THE ANOTHER BLACK
Disclaimer: all part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer…
.
.
Tiga puluh empat - Hilang (Kamping -7-)
Tuesday, January 22, 2013
5:47 PM
.
.
Entah mengapa, rasanya dari sekian tahun berada di bawah kepemimpinan Jacob, baru kali ini Collin benar-benar merasa senang.
Melarikan kaki di tanah, ia membunyikan langkah sesuai dengan irama hatinya. Tap tap, tap. Tap, tap, tap. Bahkan rasanya kini pun detak jantungnya seirama menyenandungkan nada dinamis nan riang gembira.
Jacob memerintahkannya menjaga Korra! Tepat di depan kemah Korra! Dia tidak menghardik dengan kalimat 'Jauhi Korra atau kubunuh kau' khasnya yang biasa. Sang Alfa mempercayakan padanya untuk melindungi adiknya, gadis yang ia cintai. Apa lagi yang bisa lebih indah lagi untuk hari yang berat dan menegangkan ini?
Memang masih tidak ada ucapan terima kasih sama sekali dari mulut Jacob, atau bahkan izinnya agar ia bisa melangkah lebih dekat. Tapi ini cukup untuk saat ini. Mendapat kesempatan untuk menjadi berguna untuk gadis yang ia cintai adalah anugerah terbesar dalam hidup.
Apa itu, Cole? Hentikan bermimpi dan cepat kesini! suara Adam menghampirinya.
Ya, tentu aku kesana secepatnya, Adam. Kau sudah mulai patroli? Bagaimana kondisi Brad?
Setelah melakukan tindakan pertolongan pertama terhadap Brady, Adam menghubungi Caleb untuk menjemput Brady dan membawanya ke rumah Cullen. Tempat itu belakangan menjadi rumah sakit untuk kawanan jika terjadi sesuatu yang serius. Tentu saja alasannya adalah karena ketersediaan peralatan medis yang mendukung, sehingga mereka bisa melakukan tindakan berat tanpa perlu bersentuhan dengan prosedur medis normal di rumah sakit. Tapi sejauh ini, tetap selain para Quartad, hanya Caleb dan Adam yang berani menyeberang. Keduanya jelas sudah jauh mengurangi penjagaan terhadap para Cullen, terutama terhadap Carlisle, sejak si dokter vampir itu terang-terangan memuji pekerjaan mereka sewaktu operasi Adam.
Kuharap membaik, sahut Adam. Aku sudah mencabuti semua pecahan yang terlihat dan membetulkan tulang-tulang dan sendinya. Sejauh yang kubisa. Dan tampaknya sekarang Caleb sedang melakukan rontgen untuk mengetahui kondisi totalnya.
Collin langsung muram mendengarnya. Baik perasaan maupun pikirannya.
Mungkin besok aku harus ganti jadwal dengan anak lain, Cole... Adam memulai lagi.Tindakan operasi total tidak bisa Caleb atasi sendiri, aku harus membantunya.
Memangnya separah itu?
Tidak tahu. Menunggu hasil rontgen untuk inspeksi menyeluruh. Tapi mungkin tetap harus dilakukan operasi, Cole. Kami perlu mencabut pecahan-pecahan kayu dan batu yang tertinggal di dagingnya. Aku takut semua itu mengganggu pergerakan otot-ototnya kalau berubah.
Tapi toh ia takkan mengalami infeksi walau kayu-kayu itu masih menancap di dagingnya beberapa jam lagi, kan?
Yah, soal infeksi sih aku tidak khawatir. Asal ia tidak bergerak-gerak saja sementara, supaya tidak ada jaringan yang terluka.
Yah, berharap saja tidak...
Pikiran Collin tampak blank. Tentu saja, ini menyangkut sahabatnya, Brady. Tapi sesaat kemudian berbagai kemungkinan aneh simpang siur di kepalanya. Hingga rasanya Adam mendengar pemuda itu berteriak merana.
Hei Cole, kau tak apa? tanyanya khawatir.
Ya, tak masalah. Hanya memikirkan Brad...
Ia akan pulih, Cole...
Semoga...
Jeda sebentar sebelum Collin berusaha menata ulang pikirannya. Menyabarkan dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan diri bahwa Brady ada di tempat dan di tangan orang yang tepat. Ia berulangkali mempertanyakan mengapa ia tidak ada di samping Brad di saat seperti ini. Tapi sebagian sisi lainnya berusaha memberi jawaban lain yang lebih logis. Berkata ia lebih dibutuhkan di sini ketimbang di sisi Brady, dan lain sebagainya.
Pikirannya begitu kacau dan tarik menarik hingga tanpa sadar membuat Adam ikut menggigil.
Omong-omong Cole…, Adam berusaha menarik topik lain. Jangan sampai tanpa sadar Collin menciptakan tembok mental dalam kegalauannya dengan situasi sang sahabat. Bagaimana jalannya pertemuan dengan si Alfa kawanan lain itu?
Mana kutahu! Collin terdengar kesal. Mereka langsung mengusirku begitu Jake datang. Dan aku tidak bisa melihat atau mendengar apapun. Sudah jelas Jake dan Seth memasang selimut mental mereka lagi.
Hahhhh, capek selalu menghadapi rahasia... keluh Adam. Dan Collin setuju.
Collin jelas berusaha mengatasi kekisruhan hatinya perkara Brady dengan menjadikan urusan Korra sebagai bahan bakar keriangan hatinya.
Masa bodohlah, Ads... Siapa juga yang mau menguping pembicaraan para atasan? Aku jauh lebih senang begini... dan Adam mengerang mendengar bait lagu ceria mendadak muncul di kepala Collin.
Emosi Collin bagai roller-coaster belakangan. Ia bisa marah, lalu senang, lalu sedih, lalu senang lagi dalam hitungan menit. Adam kadang merasa perlu mendatangkan psikiater untuk memeriksakan kesehatan mental anggota kawanannya. Jacob memang dari dulu kepalanya ruwet. Tapi belakangan Adam mulai menyadari bahwa Alfa mereka mungkin mengidap inferiority complex. Di balik sikap sok-kuasanya, ia pastinya selalu merasa diperbandingkan dengan Sam. Ditambah lagi ia kadang mendadak punya kecenderungan skizofrenia. Oh, Sam sendiri jelas pengidap superiority complex akut. Si Beta Seth punya obsesif-kompulsif dengan si serigala hitam. Jangan-jangan Collin juga, selain sakit cinta, mulai menunjukkan gejala bipolar disorder? Hypomanic? Cyclothymia? Tidak, tidak... gejala perubahannya terlalu cepat... ini mungkin ultradian...
Apa itu Ultraman dan Cyclops, Ads? The X-Men? Apa Jake bikin istilah ngawur dari perbendaharaan film superhero lagi? Collin jelas bingung. Tapi keceriaannya masih tak tergoyahkan.
Adam mengerang, menghapus bagian analisa psikologi serampangan itu dari kepalanya. Jangan sampai ia ikut tertular wabah penyakit berpikir-acak Jacob. Collin jelas sudah tertular.
Stop bernyanyi dan cepat kesini, Cole!
Hehehe... Sedikit lagi... Tidak sabaran sekali kau...
Adam tengah berkeliling ketika Collin berpapasan dengannya di salah satu titik di luar batas Zona Radius 1 km.
Hei, kau mau kemana? tanya Adam ketika Collin santai saja melewatinya, masuk lebih dalam lurus ke dalam area perkemahan, sambil mengendus-endus dan dengan lincah menghindari jebakan Korra.
Kau tidak dengar nyanyian suara hatiku dari tadi? Jake kan menyuruhku berjaga langsung di depan tenda...
Mana aku sadar kalau pikiranmu campur aduk dengan Justin Bieber begitu? gerutu Adam. Hati-hati, jauhkan tanganmu dari adik Jake, Cole! Hal terakhir yang aku inginkan adalah mencabuti kuku-kuku Jake dari dagingmu.
Kau yang hati-hati, Adam. Jangan berputar terlalu sering, nanti kau jatuh ke dalam jebakan Korra.
Kau yang jelas-jelas cari mati masuk ke pusat jebakan itu sendiri, ejek Adam.
Collin tidak mempedulikannya.
Melewati sekitar 500 meter, ia mencari tempat aman dan gelap untuk berubah, dan menarik gulungan celana pendek dan kaos dari ikatan di kakinya. Untung saja ia telah mengantisipasi, jika tidak bisa dibilang terus berharap dan menanti-nanti kesempatan seperti ini, sehingga sudah mempersiapkan sebuah T-shirt dalam bekal baju gantinya. Tipis memang, tapi tetap T-shirt.
Ia sudah mengintip dari benak Jacob, adegan insiden-kesalahpahaman-tidak-jelas kedua bersaudara itu tadi siang. Kesimpulannya, tampaknya Korra agak-agak takut dengan cowok setengah telanjang. Kelewat protektif dengan dirinya sendiri, paranoid bahkan. Yang jelas ia tidak ingin Korra memandangnya yang bukan-bukan, kalau ia kebetulan bertemu
dengan gadis itu.
Yah, memang ia diam-diam berharap bertemu, sebetulnya. Walau jelas ia pasti bingung menjelaskan alasan keberadaannya. Ditambah itu berarti melanggar titah Jake.
Tunggu, tadi itu Jake menurunkan Titah tidak, ya?
.
.
Bau Korra terasa di seantero hutan, demikian ia memperhatikan setelah memasuki Zona Radius 1 km. Begitu pekat dan intens. Ia sampai hampir tidak bisa membedakan mana rute baru dan rute lama, saking seringnya Korra berbalik berputar-putar merambah hutan berkali-kali. Jacob memang bilang adiknya terus menyiapkan perangkap, mencari jejak, dan entah kegiatan-di-alam-liar apa lagi seharian, jadi itu wajar saja. Jake jelas menganggap adiknya freak. Tapi menurut Collin itu justru unik. Cewek agresif yang bukan sekadar pecinta alam, tapi juga perambah hutan sekaligus pemburu ulung. Bagaimanapun, patut diakui cukup seksi. Hot.
Heh, apa? Seksi?
Oh, untung saja sekarang ia dalam bentuk manusia. Jangan sampai Adam menangkap pikirannya ini. Dia mungkin dokter kawanan yang hebat dan salah satu Sectad, tapi anak itu tidak bisa membuat tembok mental sama sekali. Dan jika Jake menangkap pikirannya dari Adam, pasti ia akan ditarik dari tugas ini dan malah didetensi patroli di wilayah Cullen.
Oh, sungguh ia tak mau menginjak wilayah itu lagi. Buru-buru ia mengenyahkan memori sekitar sebulan lalu, ketika hampir menjadi daging cincang oleh sekitar selusin vampir di sana.
Amit-amit jabang bayi. Mimpi buruk!
Mendekati perkemahan, ia mencium bau Korra makin intens. Ditambah bau Billy dan Jake. Tentu saja, mereka ada di sana seharian. Tapi tidak ada suara apapun selain dengkur Billy.
Ada dua tenda di sana. Tenda yang lebih besar ia asumsikan sebagai tenda Billy dan Jake, dan yang lebih kecil, dengan bau Kora yang lebih pekat, tidak lain pasti tenda Korra.
Mati-matian menahan keinginan untuk menyingkap tenda Korra, Collin memaksakan dirinya bergerak ke tumpukan kayu bakar di tengah lapangan. Apinya masih menyala, walau kecil. Ia memang pasti bisa tahan dalam dingin dan matanya pun cukup bisa melihat sekeliling dalam gelap, tapi tarian api sepertinya akan membuatnya lebih nyaman. Membuatnya dapat menenangkan diri dan mengalihkan perhatian dari hal-hal lain. Mengalihkan dari keinginan untuk menyelinap ke tenda Korra dan mengintip saat gadis itu tidur, tepatnya. Mungkin melihat wajah manisnya kala terpejam... Atau menyentuh bibir lembutnya barang sejenak... Mengecupnya sedikit, mungkin? Atau mungkin memeluknya?
Ugh! Bagaimana mungkin ia bisa punya pikiran macam itu?
Dasar cabul! ia memaki dirinya sendiri. Hentikan, Cole!
Ia menyurukkan sebatang kayu bakar dengan hati-hati ke tengah api, berusaha sekecil mungkin menimbulkan suara. Diperhatikannya api membesar dan melakukan tarian dalam ritme yang aneh kala melalap bahan bakar baru. Suara derak kayu meningkah di bawah hening dan kelamnya malam.
Collin merentangkan otot-ototnya sejauh mungkin sambil menguap lebar, kemudian tiduran di batu ceper yang berselimut kuat bau Korra.
Ah, Korra... Kapan ia terakhir benar-benar menghabiskan waktu seperti dulu dengan gadis itu? Sehari setelah sidang Jacob, ya... Sejak itu ia agak jarang bertemu Korra. Korra selalu pulang cepat, tidak lagi menunggunya untuk pulang bareng seperti biasa. Waktu istirahat pun, gadis itu tidak pernah mojok bersama ia dan Brady dengan bekal di tangan seperti biasa. Bagaimanapun ia merasa ini pasti ada hubungan dengan sidang Jacob. Korra pastinya tahu ia membela Jacob di sidang, mungkin dari Billy, dan membencinya kini. Korra jelas menganggapnya bagian dari geng bully Jacob, dan mungkin sekarang sudah mencapnya pengkhianat karena membela sang kakak.
Tapi memang, Cole harus akui, mungkin Jake benar, ada yang aneh dengan gadis itu. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pada hari setelah sidang, hal yang dilakukan gadis itu di sekolah. Dan dari memori Jake...
Apa Korra memang sudah berubah?
Tapi jika begitu, seharusnya pikiran Korra dan dirinya sudah saling terhubung...
Dan kini Jake jelas mengembangkan sikap antipati yang lebih lagi pada adiknya. Hal itu berjalan dua arah, sebenarnya. Masing-masing memendam dendam dan perasaan buruk satu sama lain. Setelah Brady jatuh, apalagi.
Tapi itu jelas kecelakaan. Korra tidak mungkin sengaja mencelakai Brady. Brady sahabatnya sendiri. Dan Collin tidak menyalahkan Korra. Lagipula, mana mungkin Korra tahu kalau serigala yang berkeliaran, jelas menurutnya ancaman, adalah Brady? Ia bahkan tidak tahu kalau para serigala itu berusaha menjaga keluarganya.
Collin mendesah berat dan memejamkan mata. Tidak benar-benar tidur, hanya berusaha meringankan pikirannya, berkonsentrasi pada sisa bau Korra. Membiarkan kehangatan yang menguar menyelimuti tubuhnya, membungkusnya... Menenangkannya.
.
.
Tepat ketika tiba-tiba didengarnya gemerisik dedaunan yang terlalu ribut di sisi utaranya. Dan kemudian bau Adam menguat, mendekat. Cepat.
Adam masuk ke dalam Zona Radius 1 km? Dan mengapa dari suaranya langkah kakinya, ia terdengar begitu terburu-buru? Dan kelihatannya Adam tidak berhenti dulu untuk berubah menjadi manusia.
Collin terhentak ketika akhirnya ia menangkap sosok serigala Adam di balik tirai pepohonan. Adam berani menampakkan diri? Ini bukan masalah sepele kalau begitu.
Adam memberi kode agar Collin mengikutinya, dan kembali menghilang.
Ia tahu ia tidak bisa mendengar atau mengerti apapun dalam wujud ini. Jadi ia bergegas meluncur ke balik pepohonan, mengikuti Adam. Tidak sempat ia menemukan tempat tersembunyi untuk berubah. Ia bahkan tidak keburu melepas pakaiannya.
Apa Adam? serunya begitu wujudnya berganti menjadi serigala coklat kemerahan.
Aku mencium bau lintah mendekat, Cole.
Lintah?!
Dan banyak. Bergerombol. Tidak akan mungkin bisa kukalahkan sendirian.
Kalau begitu kita panggil bantuan.
Bocah-bocah di teritorial Quileute tidak ada yang patroli malam ini. Quil dan Embry di wilayah Cullen tidak bisa kujangkau.
Harry?
Harry menjadi asisten Caleb.
Ia baru menyadari itu. Malam itu yang patroli di teritorial Quileute adalah Caleb dan Harry. Mereka tentunya berubah balik untuk mengantar Brady ke rumah Cullen. Dengan adanya Brady terluka, boleh jadi Quil dan Embry seperti biasa menjadi pembantu umum, mencari morfin atau semacamnya ke kota untuk persiapan operasi Brady. Atau malah tidur di rumah Cullen.
Shift Ben dan Pete baru mulai sesudah fajar, sedangkan shift Clark dan Josh sudah berakhir pada senja tadi. Tidak ada anak yang merasa perlu untuk menggantikan jadwal Caleb dan Harry yang kosong, karena yang mereka tahu, sudah ada setidaknya empat serigala yang bisa diandalkan di tanah mereka.
Kalau begitu hubungi Jake dan Seth, perintah Collin. Dan ia sendiri sibuk mencari-cari jejak pikiran mereka di kepalanya. Tidak ada.
Kau lupa, mereka memasang tembok mental, tunjuk Adam.
Oh, brengsek!
Ini artinya hanya mereka berdua yang harus menjaga tempat itu. Setidaknya hingga Jake dan Seth selesai dengan entah pertemuan apa mereka dengan kawanan lain itu. Seharusnya tidak lama lagi.
Dari arah mana bau mereka, Adam? tanya Collin, suara dan pikirannya tegang.
Selatan, jawab Adam.
Tentu saja. Sebelah barat mereka adalah danau. Tidak ada yang datang dari arah danau.
Kalau begitu, buat pagar berlapis. Kau jaga tenda dalam radius 300 meter, di batas area perkemahan. Aku 200 meter di depanmu. Kita harus sejauh mungkin dari jebakan Korra. Tugasmu menghadapi lintah yang lolos dariku. Usahakan para lintah tidak mendekati tenda, perintah Collin. Ia harus memegang kendali sekarang.
Baik, jawab Adam. Dia kelihatan tenang, tidak terlalu bersemangat seperti anggota gengnya, tapi lebih antisipatif.
Ketegangan merayapi Collin sementara mereka bergerak ke posisi. Ia sudah bisa mencium mereka, makhluk-makhluk haus darah. Merengsek masuk, bergerak di antara rapatnya pepohonan.
Setidaknya pepohonan itu jadi benteng alam pertama mereka. Tidak cukup untuk menahan semua serangan, tapi setidaknya para penyerang mereka akan datang satu-satu. Dan ia punya waktu untuk menyerang mereka selagi mereka berusaha mengendus keberadaannya.
Jacob selalu berkata bahwa hutan tidak memberi kedudukan yang menguntungkan. Ia selalu menghindari pertempuran di hutan, bicara soal vampir selalu mengincar tempat tinggi, seperti pepohonan, untuk menyerang mereka dari atas. Atau perkara ia tidak bisa bergerak bebas. Jacob adalah tipe petarung lapangan. Seperti Seth. Ia harus melihat semua lawannya, memperhitungkan gerakan mereka. Menyerang dan bertahan. Pertarungan yang jujur.
Tapi ia tidak. Ia suka hutan. Hutan adalah labirin. Dan bukan berarti ia tidak bisa memperhitungkan gerakan lawannya di situ. Ia bisa menggunakan kerapatan pepohonan untuk menyelinap. Jurang dan tebing sebagai batas. Sungai sebagai akses. Bayang-bayang gelap untuk mengintai. Memperhitungkan semua gerakan lawan yang bereaksi pada segala bentang alam di sekitarnya, menjebak dan menyerang mendadak. Itu prinsipnya.
Dan di sini ia akan mempertaruhkan prinsipnya itu.
.
.
Tidak sampai hitungan menit ketika akhirnya ketakutan itu berwujud.
Collin bisa merasakan ketika aliran udara di sekitar mereka berubah tanda makhluk-makhluk dingin menyerbu. Dengan sigap ia maju, menyelinap di balik pepohonan. Menyerang satu yang kelihatannya tidak menyadari keberadaannya. Namun tampaknya serangannya itu membuat keberadaannya diketahui, dan kini seekor lintah lain dengan ganas menerjangnya.
Ia mengumpat seraya menangkis serangan vampir itu, menghindar sembari menyelinap di antara pepohonan, dan balas menerkam dari belakang. Vampir itu terjepit di antara pohon dan taring Collin, untuk kemudian dengan mudahnya termutilasi.
Namun pada saat yang sama dua lintah lolos dari deret pohon yang lain, dan terlambat ketika Collin menyadari bahwa bentengnya telah tertembus. Dan kini penyerang lain sudah di depan matanya, membuatnya tidak bisa berbalik mengejar dua lintah tadi.
Ini bagianku, Cole! teriak Adam.
Dua vampir yang lolos dari Collin itu merengsek ke pagar lapis kedua, dan hampir saja menerkam Adam dari arah yang berlawanan. Untungnya Adam tepat waktu menghindar. Dan ketika kedua vampir itu menghindari tabrakan satu sama lain, Adam kembali menerjang. Cakarnya menyayat keduanya sekaligus. Jatuhnya mereka dimanfaatkan Adam untuk merobek-robek mereka tanpa ampun.
Di lapis pertama Collin berhasil melumpuhkan lawan ketiganya dan kini mengincar lawan keempatnya. Tapi musuh-musuh baru terus datang bagai gelombang, menembus tanpa memberinya waktu untuk menghalau.
Collin, kita tidak akan menang di sini! teriak Adam, demi dilihatnya kian banyak penyerang yang lolos dari pertahanan Collin.
Collin menggemeretakkan gigi, mengendap dan menyerang vampir bertubuh kecil yang kelihatan terlalu bersemangat. Dan pada saat yang sama seekor lain melompat menungganginya. Ia menggeram marah, memelantingkan tubuh, menjadikan kakinya sebagai pijakan untuk mengambil ancang-ancang melompat. Tubuh penunggangnya terhimpit di antara dirinya dan pohon besar yang hampir pecah oleh bobot tubuhnya, dan dengan mudahnya ia berbalik mengoyak-ngoyak tubuh itu.
Ia makan terlalu banyak waktu untuk serangan bertahan itu, dan kini tak kurang dari tiga lintah sudah merengsek menembus pagar kedua.
Collin! teriak Adam lagi. Jelas ia juga kewalahan di sana.
Memang benar, mereka takkan menang di sini.
Collin, mereka akan menembusku! Pikirkan Billy dan Korra, Cole!
Benar, kekalahan benteng mereka akan berakibat fatal tidak hanya bagi Collin dan Adam. Tapi juga yang lain, orang yang seharusnya ia lindungi: Billy dan Korra.
Kepala Collin dipenuhi berbagai rencana. Strategi. Tidak ada yang sempurna.
Ia sudah sering melatih teknik bertarung dengan gengnya, tapi jujur saja, baru kali ini ia bertempur bersama Adam. Ia pernah berlatih bersama seluruh kawanan di bawah perintah Seth dan Embry, atau turun langsung ke pertempuran di bawah komando Sam dan Jacob. Tapi ia tidak pernah memimpin siapapun selain gengnya. Dan mereka sudah memiliki sistem kerjasama tersendiri yang unik dan kompak.
Tidak apa, Cole. Aku coba menyesuaikan, kata Adam. Ada rencana?
Ada tapi tidak terlalu bagus. Dan ia memproyeksikan rencananya. Dua, tepatnya. Satu tidak lebih baik dari yang lain.
Collin, itu bunuh diri!
Musuh kita tidak hanya satu atau dua, Adam...
Justru itu! Kita takkan membiarkan Korra dan Billy terekspos!
Cih, Collin memaki. Benar. Ia tak bisa meninggalkan pertahanannya.
Korra seharusnya segera berubah sekarang, ia mengutuk. Serangan vampir sebanyak ini dan ia masih belum terpicu?
Justru pada saat itu dirasakannya aliran udara di sekitarnya berubah. Dan ia makin terpana ketika disadarinya apa penyebabnya.
Sosok serigala lain bergabung. Bulu pirang keemasannya agak gelap dalam malam tanpa bintang. Ikut bertarung di sisinya.
Korra? tanpa sadar ia berharap. Tapi sesaat kemudian ia terpaksa harus membuang jauh-jauh harapannya.
Tidak, itu bukan Korra.
Ia tidak pernah melihat langsung si serigala ini sebelumnya tapi setidaknya ia telah melihatnya sekali dari memori Jacob. Sekali dari Brady. Itu serigala sama yang menolongnya waktu serangan di tanah Cullen. Dan sekali lagi yang dilihat Brady sesaat sebelum ia jatuh ke jebakan Korra. Serigala jantan.
Serigala itu jelas kelihatan punya kemampuan tempur jauh dibanding dirinya, bahkan mungkin lebih berpengalaman dibanding Jacob. Dengan gesit ia menyelinap di antara pepohonan, menyerang satu demi satu tanpa ampun. Ia bergerak di antara area lapis pertama dan kedua, menempatkan diri sebagai back-up Collin sekaligus assist Adam.
Tapi gelombang vampir itu tetap tidak berhenti.
Sial, dari mana datangnya setan-setan neraka ini?! Collin memaki sejadi-jadinya ketika serangan dua lintah sekaligus hampir melumpuhkannya. Ia mengibas kasar, melontarkan satu ke serigala di sisinya. Si pirang emas itu menyambut, membuntungi lawan barunya dengan kasar, sementara Collin berjuang mengatasi satu lintah yang masih menggelantungi tubuhnya.
Kau sendiri yang bilang: dari Neraka, Adam sempat-sempatnya bercanda di saat seperti ini. Sama sekali tidak seperti Adam.
Tapi usaha payah Adam untuk mengurangi ketegangan tak bisa bertahan lama. Sedetik kemudian Collin merasakan kengerian Adam ketika seekor vampir lolos darinya dan meluncur menuju tenda. Untung saja Adam bergerak tepat waktu, dan berhasil membuntungi si vampir sebelum ia sempat mencapai area perkemahan.
Adam kembali ke posisinya. Tapi ia sempat melihat ke arah tenda. Billy jelas sudah bangun, dan pastinya mengawasi dengan tegang keadaan dari balik tenda. Jelas Billy tidak mungkin bergerak dalam situasi itu. Tapi tidak ada tanda apapun dari tenda Korra.
Sial, mengapa Korra belum berubah?! tanpa sadar Collin memaki.
Ia tidak sempat menilai situasi di tenda karena gelombang vampir masih saja berdatangan. Apa itu? Sudah lebih dari selusin tentunya sekarang...
Dilihatnya si pirang memberi kode. Dan seketika ia mengerti.
Jalankan rencana B, Adam! perintahnya.
Tapi rencanamu tidak akan membuat mereka terpojok. Kita yang terpojok, protes Adam.
Jika kita tidak memiliki apapun untuk melindungi punggung kita, kita harus membuat bentang alam yang melindungi punggung kita!
Adam berusaha memahami alasan Collin itu. Setidaknya mengerti. Tapi tetap tidak masuk akal.
Terserahlah, Cole, kau komandan. Kau jenderalku sekarang! Kau ingin aku mati, aku siap mati!
Bagus. Sekarang lakukan yang kuperintahkan!
Collin sekali lagi memproyeksikan rencananya. Secara grafis, langsung ke kepala Adam. Bisa dirasakannya Adam menjengit dalam rencana itu.
Kau ingin mati, Collin?! teriak Adam sembari memblokade satu serangan.
Aku jenderalmu sekarang! Lakukan yang kuperintahkan! ulang Collin lagi seraya mengelit dari terkaman vampir di kanannya, dan pada saat yang sama melakukan manuver untuk menyerang vampir di kirinya, memepetnya ke pohon sebelum menarik lepas kepalanya.
Belum pernah didengarnya suara Collin demikian memaksa dan penuh determinasi. Adam menggeram. Batinnya saling berperang.
Giring mereka sementara aku jadi umpan! Kita pojokkan mereka di dinding cadas dan kita bantai mereka! perintah Collin lagi. Dan kali ini ia tidak menunggu persetujuan ataupun protes Adam. Tanpa banyak bicara berlari menjauh.
Di ujung mata dilihatnya si serigala emas menganggukkan persetujuannya. Meski tanpa suara, dan mereka tak saling kenal, ia tahu ia bisa mempercayakan Korra dan Billy padanya.
.
Ia tak membuang waktu lagi. Ia berlari, menyelusup tanpa suara di antara pepohonan, tetapi jelas mencari perhatian para lintah. Dan umpannya termakan. Lintah-lintah itu mengejarnya. Beberapa berusaha menyamakan kecepatan atau menerkamnya. Sesekali ia menghindar atau menangkis, menghalau serangan. Tetapi ia tidak pernah benar-benar menyerang balik. Tugasnya menjadi umpan kini, membawa mereka ke ladang pembantaian. Sementara di belakangnya Adam menggiring mereka, memaksa mereka mengejar Collin.
Tidak sampai tiga menit ketika ia akhirnya mencapai cadas itu. Para vampir mengepungnya. Dalam hati Collin berhitung. Dua, tiga, lima... Ah, masa bodoh! Siapa peduli jumlah? Angka sama sekali bukan ukuran kau menang atau kalah!
Hei, ia bicara bukan pada siapa-siapa. Tentu saja. Para makhluk dingin musuhnya itu takkan bisa mendengarnya. Apa kalian pernah dengar seorang jenderal pernah mengatakan, jangan serang musuh yang membelakangi cadas, karena gunung menjadi pelindung punggungnya?
Para vampir itu jelas merasa menang karena berhasil memojokkan lawannya ke tebing curam. Dengan sangat antusias mereka memepet Collin. Lingkaran itu makin lama makin kecil, jarak mereka makin dekat, makin dekat, makin dekat...
Sekarang, Adam! teriak Collin.
Apa rencananya saat ini? Menyelusup ke ceruk di cadas itu tepat di belakangnya, dan pada saat yang sama Adam menjatuhkan batu-batu besar di atasnya untuk menjebak para vampir? Membunuh mereka sekalian mungkin?
Tidak. Hal seperti itu sangat sulit membunuh vampir. Rencana Collin jauh lebih sederhana.
Detik ketika ia memerintah Adam itu, bukan ia sendiri yang menyurukkan dirinya ke ceruk. Justru mendadak ia menyerang ke sisi, ke anggota gerombolan vampir yang tedekat dengannya. Si vampir tidak tahu akan diserang begitu mendadak, terutama karena lawannya terus mempertahankan sikap pasif dan kalah. Collin memanfaatkan kebekuan sedetik itu untuk memutar posisi. Dalam sekejap ia kini di luar lingkaran, bersama Adam yang mendadak meluncur dari sayap kanan. Posisi benar-benar terbalik kini. Keduanya mengepung para vampir, memaksa mereka memepet pada cadas, makin lama makin tersuruk ke dalam ceruk...
Sekali mereka terjebak, segalanya jauh lebih mudah. Dengan lihai dan mudah Collin dan Adam memunguti mereka satu demi satu, memutilasi dan melempar bagian-bagian tubuh korban demi korban. Rasanya bahkan hampir membosankan.
Hingga tiba-tiba ia terpekur di hadapan satu di antaranya. Musuh terakhir mereka.
Hei, Cole? Adam berusaha membangunkannya. Ada apa?
Cakar-cakar Collin masih terentang di hadapan si vampir terakhir. Menghimpit dan menguncinya di dinding cadas. Taringnya masih terarah pada kepala si musuh. Bertekad akan menggerus lintah itu, menghantarkannya ke akhir nyawa.
Tapi pikirannya tidak.
Ia meneliti rupa vampir itu. Pertama kali dalam hidupnya. Tubuh itu. Warna kulitnya. Wajahnya.
Ia yakin ia pernah melihatnya di suatu tempat, entah di mana.
Vampir bertangan satu itu mendesis mengancam padanya, berusaha membebaskan diri dari cengkeraman cakar-cakarnya.
Hingga mendadak, sangat tiba-tiba, mereka mendengar suara teriakan Billy dari perkemahan. Sengsara.
.
Aku cek ke sana, Cole, ujar Adam, dan tanpa menunggu persetujuan Collin, sudah berlari ke perkemahan. Pikiran Adam menghilang beberapa detik kemudian, tanda ia berubah balik.
Dan ketika perhatian Collin kembali, ia baru sadar ia telah melakukan kesalahan.
Vampir bertangan buntung itu entah bagaimana telah memanfaatkan momen teralihkannya perhatian Collin untuk membebaskan diri. Ia kini melompati Collin, memanfaatkan tubuhnya untuk menanjak ke tempat yang lebih tinggi, dan dengan sigap melompati bebatuan cadas, memanjat naik. Tanpa menghiraukan Collin yang menggeram marah dan berusaha meraihnya kembali dengan cakar-cakarnya.
Tidak ada yang bisa dilakukan Collin sekali buruannya berada di tempat tinggi dan tak terjangkau. Ini salah satu kelemahan serigala: tak bisa memanjat, tak bisa meraih tempat tinggi.
Brengsek! Bagaimana mungkin ia dikadali seperti itu?
Collin berusaha mencari jalan memutar. Mengejar. Tapi ia tidak bisa apa-apa. Ia sendiri yang menggiring mereka ke cadas itu. Cadas tebing tinggi. Cadas bagai pagar maha panjang tanpa jalan keluar sepanjang lebih dari 100 kilometer. Dan jika ia sampai ke ujung sana, sudah jelas ia takkan menemukan buruannya.
Oh, tunggu sampai Jacob tahu ia melepaskan satu mangsa yang sudah jelas-jelas berada di genggamannya...
Ia menggelengkan kepala keras-keras, berusaha kembali fokus. Ia punya tugas lain sekarang.
Terburu, ia berubah ke bentuk manusia, membuat api dengan batu di ujung sebuah pohon kecil yang tercerabut. Lantas kembali ke wujud serigala untuk memunguti bagian-bagian tubuh beku termutilasi, menumpukkannya di dekat api. Dengan moncongnya ia meraih kayu besar serupa obor itu, lantas menyulut tumpukan anggota tubuh nan dingin. Api segera menjilat gunungan bahan yang mudah terbakar itu, menjadikannya api unggun besar dalam sekejap. Rona keunguan menari-nari sementara bau manis menusuk menguar di udara.
.
.
Ia masih menyisir daerah sekitar situ, memastikan setiap anggota tubuh lawannya tidak ada yang masih tercecer, ketika kesadaran Adam menyuruk masuk ke kepalanya.
Cole, Adam memanggil, suaranya tergesa. Korra hilang.
Bayangan situasi saat itu membanjirinya. Perkemahan yang berantakan. Potongan-potongan tubuh vampir berserakan di mana-mana. Tenda yang hancur. Billy selamat, si serigala hitam melindunginya. Tapi Korra tidak ada di mana-mana. Rute baunya yang baru pun tak terdeteksi.
Ia bergegas lari ke perkemahan. Mencari jejak Korra. Membaui. Namun seperti Adam, ia juga tak dapat mendeteksi kemana perginya gadis itu. Bau Korra masih melingkupi seluruh hutan, tak ada yang lebih kuat ketimbang yang lain.
Collin melolong pilu sebelum mengarahkan kaki-kakinya dengan panik menyisiri hutan. Mencari keberadaan Korra. Namun Korra tidak ada di mana pun.
Korra memang benar-benar hilang.
Tanpa sadar ia membangun tembok mental.
.
