Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Author teringat akan princess hours setelah membaca salah satu review reader, author akan mencoba membuat fic dengan tema film korea yang keren itu.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

Don't like Don't Read

.

.

~ To Be A Princess ~

[ Chapter 35 ]

.

Hari kelulusan.

Ini adalah hari terakhirku menginjakkan kaki di sekolah ini, lulus, aku mendapat kelulusanku, walaupun bukan sebagai murid terbaik, Rin lah yang menjadi peringkat pertama dan lulusan terbaik, aku turut senang akan pencapaiannya. Depan aula sekolah jadi sangat ramai, bukan hanya karena para murid yang telah tamat dan murid yang masih bersekolah ingin menyampaikan salam perpisahan pada senior mereka, tapi karena ibu ratu dan Sasuke turut hadir, kedua orang tuaku juga datang. Beberapa orang yang melihat hal ini jadi sangat ingin melihat lebih dekat sosok ibu ratu dan pangeran Sasuke, para awak media pun tidak mau tinggal diam dan sibuk meliput hal ini, haa..~ lagi-lagi mukaku akan terpampang di media, aku tidak terlalu suka untuk di liput seperti ini, membuatku malu saja tapi, melihat ibu ratu dan Sasuke, mereka terlihat bersinar di hadapanku, uhk, silau.

Aku pun lulus setelah mencoba mendaftar di universitas A, aku jadi tidak sabaran untuk segera kuliah.

"Kau mengambil jurusan apa?" Tanya Sasuke padaku.

"Kedokteran. Aku sudah lama ingin menjadi dokter." Ucapku, yaa. Aku sudah menetapkan hal ini saat masih di bangku SMP.

"Dokter? Sepertinya darah keturunan Haruno mengalir padamu, para tabib yang keturunan Haruno begitu mahir dan pandai mengobati." Ucapnya, apa itu sebuah pujian? Aku senang mendengarnya.

"Oh hooo~ Apa kau sedang memujiku suamiku?" Ucapku.

"Tidak, aku hanya mengatakan faktanya." Ucapnya dan memasang wajah biasa itu.

Menatap Sasuke, aku rasa akhir-akhir ini dia pun sedikit berubah, apa hanya perasaanku saja? Dia jadi sedikit atau mungkin terlalu romantis. Setiap pergi bekerja, dia mengecup bibirku, saat pulang pun akan di lakukan hal yang sama, aku jadi terus berdebar setiap dia melakukannya, lagi pula dia sangat jarang untuk menciumku, sekarang menjadi hal yang wajib di lakukannya setiap hari.

"Ganti pakaianmu, kita akan pergi." Ucapnya.

"Pergi? Apa kita akan kencan?" Ucapku, sudah lama aku sangat ingin kencan, tidak apa-apa jika kencan ala kerajaan lagi.

"Ini jauh lebih dari sekedar kencan, aku yakin kau akan menyukainya." Ucapnya.

Lebih dari kencan? Apa itu? Aku jadi penasaran, bergegas mengganti pakaian dan meminta para dayang menata rambutku, menatap keluar rumah dan sudah sore hari, kita akan kemana di jam segini? Makan malam romantis juga boleh, aku senang jika melakukan apapun bersama Sasuke.

.

.

Kediaman Haruno.

Aku tidak percaya, menatap ke arah Sasuke dan kami masih belum turun dari mobil, aku melihat ke arah pintu dan itu adalah rumahku.

"Kau sungguh mengajakku ke sini?" Ucapku, ragu. Dulu Sasuke begitu marah jika aku pulang ke rumah, sekarang dia membawaku ke sini.

"Hn, aku ingin berkunjung sesekali ke rumah mertuaku." Ucapnya.

Memeluk Sasuke, aku sungguh senang. "Terima kasih, suamiku." Ucapku.

Kami pun turun, ayah berada di rumah, mereka menyambutku dengan hangat, aku tidak tahu jika Sasuke sudah menghubungi ibu jika kami akan datang.

"Hey, jangan memeluk ayahmu seperti ini lagi, pangeran akan marah." Tegur ayahku saat aku langsung memeluknya.

"Dia tidak akan marah ayah, lagi pula dia suamiku." Ucapku, menatap ke arah Sasuke dan tersenyum.

"Hal ini tidak berlaku pada ayah mertuaku, ada pengecualian." Ucapnya, aku jadi ingin mencubit Sasuke, tetap saja dia ayahku.

"Sudah-sudah, tunggu dulu." Ucap ibu dan menatap ke arahku. "Ada apa ini?" Ucapnya.

"Maksud ibu?" Ucapku, aku tidak mengerti.

"Masih rata seperti ini? Kalian sudah menikah hampir 2 tahun lebih dan tidak ada apa-apa di sini?" Ucap ibu dan memegang perutku.

Tunggu, aku harus mencerna terlebih dahulu, perut dan pernikahan.

Heee? Apa ibu mempertanyakan kehamilanku?

"Ibu." Ucapku, aku belum ingin punya anak

"Tidak apa-apa ibu, aku ingin Sakura tidak kesulitan jika dia sedang dalam masa pendidikannya." Ucap Sasuke, menatap ke arahnya, dia pengertian sekali.

"Tidak bisa seperti ini pangeran, bagaimana pendapat orang luar sana jika keluarga Haruno belum memberikan keturunan." Ucap ibu dan dia terlihat kecewa.

"Ibu, sudahlah, aku juga akan hamil, tapi tidak sekarang." Ucapku. Uhk, suasananya jadi berubah seperti ini.

"Aku tidak masalah, kakakku, pangeran pertama pun cukup lama mendapat anak, saat itu kesehatan putri Izumi cukup buruk dan dia kesulitan untuk hamil." Ucap Sasuke, dia memberi sebuah perbandingan agar ibu tetap tenang, tidak masalah keturunan itu akan lama datang, yang terpenting mereka akan tetap hadir di tengah-tengah keluarga sebagai anggota keluarga kerajaan penerus.

"Maafkan atas ketidaksopananku pangeran, aku hanya takut jika orang luar berpandangan buruk terhadap anakku." Ucap ibu, menurutku ibu terlalu berlebih, aku sendiri tidak peduli pada mereka.

"Sepertinya makan malam akan semakin dingin jika terus membahas ini." Ucap ayah, segera mengakhiri pembicaraan yang membuat moodku jatuh, padahal aku ingin senang-senang karena sudah datang kembali ke rumahku.

Makam malam bersama, ibu sampai bingung ingin memasak apa dan Sasuke hanya meminta ibu menyajikan apapun yang bisa di masaknya, Sasuke memang bukan tipe pemilih makanan, hanya saja dia benci makanan yang terlalu manis.

Setelah makan dan bersantai, tiba saat istirahat, aku pikir setelah makan malam kami akan langsung kembali ke istana, menatap ke arah Sasuke, baru kali ini aku melihatnya memakai pakaian tidur, dia pakai apapun akan terlihat cocok, Sasuke sendiri sibuk menatap kamarku, sudah sangat lama aku meninggalkan kamar ini, semua barang tertata rapi, apa ibu sering membersihkan kamar ini? Atau karena tahu kami akan datang, ibu jadi membersihkannya lagi.

"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu, tapi akhir-akhir ini kau sangat berbeda suamiku." Ucapku, aku ingin sesekali berbicara secara pribadi padanya tentang sikapnya dan tingkah lakunya padaku.

"Berbeda?" Ucapnya dan sedikit mengerutkan alisnya.

"Iya, kau jauh lebih romantis, tidak selalu menegurku dan sikapmu jadi lebih baik." Ucapku, tersenyum dan mengalungkan kedua lenganku pada lehernya.

"Sejujurnya aku tidak begitu tahu hal romantis, tapi jika kau katakan seperti itu, aku jadi merasa sedikit bisa bersikap romantis padamu." Ucapnya.

"Kau ini sangat kaku, suamiku." Sindirku.

"Kau senang akan perubahanku?" Tanya dan kini tangan pria itu berada pada pinggangku.

"Aku sangat senang, awalnya kau itu pangeran yang menyebalkan, haa..~ jadi ingat masa lalu, padahal baru saja melewati beberapa tahun." Ucapku.

"Oh, jadi kau pikir dulunya aku sangat menyebalkan?"

"Tepat sekali."

Terdiam, menatap ke arah Sasuke, aku yakin dia sedikit kesal akan ucapanku.

"Ma-maaf." Gugupku, aku tidak ingin salah bicara lagi.

Cup...~

"Aku ingin mendengar semua ucapanmu, apapun, katakan bagaimana kau melihatku dulu." Ucap Sasuke.

Wajahku merona, aku tidak tahu harus mulai dari mana, dulunya dia cukup menyebalkan dan aku sangat tidak suka padanya, tapi lama kelamaan aku jadi jatuh cinta padanya, dia membuatku luluh dan akhirnya pun Sasuke mengatakannya juga, perasaan yang sama denganku, padahal aku pikir cinta ini akan bertepuk sebelah tangan.

Sasuke mengajakku ke atas ranjangku, kita akan berbicara sambil mendekap masing-masing, ranjangku sedikit sempit jadi aku harus tidur sambil memeluk Sasuke.

"Suamiku." Panggilku.

"Hn?"

"Yang di katakan ibu-"

"-tidak apa-apa, lagi pula ini sudah menjadi keputusan kita bersama." Ucap Sasuke, aku senang mendengarnya, tapi apa benar aku tidak dalam masalah 'kan? Aku tetap bisa membuat keturunan, ma-maksudku, apa benar aku bisa hamil, mendengar ucapan ibu membuatku jadi takut, jika aku tidak bisa hamil, bagaimana? Kedua orang tuaku akan malu dan kerajaan pun akan kekurangan anggota keluarga, jadi merasa bersalah.

Bangun dan melepas pakaianku. "Aku siap, kita akan membuat keturunan." Tegasku.

Sasuke sampai membulatkan tatapannya dan menatap tidak percaya padaku.

"Dengar, kau akan kuliah dan kau akan sangat sibuk, sebaiknya tidak perlu." Ucap Sasuke, apa dia menahannya? Aku tidak percaya jika Sasuke menolaknya.

Wajahku jadi merona, aku sampai melepaskan pakaianku di hadapan Sasuke. Menundukkan wajahku. "Ha-hanya di coba saja, aku penasaran apa benar aku bisa hamil atau tidak." Ucapku, walaupun terdengar konyol, aku hanya ingin tahu.

Sasuke bangun dan memelukku. "Aku yakin kau bisa hamil." Ucapnya.

"Aku hanya takut." Ucapku.

"Kau memikirkan hal yang tidak perlu, apa keturunan Haruno punya penyakit tidak bisa hamil?"

"Tidak, belum ada yang pernah terjadi di keluargaku."

"Maka dari itu aku percaya." Ucapnya.

Aku jadi salah mengira, sekarang hal ini malah membuatku malu, aku lah yang terlalu memikirkan ini, Sasuke saja santai seperti itu. Mengambil bajuku dan memakainya, sayangnya bajuku itu di tarik Sasuke dan lemparnya ke lantai.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Kau sudah terlambat untuk menghentikan ini, aku rasa kita harus mencobanya." Ucap Sasuke.

Heeee...! Ke-ke-kenapa cepat sekali Sasuke berubah pikiran? Aku pikir dia belum ingin memiliki keturunan.

.

.

TBC

.

.


hai. nongol lagi,

eh,

update maksudnya. XD

.

.

see you next chapter.