PAIR : YUNJAE gs dll sebagai pendukung
WARNING : cerita ini dari NOVEL berjudul
THE PROPOSITION
(The Propotition #1)
By
KATIE ASHLEY …
ini asli kopy paste dan replace untuk nama tokoh (yang berubah nama pemeran) ,,, …. Entah ada nya perubahan tidak nya tergantung Mood ….. toh saya tidak bias mengarang … jd sepertinya tidak ada perubahan ..
YANG TIDAK SUKA TAK USAH BACA OKE !
Bab 34
"Saya ingin mengucapkan terima kasih pada semuanya untuk bersedia pulang terlambat. Saya senang bagaimana segala sesuatunya menjadi lebih baik, dan saya berharap untuk keberhasilan kerja sama ini."
Segera setelah CEO keluar dari ruang rapat, Yunho mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Melirik pada jamnya, ia menyeringai. Tidak ada cara untuknya agar bisa melintasi jalanan untuk memenuhi janji pada Jaejoong. Rasa malu menggema melalui dirinya ketika dia merasa lega atas hilangnya momen menemani Jaejoong USG. Mengkonfirmasi jenis kelamin bayi yang akan lahir nanti membuat semuanya lebih nyata. Melonggarkan dasinya, ia melawan perasaan seperti mencekiknya yang terus menghantui dirinya. Tangannya merinding lagi, dan ingatannya kembali lagi ketika di dermaga ia merasakan bayinya bergerak dengan Jaejoong.
Dia menggosok jari-jarinya di bawah kerah bajunya ketika seseorang berdeham. Dia mendongak dan menemukan ruang rapat kosong kecuali si brunette (rambut cokelat) berpayudara besar karyawan baru di departemennya.
"Saya pikir kita belum berkenalan sebelumnya," kata si brunette dengan sebuah senyum mengundang. "Saya Go Ahra."
Dia mengulurkan tangannya. "Jung Yunho."
"Oh, saya tahu siapa anda," jawab Ahra, membiarkan dirinya berlama-lama berjabatan tangan dengan Yunho sedikit lebih lama daripada yang seharusnya. "Anda memiliki cukup reputasi disini."
Yunho melengkungkan alisnya. "Benarkah?"
Dia mengangguk. "Baik dari dalam maupun di luar ruang rapat."
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yunho benar-benar tidak kompeten bagaimana menangani rayuan seorang wanita. Biasanya, dialah yang akan mengambil inisiatif pada saat ada wanita yang tetap tinggal sendirian dengan dia. Tapi sekarang dia sepenuhnya kehilangan kata-kata.
Ahra memiringkan kepalanya ke kanan dan tersenyum malu-malu. "Anda tahu saya baru datang di Atlanta ini, jadi saya belum mengenal banyak orang. Apakah anda mau minum dengan saya?"
Detak jantung Yunho melaju kencang saat beban pertanyaan Ahra seakan jatuh menimpa dirinya. Hati dan pikirannya berjuang melawan satu sama lain. Hal ini seperti mengirim darahnya untuk dipompa lebih keras dan lebih keras lagi mengalir di pembuluh darahnya sampai bunyinya berdebar seakan telinganya mendengar kelompok musisi yang memainkan alat musik terbuat dari kuningan.
Yunho sudah pernah mengalami berkali-kali kejadian seperti ini sebelumnya. Dia tahu persis apa maksud dari sindiran Ahra, dan itu bukan hanya sekedar pergi minum setelah lelah bekerja yang tidak berbahaya.
Yunho hampir bisa merasakan kebutuhan yang terpancar dari tubuh Ahra. Jika dia memulainya, Ahra mungkin tidak akan keberatan kalau dia menyetubuhinya tepat diatas meja rapat.
Gagasan untuk mendorong roknya keatas, merobek celana dalamnya dan melahapnya seperti mengirimkan putaran di bawah pinggangnya.
Kemudian gambaran Jaejoong sedang duduk di dermaga kakek- neneknya, tangannya dengan lembut membelai perut yang berisi anaknya, terlintas di depan matanya. Jaejoong mencintainya, dan jauh di lubuk hati, ia mencintai Jaejoong. Dia seharusnya tidak mengambil tawaran Ahra. Tidak, ia tidak boleh mengambil tawaran Ahra.
Tapi kemudian pengaruh dari hubungan itu seakan mencekiknya dan menjadi seorang ayah sekali lagi telah menekan dirinya. Dia tidak pernah meminta untuk hal itu. Yang ia inginkan adalah pada akhirnya ia bisa mengajak Jaejoong ke tempat tidur kemudian melanjutkan hidup seperti yang selalu ia lakukan. Ia mengertakkan giginya. Damn, Jaejoong, karena membuat Yunho menginginkan lebih dengan dia...karena membuatnya jatuh cinta pada Jaejoong.
Tidak, ia tidak akan menenggelamkan dirinya sendiri dalam perasaannya untuk Jaejoong. Ia akan keluar sekarang selagi masih bisa.
"Ada O'Malley di seberang jalan," katanya parau.
"Kedengarannya bagus," jawab Ahra, suaranya serak seperti mendengkur.
Ketika ia mulai berjalan memutari sisi meja, Yunho menemukan dirinya berdiri tidak bisa bergerak di atas lantai. Otaknya berteriak pada telapak dan tungkai kakinya untuk bergerak melangkah, tapi mereka menolak. Seolah-olah mereka berutang kesetiaan yang aneh untuk hatinya dan Jaejoong. Melihat ekspresi kebingungan Ahra, ia memaksa wajahnya tersenyum. "Maaf, duduk sehabis meeting selalu membuatku sedikit kaku."
"Di satu tempat itu bukan menjadi suatu masalah," jawabnya, sambil cekikikan.
Yunho tertawa mendengar sindirannya sementara telapak dan tungkai kakinya akhirnya mau melangkah. Dia meraih tas kerjanya dan mulai keluar dari pintu ruang rapat dengan Ahra.
Meskipun Ahra berbicara tanpa berhenti di lift selama turun, Yunho tidak mendengarnya. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya pada point tertentu atau tersenyum, dan tampaknya hal itu cukup untuk menenangkan diri Ahra. Yang bisa ia lakukan adalah fokus pada apa yang ingin ia capai. Dia harus membersihkan Jaejoong dari sistem tubuhnya, dan jika dibutuhkan harus menyetubuhi Ahra, maka ia akan melakukannya.
Dia menahan pintu terbuka untuk Ahra saat mereka memasuki O'Malley. Dia meringis saat melihat Heechul di belakang meja penerima tamu. Saat melihat Yunho matanya menyala. Wajahnya mulai membentuk senyum lebar, tapi kemudian ia melihat Ahra.
Ekspresinya segera menjadi gelap, dan kemarahan melintas di mata birunya yang biasanya menyejukkan.
Yunho berdeham. "Kami membutuhkan sebuah bilik, Heechul."
Dia menggelengkan kepalanya dengan marah, menyebabkan ekor kuda pirangnya bergerak kekanan kekiri. "Maaf, tampaknya tempat kami penuh malam ini."
Memandang ke balik tubuh Heechul, Yunho melihat setengah bar kosong dan mengalihkan pandangannya tertuju kembali pada diri Heechul. "Aku melihat sepertinya kau memiliki banyak ruang."
"Tidak, maaf kami tidak bisa. Kurasa kau dan temanmu harus mencari tempat lain."
Bunyi sepatu high heels Ahra terdengar saat berjalan menuju Heechul dan Yunho bertaruh mungkin harganya lebih dari gaji Heechul dalam seminggu. Dia menahan napasnya saat Ahra mencurigai Heechul. Kemudian bibir merahnya yang penuh melengkung membentuk senyuman licik seperti seekor kucing. "Tampaknya seseorang agak cemburu kita disini bersama-sama, Yunho. Apa yang terjadi, sayang? Apa kau salah satu penggemar yang ditolak Yunho atau mantan *one night stands-nya?" Ahra menempatkan kuku akrilik-nya ke atas punggung Yunho, menyebabkannya bergidik.
"Aku senang bertemu denganmu yang memiliki reputasi sebagai bad boy. Aku bisa menjamin akan menjadi malam yang menarik sekarang."
Heechul menyemburkan sesuatu di bawah napasnya yang tidak dipahami oleh Yunho. Ahra melemparkan satu lirikan angkuh terakhir pada Heechul sebelum berkata, "Aku akan menunggumu di luar. Aku yakin kau punya lemari minuman yang sudah terisi di rumahmu. Kita tidak perlu membuang-buang waktu di sini."
Ketika Ahra menjauh, alis Heechul terangkat begitu tinggi sampai menghilang ke garis rambutnya. "Di mana Jaejoong? Mungkin lebih tepatnya, apa sih yang kamu lakukan dengannya?
Yunho menyipitkan matanya. "Sebetulnya, itu bukan urusan sialanmu!"
"Well, aku minta maaf, tapi ketika seorang temanku benar-benar akan mengacaukan hidupnya, aku membuat hal itu menjadi urasanku!" Balas Heechul.
Suara menggeram keluar dari dalam tenggorokan Yunho. "Aku tidak butuh omong kosong ini darimu."
Kesedihan terlihat jelas pada ekspresi Heechul. "Aku mohon padamu, Yunho. Jangan lakukan ini. Aku belum pernah melihatmu bahagia sejak kau datang kemari dengan Jaejoong. Pengaruhnya begitu baik untukmu, Tidakkah kau merasakan hal itu?" Ketika Yunho mulai melangkah menjauh, Heechul meraih lengannya. "Sebelum kau pulang dengan pelacur itu untuk melampiaskan seks tanpa berpikir dan sia-sia ini dalam satu malam, berpikirlah dua kali tentang apa yang kau miliki dengan Jaejoong, dan jangan menghancurkan hatinya...dan hatimu."
Yunho menatap kearah tatapan memohon Heechul sebelum melepaskan tangannya dari tangan Heechul. Tanpa banyak bicara, ia bergegas melewati pintu dan keluar ke samping Ahra.
…
Setelah Ahra mengikutinya pulang, Yunho keluar dari mobil. Dia baru saja menutup pintu ketika Ahra melemparkan diri padanya, menjepit Yunho ke mobil. Pikirannya langsung mengingat kembali kejadian saat ciuman pertama Jaejoong di tempat parkir yang suram.
Rasa sakit meluncur masuk kedalam dadanya.
Yunho menarik Ahra mendekat, ia mencoba untuk membuat dirinya lupa. Lidah Ahra menyapu ke dalam mulutnya saat jari- jarinya menuju rambut Yunho. Bibir Ahra kasar, dan tidak memiliki kelembutan seperti dia dengan Jaejoong. Yunho menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan setiap pikirannya pada Jaejoong.
Merasakan reaksi Yunho, Ahra melepas ciuman mereka, menarik- narik bibir bawah Yunho di antara giginya. "Bawa aku ke dalam dan setubuhi aku sampai aku menjerit!"
Dia tertawa mendengar keterusterangan Ahra. "Kurasa aku bias melakukan itu."
Sudah lama sekali ia tidak berhubungan dengan wanita yang banyak menuntut. Yunho hampir tidak bisa berbuat sesuatu di jalan depan rumahnya dengan Ahra yang sedang menjalankan tangannya di atas miliknya sekaligus menggosokkan pinggulnya terhadap diri Yunho. "Aku memiliki tetangga usil, tahu," kata Yunho, saat tangan Ahra membelai pantatnya.
"Ooh, seorang penonton, huh? Itu kelainan."
Yunho menatap Ahra. "Kau gadis yang nakal, bukan?"
Dia terkikik. "Oh ya."
Ketika mereka sudah di dalam, Yunho menendang pintu depan di belakangnya supaya menutup. Ahra memeluk lehernya, menggosok-gosokkan pinggulnya ke pangkal paha Yunho. Biasanya, ia sudah dalam keadaan setengah mengeras, tapi tidak ada tanda yang mendebarkan di bawah pinggangnya. "Tunjukkan payudaramu," katanya, dengan suara yang tidak dia percayai itu adalah miliknya. Ia mencoba mengabaikan perutnya yang bergolak.
Dengan senyum menurut, Ahra menarik bajunya ke atas kepalanya. Tangan Yunho segera menuju payudaranya. Setelah meremasnya melalui bra-nya, payudara implant ukuran Double D Ahra tidak meningkatkan gairahnya atau merasakan sensasi yang sama saat tangannya merasakan payudara alami Jaejoong. Dia memejamkan matanya. Berhenti berpikir tentang Jaejoong, sialan!
Meraih pinggang Ahra, ia menyeretnya ke sofa. Dia menghempaskan dirinya dan merenggut Ahra mengangkang di pangkuannya. Dia membawa mulutnya ke mulut Ahra, begitu putus asanya ingin merasakan sesuatu pada Ahra dan bukan Jaejoong. Setelah Yunho membuka kancing kemejanya, Ahra menjalankan kukunya menuruni dadanya. Sambil bergoyang diatas Yunho, dia mengerang di bibir Yunho. Ahra mendekati orgasme hanya dengan menggosok-gosokkan ke dirinya, dan dia belum merasakan apa-apa.
Tidak, hal ini sama sekali tidak benar. Segala sesuatu yang pernah ia rasakan untuk Jaejoong berdenyut melalui dirinya. Tawanya, senyum malu-malunya, tawa cekikikannya- semua telah membanjiri pikirannya. Jaejoong mungkin juga telah berada di ruangan dengan mereka. Dia bisa merasakan tubuh Jaejoong disekelilingnya.
Hidungnya tersengat oleh wangi parfum Jaejoong sementara tubuhnya terasa sakit ingin merasakan bentuk tubuh dan kulit halus Jaejoong di bagian bawah tubuhnya.
Ketika dia memberanikan dirinya untuk melihat Ahra lagi, akhirnya dia merasakan sesuatu. Rasa yang begitu jijik. Bagaimana mungkin ia telah sampai pada titik ini? Apa yang mungkin merasukinya sampai ia berpikir membawa Ahra ke rumah adalah ide yang bagus? Memerangi kemarahan yang meningkat di tenggorokannya, ia mulai mendorong Ahra dari pangkuannya.
Pada saat yang sama, tangan Ahra ke selangkangannya. Ketika ia menemukan kurangnya gairah pada diri Yunho, ia menyentakkan bibirnya pada bibir Yunho. "Um, apa yang terjadi?"
Dengan gemetar ia menyapukan satu tangannya melalui rambutnya, dia mendesah. "Aku tidak bisa melakukan ini."
Ahra memiringkan kepalanya ke arah Yunho." Apa kau memiliki beberapa masalah impotensi atau sesuatu?"
"Aku harap begitu."
"Apa sih artinya itu?"
Artinya kau harus pergi sekarang. Artinya aku membuat kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku mencintai Jaejoong, dan aku tidak bias melakukan hal ini padanya. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar minta maaf, Ahra."
"Ah, jangan malu, sayang. Kita bisa membicarakan masalah ini."
Dia memberinya senyum menggoda. "Aku bisa menyelesaikan hal ini."
…
*one night-stand: berhubungan intim hanya untuk satu malam
ga nyangka ya udh hampir tamat kekekkeke
Akankah yunho dan jaejoong bersama dan bahagia
atau mereka kan berpisahhh ?
hahahaahha
terimakasih juga buat yang udh mau baca . . sama yang udh ninggalin jrjak ..
sekali lagi terimakasih
