Tangan yang hangat.

Suara yang teduh.

Itachi dan Sasuke ada di sini.

Desahan melarikan diri dari mulutku. Banyak tangan mengerubungiku penuh khawatir, tapi tidak satupun dari mereka adalah yang kucari.

Tidak satupun dari mereka milik kedua kakakku.

"Badanmu masih panas, kembalilah beristirahat." seru Ino, air mukanya bertambah merah, semerah wajahku yang didera demam. Matanya yang berkaca-kaca membuatku berkesimpulan dia baru saja menangis.

Sai menginterupsi.

"Biarkan."

Suaranya dingin, tegas, tanpa simpati.

"Tapi!"

Juugo menimpali. "Nona, jika anda merasa akan pingsan, berteriaklah sebagai tanda."

Dengan kepala yang terasa melayang, aku melirik Juugo. Tidak ada petunjuk bahwa dia bercanda di wajahnya. Remasannya di bahuku juga tanpa ragu.

Kakashi hanya menggeleng. Profesinya sebagai dokter seolah tidak dihargai di sini; tapi ia juga tidak sedikitpun berusaha menghentikan sekelompok orang gila di depannya.

Sel otakku mengirimkan sinyal rasa sakit saat bibirku kukulum keras. Masih bisa.

Masih bisa berlari.

"Aku berangkat."

Juugo tersenyum sebelum melepasku pergi.

"Take care."

Aku samar-samar mengingat kejadian lima menit lalu. SemuanyaーKakashi, Juugo, Ino dan Saiーmeskipun berselisih pendapat, membiarkanku pergi. Menerjang angin musim gugur yang bertiup sangat kencang tanpa henti. Masih bisa kurasakan kerikil tajam yang menusuk telapak kakiku saat mengambil lima langkah pertama. Tapi aku tidak berhenti. Meskipun mereka yang menyaksikanku berlari dari teras rumah dan kedua kakakku di kejauhan mendesah khawatir. Aku tidak berhenti.

Piyama berenda-ku tertiup liar, keliman kain bagian atasnya seolah akan menerbangkanku setiap angin bergumul memenuhi ruang kosong, mirip parasut.

Untuk sesaat, aku terbang.

"UCHIHAAAAAAAAAAAA!"

Mereka berdua memejamkan mata. Sudah kuduga. Mereka mengira aku akan melakukan sesuatu yang akan melukai mereka. Jujur saja, terpikir olehku.

"...ha...!"

Habis, mereka meninggalkanku. Semua kata-kata manis merekaー

"Kau milikku."

semua pengakuan merekaー

"Kau membuatku kehilangan kendali."

harusnya membuat mereka terikat padaku, bukan?

"Aku yang akan jadi Tsukuyomi."

"...anak kecil sepertimu?"

Tapi apa yang tersisa dari itu semua?

Tidak ada.

BRUK!

Mereka justru semakin jauh dari jangkauanku.

"Ughー!"

"Nghー?!"

Mereka pantas dipukul.

Mereka pantas ditinggalkan.

Merekaー

"...kalianー"

Tubuhku perlahan mendarat di tanah. Aroma tubuh kedua Uchiha paling keras kepala di dunia memenuhi paru-paruku. Pergelangan tanganku mengunci leher mereka berdua erat.

ーbagaimanapun juga, adalah saudaraku.

Peganganku di leher mereka berdua perlahan menjadi longgar. Aku berusaha bertahan sebisaku. Karena ini satu-satunya cara.

"ーSasuke..ha...h...I-Itachi..."

GREB!

Dua pasang lengan kuat merangkul pinggangku sigap. Melihat tidak ada reaksi menolak dariku, tangan-tangan yang sudah bukan lagi ukuran anak kecil menyibukkan diri mengangkat tubuhku dari permukaan tanah barang sedikit, lainnya mengusap dahiku yang membara.

Mereka tidak mengatakan apapun.

"Kh..."

Air mataku mengalir. Padahal begini dekat, hingga bisa kurasakan nafas mereka di kedua sisi leherku. Tapi justru keberadaan yang mengikat mereka, membuat mereka berselisih satu sama lain.

"...tidak...akan kuizinkan pergi lagi...kalian berdu...a..."

Tak akan terjadi.

Tak akan kubiarkan terjadi lagi.

Karenanyaーkarenanyaー

Kecupan Itachi di punggung kepalaku terasa...wajar. Penuh kasih sayang, sebagaimana biasanya.

"Maafkan aku, Tenten."

Sasuke, yang berada lebih dekat dengan sisi depan tubuhku menarik kepalaku mendekat, bibirnya mengusap dahiku.

"Maafkan aku...Tenten."

ーbiarkan aku mencari cara, solusi dari semua ini.

Tetaplah di sisiku sampai aku menemukannya.

"We love you."

Tangisanku pecah. Semua emosi bercampur jadi kesatuan yang tidak kusangka bisa terbentuk. Mencair, menguap, lenyap dari dadaku.

Dekapan mereka mengerat. Apalagi setelah energiku kembali hilang dicuri demam.

Begitu banyak perhatian, begitu banyak tangan yang menyentuhku.

Tapi tidak ada yang seperti Sasuke dan Itachi.

"Aku juga...sayang kalian...!"

Musim gugur tahun 20xx, usiaku 21 tahun. Itachi 25, dan Sasuke 21.

Tiga orang dewasa yang terlibat cinta segitiga tidak lazim dipertemukan kembali di tengah lapangan bunga matahari.

Seakan mengejek, mentari senja menumpahkan warnanya ke tubuh kami, mewarnai kami dengan warna bunga matahari.

Menyindir, mempertanyakan janji masa kecil dan cerita dongeng dewa Shinto.