Hoaaaahhhmmm...

Banyak PR dan ulangan ya minggu ini. Nyebelin sekali. Saya kurang tidur, pula.

Maap saya lama update, karena banyak tugas menumpuk.

Ohya, mengingat sekolah saya akan mengadakan Ujian Terkutuk Sekolah (UTS) dari hari Jum'at 1 Oktober sampai 8 Oktober, saya mungkin tak akan mengupdate dulu. Musti belajar, euy!

Nah, sekarang, untuk pembaca-pembaca yang sangat menggemari Minato, mohon kesabarannya. Dia pasti akan main dalam lebih dari satu chapter. Namun, saya masih belum bisa mengatakan dengan pasti, kapan ia muncul.

Jadi, saya masih berpikir-pikir. Eh, tak tahunya, UTS keburu datang. Well, yo wess, mari lanjut keun!


Pukul 15.30, Villa Rise.

Kami kembali. Aku dan kawan-kawan terlalu senang untuk beristirahat. Namun, kami tetap mesti ganti baju dan mandi. Kami pergi ke kamar masing-masing. "Mau mandi duluan?" Tawarku pada Yukiko. Yukiko mengangguk dan berterima kasih. Setelah Yukiko selesai, aku mandi.

Yep, setelah acara bersih-bersih, aku dan Yukiko duduk-duduk di koridor dekat jendela lantai 2. Sambil menunggu yang lain, kami mengobrol. Sekiranya, sudah 15 menit, teman-teman kami keluar dari kamar masing-masing. Mereka ikutan duduk-duduk. Ada yang di karpet, ada yang di sofa. Yosuke dan Teddie tiduran di karpet.

"Hmmm.. Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Rise. "Istirahat!" Jawab kami serempak. Rise mengambil sebuah remote, dan menekannya beberapa kali. Seketika, lantai 2 full music slow, gorden menutup otomatis, lampu remang-remang menyala berwarna krem. Kami semua mendesah dan segera mengambil posisi paling enak.

Berpasang-pasang mata mulai memejam. Aku masih terbangun, memerhatikan. Setelah beberapa menit, semuanya sudah pada tidur karena kelelahan kecuali aku. Aku mengedarkan pandangan lagi. Dari tempatku duduk, seluruh wajah teman-temanku yang lagi tidur terlihat. Ada yang mangap, ada yang tidur terlentang, ada yang bersender satu sama lain, dan ada juga yang posisi krisis jatuh dari kursi.

Tak lama kemudian, mataku tak kuasa melawan kantuk. Aku tertidur.

17.52.

Aku terbangun membelak karena mendengar jeritan. Di susul suara piring pecah. Aku langsung berdiri dan niatnya mau turun. Namun, aku bertabakan dengan badan Kanji yang juga berdiri tiba-tiba. Kami jatuh. Lampu kembali normal, lagu mati, dan gorden terbuka. Sekarang, aku dapat melihat wajah panik seluruh teman-temanku.

Kami berpandangan, dan berlari turun.

"Ada apa?" Tanya Rise pada salah satu pelayan wanita yang tengah terduduk memegangi dadanya di dapur. "I-itu... Tadi... A-ada.." Ucapnya terbata-bata. Para bodyguard, pelayan, dan chef menghambur ke ruangan dengan membawa wajan, semperotan baigon, dan pentungan. "Ada apa? Ada apa?" Ujar mereka sambil celingak celinguk.

Kami kembali memusatkan perhatian pada pelayan wanita tadi. Ia sudah di bantu berdiri oleh Naoto dan Yukiko, "Ada.. TIKUS!" Jeritnya kepada binatang coklat kecil yang sedang menggerogoti biskuit di celah kecil kompor. Pelayan cowok yang lain dengan tangkas menangkapnya dan membawanya ke luar.

Kami semua mendesah. "Dikira ada maling atau apa. Tikus toh." Kata Kanji. Si pelayan wanita tadi meminta maaf pada kami. Kami hanya mengangguk dan merencanakan untuk menonton DVD lagi. "Hei, mau minum apa?" Tanya Rise. "Sirup." Beberapa menjawab. "Teh." Beberapa yang lain menjawab.

Rise menyampaikannya pada pelayan dan ia ikut duduk di ruang TV. Kami memilih-milih film. Harry Potter, Twilight Saga, Toy Story 1-3, Planet 51, 3 Idiot, Ratatouille, 17 Again, HSM, Hairspray, dan masih banyak lagi. Kami memutuskan menonton Harry Potter 6.

Well, di tengah-tengah film, Kanji, Rise, Yosuke, dan Chie sudah melayang ke alam bawah sadar. Naoto dan Yukiko sudah menguap. Tak lama, Naoto dan Yukiko terlelap. Hanya aku dan Teddie yang masih sadar. "Pssst, Senpai." Bisik Teddie padaku. Aku menoleh menatapnya. "Mau ikut?" Tanyanya misterius.

"Ngapain?" Tanyaku balik. Tiba-tiba Teddie mengeluarkan 2 spidol boardmarker. Aku terkejut, lalu tersenyum jahil. Teddie ikut tersenyum, dan kami mulai bekerja. Pertama, aku mencorat-coret wajah Chie. Kuberi bentuk baigon di kedua pipinya, dan kugambarkan peta Asia di keningnya. Korban kedua, Yosuke. Rumus fisika tercatat rapih melingkari wajahnya. Lalu, kuberi iklan produk pembersih WC di pipinya.

Aku melihat, Teddie menggambar-gambar binatang, makanan, dan menulis puisi-puisi aneh di wajah Yukiko, Rise, dan.. Bahkan Naoto! Berarti... Tinggal Kanji. Aku mendekatinya. Memikirkan akan melakukan apa. Ah! Iklan Co-Creations Sunsilk melintas di benakku. Kutulislah di bagian wajah Kanji. Dua menit kemudian, kami selesai.

Aku dan Teddie berpandangan dan tersenyum. "High 5!" Bisikku bersemangat. Kami ber-tos. Bunyi tepukan itu, membuat 6 teman kami berkedip-kedip separuh bangun. Aku dan Teddie panik."Kabur!" Bisikku pada Teddie. Aku dan Teddie mulai berlari. Begitu teman-teman kami mengucek mata dan benar-benar bangun, ada jeda, lalu tawa meledak.

Aku mendengar mereka terpingkal-pingkal, memaki, juga bunyi kaki berjalan ke kaca. Dan sebuah pertanyaan bernada menuduh di teriakkan, "INI ULAH SIAPA?" Suara Kanji mengudara. "Mana Souji Senpai dan Teddie?" Sekarang suara Naoto. Lalu...

"SOUJI! TEDDIE! SIALAAAAN!" Beberapa suara meneriakkan namaku dan Teddie.

Aku sudah ada di beranda lantai 2. Kalau aku tak salah lihat, Teddie berlari ke arah tangga menuju puncak villa. Aku mendengar suara derap kaki menuju lantai 2. Berhubung berandanya langsung terlihat dari tangga, mereka berteriak padaku. "HEI KAU!" Mereka mengejarku.

Gantian, aku terpingkal-pingkal melihat wajah mereka yang baru separuh di bersihkan. Begitu pintu menuju beranda di buka dengan brutal oleh mereka, aku terjun bebas ke bawah. Mereka terkesiap dan melihat apa aku masih hidup. Di bawah, aku tentu saja selamat. Aku masih terpingkal-pingkal. Mereka makin nafsu memburuku.

Separuh dari mereka berlari ke atas, ke tempat persembunyian Teddie. Dan separuh ke bawah. Dengan super cepat, yang laki-laki sudah ada di teras depan, mengejarku. Aku berlari kabur sekencang-kencangnya sambil tertawa. Aku mendengar di bagian atas villa, ada yang melolongkan nama Teddie, yang di susul bunyi gedebak-gedebuk mereka berlari-lari.

Sore itu, mau di luar atau dalam villa, semuanya berisik tertawa, berlari, memaki, juga melempari salju.

Bahkan, para bodyguard, chef, atau pelayan yang tak sengaja melihat kami, ikut tertawa-tawa karena wajah mereka yang masih tampak konyol.

Saat aku dan Teddie tertangkap, hari sudah menujukkan pukul 19.00.

Kami di beri hukuman, wajah dan badan kami di penuhi coretan spidol. Butuh lebih dari lima menit untuk menghapusnya.

Kami masuk ke dalam dan makan malam. Sekali lagi, hidangan luar biasa enak menunggu. Sehabis makan, kami bermain-main di ruang TV. Ternyata, Rise menemukan game monopoly di loker meja dekat karpet. Kami sibuk main. Tak lupa, gelak tawa selalu setia menemani kami.

21.17. Badai kecil singah di wilayah villa itu..

"Aku mulai kedinginan." Ujar Yukiko. "Aku setuju." Sambung Teddie. Kami masih main, masih tertawa, dan hari sudah agak malam. "Kalau begitu, mari ambil selimut tambahan di ruang bersantai." Usul Rise. Yukiko dan Teddie mengangguk. Tiba-tiba, perasaan tidak enak menyelimutiku.

"Mmm, kalian akan keluar? Kan dingin." Kataku. Tentu, aku tak bilang kalau aku khawatir mereka pergi ke sebelah. Kalau aku bilang, kan memalukan. Mereka toh tak pergi jauh-jauh. "Itulah gunanya jaket, Senpai." Jawab Rise. "Jangan berbuat curang! Awas!" Kata Teddie mempringati kami yang tinggal. Mereka bertiga pun berdiri dan keluar. Aku memandangi punggung mereka. Ada apa ya dengan firasat jelek ini..?

Tampaknya, kekhawatiranku terpancar, karena Yosuke segera bertanya, "Ada apa?" Aku mengangkat bahu, "Tak tahu." Jawabku. "Well, ada Teddie ini. Mereka kan tak pergi ke luar kota." Ujar Kanji asal, masih sibuk dengan game-nya. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dan kembali main.

Dua puluh menit kemudian...

HEEEI! UNTUK PERGI KE BANGUNAN DI SEBELAH RUMAHMU DAN HANYA MENGABIL SELIMUT YANG SEPERTINYA MASIH ADA DI BANGKU-BANGKU YANG BELUM DI BERESKAN, APA MEMBUTUHKAN 20 MENIT? DITAMBAHLAGI, ADA NONA RUMAH! SETIDAKNYA, 5 MENIT CUKUP KAN?

Kepanikanku makin menjadi-jadi. Badai salju sudah lumayan kencang hingga membuat pohon bergoyang di luar, makin malam makin kencang. Aku mulai tak tahan, "Aku mengecek dulu." Kataku sambil buru-buru berdiri. "Hei, aku juga merasa tak enak. Ajak aku." Ujar Chie, wajahnya sama pucatnya dengan wajahku.

"Cepatlah kembali." Kata Naoto pada aku dan Chie, kami mengangguk dan berjalan keluar. Di dekat pintu, ada tempat payung. Ada gagang pemukul bisbol besi berat mencuat dari situ, tanganku entah mengapa mengambilnya. "H-hei, apa yang kau lakukan?" Tanya Chie yang melihatku membawa pemukul bisbol.

"Mmmmm, untuk berjaga-jaga." Alasanku. Padahal aku sendiri bingung tongkat ini untuk apa. Kami melangkah keluar. Udara yang membekukan tulang, menerpa kami dalam detik pertama. Di luar, kabut lumayan tebal hingga membuat pandangan mata sulit terfokuskan. Aku dan Chie segera ke bagian samping villa itu.

Ruang bersantai tak terlalu jelas terlihat karena gelap dan tertimbun salju. Aku dan Chie terus melangkah mendekati tempat itu. Setelah tinggal beberapa meter menuju ruangan itu, aku melihat sebuah bayangan yang membuat darahku nyaris berhenti. Kumohon tuhan, kumohon, buatlah ini hanya mimpi buruk.

Aku berhenti berjalan dan memegang pundak Chie agar ia berhenti. Chie menatapku bingung. Lalu, dia segera mengikuti arah pandangku ke ruangan di depan kami. Chie terdiam, ikut memincingkan mata sepertiku. Hanya perasaanku, atau jantungku sudah tak berdetak..?

Aku melihat...

Yukiko...

Dan si pelayan cowok yang tadi sore menangkap tikus..

Mereka berdiri berhadapan, terlihat jelas dari pintu kacanya..

Jarak mereka teramat dekat. Mungkin... Pelukan?

Awalnya, kukira mereka itu yang mereka lakukan. Namun, ITU SALAH BESAR..

Yukiko tengah memejamkan mata rapat-rapat, meringgis, dan air mata penderitaan bergulir di pipinya. Yukiko juga menggigit bibir. Ia tak melihat ke arah luar, tak melihat aku dan Chie. Aku lebih memfokuskan pandanganku. ...? ...!

Si pelayan, tangannya menarik dan melingkari paha Yukiko. Wajahnya terbenam di sisi lain leher Yukiko yang tak terlihat dari jarak pandanganku. Ia menciumi leher Yukiko dengan kelakuan seakan memaksa Yukiko. Kepalan tanganku mengerat pada pemukul bisbol. Seketika, aku sudah berlari tanpa sempat berfikir. Emosi luar biasa murka mengambil alih diriku.

Begitu aku sampai di depan pintu kaca, Yukiko memelototiku. Sekarang Yukiko sudah melihatku, ia memberiku petunjuk. Tangannya... Menirukan bentuk... Pistol. Aku bahkan tak sempat berfikir sama sekali melihat air mata Yukiko terus berjatuhan dan pelecehan terus berlangsung. Aku menghantamkan pemukul bisbol dengan brutal ke pintu kaca itu.

Suara kaca pecah memenuhi udara, namun akibat badai salju, suara itu lumayan teredam. "BERENGSEK! NGAPAIN KAU?" Teriakku murka pada si pelayan. Si pelayan itu terkejut dan menodongkan pistolnya padaku. Bersamaan dengan bunyi pelatuk di geser, aku menghantamkan pemukul bisbol ke bahunya.

DORR! DORR! BHUAK!

Aku merasa peluru menggores paha dan pinggangku, menggores hingga berdarah. Tapi aku masih berdiri tegak, tak beranjak sedikitpun. Si pelayan itu jatuh, ia meringgis akan bahunya yang patah. Aku menarik Yukiko yang terbebas ke belakangku. "Souji!" Bisik Yukiko lega. Aku menatap Yukiko, "Mana Rise dan Ted-?" Aku terhenti. Wajahku memanas dan aku membuang muka. "Bajumu." Ujarku parau. Seketika, amarahku teredam.

Yukiko menunduk melihat bajunya. Ia menemukan 2 kancing teratas bajunya terbuka, memperlihatkan separuh bra merah-nya.

B-cup.. *Blush* Kalau aku tak salah lihat.. *pervert*

Wajahnya ikut membara merah, ia mengancinginya. "Hei! Ada apa ini?" Chie datang. Chie melongo melihat aku berdarah, Yukiko sedang mengancingi baju, dan pelayan cowok meringgis kesakitan.

Aku melayangkan pandangan ke ruangan itu. Di pojokan kiri, aku menemukan apa yang kucari. Rise dan Teddie, dengan kepala membiru, pingsan. Amarahku kembali tersulut, "Chie. Bawa Yukiko, Rise, dan Teddie ke villa. Sekalian, tolong panggilkan para bodyguard kemari." Kataku dengan gigi terkatup, terlalu marah untuk bicara normal.

Chie mau menolak dan menghajar si pelayan itu, namun melihat mataku yang memancarkan rasa amarah, terluka, dan benci sangat hebat, ia segera mengurungkan niatnya. Sebelum Yukiko mengikuti Chie, yang menggotong Rise, keluar sambil menggotong Teddie, ia berpesan padaku."Souji." Panggil Yukiko. Aku tak menoleh, "Hmm?" Balasku. "Jangan membunuh." Bisiknya karena melihat kemarahanku. Aku mendengar penderitaan luar biasa dalam suaranya itu. Hatiku terasa tertancap pisau dapur. Ditambah lagi, air mata Yukiko belum juga berhenti.

Aku menggenggam pemukul bisbol itu lebih kencang, dan mengangguk, "Cepatlah ke villa. Beritahu mereka kejadiannya. Tolong jangan biarkan salah satu teman kita ke sini. Biar aku saja yang mengurusnya." Ujarku parau. Aku masih terlalu marah pada pelecehan ini. Yukiko mengangguk, lalu mengikuti Chie keluar. Keheningan menyelimuti ruangan ini.

Kini, tinggal aku dan bajingan itu. "Sialan. Apa-apaan kau?" Desisku sambil memelototinya. Ia masih meringgis, tak mau menjawab. "Melecehkan pacarku? Melukai teman-temanku? Kau minta di bunuh, heh?" Aku nyaris berteriak. Setelah beberapa detik, si pelayan mengadah menatapku.

"Salahmu tak menjaganya." Balasnya kurang ajar. Aku tahu, ia pasti lebih tua 5-10 tahun dariku. Tapi itu tak mengubah perasaan benciku padanya. Aku menggeram. Dia menaikan sebelah alis. Lalu ia terkekeh, "Rasa pacarmu lezat, lho." Cemoohnya. Aku melayangkan pemukul bisbol pada bahu satunya yang masih sehat. Lalu, pelayan itu memuntahkan darah.

"Masih mau menderita?" Desisku penuh emosi. Si pelayan itu batuk-batuk sebentar. Ketika ia tenang, masih belum tobat. "Andaikan kau tak datang, aku tidak hanya merasakan akan merasakan bibir dan tenggoroknya. Mungkin, semuanya." Ia memberi penekanan bernada paling menjijikkan yang pernah kudengar seumur hidup pada akhir kalimat.

Emosiku makin panas. Aku menusuk rusuknya dengan ujung tongkat bisbol. Ia batuk darah. Aku hanya menatap lelaki menyedihkan di hadapanku dengan tatapan dingin. "Heh... Berhenti.. Menggangguku!" Ujarnya sambil mencoba menembakkan pistolnya sekali lagi padaku. Dengan sentakkan keras, aku membuat pistol itu melayang entah ke mana.

Bermenit-menit penuh keheningan. Mataku tak lepas dari dia.

"SOUJI!" Suara Yosuke datang dari luar. Di susul suara derap kaki berlari. Aku menoleh. Yosuke ngos-ngosan, "Ahh.. Ad.. HHhh.. Apa.. Yangh.. Terjadhi?" Tanyanya. Aku menggeleng, "Nanti saja." Jawabku singkat. Butuh beberapa detik lagi agar Yosuke bisa mengatur nafasnya.

"Aku ke sini karena menurutku, kau tak seharusnya sendirian. Walaupun kau bilang bahwa kami tak usah ke sini. Tetap saja." Kata Yosuke tak jelas. Aku mengangguk-angguk, tak terlalu mendengarkan. "Hei, beritahu aku garis besarnya. Apa-apaan ini? Kami ketinggalan 30 menit terseru dalam sejarah hidup kita!" Desak Yosuke. Akupun menjelaskannya.

...

Yosuke menganga menatapku. Aku mengangguk, "Ya, aku tahu." Aku menjawab tatapan tak percaya dari wajah Yosuke. Lalu aku kembali mengawasi si pelayan cowok itu. Ia sekarat, memangnya kau kira kau peduli..? Menit-menit kembali di isi keheningan. Yosuke masih perlu mencerna bulat-bulat kenyataan ini.

Akhirnya, bodyguard datang dan segera menangkap si pelayan itu. Mereka bilang, ada kantor polisi setempat di sini. Mereka akan membawa pelayan itu ke sana. Aku dan Yosuke berterima kasih dan langsung berlari ke vila. Saat aku masuk, ruang TV sudah kosong. Aku bergegas ke lantai 2.

Ya, mereka bergerombol di kamar 2. Begitu aku masuk, aku bisa melihat Yukiko, Teddie, dan Rise tergeletak di kasur. "Ada apa?" Tanyaku. Mereka menatapku, "Yukiko langsung ambruk begitu sampai di pintu. Ia mungkin syok. Dan kalau 2 lainnya, pingsan di hantam benda berat." Jawab seorang chef laki-laki yang bersikap layaknya dokter, ia duduk di samping kasur para pasien.

Aku menelan ludah. Tiba-tiba, perasaan sakit menerkaku. Aku limbung dan terjatuh. Tapi Kanji menangkapku, "Kau baik-baik saja, Senpai?" Tanyanya. Aku menunduk melihat tubuhku. Puluhan luka gores berdarah akibat pecahan kaca ada di seluruh badanku. Kening dan pipiku juga tergores, tapi tak parah. Kaki dan pinggangku tadi terkena peluru. Kedua tanganku membiru akibat terlalu kencang memegang tongkat bisbol. Ternyata, kondisiku juga krisis.

Kanji membantuku duduk dekat si Chef. Dan ia mulai mengobatiku. Tak ada yang bersuara.

23.20..

Si chef alias dokter tadi berkata, "Mereka akan bangun besok pagi. Tidurlah, anak-anak." Pada kami. Ia sendiri juga mau tidur di kamarnya yang berada di sebelah vila ini. Iapun pergi. Chie dan Naoto memutuskan untuk tidur. Mereka bilang pada kami mau ke kamar 3.

Aku menyuruh Kanji dan Yosuke yang sudah menguap-nguap untuk ikut tidur di kamar 1. Mereka menurut 20 menit setelah ku suruh. Sekarang aku menunggu sendirian di kamar ini, duduk di karpet. Aku terus berharap, mental mereka tak kenapa-napa.

1.48 AM..

Suara Yukiko membuatku terbangun. Ketika mataku terbuka, aku melihat Yukiko duduk tegak dengan mata membelak. Mimpi buruk..? "Kau sudah bangun." Ucapku pelan. Yukiko menatapku, lalu postur tubuhnya kembali rileks, "Souji.." Desahnya. Aku tersenyum, "Mau pindah kamar?" Tanyaku. Yukiko mengangguk.

Aku menggandeng Yukiko ke kamar kami. Membangunkan Yosuke dan Kanji, dan menyuruh mereka pindah. "Souji, aku akan mengantikan tugasmu. Istirahatlah." Kata Yosuke sambil menutup pintu, meninggalkan kami berdua.

Aku menatap Yukiko. Ia sedang duduk bersimpu tangan di kasurnya. Aku memerhatikannya beberapa detik.

Kemudian, aku mengambil tissue, berjalan ke Yukiko. Aku menaruh tissue di pinggir kasur. Lalu aku menarik Yukiko berdiri. Aku menaruh kepala Yukiko di dadaku. "Let it go." Bisikku. Dan aku mulai merasakan air mata Yukiko membasahi bagian depan bajuku.

Tak perlu waktu lama agar Yukiko melepaskan seluruh penderitaannya. Dalam hitungan menit, ia sudah terisak-isak. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya. Hatiku pilu mendengar jeritan tertahan Yukiko. Bagitu terlukanya dia, hingga nyaris histeris. Siapa sih, yang bisa bersikap normal sehabis di lecehkan?

Setelah sekiranya dua belas menit kemudian, Yukiko sudah tak terisak lagi. Ia mengambil tissue dan membersihkan hidungnya. Lalu ia bergegas ke toilet. Aku berganti baju dengan bajuku yang kering. Setelah Yukiko keluar, wajahnya sangat kebas. Ia masih tampak mengantuk, dan matanya bengkak. Aku menidurkannya di kasurnya.

Yukiko memanggil namaku saat ia sedang tiduran. Aku menoleh padanya. "Bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanyanya dengan suara pecah habis menangis. "Tentu." Jawabku. "Bisa tolong kau geser kasurmu hingga rapat?" Yukiko bertanya dengan memejamkan mata. Aku segera memenuhi permintaannya.

Tak lama kemudian, kasur kami sudah berdempetan. Aku tiduran di kasurku. "Butuh apa lagi?" Tanyaku lembut. Yukiko menarik kerah bajuku, "Kau." Bisiknya dengan mata terpejam. Aku mendekat ke Yukiko, memeluknya. Yukiko meringkuk dalam pelukanku.

Aku mengelus-elus rambutnya agar ia tertidur. "Sudah berapa kali aku membuatmu menangis..?" Aku bicara sendiri, melamun. "Maaf. Aku terlambat datang. Maafkan aku." Bisikku. Yukiko menarik baju di bagian dadaku. "Bukan. Bukan salahmu." Ia juga berbisik.

"Tapi itu memang salahku." Ujarku. "Kalau aku menemani kalian ke ruang tadi, tak akan begini hasilnya." Lanjutku sebelum Yukiko memotong. Aku mengeratkan pelukanku. Yukiko mengangkat wajahnya. Aku menemukan mata yang berkaca-kaca menatapku, "Sudahlah. Tak ada yang salah." Kata Yukiko dengan menderita.

Aku menundukkan wajahku hingga dahi kami menempel. "Maaf." Bisikku lagi. Yukiko mengecup bibirku. Aku balas menciumnya. Dan kemudian, bibir kami sudah bergulat.

Tubuh kami menempel, bibir kami bertarung, dan tangan kami melingkari tubuh satu sama lain. Aku dapat merasakan hawa lain dari Yukiko. Ia bernafsu. Lalu, Yukiko memutar tubuhnya, menindihku. Ia menciumi bibirku berkali-kali. Tangannya ada di kedua sisi kepalaku. Aku meladeni bibirnya.

Aku merasakan tangan Yukiko bergerak. Aku membuka mata walau bibir kami sedang sibuk. Tangan Yukiko sudah sampai pada kancing ke dua bajunya. Kancing teratas telah terbuka, memperlihatkan apa yang tak seharusnya kulihat. Secepat kilat, aku memutar balikkan posisi kami. Yukiko di bawah, aku di atas menindihnya.

Aku melepas bibirku dengan kasar. "Apa yang kau lakukan?" Desisku sambil memegangi tangannya yang mau melepasi kacing bajunya. Yukiko tak membuka mata. "Kau tak mau?" Tanyanya dengan tenang. Yukiko melingkari tangannya ke leherku, menarikku mendekat. Ia kembali menciumiku.

Aku melepas bibirku dengan cepat, "Ada apa denganmu?" Tanyaku bingung. Yukiko kembali menarikku menuju bibirnya. Kali ini aku bertahan, "Ada apa? Beritahu aku. Ada yang terluka?" Tanyaku dengan panik. Maksudku terluka, yaitu mental atau moralnya.

Yukiko membuka mata, "Segalanya. Sakit." Bisiknya dengan mata berkaca-kaca padaku. Pertahananku runtuh, Yukiko menciumiku lagi. Untuk kesempatan kedua ini, tangan Yukiko bergerak lagi. Ia mencoba melakukan hal yang tadi tertunda.

Akupun menghentikannya. Kancingnya sudah terbuka dua. "Berhentilah mencoba membuka bajumu, Yukiko." Bisikku marah. Yukiko hanya menatapku. Sorotan matanya tak terbaca, "Aku ini laki-laki. Dengan hormon yang sangat sensitif. Kau kira, kalau kau terus mencoba melakukannya, apa malam ini kau akan selamat?" Aku mendesis.

Yukiko menelengkan wajah tanpa membuka mata. Lalu, aku mendapat jawaban dari tingkah laku aneh Yukiko ini. Aku mendesah, dan tiduran di sampingnya. Lalu mendekapnya erat. "Maaf. Aku tahu kau terluka dan sangat tersiksa. Maafkan aku." Bisikku. Yukiko meringkuk. "Hajar saja aku kalau itu membuatmu lebih nyaman." Kataku.

Yukiko menegang. "Lakukan apa saja padaku, agar jiwamu tenang." Aku tetap menyuruhnya. Yukiko memukul dadaku dengan lumayan keras, "Bodoh." Yukiko mendesis denan suara pecah. Aku menatapnya tersiksa. Melihat seorang gadis yang kucintai menangis dan terluka secara permanen membuatku ingin membunuh seseorang. Aku ingin menggila. Aku mau ia tersembuhkan, dengan cara apapun.

"Pikirkanlah aku sedikit! Kalau kau terus meminta maaf, bagaimana aku bisa menyalahkan dia?" Yukiko berseru pelan. Ia memukulku lagi. Aku bisa menebak, dia yang di maksud adalah pelayan cowok itu. "Melihatmu ikut terluka bersamaku, mau mati saja rasanya!" Teriak Yukiko dengan volume medium.

Yukiko menatapku, air matanya jatuh lagi. "Mengapa kau terus yang terluka karena aku? Kenapa kau tak mengizinkanku terluka bersamamu? Kenapa kau-?" Yukiko terhenti karena aku mendekapnya sangat erat. Aku merasakan tangan Yukiko melingkari perutku.

"Maaf. Aku terlalu sayang padamu. Lebih baik aku yang terluka. Lebih baik aku yang menyimpan penderitaan untukmu, asal kau bahagia. Aku tak mau kau ikut menanggung sakit itu bersamaku. Karena rasanya sangat memuakkan." Jawabku. Pelukan Yukiko mengerat.

"Maafkan aku, Souji." Yukiko berbisik dengan suara pecah, ia menangis. Aku menggigit bibir keras-keras, "Kau tak salah. Cukup membahas ini." Kuucapkan keputusan final untuk malam ini. Kami melonggarkan pelukan masing-masing. Dan kami sedikit menjauh agar bisa melihat wajah satu sama lain. Aku menghapus air matanya. Kami saling menatap sedih satu sama lain.

Mata kami sejajar. Aku mencium bibir Yukiko, kali ini dengan penuh penghayatan. Begitu melepasnya, Yukiko sudah teler berat. "Selamat tidur." Bisikku. Yukiko menurut, ia tidur dalam pelukanku. Dengan cepat, aku menyelimuti kami berdua. Aku memeluknya lagi, dan ikut tidur. Sebelum hilang kesadaran, aku berdoa, agar Yukiko sembuh dari lukanya.