Kyuhyun mengetuk pintu dengan tidak sabar. Dia dan Changmin tiba di Seoul pada pukul 2 siang waktu Seoul. Perjalanan itu benar-benar menguras tenaganya, namun begitu tiba di depan rumah, semangatnya sangat menggebu karena tidak sabar bertemu dengan anak-anaknya.
"Astaga! Dasar tamu tidak sopan! Kenapa dia malah... Kyuhyun?!" Arrum membekap mulutnya, tak percaya. "Kau sudah pulang? Aku sangat merindukanmu!" Yeoja itu langsung menghambur memeluk Kyuhyun.
Changmin mendengus keras. "Arrum, kau ingin membakarku? Diluar sini sangat panas, jadi jangan berdiri di depan pintu seperti itu!" Namja itu langsung menerobos masuk bahkan sebelum saudara kembarnya itu sempat bergeser.
"Dasar menyebalkan," rutuk Arrum. "Ayo kakak ipar! Masuklah, kau harus istirahat."
Kyuhyun memasuki rumah yang siang itu terasa sangat ramai. Tampaknya semua sedang berkumpul mengingat ini sedang musim panas, dan sekolah maupun kuliah diliburkan. Omong-omong tentang musim panas, Kyuhyun merasa sangat kegerahan karena sweater tebal yang di pakainya. Berpindah-pindah antar satu negara dengan negara yang lain yang berbeda musim memang menyusahkan. Dan tubuhnya harus cepat-cepat menyusuaikan diri. Termasuk waktu tidurnya.
"Ya Tuhan, Kyuhyun!" Jaejoong bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Kyuhyun yang baru saja memasuki ruang tengah. "Kau tampak mengagumkan." Jaejoong menangkup pipi Kyuhyun dengan kedua telapak tangannya. Wajah menantunya itu benar-benar terlihat sangat segar. Berbanding terbalik dengan wajahnya ketika sebelum pergi. Sepertinya yeoja itu benar-benar menikmati liburannya.
"Terima kasih, Umma." Kyuhyun tersenyum.
"Bagaimana liburan noona? Kelihatannya benar-benar menyenangkan." Minho tersenyum miring.
"Kau pasti iri. New Zealand benar-benar mengagumkan," ujar Kyuhyun dengan wajah mendamba, membayangkan kembali danau, pohon-pohon dan pegunungan disekitar penginapan.
"Aku harus kesana!" seru Arrum penuh tekad. "Bagaimana menurutmu, Changmin?"
Changmin mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
"Kau mau menemaniku kesana?"
Changmin mendengus, lalu bangkit dari sofa yang baru beberapa menit dia duduki. "Yang benar saja!"
Arrum mendelik. "Dasar tidak tahu terima kasih! Aku sudah menjaga anak-anakmu selama kau pergi. Harusnya kau berbaik hati sedikit padaku!"
"Jangan berlebihan, Arrum." Yunho buka suara. "Kita semua menjaga Minnie, Hyunnie, Soeul dan Haru."
"Ah, dimana mereka?" Kyuhyun tiba-tiba teringat alasan kenapa dia begitu terburu-buru mengetuk pintu.
"Di kamar kami," jawab Jaejoong. "Yunho sudah membuat perisai untuk sekitar kamar kami saja. Jadi, anak-anak aman disana."
Jaejoong membawa Kyuhyun menuju kamarnya. Mata yeoja itu langsung berkaca-kaca ketika melihat keempat anaknya tengah tertidur nyenyak di atas kasur. Dengan langkah pelan, Kyuhyun melangkah menghampiri tempat tidur, berjalan sepelan mungkin agar anak-anaknya tidak bangun.
"Umma sangat merindukan kalian," gumam Kyuhyun sambil mengusap puncak kepalanya anak-anaknya bergantian.
"Appa juga merindukan kalian."
Kyuhyun tersentak ketika mendengar suara Changmin disampingnya. Dia menatap ke arah Changmin dengan alis terangkat. "Sejak kapan kau disini?" desisnya bingung.
"Aku bisa berada dimanapun aku mau," balas Changmin tidak acuh.
Kyuhyun membuka mulutnya ingin mendebat, tapi otaknya mendadak kosong, hingga akhirnya dia hanya mendengus kasar.
"Sana, ganti bajumu!" perintah Changmin ketus. "Memangnya kau tidak kepanasan? Aneh sekali," omelnya.
"Mulutmu itu memang tidak bisa berbicara baik-baik, ya?"
"Memang," sahut Changmin santai, lalu duduk di pinggiran tempat tidur, memandangi anak-anaknya.
Jaejoong mengelus pundak Kyuhyun pelan, berusaha menenangkan menantunya itu yang tampaknya sangat ingin membalas kata-kata Changmin.
"Aku ke atas dulu, Umma," pamit Kyuhyun sambil meninggalkan kamar Jaejoong.
Kyuhyun keluar dari kamar mandi 30 menit kemudian. 10 menit pertama dia habiskan hanya untuk memandangi bathup yang sudah diisi oleh air dan wewangian lavender, tanpa tujuan yang jelas. Barulah, 20 menit kemudian, dia berendam. Menikmati kesejukan air, karena udara diluar benar-benar panas, padahal musim panas baru saja datang.
"Aku nyaris berpikir kau ketiduran di dalam sana."
Kyuhyun terlonjak dan mendapati Changmin tengah duduk di meja rias, dan menatapnya dengan tatapan datar seperti biasa. "Aku memang nyaris melakukannya. Tapi setidaknya akal sehatku bekerja dengan baik."
"Selesai berpakaian, turunlah." Changmin berjalan ke arah pintu. "Makan siang."
Kyuhyun menuruti perkataan Changmin. Selesai berpakaian, dia benar-benar turun, lalu menuju ruang makan. Matanya membulat ketika melihat Hyun Min dan Min Hyun duduk di kursi khusus bayi, dan kedua bayi itu sibuk menggapai-gapai. Seolah minta di gendong.
"Sayang!" seru Kyuhyun. Dia langsung memeluk keduanya sekaligus. Dengan gemas, dia mencium keduanya bergantian. "Kalian tahu, Umma benar-benar merindukan kalian."
"Umma!" seru Min Hyun dengan suaranya yang khas.
Hyun Min juga menyerukan sesuatu yang tidak Kyuhyun mengerti.
Kyuhyun mendongak ketika Changmin meletakkan sepiring lasagna di hadapannya.
"Habiskan," ujarnya tegas. Tidak dapat di bantah.
"Tampaknya begitu menginjakkan kakimu di Seoul, kau kembali menyebalkan," ketus Kyuhyun. Namun tetap memakan nasi goreng kimchi yang diberikan Changmin.
Changmin memutari meja makan, lalu duduk di antara Hyun Min dan Min Hyun dengan semangkuk makanan khusus batita. "Nah, kalian harus makan. Minnie, buka mulut?" Changmin menyuapi Hyun Min dengan santai.
Kyuhyun merengut karena Changmin tidak mengacuhkan ucapannya. "Kau pasti tidak akan mau menggendongku lagi, kan?"
"Bermimpi saja kau," cetus Changmin.
Kyuhyun berdecak, lalu makan dalam diam.
Changmin menyuapkan Hyun Min dan Min Hyun bergantian. Kedua anaknya itu dengan patuh menerima setiap suapan yang di berikan Changmin.
Kyuhyun melirik Changmin yang dengan luwes menyuapi kedua anak-anaknya. Harusnya namja itu tidak sesantai itu, kan? Dia kan namja, kenapa bisa dengan mudahnya menyuapkan bayi?
"Lalu kenapa? Terima saja kenyataan kalau aku memang lebih baik darimu."
Kyuhyun melotot. "Berhentilah membaca pikiranku!"
Changmin tersenyum miring. "Tidak usah berpikir."
"Astaga! Ya Tuhan! Rasanya seminggu selama di New Zealand kemarin benar-benar mimpi," keluh Kyuhyun sambil menatap Changmin putus asa.
Changmin kembali mengabaikan Kyuhyun. Dia baru akan kembali menyuapkan Min Hyun ketika ponselnya di meja berbunyi.
Kyuhyun berseru heboh. "Benar! Aku bahkan tidak melihat ponselku selama New Zealand. Kenapa aku baru menyadarinya?"
"Aku menyimpannya di laci meja rias," jawab Changmin dengan cueknya, lalu mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya.
"Betapa menyebalkannya namja ini," desis Kyuhyun sambil menusuk lasagnanya penuh dendam.
"Ya. Ini aku. Ada apa Kris?"
Kyuhyun segera mengangkat kepalanya mendengar nama Kris. Keningnya berkerut ketika mendapati wajah Changmin menegang. Entah apa yang di katakan Kris hingga Changmin berekspresi seperti itu.
Changmin melirik Kyuhyun. "Sebentar," gumamnya. "Kyu, kau suapi mereka." Setelah mengatakan itu, Changmin langsung berlalu menuju pintu belakang.
"Minho, kau jaga Minnie dan Hyunnie," seru Kyuhyun langsung begitu Minho memasuki ruang makan.
Minho mendesah. "Aku sudah menjaganya seminggu lebih noona," keluhnya.
Kyuhyun mengabaikan perkataan Minho, lalu mengendap-endap menuju pintu belakang. Dia dapat melihat pintu belakang terbuka, tapi dia tidak melihat Changmin dari posisinya. Dengan hati-hati Kyuhyun bersandar pada dinding di samping pintu, berusaha mendengarkan apa yang dikatakan Changmin.
"Kekasihnya?" tanya Changmin memastikan.
Kyuhyun semakin mendekatkan tubuhnya ke arah pintu.
"Sebaiknya kita bertemu di hutan."
Kyuhyun langsung menjerit begitu Changmin muncul di hadapannya dengan wajah keruh. Namja itu tak kalah terkejutnya di banding Kyuhyun.
"Sejak kapan kau berdiri disini?" tanya Changmin penuh selidik.
"Belum cukup lama," jawab Kyuhyun gugup. "Apa yang kau bicarakan dengan Kris?"
"Hanya masalah kecil," ujar Changmin. "Aku harus pergi. Katakan pada orang rumah." Changmin mengangkat sebelah tangannya ketika Kyuhyun membuka mulut. "Kau tidak boleh mengikutiku."
"Aku masih sayang pada hidupku. Jadi aku tidak akan mengikutimu ke hutan terkutuk itu," balas Kyuhyun kesal.
oOoOoOoOo
Selesai memberi Hyun Min dan Min Hyun makan, dia kembali menitipkan kedua anaknya itu pada mertuanya yang tengah bersantai di ruang tengah. Karena kepalanya mendadak pusing, sehingga ia ingin istirahat di kamar. Mungkin ini karena efek perjalanannya.
"Hai, Kyuhyun!"
Kyuhyun membeku di tempatnya berdiri ketika melihat seorang namja yang tidak ia kenal tengah duduk dengan tenang di pinggir tempat tidurnya. Bahkan dia tidak menjerit karena terlalu syok dengan kehadiran namja itu.
"Aku bertanya-tanya kenapa aku tidak melihatmu selama hampir dua minggu ini. Dan pertanyaanku baru saja terjawab," ujar namja itu. "Jadi, kau pergi ke New Zealand? Hanya berdua dengan Changmin?"
"Siapa kau?" tanya Kyuhyun dengan suara bergetar.
Namja itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Kyuhyun. "Aku Minwoo. Salam kenal. Akhirnya kita benar-benar bertemu."
Kyuhyun hanya menatap tangan namja yang bernama Minwoo itu tanpa berniat untuk menjabatnya sama sekali.
"Seharusnya aku mengikuti kalian kesana. Kalau kalian terbunuh, juga tidak akan ada yang tahu."
Kyuhyun mundur selangkah dan tubuhnya langsung membentur pintu. "Apa maksudmu?"
Minwoo terkekeh geli. Dan suara kekehannya terdengar sangat menakutkan. "Kau pikir, siapa dalang dari semua kejadian yang kau alami sebulan belakangan ini? Pesan Changmin yang mengajakmu lari pagi, suara yeoja yang mengangkat teleponmu pada Changmin, suara yang memanggil namamu, dan penculikan Hyun Min. Ah, aku kecewa padamu soal itu," ujar Minwoo panjang lebar. "Aku pikir kau akan keluar rumah, mencari putramu itu bahkan sampai masuk ke hutan hingga aku bisa membunuhmu. Tapi kau malah pingsan."
Kyuhyun berjengit semakin takut. Dia baru akan menjerit ketika namja itu tiba-tiba saja membekap mulutnya. Kyuhyun mengerang ketika mendapati mata Minwoo berubah warna menjadi merah darah.
"Jangan coba-coba berteriak atau aku akan membakarmu saat ini juga!"
Kyuhyun kembali mengerang. Dia berusaha menggerakkan kepalanya, berusaha melepaskan diri dari cengkraman Minwoo.
"Nyawa harus di bayar nyawa," desis Minwoo. "Kau pernah dengar kalimat itu? Sekarang katakan dimana Changmin!"
Kyuhyun menggeleng.
"Bagaimana kalau kita cari dia bersama-sama?"
Kyuhyun merasakan kepalanya semakin pusing dan seluruh bagian tubuhnya yang terbuka terasa sangat menyakitkan. Sepertinya Minwoo sengaja melewati semak belukar sehingga tangan dan kakinya bahkan wajahnya tergores sulur-sulur berduri. Dia nyaris tumbang ketika Minwoo tiba-tiba berhenti hingga dia langsung bergantung pada lengan namja itu. Setidaknya dia masih tidak menginginkan tubuhnya membentur tanah.
"Hai Changmin!"
Kyuhyun dapat melihat Changmin dan Kris meski matanya nyaris tertutup.
"Kyuhyun?" tanya Changmin, curiga. Tidak percaya bahwa yeoja yang bergantung di lengan Minwoo benar-benar Kyuhyun.
"Changmin," gumam Kyuhyun lemah.
Changmin nyaris menertawakan Minwoo karena namja itu ingin mengerjainya, namun begitu melihat kilau di tangan kanan Kyuhyun, tubuhnya langsung menegang. "Kyuhyun!"
Minwoo menggerakan jari telunjuknya, seolah tidak setuju dengan gerakan Changmin yang akan menghambur menghampirinya. "Kau tidak boleh menyentuhnya, bung!"
"Minwoo, kau salah paham," ujar Kris, berusaha menengahi. "Changmin tidak membunuh Jessica sama sekali."
"Dan menurutmu aku percaya?" tanya Minwoo sinis. "Aku sudah bertanya pada banyak orang. Dan semua yang mereka katakan sama. Jessica menculik Kyuhyun, dan Changmin melakukan transpor energi tingkat tinggi hingga dia melakukan duel dengan Jessica. Lalu namja terkutuk itu membakar Jessica-ku!" Minwoo mendorong tubuh Kyuhyun, hingga yeoja itu terhempas ke tanah yang penuh ranting pohon. "Jangan mendekatinya, atau aku akan membunuhnya sekarang!" bentak Minwoo ketika Changmin baru maju selangkah. Dia menatap Changmin dan Kris bergantian dan sadar kalau usaha yang dia lakukan berhasil ketika mendengar seruan Changmin.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Changmin berusaha mengangkat kakinya yang seolah melekat dengan tanah.
"Changmin, jangan bergerak!" Kris memperingatkan. "Kau akan kehabisan tenaga jika kau berusaha menggerakkan kakimu."
"Diam!" seru Minwoo. Dia ingin mendapatkan perhatian Changmin dan Kris kembali. "Aku mencari Jessica selama beberapa bulan sejak malam itu. Dia tiba-tiba hilang seolah di telan bumi. Aku berusaha bertanya pada banyak orang, dan setelah sekian lama, aku mendapat kabarnya. Dan kau tahu bagaimana perasaanku ketika mendengar mereka mengatakan kalau Jessica sudah mati? Terlebih lagi kalau orang yang melakukannya adalah kau, Changmin! Bukankah kita bersahabat? Aku, kau, Jessica, dan kau Kris! Dimana otakmu, hah?!"
"Yeoja yang kau sebut Jessica-ku itu hampir membunuh Kyuhyun. Menurutmu aku hanya diam saja?! Dan kenapa kau bodoh sekali? Yeoja itu bahkan tidak mencintaimu sedikitpun! Jangan buang-buang waktumu, Minwoo! Yeoja itu memang pantas mati!" seru Changmin berapi-api.
"Brengsek!" Minwoo mengumpat, dia menarik tubuh Kyuhyun hingga yeoja itu berdiri, lalu melayangkan sebuah tamparan pada pipi Kyuhyun.
"Berhenti menyakitinya!" seru Changmin.
"Nyawa harus di bayar dengan nyawa," desis Minwoo. "Aku akan membunuhnya di hadapanmu. Dan kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa."
"Aku akan membunuhmu!"
"Setelah aku membunuh manusia lemah ini? Tidak masalah," balas Minwoo santai.
Minwoo memegangi kedua lengan Kyuhyun, berusaha agar yeoja itu tetap berdiri dan dia dapat melakukan kontak mata dengan Kyuhyun. Meskipun mata Kyuhyun nyaris terpejam, namun dia tetap bisa melihat mata Minwoo.
"Jangan tatap matanya!" seru Kris.
Kyuhyun mengerjap, seolah disadarkan dari lamunan panjang. Namun dia merasa semuanya sudah terlambat. Dia dapat merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya. Seperti ada sesuatu yang berusaha menarik kesadarannya dan tenggelam ke dalam pusaran yang tidak terlihat ujungnya.
Kyuhyun mencengkram lengan Minwoo karena dia merasakan tubuhnya semakin lemas. Apa yang di lakukan namja ini padanya? Dia berusaha membuka matanya dan menatap Minwoo penuh tanda tanya.
Minwoo menyeringai. Dia melepaskan cengkramannya pada kedua lengan Kyuhyun, dan saat itu juga, yeoja di hadapannya langsung tumbang dengan mata terpejam sepenuhnya.
"Sialan!" Changmin mengumpat keras, dan langsung menghambur ke depan. Melayangkan sebuh pukulan tepat di rahang Minwoo. "Aku benar-benar akan membunuhmu!"
Minwoo mendorong Changmin, dan balas memukuli namja itu. "Pergi saja kau ke neraka bersama manusia tidak berguna itu!"
Kris memegangi lengan Minwoo yang akan kembali memukul wajah Changmin. "Hentikan! Kau salah paham!" serunya. "Aku yang membunuh Jessica! Aku yang melemparnya ke dalam kobaran api! Orang-orang yang kau tanyai sama sekali tidak tahu!" lagi-lagi Kris berseru. Ingin mendapatkan perhatian Minwoo.
Minwoo membeku di tempatnya. Lalu matanya menatap Kris tajam. Meminta penjelasan. "Apa maksudmu?" tanyanya pelan, namun suaranya terdengar berbahaya.
"Aku ada disana saat itu. Changmin tidak bisa melawan Jessica sama sekali. Saat itu Changmin kehabisan tenaga, dan Jessica memanfaatkan itu untuk membereskan Kyuhyun. Dia tidak menyadari kehadiranku sama sekali. Jadi, ketika dia tengah berkonsenterasi menggunakan kekuatannya untuk membunuh Kyuhyun, aku mendorongnya dari belakang. Aku mematahkan lehernya dan..."
Minwoo langsung menerjang Kris, bahkan sebelum namja itu menyelesaikan ucapannya. "Kau," desisnya. "Kau juga pantas mati."
"Hentikan hal apapun yang kau lakukan pada Kyuhyun," ujar Kris dengan suara tercekat. Andai dia bisa mati karena kehabisan napas, mungkin dia sudah benar-benar mati karena kuatnya cengkraman Minwoo pada lehernya. "Kau menyimpan dendam pada orang yang salah."
"Tutup mulutmu, sialan!"
"Kau yang sialan!" Changmin menarik tubuh Minwoo dari atas Kris. "Yeoja itu tidak pernah mencintaimu! Berhentilah melakukan hal yang sia-sia!"
Minwoo kembali membeku di tempatnya karena ucapan Changmin.
Changmin melirik Kyuhyun yang tidak bergerak sama sekali. Tapi setidaknya detak jantung yeoja itu masih normal, meskipun dia tidak bisa membangunkan yeoja itu sama sekali. Mendapati detak jantung yeoja itu baik-baik saja sudah membuatnya cukup tenang. "Kau pasti tahu kalau Jessica tidak mencintaimu sama sekali, kan? Aku tahu kau tidak bodoh, Minwoo. Maafkan aku, tapi Jessica memang pantas mati," ujar Changmin.
Minwoo menarik rambutnya putus asa. Dia tidak bisa membalas kata-kata Changmin. Memang benar. Dia tahu kalau Jessica tidak mencintainya sama sekali. Selama ini, yeoja itu selalu memperalatnya untuk membuat hubungan Changmin dan Kyuhyun memburuk. Seperti berfoto bersama nyaris telanjang, dengan mengubah dirinya menjadi Changmin.
"Aku tahu kau menggunakan kekuatanmu pada Kyuhyun. Jadi aku mohon padamu untuk menghentikannya," ujar Changmin, dengan suara yang benar-benar memohon.
Minwoo menggeleng. "Aku tidak bisa."
Mata Changmin menajam. "Apa?"
"Kekuatan itu tidak bisa di hentikan." Minwoo menatap Changmin penuh permohonan maaf. "Hanya yeoja itu yang dapat menghentikannya."
"Conquer?" tanya Kris tak yakin. "Kau memilikinya?"
Minwoo mengangguk.
"Conquer?" Changmin mengerutkan kening tidak mengerti. Dia menatap Kyuhyun yang tampak seperti orang tengah tidur nyenyak, namun dia tahu kenyataannya tidak seperti itu.
"Conquer itu kekuatan yang hanya dimiliki oleh vampire yang terpilih. Tidak semua vampire murni dapat memiliki kekuatan semacam itu," jelas Kris. "Hanya penderita kekuatan Conquer yang dapat menghentikan kekuatan itu sendiri. Ini semacam pilihan. Jika keinginan si penderita untuk hidup lebih besar, maka penderita akan hidup. Dan jika tidak," Kris menarik napas, dan memperhatikan Kyuhyun yang mulai memucat. "Dia akan mati. Seperti itu."
Changmin menggenggam tangan Kyuhyun yang mulai terasa dingin. Dia menarik tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya. Lalu dia menatap Minwoo setajam mungkin. "Kau," Changmin merasakan kerongkongannya tercekat. Haruskah dia mengalami hal ini lagi? Dulu karena Jessica, lalu sekarang Minwoo. Akankah dia masih bisa mendapatkan keajaiban seperti dulu? "Kalau Kyuhyun pergi, kau juga harus melakukan hal yang sama padaku, Minwoo."
Minwoo melotot tidak percaya. Sebegitu besarkah cinta Changmin untuk manusia di pelukannya?
"Aku memang mencintainya sebesar itu, jika kau bertanya-tanya," jawab Changmin santai. Changmin menunduk, menenggelamkan kepalanya diantara lekukan leher Kyuhyun. "Aku tidak berharap banyak, tapi jika keajaiban itu kembali berpihak padaku, aku ingin hidup lebih lama denganmu, Kyu."
Minwoo dan Kris hanya dapat menatap Changmin yang semakin menenggelamkan kepalanya pada bahu Kyuhyun. Tubuh namja itu terlihat bergetar meskipun hanya gerakan samar.
"Aku yakin keinginan Kyuhyun untuk hidup lebih besar," gumam Minwoo ketika melihat Changmin mulai memeriksa pergelangan tangan Kyuhyun. Tampaknya namja itu sedang mencari denyut nadi yeoja itu.
"Minwoo," desis Changmin, menatap Minwoo dengan mata merah. "Lakukan sekarang."
Minwoo menatap Changmin. Hanya menatap tanpa melakukan apa-apa.
Kris buru-buru berdiri di antara kedua orang itu. "Minwoo, kau sudah gila?! Jangan lakukan! Kalau Changmin mati, bagaimana dengan anak-anak mereka?! Jangan turuti perintah si bodoh itu!"
Minwoo menyeringai. "Aku tidak melakukan apa-apa," ujarnya. "Dan kau Changmin, apa denyut nadi istrimu sudah tidak bisa kau rasakan?"
Mata Changmin menyipit. Menunggu penjelasan.
"Jika Kyuhyun berhasil, tidak sampai dua menit lagi kau akan kembali merasakannya." Minwoo berdehem. "Ketika kau tiba-tiba kehilangan denyut nadi si penderita Conquer, saat itu penderita sedang berada dalam masa Conquer. Penaklukan. Akankah dia berhasil, atau tidak. Seingatku masa itu berlangsung sekitar lima menit. Jika lebih dari waktu itu..."
"Changmin?"
Tubuh Changmin menegang seketika. Dia buru-buru menatap wajah Kyuhyun. Mata yeoja itu masih terpejam. Namun dia yakin baru saja mendengar suara yeoja itu. "Kyu?" pandangannya menelusuri tubuh Kyuhyun. Perlahan tapi pasti, dia dapat melihat pergerakan dada Kyuhyun. Menandakan yeoja itu kembali bernapas.
"Semuanya sudah berakhir," ucapnya parau. "Benar, kan?"
Changmin mengangguk kuat, lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun. "It's over, Kyu," ujarnya yakin. "It's over."
oOoOoOoOo
