FINAL FANTASY VERSUS
036
NYX
02.09.756 M.E. | 05.00 AM
Jam biologis tubuhnya membuat dia terbangun otomatis di pagi buta. Bagi manusia normal, sulit untuk berenergi pada pukul lima subuh, tapi itu tak berlaku bagi Nyx. Dia merasa bersemangat setiap pagi, dan imbasnya dia cepat lelah di malam hari. Dengan bertelanjang dada, dia bangkit dari ranjang, mengusap mata beberapa kali, berjalan ke dekat sofa, dan menyalakan TV. Seperti itulah rutinitas paginya.
Nyx menyetel kartun favoritnya dengan seekor mini Ultros sebagai pemeran utama. Sang gurita hijau itu digemari Crowe dan Libertus, dan Nyx mudah tertular oleh imbauan kedua temannya. Selera humor Ultros termasuk aneh, selalu membanggakan diri sendiri, dan menganggap dirinya berasal dari kerajaan gurita. Selain itu, hewan bertentakel delapan itu berpikiran mesum karena hobi menggoda perempuan dan membenci laki-laki tanpa sebab yang jelas.
Pada episode pagi ini, sang mini Ultros sedang menguntit seorang perempuan seksi dan melilitnya dengan tentakel yang berlendir. "Uwee hee hee! Wajah yang cantik, kulit yang lembut, dan lekukan tubuh seperti biola. Apa lagi yang kurang darimu, sayang? Uwee hee hee!" seru hewan itu dengan wajah yang merona. Sang korban berteriak histeris, memukul-mukul tentakel menjijikkan yang memerangkap tubuhnya, lalu berhasil meloloskan diri. Dia melapor ke polisi terdekat—seekor buldog bertampang seram—dan sang polisi sigap menangkap sang pelaku kriminal. Mini Ultros dilempar kasar ke dalam mobil polisi. Dengan nada protes yang dilebih-lebihkan, sang Ultros menggoyang-goyangkan teralis besi pada jendela mobil. Tapi apa daya, mobil itu melaju kencang, membawanya menuju penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Nyx terkekeh melihat kelakuan abnormal monster itu. Hanya saja, dia bingung mengapa kartun-kartun zaman sekarang mengandung unsur seksual yang kurang layak ditonton anak kecil. Mungkin saja kartun itu ditujukan untuk orang dewasa karena jam tayang yang terlalu pagi. Dia teringat akan gantungan telepon Crowe yang tak lain berupa miniatur mini Ultros dan tokoh serupa yang tercetak pada kaos kerja Yamachang dari warung Malboro-Kun. Dia sendiri mengoleksi pigura itu. Tiga bukti nyata itu cukup untuk meyakinkan dia bahwa lebih banyak orang dewasa yang menyukai kartun itu daripada anak-anak.
Setelah kartun itu habis tayang, Nyx mengganti saluran ke acara berita dari LN24 News. Ekspresinya spontan berubah menjadi serius ketika video pertama yang dia lihat adalah sebuah Dreadnought Niflheim melaju bebas di langit Insomnia. Kapal tempur itu berukuran raksasa, berkecepatan tinggi dengan komponen rotor dan turbin berenergi magitek yang terinstal di ruang mesin, dan dilengkapi sepenuhnya oleh meriam berkaliber besar yang mampu merobohkan gedung pencakar langit hanya dalam satu tembakan. Dia mengetahui fakta ini karena dia telah melihatnya langsung saat bertempur di dinding dan pernah berteleportasi untuk mendarat di atas kapal tersebut.
Memasang telinga dengan seksama, sambil memainkan sihir Fire di telapak tangan kanannya, dia mendengar informasi yang disampaikan sang penyiar berita:
"Atmosfer huru-hara telah memenuhi kota sebagai antisipasi gencatan senjata mendatang. Dengan tiga hari tersisa sebelum perdamaian secara resmi disepakati, ratusan warga turun ke jalan untuk menunjukkan protes atas keputusan Kerajaan yang dianggap berat sebelah. Gelombang para diplomat Niflheim dan Tenebrae memasuki kota, yang mencakup Kaisar Iedolas, Kanselir Ardyn, Pangeran merangkap Wakil Komandan Ravus, dan Putri Lunafreya. Selama peristiwa bersejarah ini, tugas sang Putri sebagai Oracle akan dihentikan sementara waktu."
Kaisar Iedolas, dalam jubah putihnya, melambai-lambaikan tangan kepada hadirin. Dia tidak tersenyum, bibirnya terkatup rapat dan mata birunya memberikan sorot dingin. Rambut dan jenggotnya yang beruban dia sisir rapi. Dia ditemani oleh Kanselir Ardyn. Kontras dari sang Kaisar, sang Kanselir mengenakan baju serba hitam dan syal kemerahan sambil melempar senyum ramah yang bisa dibilang karismatik. Nyx tidak habis pikir bagaimana bisa pria muda seperti sang Kanselir menduduki posisi tinggi sebagai penasehat pribadi dari sang Kaisar yang sudah berusia lanjut. Barangkali Kanselir Ardyn berotak encer atau licik, pandai bersilat lidah, menghalalkan segala cara demi mencuri hati Kaisar Iedolas, atau terdapat penggelapan jabatan. Segala kemungkinan, sebusuk apapun itu, dapat terjadi dalam negara korup seperti Niflheim.
Melihat wajah Kaisar Iedolas, amarah mendidih dalam hati Nyx. Dia ingin membakar wajah bajingan itu dengan lidah api di tangannya. Dia mengalihkan perhatian pada sebuah papan sederhana yang terletak beberapa senti di bawah TV. Di sana tergantung miniatur mini Ultros kepunyaan Nyx dan tertempel sehelai foto, satu ilustrasi Ultros buruk rupa yang iseng digambar Libertus untuk Nyx di waktu senggang, dan dua potong kolom berita yang berharga baginya.
Pada satu potong kolom berita hitam-putih dengan foto wajah Kaisar Iedolas, tercetak tulisan sebagai berikut:
SERANGAN NIFLHEIM KE GALAHD: APA INTENSI KEKAISARAN YANG SEBENARNYA?
Tanggal 30 Agustus 744 M.E. menjadi mimpi buruk bagi Galahdian. Raja Regis beserta keluarga Kerajaan mengunjungi Galahd untuk menawarkan proposal pendirian Kingsglaive. Bersamaan dengan itu, Niflheim melakukan invasi. Ratu Aulea tewas dan Pangeran Noctis mengalami luka serius.
Galahd menderita kerusakan parah dan jumlah korban jiwa terus meningkat tajam seiring terbitnya matahari. Niflheim mengabaikan Galahd selama berpuluh tahun. Namun serangan ini membuktikan bahwa perluasan teritori Niflheim terus dilaksanakan. Kaisar Iedolas tiba di Galahd begitu Kekaisaran memenangkan perlawanan. Menurut laporan yang kami terima, sang Kaisar melakukan negosiasi tersembunyi dengan Titus Drautos, tapi sang Panglima Galahd menolak penawaran tersebut dengan tegas.
Nyx lega mengetahui Kapten Drautos tidak termakan bualan Niflheim. Walaupun dia berulang kali berseteru dengan sang Kapten, dia memercayai integritas beliau. Satu hal lain yang menggelitik Nyx adalah kebodohan media yang terkesan menutupi fakta bahwa invasi tersebut bertujuan membunuh Raja demi merampas Ring of Lucii. Atau barangkali Raja sendiri yang menyembunyikan kenyataan tersebut agar tidak meresahkan masyarakat. Nyx yang tidak sengaja terlibat dalam pencurian cincin sakral itu menjadi satu dari segelintir pihak yang mengetahui kebenaran di balik invasi Niflheim ke Galahd.
Potongan berita lainnya yang penting bagi Nyx berkaitan dengan sejarah berdirinya Kingsglaive dua belas tahun silam:
RAJA REGIS MENEMPA "KINGSGLAIVE" DARI ABU GALAHD
Raja Regis telah mengundang sukarelawan pemberani dari Galahd secara formal untuk tinggal di Insomnia dan melayani kepentingan Kerajaan. Titus Drautos menyuarakan komitmen Galahdian untuk melakukan perlawanan kepada Kekaisaran setelah invasi yang menghancurleburkan kota tersebut. Raja Regis memuji komitmen ini, menjanjikan provisi dan patroli bagi Galahd sebagai imbalan.
Andaikan saja perjanjian damai dengan Niflheim tidak pernah terjadi, Raja Regis tidak akan menjadi pendusta besar yang mengingkari janjinya pada Kingsglaive. Dia masih ingat akan kemarahan yang meledak-ledak dari Libertus, kekecewaan mendalam dari Crowe, pertengkaran Libertus dan Luche, pernyataan Tredd yang menyesakkan namun ada benarnya, dan awan mendung di wajah rekan-rekan sejawatnya setelah mendengar berita mengenai kesepakatan unilateral itu. Dia belum mendapat kesempatan untuk menanyakan hal ini kepada Raja karena beliau terlampau sibuk dengan rentetan rapat yang tak ada habisnya. Dan Pangeran Noctis sudah mengatakan padanya bahwa dia tak punya otoritas di hadapan Raja dan Royal Council untuk mengubah keputusan rapat.
Di samping dua potong berita itu, ada satu-satunya foto mendiang ibu dan Selena. Sang ibu tertawa bahagia sebelum mengidap kanker dan Selena mungil memeluk ibunya dengan erat. Nyx belum pernah pulang ke Galahd, tapi beruntung dia selalu menyimpan foto itu dalam dompetnya. Seiring berjalannya waktu, memori akan keluarga kecilnya kian memudar. Tanpa bantuan foto itu, dia takut apabila dia tak dapat mengingat kembali wajah mereka. Dia masih saja belum bisa melupakan tragedi kematian mereka seolah itu terekam begitu dalam di alam bawah sadarnya dan menolak untuk dilupakan selamanya. Dari sekian banyak kenangan indah yang mereka bertiga lalui, mengapa satu kenangan buruk ini yang melekat padanya seperti parasit? Dia sudah bertemu sang ibu dan adik perempuannya di dunia akhirat—jika itu bukan mimpi atau khayalan semata—dan mereka tampak jauh lebih damai daripada ketika hidup di alam fana. Jangan-jangan dia mengidap PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan membutuhkan pengobatan untuk menyeimbangkan kimia dalam otaknya.
Nyx mematikan api dan meremas tangannya sekuat tenaga ketika TV mengganti fokus kamera kepada seorang perempuan berparas cantik. Dia pasti Putri Lunafreya, batin Nyx. Sang Putri tampak anggun dalam gaun putih lengan buntung yang menutupi seluruh kakinya. Rambutnya berwarna pirang dengan belahan poni di dahinya, dan sisanya dicengkok ke atas. Mata birunya sejernih lautan dan dia tersenyum manis kepada hadirin.
Untuk sesaat, Nyx tidak merasakan keanehan dengan kehadiran Putri di Insomnia. Lalu tiba-tiba kekhawatiran menyergap dia hingga membuatnya refleks bangkit dari sofa. Bukankah Crowe sedang menjalani tugas mengawal Putri dari Tenebrae ke Altissia? Mengapa Putri malah tiba di sini? Dia cepat-cepat mengambil telepon di meja, mengecek kotak pesan, tapi tak ada tanda-tanda Crowe menghubunginya. Dia membuka daftar kontak, memilih nomor sang mage, dan meneleponnya. Sambil mengetuk-ngetuk meja, dia memohon, "Ayolah, angkat teleponku." Namun suara perempuan bernada robotik mencegatnya, "Nomor yang Anda hubungi berada di luar jangkauan."
Kesabarannya habis. Dia menggebrak meja. "Sialan. Apa yang terjadi denganmu, Crowe?"
Dia meraih sepotong kaos yang digantungkan di tali di atas ranjangnya, lalu keluar dari kamar secepatnya. Mengunjungi kamar Libertus di sampingnya. Itulah yang hendak dia lakukan. Ketika tangannya hampir mengetuk pintu kamar temannya, dia mengurungkan niatnya. Libertus sedang sakit parah. Tidak ada manfaat yang diperoleh temannya, kecuali memperburuk kondisinya jika mendengar pertanda buruk ini. Nyx menghirup napas panjang tiga kali, berusaha menenangkan diri. Degup jantungnya berangsur normal dan dia bisa mengendalikan diri lagi. Dengan lesu, dia kembali ke kamar. Mengambil handuk dan peralatan mandi, dia bergegas menuju kamar mandi di penghujung lorong kos. Setelahnya, dia mengenakan kaos dan celana panjang hitam, menenteng jubah seragamnya, dan meninggalkan kos tanpa membangunkan Libertus.
Berjalan sendirian melewati gang yang sama terasa begitu berbeda. Tanpa adanya Libertus dan Crowe, dia merasa kesepian. Canda tawa, rentetan sindiran, ejekan, dan senggolan halus menjadi pengiring setia perjalanan panjangnya menuju tempat kerja. Sekarang dia hanya bisa diam seribu kata sambil melihat-lihat sekelilingnya seperti orang idiot. Dia menyadari bahwa jumlah penduduk yang ditemukannya berkurang cukup drastis. Mungkinkah mereka telah dievakuasi keluar kota oleh Crownsguard? Normalnya, pertokoan dan kedai-kedai sudah beroperasi sekitar pukul enam pagi, ibu-ibu menyapu jalanan yang dikotori beragam sampah, dan sepeda motor menimbulkan suara bising. Tapi sekarang dia hanya melihat kurang dari dua puluh orang lalu-lalang di jalanan dan semua gedung tutup seolah tak berpenghuni.
Dia mendaki tangga jembatan dan sampai di bagian kota yang lebih tinggi. Beberapa warga menonton videotron yang menyiarkan berita kedatangan petinggi Niflheim. Tagline berjalan di sebuah gedung komersil menampilkan teks: "Lucian Railways diberhentikan sementara sampai pengumuman lebih lanjut. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini."
Oh, bagus. Sekarang bagaimana caraku tiba di Citadel tepat waktu kalau aku tidak bisa menggunakan MRT?
Ketika Nyx berjalan di trotoar, sebuah mobil hitam elegan berplat nomor RHS-736 memutar balik di jalan raya. Klakson dibunyikan dan mobil itu berhenti tepat di tepi trotoar. Nyx mengedarkan pandangan ke sekitarnya, mencari tahu siapa yang dijemput oleh pengemudi mobil itu. Jendela kanan mobil diturunkan. Di luar dugaan Nyx, orang yang menyetir mobil tersebut tak lain adalah Kapten Drautos.
"Masuk," seru Kapten dari dalam mobil.
Nyx mengenakan jaket seragam dan mengaitkan deretan kancingnya. Dia mendekati mobil dan melirik ke dalam melalui sisi jendela yang terbuka. "Kenapa Anda repot-repot menjemputku?" tanyanya, meskipun sejujurnya dia bersyukur mendapat tumpangan gratis untuk bekerja.
Kapten memajukan badan ke tepi jendela. Suaranya terdengar semakin jelas. "Perintah baru. Kita ada tugas menjemput sang Putri," katanya diiringi senyuman ringan. "Kau pernah menyetir untuk Pangeran. Tentu saja Raja pun mengandalkanmu untuk sang mempelai. Ayo, jangan membuat tamu terhormat kita menunggu."
Nyx mengangguk dan mengikuti perintah atasannya. Begitu masuk dan duduk di dalam, tak ada setitik pun keraguan mengenai inspirasi desain mobil itu yang mengagumkan. Di depan ada dua kursi empuk berbahan kulit berwarna putih yang dipisahkan oleh kokpit virtual. Sedangkan di belakang ada dua kursi, tapi saling menyambung sehingga bisa muat untuk tiga penumpang dengan ukuran tubuh normal. Pada setir terdapat logo Audi R8 dan berbagai tombol serba guna untuk mengatur lampu sein, membuka garasi secara otomatis, mengatur temperatur AC, menyetel lagu, bahkan mode turbo. Kecepatan maksimal bisa mencapai 330 kilometer per jam. Dasbor dihiasi pola bunga khas Tenebrae—yang menurut Nyx mengurangi kejantanan mobil itu. Dia ingin sekali mencoba menyetir mobil sekeren ini jika dia diberi kesempatan.
Laju mobil mengencang untuk setiap detik yang berlalu. Semakin mengebut, suara deru mesin semakin merdu didengar. Itulah salah satu keunggulan mobil sport. "Mobil yang bagus," puja Nyx. Senyuman merekah di satu sudut bibirnya. Dia menoleh sekilas kepada Kapten yang pandangannya fokus ke depan.
"Ini milik Pangeran Noctis. Star of Lucis ini sengaja diproduksi untuk persatuan Lucis dan Tenebrae. Begitulah yang kudengar," kata Kapten.
"Jadi Pangeran akan menggunakan mobil ini untuk pernikahannya di Altissia?" tanya Nyx.
"Tidak. Pangeran dan ketiga temannya baru saja berangkat kemarin pagi menggunakan Regalia Yang Mulia," tukas Kapten.
Nyx berpendapat saking kaya rayanya Kerajaan, mereka tak mengerti lagi cara menghambur-hamburkan materi yang tak akan habis tujuh turunan. Apabila pada akhirnya Pangeran menggunakan Regalia untuk berkelana, untuk apa Raja Regis membelikan Star of Lucis? Tak ada gunanya memikirkan hal yang tak mampu dia pahami sebagai rakyat jelata. Dia kembali teringat akan nasib Crowe, dan dia percaya Kapten adalah orang yang tepat untuk memberinya jawaban. "Kalau Pangeran dan Putri dinikahkan di luar Insomnia, apa yang Putri lakukan di sini?"
"Memperumit keadaan," jawab Kapten sambil menggeleng-geleng kepala seolah dia sendiri tak mengerti alasannya. "Kami sudah kirimkan Crowe untuk menjemput sang Putri, lalu membawanya keluar dari Tenebrae."
Nyx mengerutkan kening dan menatap setengah memohon pada Kapten. "Pasti ada kekeliruan yang terjadi di tengah misi Crowe. Tadi pagi aku menyempatkan diri menelepon dia, tapi tak ada jawaban. Bisakah Anda mengusut kasus ini lebih dalam? Aku khawatir akan keberadaan temanku."
Kapten bergumam panjang. "Kami masih mencoba mencari tahu apa yang salah. Kau tidak perlu cemas, semuanya akan baik-baik saja." Jawaban itu terdengar pahit seakan Kapten meremehkan situasi genting ini.
Mereka sudah berada di penghujung Distrik C. Tinggal beberapa kilometer tersisa sampai mereka mencapai jalan tol. Nyx melirik ke luar jendela. Kerumunan warga memenuhi jalan raya, menggelar demonstrasi atas keputusan Kerajaan. Polisi-polisi melakukan perlawanan, mendorong warga yang memberontak. Orang kantoran, ibu rumah tangga, kakek-nenek, dan berbagai lapisan masyarakat berkumpul menjadi satu sambil meneriakkan protes pada Raja yang tak sedap didengar. Mereka membawa spanduk dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Nyx membaca beberapa tulisan di spanduk tersebut:
TOLAK NIFLHEIM!
LENGSERKAN REGIS!
TIDAK ADA RUMAH, TIDAK ADA MASA DEPAN!
SATU LUCIS!
BUANG KESEPAKATAN DAMAI, BUKAN WARGA!
APA KALIAN SUDAH MELUPAKAN KAMI?
PERTAHANKAN TEMBOK!
Menyadari Kingsglaive berada di dalam Star of Lucis, beberapa pendemo nekad mendobrak kap mobil itu dan mengutuk mereka sambil meludah. Para pria yang emosi nyaris menjulurkan tangan melalui jendela yang setengah terbuka, berniat menarik paksa Nyx keluar dari mobil. Mengantisipasi kekerasan yang akan terjadi, Nyx cepat-cepat menutup jendela sepenuhnya dan membuang pandangan dari kerumunan pendemo. Sekitar lima orang memblokir jalan hingga Kapten mengerem mendadak, membuat jidat Nyx hampir membentur dasbor.
"Hentikan mobil kalian! Bawa kami menghadap Raja!" geram seorang pria berapi-api.
"Negara ini adalah negara demokrasi! Kalian wajib mendengarkan pendapat warga!" seru seorang wanita. Matanya melotot dan rahangnya menegang.
Kapten memencet klakson berkali-kali, tapi orang-orang itu tidak mau membuka jalan. Para polisi bergerak serentak, menertibkan warga, menyeret mereka ke pinggir jalan. Setelah celah yang memadai terbuka, Kapten menancap gas dan mengebut, meninggalkan kerusuhan di belakang.
Jalanan kembali lancar begitu mereka terbebas dari kerumuman pendemo. Mobil berbelok ke kanan, memasuki terowongan panjang. Lampu-lampu kuning menerangi perjalanan mereka selama di dalam terowongan. Sinarnya yang temaram memantul dari cat Star of Lucis yang mengilap sehitam tinta.
"Itulah kekuatan amarah warga yang dikhianati Raja. Mereka lebih agresif daripada pasukan Niff, bukan?" tanya Kapten, tersenyum nyengir. Nyx menganggap pemandangan tadi sangat mengerikan dan tidak layak dijadikan bahan lelucon, jadi dia tidak berkomentar apa-apa, malah membuang muka ke arah jendela di sampingnya. Sang Kapten tampak menyesal. Dia pun bertanya untuk menetralkan situasi, "Aku sudah tahu pendapatmu tentang perang ini, tapi bagaimana tentang kesepakatan perdamaian ini? Kau rela begitu saja menyerahkan tanah airmu?"
"Ini keputusan Raja. Aku berhutang budi pada beliau yang telah menerimaku. Aku sungguh beruntung, tapi ada juga orang di Galahd yang tidak begitu. Dan mereka membutuhkanku," respon Nyx sehalus yang dia mampu. Dia mengangkat satu tangan dan menepuknya di paha untuk mendeklarasikan determinasi finalnya.
"Jadi kau mau pulang? Bisa apa kau tanpa sihir sang Raja?" Kapten bertanya dalam nada yang terkesan merendahkan.
Telinga Nyx terasa panas. Sudah dua kali dia mendengar olokan itu terlontar dari mulut pemimpinnya. Pertama kali adalah seusai gencatan senjata mendadak Niflheim di dinding dua minggu lalu. Waktu itu Kapten berkomentar, "Semua kekuatanmu hanya pinjaman dari Raja Regis. Kau tak ada apa-apanya tanpa beliau."
Ya, dia sadar bahwa dia mengandalkan sihir untuk menolong teman-temannya yang nyaris kehilangan nyawa akibat pertempuran di dinding. Namun apakah tanpa sihir seseorang jadi tidak berdaya? Dia tahu ada seorang pria yang mampu mematahkan paradigma itu. Tanpa sihir, hanya bermodalkan kemampuan tempur yang tiada tara sampai pria itu dianggap legenda dan ditakuti Niflheim. Pria itu adalah Cor Leonis, sang Marshal, sang Immortal Shogun. Karena itu, beliau menjadi Kapten Crownsguard merangkap Tangan Kanan Raja. Cor, seorang manusia biasa yang layak dijadikan teladan bagi para ksatria seperti dirinya. Menanggapi komentar pedas Kapten, Nyx hanya bisa cemberut.
"Ya, selalu ingin menyelamatkan sesama. Percayalah, aku paham kemauanmu. Tapi bukan itu yang bisa memenangkan perang," kata Kapten. Nadanya menekan seperti orangtua yang sedang menasehati anaknya.
"Bukan cuma keinginan saja. Tidak cuma aku," protes Nyx, "Libertus adalah yang aku khawatirkan. Dia bakal kembali jika situasinya memburuk."
Keheningan menggantung di ruang sempit kendaraan itu beberapa saat.
"Situasi terburuk masih belum tiba," kata Kapten datar dan dingin.
Nyx menoleh sigap pada Kapten dan menatapnya penuh kecurigaan. "Apa maksud Anda? Bukankah Anda sendiri yang bilang kalau perjanjian ini akan berakhir damai?"
"Aku hanya berjaga-jaga. Kuanjurkan kau juga bersiap untuk kemungkinan terburuk."
Nyx tak tahu mesti berkata apa lagi. Dia merasa seperti baru ditinju membayangkan "kemungkinan terburuk" itu. Tanpa berargumen lagi, Star of Lucis melaju tanpa henti di jembatan layang, membelah angin, menuju Citadel tempat para tamu kehormatan menanti mereka. Dalam setengah jam, mereka sampai di depan komplek Citadel, tapi ada halangan lain yang perlu mereka urus terlebih dahulu.
Gerbang utama komplek Citadel sengaja ditutup oleh kepolisian demi ketenteraman anggota Kerajaan. Para warga diizinkan berkumpul di sepanjang jalan raya karena kendaraan telah dialihkan total ke jalan tol. Para polisi menempatkan pagar pembatas agar warga tidak seenaknya menerobos tanpa izin. Berbeda dari pendemo sebelumnya, warga di Distrik E cenderung tenteram, tak melontarkan sumpah serapah atau membawa spanduk penentang di tangan mereka. Tingkat edukasi kedua distrik itu berdampak signifikan pada pola pikir dan tingkah laku masyarakat dalam menanggapi isu kontroversial.
Bersama Kapten, Nyx turun dari Star of Lucis. Berjarak lima meter di depan, dia melihat sebuah mobil berwarna putih yang berasal dari Niflheim terparkir di pinggir jalan. Di dekat mobil itu, ada dua pria sedang berseteru. Dari jubah serba putih dengan ornamen emas layaknya Kaisar Iedolas di TV tadi pagi, pastinya pria yang tidak berhenti berceloteh itu perwakilan dari Niflheim. Sedangkan lawan bicaranya adalah Petra Fortis, sang kepala kepolisian yang membenci Nyx karena statusnya sebagai imigran.
"Kau tahu siapa yang kau coba hadang ini?" protes perwakilan Niflheim. "Buka gerbang ini sekarang atau kuberhentikan kau dari pekerjaanmu!"
Petra mengerucutkan bibir tebalnya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap membuat sang perwakilan Niflheim tampak seperti kurcaci. "Ini perintah Raja. Sembarang orang tidak diizinkan masuk ke Citadel, terutama para pendatang tak dikenal."
Sang perwakilan Niflheim memicingkan mata. Intonasi suaranya meninggi hingga memekakkan telinga orang-orang di sekitarnya. "Kau memancing masalah diplomatis. Aku bukan pendatang tak dikenal!" Dia menunjuk sang Putri yang duduk di kursi belakang mobil di sampingnya. Petra memalingkan wajah, malas menanggapi arogansi pria kerdil itu. "Akulah pengawal resmi Nona Lunafreya Nox Fleuret, Putri dari Tenebrae—"
"—dan calon mempelai Pangeran Kerajaan kami," sela Kapten Drautos sambil melangkah lebar mendekati dua lelaki itu. Nyx mengekori bosnya dalam kebisuan. Petra memasang pose siaga di hadapan sang Kapten Kingsglaive. Sedangkan perwakilan Niflheim menoleh kepada Kapten, ekspresinya tercengang bukan kepalang. "Selamat datang di wilayah kedaulatan, Tuan Duta Besar. Petra benar, Raja Regis telah menugaskan bawahanku untuk mengantar Putri ke dalam Citadel. Biar kami yang ambil alih dari sini."
"Maafkan aku, Kapten Drautos. Aku tidak menyangka kalau Anda… Aku tak perhitungkan adanya...," cetus sang perwakilan terbata-bata. Entah apa yang merasuki pria itu. Tindak-tanduknya seperti orang ketakutan di depan Kapten. Nyx tidak tahu kalau reputasi Kingsglaive begitu tersohor sampai menciutkan nyali perwakilan tinggi dari Niflheim.
Kapten tidak mengindahkan cicitan tak jelas dari Tuan Duta Besar. Dia menoleh kepada Nyx dan memberi perintah, "Temui Yang Mulia ke Citadel."
Nyx menyetujui, lalu menghampiri pintu kemudi mobil di hadapannya. Sejenak dia bertatap wajah dengan Petra. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkan sang polisi. Kehadiran Kapten menjadikan semua orang mendadak patuh. Apapun alasannya, Nyx senang tidak perlu mendengar sindiran rasis lagi dari Petra. Dia membuka pintu mobil perlahan. Dengan sopan, dia meminta sopir untuk turun dari kendaraan itu.
"Aku… tidak… aku harus pastikan ke pimpinan dulu." Sang perwakilan Niflheim masih beradu pendapat dengan Kapten. Dia mengambil telepon dan terburu-buru menghubungi entah siapa, barangkali Kaisar Iedolas, kalau sesuai perkataannya.
Mengikuti tata krama Kerajaan yang sempat Nyx pelajari, setiap kali dia menyetir mobil yang ditumpangi anggota Kerajaan yang penting, dia harus memperkenalkan diri secara formal, menampakkan wajahnya secara langsung pada penumpang terhormat itu. Jadi dia membuka pintu belakang untuk sesaat, menyapa sang Putri dengan sopan, dan berjabat tangan. Sentuhan kulit Putri Lunafreya lembut dan hangat. Mereka bertatap wajah beberapa detik. Melihat dengan mata kepala sendiri, memang tak dapat dipungkiri bahwa sang Putri cantik jelita. Kulit wajahnya mulus tanpa cela seperti porselen, menandakan perawatan tubuh intensif layaknya seorang Putri dari dunia dongeng. Sang Putri tersenyum ramah, dan Nyx membalas dengan seutas senyuman terbaik yang dia mampu.
Begitu Petra membuka gerbang, mobil melaju dalam kecepatan rata-rata menuju Citadel yang tak berada jauh dari jangkauan lagi, mengantar sang mempelai wanita menemui calon ayah menantu.
