Intro: Halo, pembaca setia yang memiliki imajinasi, kepekaan, dan tekad api yang tinggi! *duh alay sekali :v Chapter terbaru sudah diupdate! Oiya, aku mengucapkan terima kasih pada Mao-Chan yang baru2 ini berkunjung kemari dan memberi komentar positif. Maaf aku tak bisa membalas komentarmu karena sepertinya kamu blm login user, jdnya aku tak bisa memberimu PM. :') Yosh, loyal readers, selamat membaca! - author
PART THIRTY-FIVE
(CALLAN)
"Tapi, kita harus segera mengumpulkan telur-telur itu!" aku berkeras. "Siapapun yang membuat bunyi-bunyian itu, mungkin dia hanya orang iseng."
"Kau benar, kita mesti lanjut," kata Chloe mendukungku. "Hm, 'Pergi ke hutan, kau bertemu denganku. Pergi ke ladang, aku pun berlari.' Jelas kata kuncinya bukan benda lagi, tapi hewan atau tumbuhan!"
"Dan pohon adalah lokasi yang tepat untuk menemukan telur selanjutnya," sambungku spontan.
"Tentu saja!" seru Chloe sepakat. "Pohon ek! Buahnya simbol keberuntungan!"
"Hei, hei, kalian berdua kok cepat sekali menyimpulkan ke situ?" potong Robbie.
Tapi, aku tidak peduli. "Kita harus ke hutan sekarang. Lewat sini!" aku berlari mendahului Chloe dan Robbie. Di belakang, suara letupan kembali terjadi. Meski pikiranku curiga, tapi aku harus tetap fokus. Aku adalah ketua tim. Band hitam menjadi simbol kepemimpinanku. Dan tugasku adalah membuat timku bisa menyelesaikan permainan ini dengan telur terbanyak. Heran, Robbie selalu saja telat mikir. Padahal, kalau diamat-amati lagi, teka-teki ini ternyata simpel. Di hutan banyak sekali pohon, sementara di ladang yang terbuka jarang ditemukan pohon. Jelas jawabannya adalah pohon.
"Oi, Callan!" panggil Robbie dengan suara terengah-engah karena berlari. "Kau yakin pohon mana yang kau maksud?"
Aku menoleh sambil mengangguk singkat. Memang, ada gunanya juga punya rekan satu tim yang suka membaca. Chloe cukup membantu hari ini.
Pohon ek terdekat terletak di tepi hutan. Pohon itu sudah seperti fosil berdiri dan memiliki lubang bundar di batangnya. Dari dalam lubang di pohon itu, mengintip seekor tupai bermata hitam. Tupai itu cepat-cepat memanjat lebih tinggi begitu melihat kami.
"Telurnya pasti di dalam lubang itu," aku memberitahu rekan-rekan satu timku.
"Nah, kalau soal manjat-memanjat serahkan saja padaku!" sergah Robbie, lalu tanpa basa-basi langsung meraih dahan terdekat dan mengayunkan tubuhnya ke atas. Namun, tak usah menunggu waktu saat ia tergelincir dan jatuh dengan pantat terlebih dahulu di atas rumput.
"Ouch, pohon ini tidak merestuiku," Robbie mengerang.
"Itu karena metodemu salah," kataku. "Kau harus mencari pijakan yang pas untuk naik ke atas dengan mudah."
"Ya sudah, silakan praktik sendiri kalau begitu!" ujar Robbie, nadanya terdengar sebal. Aku hanya mendengus, lalu dengan tenang meletakkan kakiku di atas sebuah tunggul yang menonjol di dekat akar. Dengan mudah, aku melompat sedikit dan meraih sebuah dahan tebal di atas kepalaku. Dengan dahan itu, aku berpegangan selagi mengangkat tubuhku untuk bertengger di atasnya. Setelah merangsek sedikit, aku bisa meraih lubang itu. Kurasakan sesuatu yang bulat dan licin di dalam, berikut gesekan kasar permukaan kertas. Kuambil telur dan petunjuk itu, kemudian turun dengan ketenangan yang sama. Robbie hanya melotot sementara Chloe menyenggolnya sambil tertawa, "Sudahlah, Robbie, makanya jangan sok pamer!"
"Well, petunjuk selanjutnya," kataku sambil menyerahkan telur itu ke keranjang yang dibawa Chloe, "adalah 'Tempat di mana semua ini bermula.'"
"Nah, itu baru teka-teki gampang!" Robbie menjentikkan jarinya dengan seringai lebar. "Jawabannya di belakang tenda panitia, kan?"
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" sahutku. Kami bertiga bersama-sama menuju lokasi yang dimaksud, lalu dengan cepat menemukan telur tersebut berada di balik tumpukan kayu bakar. Petunjuk selanjutnya yang tertera adalah 'Hewan berkaki empat ini menjadi berkaki enam bila pergi bersama pemiliknya ke sawah, tapi tidak saat membawa seorang pangeran.'
"Aku tahu," kata Chloe tanpa banyak berpikir. "Jawabannya pasti kuda!"
"Hng! Sepertinya kita mulai terbiasa dengan ini," kataku. "Di mana kita bisa menemukan kandang kuda?"
"Mungkin di luar area perkemahan," kata Chloe. "Kata Dad, perkemahan Willow juga tempat yang cocok untuk berjalan-jalan bersama kuda."
"Ya ampun, kenapa harus kuda?" keluh Robbie, wajahnya tampak pucat.
"Oh, jadi selama ini kau takut pada kuda?" cemoohku.
"Kau bisa memahami teka-teki rumit tapi tak bisa memahami perkataanku?" balas Robbie sambil mengangkat dagu. "Kasihan sekali kau!"
"Ayo, cepat! Telur keempat menunggu kita, lho!" kata Chloe ceria. Tak ada peraturan dilarang bertanya dalam permainan ini, jadi dengan hanya modal tampang lugu kami berhasil mendapatkan informasi kandang kuda terdekat dari salah satu panitia. Kami pun bergegas menemui seorang peternak tua yang tinggal tak jauh dari situ. Ia memiliki lima ekor kuda dengan jenis clydesdale yang bagus-bagus di kandangnya, kuda yang cukup langka ditemui di daerah itu. Kuda-kuda itu sedang makan pagi. Robbie langsung berjengit seperti Scooby Doo melihat setan begitu kusuruh dia yang mengambil telur itu di kandang.
"Hei, kau bercanda, ya?!" teriaknya murka. "Tadinya kupikir kau pemimpin yang baik!"
"Ayolah, Ikan Kecil, kapan kau bisa belajar melewati seekor hiu kalau tidak pernah mencobanya sekali?" desakku.
"Enak saja kau menyamakan aku dengan ikan tolol!" marah Robbie. "Lagipula, kuda itu beda jauh dengan hiu!" Tapi toh dia melaksanakan perintahku, karena dia tidak ingin membuat kami menunggu lebih lama. Hanya saja, Robbie banyak sekali ngedumel dan berteriak saat kuda-kuda itu menolehkan kepala mereka ke arah penyusup asing yang merangkap jadi pencari telur diantara mereka. Aku, Chloe, dan si peternak tua menunggu di luar kandang. Muka Chloe sampai merah karena menahan tawa.
"Aku menemukannya!" Robbie mengumumkan sambil mengacungkan telur itu di atas kepalanya agar kami bisa melihatnya. Dia buru-buru lari keluar kandang saat seekor kuda mulai meringkik. Matanya mendelik padaku. "Kau puas sekarang?!"
"Bagus!" kataku. "Apa petunjuk selanjutnya?"
"'Sebuah keranjang dengan getah kuning di dalamnya,'" baca Chloe.
Kali ini, kami bersama-sama berseru, "Sarang lebah!" Kami segera berpamitan dan mengucap terima kasih pada peternak tua itu, lalu entah karena keberuntungan atau apa, baru sedikit kami berjalan, kami melihat sarang lebah yang sangat besar tergantung di atas pohon birch di dekat sebuah karavan.
"Kali ini pohonnya nggak bisa dipanjat!" kata Robbie.
"Cari kayu, cepat!" kataku. Namun belum sempat kami bergerak, kami melihat sekawanan lebah mendengung menuju sarang tersebut. Aku memperhatikan bahwa lebah-lebah itu masuk bersamaan ke dalam sarang, lalu keluar membawa sebutir telur putih kebiru-biruan, sebelum terbang melintasi udara dan mendaratkan telur itu ke… tangan Connor!
"Halo, Kawan!" sapa Connor datar. Jeremy berdiri di sampingnya, nyengir dengan lebar sambil menunjukkan keranjangnya yang kini sudah setengah berisi telur.
"Ahoy!" katanya, disusul gonggongan Akamaru.
"Kalian lagi?!" geram Robbie.
"Sepertinya kami beruntung, panitia menyiapkan petunjuk dobel, tampaknya," kata Jeremy sambil mengangkat bahu. "Maaf, ya!"
"Tapi, lebah-lebah itu…" kata Chloe.
"Mereka sudah dilengkapi chip khusus yang bisa mengendalikan mereka lewat remote control," jelas Connor sambil mengeluarkan sebuah benda hitam kecil dari saku jaketnya. "Hasil penemuan ayahku."
Kami menyaksikan Connor menekan tombol pada remote tersebut dan lebah-lebah itu pun masuk ke dalam sebuah kantong kulit yang disampirkan di pinggangnya.
"Selamat mencari di lokasi lainnya! Ayo, Connor, Akamaru!" ajak Jeremy, dan ketiganya pun pergi.
"Huh, bayangkan saja kalau Bree atau Eden ikut," kata Chloe. "Berapa telur yang mereka bisa kumpulkan?"
"Jangan menyerah gitu, dong!" kata Robbie. "Masih ada harapan, kok."
"Tapi, bagaimana?" tukas Chloe. "Telur itu kan bersama dengan petunjuknya!"
"Tidak, Chloe," kataku. "Kalian memperhatikan, tidak? Mereka hanya mengambil telurnya. Kita masih beruntung."
"Hm, benar juga," kata Robbie. "Ah! Kalau yang ini serahkan saja padaku!"
"Jangan aneh-aneh lagi!" omel Chloe. "Bagaimana kalau di dalam situ lebih banyak lebahnya?"
"Hei, mustahil menaruh telur di dalam sarang yang berisi lebah sungguhan," kata Robbie. Aku kali ini setuju padanya. Lalu, sebelum ada yang bertanya lagi, Robbie memungut sebuti kerikil diantara rumput. Dilemparkannya kerikil tersebut, pas mengenai sarang lebah. Sarang lebah itu pecah berkeping-keping, karena memang sarang itu kosong. Di dalamnya, kuambil secarik kertas.
"Petunjuk selanjutnya," kataku, "adalah…" kata-kataku terpotong. Dari balik akar pohon birch, kulihat seekor ular berwarna kehijauan muncul. Matanya yang segaris seperti mata kucing menatapku dalam-dalam. Aku tahu siapa ular itu. Aku sudah pernah bertemu dengannya beberapa malam yang lalu. Hanya saja, jika waktu itu ekspresinya begitu persuasif, kali ini dia kelihatan seperti mengancam. Sebuah suara, dingin seperti es, membuat tengkukku merinding. Suara itu! Suaranya!
"Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi, Anakku," desisnya. "Berikan jawabanmu!"
Tidak! Aku menggeleng kuat-kuat. Aku sedang sibuk sekarang!
"Kau tahu kau masih menyimpan perasaan dan kebencian pada kakakmu, bukan?" ulang suara itu. "Ayolah, beri aku jawaban."
"Tidak! Tidak sekarang!"
"McFadden! McFadden! Oi!"
Kurasakan Robbie mengguncang-guncang bahuku. Suara itu langsung lenyap dan kesadaranku kembali. Muka kedua rekan setimku tampak kebingungan dan heran.
"Apanya yang tidak sekarang?" tanya Chloe sambil mengerutkan dahi. "Kau yakin baik-baik saja?"
"Hng, ya, aku baik-baik saja," jawabku cepat-cepat. "Nah, petunjuknya cukup mudah: 'Yang terbakar duluan, tapi mati belakangan.'"
"Memang mudah! Bara api unggun jawabannya!" kata Robbie segera.
"Kita harus menemukannya sebelum keduluan yang lain, ayo!" kataku. Di tengah-tengah perjalanan, Chloe menggenggam lengan kiriku.
"Aku tahu apa yang kau lihat," bisiknya.
"Bukan urusanmu," kataku sambil memalingkan wajah. Chloe hanya terdiam. Namun, dalam kepalaku, lagi-lagi suara itu berdengung seperti gema yang bersahut-sahutan. Kata-katanya semakin jelas terdengar.
"Aku menunggumu, Sasuke. Aku akan selalu menunggumu."
Apa itu yang dikatakannya? Sasuke? Apakah yang dimaksud adalah aku?
"Ketemu!" teriakan Robbie terdengar saat ia menarik keluar telur bernoda jelaga dari balik tumpukan bara api. Salah satu alasan yang bagus untuk tidak membereskan api unggun sebelum perkemahan selesai. Di dekat tenda anak-anak Hazeland, muncul kepala Daryl dan rekan-rekan setimnya.
"Oi, kalian bertiga!" sapa Daryl pada kami. "Sudah ketemu telur berapa?"
"Lihat saja sendiri!" kata Robbie bangga. "Tuh!"
"Wah, kalau begitu kita seri!" ujar Doug sambil menyodorkan keranjang telur ke arah kami. "Selamat berjuang, ya!"
"Iya, selamat berjuang, ya!" sambung Nicola, lalu menambahkan sebelum pergi, "Terutama kau, Callan." Dia mengedipkan sebelah matanya padaku. Kudengar Chloe mendengus kesal.
"Hei, hei, petunjuk selanjutnya!" Robbie mengingatkan. "Lagi-lagi teka-teki yang gampang! Betapa beruntungnya kita! Dengar, deh, 'Tanpanya, kalian takkan terlindung dari panas dan hujan. Seperti roti tawar dengan empat roda.'"
"Karavan-karavan itu! Yeah!" Chloe bersorak. "Oh, wow, permainan ini semakin mengasyikkan saja! Benar, kan?" dia menatapku sambil nyengir.
Tiba-tiba, kami mendengar sebuah suara letupan lain. Asalnya tidak jauh dari tempat kami berdiri. Letupan itu bergitu keras dan membuat tanah sedikit bergetar. Belum pulih dari kekagetan, bunyi sirine terdengar begitu keras dari alat pengeras suara. Tak salah lagi, itu alarm penanda waktu.
"Tak mungkin, waktunya tinggal setengah jam!" kataku.
"Kalau begitu ayo!" kata Robbie. "Masih banyak petunjuk yang lain!"
Setelah menemukan telur di bawah ban karavan, kami segera menuju tempat yang dimaksud petunjuk tersebut: 'Bukan rembulan tapi bercahaya kalau malam.' Kami menemukan telur dan petunjuk lainnya di dalam sebuah lampu minyak. Pikiran kami seperti berpacu dengan waktu. Telur-telur selanjutnya ditemukan di tempat-tempat tak terduga lainnya, seperti bawah dashboard salah satu karavan, di balik jaket seorang penjaga Sandcastle, di dalam keranjang rumput seorang petani, di dalam sebuah kubangan air, dan yang paling aneh di bawah tempat duduk seorang anak Stone Towers yang tengah beristirahat bersama timnya. Sampai total ada dua belas telur yang kami kumpulkan, sementara kami menuju petunjuk selanjutnya yang baru kami temukan di belakang tumpukan kaleng sarden.
"Baiklah," engahku sambil membaca, "petunjuk kali ini sangat singkat. Bunyinya 'Bree.'"
"Itu nama teman kita!" kata Robbie.
"Hanya itu?" tanya Chloe.
"Ya," jawabku. "Nggak ada keterangan lain."
"Masa sih mereka meninggalkan petunjuk nggak jelas begini?" kata Robbie.
"Mungkin maksudnya kita harus mencari tahu makna kata 'Bree,'" ujarku.
"Hm, sepertinya aku pernah mendengar artinya di suatu tempat!" kata Chloe sambil berpikir. "Aduh… di mana, ya? Di dalam sebuah novel yang pernah kubaca sewaktu Mr Grace memberi kita tugas resensi… tepatnya waktu kita kelas dua! Makna kata itu…"
Mata Chloe terarah pada gundukan tanah di sebelah timur, tak jauh dari lokasi tenda putri Leaf High.
"Bukit!" seru Chloe bersemangat. "Ya, aku ingat sekarang! Jawabannya bukit!"
"SIKAAAATTT!" teriak Robbie sambil berlari mendahuluiku. Namun, baru sampai kami di kaki bukit, kami melihat ada dua tim dari arah berlawanan yang juga menuju ke bukit. Jumlah telur mereka, menurut penglihatanku, sama dengan kami—yakni dua belas. Satunya tim Everett sedangkan yang lain adalah tim Northern Cloud yang beranggotakan si gadis berkulit gelap. "Wow, kebetulan sekali, kan, Karui?" celetuk salah satu teman gadis berkulit gelap itu pada teman wanitanya. "Kita punya saingan dari sekolah berbeda."
Everett mengawasi kami lurus-lurus melalui matanya yang berlingkar hitam. Kedua saudaranya malah menatap anak-anak Northern Cloud dengan pandangan yang sama awasnya.
"Dalam hitungan ketiga," bisikku pada Robbie dan Chloe. "Kita naik! Satu… dua… tiga!"
Begitu tim kami berlari, kedua tim lain ikut berlari. Namun, baru saja tanganku mulai menyambar telur, tangan Alexander menamparnya. Untung saja Robbie menjegal kakinya sehingga telur itu kembali tergelincir dari tangannya. Pada saat yang bersamaan, tinju Karui mengincar wajah Robbie, tapi untungnya Robbie segera menghindar. Everett yang sudah lebih dahulu tersungkur bersiap meraih telur dari tangan Robbie, namun gencetan anak laki-laki Northern Cloud melumpuhkannya. Robbie pun berguling-guling bersama telur itu ke bawah bukit.
"Cepat! Rebut!" raung Alexander.
"Tidak secepat itu!" balas Karui.
"ROBBIE, LARI!" aku berteriak selagi menahan anak Northern Cloud yang menginjak Everett. Ia berhasil membuatku jatuh tersungkur, tapi aku sempat melihat Robbie bangkit lalu lari pontang-panting membawa telur itu. Tim Everett dan tim Karui mengejarnya dari belakang, tapi Robbie terus berlari. Untunglah saat itu, alarm berbunyi.
"WAKTU HABIS!" suara Shane terdengar dari pengeras suara. "SEMUA TIM HARAP BERKUMPUL DI DEKAT API UNGGUN SEKARANG!"
Robbie melonjak-lonjak kegirangan sambil menyambutku dan Chloe. "BERHASIL! TIM 7 BERHASIL! KITA BERHASIL MELINDUNGI TELURNYA!"
Ekspresi kecewa tergambar di wajah tim Karui dan tim Everett. Sementara itu, tim-tim yang lain berkumpul dalam raut wajah yang berlainan. Bahkan, ada tim yang hanya bisa menemukan tiga telur. Aku dalam hati cukup bersyukur karena kami sempat menemukan tiga belas, sehingga tidak memalukan.
"Baik, serahkan keranjang-keranjang kalian di sekitar lingkaran api," perintah Shane. "Kami akan menentukan siapa pemenangnya."
Selagi menunggu, tim kami mengistirahatkan diri dengan rebah di atas rumput. Tim Ryan datang paling akhir di saat semuanya sudah mengumpulkan telur. Muka Derrick tampak pucat karena kelelahan.
"Yah, tadi itu cukup jauh!" katanya pada Ryan, yang bahkan tidak kelihatan capek sama sekali. "Sembilan telur itu belum memuaskan!"
"Jangan lengah!" sergah Ryan sembari meninju punggung Derrick. "Yang penting adalah petualangannya, Kawan! Petualangan!"
"Untung saja si alis tebal itu dapat telur lebih sedikit dari kita," kata Robbie padaku.
Aku mengangkat bahu dengan tanda setuju. Shane dan rekan-rekannya sepertinya sudah selesai menghitung telur. Shane lalu mengumumkan, "Pemenang dari permainan ini adalah Tim 10 dari Leaf High! Selamat! Dengan jumlah telur sebanyak tiga puluh butir!"
"Tim Jeremy? Wow, aku tercengang," kata Robbie datar.
Jeremy, Connor, dan Akamaru maju ke depan untuk menerima lencana perunggu. Tim-tim yang lain tampaknya juga tidak terima.
"Curang! Mereka mengandalkan anjing sebagai pencari jejak!" teriak Karui memanas-manasi.
"Ya, benar! Curang!" suara mengiyakan dari tim-tim lain.
"Hei, tak ada peraturan soal itu!" Jeremy membela diri. "Sudah, terima saja dengan sportif!"
"Maaf, Tuan Muda," kata Shane dengan nada skeptis. "Kau memasukkan anjingmu dalam tim?"
"Bukankah itu tidak dilarang?" kata Jeremy berkeras.
"Memang tidak dilarang," kata Shane, melipat tangannya di dada, "tapi mari kulihat berapa petunjuk yang berhasil kau kumpulkan, apakah sebanding dengan jumlah telurnya?"
Aku memandang kedua rekan setimku, dan kedua-duanya merefleksikan kelegaan yang sama. Jeremy tampak tertantang.
"Baiklah! Connor, keluarkan teka-tekinya!"
Shane menyuruh Jeremy dan Connor menghitung satu per satu. Ternyata, jumlah petunjuk mereka kurang sepuluh dari jumlah telur. Semua anak langsung ramai.
"Boooo! Curang! BOOOOO!" teriak mereka.
"Maaf sekali, Tuan Muda," kata Shane tegas. "Kau dan timmu tidak berhak mendapatkan lencana perunggu ini. Karena kalian tidak mencarinya dengan keringat sendiri!"
Akamaru menyalak. Jeremy langsung protes, "Tapi, itu tidak adil! Petunjuk-petunjuk itu kan tidak wajib dibawa!"
"Tetap saja, semuanya sudah jelas," kata Shane. "Lencana ini berhak diberikan pada pemenang kedua, yang dengan susah payah memperjuangkan telur yang telah mereka temukan, yakni…"
Semuanya tegang, menunggu pengumuman.
"…dengan jumlah telur sebanyak…"
Keringat semua anak mulai bercucuran.
"… LIMA BELAS! YAKNI TIM EVERETT DARI SANDCASTLE!"
Apa?! Aku tersentak. Bukannya jumlah telur mereka tadi dua belas? Ketika tim Everett maju, anak-anak Sandcastle memberi mereka aplaus untuk mengapresiasi. Begitu juga dengan tim-tim lainnya. Tapi aku masih merasa dongkol, dan bertanya-tanya dari mana kedua telur yang lain disembunyikan?
"Brilian sekali! Mereka menyimpan telurnya di dalam kantong baju untuk menjebak lawan!" Daryl berkata keras-keras sambil menguap. Saat itu adalah jam istirahat. Semua peserta diperbolehkan membersihkan diri atau bersantai sebelum waktu makan siang di depan tenda masing-masing.
"Sudahlah, semua sudah berlalu!" kata Derrick, melepas ikat kepala dari rambut panjangnya lalu mengibaskannya ke udara bebas.
"Nah, kurasa Miss Jovovich benar soal jangan membawa anjing ke perkemahan, Jeremy!" celoteh Doug sambil membuka sebungkus keripik kentang. "Bikin curiga orang banyak!"
"Diam, ah!" kata Jeremy gusar, mukanya semerah tato taring yang menghiasi pipinya. "Kemenanganku sudah dirampas oleh bocah-bocah tua Sandcastle itu!"
"Kau pikir kami tidak?!" balas Robbie yang sudah tak tahan, mencengkeram kerah Jeremy kuat-kuat. "Sudah curang masih saja bicara soal kemenangan! Bikin malu Leaf High, tahu!"
"Sudah, sudah, lupakan saja soal permainan tadi! Namanya juga permainan!" Daryl melerai. "Menang atau kalah, ambil sisi positifnya saja."
"Omong-omong," kata Doug, mengalihkan perhatian, "kalian ingat bunyi ledakan tadi? Berasal dari mana, sih, itu?"
"Hm, sepertinya keributan di tenda panitia menjelaskannya," kata Ryan. Aku menolehkan kepala. Tampak para penjaga menyeret seorang pria bertubuh besar yang mengenakan pakaian ala pemancing. Pria itu mukanya dibungkus oleh kantong hitam dan dicampakkan ke tenda dengan keras oleh para penjaga.
"Aku penasaran seperti apa muka pembuat onar itu," kata Robbie. Setelah melepaskan Jeremy, ia berlari ke arah tenda panitia tanpa menoleh ke belakang.
"Hei, Robbie! Gila kau!" panggilku, tapi Robbie tidak mendengarkan.
Aku hanya mendengus lalu membiarkan kaki dan tenagaku yang kembali pulih unuk mengejarnya. Bagaimanapun, kalau dia sampai bikin gara-gara, aku yang akan disalahkan karena aku ketua tim. Robbie tengah mengintip di salah satu lubang udara tenda. Aku baru akan memperingatkannya ketika berhenti untuk mengamati kejadian di dalam tenda. Panitia, termasuk Joe dan Shane, serta para guru pendamping dan kepala sekolah mengitari pria besar itu, yang didudukkan di sebuah kursi plastik. Dari badge yang mereka kenakan, aku bisa mengenali dari mana masing-masing kepala sekolah itu. Seorang kepala sekolah wanita berambut merah dari Hazeland, seorang pria cebol berambut putih dari Stone Towers, Mr Wormwood sendiri, dan dari Northern Cloud adalah pria gagah berkulit gelap yang hampir cocok jika menjadi ayah Karui. Dia kelihatan seperti mantan pegulat. Begitu kantong penutup kepalanya dibuka, tampaklah bahwa pria yang dipergoki itu juga berkulit gelap dengan rambut lurus pirang platinum. Kepala sekolah Northern Cloud-lah yang pertama bereaksi.
"BEE! JADI SEBENARNYA KAU?" suaranya yang besar bergaung. Pria berseragam pemancing itu hanya mengeluh.
"Ya, ini memang aku, Saudaraku," katanya, gaya bicaranya sangat berlagu. "Aku di sini menangkap bajing, tapi sepertinya malah kena trenggiling." Semua orang di dalam tenda kini ganti menghadap kepala sekolah Cloud.
"Dia… saudara Anda?" tanya Shane dengan muka sangsi.
"Saudara angkat, sebenarnya," sahut kepala sekolah Cloud. "Tapi, aku tidak tahu kalau ternyata dia juga berkemah di sini."
"Oh, jadi Anda yang menyebabkan letupan itu, Sir?" kata Shane kepada pria asing itu.
"Ya, siapa lagi kalau bukan aku?" kata pria itu.
"Bodoh kau, Bee! Menembak dengan senapan pagi-pagi! Lagipula, mustahil kau bisa menangkap bajing dengan cara seperti itu!" marah kepala sekolah Cloud. "Dan trenggiling?! Omong kosong!"
Pria bernama Bee itu mendesah, "Aku minta maaf sudah mengganggu ketenangan, lain kali takkan kuulangi. Tapi apabila kalian berkenan, izinkan aku pergi dari sini."
"Kau nyaris membuatku jantungan, Sir," kata kepala sekolah Towers. "Butuh lebih dari sekedar janji untuk membiarkanmu pergi."
"Memang semua pria butuh kesenangan," sambung kepala sekolah Hazeland sembari mengibaskan rambut merahnya. "Tapi ada kalanya kau harus belajar menghargai ketenangan perkemahan orang, Tuan yang baik."
"Baiklah, aku akui saja, sebenarnya aku kemari bukan untuk menangkap bajing belaka," kata Bee sambil merapatkan duduknya. "Kalian lihat pakaianku? Oh, ya, bukan pakaian pemburu! Aku melihat ada penyusup tak jauh dari hutan sana, makanya kuputuskan untuk meledakkan saja."
"Penyusup?" Miss Jovovich-lah yang giliran bicara. "Apa maksudmu penyusup?"
"Oh, kau tahu seperti apa mereka," kata Bee. "Bandel sekali, ya… bandel sekali! Ada lebih dari satu! Aku naik pohon untuk mengamati, ternyata mereka malah lari! Mereka mengincar—ya—mereka mengincar murid-muridmu." Bee menganggukkan kepala pada Miss Jovovich dengan singkat.
Miss Jovovich tampak shock, sementara itu salah satu penjaga menyadari keberadaanku dan Robbie, dan langsung berseru, "Hei, siapa di sana?!"
"Sembunyi!" bisikku pada Robbie. Kami cepat-cepat memutar ke balik tenda, sehingga penjaga itu hanya mendapati tempat berdiri kami yang tadi kosong. Lega sekali. Untung saja tidak ketahuan.
"Ayo, buruan pergi dari sini!" kataku pada Robbie, yang langsung setuju. Tapi baru saja kami mau melangkahkan kaki, kerah jaket kami ditahan dari belakang oleh orang yang berkata, "Ohoho! Tak secepat itu, James Bond!"
Kami berdua menoleh dengan kaget.
"Mr Grace?!"
"Ssssshhh!" Guru pendamping kami itu memberi isyarat diam. "Pelan-pelan ngomongnya!"
"Maaf, Mr Grace, kami memang menguping, tapi jangan bilang-bilang, ya!" mohon Robbie.
"Tak masalah, kalian kumaafkan," kata Mr Grace. "Ingin tahu itu boleh, tapi gaya kalian malah seperti penyusup yang sesungguhnya."
"Yah, memangnya penyusup yang dimaksud Bee—orang yang diinterogasi di dalam—bisa masuk area perkemahan ini dengan mudah? Bukannya ada banyak penjaga, ya?" kataku.
"Aku tidak tahu," jawab Mr Grace. "Ini seperti peringatan, tapi sudahlah—kalian berdua silakan siap-siap untuk makan siang. Aku yakin kalian pasti lapar, kan? Tenang saja, rahasia kalian aman bersamaku."
Setelah berkata demikian, Mr Grace meninggalkan kami berdua, lalu kami sama-sama berjalan kembali ke tenda.
"Menurutmu apakah penyusup itu orang yang sama dengan yang dilihat Chloe?" tanyaku pada Robbie.
"Eh, ya mana kutahu!" sahut Robbie sambil melipat tangan di belakang kepala, gestur khasnya kalau sedang malas atau tidak peduli. "Mengapa tiba-tiba kau jadi tertarik, sih?"
Gaya bicara Robbie terdengar biasa, tapi dari caranya ngomong tanpa menatapku, entah kenapa aku tidak yakin bahwa dia sama sekali tidak curiga. Jadi, aku membalas, "Yah, menurutmu berapa orang sih yang terang-terangan ngomong pada seorang kepala sekolah bahwa murid-muridnya dalam bahaya?"
"Jangan sok jadi detektif, deh!" kata Robbie. "Kita tidak tahu apakah Mr Bee mengarang-ngarang cerita atau tidak."
"Ah, tadinya aku mau bilang bahwa justru kau yang sok-sokan jadi detektif!" kataku. "Siapa duluan yang mau mencari tahu ke tenda panitia?"
"Huffff, bagaimana kalau kita lupakan saja hal ini?" kata Robbie. "Aku capek kalau ngomongin hal-hal yang di luar keadaan normal."
Tiba-tiba, bunyi sirine terdengar. Waktu makan siang sudah tiba.
"Lihat, kan?" kata Robbie. "Makan siang! Itu baru keadaan normal."
Aku memperlambat tempo jalanku menuju tenda. Robbie berjalan lebih cepat dari biasanya. Tangannya masih terlipat di belakang kepala. Aku mendesah kuat-kuat.
Apakah pertemuanku dengan ular tadi juga merupakan hal normal?
TO BE CONTINUED
Outro: Halo! Kalian sudah selesai membaca, kan? Nah, waktunya menepati janjiku. Inilah daftar arti nama tokoh-tokoh yang lain beserta artinya. Yoshah!
Katherine: nama kepala sekolah Leaf High ini berarti 'pure' atau 'clear.'
Horatio: kalian sudah tahu bukan arti namanya kalau membaca di chapter sebelumnya, kan? Hehehe… Tapi, masalah siapa sesungguhnya karakter ini masih harus menunggu. :p
Jonathan: artinya 'Tuhan telah memberikan.' Hm, mungkin itulah alasan mengapa ada Iruka di kehidupan Naruto. :p
George: ehm, artinya cukup unik, yakni 'petani' dalam bahasa Yunani. Aduh, tapi bukan berarti aku merendahkan ayahnya Sakura, ya! Hehehe…
Rachel: tak ada arti spesifik dalam nama ini, kecuali bahwa nama Rachel adalah nama istri Jacob alias Yakub, seorang Nabi. Artinya secara literal adalah 'ewe,' yang merupakan salah satu jenis domba. Hm, kalau dipiki-pikir cocok dengan George, bukan? Hehehe…
Oliver: Minato adalah karakter yang cinta damai, jadi cocoklah jika namanya diartikan sebagai 'olive tree' atau pohon zaitun yang memiliki arti perdamaian.
Guinevere: nama ini cukup terkenal di legenda Raja Arthur, yakni nama permaisuri sang tokoh utama, Arthur Pendragon. Artinya adalah 'the fair one.'
Ronan: nama counterpart Fugaku Uchiha ini berari 'anjing laut kecil' dalam bahasa Irlandia kuno.
Michelle: nama counterpart Mikoto Uchiha ini adalah versi wanita dari nama Michael, yaitu nama seorang malaikat yang juga dikenal sebagai Mikail. Aku selalu membayangkan Mikoto sebagai malaikat yang menyayangi klan putranya.
Joseph: nama counterpart Orochimaru ini artinya 'semoga Tuhan meningkatkan.' Hm, meningkatkan kekuatanmu, mungkin? Hehehe…
Thomas: sama seperti Mr Grace, nama Thomas Hyde juga berart 'kembaran.'
Jadi, kurasa cukup segitu saja, ya, tentang nama-nama ini. Kalau ada pertanyaan lainnya silakan PM yaaaa… hehehe…
