Pelataran Istana.
Bi Dam dan Deok Man berjalan berdampingan melewati pelataran Istana. DUG. Deok Man menghentikan langkahnya "Ya Tuhan..kenapa rasa sakit ini kembali lagi.." pikirnya sambil memegang dadanya. Peluhnya bercucuran dari wajahnya. Bi Dam melihatnya segera menghentikan langkahnya dan menatap istrinya "keringatmu bercucuran..kau baik-baik saja Deok Man?apa kau kelelahan?aku akan mengantarmu pulang.." tanyanya khawatir sambil berusaha memapahnya. Deok Man menggelengkan kepala menolaknya "aku baik-baik saja..mungkin karena pengaruh panasnya cuaca.." Setelah meyakinkan suaminya bahwa ia baik-baik saja, Deok Man meminta Bi Dam untuk berjalan kembali. Baru berjalan beberapa langkah, Ia merasakan napasnya semakin sesak. Langkahnya terhenti lalu memegang dadanya sebelah kiri. Napasnya tersenggal-senggal menahan sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya itu.
"Deok Man? wajahmu pucat sekali..kali ini aku akan benar-benar mengantarmu pulang dan memanggil tabib.."ujar Bi Dam menatap wajah Deok Man khawatir. Sangat khawatir. Deok Man menggelengkan kepalanya tersenyum lemah "ya mungkin aku agak sedikit kelelahan..tapi aku baik-ba.." "DEOKMAN" seru Bi Dam sambil menahan tubuh istrinya yang tiba-tiba jatuh pingsan kemudian menggendongnya.
siang . Kamar Putri Deok Man
Bi Dam duduk di sisi tempat tidur, memandangi wajah Deok Man yang masih belum sadar sambil menggenggam tangan istrinya itu kemudian menyalahkan dirinya karena tidak menyadari kondisi istrinya. "sraak" terdengar suara pintu digeser. Bi Dam menoleh. Tabib Han Hye Jin berjalan cepat-cepat memasuki kamar Deok Man. Ia terkejut melihat Bi Dam menatap ke arahnya. "aku bukan hantu, Tabib Han Hye Jin..aku masih hidup"ujar Bi Dam. "maafkan saya Tuan Perdana Menteri.."Han Hye Jin menunduk memberi hormat dan kembali fokus pada pasiennya. "apa yang terjadi Tuan Perdana Menteri?" kemudian ia segera memeriksa Deok Man. "tadi kami sedang berjalan..tiba-tiba ia memegang dadanya..wajahnya menjadi pucat..lalu pingsan..apakah ia dan bayi kami baik-baik saja?"jawab Bi Dam. "memegang dadanya?maaf tapi dada yang sebelah mana?" tanya Han Hye Jin sambil memeriksa denyut nadinya "denyutnya lemah sekali.." "kiri..apakah ia sakit?ini semua salahku..harusnya aku segera mengantarnya pulang beristirahat tadi.." Bi Dam menyalahkan dirinya. "kiri?" Kemudian ia segera mengeluarkan peralatan akupunturnya dan memasang jarum-jarum akupuntur di telapak kaki kiri Deok Man. Perlahan mata Deok Man mulai membuka "Bi Dam?" panggilnya lemah. Bi Dam segera menggenggam tangan Deok Man erat-erat "ya..aku di sini Deok Man..tabib Han Hye Jin sedang memeriksamu" "maaf Tuan Putri, apakah dada kiri anda tadi merasa sesak atau terhimpit?" Deok Man mengangguk lemah "apakah bayiku baik-baik saja?tolong periksa dia dulu.." Han Hye Jin segera memeriksa perut Deok Man dengan kedua tangannya. Tiba-tiba matanya terbelalak. "kau juga merasakannya?" tanya Deok Man. Han Hye Jin mengangguk. Ia masih kaget dengan apa yang dirasakan kedua telapak tangannya tadi "astaga jangan-jangan bayinya..." gumamnya "ada apa dengan bayinya?ia baik-baik saja bukan?"sergah Bi Dam. "kembar?.."tanya Deok Man. Han Hye Jin mengangguk. Air mata mengalir membasahi pipi Deok Man. Ia mengusap perutnya lalu menatap Bi Dam yang masih kebingungan "sudah kuduga..anak kita kembar Bi Dam.." "kembar?maksudmu kita akan memiliki 2 bayi?"
Deok Man tersenyum mengangguk "belum lama ini aku merasakan 2 tendangan bersamaan di tempat yang berbeda ..ku kira itu hanya perasaanku saja karena setelahnya aku tidak merasakannya lagi..tapi ternyata tadi bukan hanya aku yang merasakan hal itu.." Deok Man menarik tangan Bi Dam dan meletakkannya di atas perutnya "anak kita kembar.."gumam Bi Dam sambil mengusap perut istrinya. Tatapan matanya penuh dengan kebahagiaan yang membuncah. Deok Man tersenyum Man menatap Han Hye Jin. Tampak kekhawatiran di wajah tabibnya itu. "Han Hye Jin?"panggil Deok Man. "maafkan saya Tuan Putri jika saya lalai dalam menyadari hal ini tapi saya sungguh tidak pernah merasakan kehadiran 1 bayi lagi..maafkan saya.." Han Hye Jin membungkukan badannya "tak apa-apa..aku sendiri juga baru menyadarinya sekarang..mereka baik-baik saja bukan?" Han Hye Jin mengangguk "syukurlah.."gumam Deok Man sambil mengusap perutnya "apakah Tuan Putri pernah jatuh pingsan sebelum oleh penyebab yang sama?" Deok Man mengangguk. Ia ingat ia pernah jatuh pingsan karena hal yang sama ketika ia sedang menghadapi pemberontakan Yeom Jong dan bangsawan lain. "tapi itu sudah lama sekali..hampir setahun yang lalu..dan aku sudah meminta tabib istana membuatkan obat untukku sekali itu dan setelahnya aku tak pernah mengalaminya lagi..apakah itu berpengaruh?" Bi Dam menoleh menatap Deok Man "kau pernah jatuh sakit, Deok Man?aku tak pernah mendengarnya..apa jangan-jangan ini sama dengan yang kau alami waktu itu..waktu kau mencegahku memanggil tabib?" Deok Man tersenyum lemah menggelengkan kepalanya. "waktu itu kau sedang tidak di Istana, Bi Dam..memang hanya sedikit yang tahu karena aku meminta tabib istana untuk tidak memberitahukan siapa-siapa.." "apakah tabib Istana mengatakan sesuatu tentang penyebab Tuan Putri pingsan?"tanya Han Hye Jin "ya..ia bilang aku kondisiku cukup parah..dan itu membuatku pingsan ditambah lagi aku terlalu lelah dan..stress.." Bi Dam terkejut mendengarnya "kondisimu cukup par..".." "tapi aku sudah meminta tabib memberiku obat.. dan itu tidak pernah kambuh lagi.." potong Deok Man untuk menenangkan Bi Dam. Bi Dam memukul keningnya kesal "kemana aku saat itu sampai aku tidak tahu.." "hanya itu saja Tuan Putri?apakah tabib tidak mengatakan apa penyebabnya?atau dimana letaknya?"tanya Han Hye Jin. Deok Man menggelengkan kepalanya "tabib ingin memeriksaku lebih lanjut namun aku menolaknya..lagipula setelahnya itu tak pernah kambuh lagi..aku merasa sudah sembuh..apakah itu berpengaruh?" Dengan berat hati, Han Hye Jin menyampaikan hasil analisisnya "dengan berat hati saya harus menyampaikan bahwa Tuan Putri mengalami penyumbatan pada pembuluh darah di jantungnya..itulah yang menyebabkan Tuan Putri jatuh pingsan hari ini dan waktu itu.." Bi Dam sangat shock mendengarnya. "a..apakah itu berpengaruh bagi bayi-bayiku?apakah mereka tidak bisa lahir dengan selamat?"tanya Deok Man gemetar. "yang saya khawatirkan adalah kondisi Tuan Putri.. Kehamilan dan melahirkan seorang bayi adalah proses yang cukup panjang dan melelahkan..itu membuat jantung harus bekerja lebih keras namun karena ada penyumbatan, aliran darahnya mengalami gangguan dan ini bisa membahayakan nyawa Tuan Putri..beruntung selama masa kehamilan ini tak ada masalah..namun saat melahirkan nanti..apalagi melahirkan bayi kembar..itu membuat tubuh Tuan Putri bekerja sangat keras..dan itu harus didukung oleh kinerja jantung yang prima untuk melaluinya" "tapi pasti ada cara untuk mengobatinya bukan?" tanya Bi Dam frustasi sambil menggenggam erat tangan Deok Man. Kesedihan merudungi wajahnya. "ya..dunia pengobatan Tang berhasil menemukan cara untuk..untuk mengobatinya..menggabungkan akupuntur dan ramuan herbal..namun itu membutuhkan waktu paling cepat 6 bulan-1 tahun..namun metode ini belum pernah diterapkan pada ibu hamil..tapi saya akan berusaha agar Tuan Putri bisa melahirkan dengan selamat.." "tolong usahakan agar bayi-bayiku bisa lahir dengan selamat.. itu yang paling penting.."ujar Deok Man. Han Hye Jin mengangguk "saya akan membuat racikan obat untuk menguatkan tubuh dan jantung Tuan Putri agar prima selama kehamilan ini dan saat melahirkan nanti.." Deok Man tersenyum "terima kasih tabib Han Hye Jin.. kupercayakan semuanya padamu..aku ingin kau yang menangani kelahiran bayi-bayiku.." Han Hye Jin berdiri menundukkan kepalanya "suatu kehormatan bagi saya untuk bisa membantu Tuan Putri.. saya akan berusaha semaksimal mungkin..dan Tuan Putri sendiri harus menjaga diri..jangan sampai kelelahan apalagi stress.." Deok Man tersenyum mengangguk. Han Hye Jin menunduk memberi hormat "saya permisi dulu Tuan Putri..maaf Tuan Perdana Menteri bisakah kita bicara berdua sebentar di luar..ada yang ingin saya bicarakan mengenai bahan-bahan obat untuk Tuan Putri.." "tentu.." Bi Dam segera beranjak bangun dari sisi Deok Man. Tangan Deok Man menarik lengan pakaian Bi Dam "kalian bisa membicarakan itu di sini.." Bi Dam tersenyum "kau harus istirahat Deok Man jadi kami akan bicara di luar..aku akan segera kembali.." Bi Dam kembali duduk, menggenggam tangan Deok Man sambil menepuk-nepuk lembut dada Deok Man "tidurlah Deok Man.." Deok Man tersenyum lalu mulai menutup matanya dan tertidur.
Setelah Deok Man tertidur lelap, Bi Dam dan Han Hye Jin berjalan keluar ruangan. "katakan yang sebenarnya.." ujar Bi Dam "maafkan saya Tuan Perdana Menteri.." Han Hye Jin menundukkan kepalanya dalam-dalam. "sebenarnya belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit Tuan Putri..hanya saja orang-orang Dinasti Tang menggunakan itu dalam mengobati para penderita penyakit ini selama bertahun-tahun..namun hasilnya belum diketahui secara pasti...apakah penderitanya sembuh atau tidak.." Bi Dam sangat shock mendengarnya. Matanya nampak berkaca-kaca menerima pukulan yang luar biasa menghujam dadanya. "tidak mungkin..Deokman.." gumamnya tercekat. Air matanya pun jatuh. "besarkah kemungkinannya untuk bertahan hidup?" tanya Bi Dam dengan nada putus asa. "saya tidak bisa memprediksikan kemungkinannya..penyakit ini bisa menyerang kapan saja..akan tetapi.. jika bisa bertahan sampai waktu kelahiran tiba, di atas kertas, ada peluang namun kecil karena melahirkan akan membuat jantung bekerja sangat keras apalagi ini adalah kelahiran bayi kembar..meskipun begitu saya akan berusaha menyembuhkan Tuan Putri semaksimal mungkin tanpa mengganggu kesehatan bayi-bayinya" "tolong usahakan semaksimal mungkin agar istriku dan anak-anakku selamat.. aku sangat memohon padamu.."ujar Bi Dam sambil memegang kedua tangan Han Hye Jin dan memohon kepadanya. Nampak air mata kesedihan tertahan di kedua matanya. "saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan Perdana Menteri.." Lalu ia mengeluarkan secarik kertas berisi bahan-bahan obat yang ia perlukan lalu memberikannya kepada Bi Dam "saya membutuhkan bahan-bahan langka ini untuk membuat obat dan kebun tanaman obat Istana memilikinya..namun saya membutuhkan surat izin Tuan, untuk bisa mengambilnya.." "aku akan segera membuatnya..nanti akan kuberitahu pengawasnya..dan adakah hal lain yang bisa kulakukan untuknya?agar penyakitnya tidak kambuh?" tanya Bi Dam. Wajahnya sangat memelas. Sangat berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk istrinya. "usahakan agar Tuan Putri jangan sampai kelelahan apalagi stress..jaga pola makan dan istirahatnya.." jawab Han Hye Jin. Bi Dam mengangguk mengerti. "baiklah..saya permisi dulu Tuan Perdana Menteri..saya harus mempelajari lebih dalam metode pengobatan Tang..jika ada apa-apa panggil saya..saya akan selalu siaga.." Han Hye Jin menunduk memberi hormat. Bi Dam mengangguk "terima kasih tabib Han Hye Jin.." Lalu Han Hye Jin berjalan meninggalkan Bi Dam. "ya Tuhan kenapa ini terjadi pada Deok Man.." gumam Bi Dam sedih sambil meninju dinding. "Perdana Menteri Bi Dam" Bi Dam menoleh. Ternyata Permaisuri yang memanggilnya, ditemani Raja dan Alcheon. Bi Dam segera menunduk memberi hormat. "apa yang terjadi pada Putri Deok Man?"tanya Raja "Putri Deok Man baik-baik saja kan?"tanya Permaisuri. Bi Dam mengangguk dengan pandangan kosong "ya..dan Tuan Putri saat ini sedang beristirahat di kamarnya.." "tatap aku Bi Dam..katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya.."sergah Raja. Bi Dam menoleh menatap Raja, Permaisuri, dan Alcheon. Mereka semua nampak khawatir. Lalu Bi Dam mulai menceritakan semuanya. Alcheon, Raja, dan Permaisuri terkejut mendengarnya. "Pu..Putri Deok Man menderita gangguan jantung?" Mata Permaisuri berkaca-kaca begitu mendengarnya. "apakah tak ada metode pengobatan lain?"tanya Raja. Bi Dam menggelengkan kepalanya. Lalu Bi Dam menoleh ke arah Alcheon "Alcheon, kau tahu kapan Tuan Putri pernah jatuh pingsan dan sakit seperti ini sebelum beliau turun takhta?" Alcheon terdiam. Tentu, ia masih mengingat kejadian itu dan waktu itu Deok Man memintanya merahasiakan ini. "jawab aku Alcheon..ini perintah kerajaan.."ujar Bi Dam. "apakah Yang Mulia tahu?"tanya Permaisuri pada Raja. "aku sendiri juga baru tahu kalau Ratu pernah jatuh sakit.."jawab Raja.
Dengan enggan, Alcheon menjawabnya "saat itu..Yang Mulia Ratu sedang menghadapi masalah pemberontakan Yeom Jong dan bangsawan lain..dan Tuan Perdana Menteri sedang tidak berada di sana..kondisi Yang Mulia Ratu saat itu sangat mengkhawatirkan... " Mata Bi Dam terbelalak mendengarnya "aku..ternyata ulahkulah yang membuatnya jatuh sakit.." pikirnya.
