Authors Note:

So, finally we reach the last chapter

For Fujoshi desu XD, ane minta maaf, requestnya ternyata nggak muat semua T_T sulit ternyata

Thank you, Fujoshi desu XD , ZERLIN, dealovha for your kind review XD,

Untuk semua yang selama ini uda review dan banyak banget ngasi masukan thank u so much, buat Nanaho Haruka yang review pertama kali juga, thank u sangat XD

And for all of you: thank you for reading this fanfic. I hope you also enjoy this chapter ; )

.

.

.

Aldnoah Zero not mine

Obsession by cyancosmic

Warning : AU, OOC, Typos, Gender Bender, Fem!Slaine

.

.

.

Enjoy !

Last chapter: His Obsession

"Master! High five!"

Inaho memegangi kelelawar albino yang mengepakkan sayap di hadapannya. Android satu itu bergerak berputar-putar mengelilinginya, dan terus menyerukan perintah yang tak pernah diinstalnya. Ia heran, darimana program untuk menyerukan High five ini berasal? Apa ini semacam virus android baru?

"Nao-kun!"

Wanita berambut hitam panjang memunculkan wajahnya yang kesal dari balik ruangan yang ditempatinya. Sembari meletakkan tas tangannya di meja, wanita itu masuk dan menempati tempat duduk yang ada di samping ranjangnya. Perhatian wanita itu langsung tertuju pada si kelelawar albino, yang tengah mengitarinya sembari menyerukan 'High five!'.

"Tharsis bersemangat sekali," ujar Yuki-nee. Ia pun mengangkat kedua tangannya dan menepukkan pada sayap android seputih salju itu. "Tharsis! High five!"

Inaho tidak berkomentar. Pemuda itu hanya menghela napas melihat tingkah kakak perempuan dan android yang katanya adalah miliknya itu. "Aku tidak mungkin menginstal program High five pada Tharsis, Yuki-nee, mungkin saja ini virus."

"Tidak mungkin ada virus,"jawab Kaizuka Yuki sembari menyentuhkan tangan ke rambut darkbrown adiknya. "Siapa yang berani menaruh virus pada android milik Pahlawan Besar Vers?"

Sekali lagi, Inaho menghela napas mendengar ucapan sang kakak. "Apa kau yakin android itu milikku, Yuki-nee? Aku tidak ingat pernah menciptakan android semacam itu."

"Buatanmu kok!" Yuki menjawab dengan yakin. "Siapa lagi yang dapat membuat android yang dapat berbicara seperti itu selain kau seorang?"

Pemuda berambut darkbrown itu menyentuhkan tangannya ke dahi. Kemudian ia membuka matanya dan berkata, "Banyak sekali yang tidak kuingat belakangan ini."

"Ng?"

"Android itu,"ujar Inaho dengan manik merah yang menatap ke jendela kamarnya, "sebutan Pahlawan Besar, kemudian hilangnya mata kiriku akibat perang besar itu, entah kenapa tidak dapat kuingat sama sekali."

Wanita berambut hitam itu tertegun sejenak saat mendengar ucapan adiknya. Sepertinya, obat yang diberikan sang Ratu untuk menghilangkan ingatan pemuda itu benar-benar ampuh. Berkatnya, pemuda itu tidak bisa mengingat peristiwa yang terjadi sejak lima ratus tahun yang lalu, hingga sekarang. Kepergiannya ke Bumi, pencapaiannya sebagai Pahlawan Besar Vers, juga obsesinya terhadap gadis bernama Slaine Troyard lenyap tak berbekas.

"Apa kau tahu sesuatu, Yuki-nee?"

"Eh?" Yuki kaget mendengar pertanyaan tiba-tiba dari pemuda itu. "Ada apa Nao-kun? Kau mengatakan sesuatu?"

"Aku bertanya, kenapa aku tidak bisa mengingat apa yang kulakukan selama perang besar itu," jawab Inaho sembari menggerakkan kepala menatapnya. "Kalau memang itu perang yang besar, seharusnya satu atau dua ingatan akan membekas di memoriku bukan?"

"Kan sudah kukatakan, Nao-kun," lanjut Yuki sembari menepuk kepala adiknya, "kau kehilangan ingatan karena musuhmu memberimu luka di mata kiri. Makanya kau tidak punya ingatan sama sekali soal perang besar itu."

Inaho menatap kakak perempuan yang duduk di samping ranjangnya itu. Ia diam selama beberapa saat, sebelum memutuskan untuk mengalihkan kembali perhatiannya. Tidak terlintas sedikit pun emosi di wajahnya, pemuda itu tetap memasang ekspresi datar.

"Jangan terlalu dipikirkan!" Yuki menaruh tangannya di atas tangan si adik laki-laki. "Kau harus banyak istirahat agar kau segera pulih."

Pemuda bermanik merah itu menoleh dan menganggukkan kepalanya. "Aku tahu."

Mendengarnya, Yuki pun tersenyum dan menyentuhkan tangannya pada rambut adiknya. Ia mengusap-usap rambut adiknya dengan sayang, juga mengakhirinya dengan pelukan. Setelah beberapa saat, ia melepaskan dirinya dan berkata pada sang adik, "Jangan berpikir macam-macam dan segeralah tidur, kau mengerti?"

Inaho mengangguk.

"Baiklah," kata Yuki-nee sembari melepaskan pelukannya dan mundur, meninggalkan kamarnya. "Selamat tidur, Nao-kun!"

.

.

.

'Hari ini android berbentuk kelelawar itu tidak menggumamkan High five lagi rupanya.' Inaho membatin saat melihat android berwarna putih yang mengubah dirinya menjadi bentuk kelelawar. Ia menyentuh kembali android yang tak bergerak itu sembari menggerakkannya ke kanan dan kiri. 'Aneh. Biasanya android ini berisik sekali.'

"Oh! Count Kaizuka!"

Inaho menggerakkan kepalanya dan melihat pemuda berambut cokelat ikal yang berpapasan dengannya. Pemuda itu berlari menghampirinya terlebih dulu dan menggerakkan kepala saat melihat kondisinya. Setelah menilai beberapa saat, pemuda itu pun berkata, "Bagaimana keadaanmu? Kau sudah sembuh? Mata kirimu masih sakit?"

"Count Mazurek,"ujar Inaho saat melihat pemuda itu menghampirinya. "Aku baik-baik saja. Terima kasih."

"Ng?" Mazurek sedikit mengerutkan dahi saat mendengar nada datar Inaho. Kejanggalan itu membuat Inaho memicingkan sedikit matanya, walaupun tak terlihat oleh pemuda yang berpapasan dengannya. "O-oh, baguslah kalau begitu. Ng! Tharsis?"

Kepala Inaho bergerak sedikit saat mendengar pemuda itu menyebutkan nama androidnya. Ia pun mengangkat kelelawar seputih salju yang ada di genggamannya dan menunjukkannya pada pemuda itu. Ia tak heran bila pemuda itu mengenal androidnya, namun nada terkejut yang diucapkannya benar-benar menarik perhatian Inaho. Karena itu ia pun berkata, "Kau mengenalnya?"

"Bagaimana aku tidak mengenalnya? Kupikir…" Mazurek langsung menghentikan kata-katanya sendiri. Tiba-tiba saja, pemuda itu tertegun dan mengatupkan kembali mulutnya. Lagi-lagi, sikapnya terlihat sangat janggal di mata Inaho. "M-maksudku, tentu saja. Dia 'kan android milikmu."

'Android milikku,' batin Inaho mendengar perkataan pemuda itu. Sepertinya benar, android ini memang miliknya. Hanya, Inaho tidak mengerti mengapa Mazurek sampai terkejut itu saat melihat android ini berada di tangannya? Kalau memang ini androidnya, seharusnya Mazurek tidak menunjukkan kekagetannya 'kan?

"N-nah, aku permisi dulu."

"Sebentar!" Inaho menghalangi jalan pemuda berambut ikal itu. "Ada yang mau kutanyakan."

"A-apa itu?" Mazurek bertanya dengan khawatir.

"Android ini," ucap Inaho sambil menunjukkan kelelawar dalam genggaman tangannya, "apa bedanya dengan Sleipnir?"

"Ya?"

"Kenapa aku membuat android ini?" Inaho bertanya pada Mazurek. "Apa fungsinya?"

Mazurek mengerjapkan mata selama beberapa saat mendengar pertanyaan Inaho. "Kenapa kau malah bertanya padaku?"

Inaho menatapnya selama beberapa saat, sebelum ia berkata, "Karena sepertinya kau akan memberikan jawaban yang kucari."

Mendengarnya, Mazurek hanya bisa terdiam di tempat. Ia menggerakkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak paham kenapa kau mengira bahwa aku akan memberimu jawaban yang kau cari. Tapi, jelas aku tidak tahu alasanmu membuat Tharsis."

Pemuda yang hanya memiliki satu manik merah itu menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menepi. Ia pun menghela napas dan kembali berjalan, meninggalkan si pemuda berambut ikal. Sembari menggenggam kelelawar di tangannya, ia pun melangkahkan kakinya.

.

.

.

"Apa yang sedang kau lakukan, Nao-kun?"

Yuki bertanya ketika melihat adiknya sedang serius mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. Ia pun mendekat pada pemuda itu dan mengintip dari balik bahu adiknya. Ketika ia mendapat gambaran yang lebih jelas, wanita itu pun berkata, "Kau membongkar Tharsis?"

"Hanya ingin melihat komponennya," jawab Inaho sembari membuka penutup androidnya. Ia mengambil peralatan dan membongkar sedikit parts yang ada di dalamnya. "Aku ingin memastikan bahwa android ini memang android milikku."

"Bagaimana caranya?"

"Biasanya aku memberikan tanda, sama seperti tanda yang kuberikan pada Sleipnir." Inaho menjawab sembari melepaskan sekrup dan mengeluarkan dynamo yang menjadi sumber daya android itu. Ia membalik dynamo tersebut kemudian menyinarinya dengan lampu baca di mejanya. "Kalau memang ia juga milikku maka seharusnya ada tanda yang menyatakan bahwa ia milikku."

"Oh? Tanda seperti apa?"

Inaho tidak menjawab. Melalui jemarinya, ia meraba dynamo yang dipasangnya di dalam android berbentuk kelelawar itu. Ketika ia menemukan bagian yang tidak rata, ia pun menandai bagian itu dengan jarinya sementara tangannya yang lain mendekatkan lampu baca ke bagian tersebut. Ia mendekatkan diri, membaca tanda yang ditemukannya itu.

"1101?"

"Apa?" Yuki berkata saat mendengar ucapan pemuda itu. "Ada apa Nao-kun? Apa yang kau temukan?"

Adiknya lagi-lagi memilih untuk bungkam. Walaupun tidak terlihat di wajahnya, pemuda itu kini sedang kebingungan. Ia yakin, yang tertera di atas dynamo milik android seputih salju ini adalah guratan tangannya. Hanya saja, ia tidak mengerti, mengapa ia menuliskan angka-angka tersebut dibandingkan dengan inisial namanya seperti biasa. Apakah maksudnya, android ini adalah android ke 1101 yang dibuatnya? Atau apa?

"Nao-kun? Hei?"

Yuki mengguncang tubuhnya, membuat perhatiannya kembali terarah pada sang Kakak. Mau tidak mau, Inaho akhirnya berkata, "Ada apa, Yuki-nee?"

"Apa yang kau temukan? Apa?" Yuki berusaha melihat dengan mendekatkan wajahnya pada adik laki-lakinya itu. "Aku penasaran."

Biarpun keheranan, pemuda itu tidak menunjukkannya. Ia hanya menggerakkan tangannya, menjauhkan kepala si kakak dari wajahnya. Begitu si kakak sudah cukup jauh, ia pun kembali memegangi partsnya dan berkata, "Tidak biasanya kau penasaran pada android ciptaanku, Yuki-nee."

"Oh ya?" Yuki kembali berkata. "Aku selalu penasaran kok. Misalnya pada Tharsis dan Sleipnir."

"Kau hanya tahu kedua android itu," jawab Inaho sembari meletakkan kembali dynamo yang dipegangnya ke body android tersebut. Ia pun menggerakkan jemarinya, mengamati setiap parts yang ia satukan untuk membentuk benda itu. Melihatnya, ia tahu bahwa hanya dirinya yang dapat membuat android dengan tingkat kerumitan seperti ini. Hanya saja, apa tujuannya? Kenapa ia sampai membuat android seperti ini dua kali? Apa fungsinya?

"Tidak, aku juga tahu androidmu yang lain," jawab Yuki. "Android penemu barang, android pencari barang hilang dan banyak lagi android yang kau buat. Sejak kau terobsesi pada teknologi android, segala sesuatunya kau jadikan android. Kau benar-benar kelewatan kalau sudah terobsesi, Nao-kun!"

Benar. Yuki benar. Sudah banyak android yang berakhir atau gagal di tangannya. Bisa jadi ribuan ataupun puluhan ribu android telah dibuatnya semenjak ia terobsesi pada teknologi yang menjadi keunggulan bangsa Vers itu. Hanya saja, bila sepuluh ribu lebiih android telah ia buat, kenapa ia malah bertahan di nomor 1101? Apakah itu artinya android ini adalah android ke 1101 yang ia ciptakan?

Tidak. Tidak mungkin. Android ke 1101 nya adalah sebuah android berbentuk robot anjing yang dapat menyemburkan api. Android itu ia gunakan untuk menakut-nakuti teman sekolah Asseylum karena selalu mengganggunya. Ia sudah lama sekali menciptakan android itu. Maka itu, bila android ini diciptakan selama masa perang, maka seharusnya android ini memiliki nomor yang lebih tinggi dari 1101. Lalu, kalau bukan urutan, jadi apa gerangan makna 1101 yang ia tulis di androidnya itu?

.

.

.

"Oh, Tharsis!"

Inaho menoleh dan menatap ke arah dua Count yang berada di belakangnya. Yang satu adalah wanita berambut ikal berwarna kemerahan, sementara yang satunya lagi adalah pria paruh baya yang cukup tambun. Melihat kedua Count ini menyebutkan nama android seputih saljunya kembali memancing keingintahuannya. Kenapa kedua Count ini tidak mengabaikannya seperti Count-Count lain yang melewatinya dan malah menaruh perhatian pada android seputih saljunya?

"Sekarang kau lebih sering membawanya, Count Kaizuka?" Pria paruh baya yang bertubuh tambun duduk di sampingnya dan menunjuk android seputih salju itu dengan tongkatnya. "Kukira kau lebih suka Sleipnir yang menemanimu."

"Count Keteratesse," jawab Inaho sopan, walaupun ia tidak menanggapi atau memberi jawaban pada pertanyaan pria itu.

"Ke mana Sleipnir?" Countess Femieanne yang mengambil tempat duduk di samping Count Keteratesse kembali berkata. "Apa sekarang Sleipnir pensiun dan digantikan oleh Tharsis?"

Mengabaikan komentar keduanya, Inaho pun berkata, "Kalian mengenal Tharsis?"

Keduanya mengangkat alis mendengar pertanyaannya, "Tentu saja."

"Kenapa?"

"Mungkin, karena aku pernah berhadapan langsung dengannya," ujar Count Keteratesse sembari mencoba menyentuh android seputih salju yang tengah dipegangi oleh Inaho. "Makanya aku sangat menaruh perhatian khusus padanya."

Ketika melihat Count Keteratesse, secara otomatis android seputih salju itu langsung berkata, "Detecting threat! Count Keteratesse! Projecting blue cannon!"

"Apa ini?"

"Tharsis stop!"

"Master voice confirmed! Action canceled!" Android seputih salju itu kembali berkata dan menghentikan semua perintah yang hendak dijalankannya. Kelelawar albino itu kini diam tak bergerak di pelukan Inaho, setelah memberikan reaksi yang mengejutkan bagi Orbital Knights yang duduk di sampingnya itu.

"Bisa jelaskan, Count Kaizuka?" Count Keteratesse akhirnya pulih dari keterkejutannya dan menemukan kembali suaranya. "Kenapa androidmu bermaksud menyerangku?"

Inaho tidak menjawab. Ia malah memegangi kelelawar albino yang kini diam tak bergerak. Tangannya menyentuh setiap bagian dalam diri android itu, sebelum ia membuka penutup android tersebut untuk mengecek. Ia penasaran, kenapa tiba-tiba androidnya langsung aktif saat melihat Count Keteratesse hendak menyentuhnya. Apa sebenarnya yang terjadi?

"Count Kaizuka?"

Di sampingnya, Femieanne menaruh satu tangannya di bahu pria itu dan menggelengkan kepala. Melihat sikap Femieanne, Count Keteratesse pun menghentikan tuntutannya terhadap Inaho. Bahkan tanpa banyak bicara, sang Count langsung mendengus dan beranjak pergi bersama dengan wanita berambut kemerahan itu. Sikap keduanya, membuat Inaho memicingkan mata dan menggerakkan sedikit kepalanya.

Benar dugaannya. Upayanya memamerkan android seputih salju ini memancing banyak keanehan di sekelilingnya. Mulai dari sikap Yuki-nee yang cenderung menghindar setiap kali ditanya mengenai android seputih salju itu, sikap Mazurek yang terkesan terlalu akrab, tulisan di parts androidnya dan sekarang sikap kedua Orbital Knights yang baru saja menghampirinya. Ia yakin, ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya dan melibatkan android seputih salju ini. Siapapun yang menyuruh mereka tutup mulut, pastilah seseorang yang cukup berpengaruh hingga membuat Orbital Knights sekelas Count Keteratesse sampai menutup mulutnya.

Kalau sudah begini, sepertinya ia harus menggunakan jalan memutar untuk mencapai tujuannya.

.

.

.

"Kotak hitam Sirenum?" Mazurek bertanya dengan bingung. "Kau membutuhkannya untuk apa?"

"Kau mau memberikannya atau tidak?" Inaho bertanya dengan tenang.

"Tapi… untuk apa?" Mazurek bertanya sembari mengerutkan dahi. "Lagipula kenapa kau meminta kotak hitam milik Sirenum? Apa tidak ada Orbital Knights lain yang dapat kau mintai tolong?"

"Karena sepertinya kau memiliki jawaban yang kucari."

Lagi, Mazurek mengerutkan dahinya mendengar jawaban pemuda bermanik merah itu. Ia tidak mengerti apa tujuan pemuda itu meminjam kotak hitam androidnya dan apa gunanya bagi pemuda itu. Bukankah Tharsis maupun Sleipnir sudah lebih unggul dibandingkan dengan androidnya? Untuk apa lagi pemuda itu meminjam kotak hitam Sirenum?

"Kalau aku tidak mau memberikannya?"tanya Mazurek. "Bagaimana?"

Inaho menghela napas. Ia tahu, tidak mudah untuk meminta kotak hitam android terutama pada Orbital Knights. Masalahnya, android pada setiap Orbital Knights itu istimewa dan keistimewaannya itu direkam seluruhnya dalam benda yang disebut kotak hitam. Sama halnya dengan kotak hitam pada pesawat, membuka benda itu sama artinya dengan mengungkapkan rahasia yang ada di dalam android tersebut. Makanya ia tak heran, ketika Orbital Knights yang satu ini enggan untuk memberikan kotak hitam android miliknya.

Melihat hal ini, Inaho pun menimbang-nimbang. Haruskah ia mengungkapkannya? Haruskah ia menyatakan kejanggalan yang selama ini mengganggunya? Haruskah ia mengatakan bahwa ada sesuatu yang tengah seluruh bangsa Vers ini sembunyikan darinya? Tapi, bila ia mengungkapkannya, apakah pemuda ini bisa dipercaya?

Sedikit bimbang, Inaho pun berkata, "Kalau kotak hitam Sleipnir dan Tharsis tidak hilang, aku tidak akan bertanya padamu."

Pupil di mata Mazurek melebar sedikit saat mendengar perkataan pemuda itu. Kotak hitam milik kedua android Kaizuka Inahio lenyap? Bagaimana bisa? Siapa yang… ah, sepertinya ia paham.

"Aku tidak perlu meniru Sirenum, kalau itu yang kau takutkan," ujar pemuda di hadapannya. "Tanpa kotak hitam pun, aku yakin Tharsis maupun Sirenum dapat lebih unggul darimu."

Arogansi pemuda ini memang tiada duanya. Sudah terdesak pun perkataannya masih tetap tajam. Mendengarnya, Mazurek akhirnya menutup buku yang tengah ia baca. Ia menatap ke arah pemuda bermanik merah yang berdiri di depan meja kerjanya itu dan berkata, "Baiklah, kalau memang begitu kenapa hanya kotak hitam Sirenum yang kau incar?"

Bukan hanya SIrenum saja sebenarnya. Inaho mengincar android milik para Orbital Knights yang mengenal android seputih salju miliknya. Selain Mazurek, ia juga mengincar Hellas milik Femieanne, ataupun Geryon milik Count Keteratesse. Sayangnya, ia tak yakin kedua orang itu mau memberikannya. Ia lebih yakin pemuda yang selalu sibuk dengan penelitian aneh itulah yang akan membantunya menemukan jawaban yang ingin diketahuinya.

Biarpun begitu, Inaho enggan mengatakan hal yang sebenarnya. Dibanding mengungkapkan alasannya, pemuda itu malah berkata, "Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku akan menjadikan Sirenum setara dengan Tharsis atau Sleipnir? Apa kau mau memberikan kotak hitamnya padaku?"

Mazurek kembali mengerutkan dahi mendengarnya. "Hah?"

Inaho mengulang perkataannya, "Setara Sleipnir maupun Tharsis. Bagaimana?"

Mazurek tidak tertarik sebenarnya, hanya saja mendengar pemuda itu sampai menawarkan untuk menyetarakan Sirenum dengan dua android kebanggaannya cukup mencuri perhatiannya. Pemuda ini sampai melakukan hal seperti itu hanya untuk mencari tahu apa yang tengah disembunyikan bangsa Vers. Apakah pemuda itu sadar bahwa hal yang disembunyikan bangsa Vers itu sesuatu yang sangat penting untuknya?

Berpikir sejenak sembari memainkan alat tulis di jarinya, Mazurek akhirnya meletakkan kedua tangannya di atas meja. Ia bangkit berdiri dan beranjak menuju ke lemari yang ada di belakang punggungnya. Tangannya mengeluarkan sesuatu dan ia mengulurkannya pada Inaho.

"Kau mau memberikannya?" Inaho menatapnya, takjub karena pemuda itu setuju dengan tawarannya.

"Ya," Mazurek menjawab dengan pasti. Ia meletakkan kotak hitamnya di atas meja, di hadapan pemuda itu. "Kau tidak mau? Sudah tidak membutuhkannya lagi?"

"Butuh," jawab pemuda itu sembari mengulurkan tangan mengambil kotak hitam tersebut. Pemuda itu memandangi kotak di tangannya sebelum akhirnya mengarahkan kembali pandangan pada Mazurek dan berkata, "Sirenum sendiri, di mana? Kenapa kau bisa menyimpan kotak hitamnya tanpa membuka Sirenum?"

Pemuda berambut ikal itu menggerakkan sedikit bola matanya sebelum berkata, "Kau akan tahu kalau kau mengintip isi kotak hitamnya."

.

.

.

Inaho membawa perangkatnya ke atas ranjang dan memasukkan kotak hitam yang Mazurek berikan ke dalam perangkat tersebut. Begitu dimasukkan, perangkat itu langsung bergerak dan memunculkan hologram di atas kepalanya. Melihatnya, Inaho pun bersandar pada bantal yang ia letakkan di belakang kepala ranjang dan melipat kedua tangannya.

Untung saja ia memilih untuk menontonnya sembari bersandar di ranjang. Masalahnya, banyak bagian yang terpaksa ia lewati karena hanya menunjukkan pertarungan-pertarungan yang pernah dihadapi Sirenum. Proses maintenance android yang ikut terekam di dalam kotak hitam tersebut juga membuatnya mengantuk. Isinya benar-benar sangat membosankan hingga pemuda itu mempercepatnya hingga ke bagian terakhir, tepat sebelum android itu hancur.

Hologram yang menampilkan kilas balik adegan tersebut terhalang oleh debu saat itu. Inaho tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi. Sirenum tengah menembakkan pisaunya pada seseorang dan membuat debu bertebaran saat ia melakukannya. Tidak jelas apakah orang yang ditembaknya selamat atau sudah mati karena terkena serangannya. Melihat gambarnya buram dan tidak jelas, Inaho pun memutuskan untuk mematikannya saja.

"Tharsis! Apa itu?"

Posisi pemuda itu langsung berubah begitu mendengar suaranya. Tangannya yang hendak menekan tombol stop langsung berhenti di tempat ketika mendengar suara itu. Suara seorang gadis, sangat jelas hingga membuat darahnya berdesir. Suara itu seolah membangkitkan sesuatu yang telah terkunci di dalam dirinya.

Siapa? Siapa gadis ini? Kenapa gadis ini dapat menyebutkan nama Tharsis, android yang seharusnya adalah miliknya? Apakah jangan-jangan, gadis inilah pemilik Tharsis yang sesungguhnya? Tapi… ia sangat yakin bahwa android seputih salju itu adalah buatan tangannya. Apakah mungkin… ia membuatkannya untuk gadis itu? Ia yang… selama ini hanya melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri?

Inaho mendengar Tharsis menjawab pertanyaan gadis itu dan menjelaskan keunggulan Sirenum. Sementara itu, gambar yang ditayangkan pun mulai jelas sehingga Inaho bisa mengenali sosok kelelawar Tharsis yang mengepakkan sayapnya. Di samping android itu, Inaho bisa melihat ada sosok seorang gadis, ramping dan mungil, berbicara pada android tersebut.

Begitu melihat sosoknya, Inaho tak bisa melepaskan pandangannya dari layar. Cara sosok itu bergerak, suaranya, ekspresinya membuat jantung pemuda itu berdegup kencang dan nyaris tak bisa bernapas. Ada perasaan aneh yang muncul saat melihat gadis itu. Perasaan rindu yang tak tertahankan disertai dengan amarah dan kesedihan yang bergabung menjadi satu. Aneh sekali. Kenapa ia merasakan hal seperti ini pada gadis yang baru pertama kali dilihatnya?

"Kaizuka-san…"

DEG!

Rasa sakit tiba-tiba menyerang kepalanya saat mendengar panggilan itu. Sakit yang amat sangat itu membuatnya memegangi kepala dengan kedua tangan dan mencengkeramnya erat. Ia mengerang, menjerit bahkan menarik rambutnya. Ia berharap cara ini dapat mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Sayangnya, justru rasa sakit yang ia dapatkan malah semakin menyiksa.

"Kau pembohong, Kaizuka-san!"

'Tidak! Aku bukan pembohong! Kumohon! Jangan mengatakannya dengan suara sesedih itu.'

"Kalau kau tidak bisa menepati, sebaiknya jangan berjanji!"

'Aku akan menepatinya. Akan kutepati.'

"Tidak ada, di masa depanku, kau tidak ada di sana, Kaizuka-san."

'Kenapa? Aku ingin berada di masa depanmu. Aku ingin selalu bersamamu.'

"Selamat tinggal, Kaizuka-san."

'Tidak! Tidak! Jangan tinggalkan aku! Jangan…'

Perkataan terakhir itu memberikan pukulan telak bagi Inaho. Kepalanya berdenyut, napasnya memburu, ia mengernyit menahan sakit. Sakit sekali. Hanya saja, ia tidak mau rasa sakitnya menghilangkan bayangan gadis itu. Ia tidak mau gadis itu menghilang. Inaho ingin melihatnya lagi.

Pemuda itu pun mengulurkan tangannya, mencoba meraih hologram yang menampilkan si gadis berambut perak. Hanya saja, tangannya tidak pernah sampai. Gadis itu seolah menjauhinya, membuatnya tidak dapat meraih gadis itu. Ia pun mencoba menggapainya, namun kegelapan lebih dulu menghampirinya.

"Jangan…," ucapnya sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, "Slaine…"

"Nao-kun!"

.

.

.

Wanita itu berambut perak, berjalan dengan kepala tegak dan anggun. Sepatu hak tingginya berwarna biru langit, serasi dengan seragam salah satu maskapai penerbangan. Satu tangan wanita itu menyeret kopor besar dengan lambang maskapai penerbangan yang sama, sementara tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk menggenggam handphone dan menempelkannya ke telinga.

Inaho mengikutinya. Ia memerhatikan cara berjalan yang amat berbeda dengan gadis yang dulu dikenalnya. Ia juga memerhatikan rambut yang digelung ke atas dan bukannya mengikatnya dengan kuncir kuda seperti dulu. Melihatnya seperti ini, memberikan perasaan baru yang sedikit berbeda dengan melihat gadis yang dulu dikasihinya.

Ketika Inaho sedang asyik mengamatinya, langkah wanita itu tiba-tiba terhenti. Gerakan ini membuat Inaho yang tengah membuntutinya pun berhenti secara mendadak. Dari jarak yang tak begitu jauh, pria itu melihat bahwa wanita berambut perak itu tengah menatap kosong pada jendela tinggi yang ada di samping kanannya. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya menghela napas dan menoleh ke samping kiri.

Benda di samping kiri menarik perhatian wanita itu. Melihatnya membuat Inaho tergoda untuk turut mengamati apa yang menarik perhatian si wanita. Didasari rasa penasaran, pria itu pun mengintip sedikit apa yang tengah diamati oleh wanita itu.

Belum sempat ia mendekat, wanita itu menunjukkan ekspresi terkejut disertai rasa takut. Segera saja wanita itu mundur dan buru-buru melangkah sembari menyeret kopornya. Ia penasaran, namun ia lebih memprioritaskan mengejar wanita itu. Untungnya ada dua orang tak dikenal berdiri memandangi poster yang sama dan menyuarakan keras-keras isi poster tersebut.

Oh, rupanya itu poster yang berisi iklan film terbarunya. Tapi, kenapa wanita itu terkejut saat melihatnya? Apakah mungkin… wanita itu masih mengingatnya? Tapi… kenapa harus bereaksi ketakutan seperti itu? Apakah… ia sebegitu menakutkan?

Tak lama kemudian, kedua orang itu pergi, sementara beberapa orang lain hanya lewat tanpa mengindahkannya ataupun wanita di hadapannya. Mereka bahkan tidak peduli, ketika wanita yang sedari tadi dibuntutinya masih tetap diam di tempatnya. Wanita itu terus mematung, hingga tak menyadari benda yang dipegangnya tiba-tiba jatuh dan menggelinding, mendekat pada Inaho. Tanpa disadarinya, wanita itu berbalik, berjalan mendekat dengan pandangan mata yang tertuju pada benda di dekat kakinya. Ketika wanita itu menekuk kedua kakinya untuk mengambil benda yang tadi terjatuh, Inaho sudah lebih dulu mengulurkan tangan dan mengambilnya.

Kalung dengan bandul stainless bundar berukiran biru itu berkilat saat ia mengangkatnya di atas kepala. Benda itu masih sama dengan yang diingat Inaho. Semua guratannya, semua kilaunya, semuanya masih sama. Dulu, benda ini mempertemukannya dengan Slaine dan sekarang benda ini pun kembali mempertemukannya dengan wanita itu.

"K-Kaizuka-san?"

Inaho menoleh, dan ia melihat manik sebiru lautan yang sangat ia rindukan itu balas menatapnya. Melihatnya, tak pelak membuat manik merahnya terasa panas dan berkaca-kaca. Sudah berapa lama ia tak melihat manik sebiru lautan itu? Sudah berapa lama ia tak mengulurkan tangan dan mengusap rambut keperakan itu? Sudah berapa lama ia tak merengkuh tubuh mungil itu?

Tangannya bergerak, ingin segera memeluk gadis itu, ingin segera menariknya dan mengecup bibir mungilnya. Hanya saja, ia menahan diri. Saat itu, ia teringat perkataan sang Ratu sesaat sebelum kepergiannya.

"Kau serius ingin kembali ke Bumi, Inaho-san?"

Inaho mengangkat kepalanya dan mengangguk. "Keputusanku tidak berubah, Seylum-san."

"Ia tidak mengharapkanmu untuk kembali," sang Ratu kembali berkata dengan ekspresi membujuk. "Ia meninggalkanmu, lagi dan lagi."

"Aku tahu."

"Kalau kau tahu kenapa kau malah kembali lagi untuk menemuinya?" Sang Ratu bertanya dengan nada meninggi. "Kau sudah disakiti sedemikian rupa, ditinggalkan begitu saja sekalipun ia tahu bahwa kau sangat mencintainya. Tapi kenapa kau masih ingin kembali?"

"Aku..tidak tahu."

"Tidak tahu?"Asseylum mengerutkan dahi. "Ini tidak seperti dirimu, Inaho-san! Kau bukan orang yang akan memutuskan sesuatu berdasarkan alasan irasional semacam itu. Kau tidak segegabah itu. Cobalah kau tenangkan dirimu dan pikirkan baik-baik!"

"Aku sudah cukup tenang, Seylum-san!" Inaho berkata tanpa emosi. "Aku cukup menguasai diri untuk meminta izinmu dulu sebelum kembali ke Bumi."

"Kalau aku tidak mengizinkannya?" Asseylum bertanya. "Keuntungan apa yang kudapat dengan membiarkanmu pergi ke Bumi?"

Inaho menatapnya dan berkata, "Tidak ada."

"Kan?" asseylum menunjuk Inaho. "Makanya aku tidak akan…"

"Seylum-san," Inaho memotong ucapannya. "Tolong aktifkan gerbangnya!"

Asseylum memicingkan mata mendengar nada perintah yang diucapkan ksatrianya itu. "Kau berani memerintahku, Kaizuka Inaho? Memangnya siapa kau hingga berani mengancamku seperti itu?"

"Aku… ksatria terbaik negeri Vers, orang yang kau jadikan Pahlawan Besar pada zaman perang Vers."

"Itu bukan alasan untuk…"

"Kalau kau tidak mau melakukannya," Inaho menggerakkan sedikit tangannya dan kedua android berwarna putih dan jingga sudah bersiaga di belakangnya, "aku akan memaksamu."

"Orbital Knights akan…"

"Panggil semua Orbital Knightsmu!" Pemuda itu berkata dengan nada datar, namun mengandung ancaman. "Panggil juga seluruh ksatria Vers. Kalau aku menang, kau harus melepaskanku."

"Kau gila!" Asseylum terang-terangan berkata. "Itu namanya bunuh diri."

"Memang," Inaho menyetujui ucapan sang Ratu. "Pilihanku hanya dibunuh pelan-pelan atau membunuh diriku sendiri, dengan sangat sadar , aku memilih pilihan kedua."

"Dibunuh pelan-pelan? Apa maksudmu? Siapa yang akan membunuhmu seperti itu?"

"Kau."

Sang Ratu yang tadinya hendak membantah langsung menutup mulutnya mendengar perkataan pemuda itu. Wanita itu pun memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas dan membuka mata. Dengan menatap manik merahnya, wanita itu berkata, "Baiklah."

Inaho menyipitkan mata mendengar perkataan sang Ratu. Begitu ia mendengar wanita itu melanjutkan ucapannya dengan 'aku akan membuka gerbangnya', barulah pemuda itu sedikit rileks.

"Tapi sebelum kau kembali, aku ingin mengingatkan bahwa gadis itu yang tak menginginkanmu kembali, Inaho-san." Ratu kembali melanjutkan ucapannya. "Apa yang akan kau lakukan kalau gadis itu menolakmu dan memintamu untuk kembali ke Vers?"

Inaho mengangkat kepalanya. "Aku akan bertanya padanya."

"Menanyakan apa?"

"Katakan padaku," ujar pemuda itu sembari menggenggam bandul perak di tangannya, "bagaimana caranya agar aku bisa bertahan hidup, Slaine?"

"A-apa?" Wanita berambut perak yang memiliki manik terindah di dunia ini mengerutkan dahi mendengar pertanyaannya.

"Kau yang memintaku untuk tetap hidup 'kan?" Inaho kembali bertanya. "Jadi katakan padaku bagaimana caranya?"

"Itu… itu mudah 'kan?" Slaine balas bertanya. "Kau hanya perlu menikmati hari-harimu dan…"

"Bagaimana caranya menikmati hari?"

"M-mungkin…"

"Bagaimana caranya aku harus melewati satu hari bila setiap detiknya aku menjerit memanggil namamu?" Inaho memotong ucapan wanita itu. "Bagaimana caranya aku harus bertahan hidup bila yang kulakukan hanya berteriak seperti orang gila, menabrakkan kepalaku ke dinding, meraung-raung bagaikan orang kesetanan hanya untuk mengingatmu?"

"K-Kaizuka-san…"

"Apa itu yang kau maksud dengan bertahan hidup, Slaine?" Inaho kembali bertanya. "Apa aku harus menikmati hari-hari yang seperti itu?"

"Bukan, bukan seperti itu," ujar Slaine sembari menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin kau mengingatku. Aku ingin kau hidup tanpa mengenalku, aku…"

"Itukah yang kau inginkan dengan memintaku bertahan hidup?" tanya pria itu sembari menahan tangannya. "Neraka itukah yang kau maksud dengan bertahan hidup? Kalau itu yang kau maksud dengan bertahan hidup, kenapa kau tidak membunuhku saja?"

"Tidak, bukan itu." Wanita itu berkata sembari menggelengkan kepalanya. "Aku… aku ingin kau tetap hidup, tapi bukan seperti itu."

Pria di hadapannya menggelengkan kepala. "Lalu seperti apa?"

"Aku… aku ingin kau bahagia, aku… aku ingin…"

"Itu bahagia menurut keinginanmu, Slaine, bukan aku."

"Keinginanmu? Apakah tetap hidup bukan keinginanmu?"

Pria itu menggelengkan kepalanya. "Tidak."

"Apa… yang kau inginkan?"

Menatap matanya, pria itu mengangkat tangan wanita yang dikasihinya dan menyentuhkan punggung tangan wanita itu ke bibirnya. "Aku hanya ingin berada di sampingmu. Hanya itu."

"Kaizuka…"

"Kenapa…kau tidak kunjung menyadarinya?"

Manik sebiru lautan itu menatapnya dan perlahan tetes-tetes air jatuh dari pelupuk matanya.

"Kali ini," kata pria itu sembari menyentuhkan tangan itu ke pipinya, "biarkan aku untuk tinggal di sisimu."

Tak pelak lagi, ucapan pria itu membuat wanita yang ada di hadapan matanya menundukkan kepala dan menutup mulut dengan tangannya yang tak digenggam. Wanita itu memejamkan mata, berusaha menahan isakan yang nyaris keluar dari bibirnya. Walaupun pada akhirnya, suaranya yang parau menjelaskan seluruh perasaannya.

"Aku… aku harus bagaimana?"

Inaho mengangkat kepalanya, menatap wanita itu.

"Kalau… kalau kelak, kau tinggal denganku dan akhirnya kau pergi lebih dulu," ujar wanita itu dengan suara parau, "aku harus bagaimana?"

Pupil di manik semerah karat itu membesar mendengarnya.

"Aku… harus bagaimana?"

Wanita itu menangis, sementara Inaho tertegun menatapnya. Pria itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya tangannya menarik wanita itu dan memeluknya. Ia mendekap wanita itu erat-erat dan menaruh kepala wanita itu di bahunya.

"Aku tidak ingin kau meninggalkanku," kata wanita itu. "Aku tidak mau kau pergi. Aku ingin selalu bersamamu."

Inaho menyentuh rambut perak wanita itu, mengusapnya helai demi helai.

"Tapi aku takut, " wanita itu berkata lagi, "aku takut kau meninggalkanku pada akhirnya."

Genggaman tangan pria itu semakin erat.

"Kalau seperti itu," ujar wanita itu, hampir berbisik, "aku harus bagaimana? Aku takut, Kaizuka-san!"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya terus memeluk wanita yang paling dikasihinya itu dalam diam. Ia terus mengusap rambutnya hingga wanita itu berhenti terisak. Saat itu, barulah ia berkata, "Kau… sudah membiarkanku mengalami ketakutan itu dua kali, Slaine."

"Ng?"

"Ketakutan yang kau katakan," ujar pria itu, "aku sudah dua kali mengalaminya karenamu."

"Kaizuka…"

"Aku dua kali menghadapinya seorang diri," kata pria itu sembari memeluk Slaine erat, "tapi satu kali pun kau tidak berani menghadapinya."

"Aku…"

"Haruskah aku yang menggantikanmu menghadapinya, Slaine?" Inaho kembali bertanya. "Apakah kali ini pun… aku harus menghadapinya lagi seorang diri?"

Wanita yang ada di pelukan Inaho itu terdiam dan kali ini ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya memeluk pria itu erat, sementara wajahnya ia benamkan di bahunya. Airmatanya terus mengalir, membasahi kemeja yang dikenakan pria di hadapannya.

"Aku mencintaimu, Slaine." Pria itu akhirnya berkata. "Sangat mencintaimu."

Wanita itu mengangguk kuat-kuat walaupun airmatanya tak berhenti mengalir.

"Kali ini, izinkan aku untuk tinggal di sisimu." Pria itu berkata dengan memeluknya erat, "Hingga kematian, memisahkan kita berdua."

Wanita itu tertegun selama sesaat, sebelum akhirnya ia kembali mengangguk. Isak tangis yang selama ini ditahannya akhirnya tak terbendung lagi. Ia pun membiarkan dirinya hanyut di pelukan pria bermanik merah itu.

Wanita itu sadar, ketakutannya tidak lenyap. Pria ini juga tidak memberikannya solusi untuk menghadapi rasa takutnya. Tapi paling tidak, kali ini ia belajar, untuk tidak menimpakan rasa takutnya pada orang lain. Kali ini ia belajar, untuk menghadapi rasa takutnya, untuk berani mengambil resiko atas keputusannya.

Dengan begitu, kali ini ia bisa berkata,

"Aku juga…," ucap wanita itu di sela isak tangisnya, "sangat mencintaimu, Kaizuka-san."

Kelopak mata Inaho melebar. Wanita itu sendiri mengangkat kepalanya dari bahu pria itu, memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan airmata. Tangannya menyentuh wajah pria itu, membingkainya dan memperlihatkan senyum terbaik miliknya. Lalu ia pun berkata, "Tinggallah, dan jangan tinggalkan aku!"

Mendengarnya, pria itu tidak menjawab atau mengiyakan. Inaho hanya menarik wanita itu mendekat kembali padanya dan kali ini, ia menundukkan sedikit kepalanya untuk mengecup bibir kemerahan wanita itu. Ia memberikan ciuman ringan dan lembut yang berakhir secepat kedatangannya. Hanya saja, ia juga melayangkan ciuman kedua yang sangat berbeda dengan ciumannya yang pertama. Kali ini, ia tidak berniat untuk melakukannya dengan lembut. Persetan dengan beberapa orang yang lalu lalang sembari menunjuk mereka.

Ia tidak sadar berapa lama mereka terus berpelukan sembari berebut udara yang tipis. Ia hanya ingat bahwa ia perlu mengucapkan sesuatu yang sedari tadi ingin dikatakannya pada wanita itu. Karena itu ia mengambil kesempatan ketika mereka berdua memisahkan diri untuk mencari udara.

"Aku pulang, Slaine."

Dan wanita yang akan dikecupnya lagi itu pun akan menjawab, "Selamat datang kembali, Kaizuka-san."

.

.

.

Epilogue:

"Kaizuka Sena! Kaizuka Shieru!" Wanita yang berdiri di hadapan dua anak laki-laki itu menghantamkan tangannya ke meja dan dengan galak berkata, "Apa maksud kalian melemparkan kaleng sampah ke anak lain? Kenakalan kalian benar-benar sudah keterlaluan kali ini."

"Bukan kami!" Keduanya menjawab serempak hingga membuat wanita tadi menyipitkan mata.

"Mizusaki sensei, anak itu menindas anak lain." Anak laki-laki yang berambut perak berdiri dari kursi dan turut menghantamkan telapak tangannya ke meja. "Dia malah memasukkan anak lain ke tong sampah! Dia mengangkutnya bagaikan sampah yang harus dibuang."

"Tapi bukan begitu caranya menyelesaikan masalah," ujar wanita yang dipanggil Mizusaki sensei itu. "Kau harus bicara baik-baik, bukan membalas kekerasan dengan kekerasan."

"Aku dan Sena sudah memperingatkannya," kata anak laki-laki yang memiliki rambut darkbrown dengan manik sebiru lautan. "Tetap saja mereka melakukannya. Karena tidak bisa diingatkan baik-baik, akhirnya kami mengambil tindakan."

"Benar!" Si anak laki-laki berambut perak menyetujui ucapan kembarannya. "Kaa-san bilang kalau ada yang menindas, jangan ragu untuk melawan."

"Tou-san juga bilang lebih baik menindas dibanding tertindas."

"Tou-san tidak bilang begitu," kata yang berambut perak sembari mengerutkan dahi. "Tou-san bilang menindas itu tidak baik, tapi tertindas lebih tidak baik lagi."

"Bukannya sama saja?"

"Beda."

Keduanya berdebat, sudah lupa bahwa kepala sekolah mereka tengah menceramahi keduanya sebelumnya. Sikap keduanya yang seenaknya itu sudah sering kali menjadi keluhan para guru di sekolah, hanya baru kali ini sang kepala sekolah mengalaminya sendiri. Melihatnya, membuat sang kepala sekolah pun terpaksa mengeluarkan kartu terakhirnya.

"Baiklah," ujar wanita itu, mengupayakan agar suaranya setenang mungkin, "kalau begitu, aku akan memanggil orang tua kalian saja."

Kali ini, kedua anak kembar itu berhenti berdebat dan menaruh perhatian padanya. Melihatnya, Mizusaki Kaoru merasa yakin bahwa tindakannya kali ini adalah tindakan yang tepat, yang mampu memberikan efek jera bagi kedua anak kembar ini. Tahu begitu, sudah dari dulu ia memanggil orang tua keduanya.

"Boleh saja," jawab keduanya dengan santai, di luar dugaannya. "Kaa-san atau Tou-san pasti akan menyanggupi kok."

Mizusaki mengerjapkan matanya. "Kalian yakin?"

Keduanya mengangguk dengan mantap.

"Kalian… tidak takut orang tua kalian akan memarahi kalian?" mizusaki bertanya sembari memicingkan mata. "Kalian melakukan kenakalan yang merugikan orang lain lho!"

"Kenapa takut? Aku dan Shieru melakukan hal yang benar." Si rambut perak kembali berkata. "Selama kami melakukan hal yang benar, Tou-san maupun Kaa-san tidak akan marah."

Misuzaki memijat-mijat keningnya kali ini. Ia memutar otak, memikirkan apa yang dapat membuat kedua anak ini jera. Memanggil orang tua bukan solusi untuk kasus anak-anak ini, mereka tidak takut. Jarang sekali ada anak berumur sepuluh tahun yang bisa bicara begitu percaya diri saat mengatakan bahwa ia akan memanggil orang tua mereka. Lama-lama, ia jadi penasaran siapa orang tua kedua anak kembar ini.

Didorong rasa penasaran, Mizusaki Kaoru pun akhirnya membuka buku siswa keduanya. Ia membuka halaman pertama dan membaca nama kedua orang tua mereka. Begitu menemukan nama keduanya, ia pun mengerutkan dahi.

"Kaizuka Inaho," ujarnya sembari membaca buku siswa, "ayah kalian?"

Lagi-lagi keduanya mengangguk.

"Dan Slaine Saazbaum Troyard itu…"

"Kaa-san." Keduanya menjawab serempak.

Kembali Mizusaki Kaoru terdiam sambil mengerutkan dahi. Rasanya ia pernah mendengar kedua nama itu sebelumnya. Kapan dan di mana tepatnya ia mendengarnya, ya?

"Oh!"

Kedua anak itu sontak terkejut ketika mendengarnya berteriak secara tiba-tiba. Manik sebiru lautan dan manik merah yang berada di hadapannya itu mengerjap sementara punggungnya merapat pada sandaran kursi. Keduanya menaruh perhatian penuh padanya.

"500 years!" Sang kepala sekolah berkata dengan senyum mengembang. "Ya 'kan? Ayah kalian penulis novel itu 'kan?"

Keduanya mengangguk tanpa berkata-kata.

"Novel mengharukan itu," kata wanita di hadapan keduanya sembari memejamkan mata, "aku masih ingat, ceritanya yang bagus sekali. Kubaca hingga berulang-ulang kali."

"Kata Kaa-san, ceritanya picisan."

"Siapa bilang?" Mizusaki Kaoru pun tak sadar bahwa ia sedang mendebat dua orang anak kecil. "Cerita seorang pria yang menunggu kekasihnya… sangat mengharukan."

"Kata Kaa-san, itu cerita seorang pria keras kepala yang terobsesi pada seorang wanita. Kaa-san selalu bilang agar kami tidak menjadi pria seperti itu."

"Hah?" wanita itu mengerutkan dahi mendengarnya. "Ibu kalian tidak salah? Itu 'kan suaminya sendiri yang mengarang novelnya."

"Benar kok!" si rambut darkbrown meminta dukungan pada yang berambut perak. "Ya? Sena?"

Sena pun mengangguk. "Ya, makanya Kaa-san 'kan selalu bilang…

"Berhati-hatilah terhadap obsesi seorang Kaizuka!"

.

.

.

The End!

Yay!

So, I know very well that they're many issued that haven't answered yet, but… I'm very sorry, I should leave that for your imagination :D

Thank you all for always reading this fic til now. Without your support I won't be able to finish. I hope you guys still enjoy this fic til very end.

Thank you once again and I hope to see you again at another occasion. :D