Urban Legend
Pedestrian Crossing
From Unknown
.
Soloist's BoA
.::.
.
.
Kwon Boa keluar dari gedung bertingkat limapuluh itu.
Hari ini cukup mendung. Dia menyesal karena tidak membawa payung atau setidaknya mantel untuk membuat tubuhnya tetap hangat. Tapi ia menyadari bahwa menyesali seluruh hal itu tidak akan membuahkan hasil. Jadi dia memilih untuk membereskan semua barang dan pekerjaannya yang belum selesai, dan berharap cepat sampai di rumah. Mungkin secangkir teh panas bisa menjernihkan otaknya yang hampir saja meledak karena semua tuntutan laporan itu.
Dengan langkahnya yang cukup tergesa, Boa akhirnya sampai di depan sebuah persimpangan jalan. Sambil menunggu lampu merah, Boa berdiri di depan sebuah zebra cross dan mengamati orang-orang yang berada di seberangnya. Oh, itu sungguh pekerjaan yang tidak perlu dilakukan. Tapi Boa berpikir ia memang tidak bisa melakukan apapun saat menunggu lampu hijau berubah menjadi merah.
Sempat terlintas di kepalanya beberapa hal yang akan dia lakukan setelah sampai ke rumah. Setelah melepaskan semua berkasnya, dia akan segera melemparkan tubuhnya pada sofa. Berbaring untuk beberapa waktu dan setelah itu membuat teh panas sambil menonton televisi. Boa yakin itu akan menenangkan karena ia berharap hujan turun saat ia sudah sampai di rumah.
Lalu Boa kembali mendapatkan pemikirannya pada dunia nyata. Dimana ia sedang menunggu. Boa menatap ke depan, memandang orang-orang yang juga ingin menyebrang.
Namun di antara mereka semua, ada seorang wanita yang tampak aneh.
Dia memakai pakaian serba hitam. Tapi bukan itu yang membuatnya aneh dan berbeda.
Dia tampak kabur.
Boa mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan bahwa pengelihatannya tidak bermasalah. Dan saat ia menatapnya lagi, wajahnya masih terlihat kabur. Berbeda dengan orang-orang di sekelilingnya.
Ia mencoba mengamatinya, namun wajahnya tak berubah.
Boa sendiri merasa bahwa ia tak bisa mengenali wajahnya, dimana hidung, mata, maupun telinganya. Seakan-akan wajahnya rata.
Dan yang lebih aneh, orang-orang di sekitarnya tampak mengabaikan wanita itu, walaupun penampilannya sangat menakutkan.
Kemudian lampu merah menyala.
Mobil-mobil berhenti dan orang-orang mulai menyeberang. Begitu pula dengan Boa. Boa berusaha berjalan seperti pada umumnya, namun pada kenyataannya ia berusaha menjauhi wanita itu. Ia berjalan di sebelah kanan zebra cross, sehingga wanita itu sebisa mungkin berjalan di sisi kiri zebra cross.
Namun—
Deg!
—ia justru berpindah ke sisi kiri juga.
Dan,
Ia berjalan tepat menuju ke arahku.
Wajah wanita itu semakin terlihat menakutkan ketika ia mendekat. Boa menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepala saat berjalan. Berusaha secepat mungkin menjauh dari situasi itu.
Di suatu titik, mereka berpapasan.
Boa tahu diamati, tapi ia terus berjalan. Namun walaupun Boa berusaha menghindarinya, wanita itu justru berbalik dan mengikutinya.
Di dalam hatinya dia mengutuk karena situasi itu. Bahkan saat ia sadar bahwa ia telah berhasil menyebrang. Dan di saat itu juga, ia baru sadar bahwa wanita itu sudah berada di belakangnya dan kemudian berbisik,
"Aku tahu kau bisa melihatku."
.
.
.
.
HOLLA 'w'
Wehew senang sekali kalian mencoba untuk menjawab UL kemarin
Dan selamat untuk kalian yang bisa menebak! Yoohoooooo :3
Untuk yang tidak bisa menebak, jadi UL kemarin itu tentang kasir yang bisa tahu umur orang /?
So, ia ibaratkan seperti ini;
Pagi artinya baru memulai hidup. Ini dia tujukan pada anak-anak kecil
Siang artinya sudah setengah menjalani hidup. Ini dia tujukan untuk para remaja
Sore artinya sudah tigaperempat menjalani hidup. Ini dia tujukan untuk para lansia
Sedangkan selamat malam ia tujukan untuk orang yang sudah sangat mendekati kematian
Dan ternyata takdirnya Seulgi adalah mati saat itu juga, dan sang kasir hanya mengucapkan salam :3
Daaaaaaan selamat menjawab urban legend lainnya
Review?
PS: Untuk yang belum tahu arti Urban Legend yaitu; cerita (biasanya cerita seram) yang menyebar dari mulut ke mulut di daerah perkotaan. Berbeda dengan legenda biasa yang terjadi di masa lalu, urban legend ini bersetting di zaman modern.
