Waiting for Eunhae, D-198 (Hyukjae), D-200 (Donghae)

Title : Love?

A.I : AU, Fluff, K

.

a/n : again, please read the author note at the end!

.

.

'Love?'

.

.

Author's POV

"…Belakangan ini, aku terus memikirkan sesuatu."

Donghae mengangkat sebelah alisnya, meski ia tahu bahwa Hyukjae tidak akan bisa melihatnya karena posisi mereka yang sekarang tengah duduk dalam posisi punggung saling beradu. Donghae merasakan, bukan melihat, bagaimana rumput hijau di sekitar mereka bergoyang pelan karena tiupan angina lembut. Mereka sekarang sedang berada di tempat spesial itu, di taman bunga rahasia dibalik pepohonan dekat tempat bermain anak-anak yang mereka temukan ketika mereka masih kecil dulu. Tempat tersebut selalu terasa menenangkan dan hangat.

"Tumben kau menyempatkan diri untuk berpikir," ujar Donghae dengan nada candaan.

Hyukjae mendengus. "Kau mencuri kalimatku."

"Balas dendam itu menyenangkan."

"Ne. Sekarang diamlah dan cobalah bersikap seperti sahabat baikku yang seharusnya." Setelah berujar demikian, Hyukjae berdeham dan mengulangi kalimatnya sebelumnya dengan sedikit lebih dramatis. "Belakangan ini, aku terus memikirkan sesuatu."

Donghae memutar bola matanya, namun tersenyum dan memutuskan untuk menuruti permainan Hyukjae. "Tentang apa?"

Sebenarnya Hyukjae ingin memprotes karena respon yang terdengar setengah hati tersebut, tapi akhirnya memutuskan bahwa itu cukup baik untuk sekarang. "Aku tengah memikirkan… Kehidupanku secara keseluruhan."

"Hmm?"

"Akhir-akhir ini aku sering merasa… kosong," suara Hyukjae terdengar seperti bisikan.

Donghae terdiam untuk sesaat, sebelum bersandar lebih dekat kearah Hyukjae. Hyukjae menghela napas puas merasakan kehangatannya tersebut, rambut silvernya bergerak pelan saat ia bergelung mendekat. "Apa kau sedang ada masalah?" Semua nada bercanda telah hilang dan digantikan dengan nada kecemasan yang tulus. "Apa kau sedang merasa tertekan di kampus?"

Hyukjae tersenyum mendengar nada kekhawatiran itu, merasa cukup tersentuh. "Ani, bukan itu. Aku baik-baik saja, kurasa."

"Lantas ada apa?" Donghae kembali bertanya.

Hyukjae dapat merasakan Donghae bergerak dari posisinya, mungkin berusaha untuk melihatnya lebih baik. Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada masalah di kampus, kurasa. Selain beban tes setiap dua minggu sekali, tapi semua berjalan lancar. Aku juga berhasil mendapat nilai yang cukup memuaskan."

"Aku tahu seharusnya aku tidak perlu khawatir. Secara mengejutkan, kau adalah seorang calon dokter yang sangat pintar."

Itu adalah sebuah pujian, dan Hyukjae tahu itu. Ia kembali tersenyum. "Hanya saja…" Hyukjae menghela napasnya. "Akhir-akhir ini aku merasa… Hmm, bagaimana menyebutnya. Existential crisis?"

Donghae mengedikkan bahunya. "Tidakkah kita merasakan itu kebanyakan waktu?"

"Memang, tapi…" Hyukjae menutup matanya. "Akhir-akhir ini aku merasa sungguh kosong. Seperti, ketika aku melihat teman-temanku menghabiskan waktunya dengan yeojachingu atau namjachingu mereka…"

"Ah, kau hanya kekurangan cinta," Donghae terkekeh.

"Tidak, bukan itu," sangkal Hyukjae. "Kau tahu aku sedang rehat dari mencari hubungan. Semua kejadian menaksir-orang-yang-tak-terjangkau itu sudah cukup untuk sekarang."

"Sekarang kau hanya bersikap pesimis."

"Tidak," Hyukjae kembali menyangkal. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mungkin karena aku memang kurang dalam hal wajah-"

"Hyukjae," potong Donghae, membuatnya terdiam mendengar nada tegas di dalamnya. "Kita tidak membicarakan hal ini lagi. Sudah kukatakan itu hanyalah perasaan minder tak berdasar."

"Tapi itu benar adanya."

"Itu tidak benar." Donghae menghela napas. Ia bersandar lebih lagi pada Hyukjae, lengannya mengusap lengan Hyukjae dengan gesture yang menenangkan. "Baiklah mungkin kau memang tak setampan, mari kita katakan, Choi Siwon, jika berpikir secara stereotype. Tapi itu tidak berarti kau tidak tampan, bukan begitu?" Kemudian Donghae menambahkan dengan sedikit candaan. "Dan seperti yang Kyuhyun selalu katakan, 'tampan itu relative, tapi jelek itu-'"

"Mutlak," Hyukjae menyelesaikan dengan tawa pelan, mengingat perkataan 'bijak' itu dengan baik.

"Dan yang pasti kau sama sekali tidak jelek," Donghae mengakhirinya dengan senyuman yang menunjukkan gigi gingsulnya.

"Kau terlalu subjektif," Hyukjae terkekeh. "Tapi terimakasih. Kau selalu bisa menghapus segala rasa minderku."

"Dengan senang hati," Donghae berbisik tulus.

Hyukjae terdiam sejenak. "Tapi sungguh, belakangan ini aku sedikit terlalu banyak menaksir orang namun kemudian tidak terbalas."

Donghae menggumam dan memejamkan matanya, menikmati semilir angin yang berhembus melalui helaian rambut brunettenya. Kemudian ia kembali membuka matanya dan menatap lurus kearah langit biru di atas mereka. "Kau tahu… Sebenarnya itu cukup masuk akal."

Kali ini, Hyukjaelah yang merasa bingung. "Eh?"

"Sebutannya. Menaksir seseorang sering disebut dengan 'crush', dan rasanya hampir selalu sakit di akhirnya seolah seseorang menghancurkanmu." Donghae mengangguk seolah menyetujui teori tersebut. "Mungkin itulah alasannya perasaan ini disebut 'fall in love', atau jatuh cinta. Karena kita tidak punya kontrol atasnya, dan memang akan terasa sakit. Karena itulah disebut sebagai jatuh."

Hyukjae mengangguk. "Sepertinya aku mengerti maksudmu."

"Kau tidak akan bisa menolong dirimu sendiri untuk tidak terjatuh dan merasa sakit. Itu terdengar sedikit ironis." Donghae tersenyum pahit.

Hyukjae tersenyum, namun terlihat jauh lebih optimis. "Yah, tapi tidak akan terasa sakit jika kau jatuh untuk orang yang tepat, karena orang itu akan ada untuk menangkapmu."

"Mungkin begitu. Karenanya, kau mungkin hanya belum menemukan orang yang tepat, Hyukjae."

Sekali lagi, Hyukjae mengangguk. Keheningan yang nyaman melingkupi keduanya sekali lagi. Namun sekarang mereka sama-sama terlarut dalam pemikiran masing-masing. Dengan mata terpejam, punggung masih saling beradu dan kedua kaki terselonjor kedepan.

"Hei, Donghae?" mulai Hyukjae memecah keheningan.

"Ya?"

"Bagaimana kau membedakan perasaan cinta?"

Donghae membuka matanya, wajahnya sekali lagi mengekspresikan kebingungan. "Apa maksudmu?"

"Hmm, jadi sebenarnya apa itu perasaan cinta?"

"Tidakkah kau pernah menjalin hubungan sebanyak tiga kali sebelumnya? Dan kau masih bertanya padaku apa itu cinta?" Donghae beralasan.

"Jawab saja pertanyaanku. Kau sendiri punya satu mantan pacar. Bagaimana kau tahu bahwa kau mencintainya dulu?"

"Tentu saja aku tahu. Aku-" Donghae berhenti, benaknya tiba-tiba terasa kosong.

Hyukjae sepertinya menyadari keraguannya, dan menggunakan kesempatan itu untuk melanjutkan pertanyaannya. "Jika kau harus memilih antara mantan pacarmu itu dengan teman-teman mu, sebut saja Kyuhyun, Sungmin, dan aku, manakah yang akan kau pilih?"

"Kalian bertiga," jawab Donghae langsung tanpa sedikitpun keraguan. Tapi kesadaran itu segera membuatnya terhenyak.

Hyukjae ikut membuka matanya, namun tidak menatap benda tertentu. "Kata orang, cinta adalah ketika kau lebih memilih orang tersebut dibandingkan teman terdekatmu."

"Apa kau sedang berusaha mengatakan bahwa aku tidak mencintai mantan pacarku?" Pertanyaan tersebut lebih terdengar seperti Donghae sedang bertanya pada dirinya sendiri dan bukan Hyukjae. Hyukjae tidak menjawabnya, tapi Donghae seolah sudah mendapat jawabannya.

"Terkadang, orang salah mengira antara cinta dan perasaan nyaman. Karena kau terbiasa dengan kenyamanan tersebut, kau merasakan sesuatu yang seolah adalah kepuasan," jelas Hyukjae. "Atau terkadang, daya tarik sesaat. Lebih sering lagi, campuran antara keduanya."

Donghae tidak bisa untuk tidak setuju. "Baiklah. Kalau begitu, apa itu cinta yang sesungguhnya?"

Hyukjae mengedikkan bahunya. "Jika perasaan itu adalah ketika kita mengasihi seseorang dengan dalam dan tulus, hingga ingin membuat orang itu selalu merasa senang dan tidak sedih, atau ingin menunjukkan kasih sayang… Ditambah dengan tidak ada tujuan egois ataupun keinginan untuk membebani orang tersebut maka…"

Hyukjae tak pernah menyelesaikan kalimatnya.

Meski begitu Donghae tahu apa yang tengah ia pikirkan.

Donghae merasakan tangan kanan Hyukjae yang tergeletak di sisi tubuhnya yang sedikit bergerak mendekat, dan kemudian Donghae meletakkan tangannya di samping tangan Hyukjae. "Aku juga merasakan hal yang sama." Itu adalah sebuah bisikan yang pelan, namun Hyukjae mendengarnya.

"Tapi disitulah pertanyaannya. Kau mengukur perasaan cinta dengan membandingkan orang tersebut dengan teman-teman terdekatmu. Lantas bagaimana jika orang tersebut adalah teman terdekatku disaat yang sama?" Itu bukanlah sebuah pertanyaan yang ia utarakan karena ia menginginkan sebuah jawaban, namun Hyukjae hanya ingin mengungkapkan apa yang menjadi dilemanya beberapa hari belakangan ini.

Donghae tersenyum. "Kalau begitu, gunakan cara lain untuk mengukurnya."

"Bagaimana?"

"Coba bayangkan seseorang yang ingin kau peluk dengan hangat diatas sebuah sofa, ketika sedang menonton televisi dan tak melakukan hal lain. Acara yang sedang berputar sangatlah membosankan, tapi meski begitu kau merasa puas dan bahagia."

Hyukjae ikut tersenyum. "Sepertinya, aku cukup mengerti apa itu cinta sekarang."

"Iyakah?"

"Ya. Aku hanya punya satu lagi pertanyaan."

"Silahkan."

"Apakau kau akan menangkap jatuhku?"

Donghae tak menjawabnya.

Tapi jemari mereka yang kini tertaut merupakan jawaban yang cukup untuk Hyukjae.

.

.

.

.


Kabar terbaru soal cerita 'Snow Drops'ku, akhirnya akan dipublish dalam bentuk fanbook! Semua info beserta pre-ordernya dapat dilihat di wordpressku, atau link berikut ini:

sunrifanfictions.#wordpress.#com/2016/12/26/my-first-fanbook-snow-drops/

(hilangkan #)

Selain itu juga sudah disebarkan di twitterku dan akun-akun sosmed Joy Redaction :D


.

Maaf karena sebulan ini tidak update, aku sedang rodi untuk 'Snow Drops' itu lol. Sehingga tidak sempat menulis. Inipun sebenarnya drabble lama yang pernah ku post di twitter jaman dahulu dalam bahasa inggris. Meski sekarang sepertinya sudah tenggelam entah dimana… Untuk pembicaraan lengkap mengenai asal mula bagaimana fanfictionku itu bisa menjadi fanbook, ada di wordpressku juga.

Funfact, sebagian besar isi pembicaraan ini adalah pembicaraan dengan sahabatku fishy, who now as you know is my boyfriend. Tapi unlike this drabble, we didn't get together immediately like that lol.

.


Sek bales review, sekalian yang drabble terakhir!

elfishy09 : maaf malah jadi lama updatenya karena perubahan rencana ;_; gandengan tapi ga gandengan itu gimana ya… kkkk. nanti akan kucoba selipkan di yang berikutnya kalau semua kerjaan udah kelar ya! :D

SERRA : sekali muncul banyak ya kkkk. gomawo! Ah dan untuk info soal fanbooknya sudah ku post, maaf menunggu, jeongmal gomawo! Sayangnya ngga bisa dari toko buku, tapi semua info pemesanan ada di wordpress itu :D

Alvieramarisha : yes MKG! I live practically a road away from MKG kkk. Hayoooloh jangan" iya kita sering ketemu tanpa sadar. Thank you! And I will! :D

reni. t : eh? Entahlah tapi kan aku memang spesialis fluff kkk. Yang dua belas itu belum di post karena masih berantakan banget. Kebetulan aja aku kemarin abis sakit, lalu kamu saranin antrian bisa digabung jadi idenya hehe. *Peluuuuk! Thank you juga udah support terus. Untuk sekarang versi cetak masih, ebooknya belum. IB kayaknya gakujadiin buku… aku kurang puas entah kenapa sama cerita itu sekarang kkk. Untuk sementara karena aku belum sempet nulis ini drabble lain dulu, tapi mungkin nanti balik lagi ke story line yang kemarin. Sekali lagi gomawo! Review mu selalu bikin semangat! :D

eunhaeboo : yah apa yang salah dari nyari gratisan wifi kkk. Iya lagi sibuk ngurus fanbooknya. Ngga kooook aku kan masih polos :3 (bohong kkk)

eunhaehyuk : terkadang sulit berpikir positif ketika lagi sial memang kkkk. semoga suka yang ini~

elpeuuuuuu : wets tatapan menghanyutkan ya XD . sek tabung dulu idenya hehe

hara97 : iyaaa hehe. Untuk sekarang yang 'Snow Drops' sudah release. Makasih :D

Yuyu arxlnn : yay syukurlah kalau suka hehe. Hope you enjoy this one too!

ikan : karena dia deg-degan karena Hyukjae kkkk. thank youuu


Thanks for the support guys! Sampai bertemu drabble berikut~ Please leave a review ^^