© angstgoddess003
.
.
Baekhyun POV
Aku mengolesi icing dengan kasar, lalu melihat permukaan kue berubah warna menjadi biru pekat ke putih, sampai akhirnya sewarna dengan cornflower.
Aku selalu dikeliling warna biru akhir-akhir ini. Dinding bercat biru, tempat tidur biru, karpet biru, semuanya biru. Dan di biru itu selalu ada warna hitam yang menelannya bulat-bulat. Tapi, hari ini bukan tentang hitam dan biruku. Hari ini sangatlah penting dan ada sebuah misi yang harus kuselesaikan.
Sekarang Hari Sabtu, dan aku sedang berdiri di dapur mengenakan pakaian "sederhana" yang dipilih Luhan untuk acara yang tidak pasti ini. Luhan sudah mulai menerima Chanyeol. Dan pakaian ini khusus untuk acara yang istimewa. Ya, semoga saja. Jujur saja, aku merasa bersalah, karena Luhan ikut tertarik ke dalam kekacauan antara Bibi Irene dan aku. Dia tidak ingin berpihak, dan memang seharusnya begitu.
Dia memang tidak perlu memihak, sampai akhirnya Bibi Irene meminta Luhan untuk mengawasiku di sekolah. Sekarang dia harus berbohong untukku.
Kami semakin dekat semenjak dua minggu terakhir. Dia semakin sering melindungiku dari Bibi Irene, dan menghalangi Bibi Irene untuk bicara padaku sebisanya. Aku sangat bersyukur, karena jujur saja... Bibi Irene sudah memojokkanku.
Bibi Irene terus-terusan bertanya apa aku "baik-baik saja", atau kalau aku merasa "baik-baik saja", atau apa kegiatan sekolahku "baik-baik saja".
Suatu hari di minggu yang lalu, aku mulai menghitung jumlah "baik-baik saja" yang kuucapkan. Aku menghitung sampai dua belas, sebelum akhirnya berhenti.
Aku mengangguk dan menahan ringisan dari kebenaran kata-kata itu. Aku baik-baik saja. Aku tidak bahagia, dan aku tidak senang dengan keadaan saat ini. Tapi, aku baik-baik saja, dalam artian masih bisa hidup dan bernapas. Aku tidak boleh banyak mengeluh.
Jadi, aku tetap diam selama dua minggu dan mengurangi komunikasi kami dengan mengangguk dan menggelengkan kepala, sambil sesekali mendengus atau bergumam. Tindakanku mungkin terlihat tidak mengenakkan dan kekanak-kanakan, tapi aku tidak peduli.
Bibi Irene terang-terangan membenci perlakuanku yang mendiamkannya, dia berusaha keras memaksa beberapa kata keluar dari mulutku dengan mengajukan pertanyaan rumit. Usahanya tidak pernah membuahkan hasil, dan Bibi semakin jengkel dengan setiap angkat-bahu yang kulakukan. Bibi Irene mulai beralih ke langkah yang tidak menyenangkan untuk mendapatkan perhatianku.
Di akhir pekan lalu, Bibi Irene pulang sambil membawa peralatan memasak seharga ratusan ribu won. Mulutku sedikit menganga kagum melihat Bibi Irene membongkarnya. Ada mangkuk pencampur stainless steel, cetakan kue, panci dan wajan, cetakan waffle, food processor, dan... aku tidak senang saat Bibi Irene berjalan melewatiku sambil tersenyum lebar.
Aku menunjukkan ketidaksukaanku secara terang-terangan dengan menggunakan peralatan lama. Aku membuat adonan kue Biscotti Buy Me Off malam itu. Diam-diam, aku tetap melirik cetakan kue baru beberapa kali, tapi aku tetap bergeming. Maksud kue buatanku kali ini sudah jelas, aku tidak bisa dibeli—disogok. Keesokan harinya, Bibi Irene tampak sedih melihat semua peralatan memasak baru yang dibelinya berakhir sia-sia, tapi aku terlalu marah dan, jujur saja, sedikit tersinggung, sampai-sampai aku tidak lagi merasa bersalah.
Aku mendengus saat kening Bibi Irene berkerut melihat cetakan waffle baru yang tidak terpakai dan bertanya apa cetakannya 'baik-baik saja'.
Kemudian Bibi Irene mencoba hal lain lagi malam itu. Bibi Irene bilang ini saatnya 'movie night' dan berusaha keras bersikap 'asik', sementara Luhan dan aku memutar mata kami dan duduk diam di sofa dengan memasang ekspresi tidak tertarik. Kegelapan dan film membuatku mengantuk. Aku menyandarkan kepala di bahu Luhan dan berjuang untuk tetap terjaga. Bibi Irene dengan manisnya menyarankanku untuk "pergi tidur".
Ya. Usahanya sama sekali tidak berpengaruh. Aku hampir menyerah saat itu juga dan bilang segalanya pada Bibi Irene, agar aku bisa melihat ekspresinya. Aku ingin bilang kalau aku bisa tidur dengan baik kalau bersama Chanyeol. Tapi, aku terus menutup mulut dan menonton film sampai selesai dengan beberapa kali kuapan. Bibi Irene tidak akan mengerti kenapa aku butuh Chanyeol untuk tidur.
Luhan menemaniku sampai dia dipaksa pergi tidur malam hari. Aku membiarkan Luhan mengecat kukuku atau melakukan hal feminin lainnya, karena itu akan membuatku waspada dan terjaga. Kami mengobrol selama berjam-jam sepanjang malam sambil menghindari Bibi Irene. Aku bicara tentang Chanyeol dan dia bicara tentang Sehun dan ini adalah hal paling normal yang pernah kulakukan bersamanya.
Aku punya firasat Luhan tahu lebih dari seharusnya. Dia tahu kalau aku tidur bersama Chanyeol, bukan hanya karena itu menyenangkan. Luhan seolah-olah sengaja membantuku untuk tetap terjaga. Dia mengobrol dengan semangat dan kembali menarik perhatianku dengan tingkah konyolnya setiap kali minatku mulai goyah.
Sehun mungkin menceritakan tentang rutinitas tidur kami pada Luhan. Aku tergoda untuk membuatnya percaya kalau malamku bersama Chanyeol murni karena hubungan intim.
Dan kalau Luhan curiga, kecurigaannya langsung dikonfirmasi saat makan siang ketika aku tidur dengan Chanyeol.
Aku menguap sambil memikirkan hal ini; memaksaku untuk melepaskan sendok kayu cukup lama untuk menutup mulutku dan menggeleng.
Sudah dua minggu berlalu semenjak aku tidur semalam penuh. Tidurku saat makan siang bersama Chanyeol sedikit membantu. Dia selalu menarikku ke pangkuannya dan terus memelukku dengan erat.
Wanginya begitu memabukkan, bercampur dengan sedikit asap rokok dan mint. Aroma dan kehangatannya membuatku tertidur sebelum menyadari apa yang terjadi di sekitarku. Aku tidak ingat apa yang terjadi saat makan siang selama seminggu terakhir. Saat aku bersiap-siap untuk tidur, meja kami kosong. Saat aku terbangun, meja kami juga masih kosong. Kalau Luhan tidak bilang padaku kalau mereka semua ada di sana, aku pasti akan berpikir mereka sudah berhenti makan bersama kami.
Waktu di sekolah terasa lebih singkat. Ya, tidak semuanya, tentu saja. Hanya waktu antar kelas terasa semakin singkat. Sedangkan belajar dalam kelas terasa lebih lama. Aku benar-benar kelelahan dan mencoba sebisa mungkin untuk tetap berpikir jernih, melewati setiap pelajaran dan tugas yang membosankan, dan tidak sabar untuk makan siang. Tidak untuk tidur siang, meskipun itu menyenangkan. Namun, lebih karena ada waktu tambahan untuk dekat dengan Chanyeol.
Chanyeol adalah alasan kenapa aku melakukan ini. Kondisinya... memburuk. Dia lebih sering merokok; aku tahu ini karena aroma rokok yang tercium lebih keras di pakaiannya. Aroma itu tidak membuatku jengah, tapi aku menggunakannya sebagai indikator malam yang dilalui Chanyeol. Aku tahu dia merokok untuk mengurangi stresnya.
Dan kerutan keningnya...
Kerutan keningnya selalu hadir minggu ini. Aku tidak bisa menghapus kerutannya dan membuat kenangannya keluar dari bibir Chanyeol, agar dia bisa kembali menjernihkan pikiran. Jadi, kerut keningnya tetap ada, menciptakan alur kecil di antara matanya. Bahkan jari-jariku tidak bisa menghapusnya. Kelopak matanya semakin berat dan gelap di tiap pagi aku melihatnya di pekarangan rumah.
'Upper' yang disebut-sebutnya tidak berjalan sesuai dengan harapkanku. Aku melihatnya semakin gelisah karena hal-hal kecil.
Sehari sebelumnya, aku berdiri di depan loker Chanyeol sambil mengawasinya meneriakkan umpatan penuh warna saat membuka kunci. Angka kombinasi yang dimasukkannya tidak bisa membuka gembok loker, dan aku yakin dia tidak menginputnya dalam urutan yang tepat. Tapi, dia sangat frustasi dan mengantuk seraya meraup erat rambutnya, lalu mencoba membuka kunci untuk yang kelima kalinya. Aku tidak ingin membuat Chanyeol semakin jengkel dengan mengoreksinya.
Aku menunggu dengan sabar sembari melihatnya mencoba membuka gembok loker dua kali lagi. Dia masih tidak berhasil, lalu dia terkekeh hambar dan memukul gembok itu dengan tinjunya. Seolah-olah dengan memukul benda mati akan membuatnya tunduk. Aku tersentak mendengar suara hantaman kerasnya dan meringis membayangkan rasa sakitnya.
Ekspresi meminta maaf di wajahnya sedikit mengagetkanku. Aku meraih tinjunya dan dengan lembut mendorongnya. Aku melangkah di depannya, lalu menginput kombinasi kunci lokernya dengan benar, gembok terbuka dengan mudah, sama sekali tidak butuh kekerasan. Dia terlihat kebingungan dan mendorong bukunya ke dalam dengan kasar.
Inilah Chanyeol.
Dia seperti bom waktu, dan aku rasa aku tidak mendengar seorang pun bicara padanya selama lima hari terakhir ini, kecuali aku. Aku sepertinya kebal dari amarah pendek Chanyeol.
Tapi, sikapnya masih membuatku gila, karena sorotan matanya, kerutan di keningnya, dan tidak lagi memiliki kemampuan untuk meredakan amarahnya seperti biasa. Tentu saja aku selalu mencobanya dengan mengusap lembut rambutnya atau mengecup pipinya. Kadang-kadang aku hanya bilang aku mencintainya. Setidaknya, ucapan itu sedikit membantu, tapi aku masih merasa putus asa.
Semua itu hanya memperparah keadaan. Dia sedang berada di rumah sebelah saat ini, kelelahan dan mungkin kesal dengan dr. Park, karena harus menghabiskan hari sendirian di kamar. Dan tidak seharusnya itu terjadi.
Ini hari ulang tahunnya.
Aku berbalik, kembali menguap dan menutup mulutku. Kemudian aku mengangkat kue ber-icing biru ke piring kue. Ini kue selai kacang, dan aku bisa membayangkan senyum di wajah Chanyeol saat dia memakannya.
Sudah begitu lama rasanya aku tidak lagi melihat Chanyeol benar-benar tersenyum. Dia tersenyum padaku tiap pagi saat kami bertemu di tempat parkir, atau saat dia bertemu denganku setelah kelas. Senyum paling lebarnya selalu terjadi sebelum istirahat makan siang.
Tapi, semakin lama senyumnya semakin terlihat dipaksakan. Tidak alami lagi. Tidak seperti senyum yang biasa kulihat. Dan aku membutuhkan senyum itu. Lebih dari kebutuhanku untuk tidur. Yang kubutuhkan hanyalah senyum Chanyeol untukku.
Aku, di sisi lain, mungkin juga punya masalah yang sama dengan senyumku sendiri. Jujur, aku juga sama lelahnya. Aku tidak pernah mengaku pada Chanyeol, tapi satu jam sehari yang dia berikan padaku untuk tidur tidaklah cukup untuk membuatku berfungsi dengan baik. Aku tidak pernah tidur di malam hari, dan menghabiskan sebagian besar mingguku dengan pandangan berkunang-kunang. Aku membiarkan diriku tidur sebentar pagi ini, saat sinar matahari baru saja masuk melalui jendela.
Aku bertindak gegabah.
Tidak peduli di mana posisi matahari berada. Mimpiku tetap sama. Namun, dengan gambaran lemari yang berbeda, yang tertutup oleh sebuah perabotan laci di kota dan ruangan lain. Walaupun terdengar mengerikan dan hampir tidak masuk akal, tapi mimpi itu cukup membuatku terfokus memanggang kue ini tanpa terjatuh.
Luhan membuyarkan lamunanku saat dia melangkah ke dapur sambil tersenyum.
"Mmm," gumamnya sambil melompat-lompat ke kursi dan mengincar kue yang sedang kuhias dengan tatapan lapar.
Aku menggeleng. "Bukan untukmu," ucapku, lalu memukul pelan tangan Luhan saat dia mencelupkan jarinya ke dalam icing dan cemberut padaku.
Dia berhasil mendapat sedikit icing di jarinya dan memasukkannya ke dalam mulut dengan senang.
"Chanyeol manja sekali," rengeknya, lalu melirik ke wadah pasta favorit Chanyeol.
Aku hanya mengangkat bahu sambil menyeringai kecil. Mari berharap.
"Ini..." ucapnya sambil melambaikan tangan ke kue dan wadah makanan. "...tidak akan berhasil," sambungnya dengan alis terangkat dan menopangkan siku di atas meja.
Aku mengerutkan kening dan terus menghias kue dengan cermat.
"Kita lihat saja nanti," ucapku sambil mengangkat bahu, mencoba untuk tetap optimis. "Aku harap aku bisa mengeluarkan belas kasihan Bibi," ujarku sambil mengangguk mantap, lalu melangkah menjauhi kue untuk memeriksanya.
Luhan mendengus. "Belas kasihan?" tanyanya seraya memutar mata dan mengambil sesendok penuh icing kue selagi aku meletakkan wadah pasta ke dalam tasku. "Ya, tentu saja," celanya, diikuti tawa muram dan mulai menjilati sendok.
Kerut keningku semakin dalam setelah mendengar ucapannya. Aku meletakkan tas di samping dan bersandar ke meja.
Aku hendak memberinya pidato panjang lebar tentang kurangnya keyakinan yang dia miliki, namun Bibi Irene sudah melangkah ke dapur. Tubuhku membeku, dan aku cepat-cepat berpaling.
Sejak pagi setelah Bibi Irene membeli peralatan memasak baru, aku tidak pernah bicara satu kata pun padanya. Aku harap—dengan memberikan sedikit waktu untuk menenangkan diri—logika Bibi Irene akan lebih... memahami logikaku. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menguji teori itu, karena aku membutuhkannya. Untuk Chanyeol setidaknya. Juga untuk Luhan, yang selalu mendorongku untuk berdiri sendiri.
Aku berdeham sambil berbalik untuk menghadapi Bibi Irene dan menatap matanya. Sayangnya, tatapan Bibi Irene terpaku pada kue berwarna biru yang berdiri di tengah-tengah meja. Bibi Irene terlihat... penasaran. Aku rasa Paman Bogum tidak memberitahunya tentang ulang tahun Chanyeol, atau mungkin Bibi Irene yang tidak memedulikannya.
Mata Bibi Irene berkedip-kedip melihatku, mungkin dia ingin memastikan kalau aku benar-benar mengakui kehadirannya. Bibi Irene tersenyum cerah.
"Apa kita akan pesta kue malam ini?" tanya Bibi Irene sambil meluncur ke kursi di samping Luhan, yang sedang berusaha mati-matian menjaga wajahnya tetap tenang karena tahu niatku.
Aku menarik napas panjang untuk menguatkan diri, membangun keberanian, dan mengangkat dagu sambil menjaga tatapanku untuk tetap terkunci pada mata Bibi Irene.
"Ini untuk Chanyeol," jawabku mantap. Aku bisa melihat Luhan tersenyum lebar dari sudut mataku. "Hari ini dia berulang tahun," tambahku santai dan menjaga wajahnya tetap kosong.
Dapur menjadi sepi selagi Bibi Irene dan aku saling bertatapan, dan Luhan mulai bergeser dengan gelisah di kursinya.
"Aku akan ke..." Luhan berhenti bicara dan melompat turun dari kursi. Dia menatapku dan ibunya bolak-balik. "Tidak di sini," sambungnya lemah, lalu berjalan menjauh dari ketegangan di dalam ruangan.
Dia berbalik saat mencapai pintu, mengalihkan perhatianku. Dia meregangkan otot lengannya padaku, sambil mengucapkan, "Semangat," dengan dramatis sebelum akhirnya keluar.
"Aku akan meminta Bogum membawakan kue ini untuknya," ucap Bibi Irene akhirnya.
Aku kembali menatapnya, berjuang menahan senyumku, lalu duduk di kursi, di depan Bibi Irene. Alibi Bibi Irene tidak cukup bagiku, dan aku siap bertarung untuk yang satu ini. Untuk memberikan kekasihku kue di hari ulang tahunnya.
Bibi Irene pasti melihat aura pembangkang di mataku. "Apa kau sudah mau bicara padaku sekarang?" tanya Bibi Irene diam-diam, suaranya terdengar sedih, lalu melipat tangannya di atas meja granit gelap.
Aku memutuskan untuk menghibur Bibi Irene dengan membuatnya berpikir kalau argumen ini sudah berakhir. "Ya," ucapku sembari mengangguk.
Ekspresi Bibi Irene melunak dan dia tersenyum lebar. Senyum ini menerangi wajahnya, dan membuatku sadar betapa aku sangat rindu mengobrol dengannya.
"Aku senang mendengarnya, Baekhyun," ucapnya masih tersenyum, lalu mengulurkan tangan di sekitar kue untuk menepuk-nepuk tanganku.
Aku mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Bibi Irene bersikap baik padaku, bahkan manis, dan aku perlu mempertahankan kemarahanku padanya.
Aku harus berjuang lebih keras.
"Aku ingin mengantar sendiri kue ini pada Chanyeol," tuntutku seraya menarik tanganku menjauh dari tangan Bibi Irene, mungkin ini sedikit kekanak-kanakan, tapi aku tidak peduli.
Bibi Irene tertegun, dia menarik tangannya kembali dan mengerutkan kening sambil melihat kue.
"Kau tahu aturannya, Baekhyun," bisik Bibi Irene singkat, wajahnya mengeras, memperlihatkan otoritas langkanya. "Aku tidak ingin kau berada di dekat laki-laki itu lagi," suara Bibi Irene terdengar sedikit jijik, tapi cukup untuk membuatku marah.
Aku mengangkat dagu dan menyipitkan mata. "Namanya Chanyeol," ucapku mencemooh.
Aku tidak habis pikir dengan nada menghina Bibi Irene. Cuping hidungnya sedikit melebar dan dia hanya menggelengkan kepala, kembali menolak permintaanku.
Aku mengerang frustrasi, melemparkan tanganku di udara.
"Apa ruginya kalau aku ke sana sebentar saja, Bibi?" tanyaku putus asa. Lagi pula, Chanyeol tidak akan menganiayaku karena membawakannya kue.
Bibi Irene terlihat gusar dan keningnya berkerut.
"Kau tahu, anak-anak lain akan dikurung kalau melakukan kekonyolan yang kau praktikkan selama tiga bulan terakhir," balas Bibi Irene.
Aku ternganga. Aku sadar "bukan-hukuman" ini sebenarnya bukanlah bukan-hukuman, dan aku benci konsep hukuman mustahil ini.
Bibi Irene sepertinya sadar dengan ucapannya, dan wajahnya menunduk malu.
"Kau tahu aku tidak bermaksud menghukummu, Baekhyun," bisik Bibi Irene sambil mengaitkan jari-jarinya.
Tapi, aku benar-benar tidak tahu itu. Dan aku ragu Bibi Irene percaya dengan pernyataannya sendiri. Dia begitu sibuk meyakinkan dirinya kalau ini semua demi kebaikanku, dia bahkan tidak sadar sudah mengambil banyak dariku, lebih dari kekasihku. Dia mengambil dapurku di malam hari dan bahkan kebebasanku di akhir pekan.
Aku, pada dasarnya, dikurung.
Saat Bibi Irene menatapku lagi, keningnya berkerut. "Aku mendapat telepon dari sekolah kemarin," ujarnya, kerut di keningnya semakin dalam.
Tubuhku membeku, dan berusaha mengingat apa aku sudah tertidur lagi di kelas. Tapi, aku tahu aku tidak pernah tertidur di kelas, jadi keningku berkerut penuh tanya.
Bibi Irene berdeham dan ekspresi kekhawatiran yang menghiasi wajahnya selama dua minggu ini kembali muncul.
"Kau tidak memerhatikan pelajaran di kelas dan nilaimu turun," ucap Bibi Irene memberitahuku. Matanya menyipit selagi memeriksa wajahku.
Aku bergerak-gerak gelisah di bawah pengawasan, dan kemudian menunduk menatap pangkuanku.
"Aku akan berusaha lebih keras," janjiku sambil berbisik dan menggigit bibir dalam ketidakpastian. Karena aku telah mencoba sekuat tenaga untuk memerhatikan pelajaran di kelas, tapi itu masih tidak cukup.
Bibi Irene mendesah, tapi hembusan napas yang keluar lebih terdengar seperti suara erangan tercekik. "Tidak," ucapnya lemah, dan kemudian mengulanginya sekali lagi lebih keras, dan sekali lagi dengan nada yang tegas dan tajam—membuatku mengernyit selagi menatapnya.
Kening Bibi Irene berkerut kesal saat menatapku.
"Kau kelelahan, Baekhyun," ucapnya, hampir menggeram padaku.
Aku belum pernah mendengar Bibi Irene menggunakan nada suara ini pada siapa pun.
Aku hanya menggeleng, menolak mengakui betapa benar pernyataan Bibi Irene itu. Sikapku membuat Bibi Irene semakin gelisah, dan dia berdiri dari kursinya lalu membungkuk di atas kue, lalu meraih daguku, memaksaku untuk menatap matanya.
Bibi Irene membungkuk lebih dekat ke wajahku, memeriksaku terang-terangan sambil terus memegang daguku. "Kau tidak tidur sama sekali, kan?" tanyanya.
Cara Bibi Irene bertanya jelas menyiratkan kalau dia sudah tahu jawabannya. Aku menelan ludah dan menatap matanya selagi otakku mencari strategi bagaimana cara untuk melanjutkan percakapan ini.
Sebagian dari diriku beranggapan kalau aku mengatakan yang sejujurnya pada Bibi Irene; menjelaskan kalau aku tidak bisa tidur tanpa Chanyeol, Bibi Irene akan mengerti. Dan mungkin, Bibi Irene akan mengizinkan kami untuk melanjutkan rutinitas lama. Sekali pun berada di bawah pengawasan, atau di kamarku sendiri, aku tidak akan keberatan.
Namun, sebagian lagi tahu kalau Bibi Irene tidak mungkin paham tentang batasan kebutuhanku pada Chanyeol untuk tidur dan hubungan romantis kami.
Batasan itu cukup kabur, dan aku sendiri juga kesulitan memisahkan garis pembatasnya.
Pandanganku lemah di bawah tatapan Bibi Irene dan bahuku membungkuk, karena terlalu lelah. Lelah mencari-cari alasan, dan lelah berbohong tentang... lelah.
"Aku tidak bisa tidur tanpa Chanyeol," ucapku mengaku dengan gugup, suaraku terdengar seperti bisikan, dan sebagian dari diriku berharap Bibi Irene tidak mendengarnya.
Bibi Irene menatapku dengan gusar dan melepas daguku dengan lembut, lalu duduk kembali ke kursinya dengan frustrasi.
"Apa ini strategimu untuk melakukan pemberontakan padaku?" tanyanya skeptis, sementara jari-jariku secara naluriah menarik lengan sweater-ku di atas meja granit yang dingin. "Kau tidak akan tidur sampai aku terpaksa menyerah?" tambahnya.
Keningku berkerut. Aku seharusnya tahu ini akan terjadi.
Aku menggeleng sambil mendesah penuh kekalahan. Aku akan menceritakan segalanya sekarang atau tidak sama sekali. Aku telah menyimpan begitu banyak rahasia dari Bibi Irene semenjak kepindahanku ke sini. Bibi Irene punya catatan dan referensi dari dokterku, tapi Bibi Irene tidak benar-benar mengerti. Aku lebih suka menjauhkannya dari kegelapan, karena aku tidak ingin menariknya ke dalam kegelapan bersamaku. Aku hanya bisa berharap kejujuranku akan membuat Bibi Irene berpikir rasional.
Jadi, dengan sebuah tarikan napas panjang, mulutku terbuka dan menumpahkan segalanya. Aku menghabiskan waktu sepuluh menit untuk menceritakan semua tentang mimpi burukku, memori, kenangan, apa pun itu. Bibi Irene bergeming dan ekspresinya tetap kosong selagi aku menyampaikan kisah tentang mimpi lemari sembari mengamati matanya yang terlihat paham.
Mungkin karena Bibi Irene sudah bertanya-tanya tentang lemariku sejak Chanyeol memindahkan perabotan laci di depannya. Aku melihat ekspresi Bibi Irene perlahan-lahan mengumpulkan potongan puzzle yang dilewatkannya, menyadari ini sudah terjadi begitu lama sampai-sampai aku bisa menghubungkan semua masalahku.
Dan saat aku tidak bisa lagi bicara tentang kenanganku dengan tenang, aku mulai bercerita tentang Chanyeol, dan bagaimana aku bisa tidur dengannya. Dalam pelukannya. Dengan singkat aku mencoba menjelaskan tentang percikan yang kurasakan bersamanya, tapi buru-buru mengalihkan topik pembicaraan. Karena, itu terlalu pribadi. Sebaliknya, aku mengatakan pada Bibi Irene tentang Chanyeol yang bisa membuatku merasa aman.
Setelah aku selesai bicara, mata Bibi Irene semakin lebar, dan wajahnya memucat. Aku menghisap bibir bawahku, lalu menggigit-gigitnya dengan cemas selagi Bibi Irene memproses kata-kataku dalam kepalanya. Kami duduk di dalam keheningan. Rasanya bertahun-tahun sudah lewat sebelum ekspresi Bibi Irene berubah dengan cepat.
Menjadi kemarahan.
Kemarahan yang tidak terkendali melintas di mata Bibi Irene yang berwarna karamel, tinjunya juga ikut terkepal di atas meja granit.
"Kau menyembunyikan ini semua dariku?" tanyanya tenang, tapi amarah masih terasa kental dalam suaranya. "Aku yang seharusnya membantumu, Baekhyun," lanjut Bibi Irene, suaranya bergetar sekarang, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa, selain menatapnya dengan cemas. "Bukan Park Chanyeol," simpulnya ketus.
Aku tidak mengatakan apa-apa selagi kakiku bergoyang pelan. Apa yang bisa kuucapkan? Aku tidak ingin bantuan Bibi? Sebenarnya, tidak ada yang bisa Bibi Irene lakukan untukku. Jadi, untuk apa aku repot-repot menceritakan masalahku padanya disaat dia juga tidak punya kesempatan untuk memecahkannya?
Namun, pikiran Bibi Irene berbeda. "Aku akan membuat janji dengan psikolog," ucapnya tegas.
Sekarang, wajahku lah yang memucat dan kepalaku gemetaran marah. Aku tidak menginginkannya, dan aku tidak akan melakukannya. Bibi Irene tidak bisa memaksaku.
Wajah Bibi Irene berubah putus asa, dan dengan kasar meraih tanganku dari atas meja lalu menggenggamnnya erat-erat. "Aku mohon, lakukan ini untukku?" ucapnya, hampir mengemis.
Kepalaku terus gemetaran dan dia memegang tanganku lebih erat.
Sama seperti amarahnya yang cepat datang, sekarang wajah Bibi Irene menunduk penuh kekalahan.
Aku memutuskan momen ini bisa kumanfaatkan untuk memeroleh keuntungan. Aku benar-benar bisa merasakan kekalahan dan keputusasaannya.
"Baiklah, tapi kalau Bibi membiarkanku menemui Chanyeol," tawarku licik, dan berjuang menahan senyum dan seringaian.
Ini kompromi besar buatku; Bibi Irene pasti mengerti dan dia harus menerima tawaranku kalau benar-benar ingin membuatku ikut terapi.
Aku semakin bersemangat saat kepala Bibi Irene terangkat dan matanya mulai melihat sekeliling dapur sambil berpikir. Aku menunggu keputusannya dengan menahan napas dan menggigit-gigit pipiku bagian dalam.
Saat mata Bibi Irene kembali menatapku, secercah harapan dalam dadaku langsung jatuh dan mati. "Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa setuju dengan tawaranmu," bisiknya, lalu mendesah dan berpaling dari tatapanku yang hancur.
Aku menarik tanganku dengan sedih, bahuku merosot. "Kenapa?" tanyaku tidak percaya.
Bibi Irene sudah berusaha memikatku untuk ikut terapi semenjak kepindahanku ke Gyeonggi. Tapi, bujukkannya tidak pernah berhasil.
"Apa Bibi benar-benar membenci Chanyeol?" tanyaku lagi.
Tidak ada penjelasan lain. Aku tidak bisa membayangkan kebencian Bibi Irene pada Chanyeol sangat besar, sampai-sampai dia melewatkan kesempatan untuk memerbaiki kesehatan mentalku.
"Aku tidak membenci Chanyeol," jawab Bibi Irene bersikeras sambil menggeleng. "Aku hanya tidak percaya padanya," jelasnya lagi dengan tatapan memohon. Tangan Bibi Irene bergerak-gerak gelisah di atas meja, di samping kue.
"Dia tidak pernah menyakitiku," ucapku, aku ingin Bibi Irene mencamkan ini dalam pikirannya.
Aku seharusnya tidak perlu bersikap begini. Bibi Irene sudah pernah melihat Chanyeol bersamaku hari itu di aula sekolah, dan seharusnya itu bukti yang cukup kalau Chanyeol tidak pernah menyakitiku.
"Ada banyak cara untuk menyakiti seseorang, Baekhyun," ujar Bibi Irene sambil menghela napas putus asa. Tangannya tetap berada di atas meja. "Kau sudah pernah mengalami kesakitan fisik yang luar biasa... bahkan aku tidak tega membayangkannya. Kau juga merasakan sakit secara emosional, karena kehilangan orang tuamu. Terutama ibumu," lanjut Bibi Irene tegang, wajahnya kembali pucat.
Bibi Irene berdeham dan sedikit menggelengkan kepala. "Tapi, Chanyeol..." Bibi Irene terdiam dengan ekspresi waspada. "Chanyeol juga pernah mengalami hal yang mirip sepertimu," lanjutnya lirih, tangannya membentuk kepalan longgar.
Aku kaget mendengar ucapan Bibi Irene, dan bertanya-tanya sebanyak apa Bibi Irene tahu tentang masa lalu Chanyeol.
Bibi Irene bisa membaca ekspresiku dengan tepat. "Bogum menceritakan... ringkasan masa lalu Chanyeol... menurut versinya sendiri," jelas Bibi Irene tanpa benar-benar menjelaskan. Hal ini tidak lepas dari perhatianku, Bibi Irene tahu kalau Chanyeol pernah tinggal di Busan.
Pada saat yang bersamaan, aku marah pada dr. Park karena menceritakan informasi semacam ini pada Bibi Irene, dan lega karena Bibi Irene tahu tentang perjuangan Chanyeol.
Wajah Bibi Irene sedikit melunak. "Dia anak yang bermasalah, aku mengerti itu," lanjutnya.
Dan kemudian saat ekspresi defensifku muncul, Bibi Irene menambahkan, "Tidak, Baekhyun. Aku mengerti," ucapnya bertahan, lalu kembali menggenggam tanganku sambil menatap dalam mataku. "Tapi, itu tidak membuatnya menjadi orang jahat," ujar Bibi Irene lagi, membuatku kebingungan.
"Itu hanya membuatnya menjadi orang yang sulit dipahami," jelasnya, memohon pengertianku selagi meremas tanganku. "Itu membuat pandangannya terhadap mana yang benar dan mana yang salah terdistorsi."
Aku kembali menyambar tanganku dengan marah. "Itu tidak benar. Chanyeol tidak pernah—"
"Kalian berdua terlalu bergantungan, Baekhyun," ucap Bibi Irene memotong ucapanku.
Aku menutup mulut dan memalingkan wajah dengan kesal selagi Bibi Irene terus bicara.
"Kalian berdua tersesat, kebingungan, dan bergantungan untuk saling membantu," suara Bibi Irene semakin putus asa melihat tingkahku dan tubuhnya bergeser agar wajahnya berada di dalam arah tatapanku. "Tapi, kalian tidak bisa saling membantu," tambahnya, membuatku semakin marah.
Aku menatap mata Bibi Irene dan bersiap-siap untuk membuktikan kalau dia salah.
Tapi, Bibi Irene tidak memberiku kesempatan. "Tidak, kalau kau menolak untuk membantu dirimu sendiri," simpulnya sedih, namun dengan senyum penuh arti.
Aku memutar mata dan kembali memalingkan wajah. Bibi Irene salah. Chanyeol banyak membantuku, dan aku membantunya. Kami membantu diri masing-masing dengan saling membantu. Bibi Irene tidak tahu apa-apa tentang kami.
"Aku mengerti, kau belum menyadarinya sekarang. Tapi, kau akan menyadarinya cepat atau lambat," ucap Bibi Irene lagi, kesedihan masih terpetakan di wajahnya.
Bibi Irene tahu semua hal. Ini membuatku bingung.
"Suatu hari nanti, saat kau lebih dewasa dan penilaianmu tidak diselimuti oleh emosi, kau akan sadar kalau aku benar."
"Aku bukan anak kecil," sentakku membela diri, lalu melipat tanganku di dada dan mengepalkan tangan.
"Tidak," ucap Bibi Irene setuju, lalu bersandar ke punggung kursinya seraya menatapku hati-hati. "Jadi, mungkin sudah saatnya kau berhenti bersikap seperti anak-anak," sambungnya sambil mengangkat sebelah alis.
Aku mendengus dan kembali memalingkan wajah.
"Aku tidak ingin bertengkar denganmu, Baekhyun," ujar Bibi Irene sambil menghela napas menyesal. "Tapi, aku harus melakukan ini dengan benar," suaranya penuh perhitungan sekarang. "Aku harus terus berusaha membujukmu ikut terapi, dan aku harus tetap menjagamu agar jauh dari masalah," sambungnya. Dan setelah jeda beberapa detik, Bibi Irene bergumam, "Masalah seperti Chanyeol."
Kemudian suasana di dapur langsung hening, dan aku menahan air mata dengan menatap linolium yang dingin. Logika Bibi Irene sudah mengakar kuat dalam benaknya, aku hampir tidak punya harapan untuk membuat Bibi Irene berpikir sebaliknya. Bibi Irene benar-benar percaya dia bisa membantuku dengan melakukan ini semua. Dengan menjauhkanku dari Chanyeol.
Ini sangat konyol dan tidak masuk akal. Aku ingin mendengus dan menggelengkan kepala.
Tatapanku berpindah dari lantai ke kue berwarna biru di depanku selagi setetes air mata pengkhianat jatuh di pipiku. Aku menghapusnya dengan cepat, dan Bibi Irene mengeluarkan suara seperti tercekik saat melihatku menangis. Aku ingin melakukannya lagi, agar bisa menunjukkan betapa hatiku benar-benar sakit dan membuat Bibi Irene merasa bersalah.
Tapi, Bibi Irene benar. Aku bukan anak kecil, dan aku tidak akan bertingkah seperti anak-anak lagi. Menangis untuk membuatnya merasa bersalah bukanlah tindakan dewasa.
Namun, tentu saja, tidak ada orang yang bisa dewasa dalam satu hari.
Aku kembali menatapnya dengan menderita. Ini tidaklah sulit. Aku selalu menderita.
"Aku mohon, Bibi," ucapku, bersiap-siap untuk mengemis tanpa malu dan mulai terisak. "Biarkan aku mengantarkan kue ini untuknya," aku memohon pelan selagi tanganku mulai memilin lengan sweater biruku.
Mata Bibi Irene terlihat tersiksa saat mendengarkan permohonanku. Dia kemudian bolak-balik menatapku dan kue, lalu menggigit pipinya dan menggoyang-goyangkan kaki di lantai.
Aku kembali ke rencana awal untuk menguji sifatnya yang penuh kasih sayang. "Bibi, setiap orang berhak mendapat kue di hari ulang tahun mereka. Sekali pun orang itu Chanyeol," ucapku sambil mengerutkan kening.
Wajah Bibi Irene membeku dan bahunya merosot selagi tatapan tersiksanya tetap tertuju pada kueku. Aku kembali berjuang menahan senyum saat melihat pertahanan Bibi Irene mulai luntur, karena membayangkan Chanyeol tidak mendapat kue ulang tahun. Bibi Irene penuh kasih sayang—ini sudah menjadi watak alaminya. Entah itu karena Chanyeol atau Paman Bogum, aku tidak tahu.
Itu tidaklah penting. Karena, dengan satu helaan napas panjang, penuh kekalahan, Bibi Irene mengangguk.
Aku memekik kencang dan ini memalukan. Sampai-sampai Bibi Irene kaget, wajahnya langsung pucat. Matanya melebar menatapku. Senyumku sangat lebar, dan aku langsung bangkit dari kursi dan berlari menyeberangi meja untuk memeluk cepat Bibi Irene.
Aku mengecup pipinya. "Terima kasih, Bibi," ucapku sambil tersenyum tulus dan melepas pelukan, lalu mulai mengemasi kueku dengan sangat hati-hati ke dalam kotak besar. Walaupun, Bibi Irene tidak sepenuhnya rela, tapi harapanku kembali tumbuh.
Bibi Irene terus menatapku dengan ekspresi aneh dan terpesona selagi aku dengan cepat menyambar tas berisikan makanan lain untuk Chanyeol.
"Aku akan kembali dalam sepuluh menit, Bibi," janjiku, lalu buru-buru menambahkan tisue ke dalam tas, karena aku tahu Chanyeol selalu makan pasta dengan berantakan.
Aku menyandang tas di bahu dan kembali menatap Bibi Irene sambil bertanya-tanya dalam hati, apa aku akan bersikap kasar kalau langsung pergi sebelum dia berubah pikiran.
Sebaliknya, Bibi Irene malah memutar matanya dan tertawa lembut. Dan entah kenapa suara tawanya masih terdengar sedikit tersiksa.
"Tinggallah di sana selama Bogum mengizinkan," ucap Bibi Irene sambil menghela napas.
Senyumku semakin lebar. Aku menahan diri untuk melompat-lompat dan bertepuk tangan seperti anak kecil, karena aku sudah bersumpah tidak akan lagi bertingkah seperti anak-anak. Aku mengambil kotak kue, lalu berbalik dan bersiap untuk meninggalkan dapur.
Suara Bibi Irene menghentikan langkahku saat aku sampai di pintu. "Baekhyun," panggilnya lembut, membuat tubuhku membeku karena cemas, dan berbalik dengan ragu.
Ekspresi Bibi Irene kembali sedih. Dia sekarang memegang ponsel dan menatapnya dengan muram. "Bisakah kau..." Bibi Irene berhenti bicara, dan terlihat malu saat matanya bertemu tatapanku. "Maukah kau memberitahu Chanyeol untuk tidak terlalu keras pada Bogum?" tanyanya sambil berbisik, dan menyesal karena harus meminta bantuan dariku.
Aku mengangguk pelan, tapi sejujurnya aku juga ragu bisa meyakinkan Chanyeol untuk bersikap baik pada dr. Park. Lagi pula, aku juga tidak terlalu senang dengan pria itu.
"Ini hanya satu kali," tambah Bibi Irene dengan postur memerintah.
Senyumku langsung hilang, tapi aku mengangguk. Bibi Irene mulai menekan tombol ponselnya sambil bicara.
"Dan aku belum menyerah dengan terapimu," tambahnya tegas dengan alis terangkat sambil membawa ponsel ke telinga.
Aku menyeringai kecil, dan memantapkan pegangan kotak kue di tanganku.
"Dan aku belum menyerah dengan Chanyeol," tukasku sambil berlalu dan bergegas keluar dapur sebelum Bibi Irene bisa membalas komentarku.
Ucapanku benar adanya. Seiring berjalannya waktu dan tingkat kelelahanku, kehendak Bibi Irene akan goyah, dan dia akan sadar apa yang terbaik untukku.
Aku melewati Luhan di ruang tengah saat berjalan ke pintu depan. Dia sedang berbaring di sofa sambil melihat lenganku yang memegang kotak kue. Luhan kemudian tersenyum puas dan meninju udara untuk menunjukkan solidaritasnya. Aku terkekeh pelan.
Aku membuka pintu depan. Cuaca sangat cerah hari ini. Aku bisa merasakan pertanda musim semi akan datang selagi melangkah keluar rumah dengan tersenyum puas. Aku siap berjuang mati-matian untuk Chanyeol.
That God Himself did make us
Into corresponding shapes
- Such Great Heights, Iron & Wine
.
.
tbc
