Ehm... sebelum mulai, saya mau ngasih tau sesuatu... begini, sodara, saya jadi bingung enaknya update setiap Senin-Kamis, Senin-Sabtu, ato Sabtu-Kamis (ato jangan-jangan Senin-Kamis-Sabtu)? Hmmm... janjian dulu, deh... jadi maunya saya update 3 kali seminggi ato dua kali seminggu? Dan maunya saya update hari apa? (mumpung saya libur panjang... nggak sekolah dan nyantai abis alias pengangguran...). JAWAB LHO YA?
Ehmmm... balik lagi...
Jian Bing 監兵 (literal meaning: Jian: Control, Direct; Bing: Troops): Itu salah satu character CANON yang keluar di chap sebelumnya. Dan, character ini bukan OC! Jadi, siapa Jian Bing itu? Hmmm... kalo sodara pernah maen DW Strikeforce, trus ketemu (biasanya sebagai musuh) yang namanya 'Wu Tiger', nah itu Jian Bing. Mungkin lebih familiar dengan sebutan Bai Hu kali, ya... XD tapi menurut Wikipedia (halah!), namanya tuh Jian Bing. Ya udah pake Jian Bing aja... TAPI, wujud manusianya itu yang terpaksa aku karang2 sendiri... soalnya di DW SF nggak disediakan tampang manusianya... XD Hmmm... ntar kalo fanartnya udah jadi aku upload di FB, seperti biasa... ^^ Yah, akhirnya keluar juga character satu ini, kayak yang aku ngomong di chap2 sebelumnya... ^^
Dui bu qi juga buat yang belum sempat aku reply review... Huah... minggu ini sibuk banget sampe nggak sempat OL... dui bu qi... dui bu qi...
Dan... kabar gembira buat semua! Berhubung saya lagi baek (ato tepatnya gara2 ntar Sabtu nggak bisa update, saya langsung update 2 chapter... ^^)
Jadi, happy reading! ^^
Terakhir! SELAMAT BERJUANG BUAT YANG MINGGU DEPAN (ATO MALAH MINGGU INI) BAKAL MENGHADAPI UAS! CIA YOU! ^^ Belajar dulu, ya... baru baca... ntar kalo dapet jelek saya nggak tanggung jawab...
WARNING: Slight violence, slight OOC-ness (Ehm, anda sudah diperingatkan...)
Suatu perasaan yang tiba-tiba dialami Yangmei sungguh tidak melenceng dari apa yang dialami Lu Xun sebenarnya. Dugaan Zhou Yu sepertinya tepat menggambarkan kedua orang yang memiliki ikatan khusus itu. Apapun yang dirasakan Yangmei dapat dirasakan Lu Xun, dan begitu pula sebaliknya.
Seandainya Yangmei ada di tempat itu sekarang, mungkin ia akan melakukan tindakan yang lebih daripada sekedar menangis saja.
Tawa sadis para prajurit yang menyiksanya masih terdengar di telinganya, meski sekarang sudah bercampur aduk tak karuan di otaknya. Lu Xun sudah hampir kehilangan seluruh kesadarannya. Ejekan dan makian dari mereka hampir tidak bisa ia tangkap di tengah kesakitan yang ia alami sekarang. Setiap kali ia merasa akan pingsan, para prajurit itu menyiramnya dengan air dingin untuk membuatnya tetap terjaga.
Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya obor yang kadang berlambai-lambai ditiup angin. Di dalam ruangan itu ia melihat beberapa benda, sepertinya alat penyiksa, yang ia sendiri tidak tahu dan tidak ingin tahu apa fungsinya. Sejauh ini mereka belum menggunakannya. Belum. Yang mereka gunakan masih hanya pisau, belati, dan rantai saja.
Kedua pergelangan tangannya diikat ke atas dengan tambang yang kasar dan kuat, kemudian ujung dari tambang itu diikatkan ke langit-langit hingga mempertahankan tubuhnya agar tetap berdiri, sekaligus membuatnya tidak bisa melindungi dirinya dari serangan prajurit-prajurit itu. Salah satu kehebatan mereka adalah tidak hanya menyiksanya secara fisik saja, tetapi juga secara mental. Tubuhnya sangat lemah akibat pukulan yang ia terima, tetapi mereka tidak pernah berhenti. Dalam keadaan yang seperti itu, hanya ada satu hal yang ia pikirkan untuk menahannya agar tetap kuat. Yangmei.
Seorang prajurit menampar pipinya yang telah basah oleh keringat dan darah. "Hei, bocah! Kau jangan tidur dulu! Kami masih belum puas!" Seru prajurit itu sambil tertawa. "Kau sudah berani mencuri kesenangan kami sebelumnya! Jangan harap kami akan selesai sebelum kami puas!" Tentu saja yang dimaksud pajurit itu dengan kesenangan sebelumnya adalah Yangmei. Saat mendengar perkataan itu, entah Lu Xun harus sedih atau lega.
Tiba-tiba sebuah tangan menjambak rambutnya kuat-kuat. Mereka mengharapkannya untuk berteriak kesakitan, tetapi ia sudah tidak punya sisa tenaga lagi untuk itu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pasrah pada apapun yang mereka kehendaki. "Bulu apa ini? Bagus sekali!" Kata prajurit yang menjambak rambutnya. Ia menariknya, tidak hanya satu tetapi ketiga-tiganya. "Bulu Phoenix, kah? Oh, rupaya kau juga seorang Phoenix, benar?"
"Phoenix?" Tambah seorang prajurit lainnya. "Daripada seorang Phoenix, bukankah ia lebih mirip walet yang patah sayapnya?" Mendengar itu, para prajurit yang lain tertawa. Lu Xun hanya bisa menelan rasa malunya itu dalam-dalam.
Hal ini terulang untuk kedua kalinya... Ia, sendirian di tengah orang-orang Wei yang menyiksanya, berada di sana bukan karena tertangkap atas kecerobohannya, melainkan menyerahkan dirinya sendiri untuk keselamatan orang lain. Tiga belas tahun yang lalu adalah untuk seluruh penduduk di Wujun. Kali ini untuk Yangmei.
Dua orang prajurit membawa sesuatu di tangannya. Yang kelihatan oleh pandangan Lu Xun yang buram hanyalah beberapa batang tongkat dari rotan saja. Entah apa rencana mereka sekarang. Ketika dua orang prajurit itu tiba, mereka berseru lantang. "Ini dia! Pertunjukan utama akan segera tiba!"
Mereka masing-masing mengambil rotan itu. Lu Xun sama sekali tidak tahu apa rencana mereka. Memukulnya dengan rotan? Kenapa seperti anak kecil begitu? Sekarang mereka menanggalkan pakaiannya, dan tak lupa melemparkan ejekan-ejekan untuk mempermalukannya.
"Wah! Tak kusangka kita sudah menyiksanya sampai seperti ini!" Komentar salah seorang prajurit saat melihat sekujur tubuh Lu Xun yang penuh bekas sayatan dan luka. Tetapi mereka bukannya menaruh kasihan melainkan malah merasa bangga.
"Hah! Kau tidak lihat? Sepertinya tubuhnya mulus, seperti tubuh perempuan saja! Sekarang bukankah kita sedang mengajarinya untuk merasakan rasa sakit?" Imbuh seorang lagi, kali ini diselingi tawa. Lu Xun benar-benar tidak habis pikir, apa kenikmatan yang para prajurit itu harapkan dari menyiksa dan mempermalukannya? Baiklah, jika ia adalah seorang jendral yang gagah berani, dan sekarang kondisinya masih maksimal, sama sekali tidak heran jika mereka berusaha menghabisinya.
Tetapi sekarang keadaanya berbeda. Ia bukanlah seorang jendral musuh yang begitu gagah perkasa, dari dulu sampai sekarang pun tidak. Ia hanyalah seorang ahli strategi yang kemampuan bertarungnya tidak seberapa. Dan terlebih, ia sekarang sudah hampir sekarat, keadaannya sudah seperti orang yang sebentar lagi akan mati. Tubuhnya lemah, tenaganya sudah terkuras habis. Jadi, apa yang mereka harapkan dari menyiksa dan mengejeknya? Perlawanan? Ia tidak punya cukup tenaga untuk itu. Sumpah serapah? Bahkan bibirnya yang bengkak begitu sakit untuk digerakkan. Apakah itu hanya untuk mematuhi perintah Cao Pi saja? Kalau memang benar begitu, mengapa mereka sampai harus memperlakukannya seburuk itu, bahkan menyiksanya dengan cara yang lebih buruk ketimbang memperlakukan pada seekor binatang? Apakah orang-orang di Wei pernah dicuci otak untuk dapat merasakan kenikmatan dari menyiksa seseorang hingga hampir mati?
Setelah menanggalkan pakaiannya, mereka melepaskan ikatan tangannya. Tambang yang kasar itu bergesekan dengan tangannya, lagi-lagi membentuk beberapa goresan baru. Ia langsung terjatuh ke tanah ketika tangannya bebas dari ikatan tambang. Mereka yang melihatnya sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat barang sedetik pun. Seorang prajurit menyeretnya, bukan dengan menarik tangannya tetapi dengan menjambak rambutnya.
Lu Xun sama sekali tidak tahu apa lagi yang akan mereka perbuat. Ia hanya merasakan tubuhnya dihempaskan hingga kepalanya terbentur sesuatu yang sangat keras dan kasar. Sebuah meja batu. Benturan itu keras, hingga pelipisnya langsung mengeluarkan darah. Ia jatuh terduduk dengan tubuh bersandar pada meja batu itu.
"Berdiri!" Teriak seorang prajurit. "Berbaring di atas meja!"
Perintah itu terdengar jelas, tetapi ia tidak bisa mematuhi keinginan prajurit-prajurit itu. Sekali lagi mereka mulai mengejeknya, memaki, dan menyumpahinya karena ketidakmampuannya untuk memenuni perintah itu.
Sebuah rotan ditusukkan ke telapak kakinya, dan saat itu juga kulitnya sobek dan mengeluarkan darah. Lu Xun hanya bisa menahan sakitnya dengan menutup matanya erat-erat. Sadarlah ia bahwa rotan itu bukan sekedar rotan biasa, ujungnya telah diperuncing. Dengan sebuah ancaman itu, ia berusaha menengakkan kakinya, berdiri sambil berpegangan pada sisi meja itu. Mereka menyorakinya, tentu saja bukan menyemangati tapi untuk mempermalukannya. Kakinya bergetar menahan sakit, menolak untuk dipaksa menyangga tubuhnya.
Akhirnya ia menjatuhkan tubuhnya di atas meja batu itu dalam keadaan tertelungkup. Wajahnya bergesekan dengan permukaan batu yang kasar. Nafasnya tersenggal-senggal karena usaha yang ia lakukan sungguh tidak mudah. Prajurit-prajurit itu memandangnya dengan perasaan puas. "Kau hanya begitu saja tidak kuat! Apa yang dimiliki Wu hanya orang-orang lemah sepertimu?"
Seorang prajurit membawakan beberapa tambang, tetapi prajurit yang lain menggeleng. "Jangan, itu sudah biasa." Kemudian prajurit itu mengangkat beberapa utas sulur tanaman yang berduri. Prajurit itu mendekatinya, lalu menarik tangan kanan Lu Xun yang terkulai lemah. Tangan yang halus dengan jari-jari yang panjang, seperti tangan ahli strategi kebanyakan. Prajurit itu lalu menempatkan tangannya ke sudut meja, kemudian mengikatkannya kuat-kuat dengan tanaman berduri itu.
Lu Xun merasakan darah mulai mengalir membasahi tangannya. Tangan lainnya ia gerakkan perlahan, berusaha menyentuh pergelangan tangan kanannya yang tertusuk duri-duri itu. Betapa kagetnya ia saat melihat rupanya darah yang keluar dari tangannya begitu banyak. Namun, sebelum ia sempat berpikir apapun, seorang prajurit lain telah menarik tangannya itu, kemudian mengikatkannya pada sudut meja yang lain. Begitu juga kedua kakinya mereka ikatkan pada dua sudut lain meja berbentuk segi empat itu.
Rupanya mereka tidak puas hanya dengan mengikatkan tangan dan kakinya saja. Lu Xun merasakan duri-duri itu bergesekan dengan punggungnya pada bagian pinggang, kemudian diikatkan memutari bawah meja itu. Setiap ikatan mereka buat sangat kuat, hingga kulitnya yang tidak kuat menahan sayatan dan tusukan duri itu langsung berdarah. Dengan tubuhnya yang tertelungkup, ia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang sekarang akan dilakukan prajurit itu.
"Sekarang kita lihat, bocah, sekuat apa kau bisa bertahan."
Kuat? Ia sudah tidak punya kekuatan lagi!
"Kau bebas berteriak sekuatmu! Tidak perlu bersikap sombong lagi!"
Berteriak? Darimana ia punya kekuatan untuk itu?
Tiba-tiba lengan atasnya dihujam oleh sebuah rotan. Rotan itu menusuk sampai dalam, bahkan ia sampai dapat merasakan ujung rotan yang runcing itu bergesekan dengan tulangnya. Betapapun sakitnya serangan itu, ia sudah tidak bisa lagi berteriak. Suara yang keluar dari mulutnya hanyalah rintihan lemah.
"Kau tidak berteriak? Tidak menjerit? Hebat juga!"
Itu hanya permulaan saja.
Mereka menusuki tubuhnya secara membabi-buta. Ada yang mengenai kakinya, tangannya, bahkan punggungnya. Hanya saja, mereka tetap mematuhi perintah Cao Pi: tidak sampai membiarkannya mati. Tubuhnya sekarang seperti sasaran untuk latihan menusuk dengan tombak. Entah berapa banyak darah yang sudah keluar akibat tusukan-tusukan itu. Semakin lama ujung rotan-rotan itu semakin tumpul dan dilumuri dengan darahnya.
Ada beberapa di antara mereka yang menggunakan cara lain untuk menyiksanya. Tanaman berduri yang masih ada mereka lilitkan pada rotan mereka. Mereka pun memukuli tubuhnya dengan rotan berlilitkan duri itu. Ada yang langsung memukulkannya saja, tapi ada pula yang menekannya kuat-kuat, kemudian menggesekkannya. Lu Xun mulai dapat merasakan meja batu itu sekarang tergenang dan berubah warna menjadi merah oleh darahnya. Entah sudah berapa banyak orang yang terbaring di atas meja itu.
Sementara ada yang menyiksanya, beberapa orang prajurit lain yang tidak mendapatkan rotan itu berebutan melihat pakaiannya. Mereka mengamatinya dengan kagum. "Jadi, inikah baju milik seorang ahli strategi? Menjadi ahli strategi itu enak, ya? Pakaiannya dari sutra yang bagus seperti ini! Kita selama ini hanya memakai pakaian perang biasa, apalagi dengan baju perang besi yang sudah tua dan bau itu!"
"Aku dengar malah katanya sutra dari Jian Ye sangat halus dan indah! Paling bagus di antara semua kain yang dari kota yang lain hingga harganya mahal sekali!" Sahut seorang prajurit lain. "Dia beruntung sekali! Sudah begitu, bukankah dia ini sebenarnya menantu Kaisar Wu? Benar-benar seorang ahli strategi kesayangan Kaisar Wu!"
"Eh, apa ini? Rupanya di sini pun ada bulu-bulunya juga!" Kata seorang prajurit lain. "Bagus sekali! Sama seperti yang ia pakai di kepalanya! Jangan-jangan ini bulu Phoenix sungguhan! Lihatlah warnanya!"
"Bagikan saja di antara kita!" Jawab yang lain. "Bocah Wu itu sama sekali tidak pantas memilikinya. Siapa dia sehingga berani memakai bulu Phoenix di pakaiannya?"
Di tengah-tengah keadaan seperti itulah tiba-tiba kata-kata gurunya yang pernah ia dengar beberapa tahun lalu kembali terdengar di telinganya. Kata-kata yang mendatangkan kenangan pahit untuknya. Kata-kata yang menyadarkannya betapa bodohnya ia jika ia terlalu bermurah hati...
"Sekarang jika keadaanya dibalik, kamulah yang menjadi tawanan musuh, apa kamu pikir mereka akan melakukan yang kamu pikirkan? Apa mereka akan menanyaimu baik-baik lalu melepaskanmu kalau kamu menolak? Tidak! Mungkin saja mereka akan membunuhmu kalau kamu menolak. Lebih parah lagi, mungkin belum apa-apa mereka akan menyiksamu habis-habisan sampai kamu berpikir lebih baik kamu mati saja, tapi kematian itu tidak akan datang sampai mereka sendiri bosan melihatmu menjadi 'mainan' mereka!"
Itulah yang pernah dikatakan Zhou Yu saat penasihat itu tengah mengarajarinya. Waktu itu ia sama sekali tidak bisa menerima perkataan gurunya, terutama saat gurunya berkata bahwa menyiksa musuh kadang bisa menjadi kesenangan bagi beberapa orang. Kali ini, barulah ia mengerti apa yang dikatakan gurunya itu ternyata benar adanya.
Di tengah hujaman rotan yang runcing itu, Lu Xun mengerahkan kekuatannya untuk mengangkat wajahnya melihat ke prajurit-prajurit yang menyiksanya itu. Ia hanya bisa melihat beberapa orang saja, tidak semuanya. Tetapi mereka semua memiliki sesuatu yang sama. Tatapan yang bengis, tawa yang kejam, dan suara yang kasar. Mungkin jika Cao Pi tidak memperingatkan mereka untuk tidak membunuhnya, sekarang ia pasti sudah disiksa sampai mati.
Meski Zhou Yu mengatakan hal itu, gurunya itu sama sekali tidak mengatakan apa yang harus ia lakukan jika ia bisa membalas dendam itu pada musuhnya. Kemudian pertanyaan itu akhirnya muncul di kepalanya.
"Bagaimana kalau suatu saat kau bebas membalas setiap siksaan yang prajurit-prajurit ini berikan untukmu?"
Pertanyaan itu seolah ia dengar dari Zhou Yu sendiri, dan yang namanya pertanyaan itu selalu menuntut jawaban. Ia merasakan setiap bagian tubuhnya tidak ada yang luput dari tusukan dan pukulan. Apa yang ia dengar di telinganya hanyalah ejekan-ejekan yang dilemparkan oleh mereka. Ia melihat mereka yang menatapnya dengan tatapan puas ketika ia berusaha mati-matian menahan sakit, dan yang menatapnya dengan tatapan kejam saat tubuhnya semakin lama semakin lemah. Tangannya ia kepalkan untuk menahan sakit, namun saat ia melakukannya, duri-duri yang mengikat tangannya akan langsung menembus kulitnya.
Tapi masih saja, ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Jika benar seandainya suatu saat ia memiliki kesempatan untuk membalas dendam, apa yang harus ia lakukan? Mereka telah memperlakukannya seperti itu, dan kelihatannya mereka menikmatinya. Mereka senang membuatnya menderita. Tapi, apakah itu bisa terjadi pada dirinya? Bisakah ia menikmati saat melihat mereka mengalami hal yang sama dengannya? Ia begitu kesakitan sekarang, bukan hanya tubuh tetapi juga hatinya. Dan justru karena ia sudah merasakannya, ia tidak ingin ada orang lain yang merasakan hal yang ia alami sekarang. Bahkan orang-orang yang membuatnya merasakan ini sekalipun.
Maaf, Penasihat Zhou... dalam hati ia menjawab pertanyaan itu. Mungkin aku memang tidak akan bisa menjadi ahli strategi yang hebat. Aku tidak mau membalas perbuatan musuh-musuhku, bahkan setelah mereka memperlakukanku seperti ini... Kumohon... maafkan aku, Penasihat Zhou... Dengan begitu, ia merasa matanya semakin berat. Kepalanya tertunduk kembali di atas meja batu itu dengan sepasang mata yang tertutup perlahan.
Siksaan itu akhirnya berhenti saat seorang prajurit melemparkan rotannya. "Cukup! Kupikir sekarang ini sekian saja! Jangan sampai dia mati! Kalau lebih dari ini, bisa-bisa dia akan mati betulan! Sebaiknya, kita beri dia kesempatan istirahat!" Prajurit itu mengumumkan. Yang lainnya setuju, kemudian ikut melemparkan rotannya.
Lu Xun kemudian ditarik hingga jatuh dari meja batu itu. Saat ia menengadah ke atas, ia melihat seorang prajurit membawa sehelai pakaian. "Bajumu itu sama sekali tidak pantas untuk keadaanmu sekarang! Jadi, bagaimana kalau kau memakai ini saja?" Mereka mulai memakaikan baju itu pada Lu Xun. Sebagai ganti dari pakaian indah dari sutra mahal yang tadi ia kenakan, kini mereka memakaikannya baju tahanan. Bahan kain yang kasar itu bergesekan dengan luka-lukanya, hingga membuat tubuhnya semakin perih. Sebagai penutup, tak lupa mereka mengikat kedua tangannya di balik punggungnya.
"Penasihat Sima Yi ingin bicara denganmu! Berdiri!"
Rupanya ia belum boleh beristirahat.
Seorang prajurit sekali lagi menjambak rambutnya. Kali ini ia tidak diseret. Mereka memaksanya untuk berdiri dan berjalan sendiri. Mereka menggiringnya keluar dari ruangan itu. Kakinya yang telanjang bahkan sudah dipenuhi luka itu tertusuk oleh batu-batu kecil yang ada di sepanjang jalan. Tidak hanya itu, sepertinya Sima Yi sendiri sengaja untuk memanggilnya dari tempat yang jauh untuk memaksanya berjalan.
Perjalanan itu serasa tidak ada habisnya. Berkali-kali ia terjatuh, tetapi yang mereka lakukan hanya menjambaknya atau memukulinya lagi dan lagi. Saat keluar dari ruangan penjara itu, mata Lu Xun yang sudah terbiasa di tempat gelap tertimpa oleh cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Kepalanya yang sakit semakin pening saja sampai terasa akan pecah. Sampai berjalan jauh, barulah Lu Xun serta prajurit-prajurit itu mendapati Sima Yi berdiri di tengah pekarangan sambil menatap ke kejauhan.
"Penasihat Sima! Tahanan sudah kami bawa!" Seru salah seorang prajurit.
Sima Yi berbalik. Ia melihat Lu Xun didorong ke depan hingga hampir terjembab ke tanah. Sima Yi tersenyum puas. Dihadapannya hanyalah seorang bocah yang sudah tidak bisa apa-apa lagi, melindungi dirinya sendiri pun tidak. Sebagian wajahnya sudah tertutup oleh darah, begitu juga bagian tubuhnya yang lain. Bibirnya pecah, matanya menatap lemah ke bawah. Tangannya diikat di belakang tubuhnya, tetapi sebenarnya itu tidak berguna lagi, toh tangannya itu sudah terlalu lemah untuk ia gerakkan. Tubuhnya gemetar karena kesakitan, juga menggigil kerena tertiup hembusan angin pagi yang dingin menusuk tulang. Pakaiannya sekarang tidak lebih dari sekedar pakaian tahanan yang kasar dan kotor.
"Bagus. Kalian boleh pergi." Kata Sima Yi. Sesudah memberi hormat, para prajurit itu pergi meninggalkan Sima Yi sendirian bersama Lu Xun.
Sima Yi berjalan memutari Lu Xun, mengamat-amatinya dengan tatapan mengejek. Nafas ahli strategi dari Wu itu tidak karuan, entah karena kelelahan atau menahan sakit, atau mungkin keduanya? Saat Sima Yi memperhatikannya dengan seksama, rupanya dari sudut mata Lu Xun keluar airmata, yang turun mengalir di pipinya, membersihkan sedikit bagian dari wajahnya yang kotor oleh darahnya sendiri. Sima Yi bingung, apa yang dipikirkan Lu Xun sekarang?
"Pangeran Cao Pi pasti senang melihatmu seperti ini." Katanya sambil tertawa kecil, mengejek. "Sayang dia sekarang sedang pergi berperang. Sepertinya Kaisar Wu benar-benar shock mendengar putri dan menantunya pergi sehingga memimpin sendiri tentaranya tanpa menyusun strategi apapun..."
Mata Lu Xun terbelalak lebar. Ia berusaha menatap Sima Yi dengan tatapan tidak percaya. Akhirnya, untuk pertama kalinya sejak ia disiksa oleh para prajurit itu ia mengeluarkan suara. Suara yang serak dan lemah, tetapi masih terdengar jelas. "Tidak mungkin... kau bohong..."
"Tidak." Balas Sima Yi. "Sekarang kami sedang berperang melawan mereka. Sepertinya Kaisar Wu sungguh gegebah menyerang hanya dengan mengandalkan emosinya saja. Mereka menyerang tanpa persiapan, pasti akan kalah dengan mudah."
Kali ini Lu Xun tidak menyembunyikan lagi airmata yang sudah menggenangi matanya. "Bagaimana... bisa...?" Ia telah berusaha menyelamatkan Yangmei seorang diri, tanpa bantuan pasukan Wu agar mereka tidak membahayakan diri sendiri. Tetapi sekarang, rupanya perjuangannya itu sia-sia. Adalah lebih baik baginya agar Yangmei dan seluruh pasukan Wu tetap dalam keadaan aman, sementara dirinya sendiri yang menanggung bahaya, daripada seluruh Wu harus diresikokan untuk menyelamatkan Yangmei. Dengan penyerangan tanpa rencana ini, apa artinya usahanya sekarang? "Penasihat Zhou... dia... pasti menasihati... Kaisar..." Setiap katanya diselingi dengan batuk-batuk.
"Zhou Yu?" Sima Y menaikkan alis matanya. "Apa kau kira dia bisa melakukan apa-apa ketika Sun Ce sendiri sudah memutuskan sesuatu? Kaisar yang payah, bertindak hanya didasari oleh emosi sesaat saja... bahkan penasihatnya sendiri tidak diperhatikan lagi." Katanya dengan nada menghina. "Biarlah... ini keuntungan untukku. Di setiap rute sudah kupasang jebakan. Kali ini pasti berhasil, tidak seperti pertemuan kita dulu. Dengan mudahnya semua orang Wu akan kutawan! Bahkan Kaisar Wu sekalipun! Kalau sekarang aku ingin mencari Yangmei, pasti dia akan kutemui dengan mudah!" Di akhir kata-katanya, ia mengakhirinya dengan tawa yang bengis.
Lu Xun tidak dapat mempercayai pendengarannya. Jadi apakah pengorbanannya ini sia-sia? Apakah Yangmei akan ditangkap kembali oleh mereka? Dan apakah benar Wu akan habis dalam waktu sesingkat itu, seperti yang tekah Sima Yi katakan? "Tidak... Jangan lakukan itu..." Ia menatap Sima Yi dengan tatapan memohon. Kali ini ia benar-benar sungguh-sungguh, dari sorot matanya sudah terlihat jelas.
Sima Yi menatap Lu Xun sekilas. Kali ini bocah ini benar-benar beda dari saat pertama kali mereka bertemu, atau ketika Cao Pi sedang menanyainya dengan pertanyaan menjebak. Tahulah Sima Yi akhirnya. Saat membahayakan dirinya sendiri seperti di perang atau saat Cao Pi mengancam akan menyiksanya, Lu Xun sama sekali tidak takut. Ia sepertinya siap dengan apapun yang akan ia terima. Tetapi saat ia mengatakan sedikit saja tentang Yangmei, atau tentang Kerajaan Wu, Lu Xun langsung goyah. Ia menjadi sangat lemah, tidak ada kekuatan sedikitpun untuk bersikap tegar seperti waktu itu. Rupanya kelemahan Lu Xun ada pada orang-orang yang disayanginya, bukan pada dirinya sendiri.
"Begitu?" Tanya Sima Yi. "Lalu, apa menurutmu aku harus memenuhi keinginanmu? Jika kau harus memilih, manakah yang akan kau pilih? Yangmei atau Wu?" Ia terdiam sejenak. "Atau mungkin dirimu sendiri?"
"Yang pasti bukan diriku sendiri..." Jawab Lu Xun dengan suara tercekat karena menangis. "Tapi jika disuruh memilih antara Yangmei atau Wu, aku tidak tahu... Yang aku tahu Yangmei dan Wu adalah satu kesatuan. Kalau aku meninggalkan Yangmei, sama saja aku meninggalkan Wu. Begitu juga sebaliknya..."
"Jawaban bagus." Sima Yi mengangguk puas. "Tapi tidak cukup bagus untuk mengubah pikiranku. Aku memanggilmu kemari untuk satu hal," Penasihat Wei itu berhenti sejenak, sekali lagi mencari ketakutan yang tersembunyi di balik kedua mata Lu Xun. "Mula-mula orang Wu yang berhasil kutawan akan kubawa kemari, khususnya Sun Ce. Kemudian, aku akan menggiringmu keluar dan mempertontonkanmu di depan mereka." Sesudah mengatakan itu, Sima Yi tertawa terbahak-bahak, terutama saat melihat tatapan mata Lu Xun yang jatuh ke lantai, seolah pasrah dengan apapun keinginannya. Dia melanjutkan lagi. "Kalau dipermalukan di depan orang-orang Wei, kupikir biasa saja, bukan? Toh kami juga musuh-musuhmu. Tapi, bagaimana kalau kau dipermalukan di depan orang-orang yang kau sayangi? Seandainya Yangmei ada di sini untuk melihat keadaanmu, tentu akan sangat menarik!"
Jawaban Lu Xun tidak seperti yang Sima Yi kira. Penasihat Wei itu mengira Lu Xun akan memohon belas kasihan, atau apapun supaya ia bisa lepas. Lu Xun tetap memohon, tetapi bukan untuk keselamatannya. "Jadi, setelah kau mempermalukanku di depan mereka, apa kau akan melepaskan mereka?"
Untuk sesaat Sima Yi tidak dapat berkata apa-apa. Pertanyaan macam apa itu? "Mengapa mereka harus kulepaskan? Setelah mempermalukanmu, aku akan membunuh mereka satu persatu! Kemudian baru sesudah itu membunuhmu! Setelah itu, Yangmei tidak akan punya siapa-siapa untuk kembali, dan mau tidak mau dia harus pergi pada kami."
Lu Xun menatap dengan mata tidak percaya. "Jangan... kenapa kau begitu kejam?" Suaranya terdengar seperti desahan.
"Kejam?" Sima Yi menyeringai. "Justru aku berpikir sesuatu yang lebih hebat. Bukankah tidak menarik kalau hanya membunuhnya saja? Aku juga akan membuat Kaisar Wu seperti kau sekarang ini."
Akhirnya, setelah menahan sekian lama, airmatanya tidak dapat ia bendung lagi. Tangis Lu Xun pecah mendengar perkataan Sima Yi. Dalam tangisnya itu ia masih berusaha bicara. Setiap kata rasanya begitu sulit ia ucapkan. "Apa... menyiksaku... belum cukup untukmu? Berapa banyak... orang yang perlu kau siksa lagi?" Lu Xun membiarkan airmatanya mengalir begitu saja, tidak lagi ia menyembunyikannya dari Sima Yi. Bukankah ini yang Sima Yi mau? Menyiksa dan menghinanya habis-habisan sampai ia pun harus menangis seperti itu? Apapun yang telah dilakukan para prajurit itu sama sekali gagal untuk membuatnya menyerah, tetapi lain halnya dengan Sima Yi. Penasihat Wei ini sudah menemukan titik lemahnya dan dengan lihainya menggunakannya untuk menghancurkannya.
"Baiklah..." Setelah memikirkan cukup lama, akhirnya Sima Yi memberikan jawaban. "Aku akan membunuhnya dengan cepat." Lu Xun sudah siap untuk protes, tetapi Sima Yi tidak mengizinkannya untuk bicara. "Kau sudah kuberi hak istimewa untuk meminta, sekarang apa yang ingin kau berikan sebagai gantinya?"
Lu Xun tidak dapat menjawab apa-apa lagi. Inikah yang Sima Yi ingin lakukan? Menjebaknya? Ia hanya terdiam beberapa saat lamanya, tidak mengeluarkan suara apapun. Entah kenapa, ia merasakan begitu banyak beban di atas bahunya. Yangmei, Kaisar Sun Ce, seluruh pasukan Wu, keselamatan mereka sekarang dibebankan di atas bahunya. Ia tidak habis pikir, kenapa Sun Ce sampai menyerang Wei tanpa taktik apapun? Apakah Yangmei masih belum sampai ke perkemahan Wu? Sekali lagi kecerobohan orang lain membuatnya menderita. Mungkin bukan hanya hukuman akibat kesalahan Yangmei saja yang ia tanggung.
"Aku..." Desah Lu Xun pelan. "...Tidak punya apapun selain diriku sendiri."
Terdengar tawa kecil, tetapi semakin lama berubah menjadi tawa terbahak-bahak dari Sima Yi. "Bagus... bagus... Itulah jawaban yang aku nantikan." Katanya. "Kalau begitu, sebagai ganti, tampillah sebagus mungkin di depan kaisarmu."
Duh... Lu Xun... T.T
(Ini semua gara2 pas nulis chap ini sesudah nonton Man Behind the Sun...)
Hmmm... daripada saya ngomong berkepanjangan dan nggak penting, mending langsung lanjut, deh... ^^
