Nowadays this is normal.
Looks like I've found a teammate.

Kagami & Kuroko – Onaji Vanilla no Kaze no Naka


Gara-gara 5 on 5 tadi, aku kehabisan tenaga. Biasanya aku sanggup bertanding dengan waktu dua puluh menit. Tapi kali ini, rasanya aku tak sanggup jalan pulang ke rumah...

Aku butuh charger...

Vanilla shake...

Tap. Swiiiiing~

Hembusan angin dari mesin pendingin ruangan menerpa wajahku setelah pintu otomatis Majiba terbuka. Beruntungnya tak ada antrian di konter. Aku langsung berjalan cepat untuk segera membeli minuman berwarna putih dan menyegarkan itu.

"Mau pesan apa?" tanya penjaga konter. Masih dengan orang dan senyum ramahnya yang kemarin. Oh, shift-nya sama, ya.

"Vanilla shake medium," jawabku singkat.

"Ada lagi?"

Aku menggeleng pelan seraya mengeluarkan uang dengan nominal yang sesuai. Satu gelas vanilla shake pun sudah ada di atas nampan dalam satu menit lebih. Nampan sudah kuangkat, bermaksud untuk mencari tempat duduk tapi si penjaga mengajakku bicara.

"Siswa SMA Seirin, ya?" tanyanya.

"Iya."

Penjaga itu mengangguk beberapa kali. Ia tersenyum lagi. "Datang lagi besok. Ada diskon 20% untuk semua jenis makanan dan minuman di sini," ucapnya.

Bisa kupastikan mataku berbinar-binar sekarang. "Benarkah?"

Ia tersenyum geli. "Ya. Ini selebaran yang mau dibagikan besok pagi."

Nampan kembali bertemu dengan permukaan meja konter. Aku mengambil brosur tersebut lalu membacanya. Benar, ada diskon untuk merayakan satu tahun Majiba dibuka.

"Bawa saja brosurnya, Dik. Ada pelanggan lain datang," katanya, mengusir secara halus. Tak lupa senyumnya mengiringi.

"A-aa, maaf." Aku mengangguk paham lalu menyingkir dari depan konter.

Kini yang ada di pikiranku adalah berapa uang simpanan yang masih kusimpan untuk seminggu ini. Dari situs langgananku, ada pemberitahuan kalau penulis favoritku menerbitkan karyanya hari Sabtu. Sebagai penggemar pasti ada keinginan untuk membelinya di hari perdana terbit, dan salah satunya adalah aku. Sudah satu tahun aku menantikan karya terbarunya, kau tahu?

Aaaaargh! Kenapa harus di minggu ini!?

"Ma, Kakak itu menyeramkan."

"Hush! Tidak boleh begitu!"

Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang kubuat barusan. Dengan berjalan cepat, aku langsung ke meja dan kursi kosong. Lagi-lagi aku dapat spot yang bagus.

Sambil menyesap vanilla shake, aku membaca brosur. Penjaga itu tahu saja aku suka vanilla shake di sini. Aa, penjaga Majiba di dekat SMP Teikou juga mengenalku. Meski beda tempat, rasanya tetap sama.

That's why I love Majiba's vanilla shake!

Kursi di hadapanku ditarik ke belakang. Aku merasa déjà vu. Oh, Kagami-kun lagi.

Ia memposisikan kaki kiri menyilang ke atas kaki kanan. Kaki kursi bagian depan sepertinya melayang karena tubuhnya dimundurkan. Ekspresinya nampak kelelahan. Sedikit.

"Duduknya yang benar. Kalau jatuh, jangan salahkan aku," kataku menasihati.

"...!?" Kagami-kun terkesiap melihat sosokku.

Srupuuuuut...

"Kenapa kau di sini lagi...?" tanyanya dengan nada malas.

"'Kan aku duluan yang duduk di sini." Aku kembali menyesap minumanku lalu melanjutkan. "Lagipula aku suka vanilla shake di sini." Srupuuuuut...

"Pergi ke tempat lain sana!" usirnya terang-terangan.

"Tidak mau." Kau saja yang pergi, Bakagami.

"Jangan kira kita berteman, ya."

Siapa juga yang mau? "Sudah kubilang, aku duluan yang duduk di sini." Lain di hati, lain di mulut. Mood-nya terlihat buruk, jadi kalimat pertama tidak kusuarakan.

Tuh, diberi death glare lagi.

Perlahan setelah kami saling menatap, pandangannya berubah setelah menggigit burger pertama. Oh, efek burger pembuat mood jadi bagus(?) sudah bereaksi. Tangan kirinya mengambil satu burger lagi. Mau makan dua sekaligus saking laparnya?

"Nih."

Eh?

Burger di-pass padaku. Reflek, aku menangkapnya. Vanilla shake-ku hampir kena sasaran. Bahaya kalau jatuh lalu tumpah.

"Untukmu satu," jelasnya singkat. Kagami-kun menatapku tanpa ekspresi sambil menaruh lengan di sandaran kursi. Terlihat sopan sekali. "Aku tak suka orang lemah. Tapi... kuakui kau berhak dapat pujian," tambahnya.

...oh, aku dipuji.

"Terima kasih."

Mataku menatap satu bungkus burger itu. Aku kepikiran satu hal. Cukup lama aku berpikir sampai suara Kagami-kun mengintrupsi. "Dimakan burger-nya," suruhnya tidak sabaran.

"Kalau ditukar dengan vanilla shake, boleh?"

"Hah?"

.

Setelah aku membeli vanilla shake ukuran small (aku beli sendiri), kami jalan keluar Majiba bersama. Aku tidak tahu rumahnya dimana, tapi mungkin rumah kami searah. Aa, aku sok tahu sekali.

"Sekuat apa Kisedai itu?" tanya Kagami-kun.

Mataku mengedip sekali. Hmmm...

"Kalau aku bertanding dengan mereka, bagaimana?"

"Kau langsung mati," jawabku singkat, datar, dan sarkastik. Yang pasti aku bicara sesuai fakta yang kuketahui sekarang.

"Jangan ngomong begitu!" sahutnya tidak terima.

Kegiatan meminum vanilla shake, kuhentikan untuk sementara. "Ada lima orang jenius. Tahun ini mereka terpisah ke sekolah yang berbeda-beda," ceritaku. Mataku melirik ke arahnya. "Salah satu dari mereka, pasti jadi nomor satu."

Itu yang kuyakini, sampai sekarang, sih.

"Hahahahahaha! Bagus! Aku jadi semangat!"

Mendengar seruannya, aku langsung menengok. Pemuda ini benar-benar... Aku hampir tertawa dibuatnya. Hampir, loh. Hampir.

Mengalahkan Kisedai... sendirian? Aku tak yakin ia bisa melakukannya. Mungkin bisa, tapi tidak sendiri.

"Baiklah! Akan kukalahkan mereka... dan jadi nomor satu di Jepang!"

Oh, tekad yang bagus.

Srupuuuuut...

"Tak akan bisa," sahutku.

"Hei!"

Sekali lagi, aku berhenti minum vanilla shake. "Aku tak tahu kekuatanmu. Tapi kau tak bisa melampaui mereka. Tak bisa sendirian saja," kataku jujur sambil berhenti melangkah. "Aku juga sudah bertekad..." Tubuhku menghadap ke arahnya lalu mendongak akibat perbedaan tinggi badan kami.

...Kagami-kun ketinggian...

"...aku ini bayangan. Tapi... bayangan akan semakin gelap kalau ada cahaya yang terang dan kuat. Membuat cahaya kian putih." Kulihat kedua alis bercabangnya mengkerut. Aku melanjutkan ucapanku yang sebelumnya.

"Peran utama sebagai bayangan... Akan kubuat kau jadi nomor satu di Jepang."

Ya, kali ini aku akan mendukungnya. Sama seperti di Teikou, tapi juga tidak sama. Kurang lebih begitu.

Ekspresi Kagami-kun berubah. Ia menyengir hingga terlihat gigi-giginya. Oh, putih juga.

"Haha! Bagus sekali! Terserah kau saja."

"Ganbarimasu."

Kami melangkah lagi. Kulihat ia masih menyeringai penuh nafsu(?). "Kagami-kun, jadi soal diskon tadi. Bagaimana?" tanyaku meminta konfirmasi.

"Hah? Maksudmu?"

Pemuda itu gampang lupa ternyata.

"Majiba diskon 20% besok. Mau mampir lagi setelah pulang latihan?"

"...oooh! Harus kalau itu! Kukira kau minta belikan vanilla shake."

"Kalau kau mau, sih."

"Nggak!"

"Omong-omong, rumahmu ke arah sini, Kagami-kun?" tanyaku lagi. Ia berhenti melangkah. Matanya memandang sekitar kemudian menatap lama pada jembatan penyeberangan yang sempat kami lewati.

"Harusnya aku lewat jembatan itu..."

"BaKagami."

"HEI, TEME!"


Aku dapat brosur Majiba kasih diskon 20%. Aku berencana ke sana lagi besok dengan Kagami-kun. Tadi Kagami-kun memberikanku satu burger gratis. Lalu aku juga bertekad akan menjadikan Kagami-kun dan Seirin nomor 1 di Jepang!

~ Tetsuya's 36th Paper End ~


Ganba desu. Terima kasih sudah mengikuti, mereview dan meluangkan waktu untuk membaca fanfic ZPS sampai sekarang! Terima kasih untuk review-nya di chap kemarin, zizie-akakuro-san, Shinju Hatsune-san! #bow

Saya gak bisa mempercepat alurnya. :') Walaupun bisa. Gomennasai~

CHAU!