"Wah, tak akan ada habisnya..." Ucap Jisoo.

Sesungguhnya ia agak kelelahan karena harus menumpas bola-bola kegelapan yang keluar dari dalam tubuh Jeonghan.

"Tentu saja. Kegelapan sangat amat banyak, Jisoo-ya." Balas Seungcheol.

Di belakang kedua sosok yang sedang bekerja keras itu, sosok Jeonghan berdiri dengan mata tertutup. Ia bisa merasakan sensasi aneh ketika kegelapan yang ada dalam dirinya keluar.

Deg.

Serasa dilewati sebuah hal yang tak diduga, Jeonghan membuka matanya.

Matanya kini terbuka sedikit lebar.

Jeonghan bisa menatap bola kegelapan yang ada di persimpangan ini yang sungguh luar biasa jumlahnya. Ia juga melihat Jisoo dan Seungcheol yang benar- benar berusaha untuk menghancurkan bola-bola itu.

"Tak ingin mengetahui keadaan mereka?"

Sebuah suara bergema di sekitar mereka.

Baik Jeonghan, Jisoo, dan Seungcheol terdiam. Menunggu suara berat nan mengerikan itu terdengar kembali. Juga memastikan pendengaran mereka tak salah.

"Kaahahhahahahaa…. saudara kalian, keluarga kalian… Semua terjebak di dalam perangkapku. Kahahahahaaaa…."

Jisoo menutup telinganya. Suara tawa sosok yang tak diketahui itu terdengar amat sangat nyaring dan menusuk ke pendengaran.

"Gift of Raziel…. Tak ingin menggunakannya?"

Jeonghan menyerit sedangkan Jisoo terbelalak. Apa-apaan suara aneh ini?

"Bagaimana kau tahu?!" Teriak Jisoo.

Suara itu tertawa menyeramkan lagi.

"Jika kalian tak menyusul… Entah apa yang terjadi.. Hahahahaaa…. Tak akan ada yang tahu… Sampai jumpa, Arch Preator….."

Hilang. Suara itu menghilang. Namun dengan hilangnya suara itu sebuah gambaran aneh muncul di gerbang dunia kehampaan.

Bagaikan sebuah video yang terputar, gambaran itu menampilkan sebuah kejadian.

Ketiga orang itu melihat dengan ekspresi yang berbeda.

"Ini…" Kata Jisoo tak percaya.

Ia melihat sosok Seokmin yang dimakan sosok besar yang mengerikan.

Kini giliran Jeonghan yang terkejut kala melihat Jihoon yang tertembak panah dan terjatuh dari ketinggian yang sangat.

"Apa maksudnya ini?" Tanya Jisoo.

Terlihat Jihoon yang menerjunkan diri ke sebuah pusaran air yang gelap. Juga Wonwoo dan Mingyu yang terkubur dalam lautan sulur hitam di sebuah kawah dan Seungkwan yang tertarik ke ujung kawah.

"A..pa..."

Bruk...

Tubuh Jisoo ambruk terduduk dalam diam. Ia terguncang setelah menyaksikan hal-hal yang tak diinginkan di gerbang itu.

Tak ada yang berbicara di antara ketiga sosok itu.

Bola-bola kegelapan yang keluar dari dalam diri Jeonghan tak lagi diperdulikan.

Tap…

Tap…

Tap…

Langkah Jeonghan berhenti di depan gerbang.

"Seungcheolie…"

Dengan satu panggilan, Seungcheol maju dan menghancurkan refleksi keadaan keluarga Preator itu.

Seungcheol menyerit kala ia membaca isi pikiran Jeonghan.

"Kau yakin ingin menggunakannya, Jeonghan? Kau tahu bahwa Giftmu hanya bisa digunakan sekali selama kehidupanmu ini." Ucap Seungcheol.

Gift yang dimaksud adalah berkah dari para malaikat tertinggi untuk para Preator.

Nama lain Jeonghan adalah Gift of Raziel. Tak seperti yang lainnya, berkahnya itu hanya bisa digunakan sekali. Jeonghan harus benar-benar menimbang untuk menggunakannya.

Raziel berarti rahasia God. God sebagai unsur pertama yang muncul di dunia ini mengetahui segala hal yang bahkan Azrael dan Satan tak ketahui. Segala rahasia itu di simpan dalam memori Raziel.

Raziel sumber dari segala sumber jawaban dan misteri di dunia ini.

Raziel sendiri keberadaannya sama sekali tak diketahui. Hanya jika Jeonghan memanggilnya, maka ia akan muncul dari persembunyiannya.

Yang ada di pikiran Jeonghan sekarang hanyalah satu kata.

'Haruskah?'

Pikirannya sama sekali tak sesuai dengan wajahnya.

Melihat sosok Jisoo yang terlihat putus asa dan kosong, Jeonghan mengeratkan tangannya.

"Ya aku akan menggunakannya." Jawab Jeonghan akhirnya.

Jisoo menatap Jeonghan. "Kau yakin?" Ucapnya.

"Gift of Raziel hanya bisa digunakan sekali. Kau tahu itu bukan?" Ucap Seungcheol tak henti-hentinya memperingatkan Jeonghan.

Jeonghan mengangguk. Sebuah senyum tipis ia keluarkan.

Tak ada yang pernah mendapatkan berkah dari Raziel seperti Jeonghan. Angel Raziel sama sekali tak pernah muncul untuk memberikan berkah atau menjadi sumber suatu keluarga master.

Entah kenapa ia memberikannya kepada sosok Jeonghan. Oh, mungkin God yang menugaskan Raziel?

"Jisoo-ya, kau baik-baik disini." Kata Jeonghan.

Ia kini menatap Seungcheol yang masih setia berdiri di sampingnya.

"Seungcheolie…."

Seungcheol tersenyum mengerti apa yang dipikirkan Jeonghan.

Jika ia menggunakan berkahnya, maka Seungcheol tak bisa mendekat terlebih dahulu. Dengan artian mereka terpisah. Benar-benar terpisah.

"Ingatlah untuk kembali, Jeonghan. Tanpa master, para penjaga sama sekali tak terikat." Kata Jisoo.

Jeonghan mengangguk.

Ia memejamkan matanya.

Sebuah cahaya terang muncul di sekitarnya. Sepasang sayap mailaikat cantik muncul di punggung Jeonghan.

Ia melayang dan seketika menghilang dari pandangan Seungcheol dan Jisoo.

Lambang di lengan kiri Jisoo bersinar. Sesaat setelah itu sosok Samuel muncul dengan wajah penuh tanya bercampur takjub.

"Jeonghan hyung menggunakan berkahnya?" Tanyanya langsung.

Seungcheol mengangguk membenarkan.

"Kenapa kau baru muncul?" Tanya Jisoo sambil menggelitiki pinggang Samuel yang membelakanginya.

"Aih hyung... Geli..."

Samuel kini menghadap masternya.

"Hyung, ada beberapa alasan. Satu adalah kau tak dalam bahaya. Dua, kau juga tak memanggilku. Lalu tiga, aku merasa belum saatnya aku untuk muncul." Kata Samuel kesal.

Iblis dengan syal yang senada dengan warna rambut Jisoo itu terlihat bosan.

Jisoo menjadi salah tingkah akan jawaban yang di berikan Samuel.

"Seungcheol hyung, yang harus kita lakukan?" Tanya Samuel akhirnya.

Seungcheol tersenyum lalu mengangkat pedang besar yang ada di tangan kirinya.

"Bukankah sudah jelas?" Tanya Seungcheol.

Senyum ala malaikat dikeluarkan Seungcheol.

Samuel tersenyum miring dan mengeluarkan sabit yang hampir mirip dengan milik Jisoo.

Jisoo hanya bisa menghela nafas kala menyaksikan dua iblis di hadapannya ini saling tersenyum.

"Baiklah, ayo hancurkan bola-bola menyebalkan ini."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sayap putih bersih malaikat terlihat seolah menyelimuti dirinya.

Suasana yang amat tenang dan penuh cahaya mengelilingi tubuh itu. Sangat berbeda dengan suasana di dunia mana pun.

Jeonghan membuka matanya. Ia bisa melihat sosok malaikat yang melayang di hadapannya. Menatapnya seolah senang akan pertemuan ini.

"Raziel…" Ucap Jeonghan pelan.

Suaranya kecil namun dapat sampai ke sosok yang penuh cahaya itu.

Yang membedakan sosok di hadapannya ini dengan malaikat lainnya kecuali jumlah sayap adalah sebuah logam perak yang menutup sebagian wajah sang malaikat dari hidung ke bawah.

Logam itu sebuah simbol kerahasiaan yang mulut Raziel harus jaga untuk membeberkan sebuah fakta.

"Lama tak jumpa… Jeonghan." Ucap sosok itu sambil tersenyum. Senyuman yang amat sangat menyejukan.

Jeonghan menyeritkan dahinya.

"Kita belum pernah bertemu sebelumnya." Kata Jeonghan.

Sang malaikat tertawa kecil.

"Karena kau hanya bisa menggunakan berkah yang kuberikan hanya saat ini, aku akan memberitahukan apapun yang ingin kau ketahui. Seluruh rahasia dunia ini ada di tanganku. God bahkan tak bisa mengingat seluruh aspek kecil di dunia yang ia ciptakan. Lalu… Katakanlah." Kata Angel Raziel.

Jeonghan terdiam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Raziel, jelaskan padaku. Kenapa kami, Preator bisa lahir."