Warning : T rate, OC, banyak tokoh minor Naruto, chara death.
Genres : Action/Adventure/Romance/Friendship/Humor/Angst/Tragedy.
Pairing : SasoSaku/KaoMa/ReiSasa (yang lain menyusul).
Disclaimer : Semua tokoh Naruto milik Masashi Kishimoto (kecuali OC).
This Story belong to Riyuki18.
Dedicate to all reader, please enjoy it!
.
Neverland Side Story
Chapter 34
(Highway Road!)
.
.
Kaoru yang sedang berusaha untuk mengejar Marie yang masih belum menyadari kalau dirinya di ikuti segera dihadang oleh Darui. Pemuda itu berhenti di tempatnya sambil menatap datar pada Darui yang menyerangnya secara tiba-tiba itu. Aoba yang berada di belakang segera mencari tempat yang aman untuk bersembunyi sambil memperhatikan keadaan.
"Kali ini aku tak akan segan-segan padamu… Semua ini kulakukan demi tuan muda Manma, bersiaplah!" Darui kembali menyerang pemuda itu dan kali ini serangannya jauh lebih kuat dari yang sebelumnya.
Kaoru yang memang menanti serangan dari Darui langsung menahan serangan tersebut dengan pedang yang kembali dia keluarkan. Dapat terlihat Darui memang cukup kuat untuk menjadi lawannya mungkin kekuatannya bisa disetarakan dengan Killer B. Darui berhasil mendorong keras pemuda itu ke belakang. Merasa di atas angin, Darui kembali melesat untuk menyerang Kaoru.
"Dengan kekuatanmu saat ini, kau bukanlah lawan yang sebanding untukku!" kata Darui yang terus-menerus menerjangkan serangannya tanpa celah.
Sementara disisi lain Kurotsuchi dan Aoi berhasil lari. Keduanya berhasil melarikan diri berkat bantuan Haku yang tanpa terduga datang untuk menyelamatkan mereka.
.
"Tak kusangka kau datang untuk menolong mereka… " Marie tampak geram karena Kurotsuchi dan Aoi berhasil meloloskan diri darinya. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat sambil menahan amarahnya. "Aku akan membalasmu, Haku!" kata gadis itu yang kini berniat untuk menyerang pemuda yang terkenal dengan kekuatan esnya itu.
"Kalau begitu aku tak ada pilihan lain selain mencoba sebaik yang kubisa untuk melawanmu," jawab pemuda itu dengan tenang.
"Kau terlihat yakin sekali mau melawanku.. " balas Marie yang sedikit meremehkan Haku. Kalau dilihat dari kekuatan gadis itu memang berada di atas Haku jadi kalau keduanya bertarung kemungkinan dia bisa memenangkan pertarungan tersebut.
"Bagaimana kalau kami membantu?" disana Atsui dan Samui ikut muncul dan segera bergabung bersama Haku untuk melawan Marie, Kuromizu dan Fei.
"Sepertinya aku mendapat bala bantuan mendadak… Tapi baiklah, kuterima tawaran kalian." Haku melirik ke arah Atsui dan Samui yang berjalan ke arahnya dan sementara akan menjadi aliansinya.
"Majulah… " Marie segera menyiapkan diri bersama dengan Kuromizu dan juga Fei.
o0o
Disisi lain terlihat Darui sedang bertarung dengan Kaoru dan pria berambut agak gimbal itu sedikit kewalahan. Tapi entah mengapa pria itu malah menyeringai aneh dan sedikit terkekeh.
"Kau tidak berada di posisi yang tempat untuk tersenyum seperti itu," kata Kaoru dengan datar sambil menjulurkan sebilah pedang yang dia arahkan pada pria itu.
"Hehehehe… " Darui kembali terkekeh setelah mendengar perkataan dari pemuda itu.
"Apa yang kau tertawakan?" tanya pemuda itu yang emosinya sedikit terpancing oleh Darui.
"Kau tau, aku bisa mengatasimu dengan sangat mudah saat ini… " balas pria itu begitu yakin dengan perkataannya meskipun saat ini dialah yang berada pada posisi terpojok. Kaoru yang tak mengerti maksud Darui hanya menatapnya bingung dan tanpa sadar dia jadi sedikit lengah. Saat itulah Darui menyerangnya dengan sesuatu.
"Rasakan ini!" Darui melemparkan suatu benda yang bentuknya seperti jarum ke arah pemuda itu. Kaoru dengan cepat menghindarinya tapi beberapa jarum lainnya sudah datang melesat ke arahnya dan mengenai lengannya.
"Tsk… " pemuda itu memegangi lengannya yang terluka sedikit. "Apa ini serangan yang kau bilang bisa mengatasiku?" tanya pemuda itu yang meremehkan serangan Darui barusan.
"Heh… " lagi-lagi Darui hanya menyeringai aneh.
'Kenapa dia malah tertawa seperti itu?' tanya Kaoru yang melihat sikap Darui agak janggal. Pemuda itu berjalan mendekati Darui, berniat untuk mengakhiri pertarungannya tapi terjadi sesuatu di luar dugaan. Tiba-tiba saja dia merasakan dadanya seperti terbakar.
"Ughh… A-apa yang terjadi… " pemuda itu memegangi dadanya yang benar-benar terasa begitu panas dan melepaskan pedang yang dia pegang barusan.
"Ahahahaha sudah kuduga kalau bunga itu masih berlaku bagimu! Jangan katakan kalau kau sudah ingat siapa Marie, eh?" kali ini Darui tertawa keras sambil berjalan menghampiri Kaoru yang tampak sibuk untuk mencerna apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Kurasa kau belum sepenuhnya ingat kalau dilihat dari reaksimu… " Darui kini berjongkok di depan Kaoru yang sepertinya sedang menahan suatu kesakitan.
"Apa maksdumu? Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku?" tanya pemuda itu yang berusaha mengambil pedangnya yang terjatuh itu sambil menahan rasa sakit yang selama ini belum pernah dia rasakan.
"Hentikan semua ini, Joker… " Darui menepis pedang yang berusaha diambil oleh Kaoru dan tanpa terduga pria besar itu memeluknya. Sebuah pelukan yang bertolak belakang dari aksi yang dia lakukan sebelumnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu yang tentu saja kaget dengan perlakuan Darui yang tak terduga itu.
"Kau tentu tidak ingat aku, ya… " Darui melepaskan pelukannya dan menatap pemuda di depannya itu dengan sebuah senyuman getir. Kaoru hanya bisa terdiam sambil memperhatikan Darui dengan seksama. "Aku ini adalah paman angkatmu selama di Rosemary kingdom. Waktu kau bergabung dengan kami aku diminta untuk menjagamu dan mengajarimu untuk menjadi seorang knight pelindung di kerajaan itu… " Darui akhirnya mulai bercerita tentang siapa dirinya.
"Semua orang sangat menyukaimu karena kau cepat berbaur dengan yang lainnya tapi sayang… Kau membuat satu kesalahan fatal… Kau mencintai putri itu… !" kali ini Darui terlihat sedikit emosional. Ada sedikit gurat kekesalan dan penyesalan pada raut wajahnya. "Aku mencoba menasehatimu untuk menjauhi putri yang hanya bisa membuat kekacauan dimana-mana itu! Tapi kau… Kau tetap bersedia untuk selalu disisinya… Sampai akhirnya hal kutakutkan terjadi… Raja mengetahuinya dan membunuhmu… " Kaoru mendengarkan semua yang dikatakan Darui dan merasa seperti membaca ulang sejarah kisahnya dengan Marie yang akhirnya bisa kembali dia ingat seutuhnya.
"Dengarkan aku Joker, untuk kesekian kalinya aku mengatakan lupakan putri itu! Kau masih punya kesempatan sebelum semuanya terlambat! Kau masih bisa lepas darinya, karena sampai kapanpun kalian tak akan bisa bersama!" Darui mencengkramkan kuat-kuat tangannya pada bahu pemuda itu sambil memberinya nasehat. " Kau sudah mati, meskipun kau kembali ke Neverland, itu tak akan merubah statusmu yang sudah menjadi roh dan tinggal di Neverland! Seharusnya kau bisa memberikan kesempatan bagi Marie untuk mencintai orang lain… Coba berpikirlah untuk masa depan gadis itu… ".
"Maafkan aku, Darui… Berikan aku kesempatan untuk yang terakhir kali padanya, setelah itu aku akan melepaskannya… " balas Kaoru yang kemudian berdiri sambil membawa pedangnya dan meninggalkan Darui disana.
Meanwhile…
.
.
Di daerah perbatasan tampak begitu ramai. Ada mobil ambulan disana juga mobil polisi yang langsung datang menuju lokasi sesuai dengan petunjuk Gaara. Mereka membawa tubuh Arashi dan Alvaro yang sudah tak bernyawa. Sedangkan Gaara dan yang lainnya sedang mengontak polisi Otogakure dan menjelaskan perihal Izky dan yang lainnya.
Sementara Rei sedang berusaha mengejar mobil Izky. Beruntung baginya jalanan di Otogakure sedang macet sehingga dia bisa sedikit mengambil celah untuk mendekati Izky yang berada tak jauh di depannya.
"Sepertinya ada yang sedang mengikuti kita… " K melirik ke kaca spion mobil dan menyadari ada sebuah mobil yang sejak mereka sampai ke wilayah Otogakure terus mengikuti.
"Apa mungkin itu adalah Gaara?" tanya Izky yang menduga kalau orang yang mengikuti mereka adalah Gaara.
"Kurasa bukan… Ini sudah di luar kekuasaan mereka jadi rasanya tak mungkin kalau itu adalah Gaara… " balas K yang merasa yakin kalau itu bukanlah Gaara.
"Siapapun dia lebih baik kita yang menghadapinya lebih dulu… " sambar Izky yang kemudian turun dari dalam mobil sambil menyuruh Raijin dan Fujin ikut turun.
.
Karena kebetulan keadaan sedang macet sehingga memudahkan Izky, Raijin dan Fujin untuk turun. Ketiganya kini berjalan mendekati Rei. Tentu saja pemuda itu langsung kaget karena tak menyangka ketiga orang itu akan menghampirinya.
'Celaka… Mereka kemari! Apa yang harus kulakukan?' Rei mulai panik melihat ketiganya semakin mendekat. Dia berusaha mencari akal untuk lolos dari situasi seperti sekarang ini. 'Kalau aku keluar begitu saja, mereka pasti akan mengejarku atau yang lebih parah… Mereka bisa langsung menembakku!' pemuda itu sekarang benar-benar sedang di ujung tanduk nasibnya. Sepertinya sudah terlambat baginya untuk kabur.
Tin… Tin… Tin… !
Tiba-tiba saja terdengar suara klakson mobil dari arah belakang mobil Rei. Sepertinya mobil itu sedang membunyikan klakson kepada Izky, Raijin dan Fujin. Sontak ketiga orang itu berhenti.
"Hey! Apa yang kalian lakukan disana? Cepat minggir!" tampak seorang pengendara mobil itu marah sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dan menunjuk-nunjuk Izky dan yang lain agar segera menyingkir dari jalan (sebenarnya dia pengawalnya Jun yang mencoba menolong Rei).
"Kau… " Raijin segera mengirim deathglare ke orang tersebut.
"Apa liat-liat? Apa kau tidak lihat lampunya sudah hijau? Cepat menyingkir dari sana!" omel pria itu yang tampak tidak terpengaruh dengan tatapan menyeramkan yang dikirim Raijin. Pria itu kembali membunyikan klakson. Tak lama mobil lain juga ikut membunyikan klakson menyuruh ketiga orang itu untuk pergi.
"Sudahlah, ayo kita kembali… " kata Izky yang menyuruh Raijin dan Fujin untuk kembali ke dalam mobil. Meski kesal tapi kedua orang besar itu menuruti Izky. Mereka akhirnya kembali masuk ke dalam mobil.
"Fiuh… Sepertinya aku masih beruntung… " Rei langsung melepas napas dengan lega. Nyaris saja dia ketahuan tadi, tapi untunglah dia masih memiliki keberuntungan.
Tak lama mobil yang dikendarai K mulai melaju ke depan, di ikuti oleh mobil-mobil lain di belakangnya. Rei juga kembali mengikuti dari belakang dan kali ini dia jauh lebih berhati-hati.
In the forest…
.
.
Di dalam hutan sedang terjadi antara Marie, Kuromizu dan Fei melawan Haku yang dibantu oleh Samui dan Atsui. Kedua belah pihak melakukan pertarungan yang cukup timpang karena dilihat dari kemampuan Kuromizu dan Fei hanyalah manusia biasa yang tentunya memiliki kemampuan yang terbatas sebagai seorang manusia.
"Kalian berdua disini saja, biarkan aku saja yang melawan mereka bertiga," kata Marie yang menyadari kalau Kuromizu dan Fei sudah mencapai batas limit dari kekuatan mereka.
"Tapi melawan mereka seorang diri akan sangat berbahaya!" balas Kuromizu yang sepertinya masih ingin membantu Marie melawan ketiga orang tersebut.
"Sudahlah Mizu-san… Kita hanya akan menghambat Marie saja, jadi kita biarkan saja dia bertarung sendiri… " sambar Fei yang sebenarnya khawatir pada Marie tapi dia sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini. 'Mereka bukan manusia biasa… Pasti mereka juga berasal dari Neverland. Kalau tetap memaksa untuk bertarung, kita hanya akan menyusahkan Marie saja… Seandainya Sasori atau Kaoru disini… ' batin Fei yang mengakui kalau dia sudah mencapai batasnya. Dia berharap dikondisi seperti ini datang Sasori ataupun Kaoru yang dapat membantu, karena membiarkan Marie melawan ketiga orang tersebut sangat berbahaya, apalagi dilihatnya ketiganya memiliki kekuatan yang cukup hebat dan melebihi kemampuan Aoi dan Kurotsuchi.
Sedangkan disisi lain, Kaoru akhirnya dibiarkan pergi oleh Darui. Pria itu tidak bisa mencegah pemuda itu untuk menolong Marie, meskipun dia ingin sekali menghalanginya tapi hal itu hanya akan membuat Kaoru marah kepadanya.
o0o
"Kalian… " Kaoru akhirnya berhasil menemukan Fei dan Kuromizu. Dengan cepat pemuda itu menghampiri keduanya. Dia yakin kalau mereka berdua tadi bersama Marie.
"Kalian pasti bersama Marie, kan? Sekarang dimana dia?" pemuda itu langsung menanyakan keberadaan Marie. Tampak begitu jelas kalau pemuda itu sangat mencemaskan Marie.
"Dia mengejar ketiga orang itu ke dalam hutan… Maafkan kami tak bisa membantu banyak… " jawab Fei sambil menunjuk ke arah ke dalam hutan.
"Sudahlah tidak apa-apa, aku akan mengejarnya… Lebih baik kalian disini saja." Kaoru mengangguk cepat sambil melihat ke arah dalam hutan tersebut. Pemuda itu menyuruh kedua temannya untuk menunggu disana. Pemuda itu kemudian berdiri dan berlari masuk ke dalam hutan sana.
"Sebaiknya kita juga cepat menyusulnya… " kata Kuromizu yang sepertinya juga tak ingin berdiam diri disana saja.
"Aku setuju!" balas Fei dengan cepat. Kemudian kedua orang itu diam-diam mengikuti Kaoru dari belakang.
o0o
Meanwhile…
.
.
Sedangkan jauh di Otogakure sana, mobil yang sedang dikendarai K mulai memasuki daerah yang sepi dan sepertinya mereka sedang menuju ke daerah pegunungan. Rei mulai khawatir karena sepinya kendaraan yang berlalu-lalang disana sangat sedikit. Dia takut kalau dia ketahuan oleh pihak K.
"Sepertinya memang benar… Mobil itu mengikuti kita." Izky melirik ke belakang dan yakin sekali mobil di belakang mereka itu memang sedang membuntuti dan bukan hanya sekedar kebetulan saja.
"Kelihatannya yang mengikuti kita ada dua mobil… " sambar K yang menyadari sejak tadi adanya mobil lain yang juga mengikuti mereka.
"Apa katamu? Dua?" Izky tampak shock mendengar perkataan K yang menyatakan ada dua mobil yang sedang mengikuti mereka. Pemuda itu menggeram kesal sambil menoleh ke belakang dan memperhatikan dua mobil yang berada di belakang mereka tampak melaju beriringan dengan posisi yang tak begitu jauh.
"Cih… Siapa sebenarnya mereka? Aku jadi penasaran ingin melihat wajah-wajah mereka!" Izky yang tadinya terlihat kesal, sekarang malah tampak menyeringai. Dia jadi merasa tidak sabar untuk segera mengetahui siapa-siapa saja yang sedang mengikuti mereka saat ini.
"Hey, Manma! Kenapa dari tadi kau hanya diam saja?" Izky akhirnya kembali duduk dengan santai. Kemudian pemuda itu melirik Manma yang berada di sebelahnya. Dia heran sejak tadi Manma hanya diam saja tanpa berkata apa-apa. Bahkan Izky hampir melupakan keberadaan Manma disana.
"Tidak apa-apa… " balas Manma dengan pelan tapi dari wajahnya tampak kecemasan yang luar biasa. Dia bukannya takut dengan apa yang terjadi sekarang tapi dia takut kalau Atsui, Samui dan Darui tidak bisa membawa Kaoru. Memikirkan hal itu membuat kepalanya sedikit pusing. Pemuda berambut pirang itu langsung menghela napas dengan berat.
Sunagakure's Office…
.
.
Di kantor Sunagakure tampak Gaara sedang melakukan komunikasi dengan kepolisian pihak Otogakure dan menjelaskan semua situasinya. Beruntung baginya pihak Otogakure mau bekerjasama dan bersedia membantu.
"Semoga saja mereka berhasil… " kata Gaara sambil menghela napas lega karena pihak Otogakure sangat kooperatif dalam hal ini.
"Gaara… Ijinkan kami… Ijinkan kami untuk mencari Rei dan Sasame!" Serena meminta pada Gaara agar dia di ijinkan untuk pergi ke Otogakure.
"Kau tau, kan disana kita tidak memiliki wewenang?" Gaara melirik ke arah gadis itu dengan tajam.
"Aku ingin menolong Rei dan Sasame bukan sebagai seorang polisi… Tapi sebagai seorang teman," jawabnya dengan serius dan tegas.
"Baiklah kalau begitu… Tapi kalian harus berhati-hati karena aku tak bisa ikut dengan kalian… " Gaara mengangguk mengerti dan mengijinkan gadis itu untuk pergi.
"Tenang saja! Kami juga ikut, iya kan Nathan?" sambar Vliss sambil melirik ke arah Nathan yang berdiri di sebelahnya.
"Ya, itu pasti!" jawab Nathan dengan cepat. Tentu saja dia juga ingin ikut, mana mungkin dia hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa disana.
"Kalau begitu aku juga ikut!" tiba-tiba saja Jun masuk ke dalam ruangan dan mengatakan kalau dia juga akan ikut serta dalam penyelamatan ini.
"Eh? Kenapa kau malah ada disini? Apa kau sudah tidak apa-apa?" tanya Nathan yang kaget melihat Jun tiba-tiba saja ada disana.
"Aku sudah tidak apa-apa!" balas Jun sambil membuka perban yang melilit di kepalanya, kemudian dia berjalan mendekati Nathan dan yang lainnya. Tampaknya dia sudah benar-benar nekad untuk ikut.
"Kalau begitu tak masalah… Yang jelas aku minta kalian semua untuk hati-hati," balas Gaara setengah menghela napas. Dia tau sekali kalau Jun lari dari rumah sakit dan memaksakan dirinya untuk pergi sampai kemari.
"Sebelum pergi lebih kalian mempersiapkan segala sesuatunya dulu, dan Nathan… tolong temukan mereka… " Gaara berdiri dari tempat duduknya sambil meminta agar teman-temannya itu benar-benar mempersiapkan diri untuk misi ini. Dia berjalan dan menepuk pundak Nathan, meminta pemuda itu untuk mencari Rei dan juga Sasame.
"Tenang saja aku bisa berusaha semaksimal mungkin! Pelacak itu masih dipegang oleh pengawal Jun, kan?" Nathan mengacungkan jempolnya sembari tersenyum. Gaara mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nathan mengenai pelacak yang dia berikan pada pengawal itu. "Kalau begitu aku akan melacaknya melewati sistem komputer kepolisian Suna dan Gaara jangan sampai komputer disini mati, mengerti?" kata Nathan yang menjelaskan sedikit apa yang akan dia lakukan nanti. Dia juga meminta pada Gaara agar mengawasi komputer yang ada di Sunagakure jangan sampai mati, karena kalau hal itu sampai terjadi tentu saja dia tak akan bisa melakukan pelacakan.
"Kau bisa serahkan itu padaku," balas Gaara yang mengerti apa yang akan dilakukan Nathan. Setelah itu Serena dan yang lainnya segera mempersiapkan semua barang-barang yang kemungkinan besar akan mereka butuhkan nanti.
Otogakure…
.
.
K semakin memasuki wilayah pegunungan dan daerahnya semakin sepi. Rei benar-benar cemas akan hal ini dan dia merasa cepat atau lambat dia pasti akan ketahuan. Sementara itu mendadak ponselnya berdering dan tertera nama seseorang yang cukup dikenalnya pada layar ponselnya tersebut. Rei mengernyit sesaat, kemudian dia mengangkat panggilan tersebut.
"Ada apa kau menelponku?" tanya Rei dengan datar dan tetap berusaha fokus ke depan.
"Ada apa? Harusnya aku yang bertanya ada apa! Kode itu kau dapat darimana? Jangan katakan kalau sekarang kau sedang terlibat dalam suatu masalah!" balas sang penelpon yang terdengar marah bercampur khawatir dari nada bicaranya.
"Maaf tapi aku tak bisa menjelaskannya saat ini… " balas Rei dengan pelan.
"Ck… Terserahlah, kalau kau tidak bisa mengatakannya sekarang!" balas sang penelpon yang terdengar sedikit kecewa karena Rei tidak mau bercerita kepadanya.
"Tapi kau tetap akan membantuku, kan?" tanya Rei yang benar-benar berharap kalau orang itu masih mau membantunya meskipun dia tidak menceritakan apa permasalahannya.
"Yah, baiklah… Aku akan membantumu dan aku sudah mengetahuinya… " balas dari sebrang yang lagi-lagi menghela napas berat. Mungkin saat ini orang disebrang itu sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"When Joker met The Queen and The King, Black Jack will appear and Joker will turn into… BINGO!" kata pemuda disebrang yang kelihatannya malah bermain teka-teki lagi dengan Rei.
"Jangan katakan kalau itu hanya hint untuk menebak password lainnya… " balas Rei yang sepertinya sudah bisa menduga maksud dari pemuda disebrang sana.
"Yah, begitulah… Aku yakin kau pasti tau apa jawabannya… " pemuda itu menanggapi dengan santai.
"Kurasa aku tau… Oh, ya… Aku punya satu permintaan lainnya… " Rei hanya mendengus kecil.
"Kau ingat gadis yang bernama Sasame? Yang pernah kuceritakan lewat email beberapa waktu lalu?" tanya Rei yang entah mengapa dia jadi membahas mengenai Sasame.
"Oh, dia… Yah, aku ingat. Kenapa?" balas sang penelpon sambil mengingat gadis yang diceritakan oleh Rei kepadanya.
"Kalau sampai terjadi apa-apa padaku… Aku titip Sasame dan juga Shouta… " kata Rei yang entah kenapa sikapnya jadi sedikit aneh.
"Cara bicaramu sudah seperti orang yang mau pergi jauh saja… " balas sang penelpon yang mengernyit karena bingung dengan sikap Rei yang tidak seperti biasanya.
Setelah itu Rei memutuskan komunikasi karena tanpa terduga mobil yang dikendarai oleh K berbalik ke arahnya.
Ckiiiiiittttt!
Tiba-tiba saja mobil yang sedang dikendarai K berhenti secara mendadak dan berputar arah ke belakang. Rei dan mobil yang di belakangnya otomatis ikut berhenti.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Rei ketahuan? Lalu bagaimana dengan nasibnya? Kemudian apakah Kaoru bisa menemukan Marie yang sedang bertarung dengan Haku, Atsui dan Samui?
TBC…
A/N : Oke ini sepertinya ini chapter klimaks kejar-kejaran antara Rei dan K. Pokoknya selamat menikmati dan mohon maaf bilamana banyak kesalahan dan kekurangan. Kami berusaha sebaik mungkin yang kami bisa. Bagi yang menunggu fic lain harap bersabar karena saia sedang tidak fokus untuk mengetik ataupun mengedit. Saia ingin menenangkan pikiran dan otak saia dulu baru setelah itu saia akan mengejar mengedit tulisan-tulisan yang sudah ada dan jangan lupa bagi yang mau memberi masukan ataupun pendapat serta saran bisa lewat review ataupun ke PM.
Saia ucapkan terima kasih untuk semua dukungan yang masuk dan selamat menikmati.
.
.
"Thanks for reading".
