mengguncang dunianya.

'Jangan pernah tinggalkan aku', untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada makhluk hidup yang benar-benar masih mau berada bertahan di sisinya meskipun sudah melihat wujud aslinya yang mengerikan dan juga menjijikkan. Mikan, makhluk yang begitu bersih dan suci mau berada di sampingnya, dan tidak akan meninggalkan dirinya.

"Jangan tinggalkan aku sendirian…" pinta Mikan pelan sambil menangis terisak-isak. Air mata mengalir menuruni pipinya membasahi pundaknya.

Dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Bolehkah dia berada di samping Mikan? Bolehkah dia menyentuhnya? Bolehkah dia bersamanya? Mikan tidak tahu apa-apa, dan apa yang akan terjadi jika Mikan kelak tahu siapa mereka berdua yang sesungguhnya?

Tidak. Tidak, dia tidak peduli lagi. Dia tidak mau terpisah dari Mikan. Katakanlah dia ini egois dan sejenisnya, dia benar-benar tidak mempedulikannya lagi dan juga, ia sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana caranya untuk meninggalkan Mikan. Dia tidak akan berpikir untuk meninggalkan Mikan lagi, apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meninggalkan Mikan, dan berjanji bahwa dirinya akan selalu berada di sisi Mikan.

Dengan perlahan namun pasti, dia mengangkat tangannya dan membalas pelukan Mikan, "Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian."

Mikan tersenyum lebar mendengar ucapannya itu, dan dengan pelan dia menjauhkan tubuhnya dan menatap lelaki tersebut dengan tatapan yang lembut.

Melihat senyum itu, dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata Mikan, kemudian bergerak menyentuh ujung gaun putih Mikan dan mengoyaknya.

"Natsume! Apa yang aku lakukan?" tanya Mikan bingung dengan apa yang sedang dilakukannya.

Dia tidak menjawab pertanyaan tersebut, dan mengangkat ujung kain gaun putih Mikan ke arah matanya dan melilitnya dengan erat.

Dia ingin berada di samping Mikan, walau dia tahu dia tidak pantas untuk itu. Mikan begitu suci dan juga indah, melihatnya saja dia sudah langsung menyadari perbedaan besar di antara mereka. Melihatnya saja, dia akan merasa sangat takut. Takut akan kembali menyakiti gadis itu lagi. Takut tidak bisa berada di sampingnya untuk yang kedua kalinya. Oleh karena itu, jika dia akan selalu merasa seperti ini jika melihatnya, dia akan lebih memilih untuk tidak bisa melihat sosok Mikan. Tidak melihatnya, agar dia merasa diperbolehkan untuk berada di sampingnya. Tidak apa jika dia tidak bisa melihat Mikan, sebab dia masih bisa mendengar suaranya, mencium aromanya, dan merasakan kehangatannya.

Dan hal ini, sudah lebih dari cukup untuk mahluk seperti dirinya.

.OXOXO.

Dia berdiri di atas sebatang pohon apel, memetik buah apel besar yang berwarna kemerahan. Kain putih menutupi kedua matanya, namun, dia dapat dengan mudah memanjat pohon dan memetik apel yang bergelayut di salah satu ranting pohon itu.

"Natsume! Natsume!" panggil Mikan yang berada di bawahnya.

Dia memalingkan wajahnya untuk menatap Mikan dan meloncat turun ke bawah, "Jangan teriak terus, idiot."

"Natsume, namaku Mikan, bukan idiot." balas Mikan sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Hn." Balas Natsume sambil melemparkan apel yang ada berada di tangannya ke arah Mikan. Gadis kecil itu segera mengangkat kedua tangannya untuk menangkap sebutir apel yang dilemparkan kepadanya itu.

"Makanlah. Kau sudah lapar, kan?" ujarnya dengan cuek. Mendengar ucapan tersebut, Mikan tersenyum. Dia berlari ke arahnya dan memeluknya, "Terima kasih, Natsume."

Dia tidak membalas ucapan Mikan. Ia tetap saja berdiri diam di tempatnya, tidak bergeming, dan membiarkan kehangatan tubuh Mikan menyelimuti dirinya. Tidak pernah sedikitpun terbayangkan olehnya dulu, ternyata sebuah pelukan sederhana seperti ini bisa membuatnya merasa begitu hangat dan juga bahagia.

Mikan tiba-tiba melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya. Dengan tangan kirinya yang kecil, Mikan menarik turun kain yang menutup matanya dan menatap mata merahnya, "Natsume, saat aku mengucapkan terima kasih padamu, kau harus menatapku."

"Hn."

Dia hanya bisa menatap wajah Mikan dengan kedua mata merah darahnya tanpa berkedip. Dia tidak pernah dapat menghentikan perbuatan Mikan saat gadis itu menarik lepas kain yang menutupi kedua belah matanya. Dia tahu dengan pasti alasan mengapa dia menutup matanya, namun jauh di dalam hatinya, dia juga tahu, alasan kenapa dia tidak pernah menghentikan Mikan yang tengah membuka kain yang menutup matanya. Dia ingin melihatnya, melihat wajah Mikan.

Mikan kemudian menggenggam apel dengan kedua tangannya dan tersenyum dengan manis kepada dirinya, "Terima kasih, Natsume."

Dia tidak pernah mampu menemukan kata untuk menggambarkan senyum Mikan dalam hidupnya. Senyum itu begitu indah, begitu cantik. Melihat senyum itu, dia selalu merasa bahwa betapa beruntungnya dia. Tanpa disadarinya, bibirnya terangkat ke atas dan membentuk sebuah senyum di wajahnya.

Dia tersenyum. Tersenyum untuk pertama kalinya semenjak dia dilahirkan di dunia ini.

Mata Mikan membesar begitu melihat senyumnya, "Natsume! Kau tersenyum! Kau tersenyum!"

Dia sangat terkejut saat mendengar ucapan Mikan. Senyumnya segera menghilang, tergantikan menjadi mimik tanpa ekspresi, "Tentu saja aku bisa, idiot. Aku bukan batu, tahu?"

"Natsume tersenyum! Natsume tersenyum! Tersenyum! Tersenyum!" ujar Mikan dengan gembira. Dia tidak mempedulikan apa yang baru saja dikatakan olehnya, dan dengan cepat dia mengangkat kedua tangannya, kembali memeluk Natsume.

"Akhirnya kau tersenyum! Kau tersenyum Natsume! Tersenyum!" tawa Mikan bahagia sembari mempererat pelukannya.

Tawa Mikan, kehangatan tubuhnya, aromanya, kegembiraannya, semua itu membuat Natsume sangat bahagia. Dengan pelan dia mengangkat tangannya, membalas pelukan Mikan dan kembali tersenyum.

"Kau harus lebih sering tersenyum, Natsume! Kau sangat manis jika tersenyum!" puji Mikan kembali sembari menjauhkan kepala, menatap Natsume tanpa melepaskan kedua tangan yang sedang memeluknya.

"Jangan mengatakan aku ini manis, idiot! Jangan gunakan kata 'manis' pada laki-laki."

Mikan hanya tertawa mendengar ucapannya, tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi, dia kembali membenamkan kepala pada dada bidangnya. Dirinya yang melihat dan mendengar tawa Mikan hanya bisa kembali tersenyum kecil yang perlahan-lahan berubah menjadi sebuah tawa kecil.

Betapa hebatnya Mikan, betapa luar biasanya dia. Hanya dengan sebuah senyum dan tawa, dia sudah bisa membuatnya tersenyum dan tertawa, meski hanya sebuah sunggingan kecil. Dia bisa tersenyum dan tertawa dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, hanya dengan melihat betapa bahagia dan gembiranya Mikan.

Tersenyum dan tertawa dengan lepas tanpa beban. Tidak pernah terbesit sedikitpun di dalam hatinya bahwa dia bisa tersenyum dan tertawa seperti ini.

Sebulan telah berlalu semenjak saat itu, dan keadaan Mikan sudah pulih. Begitu pula dengan dirinya. Tidak menderita dan sakit lagi. Kehidupan mereka dalam hutan ini telah kembali seperti biasa. Dia mencarikan makanan, sementara Mikan menunggu kehadirannya. Dia kembali kepada Mikan, dan keduanya makan bersama. Mikan dan dia akan duduk di bawah pohon sakura di tepi danau. Mereka akan mengobrol, bermain dan berdebat untuk sesuatu yang tidak penting, lalu mereka akan tertidur.

Setiap hari seperti itu, itu adalah rutinitas mereka dalam hutan ini.

Hutan ini penuh dengan buah-buahan dan juga sayur-sayuran. Dengan berbekal pengetahuannya akan dunia manusia yang dimilikinya, dia sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dan Mikan. Dia bahkan menemukan sebuah gua kecil di dekat danau tempat Mikan dilahirkan. Gua itu tidak besar, namun cukup untuk tempat mereka berdua. Gua itu akan menjadi tempatnya berteduh saat hujan ataupun saat mereka tertidur di malam hari.

Dia masih tidak tahu, hutan apa sesungguhnya yang mereka tempati sekarang, namun kenyataan bahwa hutan ini berbahaya masihlah belum berubah, meski dia sudah membunuh banyak makhluk sihir sebulan yang lalu, dia masih bisa merasakan aura makhluk sihir yang luar biasa banyak dan kuat di seluruh pelosok hutan ini.

Para makhluk sihir itu pasti masih mengincar Mikan, namun dia tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi. Setiap kali dia merasakan adanya makhluk sihir yang mendekat ke arah mereka, dia pasti akan segera mencari alasan untuk meninggalkan Mikan untuk sementara waktu, hanya untuk menghadapi para makhluk sihir itu.

Dia tidak ingin memperlihatkan para makhluk sihir itu kepada Mikan. Dia ingin Mikan selamanya tidak tahu apa-apa. Dia sangat bersyukur akan kepolosan Mikan, Mikan tidak pernah curiga sedikitpun akan alasan yang dibuatnya, tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya itu.

Dia tidak pernah membunuh lagi. Dia hanya mengusir para makhluk sihir itu. Ia tidak ingin mengotori tangannya yang telah berlumuran darah. Dia tahu tangannya tidak mungkin akan bersih lagi, tapi setidaknya, dia tidak ingin tangannya lebih kotor lagi, agar ia masih bisa menyentuh Mikan. Namun yang paling penting, dia tidak ingin kehilangan kendali akan dirinya lagi. Dia tidak ingin menyerahkan kesadarannya pada Sang Kegelapan untuk yang kesekian kalinya.

Bayarannya pastilah ada. Dia selalu terluka, kadang terluka ringan dan kadang terluka parah. Namun Mikan pasti selalu ada untuk menyembuhkannya. Dia bisa melihat betapa khawatir, takut serta air mata yang mengalir menuruni pipi Mikan setiap kali dia kembali dengan kepadanya dengan luka. Melihat ekspresi dan air mata Mikan, dia selalu merasa bersalah dan sekaligus gembira pada saat yang bersamaan. Bersalah karena dia telah membuatnya khawatir dan ketakutan, bahagia karena ternyata di dunia ini ada makhluk hidup yang benar-benar mengkhawatirkannya, menangis untuk keadaannya yang seperti ini.

Namun apapun yang dirasakannya saat melihat air mata Mikan, dia tetap tidak bisa menyukainya. Dia lebih menyukai wajah Mikan yang tersenyum dan tertawa. Baginya, Mikan lebih pantas untuk menjadi seorang yang ceria.

Dia pun bertekad untuk menjadi kuat hingga tidak bisa dikalahkan dan dilukai oleh makhluk apapun lagi. Menjadi yang terkuat di dunia ini agar Mikan tidak akan khawatir, menangis dan sedih lagi. Agar ia bisa menjaga dan melindungi Mikan, supaya tidak akan ada yang bisa merebut Mikan darinya.

Yang benar-benar disyukuri dalam keadaannya ini, tetaplah satu; yaitu betapa polos dan bodohnya Mikan. Tidak peduli alasan sebodoh atau tidak masuk akal apapun yang dibuatnya untuk menjelaskan penyebab lukanya, Mikan pasti akan percaya. Lalu tidak lama kemudian, diapun sadar, Mikan mempercayainya dirinya dengan sepenuh hatinya. Mikan tidak akan pernah meragukan ucapannya walau itu tidak pernah masuk akal.

Betapa bahagianya dia saat dia menyadari hal itu. Kebahagiaan yang membuatnya tidak tahu harus berbuat apa. Kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dia ingin mempertahankan kebahagiaan ini, mempertahankan kehidupannya sekarang, dan ingin melupakan segalanya, termasuk melupakan siapa dirinya yang sesungguhnya, melupakan siapa Mikan yang sesungguhnya.

Melupakan siapa mereka sebenarnya.

Tapi, itu adalah sesuatu yang mustahil, sebab bagaimanapun juga dia berusaha untuk menutupi hal itu, kenyataan tidak akan pernah berubah.

DUAR!

DUAR!

Suara petir yang menggema di hutan menyebabkan dia berlari secepat yang ia bisa dengan kainputih yang melilit matanya, menerobos hujan lebat ke gua di mana Mikan berada. Dia tahu, Mikan pasti terjaga akibat suara petir yang baru saja bergemuruh. Dia mengutuk dirinya sendiri. Seandainya saja ia mampu untuk mengusir kumpulan mahluk sihir itu lebih cepat, tentulah ia tidak perlu meninggalkan Mikan seorang sendiri dalam kurun waktu yang cukup lama.

Saat dia tiba di depan pintu gua tersebut, dia bisa mendengar dengan jelas suara tangisan Mikan yang memanggil namanya. Dari auranya, dia bisa merasakan Mikan sedang duduk di lantai dalam gua sambil menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya, ketakutan.

"Natsume... Natsume... Kau ada di mana?" panggilnya sambil terisak-isak. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera berjalan memasuki gua tersebut. Ia bisa merasakan Mikan mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu gua dan ketika ia melihatnya, Mikan kontan langsung berlari memeluknya dengan sangat erat tanpa mengatakan sepatah katapun.

Perasaan bersalah menyelimutinya, ia kembali membuatnya ketakutan dan menangis seperti ini. Saat dia merasakan pakaian Mikan basah karena dirya yang sedang dipeluk Mikan mengenakan pakaian yang basah karena air hujan, dia segera membuka mulutnya, dan memerintah gadis kecil itu untuk melepaskan pelukkannya, "Lepaskan aku, idiot. Tubuhku basah!"

Mikan tidak mempedulikan perintahnya, dia malah semakin mempererat pelukannya dan membalas perintahnya itu sambil menangis terisak-isak. "Natsume, kau… kau ke mana? Aku takut sekali… Jangan tinggalkan aku sendirian seperti ini lagi…"

Merasakan bahwa tubuh Mikan yang tengah memeluknya diiringi dengan gemetar ketakutan, dia menghela napas dan melepaskan dirinya dari pelukan Mikan dengan perlahan. "Tubuhku basah. Biarkan aku mengeringkan diriku dulu."

Dia kemudian menolehkan kepalanya untuk menatap kayu kering yang berada tidak jauh darinya. Dengan menggesekkan batang kayu kering tersebut, sepercik api mulai membakar kayu kering hingga gua yang gelap ini menjadi terang.

Dengan pelan dia berjalan mendekati api tersebut sambil menggenggam tangan Mikan.

"Duduk dan hangatkan dirimu." perintahnya.

Mikan menganggukkan kepalanya dan menuruti apa yang diperintahkan kepadanya.

Saat dia merasa bahwa Mikan tidak ketakutan dan kedinginan lagi, dia memutar badannya untuk menghadap belakang, membuka bajunya yang basah dan berusaha untuk mengeringkannya.

Mata Mikan membesar karena terkejut ketika ia menatap punggungnya. Dia melihat sebuah tanda berbentuk sepasang sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir dengan sebuah simbol aneh di tengah lingkaran sihir tersebut. Dia pernah melihat tanda itu, tanda itu mirip sekali dengan tanda yang terpatri di punggungnya, kecuali warna dan bentuk simbol di tengah lingkaran sihir itu.

Berbeda.

Dengan penuh keingin tahuan, Mikan berjalan mendekatinya dan mengangkat tangannya, menyentuh tanda di punggung tersebut. Dia yang menyadari tangan Mikan di punggungnya segera memalingkan wajahnya untuk menatapnya.

"Apa ini, Natsume?" tanya Mikan polos.

Dia tidak menjawab pertanyaan tersebut, tertegun mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang pemilik iris coklat madu.

"Natsume?" panggil Mikan lagi sambil mengangkat tangannya dan melepaskan kain yang menutup matanya.

"Itu tanda lahir…" jawabnya pelan sambil menatap Mikan.

"Tanda lahir?"

"Iya…"

"Aku juga punya tanda lahir seperti itu di punggungku,Natsume. Yang berbeda hanyalah warna dan bentuk simbol di tengah lingkaran itu." tawa Mikan gembira.

Mendengar tawa Mikan, dia tiba-tiba mengangkat kedua tangannya, memeluk erat tubuh Mikan yang kecil dan membenamkan kepala sang gadis pada rambutnya.

"Natsume…" panggil Mikan, tidak mengerti dengan sikapnya yang tergolong spontan tersebut.

Dia tida mengcapkan sepatah katapun. Hatinya terasa sangat sakit, bagaikan tersayat-sayat. Tanda lahir yang sama, tada lahir itu adalah tanda lahir yang membuktikan siapa mereka berdua sebenarnya, yaitu Sang Kegelapan dan Sang Cahaya. Tanda lahir di belakang punggung mereka berdua selalu mengingatkannya pada kenyataan yang selalu ingin dilupakannya.

Dia kemudian melepaskan pelukannya sambil menatap wajah Mikan. Mata merah darahnya menatap Mikan dengan sangat lembut, namun dia juga tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang bersarang di dalam hatinya.

Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Mikan mengetahui siapa mereka berdua yang sesungguhnya? Mikan adalah seorang anak gadis yang begitu baik dan juga polos. Ia tidak berani membayangkan apa tanggapan Mikan jika gadis itu mengetahui apa yang telah dia lakukan dahulu di masa lampau, bahwa dosanya tidak termaafkan. Mikan pasti akan membencinya, meninggalkannya, dan tidak sudi lagi untuk sekadar berada di sampingnya.

Takut dan sedih, dia tidak mau itu terjadi. Itu adalah hal yang tidak ia inginkan di dunia ini, ketakutan terbesar dalam hidupnya sekarang hanyalah satu, kehilangan Mikan. Dibenci oleh Mikan.

"Ada apa, Natsume? Mengapa wajahmu menyiratkan kesedihan?" tanya Mikan saat gadis manis ini melihat ekspresi wajahnya sambil mengangkat kedua tangan dan menyentuh wajah lawan bicaranya.

"Aku tidak apa-apa."

"Benarkah? Kau…" balas Mikan. Namun, kalimatnya terputus karena dia terus-menerus bersin.

Melihat Mikan yang sudah bersin beberapa kali, dia segera menariknya agar gadis itu duduk di depan api unggun kecil yang dinyalakan olehnya beberapa waktu lalu. Dia duduk di belakang Mikan dan melingkarkan kedua tangannya pada tubuh Mikan. Dengan pelan dia mengangkat dagunya dan meletakkannya tepat di atas kepala Mikan.

"Natsume…" panggil Mikan dengan wajah yang memerah, dan berusaha untuk berdiri.

"Jangan bergerak, Mikan… " ujarnya dan mempererat pelukannya.

"Eh?"

"Jangan bergerak lagi…"

"Ba..baiklah…" balas Mikan perlahan dan membiarkan dia memeluknya. Dengan pelan Mikan mengangkat kedua tangannya, memegang kedua lengan yang sedang memeluknya.

Dia menutup mata merah darahnya dan membiarkan kehangatan dan aroma tubuh Mikan yang manis menyelimuti dirinya. Dia bisa merasakan bahwa tubuh Mikan menjadi rileks dalam pelukannya, dan mendapat firasat bahwa rasa kantuk menyerang gadisnya.

"Tidurlah, Mikan. Tidak perlu takut... Aku akan selalu berada di sampingmu…" bisiknya pelan.

Mikan tersenyum mendengar ucapan tersebut, dan dengan pelan dia menutup matanya.

"Tidurlah… Mikan… Tidurlah..."

Dia terus saja memeluk Mikan yang tertidur sambil tersenyum dalam pelukannya. Meskipun hujan turun dengan lebat, suara petir dan angin kencang bertiup di malam dalam hutan yang berbahaya ini, ia tidak lagi merasakan betapa dinginnya dunia dan betapa sendirinya ia. Betapa inginnya dia waktu terhenti di saat seperti ini untuk selamanya.

Ah, manusia.

Dulu sekali, saat dia masih kecil, dia pernah berharap menjadi seorang manusia, namun saat dia melihat watak manusia yang sebenarnya dan mengalami apa yang telah ia lewati, dirinya berhenti berharap untuk menjadi manusia. Sekarang, keinginan itu kembali memenuhi relung hatinya.

Ia memiliki hasrat untuk menjadi seorang manusia lagi. Untuk Mikan, dia mau menjadi manusia. Jika itu adalah satu-satunya cara yang dimilikinya untuk bisa bersama Mikan untuk selama-lamanya, maka dia bersedia.

.OXOXO.

Waktu berlalu, musim dingin akhirnya akan segera tiba untuk yang pertama kalinya, dan dia tahu, bahwa dia membutuhkan persediaan untuk melewati musim dingin di hutan ini. Buah-buahan dan sayur-sayuran tidak akan tumbuh pada musim dingin, dan dia juga tidak berencana untuk memburu binatang-binatang di hutan ini, sebab Mikan tidak akan menyukainya jika dia menyakiti hewan-hewan yang hidup di dalam hutan.

Dia percaya bahwa dia bisa bertahan hidup di musim dingin ini tanpa persediaan tambahan. Dia sudah pernah melewati beberapa musim dingin tanpa pertolongan maupun persediaan makanan dan penghangat. Dia masih ingat betapa dingin, sulit serta menderitanya dia ketika musim dingin menjelang. Karena itu dia tahu, dia harus melakukan sesuatu.

Dia tidak ingin Mikan mengalami hal buruk serupa yang pernah ia hadapi dulu.

Pakaian Mikan sangat tipis dan juga sudah terlihat mulai menanggalkan ukuran asalnya dengan ukuran tubuh Mikan yang sekarang, belum lagi dengan ujung gaun yang dikoyaknya untuk dijadikan kain penutup matanya. Pakaian Mikan itu sesungguhnya sudah tidak layak pakai, namun masih dikenakan oleh sang gadis hingga saat ini karena tidak ada pakaian lain. Begitu juga dengan dirinya sendiri. Pakaiannya sesungguhnya sudah terkoyak di sana-sini akibat pertarungannya dengan Burung Phoenix dan para makhluk sihir, namun dengan keterampilannya, dia menganyam baju lusuh itu kembali menjadi utuh lagi. Dengan mememanfaatkan bahan-bahan seadanya yang ada di hutan, dia membuat jarum sendiri dan menjahitnya.

Jika ada yang melihat mereka sekarang, semua orang pasti berpikir bahwa mereka adalah pasangan pengemis. Dia tidak peduli itu, namun dia tidak ingin Mikan menampilan citra yang buruk kepada siapapun. Dia ingin Mikan hidup bahagia dan terpenuhi segala kebutuhannya, tanpa kesulitan. Karena itulah, meskipun berat dan sulit, mau tidak mau dia memutuskan untuk melangkahkan kakinya keluar dari hutan ini, sendirian.

Dia tidak ingin membawa Mikan keluar dari hutan ini. Ia tidak mengalami kesulitan untuk membohongi Mikan. Dengan mengatakan bahwa dia ingin mencari makanan di bagian terdalam hutan pada pagi-pagi buta, dia berhasil membuat Mikan berjanji tidak akan ke mana-mana dan menunggunya di dalam gua sampai dirinya pulang.

Ia sesungguhnya masih sangat khawatir meninggalkan Mikan sendirian. Bagaimana jika ada makhluk sihir yang mendekatinya? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Mikan? Karena itulah sebelum dia berangkat, dia memasang berpuluh-puluh sihir pelindung yang mengelilingi tempat Mikan berada, tidak peduli itu sihir berelemen api, air, angin, tanah, petir maupun kegelapan. Dia memasang semua sihir yang berbahaya dan mengerikan yang ia pahami, untuk menjamin keselamatan Mikan.

Dia berlari secepat yang dia bisa untuk keluar dari hutan, berpacu dengan waktu untuk mencapai pemukiman manusia terdekat. Dengan kemampuannya yang mampu membaca aura, dia tidak mengalami kesulitan untuk menemukan pemukiman manusia yang dituju, lalu dengan kecepatannya yang tidak bisa diterima akal sehat, dia berhasil mencapai sebuah kota pada siang hari, kota Radiata.

Tanpa membuang waktu lagi, dia berjalan memasuki kota itu, mencari dan mengumpulkan semua kebutuhan Mikan. Pakaian hangat, makanan, obat-obatan, segala sesuatu yang dirasanya diperlukan oleh Mikan, segera diambilnya dengan cara diam-diam. Namun dia tidak mencurinya. Ia meletakkan batu permata yang ditemukannya di dalam danau tempat Mikan dilahirkan pada tempat-tempat di mana setiap barang ia peroleh. Dia sudah tidak ingin melakukan dosa ataupun kesalahan lagi, dan dia tahu bahwa permata itu adalah permata yang sangat mahal harganya. Harga permata tersebut pasti sudah lebih dari cukup untuk membayar apa yang ia peroleh.

Dia juga mencari informasi mengenai hutan tempatnya berada dan akhirnya diapun berhasil mengetahui di mana dirinya dan Mikan berada sekarang. Mereka berada di dalam Hutan Terlarang, hutan yang dikenal penuh dengan makhluk-makhluk sihir dan jebakan-jebakan sihir kuno, hutan berbahaya di mana tidak ada seorang manusiapun yang berani menjamahnya. Dia juga mendengar informasi akan apa jadinya dunia ini sekarang, tentang Kuonji yang telah menjadi Raja Theoden, tentang dunia yang damai ini. Namun dia tidak peduli, sebab baginya sekarang, semua itu sudah tidak ada kaitannya dengan dirinya.

Setelah semua yang ia butuhkan terkumpul, dia kembali berpacu dengan waktu, berlari pulang ke hutan terlarang, pulang kepada Mikan.

Betapa leganya dia saat dia melihat tidak ada sedikitpun sihir pelindung yang ia rapalkan rusak saat dia sampai di dalam hutan terlarang pada tengah malam. Dia berhasil, dan Mikan tidak apa-apa, tidak ada makhluk sihir yang mendekatinya dan berusaha merebutnya saat dia tidak ada.

Dengan langkah pelan dia berjalan menuju gua tempat Mikan berada. Dia tahu Mikan masih belum tidur, dengan merasakan aura yang terpancar dari sang gadis, dia juga bisa merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang sedang menyelimutinya.

Saat dia tiba di depan gua, walau tidak bisa melihat karena kain yang mentup matanya, dia bisa merasakan Mikan yang sedang bersimpuh di depan pintu gua sambil menangis.

"Idiot." ejek Natsume pelan, meski itu adalah sebutan untuk memanggil Mikan.

Mendengar suara yang begitu dirindukan, Mikan segera mengangkat kepalanya untuk menatapnya. Tanpa membuang waktu lagi, dia bangkit dan berlari untuk memeluknya dengan erat, "Natsume, Natsume, Natsume... Kemana saja kau? Aku takut sekali… A-Aku takut sekali…"

Dia segera melepaskan bungkusan besar berisi semua kebutuhan sehari-hari Mikan di dalam kepalan tangannya dan membalas pelukannya dengan erat, "Shhhh… Aku ada di sini, jangan menangis lagi, aku akan selalu ada di sampingmu, Mikan."

Mikan menganggukkan kepalanya dalam pelukannya tanpa mengatakan apapun lagi.

Dengan pelan dan lembut, dia mengangkat tangannya, mengelus rambut coklat panjang Mikan, "Jangan menangis lagi, bukankah sudah aku katakan, kau ini sangat jelek saat menangis."

Mendengar ucapannya itu, Mikan segera melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya, "I-iya, aku tidak akan menangis."

"Hn. Baguslah kalau begitu," balasnya sambil melepaskan pelukannya. Tangan kirinya kemudian mengaitkan tangan kanan Mikan yang kecil dengan tangannya, sedangkan tangan kananya mengangkat bukusan kebutuhan Mikan dan berjalan memasuki gua di depannya. "Ayo masuk, ada barang yang ingin aku berikan padamu."

Mikan kembali menganggukkan kepalanya mendengar ucapannya, dan berjalan mengikutinya. Namun saat mereka akan memasuki gua tersebut, Mikan tiba-tiba berhenti dan melepaskan tangannya yang digenggamnya.

Dia segera menolehkan wajahnya, menatap Mikan dan sebelum akhirnya dia membuka mulutnya untuk bertanya ada apa gerangan. Mikan telah mengangkat tangannya untuk membuka kain yang menutup mata merah darahnya.

Saat mata merah darahnya bertemu dengan mata coklat madu Mikan, Mikan tersenyum lebar, "Aku lupa mengatakannya padamu, selamat datang Natsume, akhirnya kau pulang..."

Selamat datang Natsume, akhirnya kau pulang.

Kata yang sangat sederhana, namun sangat berarti baginya. Dia memiliki tempat untuk pulang sekarang. Mikan, dialah rumahnya, tempat ia berpulang dan memiliki kenyamanan.

Dia tidak sendirian lagi.

Dan sekali lagi, dia berterima kasih akan sifat Mikan yang polos yang tidak tahu-menahu mengenai apapun juga. Gadis itu tidak pernah bertanya sedikitpun padanya darimana datangnya barang-barang yang dibawanya saat pulang dari pemukiman manusia. Dia selalu berpikir bahwa semua barang itu diciptakan dan ditemukan oleh Natsume dari dalam hutan.

Dia hanya bisa tersenyum saat teringat itu semua, betapa bodohnya Mikan.

.OXOXO.

Waktu terus berlalu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan musim berganti musim. Namun mereka tidak pernah mengalami kesulitan sedikitpun untuk melewati keseharian mereka. Dia menyulap gua tempat mereka berteduh menjadi tempat tinggal mereka. Ia membuat sendiri beberapa perabotan sederhana dengan keterampilan tangannya. Dia tidak pernah membiarkan Mikan kekurangan apapun, dia berusaha untuk memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan Mikan sebaik-baiknya, namun dia juga tidak pernah mengijinkan Mikan untuk membantunya.

"Natsume!" panggil Mikan yang telah berusia sembilan tahun dengan penuh kegembiraan sembari mendekati dirinya yang sedang berbaring di bawah pohon sakura di tepi danau dengan kain putih yang masih membalut matanya.

Dia tidak menjawab panggilan Mikan, hanya diam dan tak bergerak, berpura-pura sedang tertidur.

Mikan berjalan mendekatinya dan membuka kain yang menutup matanya, sebab dia tahu, anak laki-laki di depannya ini sama sekali tidak tertidur, "Natsume! Aku tahu kau hanya berpura-pura tidur lagi. Lihat apa yang aku temukan."

Dia membuka kedua kelopak matanya dengan malas saat mendengar ucapan Mikan, "Apa yang ingin kau tunjukkan padaku, idiot. Jangan mengganggu tidurku."

"Natsume. Sudah berapa kali aku katakan padamu. Jangan panggil aku idiot. Aku punya nama, dan namaku adalah Mikan." sanggah Mikan sambil menaikkan volume suaranya.

Dia tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Mikan, dan mengangkat kedua tangannya untuk menutup telinganya, "Kecilkan suaramu idiot. Kau mau membuatku tuli ya?"

"JANGAN PANGGIL AKU IDIOT, NATSUME!" teriak Mikan kesal.

"Terserah padaku, idiot. Ada apa kau membangunkan aku?" tanyanya cuek sambil menatap Mikan.

Mendengar pertanyaannya, Mikan teringat akan tujuan utamanya. Sambil tersenyum lebar, dia menunjukkan beberapa buah-buahan yang ada di tangannya, "Natsume, lihat! Lihat! Apa yang aku temukan!"

"Ada apa dengan buah-buahan ini?" tanyanya bingung.

"Ini untukmu, Natsume." jawab Mikan ceria.

Dia semakin bingung dengan tingkah Mikan yang seperti ini, "Apa maksudmu, Idiot?"

"Aku sama sekali tidak penah mencarikan makanan untukmu, Natsume. Selama ini kaulah yang mencarikan makanan untukku. Karena itu, makanan yang pertama kali kutemukan ini, adalah milikmu, dan kelak aku akan mencari makanan sendiri, kau tidak perlu mencarikan makanan untukku lagi." jelas Mikan panjang lebar sembari memarekan senyum.

"Aku tidak memerlukannya," tolaknya dingin, amarah memenuhi hatinya dengan cepat begitu mendengar ucapan Mikan.

Mikan menggeleng-gelengkan kepalanya, "Tidak, Natsume. Ini untukmu."

"Sudah kukatakan aku tidak mau, Idiot! Aku bisa mencari makanan untuk diriku sendiri, aku sama sekali tidak memerlukan bantuanmu," bentaknya kasar, mengagetkan Mikan.

Mikan sangat terkejut, dia bisa melihat dengan jelas sekali amarah di wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi itu. Mikan sama sekali tidak tahu alasan mengapa dia marah, namun yang paling penting, penolakannya itu membuatnya merasa sangat sedih sekaligus takut.

"M-Maaf… Maafkan aku, Natsume. Aku tidak akan memaksamu lagi…" ujar Mikan sambil menahan air matanya yang mulai jatuh membasahi kedua pipinya.

Wajah marahnya berubah menjadi wajah penuh penyesalan begitu melihat air mata Mikan. Dia segera mengangkat kedua tangannya dan menghapus air mata Mikan dengan lembut. "Jangan menangis, Mikan…"

Mendengar ucapan tersebut, Mikan mengangkat kedua tangan untuk memeluknya dengan erat. Buah-buahan yang berada ditangannya jatuh ke atas tanah dan dia sama sekali tidak mempedulikannya lagi, "M-Maaf, Natsume. Maaf... A-Aku tidak mau terus merepotkanmu, aku hanya mau membantumu mencari makanan. Aku juga ingin berguna bagimu…"

Dia menghela napas begitu mendengar ucapan Mikan. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Mikan dengan lembut, "Kau tidak perlu mencarikan makanan untuk dirimu sendiri dan untukku. Biarkan aku saja yang mencarinya, itu adalah tugasku."

"Tidak, Natsume. Aku juga mau membantumu, aku tidak pernah melakukan apapun untukmu..." balas Mikan sambil melepaskan dirinya dari pelukan Natsume.

"Tidak. Itu adalah tugasku, jangan berebut tugas denganku. Jika kau ingin membantuku, cukup bersihkan tempat tinggal kita setiap hari."

"T-Tapi..."

"Tidak ada tapi, kau mengerti?" tanyanya dengan tajam sambil menaikkan intonasi suaranya.

Mikan sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Iya. Aku mengerti."

Mendengar jawaban Mikan, dia menghela napasnya dan mengangkat kedua tangannya, memeluk gadis tersebut dengan erat, "Bagus, kalau begitu."

Dia tidak ingin Mikan mencari makanan sendiri. Dan dia juga tidak akan pernah mengijinkan Mikan melakukan apapun. Ada alasan dibalik mengapa dia melakukan itu semua. Ia ingin membuat Mikan tergantung padanya, dia ingin Mikan tidak bisa melakukan apapun tanpa dirinya, sebab dengan demikian, dia merasa Mikan tidak akan pernah bisa meninggalkannya, tidak akan dapat hidup tanpa dirinya.

Sama halnya mengapa dia tidak mau Mikan melangkah keluar dari hutan ini ataupun mengapa dia tidak mau membawa Mikan saat mengunjungi pemukiman manusia. Dia tidak ingin Mikan melihat sebuah kota yang ramai, melihat dunia manusia, sebab dia takut Mikan akan lebih memilih dunia manusia daripada dirinya.

Selain itu, dia tidak mengijinkan Mikan menginjakkan kakinya di dunia manusia. Penyebabnya adalah karena dia takut Kuonji akan mengetahui keberadaan Mikan. Dia masih ingat apa yang dikatakan oleh Kuonji dulu.

"Aku akan menemukannya lebih dulu dari kalian semua, aku akan menemukannya dan menjadikannya senjataku. Sama, seperti Sang Kegelapan."

Dia tidak bisa mengijinkan ucapan itu menjadi kenyataan. Dia tidak akan pernah membiarkan Mikan mengalami kehidupan di dalam cengkraman Kuonji, merasakan kehidupan tanpa kebebasan sedikitpun.

"Kau tidak perlu berpikir bahwa kau tidak pernah melakukan apapun untukku, Idiot. Sebab kau sudah melakukan banyak sekali hal untukku." tambahnya lagi dengan pelan.

"Eh? Apa maksudmu, Natsume?" tanya Mikan terkejut sambil mengangkat kepala untuk menatapnya.

Dia tidak menjawab pertanyaan tersebut,dan hanya menunjukkan senyum menyeringai dan kembali membenamkan kepala Mikan pada dadanya. "Kau tidak perlu tahu tentang hal ini."

Tidak pernah melakukan apapun untuknya? Betapa bodohnya Mikan berpikir seperti itu. Tidak tahukah dia apa yang telah ia lakukan untuknya? Dia telah mengusir semua perasaan sakit, menderita, sedih, kedinginan dan kesepian yang membelenggunya sejak dia membuka matanya di dunia ini. Berada di sisinya setiap malam, dia telah mengusir mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Dia telah memberikannya ketenangan, kehangatan dan juga kebahagiaan dalam hidupnya. Hanya berada di sisinya saja, dia telah memberikannya apa yang paling diinginkan lelaki ini dalam keberadaannya.

.OXOXO.

Mikan memang berbeda dengan apa yang tertulis di dalam buku ramalan itu, namun apa yang tertulis dalam buku ramalan tersebut juga tidak sepenuhnya salah. Dia menyadarinya, meskipun Mikan tidak pernah menginjakkan kakinya di dunia manusia, dia tahu keberadaan manusia, dia tahu nama-nama benda yang tidak pernah dilihatnya.

Sang Cahaya akan mengetahui apa yang diketahui Sang Kegelapan, dan hal itu adalah benar. Dia sesungguhnya sangat takut akan kenyataan ini pada saat dia menyadarinya untuk yang pertama kali.

Bagaimana jika Mikan juga tahu akan apa yang telah dia lakukan? Dosanya yang tidak termaafkan itu. Namun, saat dia melihat masih ada banyak sekali hal yang tidak diketahui Mikan, dia bisa bernapas lega. Mikan memang mengetahui banyak hal dengan sendirinya, namun hal yang diketahui Mikan hanyalah seputar hal-hal yang sangat sederhana dan kecil.

Dia hanya bisa kembali bertanya pada dirinya sendiri, apakah dia bisa menjaga rahasia akan siapa mereka yang sesungguhnya untuk selamanya? Apakah dia bisa merahasiakan masa lalunya yang penuh darah dan juga kelam dari diri Mikan untuk selamanya? Namun yang paling penting, dia kembali bertanya pada dirinya sendiri; bolehkah dia berada di sisi Mikan?

"Natsume, lihat dan dengarkan aku menari dan bernyanyi, ya? Aku melakukan ini untukmu..." ujar Mikan yang telah berusia dua belas tahun sambil tersenyum dan melepaskan kain yang menutup mata lawan bicaranya. Dengan langkah kakinya yang kecil, dia berlari ke arahnya, menyanyikan sebait lagu dan menari untuknya yang duduk dibawah pohon sakura dengan penuh senyum.

Dia hanya bisa diam melihat tarian dan mendengar suara nyanyian Mikan dengan mata merah darahnya. Kelopak bunga sakura yang gugur melewati tubuhnya Mikan yang sedang menari, rambut coklat panjangnya yang dimainkan oleh angin, suara nyanyiannya yang luar biasa merdu dan senyum penuh kegembiraan dan kebahagiaan di wajahnya yang cantik.

Dia tidak pernah menemukan kata untuk melukiskannya.

Makhluk tercantik di dunia? Ya, benar, Mikan adalah makhluk tercantik di dunia, karena itu, bolehkah makhluk terkutuk sepertinya berada di sampingnya?

"Natsume..." gumam Mikan yang telah berusia sekitar tiga belas tahun dalam tidurnya sambil tersenyum dalam pelukannya yang erat dibawah pohon sakura.

Kehangatan tubuh Mikan yang menyelimutinya, senyum dan tawa yang diberikan Mikan padanya. Apakah makhluk sepertinya boleh memonopoli ini semua? Masihkah dia diijinkan untuk berbahagia?

"Natsume!" panggil Mikan yang berusia empat belas tahun dengan wajah cemberut.

Membuatnya Mikan kesal, marah dan berwajah cemberut, mempermainkannya, dia suka melakukan itu, sebab dia tahu dibalik wajah kesal, marah dan cemberut itu ada sebuah tawa dan senyum yang paling disukainya. Kekesalan, kemarahan dan wajah cemberut tidak pernah bertahan lama di wajah Mikan, hanya sebentar saja. Dia memiliki hati yang sangat pemaaf. Mikan pasti akan tertawa dan tersenyum, jika dia menyentuhnya atau memeluknya sebagai tanda permintaan maaf akan apa yang telah dilakukannya.

"Natsume." panggil Mikan yang berusia lima belas tahun sambil tertawa.

"Natsume." panggil Mikan yang berusia enam belas tahun sambil tersenyum lebar.

Natsume... Natsume... Natsume…

Suara yang selalu memanggil namanya dengan lembut, suara yang selalu ingin dia dengar, aroma yang ingin selalu dia hirup, wajah yang ingin selalu ia lihat, kehangatan yang selalu ingin dia rasakan.

Tidak tahu sejak kapan semuanya telah berubah. Apa yang paling diinginkannya dulu adalah memiliki Mikan di sisinya, supaya dia tidak merasa sedih, tidak lagi terjerumus dalam penderitaan, kedinginan dan kesepian lagi. Namun, jika ditanya apa yang paling diinginkannya sekarang, dia akan langsung menjawab dengan lantang tanpa keraguan sedikitpun.

Senyum dan tawa Mikan, keselamatan Mikan, kebahagiaan Mikan, itulah yang paling diinginkannya di dunia ini.

Arti Mikan baginya? Apa artinya Mikan yang sesungguhnya baginya? Cahaya matahari dalam kegelapan? Tidak, Mikan lebih dari itu, baginya Mikan lebih dari cahaya matahari dalam kegelapan hidupnya. Dunianya? Bukan, Mikan lebih dari dunianya, dia lebih dari sekadar dunia baginya. Segala-galanya? Juga bukan, Mikan lebih dari segala-galanya baginya. Apa artinya Mikan baginya, dia tidak akan pernah bisa menemukan kata yang tepat untuk melukiskannya, sebab memang tidak ada satupun kata di dunia ini yang bisa menggambarkan arti Mikan baginya.

Demi keselamatan Mikan, ia rela berbuat apa saja. Demi kebahagiaan Mikan, agar Mikan selalu bahagia, tersenyum dan tertawa, dia tidak akan pernah mempedulikan apapun. Apa jadinya dunia ini nanti, dia tidak peduli, apa jadinya dirinya nanti dia pun tidak peduli, sebab yang dia pedulikan di dunia untuk selamanya hanya akan ada satu, yaitu Mikan.

Takdir.

Sepuluh tahun berlalu sejak saat dia pertama kali bertemu dengan Mikan, di mana ia sangka bahwa ia sudah bisa menghindarkan dirinya dan Mikan dari takdir mereka. Hidup bersama Mikan dalam hutan terlarang bagaikan sepotong mimpi baginya. Mimpi bahagia di mana dia tidak ingin terbangun.

Ya, mungkin memang mimpi. Kebersamaannya dengan Mikan mungkin memang mimpi. Namun di dunia ini, tidak ada yang bisa hidup selamanya dalam mimpi.

Pertemuan mereka dengan Ruka dan Hotaru, identitasnya yang diketahui oleh bawahan Kuonji dalam Hutan Terlarang, mereka yang meninggalkan Hutan Terlarang menuju Kota Radiata, Kota Radiata yang diserang, dia yang terpisah dengan Mikan, dia yang mencabut pedang sihir Shire, dia yang kehilangan kendali akan dirinya, pertemuannya kembali dengan Mikan, apa yang terjadi di hutan kabut Islac, identitas Mikan yang mulai dicurigai, mereka yang menuju Kota Lixir, Kota Lixir yang diserang, sosok Mikan yang sebenarnya, dia yang kehilangan kendali akan dirinya, identitas mereka yang diketahui semua orang, Mikan yang sakit, Sang Penjaga Cahaya yang berkhianat dan terakhir, pertukarannya dengan Sang Penjaga Cahaya untuk menyelamatkan Mikan.

Diapun mulai sadar, takdir mereka tidak akan pernah meninggalkan mereka. Takdir akan selalu membelenggu mereka, tidak peduli dengan apa yang mereka bedua lakukan.

Mimpinya akan berakhir, mimpi panjangnya yang bahagia akan segera berakhir. Dia sudah tidak bisa mempertahankan mimpinya lagi.

Mikan.

Dia sudah tidak bisa bersama Mikan lagi. Saatnya telah tiba, dan dia tahu itu. Saat dimana ia dan Mikan harus menunaikan takdir mereka, akan segera tiba. Dia sudah harus membuka matanya sekarang, dia sudah harus terbangun sekarang. Dia sudah harus terbangun dari mimpi panjangnya yang indah, karena mimpinya telah berakhir…

.OXOXO.

"Aku sudah harus menghadapi kenyataan dan takdirku sekarang..." ujar Natsume pelan sambil menatap Yoichi dengan sebuah senyum kecil di wajahnya. Dia terduduk di bawah tanah sambil memegang tubuh Mikan yang tidak sadarkan diri.

Yoichi tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Ia hanya bisa menatap sepasang mata merah darah yang tengah mengamatinya. Mata yang selama ini selalu penuh kepercayaan diri, kini terlihat begitu sedih.

"Jangan beritahu dia apapun, jangan biarkan dia tahu apa yang terjadi, Yoichi." lanjut Natsume lagi.

"Kak Natsume… Apa yang akan terjadi pada Mikan nanti? Dia tidak mungkin bisa hidup tanpa ka-"

"Dia bisa hidup tanpaku." potong Natsume cepat.

Yoichi terdiam mendengar ucapan Natsume. Dengan perlahan, Natsume menolehkan wajahnya untuk menatap Mikan.

"Dia bisa hidup dengan baik saat kami terpisah dulu, karena itu aku tahu, dia pasti bisa hidup tanpaku. Dia selalu berpikir dia tidak bisa hidup tanpaku karena aku selalu membuatnya berpikir seperti itu. Aku selalu berada di sisinya, mengikatnya dan tidak mengijinkannya untuk melakukan apapun, karena aku selalu berpikir; dengan melakukan demikian, aku tidak akan kehilangan dirinya."

Yoichi tidak tahu harus berbuat apa, dan dia hanya bisa berdiri, mematung melihat Natsume dan Mikan.

"Apa yang dikatakan oleh Burung Phoenix dulu dan juga Bear dari hutan kabut Islac benar, 'Lepaskan dia', aku sudah seharusnya melepaskan Mikan sejak dulu, sebab aku tidak pantas untuk berada di sampingnya..."

"Kak Natsume.."

"Jaga dia, Yoichi. Jagalah dia untukku..." pinta Natsume sambil tersenyum tipis menatap Yoichi.

Yoichi tidak bisa mengatakan sepatah katapun lagi, dia hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pelan. Air mata mengalir menuruni pipinya.

Natsume kembali menolehkan kepalanya untuk menatap Mikan yang berada di rangkulannya. Dengan pelan dia memeluk Mikan serat-eratnya untuk merasakan kehangatan tubuh Mikan, membenamkan kepalanya pada rambut Mikan untuk menghirup aromanya sebanyak yang ia bisa. Saat dia melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Mikan yang tidak sadarkan diri dengan berurai air mata. Sambil tersenyum kecil, dia mengangkat tangannya untuk menghapus air matanya.

Dia mengukir semua itu di dalam hatinya. Kehangatannya, aromanya, suaranya, wajahnya. Dia tidak akan pernah melupakan keindahan yang sesaat itu untuk selamanya.

Natsume kemudian menutup matanya dan mencium kening Mikan dengan lembut, "Maaf, karena aku tidak bisa menepati janjiku untuk bersamamu selamanya, tapi aku pasti akan menepati sumpahku untuk menjagamu selamanya. Terima kasih.. Mikan, terima kasih untuk semua yang telah kau berikan padaku, lalu... Lupakanlah aku dari dalam hidupmu... Ini adalah perpisahan yang sesungguhnya, selamat tinggal, selamat tinggal Mikan…"

.OXOXO.

Natsume berjalan memasuki hutan yang letaknya tidak jauh dari Kota Lixir. Dulu saat dia memikirkan akan kehilangan Mikan, tidak bisa berada di sampingnya lagi, dia merasa dia pasti akan kehilangan kendali. Namun, setelah dia meninggalkan Mikan sekarang, dia tidak menjadi dirinya yang dulu dan penuh kegilaan, walau hatiya terasa luar biasa sakit, kosong dan hampa.

Mikan akan hidup, dia pasti tidak apa-apa, sebab semua makhluk yang ada di dunia ini pasti akan mencintainya, dan dengan semua itu, dia pasti akan melupakannya dari dalam hidupnya, dia pasti akan tersenyum dan tertawa lagi.

Berbahagia tanpa kehadirannya.

Membayangkan Mikan akan hidup, bebas dari rasa sakit, tersenyum, tertawa dengan bahagia meski dia tidak bisa berada di sampingnya dan melihatnya lagi, hatinya yang kosong dan hampa terasa hangat. Keputusannya ini adalah benar, dia tidak melakukan kesalahan lagi untuk saat ini.

Yang berada di dalam pikiran Natsume sekarang hanya satu, yaitu cara untuk memenangkan Mikan pada akhir pertarungan mereka nanti. Cara agar Mikan bisa membunuhnya tanpa ragu dan merasa bersalah, agar Mikanlah yang hidup, dan dialah yang mati pada akhirnya.

Langkah kaki Natsume tiba-tiba terhenti saat dia merasakan aura makhluk sihir yang mendekatinya. Aura itu tidak begitu kuat seperti Sang Penjaga Cahaya, namun juga tidak begitu lemah, tapi ada sesuatu yang membuatnya agak ragu dengan aura itu, aura itu mirip dengan auranya.

Dia bisa merasakan aura itu berhenti dan bersembunyi di belakang sebatang pohon di hadapannya.

"Keluar kau!" perintahnya pelan.

Mendengar perintahnya, makhluk sihir itu berjalan keluar dari belakang pohon dengan perlahan. Bulan di atas langit membuat Natsume dapat melihat sosok makhluk sihir tersebut dengan jelas, dan matanya langsung terbelalak saat melihat sosok misterius tersebut.

Seorang gadis kecil berusia sekitar sembilan tahun. Kulitnya berwarna putih, dengan hidung yang elok dan rambut hitam sebahu. Wajah cantiknya mirip sekali dengannya, namun bukan itu yang membuat matanya terbelalak, yang membuatnya terbelalak adalah warna mata gadis kecil itu, warna mata yang sama dengannya, merah darah.

"Aku ditugaskan untuk menjemputmu, Kucing Hitam. Namaku Aoi, dan aku adalah dirimu." ujar gadis kecil itu sambil tersenyum.

.OXOXO.


Well, aku tahu, chapter ini jadi keren, kan? hahahaha kata-kata yang digunakannya keren, kan? Ini semua berkat Giselle jadi jika ada yang mau mengucapkan pujian atau apa, arahkan padanya ya? hahahahaha

Hmmmm =_=" kayaknya chapter ini tidak seperti yang aku duga deh, padahal aku berencana membuat chapter ini jadi selovely-dovey yang aku bisa, tapi tidak tahu mengapa saat mengetiknya, malah rasanya jadi berbeda sekali. Haih..-_-", karena itu aku hanya berharap pembaca tidak kecewa ya, hahahahaha ( tertawa garing ).

Nah, di chapter ini, masa lalu Natsume sudah jelas semua ya? ^^ Sebenarnya dalam fic ini, bagiku tokoh yang sangat rumit itu adalah Natsume. Dia tokoh tersulit untuk digerakkan, pikirannya yang terlampau jauh dan sangat berhati-hati itu selalu membuatku berpikir dan berpikir terus langkah apa yang akan diambilnya dalam menghadapi sesuatu. Karena itu bagiku chapter ini cukup sulit -_-"

Aku ingin bertanya pada pembaca, apakah kalian semua berhasil mendapatkan jawaban akan arti keberadaan Mikan bagi Natsume? Walau aku sama sekali tidak menuliskan satu kata "Cinta" dalam chapter ini, apakah kalian semua bisa menangkap perasaan Natsume sesungguhnya pada Mikan? Setelah membuat fic ini, aku hanya bisa berpikir, perasaan Natsume pada Mikan itu sepertinya tidak berujung ya, Love at the point of no return ( hahahahahahaa ) satu lagi, apakah menurut kalian semua, Natsume pada Mikan adalah love at the first sight? ( hahahaaha ) sebagai authornya sendiri, aku merasa seperti itu loh? Oke deh, cukup kata-kata sok romantisku ini, hahahahaha ^^

Dan KYA! Aoi akhirnya muncul! Hehehehehe, dengan kemunculan Aoi, akhirnya lengkaplah sudah tokoh-tokoh penting dalam fic ini ^^, fic ini akhirnya sudah mulai bisa berjalan memasuki klimaksnya walau masih lama sih =_=", semua orang pasti bertanya-tanya, mengapa ada Aoi? Apa maksud ucapannya? Well, kurasa pembaca yang jeli pasti sudah bisa menebak siapa dia sebenarnya dia itu. Aoi itu salah satu tokoh favoritku, jadi dia pasti akan muncul dalam fic ini dan kasihan Yoichikan, kalau Aoi tidak ada ^^, ya walau aku masih tidak tahu bagaimana perkembangan hubungan mereka berdua nantinya ( hahaahahaha ), tapi pokoknya dalam semua fic-ku, pasangan absolut itu NxM, RxH, PxN, YxA! Banzai! Hidup mereka semua! Oh iya, aku akan menyelipkan sebuah pasangan di luar dugaan dalam fic ini dan kuharap pembaca akan menyukai pasangan itu nantinya, ya kurasa sudah ada beberapa pembaca yang mungkin sudah bisa menebak siapa pasangan di luar dugaan itu ^^ Banzai! Hidup mereka semua! Banzai!

Ps. Jangan pedulikan kataku yang super ngacow di atas, soal aku sekarang lagi Stress abis, bulan Maret 2012 lalu adalah bulan tersial yang pernah aku alami T_T haahahahaahaa ( sudah stadium 4 stress gw ini ) ^^

Terakhir : Perlukah aku menaikkan fic ini dari T ke M? Mohon bantuannya!

Icha Yukina Clyne : Ending fic ini menurutku happy ending karena pada akhirnya NxM pasti akan bersama. Jika aku membuat sad ending, kau bakal protes denganku kan? Hahahaha, Ya aku akui, chapter akhir2 ini agak sedih, tapi jika aku katakan masa-masa kesedihannya baru dimulai saja, kau tidak marah kan? hahhahaha, aku akan berusaha membuat fic ini seseru mungkn deh dan tidak mengecewakanmu ^^

Thi3x : Sudah rate M ya? Uh.. Aku sedang bertanya2 pada pembaca nih, perlu ku naikkan gak ratingnya? hahahhaha -_-" Wah! Kamu bener sekali, setiap kali aku mengetik perubahan Natsume, memang Sasuke yang ada dalam kepalaku ( hahahaha ) obat? Hahahahaha semoga chapter ini bisa memberikan jawaban padamu apa arti sesungguhnya Mikan bagi Natsume ^^, untuk saran lagunya, THX banget ya! ^^ hehehehe memang fic ini masih memiliki banyak rahasia kok, aku sengaja membuatnya seperti itu, soal aku suka membuat pembaca penasaran dan menebak2 sendiri kelanjutannya ^^ dan maaf ya jika chapter ini mungkin tidak seperti yang aku janjikan, aku berencana membuat chapter ini selovely-doveynya, tapi, tidak tahu mengapa saat membuatnya, malah jadi seperti ini, semoga kau tidak kecewa deh -_-, terakhir untuk tata bahasa, aku sudah menyerahkan seluruhnya pada Giselle, semoga dia juga tidak mengecewakanmu ^^

Classico Blu : Ganti nama ya, Non? haahahaha dan uh… Aduh, aku jadi tidak tahu mau mengatakan apalagi deh -_-" setelah kamu mengatakannya, aku baru sadar, ternyata selama ini dalam fic-ku, nasib Natsume itu selalu menyedihkan ya? hahhahaha aku baru sadar loh -_-" untuk BNB akan aku usahakan deh, tapi aku juga tidak janji, dan tahanlah air matamu, jangan nangis, sebab ke depannya fic ini akan jauh lebih sedih lagi ( Ya, kalau aku berhasil membuatnya sesuai dengan apa yang ada di otakku sih -_-" hahahahaha ) eh, sedang berkabung ya? aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi bersemangatlah!

Jimi-Li : hahahahahha bos-ku gak tahu aku membuat fic la, yang tahu hanya teman sekantorku dan reaksi mereka semua adalah, ternyata kau bisa buat novel ya? Gak pernah gw nyangka orang sepertimu ternyata bisa membuat novel.. ( hahahahaha ), suer deh, jika kau ketemu denganku di dunia nyata, kau pasti tidak akan pernah menyangka akulah yang menulis UM dan TODAL, soalnya, image menulis itu sungguh jauh dariku. Tapi jika ada yang berkata seperti itu, aku pasti hanya akan berkata 'Jangan menilai seseorang dari rupanya ya!' hahahaha Ya, semoga UM suatu hari nanti benar2 bisa menjadi sebuah novel ^^, dan Thx baget krn sudah begitu menyukai fic-ku sampai mempromosikannya, aku senang banget ^^ hahahaha, ya, akan aku sampaikan pada Giselle kok^^ dan semoga chapter ini tidak mengecewakanmu deh^^ See ya!

Kiera : HAHAHAHAHAHAHAHA! tahu tidak, aku langsung tertawa terbahak-bahak saat membaca reviewmu, reviewmu benar-benar membuatku kelihatan seperti orang gila hahahahhaha, datang rumah? sakit perutku hahahahaha. Sudah deh.. Hahahaha…^^ Berapa lama NxM akan terpisah? Mereka masih akan bertemu kok, walau bertemunya sudah pasti berada di pihak yang berlawanan dan untuk benar2 bersama lagi, ya.. Mungkin masih membutuhkan waktu ^^, dan maaf ya, chapter2 berikutnya mungkin akan bertambah sedih, tapi biarpun sedih, aku akan berusaha untuk membuat fic ini jadi seindah mungkin, kuharap kau akan mengerti maksudku seiring cerita ini berlanjut ^^

Kin No Tsubasa : Benar sih, jadi orang yang kesepian itu tidak enak, aku menuliskan itu semua dalam fic-ku. Namun, anehnya di dunia nyata, aku ini termasuk orang yang suka menyendiri loh! ( hahahahaha ), aku suka menghabiskan waktu sendirian dengan menghayal yang tidak-tidak, dan khayalan itu kemudian kutuangkan jadi fic ( hahahaha ), aku suka sendirian karena di saat itulah aku baru bisa, fokus dan mengetik fic dengan konsentrasi penuh ^^, coba kau tanya saja sama Giselle, mana tahu dia bersedia menjadi beta readermu juga ^^ hahahaha, panjang pendek chapter sebuah fic memang susah dipredeksi, aku tahu bener itu -_-" Dan, hahahahaha, terima kasih karena kau menganggap fic-ku ini keren dan membuat pembaca bia merasakan emosi tokohnya, aku tidak bisa memberian banyak saran untuk memuatnya, sebab saat aku mengetik, tangan dan pikiranku itu selalu bergerak dengan sendirinya untuk menyusun kata dan jalan ceritanya. Hm.. mungkin saranku hanya satu, biarkan semuanya mengalir, biarkanlah apa yang ada dalam otakmu mengalir ( Aku sendiri juga sesungguhnya susah menjelaskannya -_-" ) Sadis? hahaha apa boleh buat? Aku membutuhkan Natsume yang sadis dalam fic ini dan ya, benar sekali aku suka membuat tokoh utama dalam fic-ku itu menderita ( hahahaha^^) terakhir maaf ya.. Sesungguhnya penderitaan Natsume baru saja akan dimulai, hahhahaha ( tertawa garing -_-" )

XxRuuxx : Benarkah? Syukurlah, semoga chapter ini juga tidak mengecewakamu^^ Ya, aku akan berusaha untuk update secepatnya lagi deh ^^ See ya!

Airin : Thx untuk pujiannya ^^ hahahaha, memang sih, fic ini memang sudah panjang banget, aku sebebnarnya juga binggung melihatnya sebab tidak pernah aku menyangka fic ini bakal sepanjang ini -_-" Untuk PxN, mereka punya jalan cerita tersendiri kok dalam fic ini, soal mereka itu juga merupakan pasangan favo-ku ^^ , tentang NxM, maaf karena mereka harus berpisah, sebab menurutku fic ini baru akan terasa seru dan indah dengan adanya perpisahan seperti itu, kuharap kau akan mengerti maksudku di chapter2 berikutnya nanti ^^ Oh, iya, sampaikan pada temanmu yang membaca fic ini 'Terima kasih karena sudah bersedia membaca fic-ku yang ngawur, ajaib dan sanagt panjang ini' ^^ , ya akan aku sampaikan salammu pada bos-ku ( hahahahaha ^^ )

Ethel Star : hahahaha senang banget dan thx bgt yak arena menyukai fic2ku yang selalu aneh dan ajaib ini ^^ mengenai The Pray, aku pasti akan melanjutkannya setelah TODAL tamat dan untuk BNB, aku akan berusaha untuk men-updatenya bulan ini ^^ wah.. aku jadi malu ni membaca pujianmu itu, namun aku benar-benar senang karena ternyata fic2ku ini dapat menghiburmu ^^ See ya!

Che. : thax bgt karena telah menyukai fic-ku ini dan meriviewnya, aku senang sekali ^^

Gyn Rinko : Thx sudah add favo fic-ficku ^^ semoga ficku ini tidak mengecewakanmu ^^