AN/ Thanks to scropryena, coco, mrs. Delacour, ErMalGranger, Justmonday00, aquadewi, mongkey, ZeZorena, me, Riska662, ChintyaRosita, Granger Brown, Staecia, dewisarah3 dan guests untuk semangatnya! dan juga para readers, favourites dan follower.

Untuk chapter ini, mereka menatap ke depan... *abaikan

Aurelian

By: BittyBlueEyes

HARRY POTTER MILIK JK. ROWLING

Chapter 36. Frustation and Resentmen

Hermione terbangun dari istirahatnya merasa sedikit lebih baik. Dia menyakinkan dirinya bahwa tidak ada lagi yang mungkin bisa terjadi malam itu, yang akan membuatnya semakin sedih, tapi dia salah. Ketika dia kembali bersama Draco setelah mengatur mantra pemantau di The Burrow dan Malfoy Manor, Harry meminta bicara dengannya. Hermione menemaninya ke ruang duduk dimana semuanya sudah berkumpul. Dia meminta maaf karena sudah melakukan rencana di belakang Hermione dan bernjanji hal itu tidak akan pernah terjadi lagi, tapi janjinya tidak tanpa syarat. Harry menyakinkan Hermione bahwa menyakitkan untuk meminta hal itu, tetapi Harry bersikeras bahwa Hermione tidak boleh meninggalkan Grimmauld Place selain permintaannya dibahas dan disepakati oleh setidaknya tiga anggota lain dari orde. Bisa dikatakan Hermione kesal dan luarbiasa merasa diremehkan. Kemarahannya tidak berguna sampai dia berteriak protes. Dia mencari dukungan dan merasa terhianati ketika semua tampak memilih dipihak Harry. Bahkan, Ginny. Yang mana dia dihitung akan mendukung, percaya itu adalah yang terbaik untuknya, untuk berada di Grimmauld Place.

Harry mencoba yang terbaik untuk menjelaskan tapi ketika dia membandingkan situasi Hermione dengan Sirius, ketika Sirius tidak diperbolehkan meninggalkan markas, Hermione hanya menjadi lebih marah. Tidak sampai Harry mengancam untuk menempatkannya di ruang tahanan rumah secara resmi, perlindungan dan semuanya, itulah yang Hermione kesalkan dan dia menyerah.

Bertekad untuk tidak tunduk terhadap emosinya lebih lanjut. Hermione kembali ke ruangannya lebih cepat. Menutup dirinya di kamar. Botol ramuan tidur masih di atas lemari dari malam sebelumnya dan dia meminumnya dengan semangat. Draco akan menemukan orang lain untuk tidur malam ini karena dia tidak mood untuk kehadiran orang lain, termasuk Draco.

Ketika jumat pagi menyingsing, Hermione terbangun merasa sedikit lebih baik lagi. Ada sesuatu tentang tidur yang akan memungkinkanmu untuk bangkit dengan sebuah awalan yang baru. Bukan berarti dia sudah tidak kesal, hanya sakit emosionalnya sudah sedikit mereda. Dia masih cukup kesal dengan semua orang untuk apa yang dia rasakan itu adalah bentuk penghianatan. Dia tau bahwa mereka melakukan itu karena mereka peduli dan ingin dia aman, tapi dia merasa bahwa mereka tidak percaya akan keputusan dan meragukan kemampuannya.

Sedikit menolong melihat bahwa dia bukan satu-satunya yang di pantau. Meskipun dia, sejauh ini, adalah yang paling dibatasi, semua orang datang dan pergi untuk berdiskusi. Ron, mengecewaan ibunya, bersikeras untuk kembali bekerja. Harry setuju bahwa itu ide yang bagus karena Ron mempunyai akses terhadap informasi dan bisa tetap menjaga dari tingkah yang mencurigakan. Demi ibunya, dia bersumpah untuk tidak pergi kemanapun sendiri. Mr Weasley juga kembali bekerja, tapi tidak ada orang yang benar-benar khawatir tentang apakah dia tetap aman di kantornya di kementrian. Ginny, tentu, menjadi pacar Harry dan bayi dalam keluarga Weasley, selalu dijaga hampir seketat Hermione. Dia diberi hak untuk pergi latihan bersama timnya hari itu, tapi hanya karena Harry akan mengawal dan menontonnya sepanjang waktu.

Peningkatan keamanan untuk semua penghuni rumah membantu Hermione untuk menerima posisinya lebih mudah, tapi dia masih kesal bahwa mereka telah mengambil hak-haknya dan kebebasannya. Dia tau itu karena mereka peduli, tapi itu terasa seperti hukuman bahwa dia tidak pantas dan itu membuatnya kesal.

Mereka semua melihatnya ragu, menunggunya untuk yang pertama mendekati mereka, tidak ingin membuatnya lebih kesal daripada yang mereka telah lakukan. Hermione tidak mendekati mereka. Dia sekalipun, kebanyakan dia terus-menerus sendirian, hanya menemani Aurelian. Harry terperangah ketika Hermione bicara padanya setelah sarapan, tapi itu sangat pendek dan to the point. Hermione meminta padanya untuk mengambil kembali penelitiannya tentang mantra Fidelius dari kantor Harry, mengingatkan Harry dengan ketus bahwa dia tidak akan bisa pergi sendiri. Hermione berjalan pergi sebelum Harry bisa menjawab, tapi hanya satu jam kemudian, Harry menemukannya di Perpustakaan dan memberikan semua kertas dan buku-buku yang di mintanya. Itu sungguh membuat frustasi, pekerjaan yang monoton, tapi dia tidak pernah lebih menghargainya. Itu sulit untuk mencegahnya dari berpikir tentang hal-hal lain. Dia bisa sepenuhnya membenamkan diri dalam buku dan kertas terjemahannya. Aurelian datang dan pergi dan Hermione senang untuk istirahat dari membaca, bermain atau bernyanyi bersamanya.

Setelah beberapa jam berlalu, kekesalan Hermione dipaksa pergi. Ketika jam berdentang pukul tujuh malam dan dua anggota baru orde, Katie dan Blaise, datang. Hermione akhirnya bergabung. Katie dan Blaise sudah mengetahui peristiwa hari sebelumnya dan Blaise datang membawa hadiah untuk Aurelian: karpet Quidditch lamanya, figur quidditch Tornadoes terbaru untuk menggantikan miliknya yang hilang ditelan api, dan figur quidditch tim kesayangan Blaise, the Montrose Magpies, jadi Aurelian bisa bermain dengan dua full tim. Aurelian sangat senang dengan hadiahnya, dan yang membuat Blaise lebih terkejut, dia memberikan Blaise pelukan riang. Hermione tersenyum, senang melihat Aurey sangat bahagia, tetapi merasa lebih lagi untuk George. Hermione senang George tidak ada disitu untuk melihatnya. Aurelian telah membawa wajah baru tanpa reservasi. Aurelian perlahan-lahan menjadi lebih nyaman kepada George, tapi masih tetap sedikit waspada padanya.

Sekali Aurelian mengatur karpet Quidditchnya di ruang duduk, Harry, Hermione, Ron, Draco dan Ginny membawa Katie dan Blaise ke perpustakaan untuk bicara. Semua orang merasa marah untuk mengumpankan Bellatrix dan menghancurkannya secepatnya, tapi mereka tau itu tidak akan sesederhana kelihatannya. Mereka tau bahwa di sana ada setidaknya enam pelahap maut di bawah komando Bellatrix dan tidak yakin berapa totalnya. Sama seperti kemungkinan bahwa ada keluarga lain yang berada dalam situasi yang sama dengan Parkinson. Ada alasan kenapa mereka bertemu malam ini. Ron mengambil surat dari Dean dan mereka perlu rencana kepada keluarga yang mana yang akan mereka berikan surat dan bagaimana itu diantarkan. Katie hati-hati dan cukup santai mempelajari jadwal kerja target mereka. Dengan informasi bahwa mereka bisa memperkecil kemungkinan kepada Mr Greengrass dan Peyembuh Puncey yang keduanya bekerja di akhir pekan. Pada akhirnya, mereka memutuskan bahwa besok, Katie akan menaruh surat itu ke kantor Mr Greengrass. Surat itu spesifik bahwa uang akan diantar di tempat yang sama, dan dalam jumlah yang sama, dua hari setelah surat diterima. Katie dan Blaise, bersama, dibawah selubung jubah gaib akan menunggu antaran yang dijadwalkan senin. Mereka memutuskan untuk mengirim surat lain sampai misi pertama selesai, tapi mereka takut membuang waktu yang berharga. Mereka tau bahwa Bellatrix sudah tidak sabar dan mereka khawatir untuk keluarga-keluarga ini bahwa mungkin dalam posisi yang sama dengan Parkinson. Semua setuju, mereka memutuskan bahwa surat berikutnya seharusnya akan di antar pada hari minggu untuk Penyembuh Puncey.

Ketika pertemuan berakhir, Hermione tinggal untuk membereskan penelitian mantra yang tadi dia tinggalkan. Draco mengucapkan perpisahan kepada Blaise di pintu perpustakaan dan kembali ke sofa. Hermione tidak berbicara padanya sepanjang hari dan Draco masih tidak yakin apa yang harus dia katakan kepada Hermione.

Hermione menghela nafas, merasa, bukan melihat, kehadiran Draco. Dia merasa bersalah. Dia tidak ingin meminta maaf untuk apa yang dia katakan karena dia masih tidak percaya bahwa dia salah. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan menerima pembatasan yang diberikan padanya, tapi dia masih tidak berharap untuk membicarakannya. Tanpa kata, Hermione duduk di sebelah Draco di sofa dan menjalin jari-jarinya dengan jari-jari Draco. Draco menatapnya dalam diam tertegun, mulutnya ternganga. Hermione tersenyum lembut dan perlahan bersandar di bahu Draco. Mulut Draco membuka dan menutup beberapa kali, dia berjuang menemukan kata yang tepat untuk dikatakan. Dia terkejut dengan aksi Hermione yang lembut, padahal Hermione sangat dingin dan menjauh sepanjang hari. Draco tidak lagi tau dimana mereka berdiri... tidak bahwa dia memiliki beberapa titik hari ini. Draco memanggil nama Hermione lembut dengan maksud untuk menjelaskan dirinya dan mengapa dia ada di pihak Potter. Tapi, Hermione memotongnya, menjelaskan bahwa dia lelah. Draco menjadi sangat frustasi sekali lagi, tapi ketika Hermione berdiri untuk pergi, Hermione tidak melepaskan tangannya. Itu membuatnya, beberapa saat untuk memahami tindakan Hermione, tapi Draco sangat senang dan lega ketika dia menyadari bahwa Hermione mengundangnya untuk bergabung. Hermione tidak ingin penjelasan, dia hanya ingin untuk tidak membicarakan topik itu lagi dan move on. Untuk Draco, itu adalah jaminan bahwa Hermione mencintainya, dan tidak berkurang.

Untuk Hermione, sabtu pagi seperti hari-hari sebelumnya, hanya berkurangnya perasaan kesalnya. Setelah sarapan dalam diam, dia bersembunyi di perpustakaan lagi melanjutkan penelitiannya tentang mantra Fidelius. Perpustakaan selalu menjadi semacam tempat yang membuatnya nyaman bekerja, tapi dia juga memilih tempat itu untuk menghindari yang lain. Tidak karena dia marah pada mereka; justru sebaliknya, dia tidak lagi marah kepada mereka dan karena itu, takut itu akan memukul mereka, karena dia masih dalam suasana hati yang baik. Mantra itulah yang membuatnya frustasi, paling tidak. dia sudah mempelajarinya beberapa jam kemarin dan hampir tidak ada perkembangan. Itu mantra yang sulit dan sangat kompleks yang pernah dia pelajari, sejauh ini, yang paling penting. Dia tau bahwa dia sudah dekat, tapi belum bisa menyelesaikannya. Dia tidak tau apa yang dia tinggalkan; jawaban ada disana di depannya, tapi masih menghindarinya. Saat itu sekitar tengah hari ketika dia akhirnya membentak.

"Urg! Aku tak bisa melakukannya," Hermione berseru tiba-tiba, melempar pena bulu di atas perkamen dan mendorong meja.

"Istirahat dulu," Draco menyarankan lembut. Draco bergabung dengannya di perpustakan satu jam yang lalu dan cukup memilih buku untuk di baca, puas hanya untuk berada di dekat Hermione.

"Bukan itu," kata Hermione gusar, frustasi. "Well, itu, tapi itu karena aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Pikiranku terus melayang ke tempat lain. Situasi ini seperti mantra yang mengutuk. Jawabannya ada di sana, tapi itu perlu kesabaran dan ketekunan untuk mengetahui semuannya dan aku kurang baik sekarang!"

Draco menandai halamannya dengan petunjuk sutra dan meletakan bukunya di kursi sebelum dengan santai berjalan ke arah Hermione. Otot-otot Hermione langsung menjadi rileks ketika Draco mulai memijat pundaknya. "Sulit untuk hanya duduk, menunggu jawaban," Draco setuju, "Tapi beberapa jawaban hanya tidak bisa diburu-buru."

"Aku tau.." Hermione mendesah.

"Kalau begitu istirahat sejenak," Draco menyarankan lagi.

"Beberapa menjawab sederhana untuk ditunggu, tapi jawaban ini tidak akan datang tanpa dikerjakan," respon Hermione. Masih merasa agak tidak puas dengan kekacauan buku-buku dan perkamen di atas meja, dia membalikkan matanya dan rileks lagi di bawah sentuhan menenangkan Draco. "Aku masih, jika aku masih memiliki buku Morgana le Fay."

"Darimana itu datang?" Draco bertanya bingung dengan penyataan acak.

"Percakapan yang sama. Hanya beberapa pertanyaan.. teka-teki yang menggangguku," jawab Hermione. Draco menghentikan pijatannya dan Hermione menyandarkan kepalanya kembali kepada perutnya. "Hal itu tidak mungkin kebetulan. Satu-satunya buku di dalam ruang rahasia yang disentuh adalah Morgana le Fay, Morgana, dan cincin yang Bellatrix inginkan lebih dari apapun dikabarkan dulunya milik Morgana. Aku hanya berharap aku bisa melihat buku itu."

"Kau pikir bahwa cincin itu dulunya milik Morgana kalau begitu?" tanya Draco dalam kebingungan.

"Tidak, itu tidak mungkin milik Morgana, tapi mungkin Bellatrix percaya itu? Jika ibumu mendengar cerita itu, aku yakin Bellatrix juga. aku tidak mengerti kepentingan apa yang membuat Morgana masuk ke dalam ini semua. Tapi di sana dan aku bersumpah jawaban itu ada di buku itu," kata Hermione dengan yakin. "Molly masih memiliki kunci lemari besiku di Gringgots. Mungkin si kembar bisa mengambil beberapa uangku dan mencoba membeli buku itu untukku. Aku tidak tau meskipun.. itu buku agak tua. Jika aku pergi sendiri, aku mungkin bisa menemukan edisi yang sama di Ub's Acient Tomes."

"Itu hanya buku sejarah. Apa bedanya dalam setiap edisi?"

"Itu berarti berbeda dunia. Aku tidak tau pasti apa yang aku cari, jadi aku mungkin mencari banyak buku lain sebelum itu menyerangku," Hermione menjelaskan. "Ini mengangguku meskipun... mungkin aku akan meminta Fred dan George untuk bisa mendapatkannya. Maksudku, kecuali kau mau pergi keluar untukku?" tanya Hermione berharap.

"Kau tau.. aku pikir aku mungkin bisa mendapatkan yang lebih baik," kata Draco dengan serigai khasnya. "Kenapa kita tidak pergi ke seorang yang ahli dalam topik ini?"

"Ahli? Apa maksudmu?" tanya Hermione.

"Pansy," jawab Draco.

"Parkinson?" tanya Hermione.

"Ya, Pansy Parkinson. Aku tidak bisa membayangkan orang yang lebih baik untuk bertanya."

"Dia tau banyak tentang Morgana?" tanya Hermione, mencoba sebisanya untuk terdengar skeptis sehingga dia tidak menghina Draco.

"Aku tidak bisa membayangkan orang lain yang memiliki pengetahuan lebih," balas Draco. "Maksudku, dia tidak menulis buku atau apapun, tapi dia mungkin bisa."

Hermione tidak menjawab. Dia penasaran jika Draco mungkin hanya bercanda. Draco tidak bisa melihat wajahnya, tapi sepertinya Draco bisa menerka sikap skeptipsnya.

"Kau tidak mempercayaiku, ya kan, Granger?" tanya Draco, memakai lelucon menggunakan nama belakangnya seperti Draco lakukan jika mereka masih di sekolah. "Kau harus tau dia seorang sejarawan, kau tau?"

"Benarkah?" tanya Hermione terkejut.

"Ya. Satu-satunya orang yang aku tau bisa tetap terbangun dalam kelas Binns selain beberapa Ravenclaw dan kau, aku rasa," Draco menambahkan merenung. Slytherin hanya pernah dalam kelas sejarah sihir bersama Ravenclaw, tapi dia berasumsi bahwa Hermione, menjadi sangat rajin, membuanya mungkin memaksa dirinya untuk tetap terbangun. "Tanpa catatan Pansy, aku ragu, aku bisa lulus kelas itu."

Hermione cepat-cepat menyadari betapa sedikit yang dia ketahui tentang Pansy Parkinson.

"Morgana sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Pansy, meskipun aku yakin itu yang dia harapkan. Itu hanya hal yang sangat menarik baginya setelah... Merlin, aku tidak terlalu tau kapan dia memulainya. Yang aku tau Morgana sering muncul dalam percakapan kami di tahun ke lima. Kami mulai agak kesal mendengar namanya," Draco terkekeh mengingat waktu dia dan teman-temannya memutar bola mata mereka ketika Pansy sudah membicarakan nama Morgana. "Kau tau, kalau aku ingat lagi, aku pikir itu dimulai waktu yang sama saat Pansy mulai berubah pikiran tentang penyihir kelahiran muggle."

"Apa maksudmu?" tanya Hermione penasaran.

"Well, Morgana kelahiran muggle, kau tau?"

"Ya, aku yakin begitu," kata Hermione. "Aku tidak pernah memikirkan sebelumnya."

"Benarkah?" tanya Draco terkejut. "Aku berpikir bahwa sebagai penyihir kelahiran muggle, kau seharusnya.. maksudku, Morgana semacam simbol kekuatan feminim."

"Yeah, tapi aku tidak benar-benar merasa perlu untuk membuktikan diri sebagai wanita atau kelahiran muggle."

"Ya, well, Pansy melakukannya. Sebagai seorang wanita, maksudku. See, dalam kelompok kami, antara darah murni, di sana tidak benar-benar ada yang diharapkan darinya. Faktanya, satu-satunya hal yang benar-benar di harapakan orang kepadanya adalah bahwa dia menikahi penyihir berdarah murni dan melahirkan bayi-bayi darah murni. Dia agak terhina karena itu, mengetahui dia lebih dari itu. Morgana adalah pahlawannya.. er, pahlawan wanita," Draco mengoreksi. "Sedikit sekali penyihir wanita yang tercatat dalam sejarah dan bahkan lebih sedikit penyihir wanita yang memiliki posisi yang kuat. Mempelajari tentang Morgana mendorong keinginan Pansy semakin memperoleh kebesaran, untuk mendorong dirinya melampaui harapan yang semua orang harapkan darinya."

Hermione tidak terlalu mengenal Pansy, tapi dia begitu mudah mendapatkan rasa hormat untuknya. "Dan pahlawanya adalah kelahiran muggle sehingga dia mulai memikirkan tentang kelahiran muggle dengan cara yang berbeda?"

"Well, itu mungkin bagian dari hal itu. Aku tidak berpikir bahwa Pansy benar-benar merasa dengan cara yang sama lagi terhadap kelahiran muggle, seperti aku, Blaise, atau teman-teman kami. Keluarganya percaya hampir seperti ibuku. Mereka tidak membenci kelahiran muggle. Mereka menganggap diri mereka di atas kelahiran muggle, tetapi tidak dalam cara yang keras dan kejam. Aku harap itu masuk akal," pada anggukkan Hermione, Draco melanjutkan. "Dia menggunakan istilah darah lumpur dan darah penghianat lebih karena dalam kelompok kami, bukan melakukannya karena dia benar-benar mempercayainya. Sejujurnya, aku pikir bahwa semua darah muni, pada awal mereka memulai di Hogwarts, mulai mempertanyakan dogma tentang kelahiran muggle. Kami diajari selama masa kecil kami bahwa muggle dan kelahiran muggle adalah lebih rendah, maka kami bertemu di sekolah dan mereka tampak dan bertingkah seperti semua orang lainnya. Cara orang tua kami membicarakan kelahiran muggle, kami membayangkan seperti mereka sebodoh troll. Aku harap aku tidak menghinamu dengan mengatakan ini," Draco khawatir. "Kau sebenarnya adalah orang yang paling menggangguku dalam hal ini. aku berpikir, aku jauh lebih baik dibandingkan orang-orang yang yang memiliki status kelahiran sepertimu, dan kau seperti berdansa masuk ke dalam sekolah dan menunjukan kepada semua orang. Beberapa darah murni menerima bahwa orang tua mereka salah sementara yang lain, seperti aku, menjadikan kebencian sebagai bahan bakar kemarahan atas keyakinan mereka."

"Aku pikir bahwa semua Slytherin di tahun kita memegang semua prasangka itu. Semua dari kita marah tentang hal itu, aku tidak berpikir bahwa Pansy akan pernah seperti sekarang sebagaimana dia pernah di dalamnya. Dia yang pertama mulai berubah pikiran dan aku pikir Morgana lah yang melakukan itu. Pansy berhenti menggunakan kata darah lumpur beberapa waktu dan cukup diam ketika kami membawa status darah ketika kami bicara buruk tentang mereka." Draco tampak frustasi mengingat seperti apa dia dulu. "Blaise adalah yang berikutnya. Dia dibesarkan hampir seperti aku. Ayahku.. ayahku berpikir bahwa kelahiran muggle seharusnya tidak ada hak dan tidak ada tempat di dunia sihir. Ibu Blaise merasa hal yang sama. Dia juga, sekitar di tahun ke-empat dan ke-lima, mulai merubah pandangannya. Sebagian karena Pansy, aku pikir, tapi lebih karena gadis-gadis yang menarik perhatiannya. Dia selalu cukup serius dalam hal itu. Dia mencoba untuk menjaga matanya hanya untuk darah murni, tapi itu tidak lama. Ada satu gadis, lalu yang lain. Dia hanya tidak bisa membenci kelahiran muggle lagi. Itu membuatnya marah, tertutama karena, di tahun ke-enam kami, mereka berdua agak tidak setuju dengan penganiayaan terhadap kelahiran muggle. Mereka mulai menggunakan istilah darah lumpur dan darah penghianat lagi, tapi hanya untuk menggodaku karena aku tau mereka tidak mempercayai itu. Itu adalah waktu yang sama waktu aku dipaksa untuk masuk melayani Voldermort dan aku merasa lebih sendiri dibandingkan sebelumnya. Itu.. itu sulit."

Draco tidak yakin kapan itu terjadi, tapi dia dan Hermione entah bagaimana berubah tempat. Draco duduk di kursi kayu yang tadi dia duduki sebelum semenit yang lalu dan Hermione berdiri di sebelahnya dengan tangan di pundaknya menenangkan.

"Merlin.. aku tidak tau jika ada orang bisa mengalahkanku dalam menyimpang. Bagaimana demi nama Merlin aku mendapatkan Morgana seperti itu?" Draco tertawa. "Pokoknya, seperti yang aku bilang tadi, jika kau ingin tau apapun tentang Morgana, Pansy adalah orang yang bisa diajak bicara. Aku akan bicara padanya dan melihat jika kita bisa ke sana besok jika kau mau."

"Aku di bawah tahanan rumah, ingat?" Hermione mendesah berat.

"Tidak sepenuhnya. Aku yakin aku bisa bicara pada Potter. Rumah Pansy sangat terlindungi."

"Ya.. aku pikir aku menyukainya," jawab Hermione. Jika tidak ada yang lain, dia semacam tertarik untuk bertemu Pansy untuk pertama kali. "Aku tidak bisa percaya bahwa dia.. tidak perlu bilang bahwa.. apa yang aku coba katakan? Ini hanya aneh bahwa tidak perduli apa yang kita perlukan, disana ada orang yang tepat untuk membantu."

"Kau pikir itu adalah takdir bahwa Pansy tertarik pada Morgana?" Draco menyerigai.

"Aku tidak akan memakai kata 'takdir'," Hermione mengeram.

"Tapi, disana terlalu banyak kebetulan yang rasanya tidak wajar?" tanya Draco.

"Ya, aku rasa..."

"Itu disebut 'takdir': 'nasib', " kata Draco menggoda. "Semua hal jatuh ke tempat dimana mereka diperlukan, untuk mencapai akhir yang meyakinkan. Kita akan menang," kata Draco percaya diri.

"Ya, aku tau," balas Hermione. Itu aneh rasanya untuk yakin ketika tidak benar-benar ada jalan dimana mereka bisa. "Tapi, aku masih tidak suka dengan kata 'takdir'."

"Kau tau, kau agak menggemaskan ketika kau membantah." Draco menyerigai dan menempatkan ciuman tulus pada tangan Hermione. Hermione mendengus tertawa lembut, tapi tetap merasa tersanjung.

"Jangan takut, Hermione! Kami di sini menyelamatkanmu," kata Fred saat dia dan George muncul di pintu masuk dengan tangan mereka berpose di pinggul.

"Apa?" tanya Hermione bingung.

"Harry bilang bahwa mantra Fidelius membuat sakit pantatmu," George menjelaskan.

"Jadi dia mengirim bala bantuan?" Hermione terkekeh. Dia membuat catataan dalam kepalanya untuk berterima kasih padanya.

"Dan kami datang," kata Fred dengan senyum miring.

"Kita pernah memecahkannya sekali. Kita bisa melakukannya lagi," kata George percaya diri. "Ayo lihat apa yang kita dapatkan."

_TBC_