Unexceptionable

Disclaimer: It's sad, but I just own the plot

Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi.

A/N: Inspired from"Dangerous Twin" written by aninkyuelf

.

.

Enjoy!

.

.

Tsunade tidak tahu apakah ia harus menarik napas lega atau malah menghela napas lelah melihat keprotektifan yang sama sekali tidak segan ditunjukkan Sasuke sejak pertama kali pemuda Uchiha itu menemani Naruto menjalani sesi terapi. Di satu sisi dokter cantik itu merasa tenang karena dengan semua perhatian yang terus diberikan Sasuke, tapi di sisi lain ia merasa khawatir karena adik dari Uchiha Itachi itu benar-benar memfokuskan semua perhatiannya pada si pemuda pirang dan mengesampingkan dirinya sendiri.

Sasuke memang tidak mengabaikan semua kewajibannya—dia tetap menghadiri semua kelas yang sudah ia kontrak di awal semester dan berpartisipasi di kegiatan klub drama—hanya saja pemuda itu sama sekali tidak menahan diri untuk tidak menempel pada Naruto ketika mereka sama-sama memiliki waktu luang.

"Aku tidak tahu harus berkata apa melihat sifat keras kepala juniormu satu itu, Neji. Menurutmu apa aku harus merasa khawatir?" tanyanya pada sosok yang sejak tadi menemaninya duduk di kafetaria rumah sakit setelah menyelesaikan sesi terapi si pemuda berkulit coklat.

"Kalau mereka bukan sepasang kekasih, aku pasti sudah mengira Sasuke sebagai seseorang yang sangat terobsesi pada Naruto," balas Neji disertai gelengan kepala. "Kurasa hal terakhir yang dilakukan Naruto benar-benar menarik pelatuk keposesifannya."

"Mungkin. Entahlah," Tsunade menarik napas panjang.

Neji harus mengurungkan niat untuk kembali membalas ucapan sang lawan bicara ketika matanya menangkap sosok yang mereka bicarakan. Ia mengerutkan dahi ketika menyadari kalau Naruto tidak ada di dekat sang Uchiha yang kini sudah menghentikan langkah di meja yang mereka tempati.

"Ada yang harus dia selesaikan di kantor."

Neji dan Tsunade menganggukkan kepala mendengar penjelasan dari pertanyaan yang belum sempat meluncur dari mulut mereka. Sang Hyuuga menarik kursi kosong yang ada di sebelahnya dan Sasuke mengikuti isyarat yang ia tangkap dengan menempati kursi itu.

"Kapan kau akan mengambil kamera itu dari kamar kami, Neji?"

Pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan sang Uchiha berhasil membuat orang yang ia tanyakan tersedak. Tsunade menaikkan alis melihat bagaimana Neji menepuk-nepuk dadanya, berusaha menenangkan diri dari keterkejutan yang baru saja ia dapatkan.

"Aku memang tidak marah padamu walaupun kau secara tidak langsung sudah menguntit kekasihku, tapi berhubung aku kembali tinggal di apartemen itu dan menempati kamar yang selama ini kau awasi, aku tidak mau kau melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat. Oh, kau juga harus melepaskan semua kamera yang ada di ruang tengah dan dapur kami."

Ketika Neji mengakui apa yang sudah ia lakukan di belakang Sasuke sejak Uchiha satu itu keluar dari apartemen Naruto, ia sudah menunggu pemilik rambut raven itu menyerangnya seperti ini—tapi ia tidak memperhitungkan kemungkinan Sasuke menyerangnya di depan orang lain seperti sekarang.

"Kau benar-benar memasang kamera CCTV di apartemen Naruto? Kukira kau hanya bercanda ketika memberitahuku tentang rencanamu itu."

Gelengan kepala dan tatapan menggoda yang diberikan Tsunade sukses membuat sang Hyuuga mengerang malu. Harus ia akui bahwa tindakannya mengawasi apartemen sang sahabat memang mengerikan, terlebih dengan fakta bahwa sahabat yang ia maksud sudah berusia dia atas dua puluh tahun dan jelas-jelas bisa dikatakan dewasa.

"Aku akan membereskannya sore ini jadi sebaiknya kau bawa kekasihmu keluar," tuturnya setengah bergumam.

"Hn. Sore ini aku memang sudah memiliki rencana untuk datang ke kediaman Namikaze-Uzumaki."

Tsunade melemparkan tatapan kepada pemuda yang baru saja bergabung bersamanya dengan dahi berkerut.

"Apa kau akan memberitahukan keadaan Naruto kepada mereka?"

"Apa dia memberimu ijin untuk melakukannya?"

Sang dokter menggelengkan kepala, memberi jawaban negatif atas pertanyaan sang Uchiha. Ia harus menahan diri untuk tidak memberitahukan kedua mantan muridnya terkait keadaan putra mereka karena Naruto menolak sarannya itu. Sebesar apapun keinginan Tsunade untuk memberitahukan keadaan Naruto kepada Minato dan Kushina, ia tidak bisa melanggar kode etik yang sudah tertulis dengan jelas.

"Aku akan mengambil beberapa barang milik Gaara dan membawanya ke apartemen."

"Aku tidak percaya kalau aku sudah mempercayakan Naruto pada kalian," Tsunade memijat dahi sembari menggelengkan kepala.

.

-0-

.

Kushina berusaha keras menahan tawa yang sudah di ujung bibir. Melihat putranya terkejut dan salah tingkah memang tidak pernah membosankan. Ia mengulaskan senyum saat Sasuke dengan tenang menyodorkan gelas berisi air mineral kepada kekasihnya.

"Jangan katakan kalau kau tidak pernah memiliki keinginan untuk melamarnya, Naru. Kalian berdua sudah cukup umur dan kau sudah memiliki penghasilan. Kalian bahkan sudah tinggal bersama, jadi apalagi yang kau tunggu?"

Naruto menarik napas panjang dan melemparkan tatapan tajam kepada sang ayah. Ia tahu Minato memang selalu berkata to-the-point, tapi ia tidak mengira lelaki yang memiliki perawakan serupa dengannya itu akan melakukan hal yang sama pada pertanyaan serius semacam ini.

"Kurasa aku masih terlalu muda untuk menikah, tousan. Lagipula aku yakin chichi dan haha ingin aku menyelesaikan kuliahku dulu sebelum mengambil keputusan sebesar itu."

"Aku bisa membujuk Fugaku dan aku yakin Mikoto tidak akan keberatan," Minato mengibaskan tangan. "Kau ingin pernikahan kalian diadakan dimana, Sasuke? Kami tidak keberatan kalau kau ingin mengadakannya di Jepang, tapi di luar negeri juga bukan ide yang buruk."

"Mikoto memiliki selera yang bagus, jadi dia bisa membantuku merancang semuanya. Minato dan Fugaku bisa menyelesaikan hal penting sebelum kalian—"

Sasuke mengerjapkan mata dan mendongakkan kepala, menatap kekasihnya yang sudah berdiri di belakang kursinya sembari menutup kedua telinganya rapat-rapat. Ia sama sekali tidak berhasil mendengar apa yang dikatakan sang Uzumaki muda kepada calon mertuanya dan ia juga sama sekali tidak sempat bereaksi ketika Naruto memaksanya bangun untuk meninggalkan ruang makan.

"Kau tidak perlu memikirkan apa yang mereka katakan tadi, Teme. Kedua orang tuaku tidak pernah gagal menggodaku seperti itu," papar Naruto setelah mereka masuk ke dalam kamar yang dulu ditempati sang Uzumaki muda.

Sasuke mengangguk kecil dan tanpa ragu duduk di atas tempat tidur kekasihnya, sementara sepasang mata oniksnya menatap ruangan yang baru dua kali ia tapaki dengan teliti.

"Kalau aku tidak benar-benar mengenalmu, aku bisa mengira kalau kau tidak mau melamarku, Dobe. Tidak seharusnya kau lari dari percakapan semacam itu, kau tahu?"

"Kau tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita sampai mengikuti arah percakapan mereka, Teme," Naruto menggelengkan kepala dengan raut wajah datar.

Sasuke mendengus geli melihat respon yang diberikan si pemuda pirang. Pemilik marga Uchiha itu mengulurkan tangan dan meraih sebuah bantal sebelum memeluknya erat. Dengan tenang ia mengikuti semua gerak-gerik Naruto—bagaimana pemuda itu dengan tenang melangkah ke arah balkon kamar, bagaimana pemuda itu membuka pintunya, bagaimana senyum tenang terulas di bibirnya saat angin malam menyapanya, bagaimana—

Adik dari Uchiha Itachi itu menggelengkan kepala saat menyadari kalau apa yang ada di otaknya terdengar semakin mengerikan tiap detiknya. Ia bukan seorang stalker, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak terus memperhatikan pemuda yang berusia lebih tua darinya itu.

"Oi, Teme."

Naruto membalikkan tubuh dan bersandar di pagar balkon yang memiliki tinggi setara dengan pinggangnya. Ia mengangkat tangan dan memberikan isyarat agar Sasuke mendekat. Sasuke mengerlingkan mata karena ia sudah merasa nyaman di posisinya, tapi pada akhirnya ia tetap memenuhi permintaan si pemuda berkulit tan.

"Hn?"

Kadang Sasuke merasa kesal karena walaupun ia memiliki tubuh yang terhitung tinggi, pemuda yang kini berdiri di hadapannya ternyata lebih tinggi beberapa senti darinya. Ia tidak merasa terintimidasi dengan fakta itu, tentu saja, tapi ia selalu ingin menghela napas jika mereka berdua ada di posisi berhadapan seperti ini—karena ia harus sedikit mengangkat kepala agar pandangan mereka bisa bertemu.

Uchiha Sasuke masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia terlihat kecil di depan Uzumaki Naruto.

Naruto mengulaskan senyum, menyukai bagaimana sepasang mata beriris oniks milik Sasuke menatapnya lurus dan tenang. Ia mengulurkan tangan, mengusap puncak kepala mahasiswa di hadapannya sebelum menurukan sentuhan ke arah sisi wajahnya dan berakhir di pipi sang Uchiha.

Ia tahu Sasuke sedang berusaha keras untuk tidak menepis tangannya karena pemuda berkulit putih itu sangat tidak suka jika ia sudah mulai melakukan hal berbau romantis seperti ini. Ia tahu Sasuke tidak menyukai hal semacam ini bukan karena pemuda itu murni tidak menyukai hal-hal romantis, melainkan karena hal semacam ini menyadarkan posisinya dalam hubungan ini.

"Apa menurutmu kita harus mengikuti saran kedua orang tuaku untuk menikah, Teme?"

"Hn? Menurutmu?"

Naruto mengerlingkan mata mendengar bagaimana pertanyaan yang ia ajukan malah dilempar balik padanya. Ia menarik tangannya dan memilih untuk meletakkannya di sisi pinggang sang Uchiha.

"Menurutku..."

Sasuke menyipitkan mata, mengantisipasi apa yang akan dilakukan sang kekasih. Ia bisa merasakan Naruto menarik tubuhnya melingkarkan kedua lengan di pinggangnya. Kalau saja ia tidak benar-benar menyukai Naruto, Sasuke yakin ia pasti sudah menendang tulang kering pemuda ini.

Dengan refleks Sasuke meletakkan kedua tangannya di dada Naruto ketika wajah mereka semakin berdekatan.

"Dobe."

Sasuke meremas kerah kemeja yang dikenakan si pemuda pirang sekaligus menahan tubuh Naruto yang makin condong ke arahnya. Napasnya tiba-tiba terhenti dan tanpa ragu ia mendorong tubuh Naruto sebelum kemudian mengambil langkah mundur.

"It's nice to see you again, honey."

.

.

TBC

.

.

A/N: sebelumnya saya mau minta maaf karena sudah terlambat meng-update fic ini (#bow). Saya juga ingin memberitahu kalau mulai minggu depan saya mungkin tidak memiliki jadwal tetap untuk meng-update. Tugas akhir sudah di depan mata dan saya harus mengesampingkan fic ini untuk sementara waktu. Hontou ni gomenasai, minna.

.

.

Review Reply:

.

.

Riza: yep! Jawabannya ada di chapter ini kok ^^