Fanfiction

Title : Kehidupan Baru Boruto

Chapter : 36

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : T+

Genre : Romance & Drama

Pairing : Uzumaki Boruto & Uchiha Sarada

Warning : OOC Yg Berlebihan, TYPO, EYD dan bahasa yg hancur, AU.

::==::==::

:

:

:

"Oh dan Boruto. nanti malam jam 9 datanglah ke ruangan komandan. Kita akan melakukan acara makan bersama sekaligus berdoa agar misi besar kalian bisa terlaksana dengan baik. Semua prajuritmu wajib hadir. Dan akan ada beberapa jenderal besar yang menghadirinya, termasuk Jenderal Onoki," ucap Hashirama.

[NB: ada kesalahan di chapter sebelumnya. Author kurang fokus. Jika pembaca yang serius dan jeli dalam membaca pasti tau letak kesalahannya. Oke kita lanjut]

:

:

:

Malam hari pukul 8 malam. Boruto bersiap-siap untuk menghadiri acara makan malam bersama yang di adakan oleh komandan. Acara makan malam bersama ini adalah acara yang spesial karena hanya di gelar jika ada sebuah tim Sakhuri yang akan melaksanakan sebuah misi atau tugas besar. Dalam acara ini juga, hampir semua perwira tinggi akan ikut menghadiri acara makan malam bersama ini.

Berhubung ini adalah acara formal kemiliteran, ia memakai pakaian PDH lengkap. "Aku menjadi sedikit gugup. Berhubung acara ini di gelar untuk timnya yang akan melaksanakan sebuah misi besar, ia pasti akan menjadi pusat perhatian karena ia adalah Ketua dari tim Laskar Sakhuri 5. Dia harus menciptakan sebuah kesan yang baik pada para perwira tinggi tersebut agar timnya di segani.

Setelah semua persiapan selesai, Boruto pun mengambil ponselnya dan keluar dari kamarnya dan tak lupa menguncinya. Sedikit menarik nafas lalu berjalan meninggal kamarnya menuju ruangan tempat acara makan malam bersama itu akan di gelar.

Ruang komandan Sakhuri itu sangatlah luas dan besar. Di ruangan tersebut ada 4 buah ruangan lainnya yaitu kantor yang sesungguhnya, ruang rapat, Aula komandan, dan sebuah ruangan untuk latihan menembak. Acara di adakan di ruang rapat dan aula yang kebetulan merupakan satu buah kesatuan ruangan yang di batasi oleh tembok non-permanen.

Orang di sana sangat ramai. Bukan hanya perwira tinggi saja yang hadir melainkan beberapa perwira-perwira lainnya juga turut menghadiri acara tersebut. Di salah satu sudut ruangan, duduk 5 orang yang merupakan anggota tim Laskar Sakhuri 5. Boruto pun menghampiri mereka.

Melihat kedatangan Boruto, ke-5 orang tersebut langsung berdiri dan memberi hormat. "Malam Ketua!" ucap mereka lalu kembali duduk saat Boruto mempersilakan mereka untuk duduk kembali.

"Kalian melihat kapten Sarah?" Tanya Boruto. Mendengar Boruto bertanya, seorang dari kelima orang tersebut pun berdiri.

"Siap, kapten Sarah sedang bersama Komandan di ruangannya," ucap orang tersebut lalu kembali duduk.

"Oke, terima kasih," ucap Boruto lalu berjalan menuju ruangan Hagoromo—komandan Sakhuri.

Setibanya di sana, ia melihat Sarah dan Hashirama sedang berbicara berdua. Hagoromo juga berada di sana namun sedang berbicara di depan layar laptop alias sedang ada yang melakukan Video Chat sama sang komandan Sakhuri tersebut.

Hashirama melihat kedatangan Boruto. "Masuklah Boruto. kami sudah menunggumu," ucap Hashirama.

"Benarkah? Tapi tak satupun orang di ruangan acara memberitahukan kalau kalian menungguku?" Tanya Boruto.

"Sengaja aku tidak meninggalkan pesan karena aku yakin kau akan datang ke sini dengan sendirinya," ucap Hashirama.

Tak lama kemudian, Hagoromo menutup laptopnya dan berdiri. "Aku sudah selesai. Mari kita ke ruang acara. Aku yakin mereka sudah menunggu kedatanganku," ucap Hagoromo.

"Mereka pasti sudah tidak sabar untuk mencicipi hidangan makan malam," ucap Hashirama.

"Ada berita, entah ini berita baik atau berita buruk. Jenderal Onoki tidak dapat hadir malam ini karena suatu hal yang ia rahasiakan," ucap Hagoromo.

"Oww, jadi apa jenderal Onoki memang penting di acara makan malam ini?" Tanya Boruto.

"Kehadiran jenderal-jenderal besar di acara sepenting ini sangatlah penting. Tanpa kehadiran seorang jenderal besar, acara tidak akan di anggap formal. Ini adalah tradisi Sakhuri," ucap Hagoromo. "Ayo kita segera pergi menuju ke ruangan acara. Aku mau segera menyampaikan pidato," ucap Hagoromo lagi.

::==::==::

Beberapa jam kemudian acara pun selesai. Semua orang pun mulai kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat. Boruto dan Sarah berjalan bersama menuju kamar mereka masing-masing. Dalam perjalanan, Sarah bertanya "Boruto, apa kau sudah menghubungi orang tuamu?" Tanya Sarah.

"Sudah. Mereka menanyakan kondisiku sama tugas-tugasku. Tapi aku tak menceritakan kebenaran pada mereka. Sebenarnya berbohong pada orang tua karena terpaksa itu sangatlah menyakitkan. Tapi tak apalah dari pada ku katakan yang sebenarnya malah akan membuat mereka panik dan khawatir," ucap Boruto.

"Tinggal beberapa hari lagi kita akan menjalankan misi besar ini. Kita hanya perlu menunggu perintah dari pamanku. Selain itu kita juga menunggu persiapan perlengkapan kita siap. Ame sangat dekat dengan Konoha. Tapi mungkin ada baiknya kau tidak bertemu dulu dengan Sarada agar tidak di tanya yang aneh-aneh karena kau pulang tanpa kabar dan lebih awal dari kontrak perjanjian," ucap Sarah.

"Aku tahu," ucap Boruto. "Tapi sampai saat ini aku merasa sangat bersalah karena telah membohongi banyak orang. Aku tahu jika ku beritahukan kebenaran, pasti mereka akan merasa khawatir," ucap Boruto.

Mereka pun tiba di depan kamar Sarah. "Boruto sampai jumpa. Lebih baik kau beristirahat karena besok pagi kita akan pergi bersama Komandan ke suatu tempat," ucap Sarah. "Ya, semoga aku bisa bangun pagi. Aku sangat kelelahan hari ini," ucap Boruto lalu melanjutkan perjalanan ke kamarnya.

::==::==::

Pagi harinya, sebuah helikopter yang berada di pangkalan lembah terlihat bersiap lepas landas. Di dekat heli itu ada Hagoromo dan Hashirama. "Dimana mereka? Apa mereka ketiduran?" Tanya Hagoromo.

"Tidak mungkin sebenarnya. Mereka sudah terlatih untuk selalu bangun tepat waktu jam 5. Tapi mengingat semalam kita selesai jam 1, mungkin mereka masih mengantuk," ucap Hashirama.

"Hashirama, minta anggota yang ada di markas untuk mengecek Boruto dan Sarah. Kita harus berangkat pagi ini menuju pos barat," ucap Hagoromo. "Baik," ucap Hashirama lalu mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi seseorang.

Tak lama kemudian, Sarah pun muncul bersama Boruto. "Maaf paman. Aku tadi membangunkan Boruto makanya lama," ucap Sarah. "Maaf komandan. Aku kelelahan makannya terlambat bangun," ucap Boruto.

"Aku akan maklumi. Kemarin memang pekerjaanmu padat. Naiklah helikopter, kita akan pergi ke sebuah pos untuk bertemu seorang agen Intel Sakhuri," ucap Hagoromo.

Beberapa jam kemudian, mereka pun tiba di pos penjagaan Sakhuri tersebut. Mereka telah di sambut oleh anggota-anggota Sakhuri yang berjaga di sana. Begitu helikopter mendarat, seorang anggota pun mendekat dan membuka pintu. "Pagi komandan!" ucap orang tersebut.

Hagoromo pun turun di ikuti Hashirama beserta Boruto dan Sarah. Seseorang sedang berdiri di depan pintu sambil melihat ke arah Hagoromo. Hagoromo pun mendekat. Orang tersebut pun langsung hormat dan memberi salam. "Selamat siang Komandan!" ucap orang tersebut.

Hagoromo pun menjabat tangan orang tersebut di ikuti oleh Hashirama. "Sudah lama kau tidak bertugas di Konoha. Aku rindu memerintahmu, Yamato," ucap Hashirama sambil menepuk punggung orang tersebut alias Yamato.

"Boruto, Sarah. Perkenalkan. Mayor Yamato. Dulu merupakan salah satu prajurit bawahanku di pangkalan Sakhuri di Konoha," ucap Hashirama. Boruto dan Sarah pun memberi hormat. "Di mana intel tersebut?" Tanya Hagoromo.

"Mari ikut saya komandan. Tapi mungkin dia masih beristirahat," ucap Yamato.

::==::==::

Mereka tiba di sebuah ruangan yang seperti ruang tamu. Yamato pun meminta sang komandan beserta pengikutnya untuk duduk. "Silakan menunggu sebentar. Saya akan memanggilkan Intel tersebut," ucap Yamato.

Beberapa menit kemudian, Yamato kembali bersama seseorang. "Maaf komandan. Saya cukup kelelahan," ucap Intel tersebut.

"Aku bisa maklumi. Perjuanganmu cukup gigih. Jadi bisa kau menceritakan semua informasi yang kau dapat?" Tanya Hagoromo.

"Dengan senang hati. Tapi sebelumnya aku akan menceritakan lebih dalam soal PAIN ini," ucap Intel tersebut.

Penjelasan Intel.

Nama kelompok yang melindungi sekaligus memimpin Amegakure bernama PAIN. Aku sempat bertanya pada Uchiha Sasuke mengenai PAIN ini. Di katakan PAIN di bentuk oleh Uchiha Itachi sewaktu ia memimpin Techconnec. Tapi untuk rencana, Uchiha Fugaku lah yang memikirkan rencana itu.

Nama awal PAIN saat di bentuk Itachi adalah Akatsuki. Namun setelah terjadi reformasi dalam pemerintahan Ame, Akatsuki pun mengambil alih kepemimpinan Ame dan mengubah nama Akatsuki menjadi PAIN yang memiliki arti kesakitan atau kesengsaraan. Secara harfiah, PAIN di artikan sebagai Kelompok pembawa Kesengsaraan. Namun bukan untuk Kota Ame beserta penduduknya melainkan untuk kota-kota di sekitar dan dunia ini.

Beberapa penduduk ame mendukung PAIN. Namun yang tidak, jelas mereka melarikan diri dari kota saat ketua PAIN memberi waktu bagi mereka keluar dari kota. Sebulan kemudian, Menara-menara Techconnec di hancurkan dan pengawasan kota Ame oleh PAIN pun semakin di perketat. Kejadian ini tepatnya setahun yang lalu. Dan aku mendapat kabar jika PAIN mulai menjalin kerja sama dengan Mafia untuk memperkuat pasukan PAIN sekaligus membantu merebut Techconnec.

Dan aku punya hipotesa tersendiri. Menurutku, hubungan kerja sama PAIN dengan Mafia sudah terbentuk sangat lama bahkan sebelum putusnya hubungan antara PAIN dan Techconnec 5 tahun yang lalu. Putusnya hubungan ini bukanlah karena pemberontakan melainkan PAIN atau saat itu di kenal dengan nama Akatsuki ingin mandiri dan tidak ingin menerima bantuan dari kota lain. Hipotesa ini aku dasarkan pada bukti bahwa semenjak putus hubungan dengan Techconnec, Akatsuki menjadi lebih kuat. Saat itu Akatsuki juga sudah berambisi untuk menjadi pasukan militer khusus kota Ame.

Namun 2 setelah pemutusan hubungan kerja sama itu. Akatsuki hilang layaknya di telan bumi. Tak ada kabar dari mereka dan bahkan saat terjadi bentrok antar warga asing dengan penduduk Ame pun Akatsuki tak menampakan dirinya. Padahal itu merupakan tugas dari Akatsuki untuk mengamankan kota.

Beberapa tahun kemudian, Akatsuki kembali muncul dan mengusir penduduk asing yang mereka rasa sebagai pembawa bencara bagi kota mereka. Beberapa bulan kemudian Akatsuki pun merencanakan revolusi pada pemerintahan Amegakure yang mereka rasa kurang kuat. Di sinilah terjadi pengusiran besar-besaran terhadap penduduk asing yang berada di ame. Bahkan, dalam revolusi ini pemimpin Ame saat itu tewas di bunuh oleh ketua Akatsuki.

Ketua Akatsuki pun mengambil alih kepemimpinan Ame dan mengubah nama Akatsuki menjadi PAIN. Semenjak itu, Ame menjadi sangat sulit di masuki oleh kota lain dengan tujuan yang berkaitan dengan Politik dan pemerintahan. Yang di izinkan masuk hanyalah pedagang.

Kota lain pun mulai mewaspadai Ame. Bahkan kota-kota tersebut tidak berani menampung warga Ame yang melarikan diri dari kota. Hanya Konoha saja yang berani menerima mereka. Sebulan kemudian, PAIN pun merobohkan semua menara-menara Techconnec di kota Ame

Aku mendapat kabar mengenai pemimpin mereka yang sangat rahasia. Bahkan Techconnec saja tidak mengetahui hal ini. Sama seperti Mafia, pemimpin PAIN pun sangat di rahasiakan identitasnya. Namun ekspedisiku di kota Ame membuahka hasil. Pemimpin PAIN merupakan orang yang paham betul seluk belum militer sehingga tak heran jika PAIN merupakan militer terkuat di jepang. Bahkan PAIN memiliki jaringan antar teroris di dunia sehingga mereka dapat memberi peralatan-peralatan tempur buatan Rusia dan curian para teroris-teroris tersebut.

Kerja sama PAIN dan Mafia sangatlah membuahkan hasil. PAIN menjadi lebih kuat dan dan Mafia secara otomatis memegang kendali terhadap kota Ame yang selama ini mereka incar. Aku juga mendapat kabar bahwa akan di gelar rapat besar antara tetua-tetua PAIN dengan pemimpin Mafia. Dan kalau tidak salah kalian akan melakukan operasi di sana kan?

Kusarankan kalian berhati-hati. Tak ada peluang selamat jika kalian sampai terkepung oleh Si bayangan hitam dan pemimpin PAIN. Aku tak dapat banyak informasi mengenai Mafia di kota itu.

Akhir Penjelasan Intel

"Tak cukup banyak informasi yang bisa kita dapatkan memang. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya sekarang kita tahu asal usul PAIN," ucap Hashirama.

"Berarti misi ini sudah jelas sangat beresiko. Apalagi sekarang sudah sah bahwa Mafia punya hubungan dengan pasukan pembunuh elite dunia," ucap Sarah.

"Aku pernah melaksanakan tugas di Amegakure. Tapi aku sama sekali tidak pernah mendengar rumor mengenai PAIN. Berarti saat aku berada di sana, mereka sedang menghilang dari Amegakure," ucap Boruto.

"Bukan menghilang ataupun meninggalkan Ame. PAIN saat itu tetap berada di kota. Mereka menyatu dengan masyarakat yang membuat keberadaannya tak terlacak. Mereka punya tempat berkumpul di daerah hutan dan juga di ruang bawah tanah yang tepat berada di bawah Town Hall," ucap intel tersebut.

"Itu saja yang ingin kami tau darimu. Kami akan kembali ke markas sekarang. Dan pastinya kau tidak ada perlengkapan lagi kan? Jadi aku akan menunggumu di markas untuk mengambil perlengkapan karena beberapa hari lagi kau harus kembali ke lapangan," ucap Hagoromo.

"Tentu komandan. Anda tidak perlu khawatir tertinggal informasi. Ada rekanku di kota Ame. Dia akan menggantikanku sementara hingga luka-lukaku pulih," ucap Intel tersebut.

"Kita akan kembali sekarang. Ada sesuatu yang ingin ku periksa," ucap Hagoromo.

"Baik," ucap Hashirama, Sarah, dan Boruto bersamaan.

::==::==::

Setelah tiba di markas, Hagoromo pun mempersilakan Boruto dan Sarada untuk beraktivitas seperti biasa. Berhubung mereka belum sarapan, Hagoromo memberikan beberapa lembar uang untuk mereka belikan makanan di kantin.

"Kalian makanlah. Lalu nanti siang kita berkumpul lagi di aula. Kita akan membicarakan misi ini dengan beberapa jenderal," ucap Hagoromo.

"Berkumpul lagi? Paman. Kami perlu istirahat. Belakangan ini kami banyak tugas. Kalau kami kelelahan, bagaimana kami bisa menjalankan misi dengan sempurna?" Ucap Sarah.

"Paman janji, siang ini adalah pertemuan terakhir. Setelah itu dan seterusnya, kalian akan di istirahatkan hingga hari di mana kalian akan menjalankan misi," ucap Hagoromo.

"Baik," ucap Sarah dengan wajah lesu.

Setelah membeli makanan dan menghabiskannya, Sarah mengajak Boruto menuju tempat refreshing bagi anggota Sakhuri. Selama ini mereka berdua belum pernah kesana. Tapi hari ini, mereka berdua butuh penyegaran. Tujuan mereka ialah lantai palin dasar di sektor E. Tempat segala macam hiburan ada di sana.

"Aku belum pernah ke bagian ini. Tapi, merasakan suasana di sini saja sudah membuatku bersemangat. Tak kusangka Sektor E ini seperti sebuah kota kecil penuh dengan tempat hiburan," ucap Boruto kagum.

"Masih ada lagi Boruto. kau pasti tidak tahu kalau di markas ini ada hutan bawah tanah. Aku mau mengajakmu ke sana untuk menikmati udara yang lebih segar sambil menikmati pemandangan pohon yang tidak biasa," ucap Sarah.

"Pohon? Bagaimana bisa?" Tanya Boruto.

"Sudahlah. Ikut saja," ajak Sarah sambil menarik tangan Boruto.

Setibanya di sektor khusus itu, Boruto terkagum saat melihat pemandangan hijau yang memenuhi sektor tersebut. Namun, pohon-pohon itu berada di dalam sebuah ruang raksasa berdinding kaca yang sangat tebal.

"Semua udara segar di markas ini di pasok dari ruang ini. Kita memang tidak di ijinkan untuk memasuki ruangan yang terdapat pohon agar kesterilan ruangan tetap terjaga. Yang membuat tempat ini spesial karena tempat ini merupakan tempat pertama yang di pasok oleh udara segar. Maka dari itu, ruang perawatan terletak tak jauh dari sini," ucap Sarah.

"Mendengar ceritamu, aku yakin ini bukan pertamanya kau mengunjungi tempat ini. Benarkan?" Tanya Boruto. "Ya, pamanku pernah mengajakku ke sini sekali. Hari itu adalah hari pertama aku mendatangi markas sakhuri. Aku belum pernah merasakan udara seperti ini di kota asalku. Karena itulah aku suka di sini untuk menghilangkan depresi. Beberapa bulan kemudian, ayahku memperkerjakan aku sebagai pramugari. Semenjak itulah aku jarang mengunjungi pamanku dan menikmati tempat ini," Ucap Sarah.

"Kita kan sudah berteman lama. Bagaimana kalau kau menceritakan bagaimana kau mengetahui Sakhuri," ucap Boruto. "Baik, tapi aku harus menceritakan soal keluargaku dulu agar kau lebih mudah memahami. Menjadi keluarga kaya raya bukan berarti kehidupan anggota keluarganya akan baik," ucap Sarah.

"Aku akan mendengarkan," ucap Boruto.

Cerita Masa Lalu Sarah.

Aku berasal dari sebuah keluarga kaya raya. Ayahku adalah pemilik perusahaan penerbangan komersial yang di sebut Garuda Indonesia. Sayangnya ibuku sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu. Aku memiliki 2 kakak yang pertama kerja di luar negeri dan yang kedua merupakan pilot salah satu pesawat Garuda Indonesia.

Sebagai yang termuda, aku tidak mendapat kasih sayang yang layak seperti saudarakui yang lain. Namun bukan berarti kakak-kakakku mendapat kasih sayang dari ayahku. Aku dan kakak-kakakku jarang mendapat perhatian ayah karena beliau selalu sibuk dengan pekerjaannya. Kakak pertamaku adalah orang yang beruntung di keluargaku karena ia masih dapat merasakan kasih sayang ibu hingga memasuki usia remaja. Sementara aku sudah di tinggal saat masih berusia sekitar 3 tahun. kata kakak-kakakku, semenjak ibu meninggal sikap ayah mulai dingin kepada mereka.

Ayah kami jarang memusatkan perhatiannya pada kami. Ia bahkan jarang pulang bahkan hanya sekedar untuk menatap kami, anak-anaknya. Sekalipun ia pulang, ia langsung menuju kamarnya yang layaknya sebuah apartemen lengkap dengan semua barang-barang layaknya sebuah rumah. Dia jarang berbicara dengan kami dan jikapun berbicara, pasti itu adalah memarahi kami dan memerintah kami.

Saat makan pun ia meminta pembantu untuk membawakan makanan ke kamarnya. Meninggalkan kami bertiga makan sendiri di dapur. Aku pernah di marahi oleh ayahku karena aku lari dari sekolah. Kulakukan itu dengan sengaja agar ayah berinteraksi denganku. Walau ia memarahiku, aku memasang wajah sedih walau dalam hati ku merasa sangat bahagia karena sangat jarang dan bahkan hanya beberapa kali dalam setahun ayahku berbicara padaku.

Beberapa tahun kemudian, kakak-kakakku meninggalkanku karena mereka sudah dewasa dan harus bekerja. Belum lama bekerja, mereka sudah menikah dan punya istri sehingga mereka tinggal di rumah masing-masing. Semenjak itu aku mulai tinggal sendiri. Kesepian menghantui diriku di rumahku yang maha besar. Para pembantu biasanya bermain denganku tapi tak lama karena mereka harus mengurusi rumah agar selalu terlihat rapi dan tidak di pecat oleh ayahku.

Suatu hari ayahku datang menghampiriku dan berbicara denganku tanpa ku pancing dahulu. Namun ekspresinya tetap dingin seperti biasa. Ia memberikanku sebuah tiket menuju sebuah kota di provinsi paling timur di Indonesia. Ia berkata bahwa keluarga pamanku ingin bertemu denganku. Aku pun berangkat menuju kota tersebut

Di sana, aku di terima dengan baik. Mereka menyayangiku layaknya aku adalah anak mereka. Pamanku tidak pernah punya anak jadi ia sangat menyayangiku layaknya anaknya. Kupikir aku akan kesepian di sana tetapi ternyata tidak. Pamanku tinggal di lingkungan yang ramai. Aku sering main bersama anak-anak tetangga. Bersama bibiku, aku merasa seperti bersama ibuku. Yah, dia sangat menyayangiku layaknya anaknya.

Beberapa tahun aku di sana. Tinggal bersama bibi dan pamanku. Namun aku tidak pernah mengirim kabar ke ayahku. Tidak ada rasa rindu di hatiku pada sosok ayahku. Aku berpikir demikian juga pada ayahku. Ia tidak pernah menanyakan kabarku bahkan sangat jarang menghubungi pamanku. Pamanku merasa kasihan pada diriku yang jarang mendapat kasih sayang orang tua. Karena itulah ia meminta ayahku untuk mendatangkan aku ke sini untuk tinggal bersama mereka.

Beberapa bulan kemudian, kabar duka pun muncul. Kakak pertamaku yang bekerja di luar negeri meninggal dunia. Katanya, ia di bunuh oleh ketua Mafia yang menyebut dirinya Bayangan Hitam. Aku merasa sangat sedih akan hal itu. Semenjak itu hari itu, sekarang aku tahu kenapa pamanku sangat berambisi untuk menangkap Si Bayangan Hitam.

Saat itu aku belum tau kalau pamanku itu seorang komandan militer. Aku sering melihatnya pergi dari rumah untuk waktu yang lama. Suatu hari aku membuntutinya hingga sampai di sebuah pangkalan militer. Aku melihatnya di hormati oleh semua prajurit yang ada di pangkalan tersebut. Pangkalan itu bernama Sakhuri. Aku melihatnya menaiki sebuah pesawat yang cukup besar.

Karena semakin penasaran, aku pun memakai ilmu yang di pelajar sewaktu bersekolah. Yaitu ilmu lompat pagar. Walau aku perempuan, aku pernah ikut bela diri dan termasuk perempuan yang sifatnya kayak laki-laki. Aku sering lompat pagar dan bolos sekolah. Tapi tidak pernah merokok apalagi mabuk-mabukan. Namun semenjak di marahi oleh ayahku, aku sudah jarang melakukannya. Dan kini, aku melakukannya lagi.

Syukurnya tidak ada kawat besi di pagar itu. Aku pun leluasa untuk memanjat tembok dan masuk ke pangkalan tanpa ketahuan. Aku menyusup ke pesawat secara diam-diam dan bersembunyi di sana seraya mencari keberadaan pamanku.

Saat pesawat sudah lepas landas, saat itu juga aku ketahuan oleh seorang prajurit dan ia melaporkanku pada pamanku. Antara aku dan pamanku sama-sama kaget. Aku kaget karena ternyata pamanku seorang jenderal dan kini merupakan komandan. Pamanku juga kaget karena aku membuntutinya dan berhasil sejauh ini tanpa ketahuan.

Berhubung pesawat sudah terbang jauh, pamanku pun memutuskan untuk menunjukan sebuah kebenaran. Ia pun membawaku ke markas Sakhuri dan mengajakku berkeliling di markas itu selama 2 hari. Bibiku sempat khawatir dan mengira aku menghilang karena aku pergi tanpa pamit dan pamanku sama sekali tidak memberitahu hal itu pada bibiku.

Beberapa bulan kemudian ayahku menjemputku di rumah bibiku dan membawaku pulang. Aku langsung di masukan ke sekolah penerbangan dan 1 tahun kemudian aku menjadi seorang pramugari di salah satu pesawat Garuda Indonesia kelas Internasional terbaik di perusahaan ayahku. Semenjak hari itu, aku tidak pernah menghampiri pamanku lagi. Aku di paksa ayahku untuk terus bekerja selama beberapa tahun. nantinya, aku akan di beri cuti selama 2 tahun dan itu adalah sekarang.

Akhir Cerita Sarah

"Sudah 1 setengah tahun dan ayahku sama sekali tidak pernah menghubungiku. Bahkan saat aku menghubunginya, ia berkata bahwa ia sedang sibuk. Aku mulai berpikir bahwa selama ini ia tak pernah menyayangi anak-anaknya semenjak ibu kami meninggal," ucap Sarah.

"Aku dari kecil selalu di tinggal pergi ayahku. Hanya beberapa kali dalam setahun ia bisa bertemu denganku dan ibuku. Ayahku bekerja sebagai buruh kontruksi di luar kota. Hal itulah yang membuatnya sangat jarang pulang. Hidup kami dulu sangatlah miskin. Ibuku hanya seorang penjual gado-gado keliling. Selama bertahun-tahun kami menjalani lika-liku kehidupan yang sama. Harus kusyukuri karena cobaan keluargaku tidaklah banyak dan berat. Namun satu hal yang membuatku rindu adalah kepulangan ayahku yang terkadang tak tentu waktunya," Boruto berhenti sejanak sambil menarik nafas.

"Kukira aku adalah anak yang paling tidak beruntung di dunia. Tapi aku tetap menyayangi mereka. Ayahku adalah orang yang hebat dan begitu gigih. Ibuku cantik dan baik. Mereka adalah dua malaikat yang berjuang dengan keras untuk membesarkanku. Suka dan duka ku lalui bersama keluargaku. Ayahku berjuang keras agar aku bisa tetap terus bersekolah walau perekonomian kami waktu itu di bawah rata-rata. Ibuku sering pulang malam demi menghabiskan seluruh dagangannya demi mendapatkan uang untuk keperluan sekolahku. Ayahku bekerja dengan keras dan tak kenal lelah demi menghidupi kami," ucap Boruto.

"Pada akhirnya aku lulus jenjang SMP. Ayahku pernah bercita-cita untuk memasukan ku ke SMA terbaik di kota Konoha. Tapi cita-cita itu hanyalah mimpi. Tapi, dengan modal kepintaran yang aku miliki berkat perjuangan ayah dan ibuku serta usahaku, aku memutuskan untuk mendaftar di sekolah yang di inginkan ayahku demi membahagiakannya. Aku di terima dan saat kusampaikan pada mereka, mereka juga nampak bahagia. Namun ekspresi mereka berubah kala melihat dompet ayahku yang kosong. Ayahku pun berkata 'Nak, maaf. Ayah tidak bisa menyekolahkanmu di sana. Biayanya terlalu mahal. Tapi ayah janji akan tetap menyekolahkanmu di sekolah lain hingga lulus',"

Sarah pun mendengar dengan seksama. Wajah mereka berdua kini sudah basah berkat 2 curhat yang bisa di bilang cukup menyedihkan itu. Sudah tak tahan bercerita mengenai dirinya. Sarah kini harus mendengarkan cerita Boruto yang tak kalah menyedihkan. Air matanya pun menetes perlahan sambil terus menyimat Boruto.

"Beberapa hari kemudian, pihak sekolah datang dan memberiku sebuah surat. Nilaiku yang sempurna itu walau anjlok di perhitungan itu di terima dengan baik oleh kepala sekolah. Berkat program yang sedang di jalankan pihak sekolah, aku bersama beberapa siswa miskin lainnya di terima di sekolah itu tanpa di pungut biaya. Mendengar itu, aku, ibu, dan ayahku benar-benar tak mampu membendung air mata kebahagiaan. Semenjak itu kehidupan ku mulai sedikit-sedikit berubah. 2 tahun kemudian ayahku di PHK dan tahun itu juga ayahku bertemu teman lamanya dan ayahku langsung di beri pekerjaan olehnya," ucap Boruto.

"Hiks...! Boruto, bagaimana bisa kita tiba-tiba jadi curhat hal menyedihkan seperti ini, hiks...," kata Sarah sambil menghapus air matanya.

"Hehe, bukan Cuma kau yang mau bercerita. Aku juga kebawa perasaan saat mendengar ceritamu," ucap Boruto sambil memaksa dirinya untuk tersenyum kembali. Boruto pun lalu melihat jam di ponselnya. "Ehh, sudah jam 12. Ayo kita bertemu komandan," ucap Boruto panik.

"Tunggu Boruto. aku mau mencuci mukaku dulu. Sepertinya kau juga lebih baik mencuci mukamu dulu. Air matamu menetes tadi," ucap Sarah. Mereka pun segera menuju toilet yang berada di ruangan itu.

::==::==::

Setelah mencuci muka, Boruto dan Sarah pun berjalan menuju ruangan Hagoromo. Mereka berjalan dengan cepat agar bisa sampai dengan cepat. Setelah tiba, mereka di sambut dengan tatapan kesal oleh Hagoromo dan Hashirama serta beberapa perwira yang sudah menanti mereka di ruangan tersebut.

"M-Maaf komandan. Aku dan Sarah keasikan bercerita di ruang hijau," ucap Boruto.

"Kalian terlambat 15 menit. Seharusnya kalian tiba di sini sebelum jam 12. Tapi saya akan mengampuni kalian tanpa hukuman," ucap Hagoromo.

"Kalian beruntung karena ini bukanlah pertemuan yang penting. Dan kalian seharusnya berterima kasih karena perwira-perwira ini dapat bersabar," ucap Hashirama.

"Rencananya aku akan menjelaskan strategi misi kalian. Tapi lebih baik kalian sendiri yang mengaturnya. Aku akan menyampaikan poin-poin pentingnya saja. Nanti kalian sampaikan pada prajurit kalian," ucap Hagoromo.

"Baik," ucap Boruto.

"Misi ini akan di jalankan lusa. Jadi lusa kalian akan berangkat menuju Konoha dengan kapal. Setelah tiba, jangan membuang waktu lagi. Kalian harus langsung menaiki mobil yang telah di siapkan di kapan menuju kota Ame. Kami akan memberikan kalian sebuah koordinat. Koordinat itu nantinya akan kalian pakai sebagai base sementara selama menyusun strategi untuk menangkap atau membunuh Si Bayangan Hitam bersama pengikutnya," ucap Hagoromo.

'Rapat besar akan di laksanakan 9 hari dari sekarang. Kalian akan menaiki kapal Sakhuri tercepat dengan beban minimal agar lebih ringan dan cepat. Semua perlengkapan kalian akan di bawa oleh kapal lain agar kapal yang kalian naiki bisa lebih cepat karena beban sedikit. Setelah tiba, pack semua barang ke mobil dan jalanlah menuju koordinat. Perlengkapan yang kami bawakan sudah termasuk senjata, amunisi, dan makanan serta minuman serta keperluan makan, minum, masak, dll," ucap Hashirama.

"Jadi—" ucapan Hagoromo terpotong lantaran mendengar suara alarm tanda peringatan bahaya yang berbunyi di setiap ruangan di markas Sakhuri. Para perwira pun menjadi tegang. Para prajurit-prajurit pun segera bersiaga di posisi masing-masing.

"Alarm apa itu? Hashirama?" Tanya Hagoromo. "Uh, entahlah. Biasanya sih tanda peringatan bahaya," ucap Hashirama.

"Jenderal. Ada laporan dari ruang kendali. Alarm itu di bunyikan dari laboratorium. Kita harus kesana segera," ucap seorang perwira.

"Jangan pergi tanpa senjata," ucap Hagoromo lalu pejalan menuju sebuah berangkas raksasa dan membukanya. "Ambilah senjata untuk pertahan diri kalian," ucap Hagoromo setelah membuka berangkas yang berisi beberapa senjata.

Mereka semua pun berlari dengan senjata menuju laboratorium dengan sangat cepat. Alarm tak henti-hentinya berbunyi untuk memberikan peringatan.

"Mayor, pergilah ke ruang kendali dan terus laporkan padaku situasi terbaru," ucap Hagoromo pada seorang perwira berpangkat mayor yang ikut berlari bersama mereka. "Siap komandan," ucap orang itu lalu berubah haluan menuju ruang kendali.

Beberapa menit kemudian mereka pun tiba di laboratorium. Betapa kagetnya Hagoromo kala melihat beberapa prajurit Sakhuri tergeletak di lantai. Hashirama pun segera mendekati salah satu dari mereka dan memeriksa keadaan. "Mereka masih hidup komandan. Aku menemukan peluru bius di tubuh mereka. Sepertinya mereka hanya di bius," ucap Hashirama.

"Siapapun pelakunya pasti belum jauh dari markas ini. Hashirama! cepat minta ruang kendali untuk memerintah sejumlah prajurit bersenjata lengkap untuk menjaga semua pintu keluar-masuk markas Sakhuri!" Seru Hagoromo dengan suara lantang dan keras.

Seorang ilmuwan pun menghampiri Hagoromo dengan kondisi fisik lemas dan membawa sebuah suntikan penawar obat bius di tangannya. "Ko..Komandan. mereka membawa lari zirah tempur khusus yang kami buat untuk anda," ucap ilmuwan tersebut.

Semua nampak kaget. "Bagaimana dengan zirah tempur tim Laskar Sakhuri 5?" Tanya Hagoromo.

"Zirah itu telah kami simpan di brangkas pengamanan tinggi. Yang mereka curi adalah zirah untuk anda dan Jenderal Hashirama," ucap Ilmuan tersebut. "Agh, dan juga beberapa senjata terbaru proyek kami," ucap Ilmuan tersebut lagi.

Tak lama kemudian, Jenderal Onoki datang lengkap dengan 10 orang prajurit bawahannya yang berpakaian lengkap siap tempur. "Ada apa ini? Kenapa alarm berbunyi?" Tanya Jenderal Onoki.

"Ada yang menyusup ke markas dan mencuri zirah khusus dan beberapa senjata terbaru proyek laboratorium Sakhuri," ucap Hagoromo.

"Oh, mereka pasti belum jauh dari markas. Ku dengar dari ruang kendali jika pintu keluar-masuk di sektor 3 rusak sehingga tidak bisa di tutup dan di buka. Sepertinya mereka merusak pintu tersebut agar bisa menyusup," ucap Onoki.

"Bagaimana bisa? Komandan. Aku akan mengeceknya," ucap Hashirama. "Jenderal. Tunggu. Aku ikut," ucap seorang perwira berpangkat Jenderal Mayor.

"Hagoromo. Izinkan aku dan anak buahku untuk mengejar mereka," ucap Onoki.

Dengan ragu dan bimbang, Hagoromo pun menyetujuinya. "Oke, ayo semua kita segera menuju pangkalan dan menyusuri jalan penyusup," ucap Onoki lalu meninggalkan laboratorium.

"Jenderal Onoki membawa regu pelacak. Sepertinya ia sudah mengantisipasinya," ucap seorang perwira.

"Bagaimana mungkin. Ada orang yang bisa menyusup ke markas dengan pengamanan super dan sangat rahasia ini. Selama bertahun-tahun tak pernah terjadi hal seperti ini. Kuyakin pelakunya adalah orang yang sudah mengenal seluk beluk tempat ini," ucap Hagoromo.

"Sebuah pemberontakan!" ucap Sarah. "Atau Mafia mendapat informasi markas Sakhuri dari orang dalam Sakhuri sehingga mereka mampu masuk dan menyusup," ucap Boruto.

"Jelasnya, ada sangkut tangan Sakhuri dalam tragedi ini. Mulai saat ini, penjagaan markas harus di perketat terutama Laboratorium. 24 jam siaga 2 dan semua anggota Sakhuri wajib terlibat. Dan kalian semua bereskan tempat ini sekarang," ucap Hagoromo.

:

:

:

To Be Continued

Lama tak ketemu semua.

Ini update pertama di bulan ini. Namun ulangan author belum kelar. Jd belum bisa serius dalam mengetik. Author perlu refresing makanya melanjutkan mengetik ch ini.

Oke sekian sampai jumpa dalam beberapa hari atau Minggu.