Chapter 36
Time
Thanatos berjalan menyusuri lorong panjang manor house. Hari ini adalah hari yang sudah ditunggunya, hari yang dijanjikan.
Dia berjalan sembari bersenandung pelan, bersama dengan Oneiros yang mengekor dibelakangnya tanpa berbicara. Mereka pun berhenti di depan kamar di ujung lorong, kamar dengan dua pintu ganda berwarna putih, tanpa banyak bicara Thanatospun membuka pintu kamar itu, wajahnya langsung berhiaskan senyum. Senyum yang mencerminkan kebahagiaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Thanatos berhenti sejenak sebelum memasuki kamar bercat broken white itu, dia masih berdiri di ambang pintu sambil memegangi kenopnya. Dia menghela nafas cepat lalu kembali menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman. Tanpa bicara lagi diapun memasuki kamar tersebut, mendekati ranjang yang ada di dekat pintu menju balkon.
Langkah Thanatos berhenti di tepi tempat tidur dan duduk.
"Kau bisa pergi sekarang Oneiros." Kata Thanatos.
"Baik, Yang Mulia, apakah anda ingin kubuatkan sesuatu?" Tanya Oneiros
Thanatos memejamkan matanya seakan berpikir, "cokelat panas akan sangat menyenangkan, Oneiros."
"Dengan sedikit gula?"
"Kau bisa tambahkan sedikit lagi khusus untuk hari ini."
"Baik, Yang Mulia." Oneirospun pamit dan meninggalkan ruangan itu.
Pandangan Thanatos mengarah pada penghuni ranjang yang ada di kamar itu, dia tampak lebih 'nyata" ketimbang 27 tahun yang lalu.
"Selamat pagi." Sapa Thanatos, dia mengerling buku bersambul abu-abu yang tergeletak di tengah ranjang tersebut, diapun menjulurkan tangannya meraih buku bersampul abu-abu itu, dan membukanya.
"Kulihat kau membacanya…buku ini" kata Thanatos, "apa yang kau pikirkan, Hypnos?." Tanya Dewa berambut hitam itu.
Hypnos memandang Thanatos, lalu tersenyum. "Kau…apa yang kau pikirkan?" Hypnos balik bertanya.
Thanatos menghela nafas panjang. "Kebanyakan para dewa, termasuk Samsara mengatakan kalau aku adalah dewa yang kejam." Ungkap Thanatos.
"Apa kau merasa seperti itu?" Tanya Hypnos.
Thanatos terdiam sejenak, dia memandang buku yang ada ditangannya. "Tidak…..mungkin sedikit."
Jawaban Thanatos membuat Hypnos tertawa pelan.
"Aku mungkin terlihat kejam, karena aku menempatkan dia pada masa lalunya…"
"Tanpa menghapus ingatan masa lalunya." Sambung Hypnos
"Ya, dia harus mengetahui siapa dia sebenarnya. Aku tidak mengirimnya kembali ke bumi untuk dia hidup disana selamanya. Oleh karena itu aku mempatkan dia disana, diantara orang-orang dalam masa lalunya." Jelas Thantos.
Hypnos dan Thanatospun saling berpandangan dalam diam.
Dalam buku takdir bertuliskan nama Lecca Redwood yang ditulis oleh Dewa Kematian, Thanatos, tertulis:
Dan jiwa yang berada dalam grey section itu akan dilahirkan dari seorang perempuan yang memiliki ikatan darah dengan ibu yang melahirkan dia di kehidupan sebelumnya. Ibu nya akan menjadi nenek dalam kehidupan yang sekarang. Dia juga akan memiliki kakak lelaki, yang dalam kehidupan sebelumnya pernah melindunginya hingga kehilangan nyawanya. Seorang yasha yang diangkat martabatnya lahir kembali ke dunia menjadi seorang manusia. Diapun akan bertemu dengan saudara kembar dari pria yang pernah dia cintai dalam kehidupan yang sebelumnya, seorang saint dari dewi kebijaksanaan Athena.
Dan saat berusia 13 tahun sang dewa akan melepas ingatan jiwa ini pada kehidupan sebelumnya, sedikit demi sedikit, dengan membangkitkan kenangan-kenangan dalam setiap mimpi-mimpinya. Dia akan mencari apa arti mimpi-mimpi tersebut sampai dia mendapatkan jawabannya. Dia akan mencari siapa yang berada di dalam mimpinya.
Pada usia 23 tahun, sang dewa akan menyadarkan jiwa itu siapa dia sebenarnya, untuk apa sebenarnya dia dilahirkan, dia akan mencari, dia akan memilih, dan kami akan menuntunnya menuju takdirnya sesuai dengan jalan yang telah kami tentukan.
Kecuali jalan itu berubah karena pilihan jiwa tersebut, jika itu terjadi tidak ada jalan lain selain memusnahkannya, sebab dia sudah gagal mejalani ujian yang diberikan oleh sang dewa.
"Aku hanya ingin memastikan semuanya pantas untukmu, kakak" Ucap Thanatos memecah kebisuan. "Aku juga ingin tahu apakah dia bisa menaklukkan sang waktu. Kau tahu, waktu bisa menumbuhkan apapun dan bisa menghancurkan apapun, waktu bisa menghapus semuanya, waktu juga bisa mengembalikan semuanya, dan waktu bisa mengubah segalanya, benda, manusia, dewa, bahkan sesuatu hal yang kau bilang hal yang paling murni yang dimiliki manusia." Lanjutnya.
"Cinta." Kata Hypnos menyahuti perkataan Thanatos.
"Tepat."
"Kau masih menyimpan keraguan tentang hal itu?."
"Ya." Jawab Thanatos singkat. Thanatos bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu balkon, dia menyibakkan tirai sehingga sinar matahari pagi menyeruak masuk menerangi kamar tersebut, dia menyandarkan bahunya di tepi pintu pandangannya menerawang keluar.
"Aku sudah terlalu banyak melihatnya, Hypnos. Cinta manusia yang berubah karena waktu."Kata Thanatos pelan.
Hypnos terdiam, dia sangat memahami maksud Thanatos, dirinyapun tidak memungkiri waktu adalah hal yang paling kuat untuk merubah segalanya. Tetapi entah kenapa dia tidak begitu mengkhawatirkan ujian yang diberikan oleh Thanatos pada Lecca. Hatinya tidak bergejolak, tidak gelisah. Hypnos memercayai Lecca, itulah yang membuat dirinya tenang.
"Ini adalah waktu yang dijanjikan, Finale, akhir dari cerita dalam buku takdir, apakah kau mau membuatnya cepat? Kalau kau mau aku bisa membuatnya cepat, dan membuat dia sesuai dengan apa yang kau mau." Ucap Thanatos.
Hypnos memandang adiknya lekat-lekat. "Tidak perlu. Biarkan semuanya berjalan seperti apa adanya. Dia akan membuat pilihan terakhirnya, pilihan yang akan menentukan akhir takdirnya. Ujian yang sebenarnya baru dimulai sekarang." Kata Hypnos
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Balas Thanatos.
Hypnos memijat lehernya, dia memutar badannya dan menata letak bantal bulu angsanya, kemudian dia merebahkan tubuhnya.
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin istirahat sebentar. Bisa kau tinggalkan aku?" pinta Hypnos.
"Tentu. Aku ada di ruang tamu jika kau membutuhkanku" Thanatos meletakkan buku bersampul abu-abu di salah satu meja yang ada di kedua sisi tempat tidur. Lalu ia berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Kakak, senang kau kembali." Ucap Thanatos. Hypnos membalasnya hanya dengan senyuman, Thanatospun meninggalkan ruangan itu dan menutup pintunya.
Thanatos disambut oleh Oneiros yang membawa baki dan secangkir cokelat panas ketika dia keluar dari pintu kamar Hypnos.
"Yang Mulia, minuman anda."
"Bawa ke ruang tamu, Oneiros. Dan katakan pada Phantasos, bersiaplah untuk Finale, dia tahu apa yang harus dia lakukan ketika semuanya tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan dalam buku takdir…..katakan padanya, bunuh Lecca. Musnahkan dia sampai jiwanya tidak bersisa." Tegas Thanatos.
"Baik Yang Mulia."
Usai meletakkan cangkir cokelat panas Oneirospun pamit meninggalkan Thanatos di ruang tamu, Dewa Kematian itu duduk di sofa, dia menautkan jari-jarinya dan menempelkannya wajahnya hingga menutupi mulutnya. Pandangannya terpaku menatap cangkir hitam yang mengepul di meja, di depan dia duduk. Hatinya begitu gelisah, tidak karuan rasanya, karena ini adalah Finale, penentuan dari takdir Lecca, gadis yang sangat dicintai oleh kakaknya, Hypnos. Dia ingin segala sempurna untuk Hypnos, apakah dia sebaiknya melakukan seperti apa yang dilakukan Zeus pada takdir Samael, mencoba merubah alirannya. Tidak! Thanatos buru-buru menepis pikiran itu, dia tahu sebarapa keras kita mencoba alirannya, dirinya tidak akan bisa merubah takdir yang sudah hanya memberikan pilihan pada Lecca, dalam buku takdirnya, Leccalah yang memilihnya. Sejauh ini pilihan yang dibuat oleh Lecca sesuai dengan apa yang dia inginkan, tetapi Thanatos tidak bisa membayangkan jika Lecca, memilih pilihan yang salah kali ini, dia harus melaksanakan konsekuensinya. Apakah dia sanggup untuk melakukannya, karena Thanatos begitu menyayangi Lecca dan kakaknya, apakah dia sanggup melihat Hypnos bersedih. Thanatos mengeratkan tautan jarinya dan memejamkan matanya.
"Lecca…jangan sampai aku memusnahkanmu." Ucapnya dalam hati.
