Today's Quote : 'I know. I'm not alone, not anymore' – Cloud Strife from FF VII AC.
AE_36
Berita mengenai Genesis dengan cepat muncul diseluruh media. Baik di koran, televisi, majalah, foto Genesis selalu berada di halaman depan. Kejahatan yang dilakukannya membuat banyak sekali penggemarnya yang kecewa berat. Tetapi ada juga yang mensyukurinya karena ia melibatkan Tifa, yang juga adalah artis favorit se-Gaia. Belum diketahui hukuman apa yang diberikan padanya. Tetapi ada berita yang mengatakan bahwa Genesis dijatuhi hukuman empat belas tahun penjara serta denda sebesar tujuh juta gil atas pelanggaran UU berlapis. Melakukan tindakan mesum, percobaan pembunuhan, dan pembunuhan yang dilakukan secara tersembunyi. Untuk Scarlett, dia dijatuhi hukuman yang lebih berat, yaitu... hukuman seumur hidup! Siapa juga yang menduga bahwa ternyata Scarlett telah menjadi buronan polisi semenjak tiga tahun lalu karena 'jasa' yang ia tawarkan? Dia memang hanya membunuh jika disuruh, tetapi membunuh tetaplah membunuh.
Bak rumus matematika, setiap artis pasti hanya diam dan tersenyum ketika ditanyakan oleh reporter. Seperti sekarang ini, ketika Genesis hendak dibawa ke ruang sidang sambil dikawal, ia langsung diserbu oleh segerombolan reporter. Para reporter itu menanyakan hal yang sama berkali-kali, tetapi yang dilakukan Genesis hanyalah diam dan mengangguk ke arah wartawan. Atau paling, dia hanya berlagak cool dan berkata 'kita lihat saja nanti'. Dan tidak lama kemudian, dia pun memasuki ruang sidang dan membuat para reporter itu tidak mendapat berita apa-apa. Intinya, mereka harus gigit jari dan puas dengan satu kalimat dari Genesis itu.
Meskipun dia sudah terbukti bersalah, Genesis masih berusaha menyangkal. Bahkan, dia juga menyewa pengacara handal untuk membelanya. Meski percuma. Toh, mau sehebat apapun pengacaranya, jika bukti sudah ada maka Genesis tidak bisa berbuat apa-apa. Hakim juga tidak menerima permintaan keringanan hukuman yang diajukan pihak Genesis. Alasannya, kejahatan Genesis sudah termasuk dalam kategori berat. Apalagi, dia melakukan kejahatan ini sudah lama, lebih tepatnya, saat shooting beberapa bulan lalu.
Intinya, pengacara Genesis kalah dalam sidang.
Namun, bukan hanya itu berita yang menghebohkan masyarakat.
Ada satu lagi, dan berita itu adalah...
Mundurnya Cloud dan Tifa dari dunia keartisan.
Dua bulan setelah berita Genesis yang dijebloskan ke penjara, dunia hiburan kembali kehilangan dua artis berbakat mereka. Cloud dan Tifa mengumukannya ketika konferensi pers, dan tidak hanya itu, mereka juga mengumumkan hubungan mereka. Dan mengatakan bahwa mereka akan menikah. Tetapi hanya itu saja. Cloud dan Tifa tidak memberitahu wartawan dimana resepsinya dan tanggalnya. Sama seperti Genesis, mereka hanya tersenyum dan memberikan komentar singkat berupa 'kita lihat saja nanti'.
Hubungan Cloud dan Tifa sendiri merupakan kejutan bagi publik. Sebenarnya mereka berdua juga sempat 'dijodohkan' oleh masyarakat berkat akting mereka di video klip itu. Dan mereka sungguh kaget karena ternyata mereka berdua benar-benar berpacaran. Bisa dibilang, ini adalah salah satu hiburan ditengah berita pengunduran diri mereka. Para penggemar juga mengirimkan banyak sekali kartu ucapan kepada mereka melalui agensi. Yang tulisannya adalah 'SEMOGA BERBAHAGIA SELALU'.
Satu tahun kemudian...
Zack tengah membaca koran paginya dengan serius. Di depannya, terdapat secangkir kopi hitam panas yang ia buat sendiri. Sambil mendengar suara televisi yang sedang menyiarkan berita, Zack terus melanjutkan aktivitas paginya. Namun, ternyata ada yang membuatnya merasa gelisah. Zack melipat koran paginya dan menatap ke belakang. Pantas saja, tidak terlihat sosok Aerith yang sedang memasak di dapur. Padahal biasanya mereka berdua selalu berada di ruang makan saat pagi hari. Apa iya Aerith masih tidur? Kalau tidak salah, Aerith sempat beberapa kali bangun saat tengah malam.
Daripada memanggilnya dari bawah, Zack menyesap kopinya dan berjalan menaiki tangga. Tetapi baru saja dia sampai di lantai dua, sosok Aerith yang dinanti-nanti olehnya muncul. Ia tengah memakai daster berwarna merah muda dan wajahnya tampak kelelahan. Aerith tengah memeluk seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur pulas. Bayi laki-laki yang juga adalah... anaknya. Mereka berdua menamainya Nathan. Nathan Fair, apakah kedengarannya cukup bagus? Bagi Zack sih iya. Soalnya dia sih yang mengusulkan nama ini. aerith juga langsung setuju.
Melihat bayi ini selalu membuat Aerith mengingat perjuangannya. Perjuangannya dalam mempertahankan kehamilannya. Asal tahu saja, vitamin-vitamin yang diberikan dokter tidaklah banyak membantu. Malah, tidak membantu sama sekali. sampai-sampai Aerith pernah nyaris keguguran karena vitamin itu. Zack sempat kehilangan akal, namun akhirnya dia membawanya ke dokter kandungan yang lain. Usul yang ditawarkan kali ini berbeda lagi. dokter ini menyarankan cara yang lebih aman, senam. Senam khusus untuk ibu hamil. Dan sang suami harus selalu mendampinginya ketika senam masih berlangsung.
Awalnya Zack dan Aerith agak ragu, tetapi cara itu ternyata memang ampuh. Sekitar seminggu kemudian, hasilnya sudah kelihatan. Dan mereka terus melanjutkan senam ini hingga akhirnya Aerith melahirkan anak pertamanya. Bayi laki-laki yang sangat sehat. Yang mampu membuat Zack dan Aerith menitikkan air mata.
Perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil. Dan kini, anak mereka tumbuh dengan sangat sehat.
"Ada apa Zack?"
"Tidak, kau tidak turun juga sih. Jadi aku khawatir denganmu."
"Oh, maaf. Aku habis menyusuinya. Tadi dia sepertinya lapar."
"Begitu."
Zack membelai kepala anaknya dan mencium keningnya. Nathan yang belum mengerti apa-apa hanya memegang wajah ayahnya dengan tangannya yang kecil. Astaga, dia sungguh lucu sekali. Zack memegang tangan Nathan dan mengusap-usapnya pelan.
"Dia manis sekali ya?" Tanya Zack. "Sama sepertimu."
"Oh ya? Kalau kubilang dia lebih mirip denganmu. Apalagi rambut hitamnya."
"Tapi dia mewarisi mata hijaumu."
Nathan tampak senang bermain-main dengan ayahnya. Jadi, Zack juga terus menggoyang-goyangkan tangannya.
"Ngomong-ngomong, Zack," kata Aerith. "Nanti kita akan ke tempat Cloud?"
"Hm? Oh iya, tentu saja. Dan bukan nanti, tetapi lusa. Kita akan naik pesawat jam sebelas siang."
"Aku sebenarnya agak khawatir dengan Nathan. Rumah mereka kan jauh sekali dari Midgar, takutnya nanti Nathan mabuk perjalanan."
"Hm, kalau tidak salah, aku pernah melihat di acara televisi bahwa bayi harus diolesi minyak kayu putih di perutnya sebelum berpergian," kata Zack, "Supaya mereka tidak masuk angin."
"Begitu ya? Aku baru tahu."
Aerith menyerahkan Nathan ke Zack. Dan setelahnya ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil susu. Tetapi perhatiannya tiba-tiba teralihkan dengan kartu pos yang ditempel di kulkas. Aerith tersenyum melihatnya. Kartu pos ini dikirim oleh Tifa dua minggu yang lalu dari Cosmo Canyon.
"Aku sungguh penasaran, apakah tempatnya seindah itu ya?"
"Yah, tidak lama lagi kita akan melihatnya kok. Jadi kau bisa segera tahu."
Aerith hanya menganggukkan kepalanya. Ya, seperti yang dikatakan Zack dan Aerith tadi. Cloud dan Tifa kini tinggal di Cosmo Canyon. Mengapa Cosmo Canyon? Selain tidak terlalu ramai, penduduk di sana juga ramah dan tidak norak. Tidak norak dalam arti mereka tidak pernah bereaksi yang sangat heboh ketika ada orang terkenal seperti artis datang ke desa mereka. Cloud dan Tifa kan juga memiliki penggemar di sana. Selain itu, Cloud juga sangat menyukai budayanya. Mendengar semua itu, Zack dan Aerith benar-benar menjadi tidak sabar untuk cepat datang ke sana.
"Oh ya, Nathan sudah mandi belum?" Tanya Zack.
"Belum, aku mau menjemurnya dulu di depan sebelum mandi. Memang kenapa?"
"Aku mau memandikannya, boleh tidak?"
Aerith memiringkan kepalanya. "Kau bisa?"
"Lumayan. Aku kan pernah belajar."
"Aku tidak percaya padamu. Kita mandikan berdua saja."
"Oh! Maksudmu kita juga sekalian mandi dengan Nathan?"
"Hei!" Kata Aerith sambil memukup pelan pundak Zack. "Jangan berbuat macam-macam di depan anak kita!"
"Berarti kalau bukan di depan anak kita, tidak apa-apa dong?" Tanya Zack yang setelah itu menguncupkan bibirnya.
"Ti—dak," kata Aerith sambil mendorong wajah Zack.
Meanwhile, Cloud and Tifa...
Tifa sedang memetik bunga di padang bunga yang jaraknya dekat dengan Cosmo Canyon. Jari-jari tangan kanannya memetik tiap tangkai dan kemudian meletakkannya di keranjang yang ada di sampingnya. Tifa memetik bunga-bunga ini bukan tanpa alasan. Dia ingin menjadikan bunga ini sebagai hiasan untuk memperindah barnya yang kini sedang ia rintis. Dia pernah dengar dari Aerith, bahwa bunga mampu menambah kesan positif dan menyenangkan hati pengunjung. Meski tidak seluruhnya sih. Tetapi memang sudah seharusnya bar Tifa sedikit dihias. Soalnya bar yang sekaligus rumahnya itu kesannya terlalu sepi. Selain bunga-bunga yang akan ia taruh nanti, paling hanya hiasan ragam bentuk yang terbuat dari kayu. Salah satunya adalah pajangan berbentuk chocobo.
Cloud tengah duduk di atas motor raksasanya sambil memperhatikan Tifa. Dia tidak ikut memetik bunga. Sebagai gantinya, dia memeriksa daftar pelanggan-pelanggannya. Cloud sungguh tidak menyangka bahwa jasa pengantarannya yang bernama 'Strife Delivery Service' laku keras dalam waktu kurang dari setahun. Barang yang diantarkan juga beraneka ragam. Dan yang paling berat yang selama ini diantarkan Cloud adalah... televisi. Motornya memang besar dan tenaga Cloud cukup kuat. Tetapi yang namanya televisi, seandainya tidak hati-hati sedikit saja, akan fatal akibatnya. Untung saja, sampai saat ini Cloud belum pernah mengalaminya.
Cahaya matahari terasa begitu menyilaukan karena hari sudah mau menjelang siang. Ketika Cloud melihat arlojinya, ternyata sudah jam sepuluh. Berarti sudah dua jam Cloud terus menemani Tifa memetik bunga. Dan Tifa masih betah-betah saja di sana meskipun keranjangnya sudah penuh. Cahaya matahari mengenai cincin emas putih yang terpasang di jari manis kanan Tifa. Dan itu membuatnya teringat akan pernikahannya dengan Tifa yang baru saja dilaksanakan dua hari yang lalu.
Tidak bisa Cloud sangkal, bahwa Tifa sangat cantik malam itu.
Tetapi sayang, Zack dan Aerith tidak bisa datang karena restoran Zack sedang sibuk-sibuknya dan Aerith juga sibuk sendirian mengurus anaknya. Selain warga Cosmo Canyon, kerabat yang datang hanyalah Sephiroth. itupun dia langsung pulang lagi ke Midgar karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Mengapa kerabat yang datang hanya Sephiroth? Selain karena pernikahan mereka dilaksanakan tidak terlalu... blak-blakan, Cloud tidak dekat dengan saudara-saudaranya. Begitu juga dengan Tifa. Jadi, mereka berdua memutuskan untuk mengundang warga Cosmo Canyon sebagai tanda penghormatan untuk mereka. Mereka berdua juga sempat mengunjungi makam orangtua mereka lebih dulu. Semacam dengan meminta restu. Kalau tidak salah, mereka mengunjungi makam sekitar dua minggu sebelum pernikahan mereka.
Pernikahan mereka dilaksanakan di sebuah gereja dengan Bugenhagen sebagai pemimpin. Seperti pernikahan Zack dan Aerith, mereka saling mengucapkan janji setia sampai akhirnya berciuman. Tidak lupa, Cloud juga berpelukan dengan Sephiroth sebagai tanda bahwa dia bukan lagi seorang anak yang masih bergantung dengan orangtuanya. Kini dia benar-benar harus berdiri sendiri. Menjadi kepala keluarga, dan tentu saja orangtua ketika mereka sudah memiliki anak. Sephiroth terdengar begitu terharu meski tidak sampai meneteskan air mata.
Cloud turun dari motornya dan berjalan mendekati istrinya perlahan-lahan. Tifa sepertinya terlalu asyik memetik bunga sampai-sampai ia tidak sadar bahwa Cloud sudah berdiri di belakangnya. Sampai-sampai Tifa sempat berteriak kecil ketika Cloud melingkarkan kedua tangannya ke leher istrinya.
"Masih mau memetik berapa banyak lagi?" Tanya Cloud sambil membenamkan kepalanya di pundak Tifa.
"Astaga, aku kaget sekali," jawab Tifa. "Mungkin sebentar lagi."
"Keranjangnya sudah hampir penuh loh."
"Aku bisa membawa kelebihannya di tanganku kok."
"Memangnya kau tidak lelah? Padahal belum dua hari yang lalu kita baru melaksanakan pernikahan kita."
"Tidak ah. Selain sudah dua hari yang lalu, acaranya hanya sebentar."
Cloud gagal membujuk Tifa untuk pulang. Hebat juga Tifa bisa tetap bugar setelah mengenakan gaun yang berat dan hak yang super tinggi itu. Cloud yang hanya mengenakan jas saja rasanya sudah tidak betah. Tumitnya masih terasa pegal karena sepatu pantofell yang dikenakan saat pernikahannya. Dua hal itu akhirnya berkombinasi menjadi rasa lelah. Belum lagi mereka juga menunggu sampai resepsinya selesai. Kalau tidak salah resepsinya berlangsung selama tiga jam, dari jam tujuh sampai jam sepuluh malam. Pemberkatannya sih hanya sebentar. Selain itu, ada acara lempar bunga dan games berhadiah. Ketika acara games, para warga langsung antusias untuk berpartisipasi.
Setelah menikah, mereka berdua memutuskan untuk libur kerja selama sebulan sekaligus untuk berbulan madu. Oh ya, rencananya mereka akan pergi ke Junon. Soalnya mereka ingin melihat langsung meriam raksasa yang digunakan ShinRa dalam perang berpuluh-puluh tahun lalu. Selain itu, Sephiroth juga mengatakan bahwa pantai di sana tidak kalah indah dengan pantai di Costa del Sol. Untuk transportasi, mereka akan naik pesawat lewat bandara di Gonganga, kota yang paling dekat dengan Cosmo Canyon, sekaligus kota kelahiran Zack. Di Cosmo Canyon kan tidak ada bandara.
Tifa menyandarkan kepalanya di dada Cloud.
"Aku sungguh tidak menyangka kalau impian kita akan terwujud."
"Hm?" Tanya Cloud.
"Impian kita untuk menikah, dan tinggal di tempat jauh serta meninggalkan dunia hiburan. Aku sungguh tidak menyangka bahwa impian-impian itu benar terwujud sekarang."
"Oh... ya, kau benar."
"Akhirnya aku bebas dari jeratan jadwal dan bisa bangun lebih siang. Meski aku harus meracik minuman dari jam sembilan pagi , tetapi setidaknya itu lebih baik."
"Sama sepertiku, pekerjaanku yang sekarang membuatku merasa lebih bebas. Meski hanya sebagai pengantar barang."
"Tidak apa-apa. Tabungan kita ada banyak sampai-sampai untuk membeli sepuluh rumah di sini juga masih bisa."
Cloud hanya tertawa kecil sambil meletakkan dagunya di atas kepala Tifa. Kemudian, Cloud membungkukkan tubuhnya dan duduk di belakang Tifa.
"Kudengar, kau mengundang Zack dan Aerith kemari?"
"Yup, aku mengirim kartu pos ke rumahnya kemarin. Seharusnya sih sudah sampai ke tempatnya."
"Kau tidak sabar untuk melihat anak mereka ya?"
"Jelas. Aku hanya melihatnya lewat foto."
Tifa meletakkan tumpukan bunga yang dipeluknya ke dalam keranjang. Lalu, dia membalikkan wajahnya untuk menatap suaminya. Tangannya ia angkat untuk mengelus wajah Cloud.
"Kau masih lelah ya?"
"Lumayan. Mengenakan jas memang tidak pernah nyaman."
Tifa tertawa kecil.
"Aku sungguh salut padamu yang tetap bugar setelah memakai gaun dan sepatu macam itu."
"Aku pernah memakai yang lebih parah dari itu, Cloud. Gaun dan sepatu yang kemarin mah... masih lebih ringan."
Cloud menganggukkan kepalanya sambil berkata 'oh' tanpa suara.
"Kau mau makan apa untuk makan siang nanti?" Tanya Tifa.
"Apa saja boleh."
"Mau makan sushi? Aku sempat belajar membuatnya."
"Hm."
"Baiklah, ayo kita pulang kalau begitu."
Mendengar itu, Cloud langsung memosisikan dirinya dan menggendong Tifa dengan bridal style. Tetapi karena dia melakukannya secara perlahan, reaksi Tifa tidak seperti saat Cloud memeluknya tadi. Yah, dia memang tetap kaget, hanya saja tidak sampai berteriak. Sambil menggendong Tifa tanpa beban, Cloud berjalan kembali ke motor dengan wajah yang saling bertatapan.
"Aku sungguh tidak sabar untuk pulang ke rumah," kata Cloud.
"Oh ya?" Tanya Tifa sambil tersenyum. "Mengapa?"
"Karena aku selalu ingin menjalani hidup berumah tangga denganmu. Hanya kita berdua saja di rumah, dan kita bisa melakukan apa saja sesuka kita."
"Loh? Kan kita sudah sering melakukan hal itu sebelumnya? Dan... semenjak kita menikah memangnya tidak termasuk?"
Tidak menjawab, Cloud memutuskan untuk mencium bibir Tifa dengan sangat lembut. Tifa yang sudah terbiasa langsung memeluk Cloud dan membalas ciumannya. Cloud melepaskan bibirnya tidak lama kemudian. Dan dengan bibir yang masih menempel, Cloud mengucapkan satu kalimat yang sampai kemarin masih belum kesampaian untuk diucapkan.
"Aku mencintaimu."
"Eh? Apa?"
"Kubilang, aku mencintaimu," kata Cloud. "Apa kedengarannya aneh?"
"Sama sekali tidak kok, sungguh," kata Tifa yang setelah itu mencium Cloud lagi. "Aku juga mencintaimu. Dan aku sangat senang karena akhirnya kau mengatakannya juga."
"Oh, aku menunggu momen yang tepat untuk mengucapkannya padamu. Untunglah sekarang bisa."
Mereka berdua saling tersenyum satu sama lain. Sesampainya di samping motor, Cloud menurunkan Tifa dan langsung menaiki motornya. Sambil meletakkan tangan Tifa ke pinggangnya, Cloud tersenyum dan berkata...
"Ayo kita pulang ke rumah."
A/N : Oke, akhirnya selesai juga! Dan chapter ini sekaligus mengakhiri fic ini. Terima kasih ya selama ini buat dukungan dan review kalian. Karena itu, saya bisa menyelesaikan fic ini dalam waktu kurang dari setahun. Makasih buat reader dan review yang gak bisa saya sebutkan satu-satu. Dan... apakah kalian mau saya menambahkan satu chapter khusus pernikahan Cloud dan Tifa? Jawabannya saya tunggu lewat review ya.
