"Aku hanya bilang ingin menunda memiliki anak, bukannya menunda pernikahan" Yoongi meletakkan gelas kopinya diatas meja. Di depannya ada Namjoon dan Hoseok yang sedang menatapnya kebingungan.

"Tapi tujuan orang menikah..." Ucapan Hoseok menggantung karena Namjoon menyiku perutnya.

"Hyung, kau mengambil keputusan ini sendiri atau sudah bicara dengan Jimin?" Namjoon bertanya penasaran.

"Aku sudah bilang belum siap punya anak" jawab Yoongi.

"Tapi kalau Jimin ingin punya anak?" Tanya Namjoon lagi.

"Dia masih anak kuliah. Dia harus focus pada perkuliahannya dulu" Yoongi menaikkan alisnya.

"Tapi kalian sudah sepakat untuk menundanya kan?" Hoseok memastikan.

Yoongi mengangguk.

"Ini murni karena perkuliahan Jimin kan, hyung? Bukan karena kau takut apa yang terjadi di keluargamu terjadi lagi di keluarga kecilmu nanti?" Namjoon menatap lurus pada Yoongi.

Yoongi hanya menatap sekilas, kemudian meminum kopinya sampai habis. "Waktu istirahatku sudah habis. Aku pergi dulu" pamit Yoongi.

"Apa yang kau bicarakan? Kita sudah sepakat untuk tidak menyinggung itu kan?" geram Hoseok.

Namjoon menatap Hoseok dan tersenyum. "Aku calon Appa-nya. Aku perlu tau alasan yang sebenarnya, dan sepertinya aku sudah mendapatkannya"

"What?" Hoseok membolakan matanya.

.

.

.

RUN TO YOU

.

.

.

"Yoongi" mulai Namjoon. Kepalanya diletakkannya diatas paha Seokjin yang sedang sibuk dengan ponselnya.

"Wae?" Tanya Seokjin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.

"Aku rasa dia masih trauma soal pernikahan"

"Maksudnya?" Seokjin menunduk untuk menatap Namjoon.

"Yoongi masih trauma, dia..."

"Yoongi akan menikah, Namjoon" potong Seokjin.

"Itu langkah bagus, tapi masalahnya dia menunda memiliki anak dengan memakai perkuliahan Jimin sebagai alasannya" Cerita Namjoon.

"Jimin masih kecil, wajar kan?" Seokjin mengernyit.

"Kau percaya?" Namjoon mendongak untuk menatap Seokjin.

"Aku tau aku bukan orang tua yang baik, aku sering bertengkar dengan Hyosang dulu, tapi kami selalu memastikan kalau Yoongi sudah tidur dan..."

"Apa kau pernah memeriksanya sekali saja? Memastikan kalau Yoongi benar-benar sudah tidur?" Tanya Namjoon lagi.

Seokjin terdiam.

"Jinseok, Yoongi mu tidak sekuat yang terlihat"

Seokjin merasa dadanya sesak, air matanya mulai berkeluaran membasahi pipinya. Selama ini Seokjin pikir Yoongi adalah anak yang kuat karena Yoongi terlihat baik-baik saja, bahkan saat Seokjin dan Hyosang bertengkar hebat, besoknya Yoongi terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.

Seokjin harus akui sekarang. Dia lalai memperhatikan psikis anaknya.

"Aku tau Yoongi hyung selalu menyimpan masalah untuknya sendiri. Dia hanya akan meminta pertolongan kalau masalahnya mulai tidak bisa dia kendalikan lagi. Aku rasa kalian perlu bicara" Namjoon mendudukan diri, menghapus air mata Seokjin kemudian memeluk Seokjin erat.

"Ini bukan untuk Jimin, tapi untuk Yoongi. Dia perlu berdamai dengan dirinya sendiri. Dia perlu merubah pemikirannya. Aku juga datang dari keluarga broken home, awalnya aku pikir orangtua ku sering bertengkar karena aku lahir. Pikiran bodohku selalu menyalahkan diriku sendiri. Aku sering berpikir, kalau saja aku tidak lahir, orangtuaku pasti akan baik-baik saja, mereka pasti masih bahagia" Cerita Namjoon membuat Seokjin makin mengeratkan pelukannya. Dia baru tau soal ini karena saat dikenalkan dengan keluarga Namjoon, kedua orangtua Namjoon terlihat akur dan baik-baik saja.

"Dan aku bertemu denganmu. Semua hal dari sudut padangku yang ku anggap benar, sudah berubah. Selama ini aku hanya tidak melihat dari sudut pandang orangtua ku saja. Karena mu aku paham, terkadang perpisahan adalah cara untuk tidak lagi saling menyakiti" Namjoon mengecup kepala Seokjin.

"Aku terlalu lama untuk sadar kalau dengan berpisah, orangtua ku sudah menemukan kebahagiannya masing-masing" sambung Namjoon.

"Aku orangtua yang buruk" guman Seokjin.

"Anio. Kau berjuang sendiri untuk membesarkan Yoongi dan Yoonji. Kau hebat. Yoongi hyung hanya belum melihat dari sisi mu saja, makanya dia seperti itu. jauh di dalam hatinya, dia hanya takut tidak bisa menjadi orangtua yang baik untuk anaknya nanti"

"Kalian perlu bicara, Seokjin" Namjoon mengurai pelukannya dan mencium lembut bibir Seokjin. Memberikan sedikit ketenangan pada pasangannya.

.

.

.

"Hyung, aku rasa kita cukup membuat acara yang kecil saja dengan tamu yang terbatas" usul Jimin.

Yoongi menaikkan alisnya dan menatap Jimin bingung. "Wae?"

"Aku tau Yoongi hyung tidak suka keramaian" Jimin tersenyum dan meletakkan selebaran soal EO pernikahan yang sejak tadi di pegangnya.

Yoongi terkekeh dan menggusak kepala Jimin. "Aku bekerja untuk memenuhi pernikahan impianmu, bukannya menuruti mauku"

Jimin merona. "Tapi hyung..."

"Katanya mau nikah di gedung besar" goda Yoongi.

Jimin terkekeh malu, perlahan Jimin berdiri mendekat pada Yoongi yang duduk di kursi kerjanya.

Yoongi membolakan matanya saat Jimin mendudukan dirinya dipaha Yoongi dan memberikan Yoongi ciuman.

"Gomawo, Papa anak-anak" ucap Jimin malu-malu.

"Begitu saja?" bukannya tersanjung, wajah Yoongi malah terlihat sedang protes.

"M-memangnya mau bagaimana?" Tanya Jimin gugup.

"Be..."

"AIGOOO..." hancur sudah acara Jimin dan Yoongi karena kehadiran Seunghoon.

"Dasar pengganggu" kesal Yoongi.

Jimin buru-buru kembali berdiri, wajahnya terlihat merah .

"Biasakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk ke ruanganku, kau tau? Tata krama" omel Yoongi.

Seunghoon dengan polosnya mengetuk pintu studio Yoongi dan berjalan masuk. "Sudah" ucapnya santai.

"Apa?" Tanya Yoongi masih kesal.

"Jiminie, aku pinjam Yoongi sebentar ya" Seunghoon tertawa dan menepuk bahu Yoongi.

"Ne, hyung" Jimin mengangguk. "A- Yoongi hyung, aku ke kantin dulu. Mau kopi?" Jimin menawarkan.

"Kopi kaleng dingin satu, terimakasih Jiminie" Seunghoon menjawab tanpa tau malu.

"Oh, ne" Jimin mengangguk cepat dan berlari keluar studio.

"Kau mau ku hajar?" Yoongi menatap kesal pada Seunghoon.

"Ah, aku takut sekali" jawab Seunghoon menyebalkan.

"Ada apa kau kesini?"

Seunghoon meletakkan sebuah amplop putih berlambang perusahan mereka di depan Yoongi. "Baca"

Tanpa menjawab, Yoongi membuka isi surat itu dan mengernyit. "Pergantian asisten?"

"Tepat sekali! Mulai lusa, Ong akan jadi asistenku. Cepat tanda tangan" paksa Seunghoo.

"Apa-apaan! Kau menyuruhku mengajari anak baru lagi namanya! Tidak mau!" kesal Yoongi.

"Tapi ini perintah sajangnim, Min brengsek Yoongi" geram Seunghoon.

"Aku akan bicarakan ini dengan sajangnim dulu"

"Sajangnim keluar kota"

"What?"

"Don't what-what me." Balasnya asal. " Tanda tangan saja!" paksa Seunghoon.

"Apa-apaan!" elak Yoongi.

"Sudahlah, apa salahnya membagi ilmu mu untuk anak baru lagi? Jangan pelit ilmu begitu. Nanti kesempatanmu masuk neraka lebih besar lagi, Min Yoongi"

"Masalahnya pekerjaanku sedang banyak! Kalau aku harus mengajari dari awal seperti Ong dulu, bunuh diri namanya!" kesal Yoongi.

"Si brengsek ini" Seunghoon menggeleng kepalanya melihat betapa keras kepalanya Yoongi. "Asisten barumu kali ini pasti yang terbaik, sebelumnya dia sudah pernah bekerja di label kecil. Dia sudah punya pengalaman. Percaya saja pada Sajangnim."

"Kalau begitu kenapa tidak kau saja?"

"Itu karena sifatnya kurang cocok denganku yang suka bekerja serampangan. Cuma Ong yang bisa mengimbangiku."

"Kau sudah bertemu dengannya?" Yoongi menaikkan alisnya.

"Sudah. Dia Namja yang baik, hanya terlalu tertata. Aku tidak cocok dengan orang seperti itu" jawab Seunghoon cuek.

"Siapa namanya?"

"Yoo Kihyun. Di dalam amplop ada fotonya"

Yoongi menarik foto didalam amplop dan menganga. Ini pasti lelucon. Mantan pacarnya akan bekerja bersamanya seharian mulai sekarang.

.

.

.

"Jiminie calon istri Min tidak tau tata krama Yoongi" sapa Joohyun ramah saat menemukan Jimin di kantin.

"Joohyun hyung" Jimin membungkuk dan tersenyum ramah.

"Kau disini? Mana Yoongi?"

"Ada di studio bersama Seunghoo hyung, hyung. Hyung mau kopi?" Jimin menawarkan.

"Kalau dipaksa, aku bisa apa" Joohyun langsung mengambil kopi kalengan ditangan Jimin, membuat Jimin hanya bisa melongo ditempatnya. "Ayo ngobrol sebentar, Jiminie" ajak Joohyun.

Jimin mengangguk dan mengikuti Joohyun untuk duduk didekat kaca.

"Jadi, yang aku dengar kalian sedang mencari EO untuk pernikahan kalian, benar?" mulai Joohyun.

"Ne, hyung" Jimin tersenyum lebar. Ada rasa senang di dadanya karena Yoongi memberitahu teman-temannya mereka akan menikah.

"Aku punya teman yang biasa mengurusi pernikahan. Mau ku mintakan list harganya? Siapa tau kalian butuh. Yang aku tau, orang yang akan menikah biasa membanding-bandingkan harga dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya soal pernikahan" tawarnya ramah.

"Aku akan sangat terbantu, hyung" Jimin tersenyum makin lebar.

"Astaga, kenapa juga si Yoongi itu bisa punya calon seperti mu" guman Joohyun pelan.

"Kau mengatakan sesuatu, hyung?"

"Oh, bukan apa-apa. Aku hanya heran kenapa Yoongi bisa mendapatkan anak baik sepertimu" Joohyun terkekeh.

Jimin ikut terkekeh.

"Sudah sejauh apa persiapan kalian?" Tanya Joohyun lagi.

"Kami baru memesan cincin saja, hyung. Masih banyak lagi yang perlu di urus"

"Semuanya pasti beres tepat waktu" hibur Joohyun. "Yang ku tau juga, biasanya orang yang akan menikah biasanya sering bertengkar. Apa kalian sudah mulai bertengkar entah soal gedung atau pakaian?"

"Tidak hyung, Yoongi hyung selalu menyerahkan semuanya padaku" jawab Jimin.

"Dasar pemalas" cibir Joohyun. "Biasanya orang yang akan menikah pasti dapat banyak ujian"

"Misalnya, hyung?" Tanya Jimin khawatir.

"Seperti kata teman-temanku, mendadak mantan pacar muncul kembali, mendadak ragu, mendadak sering bertengkar, mendadak sangat banyak yang mendekati, padahal sebelum menikah tidak pernah seperti itu" jelas Joohyun.

"Oh ya?" Jimin benar-benar khawatir sekarang.

"Hey, aku tidak bermaksud menakutimu. Itu hanya pengalaman teman-temanku saja. Jangan khawatir" hibur Joohyun.

"Ne, hyung" Jimin tersenyum kecil.

"Jimin..."

Jimin membalikan badannya dan terkejut saat melihat mantan pacar Yoongi muncul disana. "Kihyun hyung?"

"Akhirnya ada juga yang ku kenal disini" ucap Kihyun lega.

"Hyung, a-ada apa kesini?" Tanya Jimin penasaran.

"Aku akan bekerja disini mulai lusa" ucap Kihyun senang.

Jimin tersenyum canggung. Matanya menatap pada Joohyun yang sedang sibuk meminum kopinya. Apa ucapan Joohyun terjadi secepat itu? Jimin tidak siap.

"Selamat hyung..." guman Jimin dengan memaksakan senyumnya.

.

.

.

TBC

BTW, kakak yorobun, sila mampir ke wattpad (yunkiminsugar) untuk update yang lebih cepat *heleh