Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ A DREAM ~

[ Chapter 34 ]

.

.

.

"Ma-maaf." Ucapku, takut, mengambil handuk dan melap wajah Sasuke, dia menatapku dalam diam, mengeringkan wajahnya, Sasuke tidak bergerak sedikit pun. "Aku sungguh tidak seperti yang kau pikirkan." Menundukkan wajahku dan menghentikan apa yang aku lakukan.

"Aku percaya." Ucapnya.

Menatap Sasuke, dia percaya padaku, ucapan itu tak terdengar asing, mimpi itu, di mimpi pun dia percaya padaku.

"Mau menceritakan apa yang sudah terjadi pada mimpimu?"

Menceritakan segalanya?

Blussh...~

Aku tidak mungkin mengatakan jika sudah melakukan 'itu' dengan sang pangeran dan bahkan hamil, apa harus di ceritakan juga? A-aku benar-benar bingung dan malu.

"A-aku pikir, ini sudah bukan bagian dari pengobatan lagi kan? Aku sudah mengingat dan sudah sadar, jadi mimpi hanya sebuah mimpi." Ucapku dan mengalihkan tatapanku.

"Apa di mimpimu ada seorang pangeran?" Tanyanya.

Deg.

Terkejut akan ucapan Sasuke, apa dia tahu akan hal itu? Apa dia tahu jika aku memimpikan seorang pangeran?

"Sakura?"

"Sasuke, ini hanya mimpi, jadi tidak perlu di bahas lagi." Ucapku, aku jadi takut sendiri mendengar ucapannya.

"Baiklah." Ucapnya.

Sasuke tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya menatapku, kedua tangannya berada pada kedua pipiku, membawa wajahku lebih dekat ke arah wajahnya dan sebuah kecupan darinya, terkejut akan hal ini, belum sempat mengatakan apa-apa, kembali bibirnya menempel pada bibirku, hanya kecupan yang ringan dan di lakukannya, lagi dan lagi.

Menahannya. "Tu-tunggu, aku habis muntah, jangan menciumku lagi!" Ucapku, wajahku sampai merona-malu, apa dia tidak jijik padaku?

"Tidak apa-apa."

"Ka-kau sudah gil-hmppp..~"

Sasuke melakukannya lagi, tidak ada ciuman yang menuntut di sana, dia hanya mengecup bibirku perlahan dan berakhir dengan pelukan erat darinya.

"Hari ini kau akan keluar dari rumah sakit, apa kau sudah yakin?" Ucapnya.

"Aku sangat ingin keluar dari rumah sakit." Ucapku, membalas memeluk erat Sasuke, aku tidak bisa menghentikan debaran ini, mungkin seharusnya aku tidak perlu terlalu keras kepala kepadanya, aku menyukainya, aku mencintainya, hanya aku yang tidak pernah benar-benar jujur pada perasaan ini.

.

.

.

.

[Konoha]

Kehidupan luar rumah sakit dan kembali ke kota kelahiranku, aku sudah pamit dan berterima kasih pada dokter Orochimaru, akhirnya kebebasan untukku.

"Aku tidak mau kembali ke kediaman." Ucapku pada Sasuke.

"Kita tidak akan ke kediaman Yamanaka." Ucapnya dan mengajakku pergi ke sebuah bangunan apartemen. "Ini milikku, seharusnya menjadi rumah kita untuk sementara waktu, karena aku tidak tahu kau ingin rumah seperti apa." Ucapnya, lagi.

"Kau terlalu berlebihan." Ucapku, kita bahkan belum menikah dan kenapa aku yang harus repot menentukan rumah untuk kita? Selalu saja membuatku terpesona karena sikapnya.

"Kau akan tinggal disini, aku akan mengatur waktu agar kau bisa bertemu dengan kedua orang tuamu tanpa Ino ikut bersama mereka."

"Terima kasih." Ucapku, Sasuke sangat peduli padaku, aku bahkan belum memikirkan ide untuk bertemu kedua orang tua, Sasuke sudah jauh lebih dulu mengambil tindakan, seperti biasa, dia sangat cepat bergerak terhadap apapun yang di rencanakannya.

"Aku akan ke rumah sakit dan jangan berbuat hal aneh-aneh selama kau berada di rumah, aku sudah mengunci semua benda tajam di lanci dapur, jadi jangan harap kau bisa mencoba bunuh diri lagi."

"Aku pikir kau percaya padaku, aku janji tidak akan berbuat seperti itu lagi, aku rasa kebebasan jauh lebih baik dari pada terus terkurung di rumah sakit." Ucapku.

"Aku sangat berharap kau memegang kata-katamu." Ucapnya dan menatapku, tatapan yang terus menerus khawatir padaku.

Cup...~

Mencium pipi Sasuke. "Ini sebagai ucapan terima kasih dan janjiku padaku, pergilah bekerja dengan tenang, apa perlu aku menghubungi 24 jam agar kau tidak merasa cemas?" Ucapku.

"Itu ide yang bagus, ini ponsel untukmu dan hubungi aku seperti yang kau katakan." Ucapnya.

"A-aku hanya bercanda, kenapa kau memberiku ponsel?"

"Aku yang akan menghubungimu."

"Apa ponsel lamaku sudah tidak ada?" Tanyaku, di ponsel itu ada banyak kenanganku bersama Haruki.

"Ponsel lamamu hancur dan tidak bisa di gunakan lagi, ini lebih baik, hanya ada nomerku di dalamnya."

"Dasar, baiklah." Ucapku.

Sasuke akhirnya berangkat kerja setelah mengucapkan banyak hal padaku, jendela di apartemen ini di rang besi, tidak ada celah untuk melompat, dan semua benda tajam di masukkan ke dalam laci dan di kucinya, begitu juga cairan berbahaya yang kemungkinan bisa ku minum, aku benar-benar seperti anak kecil yang sedang di hindari dari bahaya apapun, katanya jika ingin makan apapun di lantai bawah apartemen ini ada sebuah restoran.

Berbaring di sofa dan menonton tv, aku juga jarang melihat berita yang terjadi akhir-akhir ini, aku merasa sudah terkurung dalam waktu cukup lama tanpa tahu apapun, lupa ingatan dan membuatku menjadi orang yang hampir gila.

Kembali teringat akan lucid dream sebelumnya, pangeran Sasuke, jaman kuno, dayangku mati dan seseorang berniat membunuhku, bagaimana keadaan pangeran jika tahu ada yang ingin membunuh permaisurinya? Lupakan, itu hanya mimpi Sakura.

[suara tv]

Peresmian sebuah mall yang di sebut-sebut sebagai mall terbesar kedua di Konoha, perusahaan ini di bangun dengan beberapa kerja sama... perusahaan Yamakana turut menjadi bagian pembangunan mall ini...

Ayah Inoichi! Tak sangka bisa melihatnya di tv, sekarang dia benar-benar menjadi orang yang lebih sukses, kehidupan ibu jauh lebih terjamin lagi, aku bisa melihatnya di wawancarai terkait pembangunan mall ini, ayah yang sangat peduli dan begitu baik, apa dia merindukan anaknya ini? Dia tidak pernah membedakan kami dan menganggap kami semua adalah anaknya.

Aku melupakan satu hal, menghubungi Sasuke.

"Cepat sekali kau merindukanku."

"Aku menyesal sudah menghubungimu."

"Ada apa?"

"Bisakah kita ke makam Haruki?"

"Hn, mungkin sekitar dua hari lagi aku libur."

"Baiklah."

"Kau tidak melakukan hal aneh selama aku pergi?"

"Kau masih khawatir juga? Aku sungguh tidak melakukan apapun." Tegasku.

"Dari nada bicaramu kau baik-baik."

"Sudah, kau harus bekerja." Ucapku dan segera mematikan ponselku. Dia tidak akan berhenti berbicara jika tidak segera ku hentikan.

Menyimpan ponselku di meja dan berbaring di sofa, aku merasa masih ada yang mengganjal, sesuatu yang membuatku bunuh diri, dari sini aku harus mengetahuinya, tapi bagaimana caranya? Sasuke juga seperti sedang menutupi apapun, dia tidak ingin aku tahu hal lainnya.

Kiba!

Aku sampai melupakan pria itu, jika aku meminta tolong padanya, dia pasti akan membantuku, tapi aku tidak tahu bagaimana menghubunginya, semua barang milikku, Sasuke yang bereskan, dia pasti membuang apapun yang ada hubungannya dengan Kiba, dia benar-benar cemburu padanya, mau di jelaskan seperti apapun kami hanya teman, dia saja yang terlalu berlebihan.

.

.

.

.

[Pemakaman Umum]

-Haruno Sakura-

Ternyata seperti yang muncul dalam mimpiku, Haruki tetap menggunakan namaku dan marga ayah, dia pergi dengan membawa nama itu, menaruh sebuah bunga di atas batu nisan miliknya dan berdoa untuknya.

Maaf jika aku baru datang menemuimu, semoga kau tenang-tenang saja di sana dan maafkan kesalahan yang selama ini aku perbuat, aku masih menyesal dengan semua tindakan yang membuat Haruki selalu dalam masalah, aku merasa tidak pernah menjadi kakak yang benar-benar baik pada adiknya.

"Bisakah kau ceritakan sedikit yang terjadi pada Haruki?" Tanyaku pada Sasuke.

Sasuke terdiam dan menatapku, cukup lama dan membuatku bingung.

"Aku sudah katakan padamu sebelumnya, aku tidak tahu apapun." Ucapnya.

Meskipun dia mengatakan itu, aku memikirkan hal lain, tentang kematian Haruki yang di tutupi.

"Sudah selesai?" Ucapnya.

Mengangguk perlahan, Sasuke mengajakku kembali pulang, selama di perjalanan hanya menatap bangunan-bangunan tinggi di sepanjang jalan.

"Apa kau ingin mampir di sebuah tempat?" Tanyanya.

"Tidak." Ucapku, aku sedang tidak bersemangat untuk melakukan apapun setelah dari makam Haruki.

"Kau ingin berbelanja?" Tanyanya lagi.

Mengalihkan tatapanku dari gedung-gedung tinggi itu dan menatap Sasuke, mungkin dia hanya sedang menghiburku.

"Terima kasih, tapi aku ingin pulang saja." Ucapku.

Setelahnya tiba di apartemen, aku hanya ingin tidur, masuk ke kamarku dan sebuah genggaman dari tangan Sasuke.

"Seharusnya aku tidak mengajakmu ke sana." Ucap Sasuke dan membuatku harus menatapnya.

"Maaf, aku tidak akan bersedih lagi." Ucapku dan berusaha tersenyum.

Sebuah pelukan erat darinya.

"Aku janji, aku akan membuatmu bahagia." Ucapnya.

"Berapa banyak lagi ucapan terima kasih yang harus ku ucapkan untukmu?"

"Tidak perlu bertema kasih, aku senang melakukannya."

Pelukan kami akhirnya terlepas dan Sasuke membiarkanku istirahat, dia sangat baik, aku pikir dia akan tetap menjadi pria mesum, kamar kami bahkan terpisah, kami punya kamar masing-masing, dia ingin aku punya area privasi sendiri dan membebaskanku.

Berbaring di ranjang dan mencoba mengingat kecelakaan itu, yang aku pikirkan adalah apakah aku mengalami kecelakaan sendirian atau aku dan Haruki mengalami kecelakaan bersama? Atau ada kejadian lainnya lagi, jika benar Ino adalah pelakunya, apa jika berbicara dengan Ino semuanya akan lebih jelas? Haa..~ tidak, aku masih belum bisa bertemu dengannya, rasa marah dan benci ini masih sulit aku redam, aku juga perlu bantuan Kiba dan sangat sulit menemukannya.

Tunggu.

Aku sampai lupa, data diri Kiba pasti masih berada di rumah sakit Konoha, aku harus ke sana, aku mungkin bisa mendapatkan nomer ponselnya.

.

.

.

.

Esoknya.

Aku mendatangi rumah sakit Konoha, berusaha untuk tidak bertemu dengan Sasuke, dia tidak boleh melihatku, berjalan masuk dan beberapa security menatapku.

"Nona Sakura?" Sapa mereka.

"To-tolong jangan katakan pada dokter Sasuke jika aku datang kesini." Ucapku.

"Baiklah, apa masih harus cek up lagi?"

"Be-begitulah." Bohongku.

Pamit pada mereka dan bergegas ke bagian resepsionis, para perawat yang masih mengenalku sampai heboh melihatku datang dan terlihat lebih sehat.

"Kau mencari data diri pasien yang telah operasi usus buntu?"

"Iya."

"Kau tahu, pasien ini pernah mendatangiku beberapa waktu lalu, tapi dokter Sasuke melarangku untuk menyampaikan pesanmu."

Akhirnya aku tahu kenapa Kiba sampai marah padaku, Sasuke melarang perawat ini untuk menyampaikannya, dia pasti sangat cemburu, dasar tukang cemburu.

"Tidak ingin bertemu dokter Sasuke dulu?"

"Ti-tidak, dan jangan katakan aku disini."

"Kau ini aneh sekali, dia 'kan dokter pendampingmu."

"Cukup beritahu aku nomer ponsel pasien bernama Kiba itu."

Menyimpan nomer ponsel Kiba dan akan menghubunginya nanti, sekarang aku harus pergi agar Sasuke tidak melihatku.

"Sakura."

Berbalik dan pada akhirnya kami bertemu, seharusnya ini bukan waktu yang tepat, tanganku mengepal dan aku harus menahan diri, aku tidak boleh membuat masalah di rumah sakit ini.

"Kau sudah kembali?" Ucapnya dan bergerak ke arahku, memelukku erat dan menatap keadaanku.

"Lepaskan, aku tidak sudi di sentuh olehmu." Ucapku dan menatap marah padanya.

Ino melihat sekitar dan menarik lenganku.

"Aku ingin bicara denganmu." Ucapnya.

Aku harus melepaskannya, tapi ini jauh lebih baik, aku harus keluar dari rumah sakit ini sebelum bertemu Sasuke.

.

.

Kafe T

"Untuk apa mengajakku ke sini?" Ucapku.

"Setidaknya pesanlah sesuatu." Ucapnya.

"Tidak perlu basa-basi, aku juga tidak ingin bertemu denganmu."

"Aku ingin minta maaf atas semua masalah yang terjadi pada kalian."

Braaak!

"Minta maaf katamu! Haruki telah meninggal dan kau segampang itu meminta maaf! Haruki tidak akan pernah kembali meskipun ribuan maaf kau ucapkan." Ucapku, kesal, aku sampai menepuk keras meja di hadapanku.

"Sakura tenanglah." Ucap Ino, raut sedih itu tak cocok dengannya.

Beberapa orang yang ada di kafe menatap kami, aku harus lebih tenang, tapi sangat sulit jika di hadapanku adalah Ino.

"Apa kau lupa jika bukan aku sepenuhnya yang membuat Haruki meninggal?"

Terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Kau lupa semua yang telah terjadi?"

"Aku tidak mengingat jelas kecelakaan itu."

"Aku menemuimu untuk membicarakannya, kecelakaan yang terjadi itu-"

"-Berhenti berbicara omong kosong!"

Sa-Sasuke? Bagaimana dia tahu aku ada disini? Sasuke sampai menarik lenganku dan mengajakku pergi.

"Tunggu Sasuke, aku harus menceritakan segalanya pada Sakura." Ucap Ino.

Sasuke tidak menanggapi ucapan Ino dan terus mengajakku pergi, membuka pintu sebuah mobil dan menyuruhku masuk, dia terlihat sangat marah.

"Kenapa datang ke rumah sakit? Apa kau mencari Ino?" Tanyanya setelah masuk ke dalam mobil.

"Tidak." Ucapku dan menundukkan wajahku, aku takut saat dia berwajah marah, aku sangat jarang mendapat mimik wajah itu.

"Apa kau lupa? Setiap kau mengamuk selalu berhubungan dengan Ino, jangan pernah menemuinya lagi."

"Kami hanya tidak sengaja bertemu."

"Lalu katakan, apa yang kau lakukan di rumah sakit?"

"Ha-hanya uhm-" Aku harus berbohong. "Hanya ingin menemuimu." Ucapku.

"Kenapa?"

"Ke-kepalaku tiba-tiba sakit, aku tidak tahu harus berbuat apa di rumah."

Sasuke terlihat menghela napas, dia membawaku ke ruangannya di rumah sakit, memeriksa keadaanku dan merasa aku hanya perlu istirahat.

"Pekerjaanku hampir selesai, sebaiknya kau tunggu di ruanganku dan jangan kemana-mana." Ucap Sasuke.

Sasuke akhirnya pergi dan bahkan mengunciku di ruangannya, berbaring di sofa dan menatap layar ponselku, aku sudah mendapatkan nomer ponsel Kiba, tapi ucapan Ino jauh lebih membuatku penasaran, kecelakaan yang terjadi pada Haruki, Ino seperti tengah membela diri jika bukan dia yang melakukannya, Sasuke menghalangi Ino berbicara akan hal itu dan lagi setiap Ino berbicara padaku, aku akan mengamuk, kembali mengingat saat aku melukai Sasuke di rumah sakit ini, aku tidak ingat apa yang Ino ucapkan, aku hanya ingat dia memaksaku untuk mengingat semua hal yang terjadi, setelah itu aku menjadi seperti orang gila yang ingin mengakhiri hidupku dan Sasuke berusaha menghalangi tindakan konyolku itu, aku melukainya dan lagi-lagi Sasuke menutupi hal itu, jika bukan karena Kiba, aku tidak mungkin tahu jika itu adalah perbuatanku.

Jika Haruki masih ada, aku akan bisa tahu semua hal, dia pergi dengan membawa semua kebenaran yang ada, ada sesuatu hal yang aneh, bagaimana bisa aku mengingat jika Haruki dan Sasuke telah menikah? Tapi kejadian kecelakaan tidak bisa aku ingat.

.

.

TBC

.

.


update...~

uhmm... cuma itu saja XD karena akan sibuk siang hari, jadi updatenya pagi banget, sekarang di laptop author pukul 08:36 WITA hehehe.

oh untuk Sina, itu ide yang bagus, jadi pengen bikin jaman kerajaan-kerajaan, soalnya author juga jarang punya kisah jaman kerajaan kuno seperti itu, nantilah di buat XD.

.

.

See U next chap!