Disclaimer : Touken Ranbu milik DMM and Nitroplus

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Maaf kalau ada karakter yang out of character.


Malam itu adalah 11 januari.

Yasusada panik.

Sudah seharian dia tak melihat Kashuu.

Dia tak mengerti kenapa saniwa Reijin malah menyuruhnya patroli sebagai pengganti kapten.

"Aruji tahu kemana dia pergi?" tanya Yasusada dengan nada menginterogasi.

Wajah saniwa Reijin mengerucut tak suka. Kedua alisnya bertaut kesal. Hasebe dan Yamanbagiri yang sedang duduk bersamanya langsung mengambil sikap defensif. Mereka siap kapan saja Yasusada menodongkan pedangnya ke majikan mereka.

"Aku tidak tahu." jawab Reijin.

"Tolong jawab sejujurnya!" protes Yasusada.

"Kalau aku bilang aku tidak tahu, itu artinya aku tidak tahu. Kalau kamu bersikeras, mungkin lebih baik kamu pergi patroli. Jawabanmu ada disana."

Yasusada terlihat seolah ingin melawan perintah itu namun dia tak menyuarakannya dan memilih diam sebelum akhirnya berbalik dan menyuruh timnya untuk berpatroli.

"Tadi bahaya sekali, Aruji-sama." komentar Hasebe.

"Yamanbagiri bisa menghentikannya bersamamu." jawab Reijin.

"Roda takdir yang sudah berputar tak mungkin kembali." Reijin menghela nafas dan menutup mata, memilih beristirahat.


Yasusada mengeluarkan amarahnya sambil menumpas musuh.

Setidaknya, dia bisa melepas stress dan emosi.

Namun wajahnya berubah drastis saat melihat sosok yang familiar.

"...Nagasone...san?" Yasusada memucat.

Dia ingat jelas Kashuu menghancurkan pedang Nagasone dan juga simbol pedang di bahu. Tentu saja itu artinya Nagasone tak mungkin masih hidup.

"Halo, Yasusada. Malam yang indah, bukan? Aku senang sekali hari ini lho! Kenapa? Karena, seseorang yang penting sudah pulang. Sudah kembali. Dan tak lama lagi, dunia ini akan tenggelam dalam remang-remang kegelapan!"

"Apa maksudmu?" tanya Yasusada yang sudah geram dengan monster berwajah Nagasone.

"Ya itu. Dunia ini akan tertelan kegelapan." Nagasone tersenyum ramah.

Senyuman familiar yang anehnya, mengerikan dan mencekal.

"Sampai jumpa!" Nagasone melompat dan menghilang ditelan kegelapan.

Yasusada melaporkan semuanya kepada saniwa.

Reijin mengangguk.

"Biarkan saja. Tak usah mencemaskan apa katanya. Yang penting sekarang adalah, kalian menjadi kuat." jawab Reijin.

"Tapi! Nagasone-san!" Yasusada bersikeras.

"Untuk saat ini, lebih baik kamu latihan dengan patroli lebih keras." kata saniwa.

Yasusada menahan emosi.

Dia tak mungkin bisa marah dan menyerang saniwa di hadapan seluruh pedang lain. Yang ada, nyawanya yang melayang, mengingat Hasebe dan Yamanbagiri tak akan segan memotongnya. Yasusada mengangguk pelan.

"Maaf ya...tapi aku benar-benar tak tahu kemana Kashuu. Aku juga hanya bisa berharap kalian tak makan hati lebih dari ini..." kata saniwa.

Yasusada terdiam.

Mungkin saniwa memang tidak tahu.

Tanpa banyak bicara, Yasusada berlalu.


Yasusada menghela nafas. Dia tak ingin pikirannya kalut. Sudah seminggu Kashuu tidak masuk. Dia beralasan bahwa Kashuu memiliki 'urusan rumah' yang mengharuskannya tidak masuk dalam jangka waktu panjang. Yasusada sejujurnya tidak yakin kalau Kashuu akan kembali.

Kanesada-lah yang harus mengingatkan Yasusada bahwa dia adalah kapten, kapten memiliki tanggung jawab sendiri termasuk mengurus diri sendiri dan rekannya. Namun Yasusada hanya memasang wajah kesal karena Kanesada 'ikut campur' dalam urusannya.

"Aku mencemaskanmu tahu!" Kanesada berteriak kesal.

"Aku tak perlu di khawatirkan!" Yasusada berteriak balik.

"Kalau begitu jangan jadi kapten! Kamu egois sekali sih!" Kanesada berteriak sampai saniwa datang, melirik dari balik pintu bersama Sayo.

"Ya sudah! Kalau kamu mau gantikan aku jadi kapten, pindah ke tim lain saja!" Yasusada makin marah.

Dia tak ingin di beritahu ini-itu karena dia sudah tahu dan dia tak ingin mengurus hal lain selain mencari Kiyo. Kanesada mengeraskan rahangnya, menahan marah dan emosi lainnya. Dia berbalik dan keluar dari kamar Yasusada dengan wajah merah menahan amarah.

Reijin dan Sayo saling berpandangan sebelum Sayo menarik Rei ke dapur. Dia tak ingin Rei kena semburan emosi Yasusada maupun Kanesada.


Hari itu juga, asrama mereka kedatangan tamu.

"Halo! Higekiri disini! Dan ini adikku! Err...siapa namanya ya? Gawat, aku lupa..." Higekiri berusaha keras mengingat nama adiknya.

"Namaku Hizamaru, kakak!" Hizamaru ingin rasanya menampar si kakak dan menjejalkan namanya ke dalam otak sang kakak.

"Oh, Hiza—midori?" Kali ini, Higekiri sengaja.

"Hi. Za. Ma. Ru!" Hizamaru menghela nafas, mengurut dada dan hanya bisa menangis dalam diam.

"Waaaii! Hiza-nii!" Rei langsung menempel ke Hizamaru.

"Halo, Rei." Hizamaru yang sudah baikan mengelus kepala Rei.

"Rei mau main!" kata Rei sambil mengulurkan kedua tangannya, meminta gendong.

"Iya, sayang. Kami bakal nginap kok." kata Hizamaru yang menggendong Rei.

Yotsune-san menatap kedua tamunya dengan galak.

"Untuk apa kalian berdua datang?" tanya Yotsune-san.

"Jangan khawatir. Kami hanya datang sebagai pengawas. Persekutuan saniwa membutuhkan saksi sebagai bukti kalau saniwa tertentu bekerja dengan baik dan benar." kata Higekiri.

Hizamaru masih menemani Rei bermain DS. Gadis cilik itu suka sekali di pangku sambil dipeluk. Rei sesekali meminta pelukan dan Hizamaru tak mampu menolak. Seandainya kakaknya meminta, Hizamaru akan langsung memberikan pelukan gratis untuk kakaknya. Sayang Higekiri tak terlalu tertarik. Dia lebih suka bermain tarik ulur dengan perasaan Hizamaru.

"Oh? Bagaimana dengan Oda-san? Kudengar dia masih di dunia manusia jadi aku penasaran." Tanya Higekiri.

"Saniwa Oda hanya tinggal tak jauh dari sini. Dia sudah lama tak mau berkutat dengan hal berkaitan dengan saniwa dan tsukumogami. Lagipula, Oda-san tak suka diganggu."

"Tapi Oda-san masih suka menjadikan orang lain sebagai budak kan?" Higekiri tertawa.

"Kadang guru masih sering berkunjung ke rumah Oda-san. Oda-san masih sama dan sehat. Hasebe masih budak tercintanya." kata Yotsune-san.

"Hiza-nii, Rei mau pipis!" kata Rei yang berdiri.

"Hm. Terus?" Hizamaru tak menangkap arti kata-kata Rei.

"Temenin Rei ke wc!"

"...eh?"

"Temenin! Rei takut kalau ada hanako!" rengek Rei sambil menarik lengan baju HIzamaru.

Hizamaru akhirnya berdiri dan mengantar Rei sementara Higekiri melirik ke arah adiknya dan Rei.

"Nah. Aku mengantar pesan dari persekutuan saniwa. Mereka bilang, kalau seandainya rencana ini gagal, seseorang harus bertanggung jawab." kata Higekiri.

Wajah Yotsune-san menegang.

Sementara itu, Rei mulai merengek dari dalam wc.

"Hiza-nii masih di luar kan?" tanya Rei.
"Masih, Rei." jawab Hizamaru.
"Hiza-nii engga bohong kan?" tanya Rei lagi.

Hizamaru mengutuk siapa pun yang membaca komik horror. Rei jadi penakut karena membaca buku terkutuk seseorang yang berbau horror.


Yasusada melewati januari dengan wajah kesal. Kesal pada dunia ini, kesal pada dirinya sendiri.

"Kiyo..." bisiknya.

Begitu banyak pertanyaan terlintas dan berputar dalam kepala Yasusada. Ingin rasanya Yasusada menghentikan seluruh pertanyaan itu. Terkadang, terbesit di benaknya kalau seandainya dia tak pernah bertemu Kiyo. Namun seluruh 'andai' itu membuatnya makin tak menyesal bertemu Kiyo.


Februari.

Yasusada melewati Januari dengan wajah tersenyum namun Kanesada terus mengkhawatirkan Yasusada. Mengingat bagaimana Yasusada menumpas musuh sambil tertawa dan tersenyum bukanlah hal yang bisa di cerna dengan mudah. Kanesada menghela nafas. Yasusada terus memaksakan diri dan menumpas musuh seolah membalas dendam.

Dan juga, Yasusada mulai sering ke kamar Kashuu hanya demi tidur. Seolah Yasusada hanya ingin mengingat tanpa melupakan memori akan partnernya. Yasusada juga tak banyak bereaksi ketika Nihongou datang dan mengatakan kalau dia perlu bicara dengan saniwa.

Rei menyukai om-om pemabuk yang baik ini namun Reijin hanya mengatakan kepada Nihongou kalau semuanya berjalan dengan mulus, tak ada yang mesti di khawatirkan, membuat Yasusada cemas kalau saniwa memang mengetahui sesuatu.

"Semuanya, pertarungan penting semakin dekat. Jaga diri kalian baik-baik." Saniwa memperingatkan.


Yasusada menemukan tachi Horikawa dan oodachi Nagasone yang tersenyum sambil seenaknya menangkap musuh mereka. Pasukan perusak sejarah dibunuh oleh mereka berdua dengan mudah. Sebelum keduanya menghisap asap hitam dari pasukan perusak sejarah.

"Ingin penjelasan?" tanya Horikawa.

"Kami hanya menyerap kegelapan yang merusak mereka. Kami memerlukannya." jawab Nagasone.

"Oh iya! Pangeran memberikan ultimatum! Februari akan berakhir dengan bloody valentine kalau kalian tidak menghentikan kami! Oh iya! Yang paling penting, dunia ini akan berakhir di hari valentine!" Horikawa tersenyum.

"Katakan kami musuh, antagonis atau orang jahat. Namun kegelapan akan menelan dunia ini di hari itu. Kami sudah memberikan peringatan." kata Nagasone.

"Sone-san! Waktu dan tempatnya!" Horikawa mengingatkan.

"Traditional Mansion 'Ikeda-ya' di malam valentine. Jadi jangan salah dan datang saat tanggal 13 tengah malam. Ahahahaha!" Nagasone kembali tertawa.

Mereka berdua menghilang bersama asap hitam.


Akhir Februari.

Mata Yasusada terbelalak melihat sebuah gumpalan awan hitam pekat di sebuah mansion besar yang sudah lama tidak terpakai. Saniwa langsung menyuruh seluruh toudan berkumpul.

"Ultimatum perang terbesar sudah diumumkan. Aku akan memilih siapa yang akan berangkat ke medan perang. Hanya dua tim yang akan kuturunkan. Sisa tim lainnya akan menetap sebagai backup."

"Uguisumaru, Tsurumaru, Mitsutada, Hotarumaru, Ookurikara dan...Aizen sebagai ketua tim dua."

"Yasusada ketua tim satu. Kanesada, Ichigo, Kogitsunemaru...Monoyoshi dan Namazuo." selesai mengumumkan nama-nama dua tim yang akan maju sebagai penyerang, saniwa menatap seluruh pedangnya.

"Perintah dariku hanya satu. Jangan mati."


Kedua tim berhasil sampai di mansion. Mansion itu besar layaknya kastil tradisional jaman dulu. Bangunan tua itu memang seram namun bersejarah sehingga pemerintah tak ingin merobohkannya. Kebetulan hari memang malam. Sebuah tangga panjang mengarah dari atap tertinggi kastil ke atas, entah menuju kemana.

"Apa perintah kapten?" tanya Aizen.

"Serang langsung!" jawab Yasusada.

"Terlalu..." bisik Aizen yang facepalm.

Namun kedua tim itu langsung mendobrak pintu masuk ke mansion.

"Selamat datang. Di mansion kegelapan!" kata tantou Souza yang terlihat senang.

"Hoo...selamat datang..." Yagen tersenyum sambil mengeluarkan oodachi miliknya.

Keduanya langsung berusaha menyerang mereka. Uguisumaru dan Tsurumaru menghadang mereka.

"Kalian pergilah duluan." kata Uguisumaru.

"Serahkan mereka berdua kepada kami!" kata Tsurumaru.

Yasusada mengangguk dan berjalan maju, memasuki bagian dalam mansion.

Aizen menoleh ke arah kedua anggota timnya dan mengikuti Yasusada.

Ichigo menggigit bibirnya. Dia tak ingin meninggalkan rekannya.

"Ichigo! Terimakasih sudah menjadi teman kami! Kami akan merawat adikmu dengan sangat baik!" kata Tsurumaru dengan sarkasme sambil melihat Yagen.

"Ichigo, aku senang sekali menghabiskan waktu denganmu." kata Uguisumaru.

"Lihatlah punggung kami yang keren, guys!" seru Tsurumaru.

Ookurikara mendengus dan Hotarumaru tak berkomentar. Mitsutada tertawa kecil sebelum mengikuti Aizen. Kogitsunemaru hanya diam. Mereka semua akhirnya meninggalkan kedua pasangan tachi burung itu.

"Nah...Akhirnya tak ada halangan." bisik Tsurumaru.

"Pasangan melawan pasangan?" tanya Uguisumaru.

Pedang bertemu pedang.

Tantou Souza termasuk gesit dan cepat namun Uguisumaru dengan mudah melukai Souza. Lain halnya dengan Tsurumaru yang menghindari serangan oodachi Yagen yang cukup gesit. Tsurumaru dan Uguisumaru kemudian menyerang Yagen bersamaan, melukai Yagen dengan luka yang cukup dalam. Mereka berhasil memukul mundur pasangan pedang Oda itu, namun Uguisu dan Tsuru tak yakin kalau mereka sudah menang.

"Souza!"

"Kita...pakai itu?" tanya Souza yang tubuhnya sudah bersimbah darah dan luka berat.

"Ya. Kita pakai 'itu'." Yagen memegang tangan Souza dengan lembut.

Keduanya melepas aura kegelapan yang kuat, membuat Uguisumaru merinding dan Tsurumaru kaget.

"Kalian berdua lupa...kalau mansion ini merupakan tempat paling strategis memanggil seluruh emosi negatif di sekitar sini..." luka oodachi Yagen menutup dengan cepat.

Begitu pula luka Souza.

"Souza Samonji/Yagen Toushirou toku." kata mereka berdua bersamaan.

Souza menghilang dari pandangan Uguisu dan Tsuru.

"...Uguisu!" Tsuru cepat-cepat mendorong Uguisumaru.

Punggung Tsuru langsung terluka seolah tersayat benda tajam.

"Tsuru!"

"Oops...jangan mengalihkan pandangan dari musuh...!" oodachi Yagen hampir menghancurkan pedang Uguisu kalau saja pangeran teh hijau itu tidak berguling menghindar.

Uguisu terus bergerak menghindari gerakan Yagen sementara Tsurumaru berusaha membaca gerakan Souza. Tsurumaru tersenyum lelah. Uguisu berhasil menghindari serangan Yagen dan langsung mundur, punggung ke punggung dengan Tsuru.

"Tsurumaru Kuninaga/Uguisumaru toku!" seru keduanya.

Energi putih dan hijau menguar di udara. Atap tempat mereka bertarung menghilang akibat energi itu. Bulu-bulu putih beterbangan di sekeliling Yagen dan Souza sebelum akhirnya menghilang. Tiba-tiba, sesuatu yang tak terlihat menyayat Yagen dan Souza.

"Apa?!" Souza mulai panik.

Dia memeluk Yagen.

"...Sayatan angin?" Yagen menarik oodachinya, melindungi Souza.

"...Souza, hancurkan ilusi ini." kata Yagen.

Souza mengangguk. Ruangan itu berubah menjadi gelap. Souza pun panik.

"Aku sudah melepas ilusinya! Kenapa?!"

"Tsurumaru Kuninaga toku...kudengar dari Kunihiro memang berbahaya..." bisik Yagen.

"Ya benar." Suara Tsurumaru bisa terdengar namun tidak ada orangnya.

"Tsurumaru toku, adalah magic trick box alias ilusi tingkat tinggi. Tidak mudah untuk lepas dari kotak kejutan milikku."

"...Dengan kata lain, Souza sayang, dia mengejek ilusimu." komentar Yagen.

"Tsk...! Ilusi? Aku bisa tunjukkan kalau aku juga bisa ilusi tingkat tinggi." Souza melepas pelukannya dari Yagen.

"Tidak semudah itu." Sayatan angin kembali menyerang Yagen dan Souza.

"...Uguisumaru..." Yagen terlihat geram.

"Rupanya ini toku-mu, Uguisumaru? Sayatan angin saja?" Yagen berusaha memanas-manasi Uguisumaru.

Souza menghentakkan kakinya. Ilusi Tsurumaru lepas dan Yagen tersenyum licik melihat Uguisumaru dan Tsurumaru. Keduanya terlihat lelah. Souza dan Yagen mengambil posisi, bersiap untuk menyerang. Wajah Uguisumaru makin pucat. Tsurumaru menghela nafas. Dia juga merasa kalau kekuatannya makin menipis.

Toku adalah salah satu kondisi dimana toudan melepas energi dalam jumlah besar.

Tentu saja, itu membuat toku tak mampu bertahan lama dan cukup beresiko tinggi.

Uguisumaru memegang tangan Tsurumaru. Tanpa bicara, Tsurumaru mengerti. Yagen dan Souza paling tidak harus di kalahkan. Uguisumaru tersenyum kecil. Tsurumaru tersenyum balik sejenak.

Mereka berdua menatap Yagen dan Souza masih dalam sosok toku. Yagen dan Souza menyerang dan Tsurumaru cepat-cepat menangkis serangan Yagen sementara Souza berniat menyerang Uguisumaru yang kelelahan. Pedang bertemu pedang. Kedua tachi bermotif burung itu mulai kehabisan energi toku.

"Lelah? Tentu saja. Berada dalam area kegelapan memang menyerap kekuatan spiritual." ejek Yagen.

Samar-samar, Uguisumaru mengingat seseorang pernah berkata kalau energi yang dilepas saat toku berguna untuk memporak-porandakan satu pulau. Uguisumaru mengatur nafas meskipun diserang oleh tantou Souza. Merasa tak dianggap, Souza melepas energinya.

Energi gelap itu membuat gerakan tantou Souza tak terlihat.

'Cepat...' serangan Souza berhasil.

Pedang tantou yang menancap dan ditarik itu membuat tubuh Uguisumaru terus berdarah dari seluruh bekas pedang dicabut. Tsurumaru sendiri masih sibuk menahan serangan Yagen. Yagen melirik ke arah Souza. Dia mendecih pelan.

"Cepat akhiri ini..." bisiknya.

Yagen melepas seluruh kekuatannya. Tsurumaru dan Uguisumaru cepat-cepat bersembunyi ke arah pilar terdekat. Keduanya terlihat seolah sudah sepenuhnya terhisap kegelapan. Tsurumaru dan Uguisumaru tersenyum.

"Waktunya serius, Tsuru." kata Uguisu.

"Kamu sendiri menikmatinya." balas Tsuru.

Keduanya keluar dari tempat persembunyian, mengayunkan pedang mereka, membuat serangan dari jauh. Serangan keduanya langsung membentuk angin dan menyayat segala benda yang menghalangi mereka.

"Tarian kamaitachi burung! Sakit kan?" tanya Tsurumaru yang tertawa.

"Tsuru, kurasa serangan barusan tidak berguna." komentar Uguisumaru.

Souza dan Yagen langsung bangun dari serangan yang barusan membuat mereka terbanting ke dinding. Wajah mereka terlihat mencekam orang yang melihatnya.

"Apa boleh buat." kata Uguisumaru.

Uguisumaru mengubah posisi pedangnya. Mata hijaunya bersinar mengandung bahaya. Tsurumaru tersentak. Dia tahu apa yang akan dilakukan Uguisumaru. Cahaya hijau mulai berkumpul di dekat Uguisumaru, menyembuhkan lukanya. Tsurumaru menghela nafas. Dia juga mengumpulkan energi putih di sekitarnya.

Uguisumaru bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dalam satu kedipan, Uguisumaru sudah menahan serangan Souza yang tercemar. Uguisumaru kembali menyerang. Dia dengan mudah mengikuti kecepatan Souza yang terus menyerangnya berkali-kali tanpa henti. Uguisumaru berhenti sejenak begitu Souza yang mundur dan menyiapkan pedang tantounya untuk serangan dadakan.

Uguisumaru menutup mata. Energi hijau kembali menyelubunginya. Dia kembali menyerang Souza yang mulai kewalahan.

Tsurumaru membuang nafas. Dia menunjuk Yagen dan memberikan gestur menantang. Yagen langsung menyerang dengan kecepatan yang sudah meningkat namun Tsurumaru dengan mudah menahan serangan itu. Secepat apa pun oodachi, mereka tak bisa mengalahkan kecepatan tachi.

Uguisumaru dengan mudah menahan serangan Souza. Uguisumaru mampu merasakan bisikan Souza.

'Sakit...panas...tolong aku...'

Uguisumaru menelan ludah. Dia harus mengakhiri semua ini dengan cepat. Dia ingat apa kata saniwa sebelum mereka bereinkarnasi. Uguisumaru kembali menahan serangan Souza yang makin putus asa dan asal menyerang.

'Maaf ya, Samonji-san.' batinnya.

Uguisumaru tidak menahan serangan Souza. Sayap hijau merobek baju Uguisumaru, angin di sekitar Uguisumaru menguat dan Uguisumaru menghunuskan pedangnya ke arah Souza yang terperangkap oleh barrier angin Uguisumaru.

Darah berceceran.

Mayat Souza menghilang menjadi asap hitam yang terbawa angin dan menghilang.

Pandangan terasa kabur.

Uguisumaru menutup mata dan ambruk.

Tsurumaru bergerak seolah menebas namun pedang Tsuru menusuk Yagen di perutnya. Tsurumaru tak bicara. Dia mulai kembali menusuk Yagen. Tiap luka tusukan itu menyayat area disekitar luka.

Di dahi.

Di jantung.

Di perut.

Di mata.

Di leher.

Lagi.

Di telapak tangan.

Di kaki.

Di paha.

Tsurumaru tak berhenti sampai jubah putihnya merah oleh darah. Yagen yang tercemar berteriak kesakitan namun Tsurumaru tak berhenti sampai pedang tercemar yang malang itu berhenti bergerak. Energi putih Tsurumaru perlahan menghilang. Tsurumaru jatuh terduduk karena lemas. Mata emasnya melirik mayat yang menghilang menjadi asap hitam sebelum melirik Uguisumaru yang sudah tak berdaya. Darah masih mengalir keluar dari leher Uguisumaru.

"...Ugui..." bisiknya.

Nafas Tsurumaru tiba-tiba tidak teratur. Dia merasa kalau sesuatu mencekiknya. Tsurumaru berlutut, merasakan kalau kaki kirinya mulai berdenyut kencang. Namun bukan Tsurumaru namanya kalau dia tak bisa membuat kejutan. Uguisumaru terkapar cukup jauh dan Tsurumaru berusaha menggapai kekasihnya.

'...Kaki kananku...!' Tsurumaru berdecih kesal.

Kaki kanannya juga mulai tak bisa bergerak. Dia tak menyerah. Tsurumaru tak peduli meskipun dia harus menyeret tubuhnya. Kalau harus mati, dia lebih memilih mati di samping Uguisumaru. Tsurumaru berhasil menyeret tubuhnya yang perlahan mulai mati rasa. Dia menyentuh lembut pipi Uguisumaru.

"Bangun...Uguisu...jangan tinggalkan aku..." bisik bangau yang makin lemah itu.

Mata hijau Uguisumaru terbuka pelan. Pandangannya sudah tidak fokus. Namun dia masih bisa mendengar suara familiar itu. Dengan segenap kekuatan terakhirnya, pangeran teh hijau itu hanya menutup mata, membisikkan kata terakhirnya.

"...Tsu...ru..."

Tangan Uguisumaru sudah tak bergerak. Dia sudah kehilangan terlalu banyak darah untuk tetap hidup. Tsurumaru ingin tertawa kecil, berbohong dan bilang, tak apa, kita sudah menang. Namun Tsurumaru tak bisa berbohong di saat begini. Tsurumaru mengerahkan tenaga terakhirnya. Tangan kanan Tsuru memegang tangan kiri Uguisumaru yang makin dingin.

'Inikah akhir hidup ini?' batin Tsuru.

"...Ugui...su..." bisik Tsuru.

'Sesampainya di citadel jiwa, aku harus bilang...'

Mata Tsurumaru menutup tak kuat menahan rasa kantuk.

Simbol pedang mereka menghilang seolah hanya ilusi.

Kedua pedang mereka retak dan pecah, menghilang layaknya serpihan bunga sakura yang terbang tinggi di tiup angin.

Kedua jiwa tachi itu kembali ke citadel jiwa.


AN : Ada review? kritik? saran? pertanyaan? akan dibalas di frangipani chapter selanjutnya (kalau ada)