Disorientasi yang menyayat, itulah rasanya keluar dari Peron Sembilan Tiga Perempat ke dalam Bumi di luar, dunia yang dulu Harry kira adalah satu-satunya dunia nyata. Orang-orang berpakaian dengan baju dan celana biasa, bukannya jubah penyihir yang lebih bermartabat. Potongan-potongan sampah yang berserakan di sini sana sekitar bangku-bangku. Suatu bau yang terlupakan, asap-asap bensin yang terbakar, mentah dan tajam di udara. Suasana dari stasiun kereta King's Cross, kurang cerah dan riang dibanding Hogwarts atau Diagon Alley; orang-orang sepertinya lebih kecil, lebih takut, dan mungkin dengan bersemangat akan menukar masalah-masalah mereka untuk seorang penyihir kegelapan untuk diperangi. Harry ingin melemparkan Scourgify pada kotoran, dan Everto pada sampah, dan jika dia mengetahui mantranya, satu Mantra Penggelembung-Kepala supaya dia tak perlu menghirup udaranya. Tapi dia tak bisa memakai tongkat sihirnya, di tempat ini … .
Ini, Harry sadar, pasti apa rasanya pergi dari negara Dunia Pertama ke negara Dunia Ketiga.
Hanya itu adalah Dunia Kenol yang sudah Harry tinggalkan, dunia sihir, dengan Mantra Pembersih dan peri rumah; di mana, antara seni penyembuh dan sihirmu sendiri, kau bisa mencapai seratus tujuh puluh sebelum usia tua mulai meraih dirimu.
Dan London nonmagis, Bumi Muggle, yang atasnya Harry secara temporer kembali. Ini adalah di mana Mum dan Dad akan menjalani sisa hidup mereka, kecuali teknologi melompat jauh melewati kualitas hidup sihir, atau sesuatu yang lebih dalam di dunia ini berubah.
Bahkan tanpa memikirkannya, kepala Harry berputar dan matanya tersentak mencari ke belakangnya untuk melihat koper kayu yang berjalan mengikuti di belakangnya, tak terlihat oleh Muggle mana pun, tentakel berkukunya menawarkan konfirmasi cepat bahwa, ya, dia bukan hanya membayangkan semua itu … .
Dan kemudian ada alasan lain untuk perasaan ketat di dadanya.
Orangtuanya tak tahu.
Mereka tak tahu apa pun.
Mereka tak tahu … .
"Harry?" panggil wanita langsing, berambut pirang yang kulit halus dan tak bernoda membuatnya terlihat jauh lebih muda dari tiga puluh tiga; dan Harry sadar dengan suatu awalan bahwa itu memang sihir, dia tak mengenali tanda-tandanya sebelumnya tapi dia bisa melihatnya sekarang. Dan ramuan macam apa pun yang bertahan selama itu, itu pastilah sesuatu yang sangat berbahaya, karena kebanyakan penyihir tak melakukan hal itu pada diri mereka sendiri, mereka tidak seputus asa itu … .
Ada air yang berkumpul di mata Harry.
"Harry?" teriak pria yang terlihat lebih tua dengan buncit yang berkumpul di sekitar perutnya, berpakaian dengan kecerobohan sok akademik dengan vest hitam dilemparkan di atas baju abu-hijau gelap, seseorang yang akan selalu menjadi seorang profesor ke mana pun dia pergi, yang pasti akan menjadi salah satu penyihir paling brilian di generasinya, jika dia dilahirkan dengan dua salinan gen itu, bukannya nol … .
Harry mengangkat tangannya dan melambai pada mereka. Dia tak bisa bicara. Dia tak bisa bicara sama sekali.
Mereka mendatanginya, tidak berlari, tapi pada langkah stabil, bermartabat; itulah seberapa cepat Profesor Michael Verres-Evans berjalan dan Ny. Petunia Evans-Verres tak akan berjalan lebih cepat.
Senyuman di wajah ayahnya tidak sangat lebar, tapi kemudian ayahnya tak pernah memberikan senyuman lebar; itu adalah, paling tidak, selebar yang Harry pernah lihat, lebih lebar daripada ketika dana baru datang, atau ketika salah satu dari para muridnya memperoleh satu jabatan, dan kau tak bisa meminta senyuman yang lebih lebar dari itu.
Mum berkedip keras, dan dia mencoba untuk tersenyum tapi tak melakukannya dengan sangat baik.
"Jadi!" kata ayahnya saat dia melangkahnya terhenti. "Sudah membuat penemuan revolusioner?"
Tentu saja Dad berpikir kalau dia sedang bercanda.
Itu tak terasa sebegitu sakit ketika orangtuanya tak mempercayainya, dulu ketika tak ada orang lain yang mempercayainya juga, dulu ketika Harry tak tahu bagaimana rasanya dianggap serius oleh orang-orang seperti Kepala Sekolah Dumbledore dan Profesor Quirrell.
Dan itu adalah ketika Harry sadar bahwa si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup hanya ada di Inggris Sihir, bahwa tak ada orang seperti itu di London Muggle, hanya seorang anak laki-laki berumur sebelas tahun pulang untuk Natal.
"Maafkan aku," kata Harry, suaranya bergetar, "aku akan menangis dan terisak sekarang, itu tak berarti kalau ada yang salah di sekolah."
Harry mulai berjalan maju, dan kemudian berhenti, tercabik antara memeluk ayahnya dan memeluk ibunya, dia tak ingin masing-masing di antara mereka merasa dikecilkan atau bahwa Harry mencintai mereka lebih dari yang lain–
"Kau," kata ayahnya, "adalah seorang bocah yang menggelikan, Tn. Verres," dan dia dengan lembut memegang Harry di pundak dan mendorongnya ke tangan ibunya, yang berlutut, air mata sudah menggaris pipinya.
"Halo, Mum," kata Harry dengan suaranya bergetar, "aku kembali." Dan Harry memeluknya, di tengah-tengah suara-suara mekanikal berisik dan bau bensin terbakar; dan Harry mulai menangis, karena dia tahu bahwa tak satu pun bisa kembali, apalagi dia.
Langit benar-benar gelap, dan bintang-bintang sudah bermunculan, di waktu mereka mengatasi lalu lintas Natal pada kota universitas yang adalah Oxford, dan memarkir di tempat mobil dari rumah tua kecil, yang terlihat kumal yang keluarga mereka biasa pakai untuk menjaga hujan dari buku-buku mereka.
Saat mereka melintasi rentangan perkerasan singkat yang menuju pada pintu depan, mereka melewati satu barisan pot bunga yang memegang lampu elektrik redup (redup karena mereka harus mengumpulkan energi kembali melalui tenaga surya sewaktu siang), dan cahayanya menyala tepat saat mereka lewat. Bagian yang sulitnya adalah menemukan sensor gerakan yang tahan air dan terpicu di jarak yang tepat … .
Di Hogwarts ada obor yang seperti itu.
Dan kemudian pintu depannya membuka dan Harry melangkah ke ruang tamu mereka, berkedip keras.
Setiap inci dinding tertutupi oleh lemari buku. Tiap lemari memiliki enam rak, nyaris sampai ke langit-langit. Beberapa lemari buku terisi penuh dengan buku-buku sampul tebal: sains, matematika, sejarah, dan sebagainya. Lemari lain terdapat dua susun buku fiksi ilmiah sampul tipis, dengan susunan buku-buku di belakang diletakkan di atas kotak tissue bekas atau dua-per-empat, supaya susunan belakang bisa terlihat di atas susunan depan. Dan itu masih belum cukup. Buku-buku meluber ke atas meja-meja dan sofa serta membuat gundukan-gundukan kecil di bawah jendela-jendela … .
Rumah tangga Keluarga Verres masih sama seperti yang dia tinggalkan, hanya saja dengan lebih banyak buku, yang juga persis seperti yang dia tinggalkan.
Dan satu pohon Natal, polos dan tak terdekorasi hanya dua hari sebelum Malam Natal, yang menyentakkan Harry sesaat sebelum dia sadar, dengan perasaan hangat mekar di dadanya, bahwa tentu saja orangtuanya menunggu.
"Kami mengeluarkan ranjang dari kamarmu untuk membuat ruangan untuk lebih banyak lemari buku lagi," kata ayahnya. "Kau bisa tidur di kopermu, benar?"
"Kau bisa tidur di koperku," kata Harry.
"Itu mengingatkanku," kata ayahnya. "Apa yang mereka akhirnya lakukan tentang siklus tidurmu?"
"Sihir," kata Harry, yang langsung menuju pintu yang membuka ke kamar tidurnya, hanya misalnya Dad tidak bercanda … .
"Itu bukan penjelasan!" kata Profesor Verres-Evans, tepat saat Harry berteriak, "Kau memakai seluruh ruang dalam lemari bukuku?"
Harry menghabiskan 23 Desember berbelanja untuk barang-barang Muggle yang dia tak bisa Transfigurasi; ayahnya sibuk dan sudah berkata bahwa Harry akan perlu berjalan atau naik bus, yang menurut Harry tak masalah. Beberapa orang di toko perangkat keras memberi Harry pandangan mencurigai, tapi dia berkata dengan suara tak bersalah bahwa ayahnya berbelanja di sekitar dan sangat sibuk lalu mengirimnya untuk membeli beberapa hal (mengangkat satu daftar di dalam tulisan tangan hati-hati kelihatan-dewasa setengah-tak terbaca); dan pada akhirnya, uang adalah uang.
Mereka sudah menghiasi pohon Natal bersama, dan Harry menempatkan peri menari kecil di atas (dua Sickle, lima Knut di Gambol & Japes).
Gringotts siap menukar Galleon untuk uang kertas, tapi mereka sepertinya tak memiliki cara sederhana untuk menukar emas berjumlah lebih besar ke dalam uang Muggle bebas-pajak, tak mencurigakan dalam suatu rekening bank Swiss bernomor. Ini cukup menghentikan rencana Harry untuk menukar sebagian besar uang yang dia swa-curi ke dalam campuran masuk akal dari 60% dana indeks internasional dan 40% Berkshire Hathaway. Untuk saat ini, Harry sudah mendiversifikasi asetnya sedikit lebih jauh dengan menyelinap keluar waktu malam hari, tak terlihat dan dengan Time-Turner, dan mengubur seratus Galleon emas di halaman belakang. Bagaimanapun juga, dia selalu selalu selalu ingin melakukan itu.
Beberapa dari Desember 24 dihabiskan dengan sang Profesor membaca buku-buku Harry dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan. Sebagian besar eksperimen yang ayahnya sarankan itu tak praktis, paling tidak untuk saat ini; dari yang tersisa, Harry sudah melakukan kebanyakan dari mereka. ("Ya, Dad, aku sudah memeriksa apa yang terjadi jika Hermione diberi suatu pelafalan yang dirubah dan dia tak tahu apakah itu dirubah, itu adalah eksperimen pertama yang aku lakukan, Dad!")
Pertanyaan terkahir yang ayah Harry tanyakan, mengangkat pandangan dari Tegukan dan Ramuan Magis dengan ekspresi kemuakkan bingung, adalah apakah itu semua masuk akal bila kamu adalah seorang penyihir; dan Harry sudah menjawab tidak.
Yang kemudian ayahnya menyatakan kalau sihir itu tak ilmiah.
Harry masih sedikit terkejut pada gagasan dari menunjuk ke arah satu bagian dari realitas dan menyebutnya tak ilmiah. Dad sepertinya berpikir bahwa konflik antara intuisinya dan alam semesta berarti bahwa alam semesta memiliki suatu masalah.
(Meski begitu, ada banyak fisikawan yang berpikir bahwa mekanika kuantum itu aneh, bukannya mekanika kuantum itu normal dan mereka yang aneh.)
Harry tadi menunjukkan pada ibunya kotak penyembuh yang dia beli untuk disimpan di rumah mereka, walau kebanyakan dari ramuan-ramuan tidak akan bekerja untuk Dad. Mum memandangi kotak itu dalam suatu cara membuat Harry bertanya apakah saudari Mum pernah membelikan sesuatu yang seperti itu untuk Kakek Edwin dan Nenek Elaine. Dan ketika Mum masih belum menjawab, Harry dengan cepat berkata bahwa dia pasti cuma tak pernah terpikir tentang hal itu. Dan kemudian, akhirnya, dia lari dari ruangan.
Lily Evans mungkin belum pernah memikirkannya, itulah yang menyedihkan. Harry tahu bahwa orang lain memiliki kecenderungan untuk tak berpikir tentang subjek-subjek menyakitkan, dalam cara yang sama mereka memiliki kecenderungan untuk tidak dengan sengaja meletakkan tangan mereka pada pembakar kompor merah panas; dan Harry mulai mencurigai bahwa kebanyakan Muggleborns dengan cepat memiliki suatu kecenderungan untuk tidak berpikir tentang keluarga mereka, yang lagipula seluruhnya akan mati sebelum mereka mencapai abad pertama mereka.
Bukannya Harry memiliki niat sedikit pun untuk membiarkan itu terjadi, tentu saja.
Dan kemudian itu adalah akhir hari pada Desember 24 dan mereka berkendara ke makan malam Malam Natal mereka.
Rumahnya besar, bukan oleh standar Hogwarts, tapi jelas oleh standar yang bisa kamu dapatkan jika ayahmu adalah seorang profesor ternama yang mencoba hidup di Oxford. Dua lantai bata berkilauan dalam matahari yang terbenam, dengan jendela-jendela di atas jendela-jendela dan satu jendela tinggi yang naik lebih jauh daripada yang seharusnya bisa dijangkau oleh kaca, itu akan jadi suatu ruang tamu yang sangat besar … .
Harry mengambil napas dalam, dan membunyikan doorbell.
Ada panggilan jauh "Sayang, bisakah kau bukakan pintu?"
Ini diikuti oleh ketukan langkah yang mendekat perlahan.
Dan kemudian pintunya membuka untuk pria bersahabat, yang berpipi tembam dan merah dan berambut menipis, dalam pakaian biru terkancing yang sedikit tegang di bagian jahitannya.
"Dr. Granger?" kata ayah Harry dengan cepat, bahkan sebelum Harry bisa bicara. "Aku Michael, dan ini Petunia dan putra kami Harry. Makanannya ada di koper ajaib," dan Dad membuat gerakan tak jelas ke belakangnya–tak benar-benar ke arah koper, ternyata.
"Ya, mari, silakan masuk," kata Leo Granger. Dia melangkah maju dan mengambil botol anggurnya dari tangan sang Profesor yang terulur, dengan gumamam "Terima kasih," dan kemudian melangkah mundur dan mengayun ke arah ruang tamu. "Silakan duduk. Dan," kepalanya menunduk untuk berbicara pada Harry, "seluruh mainannya ada di bawah di basement, aku yakin Herm akan turun sebentar lagi, itu di pintu pertama sebelah kananmu," dan menunjuk ke arah satu lorong.
Harry hanya memandang padanya untuk sesaat sadar bahwa dia menghalangi orangtuanya dari masuk.
"Mainan?" kata Harry dalam suara riang, bernada tinggi, dengan matanya lebar. "Aku suka mainan!"
Ada suatu tarikan napas dari ibunya di belakangnya, dan Harry melangkah masuk ke dalam rumah, berhasil tak menghentak terlalu keras saat dia berjalan.
Ruang tamunya adalah sama luas seperti yang terlihat dari luar, dengan suatu langit-langit kubah besar yang bergantung tempat lilin raksasa, dan suatu pohon Natal yang pasti adalah suatu pembunuhan untuk dimanuverkan melewati pintu. Tingkat lebih rendah dari pohon itu dengan sepenuhnya dan hati-hati didekorasi dengan pola merah dan hijau dan emas yang rapi, dengan suatu percikan biru dan perunggu; bagian tinggi yang hanya bisa dijangkau seorang dewasa yang dengan ceroboh, digantungi dengan rangkaian lampu-lampu dan karangan kertas perak. Satu lorong terbentang sampai berakhir dalam lemari-lemari dapur, dan tangga kayu dengan pegangan metal yang memanjang sampai ke lantai kedua.
"Gosh!" kata Harry. "Ini adalah sebuah rumah besar! Aku harap aku tak akan tersesat di sini!"
Dr. Roberta Granger merasa cukup cemas saat waktu makan malam mendekat. Kalkunnya dan panggangannya, kontribusi mereka sendiri pada proyek bersama itu, dengan lancar sedang dimasak di dalam oven; makanan lainnya nanti akan disiapkan oleh para tamu mereka, keluarga Verres, yang mengadopsi seorang bocah bernama Harry. Yang dikenal di dunia sihir sebagai Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup. Dan yang juga adalah satu-satunya bocah yang pernah Hermione sebut "imut", atau perhatikan sedikit pun, sebenarnya.
Para Verreses sudah berkata bahwa Hermione adalah satu-satunya anak dalam kelompok umur Harry yang eksistensinya pernah diakui oleh anak mereka dalam cara apa pun.
Dan ini mungkin sedikit terburu-buru hanya sedikit; tapi kedua pasangan memiliki kecurigaan yang menyelinap bahwa lonceng pernikahan bisa jadi berdentang dalam beberapa tahun sepanjang perjalanan ke depan.
Jadi sementara Hari Natal akan dihabiskan, seperti biasanya, dengan keluarga suaminya, mereka memutuskan untuk menghabiskan Malam Natal bertemu dengan yang bisa jadi merupakan calon mertua putri mereka.
Bel pintunya berdering sementara dia sedang di tengah-tengah mengolesi kalkunnya, dan dia menaikkan suaranya dan berteriak, "Sayang, bisakah kau bukakan pintu?"
Ada suatu rintihan kursi dan penghuninya, dan kemudian ada suara langkah kaki berat suaminya dan pintu yang terayun membuka.
"Dr. Granger?" kata suara lincah seorang pria lebih tua. "Aku Michael, dan ini Petunia dan putra kami Harry. Makanannya ada di kopor ajaib."
"Ya, mari, silakan masuk," kata suaminya, diikuti suatu gumamam "Terima kasih," yang menandakan bahwa suatu hadiah sudah diterima, dan "Silakan duduk." Kemudian suara Leo berubah menjadi suatu nada entusiasme buatan, dan berkata, "Dan seluruh mainannya ada di bawah di basement, aku yakin Herm akan turun sebentar lagi, itu di pintu pertama sebelah kananmu."
Ada satu jeda singkat.
Kemudian suatu suara cerah seorang bocah muda berkata, "Mainan? Aku suka mainan!"
Ada suara langkah-langkah kaki memasuki rumah, dan kemudian suara cerah yang sama berkata, "Gosh! Ini adalah sebuah rumah besar! Aku harap aku tak akan tersesat di sini!"
Roberta menutup ovennya, tersenyum. Dia sedikit cemas tentang bagaimana surat-surat Hermione menjelaskan sang Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup–walau jelas putrinya tidak mengatakan satu hal pun yang menyatakan bahwa Harry Potter itu berbahaya; tak satu pun seperti petunjuk-petunjuk kegelapan yang tertulis dalam buku-buku yang sudah dibeli oleh Roberta, yang harusnya untuk Hermione, selama kunjungan mereka ke Diagon Alley. Putri mereka tak mengatakan banyak, hanya bahwa Harry berbicara seolah dia keluar dari buku, dan Hermione belajar lebih keras daripada yang pernah dia lakukan dalam hidupnya hanya untuk tetap ada di depan Harry dalam kelas. Tapi dari suaranya tadi, Harry Potter adalah bocah umur-sebelas-tahun biasa.
Dia sampai ke pintu depan tepat saat putrinya datang berdentum panik menuruni tangga dalam kecepatan yang tak terlihat aman sama sekali, Hermione mengaku kalau para penyihir lebih tahan terhadap jatuh tapi Roberta tak cukup yakin dia mempercayai itu–
Roberta mengambil pandangan pertamanya atas Profesor dan Ny. Verres, yang keduanya terlihat cukup gugup, tepat saat si bocah dengan bekas luka legendaris pada keningnya berputar ke arah putrinya dan berkata, sekarang dengan satu suara yang lebih rendah, "Pertemuan yang baik pada sore terindah ini, Nona Granger." Tangannya memanjang ke belakang, seolah menawarkan orangtuanya di atas nampan perak. "Aku persembahkan padamu ayahku, Profesor Michael Verres-Evans, dan ibuku, Ny. Petunia Evans-Verres."
Dan saat mulut Roberta terbuka lebar, si bocah berputar kembali pada orangtuanya dan berkata, sekarang dengan suara cerah itu lagi, "Mum, Dad, ini Hermione! Dia sangat pintar!"
"Harry!" desis putrinya. "Hentikan itu!"
Si bocah berbalik lagi untuk menghadap Hermione. "Aku takut, Nona Granger," kata si bocah dengan muram, "bahwa kau dan aku sudah diusir masuk ke kedalaman labirin basement. Mari kita tinggalkan mereka dalam percakapan dewasa mereka, yang tak diragukan lagi melayang jauh di atas kecerdasan kekanakan kita sendiri, dan melanjutkan diskusi kita yang masih berjalan tentang implikasi projektivisme Humean atas Transfigurasi."
"Maaf, kami permisi," kata putrinya dalam nada yang sangat tegas, dan menggenggam bocah itu di lengan kirinya, dan menyeretnya ke dalam lorong–Roberta berbalik tak berdaya melacak mereka saat mereka berjalan melewatinya, si bocah memberinya satu lambaian riang–dan kemudian Hermione menarik si bocah ke dalam pintu masuk basement dan membanting pintunya di belakangnya.
"Aku, ah, aku minta maaf untuk … ." kata Ny. Verres dalam suara yang makin melemah.
"Aku minta maaf," kata si Profesor, tersenyum dengan perasaan sayang, "Harry bisa sedikit sensitif tentang hal-hal macam itu. Tapi aku kira dia memang benar tentang kita tak tertarik dalam percakapan mereka."
Apakah dia berbahaya? Roberta ingin bertanya, tapi dia menjaga dirinya tetap diam dan mencoba untuk memikirkan pertanyaan yang lebih halus. Suaminya di sebelahnya tertawa kecil, seolah dia menganggap apa yang baru saja mereka lihat itu lucu, bukannya menakutkan.
Pangeran Kegelapan yang paling mengerikan dalam sejarah mencoba membunuh bocah itu, dan serpihan yang habis terbakar dari tubuhnya ditemukan di sebelah rumahnya.
Calon menantu masa depannya.
Roberta makin cemas tentang menyerahkan putrinya ke dalam kesihiran–khususnya setelah dia membaca buku-buku itu, membandingkan beberapa tanggal bersama, dan menyadari bahwa ibu magisnya mungkin terbunuh di ketinggian teror Grindelwald, bukan meninggal saat melahirkannya seperti yang ayahnya selalu katakan. Tapi Profesor McGonagall sudah melakukan beberapa kunjungan lain setelah kunjungan pertamanya, untuk "melihat bagaimana keadaan Nona Granger"; dan Roberta tak bisa menolong kecuali berpikir bahwa jika Hermione berkata kalau orangtuanya bersikap menyusahkan tentang karir menyihirnya, sesuatu akan dilakukan untuk memperbaiki mereka … .
Roberta menempatkan senyuman terbaiknya di wajahnya, dan melakukan apa yang dia bisa lakukan untuk menyebarkan beberapa keriangan Natal pura-pura.
Meja ruang makan jauh lebih panjang daripada enam orang–er, empat orang dan dua anak kecil–benar-benar butuhkan, tapi seluruhnya dilingkupi dengan taplak meja linen putih lembut, dan hidangannya dipindahkan dengan tak perlu pada piring-piring mewah, yang paling tidak adalah stainless steel bukannya perak asli.
Harry memiliki sedikit masalah berkonsentrasi pada kalkunnya.
Percakapannya beralih ke Hogwarts, wajar; dan adalah jelas untuk Harry bahwa orangtuanya berharap bahwa Hermione akan tersandung dan mengatakan lebih banyak tentang kehidupan sekolah Harry daripada yang sudah diceritakan Harry pada mereka. Dan entah Hermione sudah menyadari tentang ini, atau dia secara otomatis menghindari apa pun yang mungkin terbukti merepotkan.
Jadi Harry aman.
Tapi sayangnya Harry sudah melakukan kesalahan dengan mengirimi burung hantu pada orangtuanya dengan beragam fakta-fakta tentang Hermione yang dia tidak katakan pada orangtuanya sendiri.
Seperti bahwa dia adalah jenderal dari suatu bala tentara dalam aktivitas ekstrakurikuler mereka.
Ibu Hermione terlihat sangat khawatir, dan Harry dengan cepat menyela dan melakukan usaha terbaiknya untuk menjelaskan bahwa seluruh mantranya adalah pembius, Profesor Quirrell selalu mengawasi, dan dengan adanya penyembuh magis artinya banyak hal-hal yang jauh lebih aman dari kedengarannya, yang pada titik ini Hermione menendangnya dengan keras di bawah meja. Untungnya ayah Harry, yang Harry harus akui lebih baik daripadanya dalam beberapa hal, mengumumkan dengan otoritas profesional bahwa dia tak cemas sama sekali, karena dia tak bisa bayangkan anak-anak diizinkan melakukan itu jika itu berbahaya.
Meski begitu, itu bukanlah kenapa Harry mengalami masalah menikmati makan malam.
… masalah dengan merasa kasihan atas dirimu sendiri adalah bahwa itu tak pernah membutuhkan waktu sedikit pun untuk menemukan orang lain yang mengalami hal yang lebih buruk.
Dr. Leo Granger menanyakan, pada satu titik, apakah guru baik itu yang sepertinya menyukai Hermione, Profesor McGonagall, memberinya banyak poin di sekolah.
Hermione mengatakan ya, dengan suatu senyuman yang ternyata benar-benar tulus.
Harry berhasil, dengan suatu usaha, menghentikan dirinya sendiri dari menyatakan dengan dingin bahwa Profesor McGonagall tak akan pernah menunjukkan favoritisme pada murid Hogwarts mana pun, dan bahwa Hermione memperoleh banyak poin karena dia berhak atas tiap, poin, itu.
Di titik lain, Leo Granger menawarkan pada meja opininya bahwa Hermione sangat pintar dan bisa saja masuk ke sekolah medis dan menjadi dokter gigi, jika bukan karena seluruh masalah kesihirian itu.
Hermione tersenyum lagi, dan satu pandangan cepat kemudian mencegah Harry dari menyarankan Hermione mungkin juga akan jadi seorang ilmuwan yang terkenal secara internasional, dan bertanya apakah hal itu pernah terpikir pada para Grangers jika mereka memiliki seorang putra bukannya seorang putri, atau bahwa sesuatu yang tak bisa diterima yang mana pun juga untuk keturunan mereka menjadi lebih baik daripada mereka.
Tapi Harry dengan cepat mencapai titik didihnya.
Dan menjadi jauh lebih menghargai fakta bahwa ayahnya sendiri selalu melakukan semua yang dia bisa lakukan untuk mendukung perkembangan Harry sebagai seorang prodigi dan selalu mendukungnya untuk menjangkau lebih tinggi dan tak pernah meremehkan tiap-tiap pencapaiannya, bahkan biarpun anak prodigi itu tetaplah seorang anak kecil. Apakah rumah tangga macam ini yang dia mungkin akan alami, jika Mum menikahi Vernon Dursley?
Harry melakukan apa yang dia bisa, meski begitu.
"Dan dia sungguh mengalahkanmu dalam semua kelasmu kecuali mengendarai sapu dan Transfigurasi?" kata Profesor Michael Verres-Evans.
"Ya," kata Harry dengan ketenangan yang dipaksakan, saat dia memotong untuk dirinya sendiri gigitan lain dari kalkun Malam Natal. "Dengan margin yang solid, dalam kebanyakan kelas." Ada keadaan-keadaan lain yang mana Harry akan lebih enggan untuk mengakui itu, yang mana kenapa dia belum mengatakan pada ayahnya sampai sekarang.
"Hermione selalu cukup baik dalam sekolah," kata Dr. Leo Draco dalam nada puas.
"Harry bertanding dalam tingkat nasional!" kata Profesor Michael Verres-Evans.
"Sayang!" kata Petunia.
Hermione tertawa kecil, dan itu tak membuat Harry merasa sedikit pun lebih baik tentang situasi Hermione. Itu sepertinya tak mengganggu Hermione dan itu mengganggu Harry.
"Aku tak malu kalah dari dia, Dad," kata Harry. Tepat pada saat ini dia tidak. "Apakah aku sudah mengatakan kalau dia menghapal seluruh buku sekolahnya sebelum hari pertama kelas? Dan ya, aku sudah mengujinya."
"Apakah itu, ah, sesuatu yang biasa untuknya?" kata Profesor Verres-Evans pada para Grangers.
"Oh, ya, Hermione selalu menghapal hal-hal," kata Dr. Roberta Granger dengan suatu senyuman riang. "Dia mengetahui tiap resep dalam buku masakku di luar kepala. Aku merindukannya tiap kali aku membuat makan malam."
Dilihat dari pandangan pada wajah ayahnya, Dad merasakan paling tidak beberapa dari apa yang Harry rasakan.
"Jangan khawatir, Dad," kata Harry, "dia memperoleh seluruh material tingkat lanjut yang bisa dia terima, sekarang. Guru-gurunya di Hogwarts tahu kalau dia pintar, tak seperti orangtuanya!"
Suaranya sudah naik pada tiga kata terakhir, dan bahkan saat seluruh wajah berputar untuk menatapnya dan Hermione menendangnya lagi, Harry tahu kalau dia sudah mengacaukannya, tapi itu sudah keterlaluan, benar-benar sangat keterlaluan.
"Tentu saja kami tahu kalau dia pintar," kata Leo Granger, mulai terlihat tersinggung pada bocah yang memiliki keberanian untuk menaikkan suaranya di meja makan malam mereka.
"Kau tak memiliki sedikit pun gagasan," kata Harry, es mulai bocor ke dalam suaranya. "Kau pikir dia membaca banyak buku dan itu imut, benar? Kau melihat kartu laporan sempurna dan kau pikir adalah baik kalau dia berhasil di dalam kelas. Putri kalian adalah penyihir paling berbakat dalam generasinya dan adalah bintang paling terang di Hogwarts, dan suatu hari, Dr. dan Dr. Granger, fakta bahwa kalian adalah orangtuanya adalah satu-satunya alasan bahwa sejarah akan mengingat kalian!"
Hermione, yang dengan tenang berdiri dari kursinya dan berjalan mengelilingi meja, memilih momen itu untuk meraih baju Harry tepat di bahunya dan menariknya keluar dari kursinya. Harry membiarkan dirinya ditarik, tapi saat Hermione menyeretnya pergi, dia berkata, menaikkan suaranya bahkan lebih keras, "Adalah sangat mungkin bahwa dalam ribuan tahun, fakta bahwa orangtua Hermione Granger adalah dokter gigi akan jadi satu-satunya alasan ada orang yang mengingat kedokteran gigi!"
Roberta menatap ke tempat di mana putrinya baru saja menyeret si Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup keluar dari ruangan dengan pandangan sabar di atas wajah mudanya.
"Aku benar-benar minta maaf," kata Profesor Verres dengan satu senyuman terhibur. "Tapi tolong jangan khawatir, Harry selalu berbicara seperti itu. Bukankah mereka sudah seperti pasangan suami istri?"
Hal yang menakutkannya adalah bahwa mereka memang.
Harry sudah mengharapkan suatu omelan yang cukup keras dari Hermione.
Tapi setelah Hermione menarik diri mereka ke dalam pintu masuk basment dan menutup pintu di belakang mereka, dia berbalik–
–dan tersenyum, dengan tulus sejauh yang bisa dikenali Harry.
"Tolong jangan, Harry," katanya dalam suara lembut. "Walaupun tindakanmu itu sangat baik. Semua baik-baik saja."
Harry hanya melihat ke arahnya. "Bagaimana kamu bisa tahan menghadapinya?" katanya. Dia harus menjaga suaranya tetap tenang, mereka tak ingin para orangtua mendengar, tapi kemudian itu naik dalam nada jika bukan dalam volume. "Bagaimana kamu bisa tahan menghadapinya?"
Hermione mengangkat bahu, dan berkata, "Karena seperti itulah harusnya orangtua?"
"Tidak," kata Harry, suaranya rendah dan ketat, "bukan begitu, ayahku tak pernah merendahkanku–yah, dia pernah, tapi tak pernah seperti itu–"
Hermione mengangkat satu jari, dan Harry menunggu, melihatnya mencari kata-kata. Membutuhkan sesaat sebelum dia berkata, "Harry … Profesor McGonagall dan Profesor Flitwick menyukaiku karena aku adalah penyihir paling berbakat di dalam generasiku dan bintang paling terang di Hogwarts. Dan Mum dan Dad tak tahu itu, dan kamu tak akan pernah bisa memberi tahu mereka, tapi mereka tetap menyayangiku juga. Yang artinya semuanya tepat seperti yang seharusnya terjadi, di Hogwarts dan di rumah. Dan karena mereka adalah orangtuaku, Tn. Potter, kau tak boleh berdebat." Dia sekali lagi mengenakan senyuman misteriusnya dari waktu makan malam, dan melihat Harry dengan lembut. "Apakah sudah jelas, Tn. Potter?"
Harry mengangguk dengan ketat.
"Bagus," kata Hermione, yang mencondongkan diri dan menciumnya di pipi.
Percakapannya baru saja dimulai sekali lagi ketika suatu suara mendengking bernada tinggi terlempar kembali ke arah mereka,
"Hey! Tak boleh mencium!"
Kedua ayah meledak dalam tawa tepat saat kedua ibu bangkit dari kursi-kursi mereka dengan pandangan ngeri identik dan bergegas menuju basement.
Ketika kedua anak itu dibawa kembali, Hermione berkata dalam nada dingin bahwa dia tak akan pernah mencoba mencium Harry lagi selamanya, dan Harry berkata dalam suara penuh amarah bahwa Matahari akan terbakar habis sampai jadi abu dingin sebelum dia membiarkannya ada cukup dekat untuk mencoba.
Yang artinya semuanya tepat seperti yang seharusnya terjadi, dan mereka semua duduk lagi untuk menyelesaikan makan malam Natal mereka.
