Ahhh siapa yang mengira bahwa Fairy Tail sebentar lagi tamat dan lagipula tinggal delapan chapter lagi jadi kalau menurut perhitunganku dua bulan lagi tuh manga berakhir yah yang nunggu animenya siapa? (Ahh siapapun boleh).
Dan oh ya aku dengar ada sebuah Manga baru tapi, baru saja berjalan beberapa chapter tiba-tiba saja sudah tamat hmm sepertinya rating dan minat yang mempengaruhi sebuah Manga bisa di lanjutkan atau tidak.
Maka dari itu biasanya Mangaka membuat cerita rumit dan kesan yang bagus yah walaupun semua ide dari otak mangakanya sendiri intinya semua itu tergantung minat yang baca saja.
Yah ya sudahlah manga tersisa one piece yang keliatannya masih bertahun-tahyn untuk mengakhiri itu yang penuh kontrovessial di setiap konflik yang terjadi.
Oke sekian dariku
Aye sir!
.
...
.
"BANKAI!"
"KOKUOH TENGEN MYOHOU : DANGAI JOE!"
Natsu di saat genting biasanya akan melakukan sebuah keajaiban yang tak terduga bahka, setiap musuh yang pernah di hadapinya pastinya menunjukan ekspresi wajah ketakutan mereka.
Dan sekarang kejadian itu terjadi lagi Natsu saat ini terdesak dan serba salah karena menyerang dia terluka dan di serang dia juga terluka maka di saat terakhir dia mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Satu kata Bankai cukup mengerikan di mana itu jati diri kekuatan Zanpakutou sesungguhnya milik Natsu yang mengeluarkan pancaran dahsyat.
Wujud bankainya bukan api, bukan petir, ataupun angin melainkan wujud manusia raksasa, dengan wajah seperti tengkorak, dengan tanduk, dan dia memegang sebuah pedang, tubuhnya putih dan tali mengelilingi tubuhnya, dan kumis mata berwarna putih.
"Apapun yang kau lakukan itu takkan mungkin berhasil" Jackal menyombongkan dirinya.
"Benarkah? Sebaiknya jangan berfikir seperti itu malah, ucapanmu nanti akan jadi boomerang bagimu" Natsu tampak santai.
Wushhh!
Kesalahan Jackal karena meremehkan mahluk ciptaan Natsu bergerak cepat ke arah Jackal dan mengayunkan pedangnya beruntung Espada itu terbang menghindarinya.
Jackal menembakan ke bola api ke Mahluk itu tapi, beberapa saat serangan Jackal terhisap ke dalam tubuh mahluk itu dan mahluk tadi langsung ke arah Jackal dan langsung meninjunya.
"Ghh! Sialan! Bagaimana bisa tidak meledak dan melukainya" umpat Jackal kesal.
"Tampaknya kau harus mendengarkan apa yang kujelaskan!" Natsu menyeringai.
Sementara dua orang yang melihat pertarungan itu tampak terkejut karena melihat wujud raksasa yang di buat Natsu bahkan membuat Jackal terpojok.
"Uhh monster apa itu?" tanya Juvia ketakutan.
"Ini milik Natsu jadi, tenang saja" Seilah tampak kalem
Mahluk tadi kini mengejar Jackal sang Espada tadi bergerak ke sana kemari dia menghindari setiap serangan yang di lancarkan, di lain sisi Natsu tak ikut bergerak dan diam di tempat.
Jackal menembakan bola-bola api ke arah mahluk itu tapi, sama seperti yang tadi serangannya tak meledak bahkan hanya terserap saja tak terjadi apapun.
"Yah, biar kujelaskan dulu meledak dan menjadi meledak itu memang mengerikan, tehknikmu itu menciptakan Reaitsu di sekelilingmu hingga membentuk sebuah ledakan tapi, jika itu ada sebuah kehidupan di dalamnya" ucap Natsu.
"Grr! Memang bagaimana kau bisa tau sedetail itu" Jackal menggerutu kesal.
"Mudah pada saat kau menghajarku dan juga aku menahan seranganmu dengan pedang mereka meledak tapi, pada saat kau meninju tanah atau udara tak terjadi apapun intinya seranganmu itu bereaksi pada yang memiliki Jiwa" jawab Natsu
Monster tadi di belakang Jackal dan menghempaskan tinjuannya dengan sekuat tenaga.
Duarrr!
Guhh!
"Kau tau wujud yang kau Hadapi dulunya memiliki Armor yang di sebut Tengen Myouhou yang tapi, sekarang itu adalah wujud aslinya yang di sebut Dangai Joe" ucap Natsu.
Sebelum Natsu berbicara lagi Jackal langsung menembakan beribu tembakan bola api tapi, tak lama Natsu tak bergeming dari tempatnya bahkan tak tergores sedikitpun.
"Dengarkan dulu bodoh! Tengen Myohou adalah sebuah armor di mana memberikan kehidupan di dalam dan Dangai Joe hanya sebuah cangkangnya saja itulah mengapa seranganmu terserap saja" balas Natsu.
Jackal membuat pilar api di sekeliling Natsu dan meledakannya tapi, seperti yang telah terjadi serangannya tak melukai Natsu sedikitpun.
"Jika aku menyerang pemiliknya maka ceritanya lain tapi, ini kenapa" Jackal terlihat frustasi.
"Dengar Dangai Joe wujud yang tak memiliki jiwa, sedangkan tehknikmu berkutat yang memiliki Jiwa pada saat aku mengeluarkan tehknik maka aku dan wujud itu menyatu mudahnya, aku tak bisa di bunuh" jawab Natsu.
Wussshhh!
Jlashhh!
Duarrrr!
Jackal yang lengah, mahluk buatan Natsu tadi langsung menebaskan pedangnya hingga mengenainya telak dan meledak wujud Jackal kembali normal dan terhempas jauh.
"Akhirnya kekuatan ini membuat Reaitsuku terkuras habis" Natsu hanya menghela nafas Monster di belakangnya perlahan menghilang.
"Natsu berhasil mengalahkannya" Juvia yang sangat senang.
"Yah dinding yang menghalangi juga perlahan menghilang" Seilah mengangguk.
Mereka berdua kini menghampiri Natsu yang tengah duduk.
"Kau tidak apa-apa? Sini biar Juvia obati" Juvia mengeluarkan kekuatan penyembuh.
"Tak usah" Natsu menolaknya halus "aku tak terlalu sakit dan aku baru tau kau bisa tehknik penyembuhan"
"Yah, Juvia memang memilikinya maaf, jika Juvia merahasiakannnya" Juvia menatap ke arah lain.
"Tak apa" Natsu mengelus kepala dan Wanita itu kembali tenang.
"!"
Radar Natsu dan Seilah bereaksi cepat mereka berdua menoleh dan melihat Jackal yang rada sulit berdiri dan hampir penuh banyak luka sana-sini.
"Hehehe kau terkejut!" Jackal tubuhnya bercahaya "setelah kau mengalahkanku ada satu hal yang kau belum ketahui tentang diriku"
"Natsu lari!" perintah Seilah dia menyadari sesuatu.
"Kenapa?" tanya Natsu balik.
"Dia akan meledak cepat pergi!" Seilah terlihat gusar.
"Terlambat!"
Boooooommmmm!
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Sementara keadaan di kota itu tampak hancur tak ada satupun aktifitas di sana dan juga tak ada tanda-tanda Hollow biasa berkeliaran di mana-mana bahkan orang-orang yang mengatasi para Hollow ini tak ada, kondisi sedikit sepi dan ada juga orang-orang tapi, mereka tak sadar.
Sementara kelompok yang berasal dari Huenco Mundo kini sudah tiba mereka semua berpencar masing-masing mencari orang-orang yang ada tapi, tampaknya itu tak mudah.
Seorang Gadis berambut hijau dia melangkahkan kakinya kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri dia khawatir karena keberadaan ibunya masih samar-samar.
"Ibu kau di mana?" Brandish memejamkan matanya dan merasakan Reaitsu ibunya tapi, nihil.
Tapi, pada saat Brandish ingin bergerak dia melihat seseoramg tergeletak dengan rambut putih panjang dengan banyak luka dan itu Mirajane.
"Hei! Hei! Mira apa yang terjadi di sini bisa kau jelaskan" Brandish memapahnya duduk.
"Ughh! Kau Brandish" Mirajane membuka matanya "aku tak tau tapi, tiba-tiba saja aku melihat cahaya dan tiba-tiba meledak"
"Apa kau melihat ibuku?" tanya Brandish.
"Ibumu? Hmmm!" Mirajane mencoba mengingat sesuatu "yang terakhir kulihat dia tengah bertarung dengan mahluk berlengan empat"
"Ahh baiklah sebaiknya kau istirahat dulu jangan bergerak" usul Brandish.
"Tidak, aku harus mencari adikku aku sedikit khawatir" Mirajane mencoba berdiri tapi, kembali ambruk.
"Istirahatlah dulu setelah baikan kau cari mereka" Brandish menyandarkan tubuh Mirajane "aku pergi dulu untuk mencari ibuku"
"Baik!"
.
.
.
.
.
Wanita berambut Scarlet melangkah kakinya perlahan dia memang sedang mencari sesuatu tapi, karena dia bukanlah seorang DragonSlayer yang mudah mencari seseorang dengan mencium baunya saja jadi, dia hanya sedikit demi sedikit mencarinya.
Sebenarnya akan sangat riskan jika mencari seperti ini karena, bisa saja musuh menyerang kapanpun terjadi dan jika mencari secara terang-terangan akan lebih beresiko mengundang musuh datang karena, dia belum sepenuhnya tau apa yang sebenarnya terjadi.
Ada dua hal yang Irene khawatirkan saat ini yaitu anaknya sendiri Erza dan muridnya sendiri alias seseorang di hatinya Natsu entah kenapa akhir-akhir ini dia menunjukan perasaannya walaupun, masih belum secara terang-terangan.
Sebenarnya banyak bilang bahwa hubungan Guru dan Murid adalah sesuatu yang buruk tapi, dia menepis tanggapan itu bahwa meskipun buruk tapi, yang buruk bisa saja bagus untuknya malah sebaliknya.
"Sedang mencari sesuatu Nona?"
Irene menoleh ke asal suara dan melihat bayangan berdiri di atas sebuah rumah yang sedikit rusak Irene tau siapa ini karena, dia pernah bertemu dengannya sekali dan juga orang yang membuatnya terluka parah.
"Wah! Wah! Aku tak menyadari kau di situ tapi, maaf aku tak ada urusan denganmu" Irene hanya tampak santai meskipun dia tau bakal melawannya.
"Sayang sekali bahwa aku ada urusan denganmu dan kau datang tak di undang" Wanita itu tak bergerak dari posisinya.
"Begitu tapi, Maaf bisa kau beritau apa yang sebenarnya terjadi?" Irene mengangkat alisnya.
"Baiklah jika kau penasaran tapi, sebelum itu namaku Kyouka jika kau ingin tau cari saja sendiri" Kyouka bergerak turun.
"Hmmm begitu yah tampaknya aku harus memaksamu" Irene dengan aura merah di sekitarnya.
"Menarik sekali sebisa apa kau memaksaku" Kyouka tersenyum.
"Sebisa yang telah kau lakukan padaku" Irene matanya melotot.
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Menyebalkan mungkin bisa di katakan yang tepat bagi pemuda pirang ini ada sebab dia bisa mengumpat dan gerutu tak jelas karena, dia pikir saat ini dia akan beristirahat setelah ini tapi, pasalnya tidak dia harus terus mencari sesuatu yang orang hebat pun takkan bisa.
"Ghh sebenarnya ini kenapa sih!" gerutu Laxus kesal
Tapi, selama berjalan dia menemukan temannya yang tergeletak seorang wanita berambut coklat memakai kacamata.
"Oi! Ever! Ada apa sebenarnya dan di mana yang lain?" Laxus menguncang-guncang tubuh wanita itu.
"Laxus? Larilah hindari yang beracun uhuk!" Evergreen terbatuk.
"Oi! Apa maksudnya itu?" tanya Laxus tapi, tak ada jawaban lagi dari temannya ini.
Saat ini jika di lihat kondisi temannya sangat parah hingga membuatnya pingsan seperti menghirup sebuah gas dan itu membuat Laxus kesal sebelum dia beranjak ada bayangan yang mendekati dirinya.
"Siapa kau!" Laxus menyipitkan matanya.
"Nama tidaklah penting yang terpenting sedang apa kau" tanya orang itu.
"Karena kau tak menjawab berarti, pertanyaanmu itu tidaklah terlalu penting bagiku" Laxus menyilangkan tangannya.
Wujud di depannya ini manusia tegap dan tinggi seperti dirinya rambutnya putih, kulitnya hitam jika di lihat dari dekat malah terlihat seperti anjing.
"Maaf tapi, takkan kubiarkan kau bertindak lebih jauh" ucap orang itu.
"Ya ampun! Tampaknya aku bisa melampiaskan kekesalanku karena, telah mengacau dan mengangguku" Laxua aura di tubuhnya petir berwarna merah.
.
.
.
.
.
"Huh? Apa ini?"
Ultear berguman kali ini dia berada di sebuah ruangan yang cukup aneh tak terlalu besar, dan juga tak terlalu kecil dan di dalamnya hanya ada sebuah proyektor yang tampaknya berisi sebuah video.
Klik!
Ultear memencet tombol itu dan menembakan cahaya itu dan melihat sebuah video yang hanya menampakan sebuah Gambaran tak ada suara apapun.
Menampakan di gambar itu sebuah cahaya yang putih timbul berasal dari langit dan jatuh ke bawah dan menimbulkan ledakan besar dengan radius yang bisa di katakan sangat luas dan hanya ada tulisan di sana.
'MUGEN TSUKUKOBE'
Tampaknya itu hanya sebuah tehknik tapi, jika di lihat itu sangat berbahaya mengingat daya efek yang sangat besar bahkan ada sebuah kata yang tak terbatas artinya sebuah tehknik yang tak terbatas.
"Kau menemukan sesuatu?"
Ibunya kini hanya bersandar di tembok tampaknya dia juga memperhatikan sebuah proyeksi itu sedari tadi hanya saja dia belum sadar.
"Yah ini sih walau aku tak tau artinya apa" jawab Ultear
"Tehknik tak terasa familiar bagiku" Ur memiringkan kepalanya dia pernah mendengar nama itu tapi, entah di mana.
Kring! Kring! Kring! Kring!
Bunyi yang lebih mirip dengan bel sepeda Ur pasang badan melindungi anaknya dan melihat seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Tampaknya kalian mengetahuinya walaupun tak tau maksud tujuannya"
Wujudnya sangat aneh bukan manusia namun, kelakuannya saja yang sama, wajahnya seperti tengkorak, mengenakan topi yang lucu, dan jubah panjang yang menutup seluruh tubuhnya, dia memegang sebuah tongkat yang mirip Gudoudama di sebuah manga ninja.
"Apa maksudnya itu" Ur mengangkat sebelah alisnya
"Meskipun kujelaskan versi pendek kau takkan tetap mengerti" jawab orang itu pelan.
"Yah lagipula aku tak tertarik tapi, kau kemari bukan hanya untuk memberi tau saja bukan?" tanya Ur.
"Pemikiran yang cepat tapi, memang benar aku ke sini bukan hanya itu saja" orang itu hanya mengangguk.
"Ul pergilah ibu yang akan mengurusnya" Ur menyuruh anaknya pergi.
"Tidak mau" protes Ultear.
"Baiklah kau mundur saja biar ibu yang urus"
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
"Kau ini!"
Ini terjadi setelah dia berpencar dan mencari yang lain harusnya dia dengan mudah menemukan mereka oleh indra penciumannya tapi, entah kenapa cara itu tak bekerja sama sekali.
Mungkin saja ada sebuah sihir yang bisa mengekang aroma di udara karena, dasarnya pada saat di Huenco Mundo penciumannya normal tapi, pada saat kemari kalau diibaratkan seperti komputer sudah Blang atau ngehang.
Dan akhirnya dia mencari dengan cara normal yaitu menelusuri jalan secara perlahan walaupun merepotkan baginya.
"Huh? Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami" Gajeel kesal karena hidungnya tak berguna tapi, setidaknya telinganya masih berfungsi dengan baik.
Dia juga sama yang lain mencari seseorang tapi, semenjak dia menginjak kakinya di sini dirinya tak bisa merasakan keberadaan orang hidup maksud di sini orang hidup yaitu orang yang masih sadar entah, apa tehknik yang di buat musuh hingga memporak-porandakan Negeri itu dalam sekejap.
"Tch! Levy di mana lagi? Hadeh! Badannya yang kecil itu menyulitkanku mencarinya" gerutu Gajeel tapi, dia tak sadar terus berjalan dan tak memperhatikan sekitar.
Booommm!
Serangan dadakan dari arah lain telinga Gajeel yang sangat peka hingga dia dengan mudah menghindarinya tapi, dia juga pasang kuda-kuda bertarung.
"Gehehe! Siapa sangka yang muncul orang yang tak ku suka" Gajeel menyeringai dia memasang wajah waspada
"Halo maaf mengganggumu manusia rendahan"
Figure ini cukup unik tubuh besar dan berotot, kakinya kecil, tubuhnya di penuhi sisik, tangan kakinya seperti kaki bebek, kepalanya seperti sirip ikan arwarna berwarna hitam.
"Tch tak kusangka yang datang ternyata ikan Koi" Gajeel meledeknya.
"Sebaiknya kau jaga mulutmu jika, tak mau habis"
"Aku malah ingin tau!"
.
.
.
.
Kini Brandish berlari cepat dia merasakan Reaitsu milik ibunya yang kembali Stabil sempat sebelummya pada saat bertemu Mirajane Reaitsu ibunya meningkat pesat dengan cepat dia berlari namun, tak lama Reaitsunya kembali normal.
Bagi Brandish menurutnya yang paling mudah mencari seseorang ialah ibunya dan Natsu alasannya karena mereka keluarga tentu saja Reaitsu mereka saling terhubung dan Natsu sendiri sudah sangat jelas bahkan pancaran Reaitsunya sangat besar meski, tak di lepaskan yah, tak heran jika itu memudahkan menemukannya.
"Sungguh beruntung aku menemukan Quincy lain kupikir ras itu sudah punah"
Muncul suara lain di balik bangunan Brandish siap dalam posisi bertarungannya atau dalam mode Quincynya jika, yang di ucapkan orang itu berarti, yang di katakan Mirajane benar bahwa, orang ini yang melawan ibunya.
"Ara! Tampaknya aku kedatangan seseorang" Brandish membalasnya kalem "jika kau bicara sesuatu seperti maka, kau bertemu ibuku?"
"Hmm wanita berambut hijau? Tampaknya kalian berdua memang ibu dan anak" irang itu hanya menyeringai "jika kau mencarinya aku tak tau yang jelas waktu aku bertarung dengannya dia menghilang"
'Jadi begitu ibu saat ini tengah sembunyi' batin Brandish tersenyum
Wujud yang Brandish hadapi tidak normal memang benar mirip Hollow, tubuhnya tinggi besar, dan sesuai yang Mirajane katakan dia memiliki empat tangan, dia tak melihat lubang di manapun tapi, satu hal yang pasti dia berhadapan dengan salah satu Arrancar terbukti auranya sama seperti yang waktu Natsu lawan di jalan dalam, menyelamatkan Mirajane.
"Ya ampun tampaknya aku harus mengalahkanmu lebih dulu supaya mendapat jawabannya" Brandish membuat busur panah.
"Yah, kemarilah! Aku ingin tau sebisa apa kau melakukannya"
.
.
Xxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxx
.
.
Kembali ke tempat di mana Natsu berada setelah pertarungannya dia menang tapi, ada sesuatu yang mengejutkan baginya karena, Jackal tiba-tiba saja setelah kalah dia meledakan dirinya sendiri.
Natsu yang tak mengetahuinya sangat shock karena, yang Seilah katakan jangkauannya sangat besar dan asap perlahan menghilang bekas ledakan tadi.
"Sebenarnya ini kenapa" Natsu tengah membackup Juvia
Dia juga bingung seharusnya ledakan itu melukainya dengan jelas tapi, entah kenapa ada sesuatu yang terjadi ketika Seilah berteriak dan ketika menghadap kedepan betapa terkejutnya dia.
"Seilah?"
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Hohohoho selesai juga seperti biasa hmm kenapa dengan Seilah dan apa yang terjadi dengan semua orang yah beberapa dari mereka pingsan dan tak sadarkan diri.
Kenapa para Espada terlihat biasa saja dan kemana pemimpinannya? Seperti biasa tetap Stay yah.
.
Pm
.
RnR
