Kuroko no Basuke/黒子のバスケ Fanfiction

"AkaKuro!Drabble"

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi

Warning : Last drabble/ AU!Future

A/N : Hallo guys, masih ingatkah dengan fic ini? /timpukin authornya yang lama ga apdet/ gomen ne.. karena berbagai alasan dan kendala author jadi ga bisa mentamatkan series ini beberapa bulan lalu m(_ _ )m last chapter ini adalah request dari Shizuka Miyuki, sekali lagi maaf karena baru bisa dibuat sekarang.

Lalu, buat semua reader yang sudah menyempatkan diri untuk membaca drabble-drabble ini dari awal sampai akhir, author mengucapkan terimakasih banyak. Setiap review dari kalian menjadi penyemangat dan moodbooster tersendiri buat author ^O^

Akhir kata, sampai berjumpa lagi di series lain, minna.. sekali lagi terimakasih buat review dan pm-pm kalian ^w^

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Last Drabble - Pieces of Our Memory


Ini adalah cerita kecil diantara kami,

Sebuah alkisah yang dipenuhi oleh kegembiraan, kesedihan, tawa dan bahkan derita.

Memang perjuangan kami sampai saat ini bukanlah hal yang mudah.

Banyak pertentangan yang terjadi,

Beragam masalah datang dan pergi menghampiri kami.

Namun, kami memilih untuk tetap bertahan. Dari segala bentuk kemungkinan yang mampu memisahkanku dengannya, kami memilih untuk saling bergandengan tangan.

Suatu hubungan tidaklah didasari pada sekedar rasa suka dan saling menyayangi, tetapi bagaimana kita mau mempertahankan satu sama lain dan saling mengerti adalah kunci yang menyempurnakan semuanya.

Dan bagiku, ia adalah satu-satunya.

oOo x oOo x oOo

Kisah ini bermula ketika Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya menaiki tingkat 2 di High School mereka, pada saat ganjil usia ke-17 tahun, itulah awal dari segalanya. Perbedaan tempat antara Tokyo dan Kyoto tidaklah menjadi jurang pemisah bagi keduanya. Setelah kekalahan Rakuzan melawan Seirin pada 1st Winter Cup, lalu pada saat mereka kembali menjadi satu rekan dalam Vorpal Sword, saat itu juga benih perasaan yang mereka pendam kini mulai bermekaran. Beberapa minggu setelah event penting itu berakhir, keduanya menjadi lebih sering untuk berkomunikasi.

Semua bermula dari sapaan singkat dalam message di ponsel mereka, kemudian dilanjutkan saling bercerita tentang kegiatan mereka, lalu kisah itu terus berlanjut hingga keduanya melupakan bagaimana pertama kali mereka selalu bertegur sapa melalui panggilan telefon. Tidak jarang mereka menghabiskan weekend bersama, entah Kuroko pergi menuju Kyoto, maupun Akashi yang berkunjung ke Tokyo. Lalu, pada tahun berikutnya, Akashi Seijuurou mendatangi Seirin High School dan mengajak Kuroko Tetsuya untuk menjahin hubungan dengannya.

"Aku menyukaimu, Tetsuya. Bila suatu hari kau menemukan seseorang yang mungkin lebih cocok dibanding diriku saat ini, dan bila kau lebih memilihnya dibandingkan dengan diriku, aku akan merelakanmu. Tetapi, sebelum saat itu tiba, maukah kau tetap berada disisiku?" Itulah pernyataan yang diungkapkan oleh Akashi Seijuurou padanya. Pernyataan yang tidak pernah dilupakan oleh Kuroko.

Tentunya perasaan Akashi tidaklah bertepuk sebelah tangan, karena diam-diam Sang Phantom Player memendam perasaan yang serupa dengan mantan captain-nya itu. Namun ia enggan menyatakan perasaannya, ia takut bila perasaannya akan meretakkan hubungan diantara mereka. Ia takut untuk mengambil langkah, berbeda dengan seorang Akashi Seijuurou. Oleh sebab itulah, ia lebih memilih untuk tetap diam, tetapi apa yang diakatakan oleh Akashi pada saat itu bagaikan sebuah mimpi baginya, karena ternyata Akashi juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

Awalnya keduanya menyembunyikan hubungan mereka hingga semester ke-4 masa kuliah mereka, dimana pada saat itu Akashi kembali ke Tokyo untuk melanjutkan studinya. Berada di universitas yang sama dengan Kuroko membuat keduanya makin sering bertatap muka, meskipun salah satu diantara keduanya harus rela untuk saling menunggu karena jadwal mereka yang berbeda. Tetapi bila kata cinta sudah tumbuh, apapun akan mereka perjuangkan untuk tetap bersama, bukan? Menunggu bukanlah hal yang besar bagi mereka. Bahkan Kuroko selalu meluangkan waktunya di perpustakaan dengan banyak membaca buku, baginya segala pengetahuan baru tentang dunia merupakan hal yang menakjubkan.

Namun, lambat laun hubungan keduanya tercium juga oleh ketua CIA yang sekaligus menjabat sebagai tulang punggung keluarga Akashi—dengan kata lain, Ayahnya. Awalnya tentu mereka tidak direstui untuk bersama, berbagai cara dilucuti oleh Akashi Masaomi untuk memisahkan anaknya dengan Kuroko, apalagi Akashi merupakan satu-satunya penerus bagi keluarga besar Akashi, mengingat Akashi Shiori—yaitu mendiang istrinya telah meninggal ketika Seijuurou masih dalam usia yang sangat belia sehingga mereka tidak memiliki keturunan lain selaian Seijuurou.

Keluarga Kuroko sendiri shock ketika mengetahui bahwa anak semata wayang mereka ternyata mencintai sosok pria. Lebih tepatnya, keduanya merupakan anak tunggal dari keluarga masing-masing, pembawa marga yang seharusnya menghasilkan keturunan. Namun keduanya malah mengabaikan masalah penting itu dan bersikeras untuk tetap bersatu. Meskipun akhirnya keluarga Kuroko merestui keduanya, Akashi Masaomi masih menentang keras hubungan diantara mereka.

"Keluar! Aku tidak pernah mendidikmu menjadi anak seperti ini! Kau bukan lagi salah satu anggota dari keluarga Akashi!" Titah ayahnya pada saat itu dengan suara yang tinggi. Perkataan yang menorehkan luka pada diri Seijuurou.

Akashi Seijuurou akhirnya pergi dari rumah setelah bertengkar besar-besaran dengan Ayahnya, ia memutuskan untuk bekerja dan membiayai kuliahnya sendiri tanpa campur tangan ayahnya. Untuk sementara Akashi tinggal dirumah Kuroko, keberadaan Akashi ternyata disambut hangat oleh keluarganya, terutama nenek Kuroko yang masih tinggal serumah dengan Tetsuya. Tentu saja Akashi tidak sekedar tinggal, pagi sampai siang ia luangkan waktu untuk kuliah, sedangkan sore menjelang malam ia gunakan sebagai guru bimbingan belajar. Hasilnya cukup efektif—dengan kejeniusan yang sudah menempel pada dirinya, ia bisa memperoleh penghasilan yang lebih dari cukup.

Hingga akhirnya 2 tahun berlalu dan Akashi maupun Kuroko kini sama-sama lulus dalam jenjang pendidikan lanjut mereka. Namun pada hari bersejarah tersebut, Akashi Masaomi datang menemui anaknya. Setelah melihat betapa keras perjuangan Seijuurou demi bersama dengan Kuroko, hati sang Ayah akhirnya luluh juga. Ia menyuruh Akashi untuk meneruskan salah satu perusahaan ayahnya, meskipun Akashi Masaomi masih belum merelakan 100% anaknya untuk bersama dengan Kuroko. Meskipun begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh mereka berdua, tetapi keduanya memutuskan untuk bertahan. Saling bergandengan tangan dan mengerti, saling membantu dan menolong.

Hingga sekarang, tahun ini adalah 10th anniversary mereka, dimana begitu banyak memori-memori yang telah mereka lalui bersama telah berlalu. Antara senang, sedih, kecewa, khawatir, marah, bahkan perasaan lain yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata. Meskipun mereka tidak diberkahi seorang anak, tetapi mereka bahagia. Akashi Seijuurou menjadi direktur utama dalam beberapa perusahaan yang diberikan oleh Ayahnya, mengesampingkan bahwa dirinya juga ternyata menjadi pemain Shogi professional. Kuroko sendiri menjadi guru TK di dekat rumah yang mereka bangun bersama di Kyoto.

Saat ini adalah musim kemarau, dimana udara mulai terasa dingin dan menandakan bahwa tidak lama lagi musim dingin akan menyambut mereka. Daun kemerahan Momiji jatuh secara perlahan dihalaman rumah mereka, beberapa dedaunan itu terbang hingga mendarat pada salah satu bebatuan yang berdekatan dengan sebuah kolam bambu tradisional—Shishi-odosi— yang terletak ditengah taman, ditambah beberapa tangkai Iceland Poppy yang ditanaman oleh Tetsuya kini mulai bermekaran. Akashi Seijuurou dan Kuroko Tetsuya telah meresmikan hubungan diantara keduanya. Pada saat mereka berumur 24 tahun, mereka memutuskan terbang ke Washington dan melakukan upacara pernikahan disana. Setelah perjuangan mereka berpuluh bulan lamanya, akhirnya Akashi Masaomi memberikan restu pada keduanya. Saat ini, nama Kuroko sendiri berubah menjadi Akashi Tetsuya.

Udara dingin sayup-sayup berhembus melewati keduanya. Akashi Seijuurou dan Akashi Tetsuya kini tertidur diatas kasur yang sama, saling berpelukan. Di jari manis kanan mereka terpasang sebuah cincin polos berakronim S&T, S dari Seijuurou dan T dari Tetsuya. Selimut hangat berbahan dasar 100% Acrylic itu begitu sempurna menyembunyikan kedua pria didalamnya. Manik Heterochrome milik Seijuurou kini terbuka, melihat sosok Tetsuya yang masih tertidur disampingnya. Pemuda berparas tampan itu tersenyum sebelum mengecup dahi milik kekasihnya.

"Hmnnng?" Tetsuya mulai membuka kedua matanya secara perlahan, pantulan Aqua itu menatap kekasihnya yang tengah memandangnya sambil tersenyum lembut. "Selamat pagi, Tetsuya." Ujarnya sambil mendekat untuk melahap bibir Tetsuya.

"Selamat pagi, Seijuurou-kun." Balas Tetsuya sambil menyambut ciuman yang diberikan oleh Seijuurou. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan di pagi hari. "Jam berapakah sekarang, Seijuurou-kun?"

"Jam 9 pagi, kurasa kita tidur sangat larut tadi malam." Tawa kecil dapat terdengar dimulut Seijuurou ketika melihat pipi Tetsuya yang memerah.

"Mau kubuatkan Vanilla Hot Milk?" tanya Seijuurou sambil bangkit berdiri.

"Dengan senang hati, Seijuurou-kun."

Seijuurou menengok kebelakang sesaat, menatap sosok kekasihnya yang masih setengah sadar itu. Entah sudah berapa puluh tahun ia harus menahan tawa ketika melihat kebiasaan Tetsuya yang tidak pernah berubah. Ya, bad hair miliknya selalu menjadi ciri khas dari Akashi Tetsuya.

.

.

.

Hari ini keduanya kebetulan mendapat libur bersama selama 2 hari kedepan dan mereka memutuskan untuk meluangkan waktu berdua. Meskipun Seijuurou dan Tetsuya sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tetapi keduanya pasti selalu meluangkan waktu untuk tetap bersama.

DING-DONG

DING-DONG

Bel utama didepan rumah mereka berbunyi, baik Seijuurou dan Tetsuya kini saling berpandangan. Mereka tidak mengingat memiliki janji dengan siapapun pada hari ini.

"Yo, Tetsu! Sei!" Aomine Daiki tersenyum lebar sambil memegang bola basket ketika Seijuurou dan Tetsuya membuka pintu. "Halloo, Seicchi~ Tetsuyacchi~~" Kise Ryouta berdiri disebelahnya.

"Lama tidak berjumpa-nodayo, Akashi, Kuroko." Midorima Shintarou berada disebelah Kise. "Mou~ Shin-chan, Kuroko 'kan sudah berganti nama menjadi 'Akashi', masa kau masih memanggilnya 'Kuroko' sih?" Takao Kazunari memperingatkannya. "Bilang saja Shin-chan tetap malu untuk memanggil nama kecil mereka 'kan?"

"B—bukan urusanmu, Bakao!" balas Midorima sambil membetulkan posisi kacamatanya yang sebenarnya tidak bermasalah. Ah, dasar tsundere.

"Lama tidak berjumpa." Senyum Himuro sambil memberikan sekantong plastik penuh berisi cemilan berupa kue kering, disampingnya berdiri Murasakibara Atsushi. "Kemarin malam kubuat itu bersama Tatsu-chin~ ayo kita makan bersama, Sei-chin~ Tetsu-chin~"

Tetsuya mengerjabkan matanya, ia kaget dengan kehadiran sahabat-sahabatnya secara tiba-tiba seperti itu, pasalnya ia tidak menerima pesan apapun mengenai kedatangan mereka, melihat ekspresi Seijuurou juga membuat ia yakin bahwa mereka tidak mendapat pesan apapun, kedatangan mereka benar-benar diluar dugaan oleh keduanya.

Setelah itu mereka semua masuk kedalam rumah kediaman Akashi, dimana rumah dengan tataan modern-tradisional terdesain dalam tataan rumah mereka. "Ah~ kami memutuskan kemari karena Tetsuyacchi bilang kalau hari ini kau dan Seiichi libur~ kebetulan kami juga sedang lowong-ssu, jadi kami memutuskan untuk mengunjungi kalian di Kyoto!" Kise Ryouta langsung semangat ketika Tetsuya bertanya tentang kedatangan mereka.

Seijuurou memijat dahinya perlahan. "Untungnya aku dan Tetsuya berada dirumah, bagaimana bila kalian datang sewaktu kami pergi?"

"Tenang saja, Shin-chan sudah memeriksa bahwa Sagitarius akan meluangkan waktu dirumah hari ini, dengan kata lain Tetsuya juga akan tinggal bukan? Selama Seijuurou berdiam dirumah~" Takao menyenggol Midorima yang kini menaikan kacamatanya, lagi.

"Hey, kebetulan kita sedang berkunjung kesini, ayo kita main basket!" Aomine sudah antusias sambil memutar-mutar bola basket ditangannya—yang entah ia ambil darimana. Setelah melahap beberapa kue dan meneguk ocha, akhirnya mantan Ace itu kembali bersuara.

"Hmph, bersiaplah untuk kalah kalau begitu, Daiki." Dengus Seijuurou dengan pandangan yang dingin. Meskipun beberapa tahun telah berlalu, tetapi sifat menjadi 'nomor 1' milik Seijuurou sepertinya sukar untuk menghilang.

"Aku tidak akan kalah semudah itu, Sei." Balas Aomine yang tampaknya tidak gentar melihat tatapan milik Seijuurou.

"Eeehhh~~ aku masih mau berdiam dan memakan kue-kue ini~" ucap Murasakibara sambil terus melahap kue kering buatannya.

Midorima menghela nafas. "Bermain basket ditengah udara yang dingin bagus untuk menjaga metabolisme tubuh-nodayo. Aku tidak keberatan bila kita bermain basket sampai sore nanti."

"Ah, bila kalian berdiam sampai malam, Bagaimana bila kalian menginap saja disini?" tanya Tetsuya kemudian, tetapi tepukan pada pundaknya berhasil mengalihkan pandangannya menuju Seijuurou. "Kau seperti tidak tahu mereka saja, Tetsuya."

"Tentu saja kita akan menginap-ssu! Kita ingin meluangkan waktu bersama selagi ada kesempatan yang jarang ini~" Senyum lebar Kise kini terpasang dirona cantik pemuda itu. Sungguh, semuanya kini meragukan mengapa Kise yang seperti ini malah berujung menjalin hubungan bersama dengan Aomine yang begal itu.

"Sekali lagi, maaf merepotkan kalian." Senyum Himuro selanjutnya.

Bahkan semenjak upacara pernikahan Seijuurou dan Tetsuya, mereka tetap menjadi sahabat bagi keduanya. Saat ini Aomine mengejar cita-citanya menjadi seorang Polisi, ia menjalin hubungan dengan Kise Ryouta yang bekerja sebagai Pilot sekitar 3 tahun lalu. Midorima berprofesi sebagai Dokter juga kabarnya tinggal 1 apartement dengan Takao yang bekerja di divisi yang sama dengannya. Murasakibara sendiri menjadi seorang Pastry Chef terkenal dimana Himuro Tatsuya membantunya, Himuro sendiri merupakan bartender yang cukup dikenal oleh orang banyak. Meskipun mereka sudah menjalani kehidupan mereka masing-masing, tetapi mereka masih saling berhubungan antara satu sama-lain. Bahkan tahun lalu mereka sama-sama menginap dirumah Seijuurou dan Tetsuya selama pergantian tahun.

"Kalau begitu ayo! Aku sudah lama tidak bermain basket, ahh.. entah mengapa aku sangat bersemangat hari ini." Papar Aomine sambil bangkit berdiri dan mulai berjalan menuju luar.

"Ahhh~~ tunggu aku, Daikicchi!" Kise mengekor di belakang Aomine, ia berjalan sambil menengok ke belakang. "Ayo, ayo cepat, minnacchi!

Lalu, itulah kegiatan yang mereka lakukan hingga sore hari. Bermain basket bersama dengan anggota Kiseki no Sedai memang membuat mereka lupa akan waktu. Tetsuya, Takao, dan Himuro yang ikut bahkan habis stamina duluan, sedangkan sisa anggota masih asyik melawan satu sama lain.

Tidak terasa hari telah berganti menjadi malam. Bila bukan Takao yang memperingati mereka akan masuk angin bila tetap bermain dalam udara sedingin ini, mungkin mereka akan terus melanjutkan permainan mereka. Setelah itu mereka pergi menuju family restaurant terdekat, mengisi perut yang terasa sangat lapar akibat aktifitas berat yang telah mereka lakukan sebelumnya. Sebelum pulang, Murasakibara meminta untuk pergi ke convenience store, membeli beberapa bahan dasar yang mungkin akan dibuatnya sebagai cemilan di tengah malam, mengingat mereka pasti akan terjaga hingga esok pagi.

Setelah itu, mereka bergegas untuk pulang ke rumah kediaman Akashi. Murasakibara langsung meminta izin untuk memakai dapur, membuat Himuro dan Tetsuya ikut membantunya. Sedangkan sisa anggota lainnya menunggu di ruang tengah, entah bermain kartu, menonton ramalan horoskop, atau bahkan berjalan-jalan disekitar taman.

Hari itu merupakan hari yang melelahkan bagi mereka, tetapi kebersamaan membuat semua melupakan kelelahan itu. Meluangkan waktu berharga dengan sahabat-sahabat yang dikasihi tentu membuat kita lupa akan waktu. Tidak terasa mereka terus mengobrol dan bermain hingga larut malam, sampai sekitar jam 4 subuh akhirnya mereka semua terkapar di ruang tengah. Semua enggan untuk keluar dari ruangan tersebut karena begitu lelah, memuat Seijuurou dan Tetsuya membawakan selimut kepada mereka.

Tetsuya menguap lebar ketika ia menutup pintu geser ruang tengah secara perlahan. Memang ia sudah begitu lelah, tetapi melihat Seijuurou yang tidak ada di ruangan tersebut membuat langkahnya menuju luar, dimana ia menemukan Seijuurou sedang duduk sambil memandang taman miliknya.

"Seijuurou-kun? Kau tidak tidur?"

"Tetsuya? Kau sendiri mengapa masih terbangun?" Pemuda Aqua itu melangkah, hingga ia berdiri tepat disamping Seijuurou, kemudian ia duduk sambil menyenderkan kepalanya ke pundak Seijuurou.

"Aku mencarimu, ketika menyadari kau menghilang dari ruang tengah."

Seijuurou menutup matanya, membelai helaian kebiruan milik Tetsuya. "Aku hanya menghirup udara luar sesaat, sebentar lagi aku akan kembali kesana, Tetsuya."

Akashi Tetsuya tersenyum. "Hidup itu sungguh mengejutkan ya." Ungkapnya sambil menutup mata, membiarkan udara dingin menerpa tubuhnya.

Seijuurou hendak membalas pernyataan Tetsuya, sebelum ia menemukan kekasihnya sudah tertidur di pundaknya begitu saja. "Tertidur begitu saja, pasti kau lelah sekali ya, Tetsuya," sebelah tangan milik Seijuurou menyingkirkan helaian rambut milik Tetsuya yang menutup dahinya, sebelum bibirnya kini mengecup pelan dahi kekasihnya. "Oyasumi, Tetsuya." Ucapnya sebelum beralih untuk berdiri dan membawa Tetsuya dalam dekapannya, kemudian ia membawa Tetsuya pada kamar milik mereka.

oOo x oOo x oOo

Ini adalah sebagian kecil kisahku dengannya,

Lalu kisah kami bersama dengan sahabat-sahabat yang selalu ada untuk kami berdua.

Masa depan yang kami pilih untuk tetap bersama.

Mungkin, apa yang telah kulakukan pada hari itu telah merubah seluruh masa depan cerah miliknya.

Tetapi ia menatapku dengan lembut,

Berkata bahwa apapun yang terjadi kita pasti bisa melaluinya selama kita tetap bersatu.

Itu adalah jimat bagiku, sebuah fondasi dasar yang membuatku tetap bertahan.

Dan bagiku, ia adalah satu-satunya.

~Owari~