Kyuhyun menginap di tempat tuan Choi. Dia dijemput saat sore hari selepas makan malam oleh kepala keluarga Choi sendiri, tidak ada yang dia bawa kecuali gitar pemberian Kim Jeonha. Semua yang dia butuhkan sudah disediakan tanpa khawatir dia perlu mencarinya sendiri. Jadi dia hanya perlu pergi membawa gitar, ponsel juga dompet. Dompet hadiah dari tuan Choi, lengkap dengan isinya, meski Kyuhyun suka ragu saat harus menggunakan uang saku dari tuan Choi.
"Masih ada yang perlu dibawa?" taya tuan Choi saat Kyuhyun keluar menenteng gitar.
Kyuhyun menggeleng sebagai jawaban.
Tuan Choi tidak berlama-lama lagi. Setelah Kyuhyun siap dia pun beranjak pamitan. Keluarga Kim mengantarnya sampai depan. Kedua kepala keluarga itu berbagi pelukan. "Aku akan menjaganya." janji tuan Choi.
"Aku yakin kau akan melakukannya." balas tuan Kim tanpa ragu.
"Jangan lupa hubungi eomma." pesan Hera mengusap lengan Kyuhyun.
Henry melambaikan tangan melepas keberangkatan Kyuhyun bersama tuan Choi. Mobil melaju keluar dari halaman kediaman keluarga Kim. Henry berlari pergi untuk menutup pintu pagar.
Tuan Kim merangkul bahu istrinya. "Aku harap mereka bisa lebih dekat dengan ini." harap Kim Young Woon.
Hera menepuk kecil dada suaminya. "Ya."
"Asal Kyu hyung tidak melupakanku. Aku berdo'a agar si Kibum itu tidak selamanya menempel pada Kyu hyung." doa'a Henry saat kembali.
Kedua pasangan Kim tertawa dengan perkataan Henry. Hera bersedekap tangan dalam rangkulan lengan tuan Kim. "Henry kau merasa tidak jika kau jadi sangat posesif ?"
Henry mengedik bahu acuh. "Karena aku adiknya." lalu berjalan masuk melewati orang tuanya.
Tuan Kim tertawa. Hera menepuk dada lelaki itu keras. "Itu buruk. Tapi kau menertawakan seolah itu lucu."
"Ayolah. Mereka masih anak-anak. Wajar Henry menginginkan perhatian Kyuhyun hanya untuknya. Nanti saat mereka beranjak lebih dewasa perasaan seperti itu akan berkurang dengan sendirinya."
Hera menatap suaminya tidak berkedip. Tersenyum kemudian. "Kau benar." tuan Kim mengusap bahu Hera dan mengajaknya untuk kembali masuk kedalam rumah.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun tidak bisa bergerak. Begitu duduk dan mobil melaju meninggalkan rumah keluarga Kim, dia merasa menjadi patung. Untuk bergerak sekecil apapun dia tidak berani. Hal yang mudah dilakukannya hanya berkedip.
"Jangan terlalu canggung, Kyunie. Kau bisa melakukan apapun. Kau ingin mendengarkan lagu?" tuan Choi merasa harus membuat Kyuhyun rileks. Dia tidak buta dengan kecanggungan berlebih Kyuhyun yang membuatnya sangat takut untuk bergerak.
"I-iya. Eh tidak." Kyuhyun bahkan tidak tahu mau menjawab apa.
Tuan Choi tersenyum maklum. Tangan kanannya terulur untuk menyalakan radio. "Channel apa yang kau sukai?"
Kyuhyun mencoba mengingat apa dia pernah mendengarkan radio. Dan jawabannya adalah 'tidak'. "Tidak ada."
Tuan Choi melihat Kyuhyun sekilas sebelum memutuskan untuk memilih channel pilihannya. "Atau kau ingin mendengar CD saja? Menonton TV?"
Saat itu terdengar lagu dari saluran yang tidak sengaja diputar tuan Choi. "Itu saja. Lagu yang tadi."
"Eh." tuan Choi terlanjur memutar hingga saluran lain. Jadi dia mencoba mencari saluran yang didengar Kyuhyun tadi. "Yang ini?"
"Tidak. Yang lainnya." Kyuhyun merasa tidak enak saat melihat tuan Choi harus berkonsentrasi pada radio dan juga kemudi. Jadi dengan ragu dia mengulurkan tangannya sendiri. "Boleh, aku saja?" tanyanya.
"Ya. Tentu saja. Kau boleh melakukan apapun." tuan Choi menarik tangannya, meletakkannya kembali pada stir. Tidak butuh waktu lama sampai Kyuhyun menemukan lagu yang sempat dia dengar tadi.
"Kau suka lagu ini? Siapa penyanyinya?" tuan Choi tidak tahu soal lagu yang diputar di radio itu. Sebenarnya tidak penting juga. Tapi dia butuh untuk bicara dengan Kyuhyun.
Kyuhyun meringis. Sedikit malu karena dia juga tidak tahu itu lagu penyanyinya siapa. Hanya terdengar bagus saja dia mau mendengarnya. Lagi pula dia butuh itu agar lebih rileks.
Tuan Choi tertawa kecil melihat ringisan Kyuhyun. Memahami apa maksud Kyuhyun. "Tapi kau bisa bermain gitar." komentarnya.
"Tidak mahir. Kim Jeonha mengajariku. Aku masih harus banyak belajar."
"Aku yakin kau bisa. Kau mau memainkannya?"
"?!" Kyuhyun cukup terkejut. "Disini? Sekarang?"
Tuan Choi mengangguk. Kyuhyun mengusap lengannya ragu. Melirik sekilas pada gitar di belakang.
"Kenapa?"
"Sebenarnya tidak banyak lagu yang bisa kumainkan. Aku hanya mempelajari satu lagu akhir-akhir ini."
"Kau bisa mainkan itu." tuan Choi masih mendesaknya.
Kyuhyun tidak sadar memajukan mulut dan mendengus kecil. "Tapi itu akan jadi hadiah untuk Jaerim eomma." dan merutuki ucapannya sendiri setelahnya. Dia melihat tuan Choi dengan perasaan tidak enak. "Mianhe." meminta maaf entah untuk apa.
"Tidak apa, jangan kau mainkan sekarang. Beruntung Jaerim akan mendengarkanmu bernyanyi, ne. Tapi aku akan mendengarnya juga saat kau latihan."
"Ahh…akan sangat memalukan. Suaraku tidak begitu bagus."
"Ya tapi aku akan tetap mendengarkan. Kapan lagi mendengarmu bernyanyi." tuan Choi tersenyum senang. Baru sadar jika mereka cukup panjang mengobrol. Tubuh Kyuhyun menjadi lebih rileks, bicara pun jadi lebih ringan. Tuan Choi hanya perlu terus mengajakya bicara dan Kyuhyun tertarik dengan sendirinya. Perjalanan mereka menjadi lebih singkat terasa.
Siwon dan yang lain menyambutnya senang. Kyuhyun mendapat pelukan dari hyung tuanya juga sapaan semangat dari Donghae. Kibum memasang senyum ringan namun terlihat menawan. "Kau menikmati perjalanannya Kyunie?" tanyanya.
Kyuhyun melihat sebentar pada tuan Choi kemudian mengangguk singkat.
"Ayo, kuantar ke kamarmu." Donghae mengambil alih gitar Kyuhyun, berjalan lebih dulu. Mendapat anggukan dari tuan Choi Kyuhyun baru berjalan mengikuti Donghae ditemani Kibum.
Siwon memperhatikan ayahnya. Memasukkan tangan ke dalam saku celanaya, dia tersenyum. "Appa lebih menikmati perjalanan itu sepertinya."
Tuan Choi tertawa ringan. "Ya."
Siwon mengangguk tidak menahan senyum senangnya yang semakin lebar. "Kyuhyun sudah makan?"
"Sudah."
"Kalau begitu akan kubawakan cemilan saja."
"Appa bantu."
Kyuhyun melangkah pelan. Dalam hati mengucap salam pada kamar yang akan ditinggalinya untuk satu bulan ke depan. Kibum dibelakangnya mengikutinya dengan sabar.
Donghae berkacak pinggang, senyumnya nampak jahil pada Kyuhyun. "Kau terlalu sungkan Kyunie. Ini ruangan pribadimu sekarang. Kau bisa melakukan segala hal tapa batasan disini. Jadi santailah."
Kyuhyun tersenyum malu. "Lagipula ini rumahmu. Surgamu." bisik Kibum dari belakang membuat Kyuhyun kaget.
"Bum hyung!" pekik Kyuhyun mengelus dadanya. Donghae cekikikan.
Kibum tersenyum miring. Mengusuk kepala Kyuhyun lalu berjalan ke ranjang. Duduk seraya mengambil gitar Kyuhyun dan memangkunya. "Kau jadi akan bernyanyi di pernikahan Jae noona?"
Kyuhyun mengangguk, terlihat masih kesal oleh kejahilan Kibum. Kemudian mengalihkan diri untuk memperhatikan kamar barunya. Yang jelas lebih besar, lebih luas, dan dipenuhi dengan perabot dengan harga yang tidak ingin dia tahu nilainya. Dia cukup tahu akan bisa tidur malam ini atau tidak?
"Ada yang tidak kau suka? Katakan saja, Siwon hyung bisa mengatur ulang nanti." ujar Donghae yang ikut mendudukkan diri di sebelah Kibum.
"Tidak. Ini sudah cukup. Terlalu bagus malah." bagaimana tidak. Kamar ini tidak bisa dibandingkan dengan kamarnya di rumah appa Kim. Kyuhyun tahu untuk tidak membandingkannya dari sudut itu. Dia lebih merasa hidupnya sungguh berbeda sekarang ini. Dibandingkan dulu hidupnya kali ini selalu ada tempat untuk singgah. Tidak akan ada yang menolaknya. Apalagi menatap sinis padanya. Sungguh dia bersyukur akan banyak hal. Beruntung sekali dia yang selalu gagal bunuh diri dan selamat dari penyakit. Dia baru sadar ada banyak orang yang perduli padanya, tidak berhubungan darah tapi perduli padanya.
"Wae?" tanya Kibum yang memperhatikan raut Kyuhyun.
"Anni." Kyuhyun menhela nafas dalam dan panjang. "Aku hanya merasa perlu lebih banyak bersyukur lagi. Dan berterima kasih pada banyak orang. Aku merasa malu sekarang."
Kibum menyingkirkan gitar dari atas pangkuannya dan beranjak menghampiri Kyuhyun. Gitar diambil alih Donghae, dipeluknya seraya memperhatikan kedua adiknya.
"Malu untuk apa?" tanya Kibum menatap manik Kyuhyun.
Kyuhyun menatap jauh ke arah lain. Matanya berkaca mengingat kembali kehidupannya sebelum ini. Bukan tentang rasa sakit yang dia terima. Tapi sikapnya yang selalu putus asa dan merutuki nyawanya sendiri. Sungguh tidak bersyukur sama sekali. Dia malu atas segala hal itu. "Aku selalu berharap mati lebih cepat dan melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Aku malu pada hal yang tidak pantas itu, hyung."
"Sekarang baru kau sadar. Begitu berharganya nyawa milikmu itu."
"Benar." Kyuhyun membiarkan air matanya jatuh. Kibum lalu menangkup wajahnya. Mengusap air mata itu dengan jempolnya.
"Gweanchana. Semua sudah berlalu. Kau hanya perlu hidup lebih baik di kehidupanmu sekarang. Kami semua menyayangimu. Jangan pernah meragukannya."
Kyuhyun mengangguk. Berjanji pada diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Akan lebih banyak bersyukur dan mengingat Tuhan dengan segala kebaikannya.
Donghae mengusap sudut matanya. Senyumnya segera dia kembangkan melihat Siwon dan tuan Choi memasuki kamar dengan nampan berisi makanan dan minuman. Donghae segera beranjak mengambil alih nampan di tangan tuan Choi.
"Kyunie kau tidak punya pantangan nyemil malam, kan?"
Kyuhyun tertawa. "Anni." jawabnya segera bergabung dengan Donghae dan yang lain di atas karpet. Begitu juga Kibum.
"Tapi aku akan cepat gemuk dengan ini." keluh Kyuhyun meski tangannya mengambil kue dihadapannya. Memakannya tanpa ragu. Dia jadi ingat saat melakukan pesta yang diusulkan Henry dulu. "Kami melakukan ini saat di tempat appa Kim. Henry mengusulkan pesta. Dia membawa banyak cemilan dan kami mengobrol semalaman. Kami juga bermain permainan dan bertanding game. Akhirnya kami tidur saat fajar."
Kibum mengingat sesuatu. "Hari kamis itu. Kau melupakan untuk keluar bersamaku." Kibum mengatakan protesnya setelah ingat. Saat dirinya menunggu kabar hingga siang, tapi saat dia pergi ke rumah keluarga Kim, Henry yang membuka pintu dengan wajah mengantuk. Mengatakan jika Kyuhyun tidak bisa diganggu karena harus tidur lebih banyak. Salah siapa jika dia menuntut janjinya?
Kyuhyun meringis. "Hyung kau tidak boleh menyimpan dendam. Aku sudah menebus di hari lain, kan? Makanya kita hapus saja jadwal hang out itu. Tidak efektif sekali."
"Appa setuju." kata tuan Choi tiba-tiba. Semua mata menatapnya. Tiga orang protes dan satu orang setuju. Akhirnya tuan Choi menjelaskan.
"Kyuhyun akan mulai sibuk dengan home schooling. Jangan ditambah pusing dengan jadwal kalian. Kalau ingin mengajaknya ngobrol, ngobrol saja, jika ingin mengajaknya main, silahkan saja. Lagipula kalian takut sekali ditolak Kyuhyun sampai membuat jadwal seperti itu."
Kyuhyun mengangguk setuju. Tersenyum menang. Hal yang tidak bisa dia utarakan, diutarakan oleh tuan Choi.
"Kalau begitu Kibum yang menang banyak." ujar Donghae tidak suka pada Kibum yang dianggapnya menganggur akan memiliki waktu luang lebih banyak dengan Kyuhyun.
Kibum menggeleng tidak setuju. "Aku akan sibuk dengan kuliah."
"Kibum hyung sudah putuskan akan kuliah dimana?" tanya Kyuhyun penasaran.
Kibum menatap Kyuhyun sebentar. Kemudian kembali menatap ke depan tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun. Kyuhyun ingin menanyakannya kembali tapi Siwon mengalihkan pembicaraan. Sehingga pertanyaannya tentang kuliah terabaikan begitu saja.
Acara mengobrol itu usai jam 10 lewat. Mereka membereskan tempat bekas mereka sebelum keluar meninggalkan Kyuhyun untuk istirahat.
0o0o0o0o0
Kyuhyun terbangun tengah malam. Merasakan haus. Dia harus keluar untuk mencari dapur untuk mendapatkan segelas air. Saat keluar kamar dia mendadak ragu. Rumah saat malam hari terasa lengang dan sunyi apalagi dengan lampu mati. Dia melongok ke bawah, memperkirakan letak dapur. Setelah menimang baru dia melangkah menuruni tangga.
Dia sempat bingung harus berjalan kemana. Hari ini dia langsung masuk kamar tidak sempat berkeliling rumah untuk tahu ruangan-ruangan. Asal saja Kyuhyun berjalan ke kiri dari tangga. Senyumnya mengembang saat tahu ada sisi ruangan yang menyala, berarti ada orang disana.
Tuan Choi terkejut melihat Kyuhyun tiba-tiba muncul. Mereka hanya bertatapan.
"Ada apa? tidak bisa tidur?" tanya tuan Choi mengusir kecanggungan.
Kyuhyun menggeleng. Matanya turun melirk pada gelas yang dipegang tuan Choi. Tadi dia senang bisa menemukan dapur dan berfikir bisa meminta segelas air dari siapapun yang ada disana. Tapi jika itu tuan Choi, dia merasa lebih baik kembali ke kamarnya.
"Haus?" tanya tuan Choi kembali saat sadar apa yang dilihat Kyuhyun.
"Iya." jawab Kyuhyun pelan. Tuan Choi tersenyum lalu mengisi gelas yang belum dia pakai hingga penuh. Air itu diberikan pada Kyuhyun. "Ini. Aku belum menggunakan gelasnya."
Kyuhyun menerima gelas itu. Meminumnya setengah. Dia tidak beranjak meski sudah mendapatkan apa yang dia mau. Sebaliknya dia melihat bagaimana tuan Choi mengisi gelas lain dan minum.
"Masih ada yang kau inginkan?" tanya tuan Choi menyadarkan Kyuhyun.
"Tidak. Aku akan membawa gelasnya ke atas." Kyuhyun hendak berbalik tapi tuan Choi kembali memanggilnya.
"Isi penuh kembali gelasmu." tuan Choi tidak bergerak dari tempatnya. Hanya mengangkat teko berisi air dan meminta Kyuhyun mendekat.
Kyuhyun berjalan mendekat. Menyorongkan gelasnya agar diisi penuh kembali.
"Terima kasih." ucapnya begitu selesai. Dia berjalan akan pergi namun sampai di muka dapur dia berhenti dan berbalik lagi. Tuan Choi yang mendudukkan diri di kursi dapur mengernyit heran saat Kyuhyun kembali.
"Untuk yang tadi, aku berterima kasih."
"Yang mana?" tuan Choi tidak tahu yang dimaksud Kyuhyun.
"Ahjussi membantuku menjelaskan tentang jadwal hang out."
Tuan Choi tersenyum. "Karena sepertinya kau kurang nyaman dengan itu. Kau pasti kerepotan, kan."
Kyuhyun mengangguk membenarkan.
"Kyuhyun-ah."
"Iya?"
"Kalau butuh sesuatu katakan saja. Jangan sungkan mengatakan apa yang kau rasakan, kau pikirkan atau ada hal yang tidak kau sukai. Terutama jika itu tentang aku."
Kyuhyun menunduk, memandang gelasnya. "Aku akan berusaha."
"Kita bisa lebih mengenal lagi mulai sekarang. Aku ingin seperti itu. Lebih mengenalmu."
Kyuhyun mengangkat wajahnya, matanya membulat kaget saat melihat tuan Choi menatapnya dalam.
"Kau mirip ibumu."
"Apa itu bagus?"
"Ya. Aku bisa melihat kebaikannya dalam dirimu. Dia orang yang baik dan lembut. Aku harap bisa menebus kesalahanku."
Jantung Kyuhyun berdentum keras saat satu tangan tuan Choi terangkat di pipinya. Mengusapnya lembut. Sejenak dia membeku namun kemudian dia merilekska dirinya dan menerima sentuhan itu.
Tuan Choi tersenyum saat Kyuhyun tidak menolak dan menyingkirkan tangannya. "Aku berjanji akan memberi kebahagiaan kepadamu. Akan kuganti segala sakitmu dengan kesenangan."
Kyuhyun diam memberanikan diri menatap balik manik tuan Choi. Tatapan mata yang sering tuan Choi perlihatkan, sekeras apapun dia berusaha membawa dirinya untuk tertawa. Kyuhyun mendadak merasa bersalah. Lelaki itu terlihat sangat tua dengan mata penuh penyesalan dan rasa bersalah.
Anak macam apa dirinya yang membiarkan lelaki itu hidup dan tenggelam dalam rasa bersalah. Appa Kim yang mendapatkan kembali senyumnya jauh lebih baik dari lelaki ini. Kyuhyun berjanji pada dirinya sendiri untuk membuka hati pada lelaki ini. Sehitam apapun masa lalunya, dia tetaplah orang tua kandung Kyuhyun. Dia tidak bisa lepas dari tanggung jawabnya sebagai anak. Orang tua yang sudah datang untuk meminta maaf, menyingkirkan statusnya sebagai orang tua, dengan segala penyesalan dan meminta pengampunan masih haruskah dia berkeras hati? Semulia apa dirinya hingga pantas mengabaikan hal itu.
Tidak.
Kyuhyun tidak akan membiarkan dirinya menjadi sombong dengan rasa sakitnya. Jika orang tuanya merunduk rendah maka dia akan bersujud lebih rendah darinya. Karena itulah kedudukan orang tua seburuk apapun dirinya. Memuliakannya maka memuliakan dirinya sendiri.
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
Leeteuk membenarkan letak kaca mata yang dia kenakan. Mendadak kerongkongannya jadi kering. Berdehem. Dia jadi kesal sendiri. kenapa perasaan terintimidasi tiba-tiba muncul hanya karena ditatap pemuda ingusan itu.
Menghela nafas. Dia akhirnya mengalah untuk membuka suara. "Duduklah. Kita mulai pelajaran pertama."
Kyuhyun menggeleng lambat. Mulutnya mengatup tidak suka. "Kenapa harus kau?"
Leeteuk menatap Kyuhyun. Tidak habis pikir juga dengan anak didiknya itu, mantan anak didik, yang sekarang jadi anak didiknya lagi. Dalam lingkup home schooling. Tuan Choi menemuinya secara pribadi dan mengajukan permintaan untuk mengajari Kyuhyun.
"Kau pikir aku tidak menolaknya? Tenang saja, aku hanya mengajar matematika. Sisanya akan diurus yang lain." Leeteuk membuka buku. Kyuhyun masih berdiri tidak ingin mengambil duduk. Matematika memang study yang dipegang Leeteuk dulu. Tapi tetap saja, kenapa tuan Choi tidak memilih guru lain?
"Ck. Bertemu kau lagi, kau lagi." menghentak Kyuhyun mulai bergerak. "Kupikir aku akan dibimbing guru cantik dan muda."
Tak!
"Ah!" Kyuhyun meringis mendapat pukulan buku dari Leeteuk. Menatap sengit guru itu dia mengusap kepalanya. "Dan tidak kasar!" tambahnya kesal.
"Jika semua murid sepertimu, guru mana yang bisa bersikap manis, ha?! Aku heran, kau tidak pernah bersikap hormat padaku! Dulu ataupun sekarang. Padahal sewaktu kau amnesia kau manis sekali. Memanggilku 'appa' dan menggelayut senang di lenganku."
Kyuhyun menggertakkan giginya dengan wajah memerah. "Bisa kau tidak membicarakan itu?"
Leeteuk tersenyum, mengejek Kyuhyun. "Nde Kyunie-ya."
Dan Kyuhyun langsung menyalak keras membuat Leeteuk terbahak.
Donghae kebetulan lewat dan melongok ingin tahu saat mendengar tawa Leeteuk. "Ada apa?" tanyanya melihat wajah merengut adiknya. Dia berjalan masuk, duduk di salah satu kursi.
"Aku ingin ganti guru saja. Yang ini suka mengolok dan suka memukul."
"Baru juga mulai, kau sudah mengeluh. Pch payah!"
Donghae justru mengangguk menyetujui Leeteuk.
"Hae hyung kenapa dirumah? Tidak membantu Siwon hyung?" Kyuhyun lebih baik mengalihkan pembicaraan.
Donghae menggeleng. "Kau sendirian di rumah, jadi hyung pikir akan menemanimu saja."
Siwon dan appa Choi bekerja. Sedangkan Kibum sedang berada di luar mengurus sesuatu. Kyuhyun pikir sudah beberapa hari dia ikut tinggal di rumah keluarga Choi tapi semua orang terlihat sibuk. Kadang hanya Donghae yang senggang. Tapi Donghae hyung sempat mengatakan sesuatu tentang aplikasi kerja. Dia melamar pada sebuah perusahaan lain dan itu berada jauh di luar kota.
Donghae bangkit. "Mulai saja belajarnya. Kalau sudah selesai hyung ingin bicara." kemudian pergi.
Leeteuk kembali membuka buku. Begitu juga Kyuhyun. "Semua terlihat sibuk." gumam Kyuhyun.
"Kau kesepian?" tanya Leeteuk yang mendengar itu.
Kyuhyun menggeleng. "Bagus, kan. Jadwal hang out pun jadi tidak merepotkan lagi." sudah Kyuhyun duga sebenarnya. Tidak mungkin semua orang mampu menjalani jadwal hang out untuk selamanya. "Itu bagus. Karena semua menjalani hidupnya untuk melangkah ke depan." Kyuhyun tersenyum tulus. Leeteuk mengangguk, segera memulai pelajaran hari itu.
0o0o0o0o0
"Selamat datang, Bum hyung." sapa Kyuhyun saat Kibum berjalan masuk tanpa melihatnya. Kibum tidak sengaja. Dia terlihat fokus ke depan jadi tidak sadar pada Kyuhyun yang duduk disofa membelakanginya.
Kibum mengalihkan tujuan, mendatangi Kyuhyun ikut duduk disana. "Mianhe, hyung tidak tahu kau disini."
Kyuhyun menggeleng tidak tersinggung. "Dari mana?" tanyanya melihat map yang dibawa Kibum.
Kibum menggaruk hidungnya yang gatal. Tidak langsung menjawab pertanyaan Kyuhyun. "Kyu."
"Ya?"
"Hyung ingin tahu pendapatmu."
Kyuhyun mengangguk.
"Bagaimana jika hyung kuliah ke luar negeri?"
"Bagus."
"Jadi kau suka aku kuliah ke luar negeri?" malah Kibum yang merasa tidak suka.
Kyuhyun tersenyum kecil. Menyerongkan duduknya hingga menghadap Kibum. "Bukan aku suka jika kau pergi, Bum hyung. Tapi jika itu yang terbaik untuk Kibum hyung, aku akan senang."
"Tapi aku akan meninggalkanmu. Tidak akan sering bertemu."
Kyuhyun tertawa. "Apa Kibum hyung khawatir jika aku merasa ditinggalkan?"
Kibum mengangguk ragu.
"Tidak." kata Kyuhyun. Tidak habis pikir dengan semua orang. Baik Kibum dan Donghae mengkhawatirkan hal yang sepele. "Kau ini lucu, hyung. Donghae hyung juga lucu. Jika itu keinginan kalian dan sesuatu yang kalian suka kenapa harus merasa akan melukai orang lain? Jika kalian mengorbankan hal itu karena aku, aku malah tidak suka. Kalian hanya akan membuatku merasa bersalah."
"Donghae hyung?" Kibum belum tahu jika Donghae ingin bekerja di perusahaan orang lain. Di bidang yang berbeda dari yang dimiliki keluarganya. Bahkan sudah menyiapkan aplikasi kerja. Tapi masih tertunda hingga hari ini. Kyuhyun berbicara dengan Donghae sebelum ini. Terungkaplah kekhawatiran Donghae yang membuat Kyuhyun terpingkal. Maka dengan jelas dia katakan hal yang sama dengan apa yang dia katakan pada Kibum saat ini.
"Pergilah. Aku juga akan berusaha keras disini. Aku akan melanjutkan hidupku dan meraih mimpiku."
Kibum melihat ketegasan dimata Kyuhyun. "Oke."
Kyuhyun tersenyum lega, kembali meluruskan duduknya. "Donghae hyung kenapa tadi?" tanya Kibum.
"Dia ingin bekerja di luar kota. Ada perusahaan teknik bangunan yang ingin dia datangi. Donghae hyung juga merasa berat tapi sekarang dia sudah yakin. Hehe kalian benar-benar aneh." Kyuhyun geleng kepala menyadari betapa saudara-saudara Choi nya bersikap diluar batas.
Kibum menarik Kyuhyun hingga menyandar kebelakang. "Itu karena kami baru saja bisa dekat denganmu, mendadak harus pergi. Jadi tidak enak. Aku merasa buruk."
Mata Kyuhyun melebar. Kibum jadi gemas melihat kepolosan itu terbentuk di wajah adiknya.
"Kalian saja yang berfikir sulit. Pergi bukan berarti memutus hubungan, kan? Jarak tidak jadi masalah di jaman sekarang, Bum hyung. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk melepas rindu. Tidak ada kekhawatiran, hyung bisa pergi dengan tenang. Jangan terikat kepadaku." Kibum jadi nampak bodoh diceramahi Kyuhyun. "Memangnya kalian akan terus hidup di sisiku? Kan nanti aku juga akan menikah dan berkeluarga sendiri, tidak selamanya jadi Kyuhyun yang sekarang."
"Ooo bicaramu sudah sejauh itu. Kau sudah memikirkan banyak hal rupanya."
Kyuhyun tersenyum memperlihatkan giginya. "Tentu saja! Aku ini pemuda yang berpikiran luas dan penuh mimpi, hyung."
Kibum mengangguk sarkas. Kyuhyun sungguh berbicara sombong kali ini. Sok dewasa. Tapi dia tidak tersinggung sama sekali. "Apa mimpimu?"
Kyuhyun tersenyum miring lalu mendekatkan mulut di telinga Kibum. Membisikkan sesuatu di telinga sang hyung.
0o0o0o0o0
Begitu turun dari mobil Kyuhyun langsung berjalan meninggalkan Choi yang lain. Memasuki rumah Jaerim, langsung menuju ke kamar wanita itu. Tidak ada dekorasi apapun disana kecuali seonggok koper disudut dan kamarnya yang lebih lapang. Semua barang Jaerim sudah dikirim ke rumah keluarga Zou Mi dimana dia akan tinggal seterusnya setelah hari ini. Satu koper itu adalah sisanya.
"Eomma!" Kyuhyun sudah memanggil di ambang pintu.
Hera dan Jaerim sama-sama menoleh. Tersenyum senang melihat kedatangannya.
"Kyunie!" Jaerim mengulurkan kedua tangan menyambut Kyuhyun. Dia merasa lega begitu melihat Kyuhyun. Rasa gugup dan tidak percaya diri yang sedari tadi mengungkungnya seketika surut. Dia meremat kuat tangan Kyuhyun.
"Kudengar kau menginap dirumah appa Choi-mu? Bagaimana, kalian semakin dekat?"
Kyuhyun memajukan mulut. Hera yanga ada disana pun mengusap punggung putranya. Merasa geli melihat ekspresi Kyuhyun. Dia sudah mendengar perkembangannya dari mulut Kyuhyun sendiri, yang rajin meneleponnya seperti permintaannya.
"Lebih baik." ingat Kyuhyun saat mereka bertemu di dapur waktu malam hari. Sama-sama kehausan, dan canggung satu sama lain dan berakhir dengan Kyuhyun yang kepikiran. Untuk hari-hari selanjutnya tuan Choi terus berusaha, tapi Kyuhyun sudah lebih mampu menerima. Mereka juga sempat keluar bersama dan membantu Kyuhyun memilih kado unutk Jaerim dan Zou Mi. Meski begitu kadang berjalan mulus, kadang penuh kecanggungan. Tapi sejauh ini masih baik-baik saja.
"Tidak apa. nanti juga akan semakin terbiasa." Jaerim menarik Kyuhyun duduk di tepi ranjang terdekat. Hera pergi keluar untuk mengurus yang lain.
"Eomma, aku akan bernyanyi untukmu nanti malam."
"Bernyanyai? Aku tidak sabar menantikannya."
Kyuhyun mengangguk. "Kau sangat cantik, eomma. Ah kenapa si Zou Mi itu beruntung sekali." memuji dan merengek bersamaan membuat Jaerim terkekeh geli.
"Kau kelak juga akan bertemu dengan gadis cantik dan mencintainya dengan tulus."
"Tentu saja. Dia harus secantik dan sebaik eomma."
"Amien."
Hera masuk kembali. Mengatakan jika semua rombongan pengantin sudah siap. Waktunya mereka untuk berangkat ke gereja untuk melaksanakan pernikahan. Keluarga Jaerim yang datang sehari sebelum pernikahan ikut dalam rombongan terlihat bahagia.
Kyuhyun berada satu mobil paling belakang dengan tuan Choi dan Kibum, didepannya ada mobil tuan Kim yang berisi papa Jaerim, Hangeng dan Henry, yang paling depan adalah mobil pengantin yang berisi Jaerim, Hera dan mama Jaerim. Mereka menuju ke gereja, dimana Zou Mi dan keluarganya sudah menunggu. Ada juga Heechul, Changmin dan Donghae yang akan menyambut mereka nnati.
Pemberkatan nikah dilangsungkan siang hari, dilanjutkan dengan makan di restauran bersama keluarga. Hanya sebentar karena mereka harus beristirahat untuk pesta sesungguhnya yang diadakan di sebuah hotel berbintang dan banyak tamu.
Kyuhyun menaruh hadiahnya bersama hadiah lain di kamar Jaerim di rumah Zou Mi. mereka memang memutuskan untuk beristirahat di rumah Zou Mi. Tuan Choi akrab dengan ayah Zou Mi, bersama dengan para orang tua lain berkumpul untuk mengobrol di ruang tengah.
Rumah ayah Zou Mi tidak kalah besar dengan tuan Choi. Dia memang seorang pebisis seperti tuan Choi. Mereka cukup berkecukupan, pantas saja Zou Mi mampu mengurus operasi jantungnya dulu.
Kyuhyun sedang memperhatikan sebuah foto saat Zou Mi masuk. Menghampirinya dan bertanya. "Kau sudah menaruh kadomu? Kuharap bukan barang aneh."
"Ahjussi Choi yang membantuku memilih, sudah pasti barang itu cukup layak." balas Kyuhyun. Kemudian berkedik pada foto diatas meja. "Apa itu cukup berharga?"
Zou Mi ikut melihat foto yang dikode Kyuhyun. "Tentu saja." jawabnya mantap. "Itu keluarga pertama yang berhasil kubangun." tambahnya.
Kyuhyun balas menatap Zou Mi, melihat keyakian dan ketulusan disana. "Mimi hyung."
Zou Mi menoleh cepat, manatap takjub lebih tidak percaya dengan panggilan Kyuhyun. "Bisa kau ulangi?" dikondisi Kyuhyun yang 'waras' ini tentu langka dia memanggil semanis itu terhadapnya.
"Mimi hyung."
"Aaa Kyu~ Kenapa semanis ini?"
Memutar mata Kyuhyun berdecak. Lalu kembali memperhatikan foto tersebut, yang menampilkan tiga wajah dalam satu bingkai. Jaerim, dirinya dan Zou Mi. Kyuhyun yang memeluk boneka diapit Jaerim dan Zou Mi. Wajah-wajah penuh bahagia adalah kenangan manis. Zou Mi patut menyimpannya. Karena sesungguhnya dia menikmati hari dimana mereka menjadi keluarga.
"Terima kasih Mimi hyung."
Zou Mi tersenyum menerima ucapan itu tanpa besar hati.
"Aku tidak akan bertanya kenapa kau melakukan semua itu. Aku akan menganggap bahwa kau adalah malaikat. Kau sangat baik, jadi aku akan menyerahkan eomma Jaerim. Jangan menyakitinya. Kalian sangat cocok. Aku akan berdo'a untuk keluarga bahagia kalian."
"Hem." gumam Zou Mi, lengannya merangkul bahu Kyuhyun. "Aku juga berharap hal yang sama untukmu."
0o0o0o0o0
Saat malam tiba mereka beralih ke sebuah hotel tempat pesta. Kyuhyun mendadak gugup. Karena dia akan bernyanyi. Tapi itupun hanya di sebuah tempat khusus yang dia minta sebelumnya. Hanya antara dia dan keluarganya dan sepasang pengantin.
Kyuhyun memangku gitarnya. Memegangnya cukup erat saat kursi-kursi mulai ditempati yang lain. Tempatnya di sebuah taman kecil di hotel itu. Dikelilingi bunga, kursi yang di tata melingkar dan dirinya yang duduk bersiap dengan gitarnya.
Kyuhyun bersiap memulai lagunya saat pasangan pengantin itu sudah duduk sejajar di depannya. Meski lampu yang sengaja tidak dinyalakan, tapi dia cukup mampu menilik wajah penuh bahagia itu di keremangan nyala obor.
"Kau bisa memulainya, Kyu." Heechul bersuara saat dirasa semua sudah berkumpul. Terdengar tepukan penyemangat. Kyuhyun bisa menebak siapa pelakunya, tentu Donghae hyung siapa lagi yang bisa seheboh itu, Henry dan Changmin.
"Percayalah suaranya luar biasa." kali ini Heechul kembali yang bicara.
Kyuhyun tersenyum malu. Sekali lagi dia memastikan setelan gitarnya meski berkali-kali dia sudah pastikan. Menyapukan mata pada mereka semua. Keluarga Kim, keluarga Choi, Leeteuk saem, Heechul hyung, Hankyung uisa, Changmin dan pasangan pengantin yang jadi tokoh utama malam ini.
Kyuhyun memang mempersiapkan lagu ini untuk pasangan pengantin itu tapi semua orang justru lebih antusias. Jadi mereka menambah kursi dan memperluas lingkaran.
Dengan mengambil nafas panjang llau menghembuskannya perlahan. Kyuhyun bergerak haya untuk lebih nyaman. Memposisikan jemarinya, dia mulai petikan pertamanya.
Geurigo uri hamkke
Yaksokhan geunal ihuro
Sesang modeun ge dallajyeosseoyo
Geudae jageun naui ilsange
Cham joeun baram anayo
Masing-masing dari mereka tidak ada yang bersuara. Hanya suara Kyuhyun dan petikan gitar di remang obor itu. Mereka larut dalam alunan lembut yang menghanyutkan.
Naranhi gireul georeul ttaemyeon
Han georeum geumankeum
Sesangi neolbeojin geot gatayo
Harureul bonaen jichin eokkaereul
Maeil hyusikcheoreom gamssahago sipjyo
Gamanhi geudae-ui sumgyeoreul deureul ttaen
Oraedoen yeohaengeul kkeutnaen deut neomu pyeonhajyo
Nareul manjineun geu songire naega jonjaehae
Na geudae hanaman baralgeyo
Mereka yang berpasangan saling menautkan tangan. Membagi kehangatan satu sama lain. Hera ataupun Jaerim tersenyum merasakan nada manis itu. Bahkan yang sendiri merasakan kehangatan yang menguar dari hati masing-masing. Entah lagunya atau suara Kyuhyun yang menenggelamkan mereka dalam lautan hangat nan manis.
Geudaega naui salme inneun
I meotjin punggyeonge
Eotteon nalsirado gwaenchanjyo
Gyejeori bureooneun banghyange
Naega deungeul jigo seo isseulgeyo
Oh oh saranghandan mal
Bogo sipda geun mal akkyeojundan mal
Nan biroso baeul su isseotjyo
Gamanhi geudae-ui sumgyeoreul deureul ttaen
Oraedoen yeohaengeul kkeutnaen deut neomu pyeonhajyo
Nareul manjineun geu songire naega jonjaehae
Na geudae hanamab baralgeyo
Geudae anneun eodum sok bulbit gateun geudae
Geochin pokpungu sok beotimmogi doejyo
I sesang-ui modeun gil wireul
Uri duriseo hankke gayo
Dan han sungando nan geudae
Jaerim menyandarkan diri di lengan Zou Mi yang merangkulnya semakin erat. Malam ini terasa lebih hangat. Dan mereka menikmati lagu yang indah dari Kyuhyun. Rasanya dia tidak akan melupakan malam penuh bahagia ini.
Geurigo uriga sesange isseoseo
Haru-ui sijakgwa geu kkeucheul hamkkke haejwoseo
Naneun haengbogiran gamjeongeul neukkyeo bogon hae
Geudaewa yeongwoneul kkumkkwo bwayo
I sungan geudaega nae gyeote sum swigo
Sumgyeol dalmagayo
( 그리고 우리 (And We) - 규현 (Kyuhyun - (Super Junior))
Tepukan tangan menyadarkan Kyuhyun dari sejenak memejakan matanya. Mengakhiri lagunya. Henry bertepuk tangan dengan keras. Changmin bersorak lebih keras.
"Ini kedua kali aku merasa jatuh dalam lagumu, Kyunnie." Donghae bangkit demi untuk memeluk Kyuhyun. "Kau luar biasa." ucapnya bangga.
Donghae melepas pelukan. Kyuhyun berdiri, meletakkan gitarnya di atas kursi dan berjalan menuju pasangan pengantin.
"Kalian menyukainya? Eomma?" mengernyit pada Zou Mi. "Apa sekarang aku harus memanggilmu appa?"
Semua tertawa. Changmin berseru setuju. Namun Henry menimpalinya dengan berkata Kyuhyun akan semakin kurang ajar dengan Zou Mi jika itu dilakukan.
Zou Mi berdecak. Menarik tangan Kyuhyun, dia berdiri dan memeluk pemuda itu. "Itu hadiah yang tidak akan bisa kami lupakan. Terima kasih." menepuk senang punggung Kyuhyun sebelum melepasnya. Jaerim tidak bisa mengendurkan senyumnya melihat mereka. Seperti yang dikatakan suaminya, dia tidak akan melupakan malam ini dan hari-harinya bersama Kyuhyun. Itu adalah satu bagian yang penting untuknya.
Usai dari acara kecil itu mereka beralih ke pesta di dalam hotel. Menyapa para tamu sekaligus menikmati sisa pesta.
0o0o0o0o0
Dug!
Kyuhyun memekik.
"Astaga Kyunie!" Siwon berseru terkejut. Tuan Choi bergerak cepat mengelus kening Kyuhyun yang terbentur sisi pintu seraya mengulum senyum. Donghae terkikik. Kibum menggeleng maklum. Kyuhyun itu mengantuk. Di dalam mobil saja sudah merem. Berjalan juga masih merem, mana bisa melihat pintu dan tembok.
"Buka mata Kyu~ Buka matanya~" Donghae justru bernyanyi seraya berjalan masuk.
Kyuhyun cemberut. Mengelus keningnya sendiri, berusaha membukanya matanya lebih lebar dia melangkah masuk. Siwon berjalan di belakangnya, berjaga kalau-kalau Kyuhyun akan menabrak lagi. Tapi untunglah anak itu selamat sampai ranjangnya. Meski Siwon yang membereskannya. Membantunya melepas sepatu, berganti piyama, dan meletakkan pakaian kotornya di keranjang baju kotor. Selepas itu Siwon masuk ke kamarnya sendiri. Dia juga sudah lelah dan mengantuk usai pesta pernikahan Zou Mi jaerim. Yang lain sudah lebih dulu.
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
Kyuhyun menguap lebar memasuki dapur. Langsung duduk di kursi pantry dan meletakkan kepalanya disana. Matanya kembali terpejam. Donghae muncul kemudian, sudah berpakaian rapi. Dia masuk ke dalam pantry yang dimana Siwon juga disana sedari tadi.
"Kau mau buat apa, Hae?" Siwon bermaksud menawarkan kopi buatannya tapi sepertinya Donghae menginginkan yang lain.
Donghae tidak menemukan apa yang dia cari. "Coklatnya habis, hyung?" tanyanya kembali ke meja pantry.
"Habis. Kau mau yang lain?"
"Kopi hyung, boleh?"
Siwon mengangguk. Mengambil cangkir lain dan menuang kopi untuk Donghae.
"Kau pergi pagi ini?" tanya Siwon menikmati kopinya.
Meminum kopinya Donghae mengangguk. "Iya."
Donghae beralih memperhatikan Kyuhyun yang tidur. Dia memanggilnya, tapi Kyuhyun tidak bergeming. Dia mengusuk rambutnya barulah Kyuhyun bergerak. Tapi bukannya bangun malah menyembunyikan seluruh wajahnya di lipatan tangan.
"Dia nyenyak sekali."
"Biarkan saja. Kita semua lelah setelah semalam. Kibum dan appa bahkan belum bangun. Jika tidak ada urusan di rumah sakit aku juga akan tidur lebih lama." ujar Siwon kembali meneguk kopi.
Donghae menghabiskan kopinya lalu bersiap untuk pergi. Namun sebelumnya dia mendekatkan mulut di kepala Kyuhyun dan berbisik. "Kyunie aku mau berangkat, kau tidak mau mengucapkan salam untukku sebelum pergi?"
Donghae menunggu hingga wajah Kyuhyun menyembul, menumpukkan dagu pada tangannya. Mengerjap, lalu balik menatap Donghae. "Hae hyung mau kemana?"
"Kau lupa dengan apa yang pernah kita bicarakan?"
Kyuhyun menegakkan diri begitu sadar. Memperhatikan Donghae baik-baik. "Semoga sukses."
Donghae tersenyum lebar. "Aku akan kembali sore nanti. Do'akan aku, ne. siwon hyung aku pergi."
"Hati-hati, Hae." ini ucapan Siwon. Donghae pergi membawa berkas yang sempat ditaruhnya tadi. Kyuhyun kembali menaruh kepalanya di meja pantry. Saat merasakan tangan Siwon mengelus kepalanya, dia hampir terpejam lagi. Buru-buru dia bangun. "Aku bisa tidur lagi jika Won hyung mengelusku senyaman itu."
"Tidurlah lagi jika masih mengantuk. Appa dan Kibum juga masih tidur."
Kyuhyun menguap dia tidak menyangkal jika mengantuk. Tapi dia harus bangun. Dia berjanji pada Henry akan datang ke rumah pekan ini. Meregangkan tubuhnya, mengusir jauh-jauh rasa kantuk. "Aku berjanji akan main ke rumah appa Kim hari ini. Aku tidak bisa menolak Henry."
"Mau hyung antar?"
"Hyung tidak ke kantor?"
"Kita bisa pergi bersama." jawab Siwon setelah melihat jam di dinding dapur. "Pergilah bersiap. Hyung buatkan pancake."
"Oke!" Kyuhyun menjawab semangat. Dia melompat dari kursinya dan berlari naik ke kamarnya di lantai atas. Saat pancake jadi Kyuhyun sudah siap. Dia sarapan sedangkan Siwon pergi bersiap. Beberapa menit setelahnya mereka berangkat bersama. Kyuhyun tidak lupa untuk berpamitan pada Kibum juga tuan Choi.
0o0o0o0o0o0
Ada Changmin juga rupanya. Karena akhir pekan semua lebih banyak menghabiskan wkatu di rumah. Tuan Kim dan Hera juga ada. Saat Kyuhyun datang mereka sedang berkumpul santai di halaman. Siwon tidak bisa berlama-lama karena itu dia langsung pergi setelah menurunkan Kyuhyun di rumah keluarga Kim.
"Kyu, kemarilah." panggil Changmin yang sedang membantu Hera menata halaman bersama tuan Kim.
"Tidak. Kau saja yang lakukan itu." tolak Kyuhyun. Henry tersenyum.
"Kau sangat cocok Chang hyung." seru Henry.
Tuan Kim beranjak. Mencuci tangannya di keran air lalu duduk di teras. Henry menuangkan air dingin untuknya.
"Bagaimana home schoolingmu, Kyu? Kau nyaman?" tanya tuan Kim setelah minum.
Kyuhyun memasukkan asinan ke dalam mulut. "Cukup baik appa."
"Kau yakin akan mengikuti ujian tahun ini?"
"Tahun depan saja hyung. Bersamaku. Jadi kita bisa masuk kuliah sama-sama." rayu Henry.
Kyuhyun menolak mentah-mentah. Dia tidak suka ide Henry. "Nanti aku tertinggal jauh dari Changmin."
"Itu juga bukan hal buruk, Kyu!" sahut Changmin yang masih bisa mendengar mereka.
"Tidak bagiku." balas Kyuhyun. "Appa."
"Heum?"
"Appa sudah tahu Donghae hyung ingin bekerja di luar kota?"
"Benarkah?" Changmin melongok bertanya ingin tahu. Kyuhyun mengangguk pada Changmin. Tuan Kim tidak terkejut, dia sudah tahu hal itu dari tuan Choi. Juga tentang Kibum yang akan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Henry terlihat sennag saat mendengar kabar itu.
"Jadi hyung bisa kembali ke rumah. Iya, kan?" harap Henry dengan mata berbinar.
Kyuhyun diam berfikir. Tuan Kim menatap kedua putranya bergantian kemudia menghela nafas. "Henry-ah jika Donghae dan Kibum pergi rumah itu jadi sepi. Kau tega membiarkan appa Choi sendirian? Dia sudah banyak mengurangi pekerjaannya saat sakit-sakitan."
"Sakit?" tanya Kyuhyun.
"Usia sudah tua, Kyu wajar jika Jung Woon hyung mulai rapuh dan rentan pada sakit. Dia sudah lelah, sudah waktuya menyantaikan diri. Menikmati masa tuanya." tuan Kim mengambil minum lagi. Hera dan Changmin selesai dengan tanaman bunga segera membersihkan diri dan bergabung dengan mereka.
Henry tahu maksud sang ayah bicara seperti itu. Kedua orang tuanya bermaksud mengalah lebih banyak dari tuan Choi. Jika Kyuhyun mu di bisa tinggal terus di tempat tuan Choi dengan alasan menemani lelaki itu. Ditinggal dua anaknya dan Siwon yang akan sangat sibuk di pekerjaan pasti membuat lelaki itu kesepian.
Kyuhyun merangkul Henry yang berwajah masam. "Kenapa cemberut? Kau pikir akan sulit menemuiku? Kau bisa datang ke rumah ahjussi Choi kapan saja. Kau bisa menginap."
"Kami juga tidak melarangmu, Henry." kata Hera.
"Jika tidak berani aku bisa mengantarmu." usul Changmin juga.
Henry menghela nafas panjang. "Yaa."
Mereka mengobrol hal lain kemudian. Menghabiskan waktu pekan mereka dengan bersantai dan menikmati waktu luang itu. Saat hari beranjak siang mereka masuk ke dalam rumah. Hera menyiapkan makan siang dibantu Kyuhyun dan Changmin. Kyuhyun lebih banyak melihat dibandigkan Changmin yang cekatan memabantu Hera.
"Hyung ponselmu bunyi!" Henry memanggil dari ruang keluarga. Kyuhyun segera pergi untuk melihat ponselnya. Kibum meneleponnya.
"Ye Kibum hyung?"
"Aku pulang sore nanti. Iya. Ye."
Kyuhyun menutup panggilan dan menaruh kembali ponselnya.
"Ada apa?" tanya tuan Kim.
"Kibum hyung hanya bertanya hal biasa. Dia akan menjemputku sore nanti."
"Minta saja dia kesini sekarang." kata Henry.
"Dia ada urusan." Kyuhyun mengusap kepala Henry sambil lalu. Dia ekmbali ke dapur merecoki dua koki yang sedang sibuk.
0o0o0o0o0o0
0o0o0o0o0
0o0o0o0
0o0o0
0o0
Musim gugur kembali datang. Udara dingin saat pagi menyambut dan sore hari. Namun saat siang menjadi panas. Kebanyakan orang akan keluar saat siang hari menikmati hari dengan pepohonan yang berubah warna. Terdengar menyenangkan.
Kyuhyun bangun pagi sekali. Langsung pergi ke dapur dan membuat coklat panasnya sendiri. Semalam dia cukup mengahbiskan waktu untuk mengisi tugas studynya. Hanya tidur sebentar tapi saat pagi datang dia tidak bisa melanjutkan tidurnya. Dia merasa cukup tidur meski hanya 3-4 jam.
"Kau sudah bangun?"
Saat menikmati coklat panasnya tuan Choi muncul memasuki pantry.
"Pagi." sapa Kyuhyun.
Tuan Choi membalasnya dengan senyum dan usapan ringan di atas kepalanya. Lelaki beruban tipis itu berhenti menatap pada jendela. "Semua daun sudah berubah warna." ucapnya memperhatikan daun maple di halaman yang menguning. "Pasti menyenangkan berada di luar."
"Kedengarannya akan luar biasa." balas Kyuhyun membayangkannya juga.
Tuan Choi menoleh. "Mau piknik?" usulnya tiba-tiba.
Kyuhyun mengangguk antusias. Piknik di musim gugur pasti akan berkesan. Terlebih lagi ini akan jadi hal terakhir yag bisa mereka lakukan sebelum Donghae dan Kibum pergi. Mereka akan pergi beriringan. Berpisah lama dan jarak yang jauh. Tidak akan bertemu sesering dulu.
0o0o0o0o0o0
Kyuhyun merasakan hembusan angin sejuk membuatnya tenang dan nyaman dalam posisi tiduran. Langit yang cerah, biru yang menyilaukan. Ada begitu banyak hari yang menyenangkan dan membuatnya terlena. Tapi hari ini semakin baik dan membuatnya ingin memejamkan mata karena sangat damai.
Dia bisa menangkap suara-suara di sekitarnya. Ada yang bergurau. Bermain sesuatu atau mereka yang menukar makanan dan menikmatinya dengan baik. Semua keluarganya ada disini. Menikmati hari yang luar biasa bersamanya dibawah langit.
Sebuah tiupan di wajah membuat Kyuyun harus membuka mata. Kibum tersenyum lebar menatapnya. Dan dengan jahil menyentil keningnya. "Bangun. Hari secerah ini kau malah tidur."
Kyuhyun tersenyum tapi menolak bangun dari posisi nyaman tersebut. Dia menoleh ke sebelah dan melihat yang lain sedang bermain kartu. Dan disisi lain para orang tua sedang mengobrol sambil nyemil.
"Apa ini sudah cukup untuk membuatmu merasakan bahagia? Kau sudah merasakan surga, Kyunie?"
Kyuhyun kembali menatap Kibum yang duduk disebelahnya menumpukan kedua tangannya kebelakang dan menatap jauh ke depan. Angin kembali datang, dedaunan terbang terbawa hembusannya. Tempat piknik mereka jadi terlihat indah.
"Iya. Surga yang sangat indah."
Kibum menoleh memberikan senyuman. "Jaga appa, ne. Hyung akan sering meneleponmu."
"Baik." jawab Kyuhyun patuh. "Aku akan menjaganya. Tidak akan kubiarkan kalian sampai merasa khawatir."
Kyuhyun memiringkan tubuhnya. Melihat ketiga orang tuanya dan memperhatikannya dalam diam. Mereka nampak sangat akur. Berbagi senyum dan tawa bersama. Ini hari yang luar biasa. Seperti yang dia bayangkan. Dan saat tatapan matanya bertumbuk pada sorot mata tuan Choi Kyuhyun tidak bisa tidak tersenyum lebih lebar.
Dalam ketenangan dan kesadarannya Kyuhyun menggerakkan bibir mengucapkan sebaris kalimat tanpa suara. Dirapalkan dengan hati-hati berharap itu bisa dibaca jelas oleh seorang Choi Jung Woon. Yang membuat lelaki itu diam untuk sejenak dalam keterkejutan. Hingga kedua matanya berembun penuh haru serta kedua bibirnya yang merekah lebar.
'Jeongmal gomawoyeo, appa. Saranghae.'
FIN
Tuesday, February 28, 2017
11:23 AM
Saturday, March 11, 2017
10:42 AM
Inilah penghujungnya. Terima kasih untuk kalian semua. Jangan minta aku menyebut kalian satu persatu, ne. sekali lagi terima kasih, kalian sudah mengikuti LML sampai saat ini. Aku bisa menyelesaikannya karena kalian selalu menunggu ini. Jadi ini semua juga berkat kalian.
Lagu Kyuhyun diatas, aku mulai mendengarnya sejak Chapter ke 28. meski itu bukan lagu pertama yang membuatku jatuh cinta pada sosok Cho Kyuhyun, tapi adalah lagu favorite keduaku dari seorang Cho Kyuhyun.
Mari selalu mengharapkan hal-hal baik untuknya menjelang wamil.
Aku tutup LML dengan perasaan yang berbunga, karena akhirnya apa yang kubayangkan tentang penggunaan lagu itu terwujud. Hahaha walaupun itu tidak terlalu menonjol. Selama prosesnya pun aku terus mendengarnya. Ah hatiku meleleh.
Aku tutup sekian, ya.
Sampai jumpa di ff lain dan sungguh sungguh aku berterima kasih kepada kalian semua. Review kalian adalah nyawa ff ini. Terima kasih pada Cho Kyuhyun yang penuh inspirasi, kita sangat membanggakannya. Dia yang terbaik.
Chapter penutup ini entah akan memuaskan kalian atau tidak. Tapi aku berharp kalian cukup puas.
Untuk typo dan segala kekurangannya bisa disebut di kolom rivew. Agar itu menjadi perbaikan diri untuk ke depannya.
Sampai jumpa.
Salam
Sima Yu'I
(SY'I)
