Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto

Inspiride by : OreImo

Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .

Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family

Rate : T

Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan

Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.

Jum'at, 25 Maret 2016

Happy reading . . . . .

Sebelumnya . . . .

Peluncuran kembang api pun selesai. Bolt dan Mirai masih belum beranjak pulang.

"Musim panas sudah berakhir ya" kata Bolt.

"Umm,, Bagaimana perasaanmu setelah menghabiskan akhir musim panas ini bersamaku, Bolt-kun?" tanya Mirai.

"Sangat menyenangkan. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan musim panas kali ini"

"Benarkah?"

"Tentu saja. Dan aku yakin, cintaku padamu sekarang, jauh lebih besar daripada sebelumnya"

Mirai tersenyum bahagia, tidak pernah ia sebahagia ini selama dia hidup. "Arigatou, Bolt-kun"

"Jadi selanjutnya, apa yang akan kita lakukan sebagai sepasang kekasih?"

Mirai tersenyum lagi, namun tidak sama seperti yang tadi. "Selanjutnya, aku ingin kita putus"

.

My Cute Sister? Season II

By Si Hitam

Chapter 33. Akhirnya Kakak Adik Itu Saling Memahami.

Setelah pulang dari festival, Bolt langsung ke kamarnya. Dia tidak mengantar Mirai pulang karena Mirai tidak ingin bersama siapapun saat ini. Bolt merebahkan diri di kasur, namun tidak sedikitpun ada hasrat untuk tidur. Ucapan Mirai setelah peluncuran kembang api saat festival itu selesai, memenuhi seluruh ruang otaknya.

Bolt kembali menatap HP nya, menatap layar yang tidak menunjukkan adanya pesan balasan. Pesan balasan yang ditunggunya dari Mirai, sebagai balasan dari puluhan pesan yang sudah dia kirim dengan isi yang sama 'Kau bercanda kan, Mirai?'.

Hingga pagi datang menyingsing malam tanpa ia bisa tidur, tidak ada satupun pesan balasan yang Bolt terima.

Selama seminggu ini, tidak ada khabar apapun dari Mirai. Kunoichi cantik yang pernah mengisi relung hati Bolt, pergi menuntaskan misi yang tidak diketahui kapan dia akan pulang. Selama itu pula, setiap hari Bolt selalu mencoba menelpon ponsel Mirai dan mengiriminya pesan singkat, namun tak satupun mendapat tanggapan. Hati Bolt mulai goyah, muncul di pikirannya apa benar Mirai tidak bercanda dengan apa yang dikatakannya saat malam festival itu?

Bolt menanggung semua hal ini sendirian. Dia tidak ingin melibatkan siapapun, apalagi kedua orang tuanya dan Bibi Kurenai. Bolt tidak ingin masalahnya dengan Mirai berimbas pada hubungan keluarga mereka. Setalah tahu dari kantor Hokage, dari ayahnya, kalau Mirai pergi mengerjakan suatu misi dan tidak diketahui kapan pulangnya, sejak itu pula Bolt lebih sering mengurung diri dikamar.

Ini sudah hari ketujuh Bolt mengurung diri. Semua hal yang yang menjadi tugasnya, tak pernah lagi ia hiraukan. Shikadai bahkan berkali-kali menghubungi Bolt, tentang dia yang tidak pernah datang ke lab lagi. Didalam kamar, Bolt hanya merebahkan diri di kasur dengan ponsel yang tak pernah lepas dari tangannya, berharap ada satu saja pesan balasan dari Mirai agar hatinya bisa tenang. Tidak ada yang bisa Bolt lakukan sekarang, selain terus memikirkan Mirai, 'Aku benar-benar tidak mengerti, Mirai. Apa alasanmu melakukan ini padaku?'

Aku sangat mencintaimu. Satu-satunya yang sangat ku cintai di dunia ini melebihi siapapun. Aku pasti akan mencintaimu selamanya. Perasaanku ini takkan kalah dari siapapun. Walau tubuhku ini hancur dan lenyap dari dunia ini, aku pasti akan tetap mencintaimu, meski dari dunia yang berberda.

Itulah sebait kalimat yang pernah Mirai ucapkan pada Bolt, pengakuan bahwa Mirai sangat mencintai Bolt dari dalam lubuk hatinya.

Berjam-jam berbaring dikasur, tidak sedikitpun Bolt mendapatkan pencerahan, tiba-tiba dia teringat perkataan sahabat yang paling dekat dengannya,

Kalau kamu merasa sulit, jangan sungkan meminta bantuanku. Aku sebagai sahabatmu sejak kecil, pasti akan membantumu, kapanpun kau butuhkan.

Itulah perkataan Sarada padanya, bahwa Sarada akan selalu ada untuk Bolt apapun kondisinya.

Bolt menggeleng, ini bukan saatnya minta bantuan Sarada. Dia harus menyelesaikan masalahnya sendiri. Bolt bertekad dalam hatinya untuk itu, dan langkah pertama adalah,,,,,, tentu saja keluar dari kamar yang mengurungnya ini. Terus-terusan terpuruk, tidak akan pernah menyelesaikan apapun.

Baru saja beberapa langkah keluar dari kamar, Bolt sudah berhenti. Tidak ada solusi apapun yang terpikirkan di otaknya saat ini. Dia yang biasanya jenius jika dihadapkan pada masalah, kini jadi orang paling bodoh jika masalah itu menyangkut urusan cinta. Dari siapa ini diwarisi?, tentu saja dari sang ayah, Uzumaki Naruto.

"Bolt-kun…"

Suara yang memanggil namanya, membuat Bolt kaget. Otaknya penuh dengan pikiran akan masalahnya dengan Mirai, jadi dia tidak menyadari ada orang lain di dekatnya.

"Ahh, Mama,,, jangan membuatku kaget. Eh tapi kok Mama di rumah?" tanya Bolt pada orang yang memanggilnya.

Aneh saja ibunya sudah di rumah, padahal sekarang belum terlalu siang dan belum waktunya ibunya memasak makan siang. Harusnya sekarang ini ibunya berada di Gedung Pusat HMC. Bolt berusaha memasang wajah seperti biasa, karena tidak ingin ibunya tahu masalah apa yang menimpanya.

"Meeting dengan klien dari Kirigakure tidak banyak yang dibahas, jadi Mama bisa pulang cepat"

"Oohh . . ."

"Jadi, ada apa denganmu Bolt-kun?" tanya Hinata. Dia penasaran, tidak biasanya dia melihat putranya ini melamun. Apa lagi tadi itu ekpresi di wajah Bolt bukanlah ekpresi yang enak untuk dilihat.

"Tidak ada apa-apa, Mama" jawab Bolt bohong.

"Kau tidak pernah bisa membohongi Mama, jadi katakan saja"

"Maaf, ta-tapi untuk yang satu ini. Sepertinya aku tidak bisa bercerita pada Mama"

"Baiklah, kalau memang bagitu keinginanmu, tapi,,,," Hinata tahu ada yang salah dengan putranya, dan itu dia rasakan sejak beberapa hari yang lalu. Bukan sakit atau sejenisnya, namun berkaitan dengan tingkah laku Bolt yang jadi sedikit berbeda, sangat sedikit. Namun Hinata mampu melihat itu, karena ia adalah ibu yang melahirkan Bolt, jadi,,,

Byakugan

"Mama, apa-apaan ini? Ja-jangan menakutiku" Bolt kaget dengan ibunya yang tiba-tiba mengaktifkan doujutsu. Sedikit takut dengan apa yang akan dilakukan ibunya, walau Bolt yakin ibunya itu tidak sedang marah.

Hinata tahu hubungan seperti apa yang di jalin antara putranya dengan putri dari guru pembimbingnya dulu, antara Bolt dengan Mirai. Walaupun Hinata bukan wanita yang suka menggosip, tapi informasi seperti itu mudah saja ia ketahui, terlebih yang menyangkut salah satu anggota keluarganya. Keanehan dalam diri Bolt mungkin hanya tampak jelas di mata orang-orang ketika berita bahwa Bolt dan Mirai putus itu beredar, namun Hinata bisa merasakan bahwa keanehan pada Bolt sudah ada sejak Bolt dan Mirai baru mulai pacaran.

Hinata hanya ingin memastikan sesuatu. Dan seperti perkiraannya, ada yang salah dalam diri Bolt. Orang terlatih bahkan ahli genjutsu sekalipun mustahil bisa menyadarinya, tapi tidak untuk Hinata yang sudah melatih Byakugan miliknya untuk melihat aliran chakra yang kacau sekecil apapun, sebagai penutup kekurangan suaminya, Naruto, yang paling lemah jika berurusan dengan genjutsu.

Ada satu dari sekian ratus titik tenketsu yang alirannya kacau dalam tubuh Bolt, dan itu terletak di bagian otak besar atau cerebrospinal. Hinata menyadarinya, genjutsu tingkat tinggi yang bahkan lebih hebat daripada genjutsu Kotoamatsukami yang melegenda. Kotoamatsukami, teknik genjutsu yang mampu memberikan ilusi pada target tanpa disadari oleh targetnya sendiri. Namun Kotoamatsukami masih bisa diketahui oleh orang lain yang bukan target dan tidak di bawah pengaruh genjutsu, yang tentunya memiliki pengetahuan banyak tentang genjutsu.

Hinata bukanlah ahli genjutsu, tapi Byakugan miliknya mampu melihat orang yang terkena genjutsu. Putranya sendiri, baru ia sadari terkena genjutsu setelah berhari-hari mengalami keanehan dan setelah memastikannya langsung sekarang ini dengan Byakugan secara teliti. Pelaku yang mengirim genjutsu pada Bolt, pastilah orang yang sangat luar biasa hebat, pikir Hinata.

Hinata tahu, selama ini Bolt tidak punya musuh, dan sudah berbulan-bulan Bolt tidak pergi menyelesaikan misi ninja. Bolt hanya berkeliaran di Konoha saja, dan biasanya lebih sering di lab bersama Shikadai. Sisa waktu lainnya, di habiskan Bolt untuk bermain dengan teman-temannya. Jadi bisa di pastikan tidak ada musuh dari luar, namun pelakunya adalah orang Konoha sendiri. Hinata tidak tahu siapa orang itu, tapi lebih penting lagi melepaskan Bolt dari pengaruh genjutsu.

Hal ini tidak bisa dibiarkan saja, atau akan berakibat buruk nantinya. Oleh karena itulah, Hinata mendekati Bolt, untuk mengembalikan aliran chakra di bagian otak Bolt yang sedikit kacau. Hinata menepuk pundak Bolt, mengirimkan chakranya pembalik untuk melawan abnormalitas aliran chakra putranya itu.

"Eh... Mama?" Bolt tampak bingung dengan apa yang barusan dilakukan ibunya. Dia tidak merasakan apapun, hanya saja saat ini dia merasa lebih nyaman berpikir dan memutuskan sesuatu.

"Pikirkanlah dengan baik. Mama yakin, masalah apapun yang menimpamu, pasti kamu bisa menyelesaikannya, Bolt-kun" kata Hinata menasehati. Hanya itu yang bisa dia katakan pada Bolt sekarang, setelah berhasil menghilangkan genjutsu tadi. Sisanya, pasti bisa diselesaikan oleh Bolt.

"Baiklah, aku mengerti, Mama. Arigatou"

"Ummmmm… Ya" Hinata mengangguk seraya tersenyum.

Setelah itu, Bolt beranjak pergi. Dia tahu kemana tujuannya sekarang. Dan tempat yang ia tuju tidak jauh, bahkan sangat dekat.

.

Plakkk...

Masih didalam rumahnya sendiri, didalam kamar Himawari lebih tepatnya, Bolt membangunkan adiknya yang masih tidur dengan cara menampar pipi adik kesayangannya itu.

Tidak susah mencari Himawari dengan mode sensor hebat yang ia miliki. Ya, hari ini Himawari bangun sangat siang, karena hari ini dia tidak ada latihan. Paman Yamato, Kakashi, ataupun orang lain yang membantu latihan Himawari, sedang ada urusan penting hari ini. Dan hal tersebut di manfaatkan Himawari untuk bermalas-malasan dan tidur seharian di kamar.

"A-a-aaaa..."

"Sssttt, tidak usah berteriak" kata Bolt sebelum Himawari berteriak keras dan membuat kegaduhan.

"Me-mesum. Kau ingin menyerang adikmu sendiri saat sedang tidur? Kau in-,,," isi pikiran Himawari memang terlalu jauh, sampai memikirkan kalau kakaknya ini akan melakukan tindak asusila padanya. Tapi ketika Himawari melihat wajah kakaknya yang sendu, dia tidak bisa melanjutkan ucapannya.

"Bisakah kali ini kau yang membantu masalahku?" tanya Bolt dengan ekpresi yang belum berubah. Biasanya selalu Bolt yang membantu masalah Himawari, namun untuk saat ini, keadaan harus berbalik.

"Aaa,,,," Himawari tidak bisa mengatakan 'tidak' untuk saat ini, "Uumm,,, baiklah"

Setelah lebih dari setengah jam, Bolt selesai menceritakan semua masalahnya, semua masalah yang dia hadapi karena Mirai.

"Aku mengerti garis besarnya" kata Himawari setelah Bolt selesai bercerita.

Himawari duduk di kasur sedangkan Bolt duduk di lantai kamar dengan kaki ditekuk dan lutut dipeluk. Posisi duduk yang biasanya hanya terjadi pada orang yang sedang terpuruk dan depresi berat.

". . . . . ." Bolt tidak berkata apapun lagi setelah menyelesaikan ceritanya. Hanya duduk lesu, tampak sangat memprihatinkan bagi siapapun yang melihatnya.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan?"

"Aku tidak tahu, makanya aku kesini." jawab Bolt dengan wajah yang disembunyikan diantara kedua lututnya.

Himawari menatap miris, tidak pernah sekalipun dia melihat kakaknya terpuruk sampai separah ini, "Begini, ada satu hal penting yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kau benar-benar mencintai Mirai-nee?"

"Ya"

"Walau dia sudah memutuskan hubungan kalian secara sepihak tanpa alasan yang jelas?"

"Ya, sampai sekarang pun aku masih mencintainya"

"Ohh. . . . ." Himawari bingung harus merespon apa sekarang. Dia bukan ahlinya membantu menyelesaikan masalah orang lain, selama ini dirinya lah yang sering membuat masalah lalu menyeret orang lain untuk menyelesaikannya.

"Hikss,,," Bolt terisak. "…..Hiiikkss.." Beberapa bulir air mata mengalir dari ujung matanya. Pertahanannya kini telah runtuh, dia tidak bisa lagi menahan perasaanya lagi.

Himawari terkejut, menghampiri lalu mendongakkan kepala kakaknya secara paksa, "He-hei,,, jangan nangis dong", lalu menyeka air mata yang mengalir itu dengan ujung lengan bajunya.

"Hiks,,,, terima kasih, Hima"

"Huuuhhhh, aku tidak mengerti denganmu yang sekarang" Himawari ingin membantu Bolt kali ini, membalas kebaikan kakaknya selama ini, "Baiklah, coba kau berbalik sebentar!"

Bolt menurut, membalikkan badannya membelakangi Himawari.

greppp...

Himawari memeluk Bolt dari belakang, meletakkan dagunya di bahu Bolt.

"Kau..?" Bolt tentu saja heran, ini pelukan pertama dari adiknya setelah bertahun-tahun lamanya mereka bertengkar.

"Jangan murung terus ya. Walaupun aku sering membuatmu kesal, tapi aku akan selalu ada disisimu. Walau sepayah apa pun dirimu itu, walau banyak orang yang tidak memperhatikanmu, aku akan selalu ada untukmu. Aku yang akan selalu mengkhawatirkanmu dan menemanimu sampai akhir. Makanya, jangan murung lagi ya... Aniki"

Lagi-lagi air mata mengalir dari ujung mata Bolt, namun kali ini bukan karena keterpurukannya, tapi karena terharu dengan apa yang dikatakan Himawari padanya. Kata-kata yang selalu Bolt harapkan dari Himawari, dari adik yang sangat disayanginya ini, sejak dulu.

"Arigatou, Hima. Pelukanmu hangat dan nyaman sekali"

"Eh? Ba-baka" Himawari merona karena ucapan tulus dari kakaknya. "Jika aku sedang murung, Mama selalu memelukku seperti ini. Ja-jadi tidak ada maksud lain kok"

"Iya, aku tahu"

"Makanya, jangan ngomong aneh seperti tadi. Mengerti?"

Bolt mengangguk masih dalam pelukan Himawari. "Aku mengerti"

Himawari mengusap pelan rambut Bolt, dan Bolt pun tampak sangat menikmatinya.

"Begini,,,," kata Himawari

"Apa?"

"Saat kita bertengkar terakhir kali, kau pernah bilang padaku, jika sampai aku punya pacar maka kau akan menangis, iya kan?"

"Iya"

"Terus, kalau misalnya aku benar-benar jatuh cinta pada seseorang, lalu aku pacaran dengannya, dan berakhir sama sepertimu. Dia menghilang setelah memutuskan hubungan kami, hingga aku menangis sama seperti kau saat ini. Apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi padaku?"

"Aku akan-,,,,"

Puk...

Himawari mengakhiri pelukannya setelah menepuk kepala Bolt.

"Ah, tidak usah dijawab!. Pasti sudah jelas kau akan melakukan apa, karena kita adalah saudara. Kau pasti akan berkata seperti ini..." Himawari jongkok berhadapan dengan Bolt yang masih duduk dilantai, "Serahkan ini padaku, Uzumaki Boruto" kata Himawari mantap disertai cengiran khas yang sangat mirip dengan cengiran ayah mereka, cengiran yang menandakan bahwa seberat apapun masalah dihadapi, pasti akan beres.

.

.

.

Bolt dan Himawari kini sedang berada di sebuah reruntuhan tak berpenghuni. Reruntuhan Kota Rouran yang mana pada jaman dahulu kota ini adalah sebuah kota masyhur dengan puluhan bangunan-bangunan pencakar langit yang berdiri kokoh dan ratusan menara yang menghias kota tersebut. Reruntuhan kota ini terletak ditengah luasnya padang pasir di wilayah negara angin, Kaze no Kuni. Letaknya pun lumayan jauh dari pusat kota militer negara itu yakni Sunagakure.

Tempat inilah yang menjadi sarang mafia sindikat pengedar obat-obatan terlarang. Inilah misi yang dijalani Mirai bersama 6 orang jounin lainnya. Kelompok mafia ini sudah lama menjadi incaran berbagai negara, dan setelah diketahui informasi letak markas persembunyian mereka, tim Jounin dari Konoha diutus untuk melakukan penggerebekan.

Misi tersebut adalah misi kelas S karena bos mafia itu dikawal oleh puluhan Missing-Nin berbahaya. Dan misi ini juga sangat dirahasiakan demi keberhasilan misi itu sendiri. Namun kerahasiaan misi itu tidak belaku untuk Himawari. Mudah saja baginya untuk meminta langsung informasi itu dari ayahnya yang mengidap penyakit daughter-complex akut. Seorang hokage pasti tahu apa dan kemana misi yang dijalankan oleh setiap ninja Konoha. Padahal Bolt sudah menggunakan berbagai macam cara untuk mengorek informasi ini dari ayahnya, tapi selalu gagal. Kalau Himawari yang berusaha, maka lain lagi ceritanya.

"Sialan, di daerah sini tidak ada sinyal HP-nya. Bagaimana bisa aku menghubungi Mirai-nee kalau begini" Himawari menggerutu kesal. "Walau hanya sedikit informasi dari Papa, kita pasti akan menemukan dia disekitar sini. Reruntuhan ini lumayan luas, ada sekitar 25 ribu hektar. Dasar Mirai-nee, kenapa sih dia memaksa ikut misi ini? Papa kan sebenarnya tidak merekomendasikan Mirai-nee untuk misi ini"

Pada awalnya, misi ini untuk jounin lain, tapi saat itu Mirai memaksa untuk ikut hingga akhirnya Naruto mengijinkan. Mungkin dengan cara ini dia bisa menghindar dari Bolt untuk sementara.

"Terus, apa yang akan kita lakukan?" tanya Bolt. Wajahnya tampak kurang semangat.

Himawari jadi kesal karena tingkah kakaknya, "Heh? Malah nanya lagi? Mana 'kenekatan'-mu saat kau menyusulku ke Pulau Kura-Kura? Reruntuhan ini tidak terlalu jauh dari perbatasan Konoha, makanya ninja Konoha yang ditugaskan untuk menangkap komplotan mafia itu. Kau selalu bersemangat membantu masalah orang lain, tapi kau jadi payah menghadapi masalahmu sendiri"

"Ah, it-,,," Bolt tidak punya argumen untuk membantah ucapan Himawari. "Mungkin kau benar. Aku ini payah"

"Seenggaknya membantah dikit kek,," cibir Himawari melihat keadaan kakaknya yang begitu miris, "Kau lupa ya kalau kau itu punya mode sensor terhebat sedunia. Gunakan itu, bodoh!" kata Himawari tegas.

"Ah,, iya" Bolt berkonsentrasi penuh memasuki mode sensor Level 3 miliknya untuk mengidentifikasi pola gelombang chakra milik mirai. Mode ini mampu mencapai radius hingga 50 kilometer dan radius itu cukup untuk mencapai seluruh reruntuhan Kota Rouran.

"Ahhh,, lama. Kau bisa mendeteksinya sambil jalan kan?" kata Himawari yang seakan tidak tahan lama-lama karena keadaan ini. Dia menarik tangan Bolt, menggenggam erat dan menyeretnya untuk berjalan mencari Mirai.

Bolt tertegun dengan kesungguhan Himawari membantu dirinya, "Hari ini kau benar-benar bisa diandalkan ya, Hima"

"Sudah ku bilang, 'serahkan ini padaku', iya kan?"

"Hima, hari ini kau keren banget" puji Bolt di benaknya.

.

Dengan mode sensor, tidak perlu waktu lama untuk menemukan Mirai. Misi tingkat S yang dijalani oleh Kunoichi cantik itu bersama jounin-jounin lainnya pun tidak terganggu. Penggerebekan komplotan mafia sudah selesai saat Bolt dan Himawari datang. Dan beginilah akhirnya sekarang,

Suasanya tidak mengenakkan, antara Mirai, Bolt, dan Himawari. Tim Elite Jounin Konoha yang telah menangkap semua komplotan disuruh Himawari menjauh, meninggalkan mereka bertiga. Tidak ada yang bisa membantah Himawari karena para jounin itu tahu bagaimana tabiat Hokage mereka jika berhubungan dengan putri kecilnya. Membantah apa kata Himawari, sama saja mencari masalah dengan Nanadaime Hokage. Bermasalah dengan hokage, artinya seumur hidup tidak akan pernah merasakan kedamaian lagi. Semua orang cukup tahu kalau 'Perdamaian' diciptakan dan dimiliki oleh Uzumaki Naruto, bukan orang lain.

"Aku tidak akan membiarkan mu lari, Mirai-nee" Himawari merasa harus menyelesaikan ini sekarang, karena jika bukan sekarang, bisa-bisa Mirai mengambil misi panjang lagi dan semakin susah ditemui.

"Aku tidak berniat untuk lari." jawab Mirai. Tidak ada jalan kabur, kecuali kalau ingin sebuah pertarungan, dan Mirai tidak ingin itu.

Bolt hanya diam dibelakang Himawari, tidak tahu harus bersikap seperti apa.

"Jadi, kenapa kau melakukan hal ini, Mirai-nee?" tanya Himawari dengan wajah serius. Ini bukan lah situasi dimana dia menganggap Mirai sebagai kakak perempuan seperti biasanya, ataupun sebagai guru pembimbing timnya. Ini adalah situasi dimana dia adalah adik Bolt yang tidak ingin Bolt menderita.

"Sebelum itu, aku ingin bertanya. Kenapa kalian berdua ada disini?" Mirai bertanya balik.

"Jawabannya sudah jelas kan? Aku kesini ingin menemuimu. Aku tahu kalau aku tidak punya hak untuk bicara seperti ini, aku juga belum memikirkan bagaimana setelah ini, tapi jangan seenaknya kau menjauhi kami"

"Baiklah, kita bicarakan hal itu nanti kalau kau merasa aku memang menjauhi kalian. Aku yakin, pasti ada hal lain lagi yang ingin kau katakan padaku, iya kan?"

"Ya, ada. Tentu saja ada" jawab Himawari.

"Kalau begitu, katakan!"

"Kenapa kau seenaknya memutuskan hubunganmu dengan dia?" kata Himawari sambil menunjuk Bolt yang tidak bicara apapun dari tadi.

"Aku pacaran dengannya untuk mewujudkan salah satu impianku"

"Apa maksudmu?"

"Apa kau benar-benar merasa senang kalau aku berpacaran dengan kakakmu?" lagi-lagi Mirai bertanya balik.

"Ha-haah?" Himawari sedikit tergagap, "Su-sudah pernah ku katakan padamu sebelumnya kan?. . . . Wa-waktu ditelepon..." kata Himawari, semakin pelan di akhir.

"Benarkah? Kalau sekarang bagaimana?"

"Aku,,,,, se-senang dan menyetujuinya" Himawari tampak ragu.

"Bohong... terlihat jelas dari ekspresimu. Kau hanya berpura-pura setuju kan?"

"Jangan seenaknya!, dugaanmu itu sama sekali tidak benar. Kalaupun memang kenyataannya seperti itu, tidak ada hubungannya denganmu juga kan?"

"Tentu saja ada. Hubungannya sangat besar, dan itu adalah hal yang sama sekali tidak ku inginkan"

"Apa maksudmu sebenarnya, Mirai-nee?"

"Haaaaahhhh,,,," Mirai membuang nafas pasrah, "Tak kusangka, kalau aku akan berdebat deganmu ditempat seperti ini, Hima-chan. Tapi baiklah, akan ku selesaikan semuanya disini sekarang..."

". . . . . ." Himawari menunggu hal ini, begitupula Bolt yang makin antusias mendengarkan.

Mirai memasang ekpresi serius, "Kenapa saat itu, saat aku bermain di kamar kakakmu berdua dengannya, kau menghindar dari kami dengan ekspresi sedih?"

". . . . ." Himawari tidak langsung bisa menjawab, beberapa saat kemudian, "aku tidak memasang ekpresi seperti itu kok" kata Himawari dengan kepala menunduk, berusaha mengelak dari tuduhan Mirai.

"Lalu kenapa kau kelihatan menderita sejak aku mulai pacaran dengan kakakmu?"

"Akuuuuu,,,, a-aku tidak menderita..." jawab Himawari.

"Jika kau benar-benar sudah menyetujui hubungan kami, pasti tidak mungkin kau seperti itu. Aku sungguh tak ingin melihatmu yang seperti sekarang ini"

". . . . ."

Himawari tidak bisa menjawab lagi, apa yang dikatakan Mirai memang benar adanya, mau berbohong seperti apapun, ekpresi diwajahnya tidak bisa disembunyikan, ekspresi sakit, menderita, menyesal dan semacamnya, semua itu terpampang jelas di wajah Himawari sejak Mirai dan Bolt berpacaran.

Hening cukup lama, hingga akhirnya Himawari buka suara, tidak ada jalan mundur atau mengelak lagi baginya, mengepalkan kedua tangannya erat, "Mirai-nee, kalau memang kau sudah mengerti aku sampai sejauh itu, kenapa kau sampai menembak kakakku, menyatakan perasaanmu pada kakakku?" katanya dengan kepala tidak lagi menunduk.

"Ha?"

"Bukankah itu kejam? Melakukan sesuatu yang sama sekali tidak diinginkan oleh temanmu, adikmu, sekaligus murid bimbinganmu, iya kan?"

"Karena kalau tidak seperti itu, maka kau takkan menjelaskan perasaanmu yang sesungguhnya" jawab Mirai.

"Mana mungkin alasannya cuma itu….." sahut Himawari sengit. "Aku mengerti tentangmu, sama seperti kau mengerti tentangku. Mirai-nee, aku tahu kalau kau sungguh-sungguh mencintai kakakku, itulah mengapa aku berusaha untuk menahannya."

"Menahannya?" Mirai tidak mengerti maksud di balik ucapan Himawari.

"Eh…?" Himawari menutup mulutnya sendiri, seperti seseorang yang kelepasan bicara dan memberitahukan suatu rahasia.

"Apa yang sebenarnya kau tahan hah?"

". . . . . ."

"Jika kau benar-benar menganggapku sebagai orang yang penting bagimu, maka katakan perasaanmu yang sesungguhnya!"

Himawari menggigit bibir bawahnya sendiri, "Baiklah, akan kukatakan. Aku cukup mengatakannya saja kan? Aku, aku,,,, aku, , , , , aku benci, aku sangat membenci kakakku...! AKU SANGAT MEMBENCINYA, AKU SANGAT SANGAT SANGAT SANGAT MEMBENCINYAAAAA.!"

Bolt yang berdiri tidak jauh dari dua gadis yang berdebat itu, hanya bisa tersenyum miris setelah mendengar teriakan adiknya, "Sampai segitunya ya? Dia membenciku." gumam Bolt.

"Ya, lalu?" tanya Mirai pada Himawari yang kini terengah-engah setelah berteriak tadi.

"Aku sangat membenci kakakku, tapi,, ta-tapi,,, hiksss... tapi aku tidak ingin melihat kakakku punya pacar…" kata Himawari yang sudah terisak, air mata mengalir dipipinya, "Aku ingin menjadi yang paling disayangi oleh kakakku, aku ingin menjadi yang paling diperhatikan oleh kakakku, aku tidak ingin dia terlalu perhatian pada orang lain selain aku. Itulah sebabnya, aku sampai berbuat hal bodoh..."

"Maksudmu, saat kau mengajak Inojin kerumah dan mengakuinya sebagai pacarnya walau itu hanya kebohongan?" tanya Bolt ingin lebih jelas. Dia merasa berhak ikut bicara, karena semua ini tentang dirinya.

"IYA..." Himawari menjawab pertanyaan Bolt dengan lantang walau badannya masih membelakangi Bolt. "Aku tidak tahan melihatmu dekat dengan si kacamata itu, ataupun dengan Mirai-nee. Makanya, aku ingin kau merasakan apa yang ku rasakan saat itu. Aku benar-benar takut saat kau mengatakan 'terserah kau saja', atau kau menyetujui hubunganku dengan Inojin-nii. Aku tidak tahu harus bagaimana saat itu?"

". . . . ." Bolt tidak menyahut, namun ia masih ingat saat pesta perayaan dua tahunan terbentuknya tim 7, ketika Himawari mengaku sudah berpacaran dengan Inojin. Saat itu dirinya yang tersulut api emosi, berkata pada Himawari 'Haaah? Terserah kau saja. Hidup, hidupmu sendiri!. Kenapa bertanya padaku?' dengan nada kasar dan membentak.

Sekarang semuanya jelas bagi Bolt, dia mengerti keinginan adiknya dan apa maksud dari yang dilakukan adiknya itu. Himawari ingin perhatian penuh dari dirinya, cemburu jika dirinya bersama gadis lain, dan takut jika ia tidak mempedulikan Himawari lagi.

"Kau bilang padaku kalau kau tidak ingin kalau aku punya pacar, iya kan?" tanya Himawari pada Bolt, "Makanya, kalau aku berkata aku tidak setuju hubunganmu dengan Mirai-nee atau dengan gadis manapun, maka pasti kau akan menurutiku dan tidak berpacaran dengan siapapun. Malam itu, setelah pertengkaran kita yang melibatkan Inojin-nii, aku menelpon Mirai-nee untuk mengadakan ulang pesta yang gagal. Ketika itu, Mirai-nee bertanya padaku,,, 'Hima-chan, bolehkan aku mengutarakan perasaanku pada kakakmu?', dan itu membuatku terkejut. Aku mengiyakannya, namun aku sebenarnya tidak ingin menjawab seperti itu. Aku sangat tahu kalau Mirai-nee sungguh-sungguh mencintaimu dengan segenap perasaannya, makanya aku tidak sanggup menolak."

". . . . . ." Bolt mendengarkan saja apa yang diutarakan Himawari kepadanya. Mirai juga tidak menyela.

"Tapi ternyata itu menjadi sangat berat bagiku setelah melihat dengan mataku langsung kalian berpacaran. Rasanya,,,, a-aku, aku sangat menyesal karena sudah mendukung hubungan kalian berdua. Itulah mengapa, jujur saja, aku merasa sangat lega setelah mendegar kau putus dengan Mirai-nee. Tapi, , , , ta-tapi ternyata, kau malah begitu menderita saat Mirai-nee meninggalkanmu. Kau menangis di depanku, bahkan memintaku untuk menyelesaikan masalah ini. Kau benar-benar kelihatan tersiksa. Semua menjadi sangat berat bagiku, saat aku melihatmu seperti itu. Aku langsung marah karena Mirai-nee meninggalkanmu seenaknya saja. Jadi aku berpikir, kalau aku harus melakukan sesuatu terhadap masalah ini. Itulah perasaanku yang sebenarnya, dan itulah alasan kenapa aku berada disini sekarang"

Bolt tertegun dengan pengakuan adiknya,

Himawari berbalik menghadap Bolt, membusungkan dada dan menatap Bolt serius, "Aku tidak ingin melihat kakakku punya pacar..!". Himawari lalu menunduk dengan ekpresi sedih, "Tapi aku lebih tidak ingin lagi melihat kakakku menangis. Aku tahu sudah tidak ada lagi yang bisa ku lakukan, tapi itulah perasaanku yang sesungguhnya". Himawari berbalik, menatap Mirai, "Nah Mirai-nee, itu semua adalah alasan kenapa aku ingin tahu apa maksud dibalik perbuatanmu pada kakakku, sekalian menghajarmu sampai kau minta maaf padanya.."

"Huuuuuhhhhh..." Mirai membuang nafas lega, dia senang dengan pengakuan dari mulut Himawari. Dia sudah mengetahuinya sejak awal, namun ia ingin Himawari sadar akan perasannya sendiri pada kakaknya. "Seperti biasa, kau memang seenaknya, Hima-chan. Sifat kalian berdua bagai pinang dibelah kampak. Kau tidak tahan dan tidak ingin melihat kakakmu memiliki pacar, tapi kau pura-pura kuat saat aku minta ijin padamu untuk menjadi pacar kakakmu. Lalu malah ribut dengannya, dan sekarang kau mencoba menyatukan kami kembali setelah aku memutuskan hubungan ini secara sepihak. Kenapa kau bertindak sampai sejauh itu?"

"Huh?... Ya jelas lah, karena kami ini saudara" jawab Himawari tegas. "Bolt, adalah kakakku, orang yang selalu membantuku. Tidak peduli sejauh apapun jarak yang memisahkan kami, dia selalu mengkhawatirkanku. Langsung menemuiku ketika aku dalam kesulitan, selalu ada untukku, dan selalu melindungiku. Entah sudah berapa kali semua itu dia lakukan. Menghiburku saat aku sedih, membuatku tertawa, rela di marahi dan dibentak olehku. Dia menegurku saat aku melakukan hal bodoh atau berbuat kesalahan, bahkan merasa cemburu karena aku. Apapun masalah yang menimpaku, dia tidak pernah tidak ada untukku. Walau dia tahu aku sangat membencinya, walau dia tahu selama ini aku selalu cuek padanya, tidak pernah menghiraukannya, namun dia tetap ada untukku, itulah sebabnya aku ingin melakukan hal yang sama kepadanya. Itu lah apa yang kurasakan dan yang menjadi alasanku melakukan ini"

Bolt yang mendengar pengakuan ini, tentu saja bahagia. Terharu karena Himawari memiliki perasaan yang kuat padanya, hingga tanpa disadari ia menangis kembali, ada derai air mata walaupun tanpa suara isak tangis.

"Akhirnya, kau mengatakan semua perasaanmu yang sebenarnya. Apa yang ditanam selama ini, sekarang sudah bisa dipanen" kata Mirai.

"Jadi, setelah aku mengatakan semuanya, apa yang akan kau lakukan?"

"..." Mirai tidak menjawab dengan suara, tapi dengan tindakan. Dengan tanpa keraguan dia mendekati Bolt, berdiri berhadapan dengan Bolt dari jarak satu meter. Inilah hal terakhir yang harus ia lakukan. Apapun hasilnya, baik ataupun buruk, membuatnya senang ataupun sakit, itu adalah resiko dari apa yang dia lakukan sejak awal.

"A-apa?" tanya Bolt.

"Bolt-kun. Kau bilang kau mencintaiku kan?"

Bolt mengangguk sebagai jawaban iya atas pertanyaan Mirai.

"Tapi Hima-chan mencoba menyatukan kita kembali walau dia sendiri tidak tahan melihat kita pacaran. Itu dia lakukan karena dia yakin kalau apa yang dilakukannya sekarang, akan sama persis dengan yang akan kau lakukan jika Hima-chan yang berada di posisimu. Katakan padaku, apa yang akan kau lakukan? Setelah mengetahui perasaan Hima-chan yang sebenarnya, apa kau akan tetap memilihku?"

Bolt tidak bisa segera memberikan jawaban, tidak ada yang bicara lagi hingga beberapa menit.

Bolt menunduk, "Mirai, aku-,,"

"Sudah cukup!" potong Mirai, "Bercanda, aku bilang semua ini hanya candaan. Ahahahahaaa,,,,,. Jadi kau tak perlu menjawabnya"

"Hei, jadi mak-" Himawari hendak protes,

"Tidak, Mirai. Dengarkan dulu, sebenarnya aku-" Bolt bersuara lagi.

"Sudah cukup ku bilang!. Jika kau bicara seperti itu, aku bisa mati tahu." tiba-tiba tubuh Mirai oleng, perlahan ambruk, beruntung Himawari segera menangkapnya sebelum jatuh ke tanah.

"Mirai-nee. Ka-kau baik-baik saja?" kata Himawari setelah Mirai ada dipangkuannya.

"Hei, ada apa? Kenapa bisa begini?" tanya Bolt panik. Memegang erat tangan Mirai untuk meyakinkan diri kalau gadis yang pernah jadi kekasihnya ini baik-baik saja.

"Wajahmu jadi pucat, sudah seperti mayat" kata Himawari lagi.

Nafas Mirai sudah tersengal-sengal, matanya perlahan menyipit lalu tertutup. Hingga akhirnya, Mirai pun pingsan.

Sepertinya itu adalah efek kelelahan akibat menjalani misi panjang tanpa henti, hanya untuk menghindar dari Bolt dan Himawari.

.

.

.

Konflik pun berakhir, tapi semua masalah belum benar-benar terselesaikan. Ada sedikit lagi finishing yang belum dilakukan. Dan karena itulah, pagi ini, setelah kemarin berdebat di reruntuhan Kota Rouran, bertempat di rumah keluarga Sarutobi, kedua kakak-adik Bolt dan Himawari berada. Mirai masih di dapur membuatkan teh.

"Jadi, setelah semua ini. Bagaimana penyelesaianmu dengan Mirai-nee?" tanya Himawari serius.

"Iya yaaa,,,, yang itu belum selesai" jawab Bolt.

"Waktu itu, jawaban apa yang ingin kau katakan pada Mirai-nee?"

"Aku tidak akan pacaran kalau kau tidak menyetujuinya, Hima. Yaa, setidaknya untuk sekarang."

"Tidak sekarang? Terus sampai kapan?"

"Sampai kau punya pacar, begitu kan?" kata Bolt.

"Tapi kau juga tidak mau kalau aku punya pacar"

"I-iya sih"

"Tidak akan selesai-selesai dong…." sahut Himawari.

"Ya, tidak akan."

"Ppfffttt,,, Ahahahahaa. . . . ." kedua kakak adik itu akhirnya tertawa bersamaan. Jika memegang erat prinsip masing-masing, sampai tua, sampai mati pun kedua kakak beradik ini tidak akan pernah punya kekasih.

"Maaf menunggu" Mirai menyela ribut-ribut pasangan adik-kakak itu. Dia datang dari dapur, membawakan nampan berisi teh.

"He?" Bolt terkejut ketika melihat Mirai, "Kenapa kau berpakaian seperti itu?"

Ya, Mirai sedang memakai kostum maid yang pernah ia gunakan saat karaokean dulu antara Bolt dan semua anggota tim 7. Pakaian maid yang membuat Mirai kelihatan sangat cantik, imut, dan tentu saja,,,, sangaaaaat seksi.,, uwooohhh…

"Ehheheee,, Bagaimana? Imut tidak?" tanya Mirai menggoda.

"Kau,,,, E-e-ero sensei. Kau mau menggoda kakakku hah?" sahut Himawari sengit.

"E-ero. Kau berani mengataiku mesum hah?" balas Mirai tak mau kalah.

"Kau sudah putus dengan kakakku kan? Tapi kenapa pagi-pagi ini kau sudah kelihatan menggebu-gebu? Seharusnya kau menekan nafsu birahimu itu"

"Aku hanya ingin melanjutkan yang kemarin."

"Loh? Yang kemarin bukannya sudah selesai?" sahut Himawari.

"Aku tidak pernah bilang begitu, Hima-chan" kata Mirai. Dia lalu menatap Bolt, mendekatkan wajahnya sendiri pada wajah Bolt. "Nee, Bolt-kun. Perasaan cintaku padamu, tidak akan pernah berubah" katanya dengan nada genit serta seulas senyum nakal.

"He?" Bolt cengo.

"Lupakan!" kata Mirai, kembali ke sifatnya yang biasa. Lalu berdiri mengambil sesuatu di salah satu laci yang ada diruangan itu. Selembar kertas, tidak polos namun ada sebuah gambar. Gambar hasil goresan pensil. "Lihai ini! Gambar yang sudah lama ku buat. Salah satu hal yang ku impikan, dan hasilnya sesuai dengan yang kurencanakan selama ini". Di kertas yang ditunjukkan Mirai, terdapat gambar dimana Bolt dan Himawari duduk bersama menyantap makanan di meja makan, keduanya tampak sangat akur seperti sedang bercanda, kelihatan bahagia, tidak ada perasaan benci maupun saling mengacuhkan, dan digambar itu juga ada Mirai yang menampilkan ekpresi senang karena suasana itu.

"Apa ini? Gambar kita bertiga?" tanya Himawari.

"Ya. Bagaimana menurut kalian gambar ini?"

"Aah, gambarnya jelek. Aku tidak mengerti" Himawari menjawab seenaknya, dengan memalingkan wajah. Sifat tsunderenya kambuh.

"Yah, Mirai, lagian tidak mungkin kan aku dan Hima bisa seakur itu" kata Bolt.

"Tidak, semua itu mungkin saja terjadi Bolt-kun. Jalan yang dilalui mungkin masih panjang agar harapan di gambar ini bisa terkabul"

Mirai menyimpan gambar itu lagi. Gambar yang merupakan manifestasi keinginan Mirai, untuk melihat kondisi dimana sepasang kakak adik yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri, bisa akur dan bahagia, serta saling terus terang dengan perasaan masing-masing. Himawari mengambil gelas teh yang di bawakan Mirai, lalu meminum isinya. Sedangkan Bolt duduk dengan posisi rileks, wajah pemuda itu menatap ke langit-langit.

'Dengan begini, tirai panggung masalah pun sudah tertutup. Hasilnya, berkat Inojin dan Mirai-nee, aku dan Hima bisa lebih saling mengerti. Walau kami belum sepenuhnya akur, tapi ketika kami saling kesal satu sama lain, namun setelahnya kami akan dapat saling bergandengan dan saling membantu. Begitulah seharusnya sebagai saudara, iya kan? Setelah ini kami akan sering bersama lagi. Seperti sebelumnya, kami akan sering berdebat, bertingkah membuat keributan, bertengkar, saling mengejek, namun terkadang ada cinta didalamnya. Kalau memang masa depan yang diimpikan Mirai-nee di gambar itu bisa terkabul, pasti akan sangat menyenangkan. Ya, seperti katamu Mirai-nee, mungkin jalan yang kita lalui masih panjang,,,,, tapi tidak sepanjang itu kok"

"Eh, kau bilang apa tadi?" tanya Himawari. Ternyata apa yang dipikirkan Bolt terakhir itu, terucap dari bibirnya, walaupun pelan tapi Himawari mendengarnya.

"Hah? Tidak, bukan apa-apa"

'Kejadian yang baru berakhir ini, bagaikan proses berkaca bagi kami berdua sebagai saudara. Dan cuma ada satu hal yang bisa ku katakan padamu untuk membalas apa yang sudah kau lakukan untukku, Hima...'

"Terima kasih, Imouto" kata Bolt.

"He? Kau ini bicara apa sih, tiba-tiba jadi aneh begitu?"

"Memangnya aneh ya, kalau aku berterima kasih padamu"

"Heheheee,, iya iyaa,,, maaf deh" Himawari lalu menegakkan badannya, "Ekhhemmm,,,, Kembali kasih, Aniki" kata Himawari dengan senyum tulus yang sarat akan kebahagiaan.

'Dan apa yang kurasakan setelah mendengar perkataan adikku ini, begitu sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata'

.

.

.

To be Continued. . . . .

.

Note : Hoooohh,, udah baikan tuh. Dan akhirnya terungkap, Himawari ternyata mengidap brocon, dan itu fakta. Entah kenapa dia bisa begitu.

Oh iya, fakta kalau Bolt kena Genjutsu, ada diceritakan di chapter 31. Entah apa rencana si gadis berkacamata dengan apa yang dia lakukan. Jadi jangan bilang dia tidak cemburu,,, dia punya caranya sendiri untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sarada ooo Sarada,,, dia punya sisi lain yang mengejutkan, muehheheheheee...

Tirai panggung sudah tertutup dan sebentar lagi tirai panggung yang lebih besar akan segera terbuka.

Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka sekarang umur pemeran cerita ini,

Uzumaki Himawari – 15 tahun

Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun

Uchiha Sarada – 18 Tahun

Naruto – 38 tahun

Sarutobi Mirai – 21 tahun

Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.

Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.