A/N : Maaf untuk update yang agak lama, berhubung saya sekarang sedang menulis novel saya sendiri. Sehingga saya harus pandai-pandai membagi waktu untuk menulis fanfic, novel, dan tugas kuliah. Oh ya, chapter ini adalah chapter terakhir. Saya sungguh mengucapkan terima kasih bagi anda semua yang sudah dengan setia mengikuti fic ini, baik dengan memberi review, favourite, follow, atau mungkin hanya membaca. I really wanna say thank you so much. Also, please wish me luck.

LAST CHAPTER

END & BEGINNING

Tubuh Xehanort yang telah terbelah tergeletak di lantai, dan kemudian hancur menjadi abu yang diterbangkan oleh angin. Dan tidak lama setelahnya, sangkar yang mengurung Tifa serta yang lain juga ikut musnah. Baik Tifa mupun yang lain sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Akhirnya... perjuangan mereka membuahkan hasil. Setelah menempuh perjalanan jauh, melawan berbagai macam musuh, terperangkap berbagai macam jebakan, bahkan sampai ada dua anggota yang sekarat. Akhirnya...

Xehanort berhasil mereka kalahkan.

Cloud terus menatap lantai tempat Xehanort menghilang sampai akhirnya dia kembali lagi ke wujudnya semula. Tato di tubuhnya menghilang, pedang-pedangnya kembali menjadi satu, dan sayapnya kembali lagi menjadi sepasang. Tetapi seperti biasa, mode berserk ini selalu menguras tenaga. Kaki Cloud benar-benar seperti jelly, sama sekali tidak bertenaga dan untung melangkah saja tidak bisa. Hingga akhirnya, jatuh pun sudah tidak bisa dihindari lagi. Tifa segera berlari dan menangkap tubuh suaminya untuk kedua kalinya. Ketika Tifa mencoba mengangkat tubuh Cloud, entah mengapa tubuh Cloud terasa sangat ringan. Bahkan lebih ringan daripada sebelumnya.

Selagi Tifa masih khawatir, Riku tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya. Dan sepertinya, Riku juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan Tifa. Terbukti dengan sikapnya yang langsung menempelkan kedua tubuhnya ke tubuh Cloud. Riku hendak menggunakan jurus itu lagi, Mary's Bless. Sora dan yang lain juga segera menghampiri kedua orangtuanya.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Tifa. "Apakah keadaannya separah itu?"

Riku tidak menjawab. Membuat Tifa dan yang lain menjadi sedikit kesal.

"Riku, jawablah. Apa yang terjadi dengannya?!"

"Dia nyaris mati."

Sontak, hati Tifa serasa ditusuk seribu pedang sekaligus. Nyaris mati? Cloud yang selama ini begitu kuat dan gagah di hadapannya kini hampir mati? Sora yang tidak percaya segera menghampiri Riku dengan wajah yang meminta penjelasan lebih.

"Dia sudah melakukan mode berserk sebanyak dua kali. Meski aku sendiri tidak memiliki mode itu, tetapi aku tahu betul bahwa berserk sangatlah menguras tenaga," kata Riku. "Ditambah lagi dia telah bertarung beberapa kali, bisa kau bayangkan berapa banyak kekuatan yang sudah dia habiskan?"

Ingin melawan, tetapi tidak bisa. Karena semua yang dikatakan Riku sungguh masuk akal dan sesuai dengan kenyataan. Dibandingkan dengan yang lain, Cloud-lah yang paling sering menggunakan kekuatannya. Baik dalam serangan fisik atau sihir, pasti Cloud ikut mengambil bagian. Salah satu puncak pengurasan tenaganya mungkin adalah ketika dia melawan Maleficent dan Leviathan. Waktu itu dia masih terlihat segar, tetapi sekarang... Cloud tidak sadarkan diri. Benar-benar berbanding terbalik

Riku terus menggunakan sihirnya untuk waktu yang cukup lama. Dan sementara menunggu, Sora dan Kairi pergi mengelilingi istana untuk memeriksa. Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Tempat ini benar-benar seperti tempat rongsokan. Bagaimana tidak? Hampir semua barang-barang di sini hancur lebur. Bahkan benda yang kecil seperti vas saja sama sekali tidak utuh. Perpustakaan dengan seluruh buku yang terbakar, dapur yang sungguh tidak karuan, ruang tidur dengan kasur yang terbelah, dan masih lain lagi. Sama sekali tidak ada sesuatu yang berguna. Sepertinya harapan Sora dan Kairi untuk menemukan obat harus berakhir.

Selain barang-barang yang hancur, mayat-mayat juga banyak sekali. Kebanyakan dari mereka tewas karena terbakar, tetapi ada juga yang entah bagaimana tewas berkeping-keping. Ingin menyelidiki, tetapi sepertinya sudah tidak perlu lagi melakukan itu. Kemungkinan besar sih, mereka juga merupakan kelinci percobaan dari eksperimen Xehanort yang gagal.

Sora dan Kairi keluar dari kamar yang baru saja mereka selidiki.

"Menemukan sesuatu?" tanya Kairi.

"Sama sekali tidak, kecuali mayat."

"Kurasa tidak ada sesuatu yang berguna. Padahal kukira setidaknya ada obat atau semacamnya."

Kairi mengangguk sebagai tanda setuju. "Lalu... tempat mana yang belum kita jelajahi?"

Sora melirik ke kiri dan kanan, dan seluruh kamar di lorong ini sudah mereka periksa semua. Hasilnya? Seperti yang dikatakan sebelumnya, nihil. Lorong ini juga adalah tempat terakhir yang mereka periksa, sehingga (seharusnya) bisa dibilang penyelidikan mereka sudah selesai. Mungkin kali ini mereka harus kembali ke tempat Cloud dan Tifa, mungkin saja ayahnya sudah sadarkan diri. Sora menggandeng tangan Kairi dan mengangguk sebagai tanda untuk mengajaknya kembali.

BLAR!

Tiba-tiba saja tembok yang ada di belakang mereka hancur, membuat Sora dan Kairi terkejut dan menoleh. Potongan tembok yang ambruk itu membuat debu-debu berterbangan sehingga menyamarkan pandangan. Sora dan Kairi segera melepaskan pegangan tangannya dan bersikap siaga. Dari balik debu, mereka dapat melihat seperti siluet seseorang.

"Sora?"

Sosok pemilik siluet itu semakin lama semakin terlihat jelas. Hingga pada akhirnya, Sora dan Kairi dapat mengenali sosok sang pemilik rambut hitam jabrik itu. Mereka berdua segera melenyapkan keyblade yang tadinya mereka genggam dengan begitu erat.

Vanitas.

Sosok Vanitas yang tengah menggendong Xion muncul. Melihat pertemuan kecil ini, Sora dan Kairi segera berlari dan memeluk saudara angkatnya itu. Begitu juga dengan Xion yang diturunkan oleh Vanitas tidak lama setelahnya. Mereka sungguh bersyukur karena masih bisa bertemu lagi. Terutama Sora dan Kairi, mereka berdua sungguh khawatir dengan keadaan Vanitas setelah ia terjebak perangkap Xehanort. Begitu pula dengan Vanitas, dia sungguh cemas akan keluarganya yang mungkin saja diapa-apakan oleh Xehanort.

"Syukurlah kau selamat," kata Sora. "Ada apa saja yang terjadi?"

"Cukup banyak, salah satunya adalah mengalahkan Saix."

Kairi menyipitkan matanya. "Kau mengalahkan Saix?"

"Ya," jawab Vanitas, yang kemudian menoleh ke kiri dan kanan. "Yang lain ada di mana?"

"Oh, mereka ada di ruang tahta, ayo ikut," kata Sora. "Kurasa Tou-san dan Kaa-san sudah sangat merindukanmu."

"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka?" tanya Xion.

"Tou-san berhasil mengalahkan Xehanort," jawab Kairi.

Seperti yang diduga, Vanitas dan Xion menunjukkan ekspresi tidak percaya. Tetapi pada akhirnya, mereka terlihat begitu senang dan bersyukur. Sampai Kairi melanjutkan kalimatnya.

"Tetapi karena terlalu memaksakan kekuatannya, sekarang Tou-san tidak sadarkan diri."

"Apa ?!" teriak Vanitas. "Bahkan Tou-san sekalipun..."

"Riku sedang mengobatinya, mungkin sekarang Tou-san sudah sadar. Ayo, kita segera ke sana."

Vanitas mengangguk, dan kemudian mereka berempat segera kembali ke ruangan semula. Ketika mereka sampai, ekspresi lega langsung terpatri di wajah dan hati mereka. Karena Cloud telah sadar, meski dia masih dalam posisi tertidur di pangkuan Tifa. Sementara Riku sendiri, dia hanya tengah duduk di samping mereka berdua. Kepalanya tertunduk, dan meski dari jauh, tetapi napasnya terlihat tersengal-sengal dengan keringat yang mengalir di pipinya. Sepertinya dia benar-benar kelelahan karena menggunakan jurus penyembuhan itu. Vanitas menurunkan Xion dari gendongannya dan segera berlari menuju kedua orangtuanya. Mereka bertiga saling berpelukan satu sama lain.

"Aku sungguh takut kalau terjadi apa-apa denganmu," kata Cloud. "Tetapi untunglah kau tidak apa-apa."

"Begitu juga denganku, aku sungguh khawatir terjadi apa-apa dengan Tou-san," jawab Vanitas. "Sepertinya pertarungan melawan Xehanort sangat berat, ya?"

"Begitulah, tetapi jika bisa tidur di pangkuan ibumu, aku sama sekali tidak keberatan."

Perkataan itu direspon dengan tamparan pelan dari Tifa ke pipi kanan Cloud.

"Bagaimana dengan serangan yang akan diluncurkan Xehanort itu? Apakah sungguhan ada?" tanya Vanitas. "Atau mungkin..."

"Roxas dan Namine sudah menemukannya. Ada ruangan rahasia di bawah ruang tahta ini, dan di dalamnya terdapat ratusan kapsul yang isinya adalah vampir-vampir hasil eksperimen."

"Lalu?"

"Kurasa mereka sudah membereskannya, jadi tidak perlu cemas."

Xion menghembuskan napasnya, tanda lega bahwa dengan begini sudah tidak ada lagi ancaman di dunianya. Tidak lama setelah berkata begitu, Roxas dan Namine juga telah kembali. Sama dengan Sora dan Kairi, mereka berdua sungguh kaget dan senang ketika melihat Vanitas serta Xion yang selamat. Tanpa ragu-ragu, mereka langsung memberi sambutan dengan pelukan. Roxas bilang, mereka baru saja meledakkan seisi ruang rahasia itu. Seperti yang diperkirakan, ada banyak sekali jumlah vampir di sana, seperti jumlah angkatan darat tentara dunia manusia. Ketika ditemukan, vampir-vampir itu dalam kondisi tidur, dan yang mampu membangunkannya hanya sebuah mesin yang terletak di sana. Tetapi tentu saja, Roxas dan Namine lebih memilih untuk menekan tombol 'self destruction'.

Ketika Roxas dan Vanitas saling bertukar cerita, tanpa disadari, Cloud sudah memiliki tenaga yang cukup untuk berdiri. Dengan sedikit tergopoh-gopoh, ia menghampiri Sora dan Kairi untuk membicarakan sesuatu. Pembicaraan itu tidak lama, Cloud hanya sekedar mengungkapkan kalimat satu-dua kata yang kemudian direspon oleh sebuah anggukan. Setelah Sora dan Kairi, Cloud menghampiri Roxas dan Namine dengan menepuk pundak mereka. Reaksi Roxas dan Namine sedikit berbeda dengan Sora dan Kairi, awalnya mereka terlihat agak ragu, tetapi pada akhirnya mengangguk dan berjalan mengikuti ayahnya.

Vanitas, Xion, Riku hanya bisa heran melihat mereka. Belum sempat bertanya, Vanitas sudah digandeng tangannya oleh Tifa. Ia digiring ke tengah-tengah keluarganya yang entah bagaimana sudah membentuk sebuah lingkaran. Ketika Tifa melepaskan genggaman tangannya dan memasuki lingkaran, mereka bereenam segera menggandengkan tangan. Vanitas semakin tidak mengerti.

"Sebelum aku meninggalkan dunia ini lima tahun lalu," kata Cloud. "Aku berhasil menyempurnakan sebuah sihir."

Vanitas menyipitkan matanya.

"Sihir yang sangat terlarang, yang entah mengapa berhasil kuselesaikan juga. Awalnya... kukira aku tidak akan menggunakan sihir ini, tetapi akhirnya kugunakan juga."

"Sihir apa itu?"

"Itu..."

Tiba-tiba saja, segel raksasa terbentuk di bawah mereka. Segel raksasa berwarna biru, yang entah mengapa membuat Vanitas tidak dapat bergerak. Baik Vanitas, Xion, dan Riku, mereka sangatlah terkejut.

"A—apa ini?!"

"Semenjak kau jatuh cinta dengan Xion," lanjutnya, "aku sendiri tidak ingin menghalangimu untuk mencintainya, tetapi perbedaan sungguh membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Hingga akhirnya, sihir ini terlintas di benakku."

"Sihir yang sepertinya terdengar mustahil," kata Namine. "Tetapi ternyata memang ada."

"Ya, dan itu adalah sihir..." lanjut Kairi sambil melihat Sora. "Sihir untuk mengubah vampir menjadi manusia."

Vanitas melebarkan matanya, dan sebuah sinar biru tiba-tiba memasuki tubuhnya. Selain terasa seperti ada sesuatu yang ditarik keluar, Vanitas juga merasakan rasa sakit di seluruh tubuhnya.

"Tetapi sayangnya, sihir ini butuh pengorbanan," kata Cloud. "Dan pengorbanannya adalah nyawa enam orang vampir."

"Tidak... kumohon, jangan lakukan itu!" teriak Vanitas. "Aku... aku masih membutuhkan kalian! Dan... kenapa kalian melakukan hal ini hanya demi aku?"

"Kami sama sekali tidak keberatan," jawab Tifa. "Dan kau tahu? Kami sudah mempertimbangkan ini semenjak kau pingsan karena diserang oleh Luxord."

Sudah selama itu? Begitulah pikir Vanitas.

"Memang sayang kami tidak bisa melihat kalian berdua terus bersama," kata Sora. "Tetapi yang pasti, kami tidak akan melupakan kalian."

Perlahan-lahan, tubuh mereka berenam semakin lama semakin menghilang.

"Bahagiakan dia, Vanitas," kata Roxas. "Jangan sampai kau menyia-nyiakan kesempatan yang kami berikan."

Tubuh mereka semakin menghilang. Dan di saat bersamaan, Vanitas merasakan perubahan drastis dalam tubuhnya. Sayapnya mulai terlepas dari punggungnya, bola matanya berubah warna menjadi biru, cakarnya berubah menjadi kuku biasa, taringnya menyusut, hingga warna kulit yang menjadi lebih cokelat. Sihir itu benar-benar bekerja dengan baik.

"Selamat tinggal, Vanitas," kata Cloud. "Kami mencintaimu, dan akan selalu mengingatmu."

"TIDAK!"

Sihir itu akhirnya mencapai puncaknya, dan sosok mereka berenam memancarkan cahaya biru yang begitu terang sampai akhirnya menghilang seutuhnya. Mata Vanitas hanya bisa menatap kepergian mereka semua. Dan sembari meratapi kepergian anggota keluarganya, ada sesuatu yang mengalir keluar dari matanya.

Air mata.

Air mata pertamanya sebagai seorang manusia.


Sudah sebulan berlalu semenjak kejadian itu. Rasanya tidak banyak yang dapat dikatakan, baik oleh Xion, Riku, apalagi Vanitas. Melihat seluruh keluarganya lenyap sungguh membuat Vanitas tidak dapat berkata apa-apa. Dia sungguh syok, sedih, sakit hati, serta bersalah. Karena keenam anggota keluarganya rela mengorbankan diri demi memenuhi harapan mustahil—meski terwujud—Vanitas. Saat mereka baru saja kembali ke dunia manusia dari dunia vampir, Vanitas sungguh tidak ada bedanya dengan manusia setengah mati. Mungkin selama dua-tiga hari, air matanya terus terkuras. Entah mengapa, dia benar-benar seperti dibuat mengalami pengalaman menangisnya yang pertama untuk waktu yang cukup lama.

Oh ya, kejadian yang terjadi baru-baru ini direka sedemikian rupa. Lenyapnya Cloud dan yang lain dikatakan sebagai kecelakaan. Memang agak sedikit tidak masuk akal, tetapi alasan apalagi yang bisa dibuat? Meski hanya Xion dan Riku yang lebih menyumbangkan otaknya, tetapi akhirnya sebuah ide terpikirkan juga. Bilang saja, Cloud dan yang lain—kecuali Vanitas—tengah jalan-jalan ke kota sebelah. Sampai pada akhirnya, sebuah truk kontainer dari arah berlawanan menabrak mereka dari arah berlawanan sehingga tidak ada yang selamat. Untuk pemakaman, mereka sudah melakukannya. Kaget? Ya, tetapi pemakaman benar-benar sudah dilakukan. Dengan waktu yang sangat mepet, dibuatlah nisan, peti kosong, dan makam palsu. Jadi ketika ada pemakaman, tidak ada yang curiga.

Untuk Xion sendiri, Aqua serta Terra sungguh khawatir setengah mati. Mereka bilang sebelumnya sudah melapor pada polisi, tetapi sayang hasilnya sungguh nihil. Karena itulah ketika Xion kemali ke rumah dengan tampilan berantakan, Aqua tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Ketika ditanya Aqua kemana ia menghilang sampai kotor begini, Xion hanya menjawab... dia diculik. Setelah diculik, kemudian dia disekap di sebuah rumah kuno yang sudah lama ditelantarkan. Tetapi ternyata, Riku melihat kejadian itu dan diam-diam mengikuti sang perampok. Hingga pada akhirnya, dia berhasil menghajar semua perampok itu dan menyelamatkan Xion.

Tetapi yah... lagi-lagi semua itu hanya alasan yang sudah mereka karang. Sejujurnya, Xion bukanlah tipe pemikir yang cepat. Tetapi karena paksaan keadaan, maka ada-ada saja ide yang tiba-tiba datang.

Semenjak itu, yang Xion lakukan adalah terus dan terus mendampingi pria yang dicintainya. Meski sekarang terasa agak berbeda karena dia sudah menjadi manusia. Ketika Xion menyentuh tangan Vanitas, terasa kehangatan yang tidak dia rasakan sebelumnya. Agak aneh memang, tetapi ini jauh lebih baik. Mengingat hubungan mereka terancam tidak bisa berlanjut karena perbedaan... jenis. Meski di satu sisi Xion sungguh sedih melihat kepergian Cloud dan yang lain, tetapi di sisi lain, Xion sungguh bersyukur karena kini tidak ada lagi kekhawatiran yang melanda hatinya.

Vanitas sendiri, dia mampu bangkit dari kesedihan dalam waktu yang bisa dibilang cepat. seperti sekarang ini, dia sudah bisa masuk sekolah lagi, berlibur, dan bersantai meski duka masih menyelimuti hatinya. Luka hatinya juga menutup perlahan berkat Xion yang selalu menemaninya. Vanitas juga mulai bermain basket lagi, karena Xion juga yang menyarankannya. Vanitas sangat suka basket, jika dia aktif lagi, mungkin akan berdampak baik bagi dirinya baik secara fisik maupun mental. Oh ya, berhubung rumah Vanitas sudah hancur lebur, kini Vanitas tinggal di sebuah Apartemen. Entah sejak kapan, tetapi berkat Cloud yang dulu sempat mendaftar di sebuah asuransi, maka Vanitas berhak mendapat asuransi sebesar... tiga milyar! Jumlah yang sepertinya tidak akan habis-habis meski digunakan berkali-kali.

Suatu hari di sebuah padang bunga dekat apartemen Vanitas, Xion dan Vanitas tengah berjalan berdua sambil bergandengan tangan. Di tangan Xion terdapat sebuah eskrim rasa cokelat yang kini hanya tersisa setengah, Vanitas baru saja membelikannya. Tetapi Vanitas juga mewanti-wanti agar eskrimnya jangan mengenai dress kuning yang dikenakan Xion.

"Kau cantik sekali hari ini," kata Vanitas. "Aku jadi ingat dengan kencan pertama kita."

"Terima kasih," jawab Xion sambil tersenyum. "Bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja, sungguh."

"Tetapi... sepertinya jadi jauh lebih sulit, kan? Maksudku, segalanya jadi tidak semudah sebelumnya."

"Kau sudah menanyakan itu ratusan kali, tetap saja, aku sudah tidak apa sekarang."

"Aku sungguh mencemaskanmu, kau tahu?"

Vanitas hanya tersenyum, dan kemudian dia mencium kening Xion.

"Aku sungguh bersyukur bisa memilikimu," kata Vanitas. "Aku mencintaimu, Xion."

"Aku juga mencintaimu, Vani."

Bibir Vanitas turun dari kening dan akhirnya berhenti tepat di bibir Xion. Untuk pertama kalinya sebagai manusia, Vanitas mencium bibir Xion. Perasaannya kali ini menjadi begitu emosional, dan rasa cintanya juga menjadi semakin menguat. Xion membalas ciumannya, dan kemudian dia mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Vanitas. Sampai-sampai dia tidak sadar bahwa eskrimnya jatuh.

"Rasanya aneh," bisik Vanitas di sela ciuman. "Ciuman kali ini..."

"Mengapa?"

"Entahlah, terasa aneh tetapi... aku lebih menyukai ciuman yang sekarang."

"Lakukan lagi kalau begitu."

"Jika itu maumu."

Mereka berdua berciuman lagi. Tanpa peduli jika ada orang-orang yang melihat, mereka terus saja seperti itu.

End and beginning...

Meskipun hidup Vanitas sebagai vampir sudah berakhir, tetapi hidup Vanitas sebagai seorang manusia baru saja dimulai.

...

Dengan langkah perlahan, Riku menghampiri sebuah amplop putih yang tergeletak di atas meja makan. Awalnya dia agak ragu, tetapi pada akhirnya tangan kanannya meraih amplop untuk membukanya. Alih-alih berisi kertas, tetapi ternyata amplop itu malah memancarkan cahaya biru yang sangat menyilaukan. Tetapi meski sangat terang, entah mengapa Riku mampu melihat cahaya itu tanpa berkedip sekalipun. Entah apa yang dia lihat, tetapi ketika cahaya itu berhenti bersinar, Riku meletakkan amplop itu kembali dan menatap jendela.

"Ayah... masih hidup?"


Sekali lagi, saya ucapkan banyak terima kasih untuk segala dukungannya. Jangan lupa untuk berikan review ya. Dan untuk sekedar info, paragraf terakhir itu adalah teaser untuk sekuel fanfic ini. Mau tahu? Hehehe, tenang saja, nanti akan saya pos bocorannya di profil saya. Tetapi yang pasti, ada tiga karakter baru di sana.