Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, violence, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 36: For Our Family

Sejak mengetahui tentang pengkhianatan kakaknya, tidak ada yang diinginkan Elliot lebih daripada meninju Vincent sekuat tenaga, tepat di wajahnya.

Tetapi sekarang dia menyadari kalau hal itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.

Hempasan angin kuat yang disebabkan oleh kepakan sayap Demios cukup untuk menghempaskan Elliot beberapa meter ke belakang. Elliot berdecih dan segera memanggil Humpty Dumpty, yang segera muncul di belakangnya.

"Tuan?" tanya Humpty Dumpty ketika dia melihat Demios yang bertengger di atap dengan Vincent di sampingnya, "Kau tidak mengharapkanku melawan makhluk itu, kan?"

"Kau pikir?" geram Elliot.

"Well, bukannya aku takut atau apa, tapi kurasa kekuatanku tidak sebanding dengan makhluk itu."

"Buat saja dia menjauh dari kontraktornya! Sekarang juga!"

"Iya, iya! Dasar tidak sabaran!"

Tanpa membuang waktu, Humpty Dumpty segera melesat ke arah Demios. Demios juga tidak tinggal diam. Begitu dia melihat Humpty Dumpty, dia segera menjerit dan terbang menyongsong Humpty Dumpty. Dalam waktu singkat, mereka berdua sudah bergumul di udara, meninggalkan kedua kontraktor mereka sendirian.

Vincent melompat turun dari atap tempatnya berada dan mendarat dengan mulus beberapa langkah di depan Elliot. Dia menatap adiknya dan tersenyum, "Sepertinya kau lebih senang menyelesaikan ini dengan cara klasik, ya?"

Elliot tidak mau repot-repot menjawab. Dia mengarahkan pistol yang sudah dipersiapkannya ke arah kakaknya dan menembak. Tetapi Vincent bisa menghindari peluru itu dengan mudah. Elliot kembali berdecih dan menembakkan peluru keduanya tanpa pikir panjang, yang juga bisa dihindari oleh Vincent.

"Jangan buang-buang peluru, Elliot!" seru Vincent. "Selalu ada kemungkinan kalau kau akan membutuhkannya nanti!"

"Seperti kau peduli saja!" teriak Elliot geram. Dia menarik sebuah belati dari sabuknya dan melemparkannya ke arah Vincent.

Dengan santainya, Vincent menangkap belati yang dilemparkan ke arahnya dan menyelipkannya di sabuknya sendiri. Dia mengedipkan sebelah matanya ke arah Elliot, yang terang saja menjadi semakin panas. "Terima kasih untuk belatinya, Elliot!"

"Apa kau tidak bisa serius?" teriak Elliot yang benar-benar telah dibuat kesal dengan kelakuan kakaknya yang terlalu santai.

Ekspresi Vincent segera berubah begitu dia mendengar kalimat Elliot. "Kau mau aku serius?" tanyanya dengan nada datar.

Sebelum Elliot sempat membalas perkataannya, Vincent sudah bergerak dan dalam waktu sekejap sudah berada di belakang Elliot. "Kalau itu yang kau mau, aku akan mulai serius dari sekarang!"

.

Sejak awal kelinci selalu menjadi mangsa elang. Tetapi, mungkin hari ini peran itu akan terbalik.

Itulah yang Oz harapkan ketika sabit B-Rabbit bertemu cakar Griphon. Anak laki-laki itu menggertakkan giginya ketika dampak pertarungan chain yang sudah berlangsung selama lima menit itu mulai mempengaruhi tubuhnya. Dalam hati, Oz menyemangati B-Rabbit untuk terus bertarung.

Sementara Oz sendiri sedang berusaha mencari Zai yang menjadi lawannya. Oz bahkan belum menemukan Zai ketika tiba-tiba Griphon menyerangnya tadi. Untung saja B-Rabbit segera muncul, kalau tidak, Oz yakin dirinya sudah menjadi makanan burung.

Alun-alun yang tadinya penuh dengan orang berubah sepi ketika Griphon dan B-Rabbit muncul. Sekarang hanya tinggal Oz beserta dua chain yang sedang berkelahi di atasnya yang berada di alun-alun itu. Oz tahu hanya tinggal masalah waktu saja sebelum polisi menyerbu tempat ini. Tetapi, sebelum mereka datang, dia harus menemukan Zai terlebih dahulu.

"Apa kau sudah menemukan posisi Zai?" tanya Oz dalam hati kepada B-Rabbit.

"Bagaimana aku bisa mencarinya kalau aku sesibuk ini?" jawab B-Rabbit dengan nada kesal.

"Baiklah, kau fokus saja untuk mengalahkan Griphon. Aku akan mencari Zai!"

"Aku tidak tanggung jawab kalau kau terluka," kata B-Rabbit datar.

"Aku juga tidak akan menyalahkanmu kalau aku terluka," balas Oz sebelum dia kembali mencari Zai.

Tiba-tiba, dia melihat sebuah gerakan dari atap sebuah gedung di sampingnya, diikuti dengan suara tembakan yang teredam.

Oz segera melompat ke samping sebelum peluru yang menyasarnya menembus kepalanya. Diam-diam dia tersenyum ketika dia melihat peluru itu menghantam dinding bangunan di belakangnya.

"Kesalahan terbesar seorang sniper adalah membiarkan tembakan pertamanya meleset," gumam Oz. "Aku menemukanmu, Zai!"

.

Peluru itu menyerempet lengan kiri Elliot. Elliot menggertakkan giginya, berusaha menahan rasa perih yang disebabkan luka itu.

Elliot tidak bisa lagi melihat pertarungan Demios dan Humty Dumpty dari tempatnya berada sekarang. Dia dan Vincent sudah bergerak cukup jauh dari tempat mereka sebelumnya berada dalam duel mereka. Sekarang, bahkan dia tidak tahu dimana dia berada.

Elliot menembakkan pistolnya ke arah Vincent, yang berada beberapa langkah di depannya. Peluru itu hanya lewat dengan tidak berbahaya beberapa senti dari kepala Vincent.

Vincent mendecakkan lidahnya, "Sepertinya kemampuan menembakmu belum meningkat sejak terakhir kali aku melihatmu!"

Elliot merutuk dalam hati. Sejak awal, dia memang tidak pernah menguasai subjek tembak-menembak dengan baik, walaupun tidak seburuk Reo. Dia bisa menembak papan-papan target ketika latihan dengan baik. Tetapi menembak target bergerak jauh lebih sulit daripada menembak target yang diam, apalagi kalau targetnya adalah manusia.

Terutama kalau targetnya adalah kakaknya sendiri.

Menyadari kalau pistolnya tidak akan membantunya menang, Elliot membuang pistol di tangannya dan menggantinya dengan sebilah pisau. Dia menerjang ke arah Vincent, yang sudah menanti dengan pisaunya sendiri.

Suara besi beradu dengan besi segera memenuhi tempat itu ketika Elliot dan Vincent meneruskan duel mereka. Untuk kali ini, mereka berdua imbang.

Vincent tersenyum ketika Elliot menyerangnya dengan ganas, "Akhirnya kau mengeluarkan kemampuanmu juga, Elliot! Sebagai kakakmu, aku merasa bangga!"

"Jangan berani-beraninya memanggil dirimu sendiri kakakku, dasar pengkhianat!" teriak Elliot.

"Sudah kubilang kalau aku bukan pengkhianat!" gumam Vincent. "Masa orang sepintar kau tidak mengerti perbedaan antara pengkhianat dan mata-mata?"

"Tentu saja aku mengetahui perbedaannya!" balas Elliot. Dengan satu gerakan cepat, dia menendang tangan Vincent yang memegang pisau. Otomatis, Vincent membuka tangannya dan pisau yang dipegangnya terjatuh ke tanah. Sebelum Vincent sempat mengambil pisau yang lain, Elliot mencengkram kerah baju Vincent.

"Tapi bagiku, kau tetaplah pengkhianat!" geram Elliot kepada Vincent sebelum dia menghantamkan tubuh kakaknya ke dinding terdekat.

"Kau menyeramkan juga kalau sedang marah, Elliot!" komentar Vincent ketika Elliot mendekatkan ujung pisaunya ke leher Vincent. Elliot memilih untuk mengabaikan komentar Vincent.

"Sekarang, ceritakan alasan sebenarnya kenapa kau berkhianat, karena aku tidak percaya kalau kau benar-benar berniat untuk menguasai dunia. Kau bukan tipe orang yang seperti itu."

"Sepertinya hanya kau satu-satunya yang tidak mempercayai apa yang kukatakan kepada Reo, ya?" tanya Vincent sambil tertawa kecil. "Well, mungkin Gil juga menyadarinya."

"Berhenti menyimpang dari subjek dan jawab saja pertanyaanku!" gertak Elliot.

"Apa kau belum menyadarinya?" tanya Vincent. "Tentu saja aku melakukannya untuk kalian berdua!"

"Kau bohong!" seru Elliot.

"Untuk apa aku berbohong?" kata Vincent.

"Untuk apa kau bicara jujur?" Elliot balik bertanya.

Vincent meringis ketika mendengar sindiran Elliot. "Yah, kau punya segala hak untuk tidak mempercayaiku, sih."

"Ceritakan saja apa motifmu sebenarnya!" perintah Elliot.

"Well, kau ingat kehidupan keluarga kita sebelum kau diculik? Sudah berapa kali kita terpaksa pindah karena orang-orang mengusir kita? Empat? Lima? Apalagi ketika mereka mengetahui tentang mataku," Vincent menyentuh mata kirinya. "Hanya karena kita tidak sekaya mereka, hanya karena kita berbeda dari mereka, mereka memperlakukan kita seenaknya. Siapa yang memberi mereka hak untuk melakukan itu, hah?"

"Kemudian Ibu meninggal dan kau diculik. Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah aku dan Gil lalui sejak kau menghilang. Kami berdua selalu berpindah dari satu kota ke kota yang lain, melarikan diri dari orang-orang yang memperlakukan kami seperti kriminal. Sering kali kami nyaris tidak berhasil lolos, dan lebih dari sekali Gil nyaris kehilangan nyawanya ketika melindungiku. Pada saat itu, yang kuinginkan adalah membalas orang-orang yang telah memperlakukan keluarga kita seenaknya. Tetapi, hal yang paling aku inginkan adalah sebuah dunia tempat kita bisa hidup dengan tenang. Kemudian, kami datang ke sini, dan disinilah aku bertemu dengan Glen."

"Glen mengenalkanku kepada Dark Sabrie. Akhirnya, aku melihat kesempatan untuk mewujudkan keinginanku. Aku ingin merubah dunia yang kejam ini, sehingga kau dan Gil tidak perlu menderita seperti dulu lagi. Menurutku, tidak akan ada orang yang berani memperlakukan orang lain seperti kita kalau mereka tahu chain bisa menyerang mereka kapan saja. Ketika Glen mengajakku untuk bergabung, aku berpikir, 'Kenapa tidak? Toh, harus ada sedikit keseimbangan di dunia ini!". Jadi, aku menerima tawarannya, walaupun aku sama sekali tidak mengira kalau aku akan mendapatkan peran sebagai mata-mata."

Vincent mendorong tubuh Elliot menjauh darinya. Elliot, yang sama sekali tidak menyangka kalau Vincent akan menyerangnya, melepaskan cengkramannya terhadap kerah Vincent.

"Apa kau gila? Kau ingin menciptakan kedamaian dengan bantuan chain?" tanya Elliot dengan nada tidak percaya. "Bukannya tadi kau bertanya siapa yang memberi mereka hak untuk melakukan itu?Sekarang aku bertanya kepadamu, siapa yang memberimu hak untuk melakukan ini semua? Kalau kau melakukan itu, kau sama rendahnya dengan orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk dulu!"

"Memang, tidak ada yang memberiku hak," ucap Vincent. "Tetapi, aku tidak melakukan ini semua untuk diriku sendiri. Aku melakukannya untuk kalian berdua, juga untuk orang-orang lain di dunia ini yang bernasib sama seperti kita! Karena itu, aku tidak akan membiarkan siapapun menghalangiku, termasuk kau!"

"Apa yang akan kau lakukan kalau aku melakukannya?" tanya Elliot. "Membunuhku?"

"Aku tidak akan membunuhmu," jawab Vincent. "Tetapi, kalau kau tetap menghalangiku, aku tidak bisa menjamin kalau kau akan selamat tanpa terluka!"

"Aku tantang kau untuk melakukannya!" tantang Elliot. Dia kembali menghunus pisaunya, "Ayo! Lawan aku!"

Vincent menghela nafas, "Sepertinya kau tidak memberiku pilihan, dik."

Dan kemudian dia menyerang.

.

"Well, sepertinya kau tidak sepengecut saudara-saudara kita, Oz!"

Kata-kata itu langsung terdengar oleh telinga Oz ketika dia menyerbu atap bangunan tempat Zai berada. Anak laki-laki yang diburunya memunggunginya di tepi atap. Oz menatap sosok di depannya dengan penuh kebencian.

"Zai!" desisnya.

"Kapan terakhir kali kita berbicara empat mata seperti ini?" gumam Zai tanpa membalikkan badannya. "Oh ya! Aku ingat sekarang! Malam ketika aku bergabung dengan Baskerville. Bagaimana aku bisa melupakannya?"

"Pengkhianat!" geram Oz.

"Yah, kau tidak bisa menyalahkanku sepenuhnya." balas Zai. "Habisnya aku kesal dengan kepengecutan keluarga kita."

"Jangan berani-beraninya menghina keluarga Vesallius, tikus got!" maki Oz. Tanpa membuang waktu, Oz segera menyerbu Zai. Sebuah belati beracun terhunus di tangan kanannya, siap menancapkan diri di punggung Zai yang terekspos.

Sebelum Oz sempat melakukan apa yang diniatkannya, Zai berbalik dan menangkis pisau Oz dengan laras senapan yang tadi digunakannya untuk menembak Oz lima menit yang lalu. Kedua mata hijaunya yang identik dengan milik Oz menatap Oz dengan dingin.

"Vesallius pengecut," hina Zai, membuat Oz semakin panas. "Kita mempunyai Kotak Pandora, tetapi kita tidak menggunakannnya. Semua orang selalu berkata,"Benda itu berbahaya!" "Jangan menyentuh benda itu!" "Lebih baik kalau benda itu tidak pernah dibuat", dan membiarkannya tertutup debu di ruang bawah tanah."

"Karena Kotak Pandora memang berbahaya!" seru Oz. Dia kembali menyerang Zai, tetapi anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua darinya itu bisa menghindar dengan mudah.

"Kalau memang berbahaya, kenapa kita tidak menghancurkannya sejak dahulu? Vesallius terlalu takut untuk menggunakannya, tetapi juga terlalu takut untuk menghancurkannya! Kita hanya bisa bertahan ketika Baskeville menyerang! Kemudian aku berpikir, apa Vesallius benar-benar berniat untuk menghancurkan kedua kotak itu, atau malah berniat untuk menguasainya begitu kita berhasil merebut Kotak Pandora milik Baskerville?"

"Karena itukah kau bergabung dengan mereka?" tanya Oz geram.

"Setidaknya, Baskerville memiliki tujuan yang jelas, tidak seperti Vesallius." balas Zai.

Zai menangkap lengan kanan Oz yang sedang menyerangnya dan memuntirnya, membuat anak laki-laki itu menjerit kesakitan. Sebelum Oz sempat pulih dari kekagetannya, Zai mendorong Oz ke belakang. Sebelum Oz jatuh, Zai mencengkram kerah kemeja Oz.

"Jujur saja, aku kagum kepadamu, Oz." kata Zwei. "Sejak entah berapa ratus tahun lamanya, kau adalah Vesallius pertama yang berani menggunakan Kotak Pandora. Kau berhasil merekrut orang-orang yang memang serius ingin menghancurkan kotak itu. Untuk seorang Vesallius, kuakui itu prestasi yang lumayan."

"Tapi, keluarga Vesallius sudah hancur. Hanya kau, aku, dan Ada yang tersisa dari garis keturunan Vesallius. Aku tidak mengerti kenapa kau masih bersikeras untuk menghancurkan Kotak Pandora. Bukankah akan lebih mudah kalau kau menyerahkan Kotak Pandora itu kepada Dark Sabrie?"

Oz tertawa pelan, seakan-akan dia tidak mempedulikan posisinya yang sangat tidak menguntungkan sekarang. "Menyerah memang pilihan yang paling mudah. Sejujurnya, sudah lebih dari satu kali aku mempertimbangkan untuk menyerah dan membiarkan Baskerville melakukan apapun yang mereka mau."

"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyerah?" tanya Zai.

"Karena, ketika aku melihat realita yang ada, aku menyadari kalau menyerah bukanlah pilihan. Kondisi dunia ini sudah buruk, dan akan semakin buruk kalau mereka menyadari tentang keberadaan Abyss. Dunia ini dan Abyss tidak seharusnya bersatu. Leluhur kita menyadari itu, dan aku juga."

"Vesallius sudah hancur katamu? Ha! Baskerville malah lebih hancur daripada kita! Hanya Glen seorang yang tersisa dari Baskerville! Seharusnya Dark Sabrie yang menyerah! Bukan Pandora! Selama Penyegel Kotak Pandora masih hidup, kalian tidak akan bisa menguasai Kotak Pandora seutuhnya!"

"Kalau begitu," kata Zai pelan. "Itu tidak akan lama lagi."

Oz tersenyum tipis, "Jangan meremehkan Gil!"

Zai melepaskan cengkramannya dan mendorong Oz dengan pelan, membuat tubuh Oz terjatuh menuju tanah lima belas meter di bawah.

.

Elliot sudah tidak bisa mengontrol tubuhnya lagi sekarang. Humpty Dumpty-lah yang kini mengendalikan tubuhnya, membuatnya bergerak dan menyerang dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Tiga bilah belati terselip di sela-sela jari kanannya, siap dilemparkan kepada target yang sedang dikejarnya.

Vincent juga berada dalam keadaan yang sama. Demios sudah mengambil alih tubuhnya sepenuhnya. Dia memegang dua pucuk pistol, satu di masing-masing tangannya. Dia mengarahkan larasnya ke arah Elliot dan menembaknya.

Humpty Dumpty membuat tubuh Elliot untuk menghindari peluru Vincent. Kedua kakinya mendarat di dinding kemudian dia berlari menyusuri dinding, seakan-akan gravitasi tidak berpengaruh kepada tubuhnya.

Elliot terpaksa mempercayai Humpty Dumpty untuk melakukan apapun yang menurutnya perlu. Dia tidak akan bisa mengambil alih tubuhnya kembali dalam waktu dekat.

"Ini sebabnya aku membenci The Last Effort," pikir Elliot. Tetapi dia tidak punya pilihan selain menggunakannya, karena Vincent telah melakukannya terlebih dahulu.

"Kalah bukan pilihan, Humpty!" kata Elliot dalam hati.

"Kau pikir aku tidak tahu itu?" jawab Humpty Dumpty ketus.

Tangan Elliot bergerak untuk melemparkan pisau-pisau yang dipegangnya ke arah Vincent. Ketiga pisau itu melesat ke arah tubuh Vincent dengan cepat, tetapi Demios bisa menggerakkan tubuh Vincent untuk menghindari ketiga misil mematikan itu.

"Sial!" umpat Humpty Dumpty.

"Mungkin kau bisa menggunakan granat?" saran Elliot.

"Oh iya!"

Humpty Dumpty membuat tangan Elliot meraih ke belakang untuk mengambil granat yang sengaja Elliot simpan di saku samping agar mudah meraihnya. Setelah melepaskan picunya, tangan Elliot segera melempar senjata itu ke arah Vincent sebelum berbarik dan berlari dengan kecepatan tidak manusiawi.

Elliot dan Humpty Dumpty sudah berlari cukup jauh ketika Elliot mendengar suara ledakan. Tubuh Elliot berhenti berlari dan menoleh ke belakang.

"Apa kita berhasil melukainya?" tanya Elliot.

"Entahlah, terlalu awal untuk mengetahui itu," jawab Humpty Dumpty. Tiba-tiba, Elliot bisa merasakan tubuhnya menegang.

"Ada apa?" tanya Elliot.

"Kita tidak sendirian di sini," jawab Humpty Dumpty datar.

Suara peluru-peluru yang ditembakkan bersamaan tiba-tiba memenuhi udara.

.

Laju jatuh Oz terhenti ketika tubuhnya mendarat di atas sesuatu yang empuk dan berbulu yang merupakan tangan B-Rabbit.

"Lain kali, jangan seceroboh ini sampai musuhmu bisa mendorongmu jatuh dari atap dengan mudah," tegur B-Rabbit.

"Terserah apa katamu!" jawab Oz gusar. "Cepat bawa aku pergi dari sini!"

"Aku kira kau ingin berduel dengan Zai lagi," kata B-Rabbit dengan nada heran. "Tapi, terserah!"

B-Rabbit melompat dari satu atap gedung ke atap gedung lain. Oz mengintip ke balik bahu Oz dan melihat sosok Zai yang sedang tersenyum sinis semakin mengecil ketika jarak di antara mereka bertambah.

"Omong-omong, dimana ranselmu?" tanya B-Rabbit yang baru menyadari absennya ransel Oz yang selalu setia menemani kontraktornya beberapa jam terakhir.

Oz tersenyum malas, "Tidak mungkin aku menghabiskan waktu lima menit hanya untuk berlari ke atap,kan?"

"Apa mak…" pertanyaan B-Rabbit terhenti di tengah jalan ketika Oz menekan sebuah tombol di jam tangannya.

Oz bisa mendengar suara ledakan yang cukup memekakkan telinga, walaupun dia dan B-Rabbit sudah berada cukup jauh dari tempat bangunan tempat dia dan Zai berduel tadi berada. Anak laki-laki itu kembali mengintip ke bekang dan dia bisa melihat asap hitam yang membumbung ke angkasa.

"Kau licik juga, Oz," komentar B-Rabbit.

"Balas dendam itu manis," gumam Oz datar.

.

Percikan hangat mendarat di wajah Elliot.

Humpty Dumpty sudah tidak mengendalikan tubuhnya lagi. Elliot membuka matanya dan mengusap wajahnya, cairan berwarna merah menempel di tangannya ketika dia mengangkat tangannya ke depan wajahnya. Dia mendongak dan nafasnya terhenti di lehernya.

Vincent berdiri memungginya di depannya, kedua tangannya terentang ke samping. Jaketnya yang berwarna gelap berubah semakin gelap ketika darahnya merembes dari luka yang disebabkan beberapa peluru yang menembus tubuhnya.

"Vincent!" teriak Elliot.

Vincent menoleh dan tersenyum ke arah adiknya, darah mengalir dari ujung bibirnya. Mata kanannya, yang tadi berwarna merah menyala, kini sudah kembali ke warna aslinya. Anak laki-laki itu membuka mulutnya dan berkata,

"Untuk apa aku membuat dunia yang ideal, kalau kau dan Gil tidak ada di sana untuk menikmatinya?"

"Sial!" Elliot bisa mendengar suara umpatan seseorang. Dia menengadahkan kepalanya dan melihat lima orang sniper yang berlutut di atap, masing-masing dari mereka memegang sebuah senapan berperedam. Salah satu dari mereka berteriak kepada Vincent.

"Oi, Vincent! Apa sih yang kau pikirkan?" teriaknya.

"Seorang kakak tidak akan berdiri diam ketika melihatnya adiknya dalam bahaya, kan?" tanya Vincent.

"Kalau begitu kau kan bisa mendorongnya menjauh atau apa! Untuk apa kau memerisainya seperti itu, hah?"

"Yah, aku tidak bisa berpikir jernih tadi," kekeh Vincent sebelum terbatuk-batuk. Percikan darah baru kini menodai tanah tempatnya berdiri.

"Vincent!" seru Elliot ketika dia melihat keadaan kakaknya.

"Kenapa kau masih diam di sana, Elliot?" tanya Vincent. "Pergilah selagi kau masih bisa. Orang-orang itu pembunuh berpengalaman, kau tahu?"

"Tapi,,," Elliot mulai membantah, tetapi kalimatnya kembali dipotong oleh Vincent.

"Aku senang kau mengkhawatirkanku, walaupun aku tidak pernah menjadi kakak yang baik. Tenang, aku tidak akan mati hanya karena beberapa peluru." kata Vincent.

Elliot bangkit berdiri, "Jangan berani-beraninya kau mati begitu saja!" dia memperingatkan. "Aku masih belum selesai menghajarmu karena apa yang telah kau lakukan kepada Pandora, terutama Reo dan Gil!"

"Aku tidak akan mati semudah itu," Vincent berjanji. "Pada akhir hari ini, akan ada mimpi yang terwujud, dan akan ada mimpi yang hancur sepenuhnya. Aku ingin melihat siapa yang akan menang nanti, mimpiku? Atau mimpimu? Aku tidak akan bisa mati dengan tenang sebelum aku mengetahui hasilnya!"

Elliot membalikkan tubuhnya, "Sebelum itu terjadi, kusarankan kau bertemu dengan Gil terlebih dahulu," katanya dengan suara pelan. "Selain Zwei, dialah yang paling terpengaruh oleh kepergianmu. Kau harus meminta maaf kepadanya."

"Aku akan melakukan itu."

Tanpa menoleh ke belakang, Elliot berlari meninggalkan tempat itu.

.

Alice dan Echo nyaris mati karena kaget ketika B-Rabbit tiba-tiba muncul begitu saja di depan mereka.

"Yo!" Oz melompat turun dari tangan B-Rabbit dan menyapa kedua gadis itu.

"Oz! Kau nyaris membuat kami mati terkejut!" protes Alice. Echo mengangguk kecil, menyetujui perkataan Alice.

"Maaf!" Oz meminta maaf. Sementara itu, sosok B-Rabbit di belakangnya berdenyar dan menghilang.

"Kalian tidak terluka, kan?" tanya Oz kepada Alice dan Echo.

"Well, sedikit luka bakar, beberapa luka sayatan, dan kaki yang keseleo," jawab Alice sambil menunjuk kaki Echo.

"Sepertinya kau tidak perlu menyebut bagian yang terakhir," komentar Echo datar.

Alice mengabaikan perkataan Echo dan balik bertanya kepada Oz, "Kau sendiri? Lawanmu adalah Zai, bukan? Bagaimana nasibnya sekarang?"

"Yah, kalau dia tidak terpanggang menjadi arang tadi, kurasa dia menderita luka bakar yang cukup serius sekarang," jawab Oz santai.

"Dasar sadis," gumam Echo.

Ekspresi Oz berubah serius. "Cukup mengobrolnya! Ada kabar dari Ada?"

"Dia sedang menuju lokasi Break dan Sharon berada sekarang," jawab Alice. "Elliot sedang mencari Reo, yang berhasil dikalahkan Fang."

Oz mengangguk, tanda kalau dia mengerti. "Yah, kurasa kita harus mencari mereka sekarang. Tujuh dari delapan duel sudah selesai, delapan dari sembilan kalau kau juga menghitung Ada. Berarti hanya ada satu duel yang masih berjalan hingga sekarang…"

"Gil," bisik Echo. "Aku bertanya-tanya apakah dia baik-baik saja…"

.

Break merasakan Sharon bergerak di pelukannya. Dia menunduk dan dengan lega melihat Sharon mulai membuka matanya.

"Akhirnya kau sadar juga, Sharon," gumam Break.

"Break…" kata Sharon lemah. Dia berusaha bangkit, tetapi Break segera menghentikannya.

"Jangan terlalu banyak bergerak, Sharon!" Break memperingatkan. "Kau masih belum pulih sebelumnya dari efek Pemutusan."

"Kurasa aku tidak akan bisa pulih," kata Sharon. "Yang lain?"

"Semuanya selamat," jawab Break. "Ada sedang dalam perjalanan ke sini."

Sharon mengangguk lemah, kemudian kembali menutup matanya. "Aku senang kau baik-baik saja, Break," gumamnya pelan.

Mereka terdiam selama beberapa menit hingga mereka mendengar seseorang meneriakkan nama mereka.

"Break! Sharon!"

Ada berlari ke arah mereka. Rambut pirang panjangnya berkibar di belakangnya selagi dia berlari secepat mungkin. Dia sudah melepaskan jas putihnya dan sekarang mengenakan pakaian kasual. Sebuah ransel yang tampaknya berisi peralatan P3K bertengger di punggungnya.

Gadis itu berlutut di samping Sharon dan segera bekerja. Sharon mengerang pelan ketika Ada merawat lukanya, walaupun Ada sudah berusaha untuk melakukannya selembut mungkin.

"Ini harus dijahit," gumam Ada. "Sayangnya, aku tidak punya alat maupun keterampilan untuk melakukannya. Kita bisa membawanya kembali ke rumah, tetapi Revis juga sudah pergi untuk menangani korban-korban dari pihak Reinhart."

Ada mengeratkan ikatan terakhir dari perban yang melilit lengan kiri Sharon. "Yah, kurasa ini akan membantu mengurangi pendarahan." katanya.

"Trims, ada!" kata Break.

"Tidak perlu berterima kasih kepadaku," gumam Ada. Dia bangkit berdiri dan kembali memasang headphone yang tadi dia kalungkan di lehernya.

"Aku akan menghubungi Nii-chan," Ada memberitahu Break.

Break mengangguk dan membiarkan Ada menghubungi Oz. Sharon sudah kembali tidak sadarkan diri. "Kalau si tikus got saja butuh waktu dua minggu untuk sadar, kemungkinan besar Sharon tidak akan pulih dalam waktu dekat," pikir Break. "Dia bisa bangun tadi saja sudah merupakan keajaiban."

Break tersentak dari lamunannya ketika Ada berbicara, "Elliot sudah berhasil menemukan Reo. Nii-chan, Alice, dan Echo sedang menuju ke sana sekarang. Dia bilang kita harus ke sana dan kemudian kita semua bisa pergi ke tempat Gil bersama-sama."

"Duel final, eh?" tanya Break muram.

Ada mengangguk pelan, "Iya. Kau bisa menggendong Sharon, Break?"

"Kau pikir?" kata Break. Dia mengangkat tubuh Sharon dan bangkit berdiri. "Aku pernah membawa sesuatu yang lebih berat!"

"Sharon akan membunuhmu kalau dia bisa mendengar perkataanmu tadi, Break," komentar Ada.

"Tetapi, dia tidak bisa mendengarnya, kan?"

.

Elliot menemukan Reo berbaring di atas puing-puing ledakan bom Fang. Dia mendecakkan lidahnya dan melangkah ke arah sahabatnya.

Reo membuka kedua matanya yang tadinya tertutup ketika dia mendengar suara langkah kaki Elliot. "Kukira kau tidak akan pernah datang," gumam anak laki-laki itu. "Lama sekali, sih? Aku sudah hampir mati tahu!"

"Hey! Aku juga punya musuh untuk dikalahkan!" sungut Elliot. Dia mengeluarkan antidote yang diambilnya dari tas Rufus dari sakunya dan berlutut di sampingnya.

Reo sudah tidak punya kekuatan untuk bergerak lagi, jadi Elliot terpaksa menyangga kepalanya agar Reo bisa meminum antidote itu. Anak laki-laki itu tersedak ketika cairan itu memasuki mulutnya.

"Pahit!" protesnya.

"Jangan protes!" kata Elliot kesal. "Salah sendiri kau membiarkan dirimu diserang seperti itu!"

"Hey! Bukan salahku kalau Fang mempunyai chain yang begitu kecil hingga baik aku maupun Jabberwock tidak menyadari keberadaannya!"

Elliot membaringkan Reo kembali, kemudian dia duduk di sampingnya. Ada bilang kalau dia dan Reo harus menunggu yang lain di sana. Dia berharap mereka semua cepat datang. Dia tidak suka menunggu lama-lama.

Tidak butuh waktu lama sebelum dia melihat Alice, Oz dan Echo berjalan ke arah mereka. Alice memapah Echo yang kakinya masih pincang. Oz melambai ke arah Elliot.

"Akhirnya kalian datang juga," kata Elliot ketiga mereka bertiga sudah sampai di hadapannya dan Reo.

"Kami sempat nyasar tadi," kata Oz sementara Alice membantu Echo duduk di samping Reo.

"Kau baik-baik saja?" tanya Echo kepada Reo.

"Sebaik orang yang habis ditusuk pisau beracun bisa," gumam Reo.

"Kau harus melihat ekspresi Echo ketika Ada memberitahunya kalau kau terluka, Reo!" kata Alice.

"Hey!" protes Echo.

"Kemana yang lain?" tanya Elliot kepada Oz.

"Seharusnya mereka datang sebentar lagi," kata Oz. Kemudian, dia menunjuk ke belakang Elliot. "Itu mereka!"

Benar saja. Ketika Elliot menoleh ke belakang, dia bisa melihat Ada dan Break, beserta Sharon yang beradai di gendongan Break, berjalan ke arah mereka. Dalam waktu singkat, mereka bertiga telah bergabung dengan mereka.

"Lengkap sudah," gumam Alice.

"Jadi, sekarang kita ke tempat Gil berada?" tanya Ada.

"Tentu saja," jawab Oz. "Ini adalah duel penentuan. Siapakah yang akan menang nanti? Dark Sabrie? Atau Pandora?"

TBC

A/N:

Diselesaikan ketika Aoife seharusnya belajar untuk ulangan biologi besok…

Minna! Hontou ni gomennasai! Aoife gak bisa menepati janji Aoife untuk menyelesaikan PSC pada saat liburan! Ampun seribu ampun! (_ _) #efekfilmpaspelajaranindonesi a

Jadi, sekolah udah kembali dimulai, tugas-tugas mulai mengalir masuk, dan kesibukan eskul kembali dimulai… Ah, Aoife kangen liburan…

O iya! Aoife minta maaf kalau chapter ini aneeehhh banget! Kebanyakan kalimat yang diulang lah, typo lah, adegan gak jelas lah, semuanya! Sumpah, ide Aoife mandek-dek-dek di tengah jalan!

Well, RnR, guys?

P.S. Shoutout spesial buat thefreakwithalaptop, yang sudah sukses membuat Aoife jantungan di angkot karena review-reviewnya. Sorry kalau fanfic ini gak ada unsur fujodanshinya v(_ _)v Saya memang bukan fujodanshi. Tapi saya pernah nulis fanfic yuri, tapi pake bahasa Inggris (coretsayamantanfudanshicoret ). Kalau mau dibaca, silahkan! Pairnya AliceEcho #ehmalahpromosi

Jaa!