THE ANOTHER BLACK

Disclaimer: all part you can recognized from Twilight universe belong to Stephenie Meyer…

.


.

Tiga puluh lima - Sumpah (Kamping -8-)

Tuesday, January 22, 2013

5:47 PM

.


.

Bagaimana mungkin Korra bisa hilang?! geram Jacob marah seraya menghela kakinya buru-buru menuju kemah. Ia baru saja mendengar suara lolongan Collin dan sesaat kemudian mengangkat tembok mental yang memisahkan pikirannya dan Seth dari anak buahnya selama pertemuannya dengan kawanan lain itu.

Kami tidak tahu. Kami terjebak dalam pertarungan di cadas kemudian mendengar teriakan Billy. Begitu aku kembali mengecek tenda, Korra sudah tidak ada, jawab Adam. Jelas ia juga tidak memahami situasinya kini.

Billy? Bagaimana Billy?

Ia tidak apa-apa. Serigala emas itu membantu kami melindunginya.

Lalu apa si serigala emas itu sadar waktu Korra pergi? Apa dia membiarkan Korra pergi?

Bagaimana mungkin kami bisa bertanya padanya? Yang benar saja, Jake!

Jacob menggeram marah.

"Alfa!" teriaknya, memaksakan koneksi pada si Alfa putih. "Aku butuh keterangan dari anak buahmu! Apa ia melepaskan salah satu manusia sewaktu ia bertempur dengan para vampir di sini?"

"Wow, tenang, Alfa..." terdengar suara kalem si Putih seperti biasa. "Kami tidak tahu jika Anda menawan manusia di mana pun."

"Dia bukan tawanan! Dia..." Jacob terhenti di ujung kata 'dia adikku'. Tentu saja ia tidak boleh membocorkan identitas keluarganya pada Alfa kawanan lain yang jelas-jelas tidak bisa dipercaya.

"Anak buahku hanya membantu anak buahmu yang sepertinya sedang kerepotan menghalau serangan vampir, Alfa. Sungguh kami bahkan tidak tahu apa kepentingan anak buahmu ada di sana," jelas si Alfa. Ya, Jacob tahu. Hilangnya Korra bahkan sama sekali bukan tanggung jawab kawanan itu.

Jacob terdiam sementara Alfa itu melanjutkan.

"Walau sepertinya memang, ya, kami menyadari bahwa kalian menjaga sesuatu. Tapi jelas itu bukan urusan kami," imbuhnya. Suaranya masih tenang, tapi jelas Jacob merasakan sesuatu yang lain. Nada pahit menyusup di sana.

"Kami berterima kasih anak buah Anda mau membantu untuk kesekian kalinya, Alfa," Jacob menandaskan buru-buru, merasakan peringatan Seth di kepalanya. "Tapi kami benar-benar perlu tahu apa sewaktu pertempuran, anak buah Anda tidak sengaja membiarkan seorang manusia pergi. Menyelinap. Kabur. Entah apa sebutannya."

"Manusia itu, entah siapa, penting untuk Anda, bukan, Alfa?" nada suara si Alfa terkesan menyelidik

"Itu bukan urusanmu!"

"Tentu, tentu... Maaf, memang itu bukan urusanku..." ia terdiam, mungkin mengkonfirmasi jawaban dari anak buahnya. Jacob menunggu tidak sabar."Maaf, Alfa, tapi jawabannya tidak. Ia tidak menyadari siapapun pergi. Maafkan, perhatiannya mungkin agak terlalu teralihkan. Anda bisa mendapatkan konfirmasinya dari anak buah Anda. Pada pertempuran, kedua anak buah Anda pergi menggiring gerombolan itu ke tempat lain. Anak buahku di tempat, menjaga seorang pria manusia dari serangan vampir yang tersisa."

Jacob berusaha mencerna keterangan ini. Intinya bahkan tidak ada yang tahu kapan tepatnya Korra pergi.

"Kalau tidak ada pertanyaan lain, kami permisi, Alfa. Ada hal lain yang harus kuurus," ujar si Alfa putih. Dan Jacob tak bisa mendengar responnya lagi bahkan walau ia berulangkali menghubungi. Mungkin si Putih sudah berubah balik, simpulnya.

Berusaha memblokade diri dari pikiran menggoda yang mendadak menyelinap mengenai wujud manusia para kawanan lain, Jacob berpaling kembali pada pikiran anak buahnya.

Mana Collin?! bentak Jake penuh amarah. Ia memindai kesadaran-kesadaran dalam kepalanya, mencari si Ranger Merah. Ben dan Pete sudah menyelinap masuk, demikian pula Clark dan Josh, bahkan Quil, menyadari ada sesuatu yang salah setelah mendengar lolongan Collin. Tapi tidak ada Collin.

Si Ranger Merah itu sudah membangun tembok mental lagi.

Jangan marah, Jake... Ia mungkin tak sengaja... jauh di sana Ben buru-buru menenangkan amarah Jacob.

Aku tidak peduli ia sengaja atau tidak. Cepat temukan Collin dan seret dia ke hadapanku. Aku butuh pertanggungjawabannya!

Dirasanya semua anak buahnya menjengit dan Seth lagi-lagi berusaha memperingatkannya. Tapi ia tidak peduli.

Kalian semua cari Collin dan endus keberadaan Korra! Aku melarang kalian kembali tanpa salah satu dari mereka!

Ia menutup pikiran dari semua protes keras mereka. Dirasanya di salah sudut Seth agak kesal dengan Titahnya, tapi sang Beta berusaha menenangkan kawanan dan memberi dasar logika yang masuk akal mengenai tindakannya. Tak hanya itu, Seth juga jelas memberi instruksi terperinci mengenai pembagian rute penyisiran hutan, serta detail-detail kecil seperti cara membujuk Collin atau apa yang harus dilakukan jika bertemu Korra.

Dirasanya Seth juga bersiap-siap ambil bagian dalam pencarian ketika ia sadar ia harus melakukan sesuatu.

Kecuali kau, Seth. Aku butuh bicara berdua denganmu. Kutemui kau di kemah.

Ia merasakan tanda tanya Sang Beta. Tapi ia tak ingin berlama-lama mengurusi masalah ini. Tanpa banyak pertimbangan ia meluncur kembali ke tenda. Berubah segera setelah meraih batas pepohonan.

.


.

Ayahnya sedang duduk di kursi roda yang jelas dipersiapkan Adam, dengan tampang kosong memandang api yang menjilat dalam warna ungu berpendar-pendar.

Api unggun besar itu jelas tidak terbangun dari kayu bakar, sekilas ia memperhatikan, tapi dari tumpukan anggota tubuh beku termutilasi. Menggunung hampir setinggi tenda. Dan ia tahu itu bukan satu-satunya. Di cadas tak jauh dari situ, ia juga menemukan keberadaan api unggun yang sama. Demikian pula di lahan terbuka sekitar 500 meter dari kemah—yang jelas baru saja terbentuk sebagai hasil pertempuran yang menumbangkan sekitar 5 pohon sebagai efek sampingnya. Bau manis tak tertahankan memenuhi udara.

"Dad," ujarnya hati-hati, mendekati ayahnya. "Kau tak apa-apa?"

Ayahnya jelas tak menangkap kata-katanya, masih bengong memandangi api.

"Dad!" ia mengguncang tubuh ayahnya. Jelas Billy tengah berada dalam kondisi shock. "Kau tak apa?" tanyanya ketika orang tua itu akhirnya balas memandangnya, namun matanya masih kosong.

"Tidak, Jake..." jawab Billy kemudian, lirih. "Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak terluka. Tapi adikmu... Korra..."

Jacob merasakan kepedihan Billy, dan tanpa disadarinya ia sudah merengkuh Billy dalam pelukannya. Menepuk punggungnya, berusaha menenangkan. Walau ia sendiri juga, anehnya, merasakan pedih yang sama.

"Ia tidak akan kenapa-kenapa, Dad... Ia gadis yang tegar, ingat? Dia kuat. Sangat."

Ia tahu masalahnya kali ini tidak sesederhana itu. Ini bukan masalah Korra dan kekeraskepalaannya atau jebakan dan lainnya. Ini bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diatasi dengan kemampuan Korra bertahan hidup di alam liar. Korra menghilang setelah pertempuran serigala dan vampir. Begitu saja.

Tentu saja ketakutannya dan Billy, seperti juga seisi kawanan, sama: Korra diculik, atau bahkan digigit, dan setelah itu kabur atau dibawa lari entah kemana.

Dan ketakutannya pribadi bahkan lebih dari itu. Ia tidak tahu apa sisi serigala Korra sudah benar-benar bangkit atau belum. Dan ia juga tidak tahu persis mekanisme efek racun vampir pada orang dengan darah serigala, yang belum atau tidak berubah. Yang jelas, ada kemungkinan besar, sangat besar, racun vampir takkan mengubah Korra jadi salah satunya. Korra akan mati.

Ia segera menghalau kemungkinan kedua. Setidaknya Korra menjadi vampir masih lebih baik. Ia tahu ada masih ada vampir yang bisa ditoleransi, entah apapun makanannya. Tapi kalau mati, itu berarti akhir. Final.

"Kami sedang menyisir hutan, Dad. Korra pasti ditemukan," lagi-lagi kata-katanya entah mengapa lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Apakah ia sedang berusaha berempati dengan perasaan Billy? Atau ia juga, entah bagaimana, akan merasa kehilangan jika Korra mengalami sesuatu yang buruk?

Ia tidak tahu. Hanya saja ia merasa bahwa kini dadanya perih.

Seth datang, dalam wujud manusia, tidak sampai lima menit kemudian. Ia berdiri diam di batas hutan, menunggu Jacob menghampirinya. Jelas ia tidak ingin merusak keadaan dengan menginterupsi keluarga yang sedang berduka itu. Gesturnya kaku, auranya jelas menunjukkan bahwa ia kalut, seperti juga yang lain, tapi ia berusaha keras menjaga ketenangannya seperti biasa. Sabar.

Jacob melepas pelukannya dari sang ayah, tersenyum menguatkan sejenak, lantas bangkit dan menghampiri Seth. Menariknya masuk lebih dalam.

"Ada apa, Jake?" tanya Seth begitu ia yakin berada di luar jangkauan pendengaran Billy.

"Kau sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan, Seth."

Ya, Seth tahu. Ini bukan urusan Korra. Ini urusan kawanan lain.

"Aku mendukungmu, Jake. Kita tidak akan tunduk ataupun bekerjasama dengan kawanan penjajah," tegas Seth.

Jacob mengangguk. Tapi optimisme yang sama tidak tampak di wajahnya. "Kendati begitu aku tidak bisa pungkiri. Kawanan ini... Mereka sangat..." ia menggigit bibir. "Kuat."

Seth tidak menduga Jacob akan mau mengakui kekuatan orang lain bahkan sebelum bertarung dengannya. Atau bahkan merasa seolah terancam. Ini sama sekali tidak seperti Jake yang biasa.

"Kami takkan kalah. Kami takkan tunduk semudah itu, Jake."

"Ya. Aku tahu." Jacob diam sejenak, tampak menimbang apa yang harus ia katakan, sebelum melanjutkan dengan nada ragu, "Tapi aku merasa ia tidak perlu mengalahkan kalian untuk menundukkan kalian."

"Maksudmu?"

"Kau tahu sistem penaklukkan kawanan, Seth?"

Tidak. Tentu saja Seth tidak tahu. Tapi seharusnya Jacob pun tidak tahu.

"Kau pernah mendengarnya dari Old Quil," ujar Jake. "Dalam ceritanya di api unggun."

"Yang mana?" Seth benar-benar bingung.

"Cerita tentang kepala suku yang mengambil alih kawanan. Aku lupa cerita lengkapnya. Yang jelas ia menjadi kepala suku setelah menumbangkan kepala suku sebelumnya. Membantai semua yang menentangnya."

Seth mendadak membeku.

"Dan kau tahu ketika aku menentang Sam. Jika saat itu aku mengalahkannya, maka aku mendapat otoritas atas seluruh kawanan."

"Itu hanya terjadi karena kau lebih berhak ketimbang Sam, Jake."

"Aku tahu. Tapi itu bukan intinya. Si serigala dalam legenda itu tetap bisa meraih kekuasaan bahkan walau ia tidak berada di puncak hierarki. Intinya adalah, perebutan kekuasaan itu mungkin."

Ucapan itu membuat Seth kehilangan kata-kata.

"Jika ia membunuhku, Seth, ia bisa mengambil alih seluruh kawanan. Itu prinsip penaklukan kawanan," Jacob terdiam sebelum menatap Seth. Kali ini tajam. "Jangan bilang kau tidak tahu hal ini, Seth. Kau pasti sudah menduganya."

Seth tampak gugup. Dan itu sudah konfirmasi yang cukup.

Jacob berjalan menjauh, tersuruk duduk di batu besar. Wajahnya kaku.

"Kami takkan menerima begitu saja, Jake..." ujar Seth beberapa detik kemudian, menghampiri Jacob. "Aku sudah menjanjikannya padamu sebelumnya. Kawanan tidak akan begitu mudah takluk. Aku takkan begitu mudah menerima jika memang itu terjadi."

Tapi Jacob hanya memandangnya. Untuk kemudian menggeleng. "Tidak, Seth. Aku justru ingin kau berjanji sebaliknya."

Ia memperhatikan kening Seth berkerut sejenak. Ekspresi itu tidak bertahan lama, karena kemudian sekilas pengertian tampak di wajahnya. Yang segera berubah menjadi semacam tekad penolakan. Namun Jacob menghentikan Seth bicara bahkan sebelum ia berani mengungkapkannya ketidaksetujuannya.

"Kau tahu sendiri. Kawanan itu sangat kuat. Dan si Alfa ini, aku yakin, juga sangat, lebih kuat daripada mereka semua. Pertarungan dengannya sudah jelas akhirnya. Besar kemungkinan aku yang akan kalah"

Jacob mengatakannya dengan begitu datar sehingga membuat Seth terdiam. Momen ini dimanfaatkan Jacob untuk melanjutkan.

"Dan jika itu terjadi, jika aku mati, Korra secara otomatis mendapat hak berikutnya. Jika ia sudah berubah. Dan kau dengar cerita dalam legenda itu. Sang penakluk mungkin takkan berhenti sebelum ia bisa menghabisi semua yang berada dalam garis keturunan. Yang artinya, jika Korra atau Collin memilih untuk bangkit melawan, ia akan membunuh mereka," Jacob berhenti untuk menatap mata Seth. Dalam. Tenang. "Jadi aku minta kau menjanjikan satu hal, Seth," ujarnya sungguh-sungguh.

"Tentu. Aku akan siap mendukung mereka sepenuhnya," janji Seth cepat.

"Tidak. Bukan itu yang kumaksud."

Bayang ketidakmengertian akan arah kata-kata Jacob muncul di wajah Seth.

"Jika itu terjadi, jika aku mati dan mereka bangkit untuk melawan, aku ingin kau meredam mereka. Kau harus ada di kawanan, menunjukkan kesetiaan pada pemimpin yang baru."

"A, apa?"

"Kau harus memastikan dia tidak lebih jauh memaksakan otoritasnya pada kawanan. Kau logis dan penuh pertimbangan, Seth. Kau tahu apa arti semua ini."

Ya, Seth tahu. Tapi tahu bukan berarti ia mau menerima.

"Jacob, kau tahu ini. Di Penglihatan Alice, kita berdua mati. Kita berdua. Aku akan selalu mendampingimu."

"Tidak akan terjadi."

"Aku adalah Betamu. Dia akan membunuhku juga untuk mendapatkan kontrol penuh."

"Karenanya aku minta kau menunduk. Menyerah. Mengabdi. Menunjukkan kesetiaan."

"Aku takkan jadi pengkhianat!"

"Tidak. Kau hanya menjalankan wasiatku."

Seth tercenung.

"Dan kau juga harus berjanji, kesetiaanmu yang sejati adalah pada Korra dan Collin. Jika satu saat mereka cukup kuat... Tidak, sangat kuat, sangat-sangat kuat untuk melawan, untuk mengambil alih kekuasaan, saat itulah kau harus berbalik mendampingi mereka merebut kembali hak mereka."

"Tidak," tegas Seth. "Kau tidak bisa membuatku melakukan hal seperti itu, Jake."

"Kau harus melakukannya. Itu keinginanku. Aku akan menurunkan Titah jika perlu."

Seth masih menggeleng keras.

"Kalau kau mati maka tidak ada gunanya, Seth. Kau tahu Cole dan Korra belum cukup matang. Kau tahu sifat Cole. Dan kau tahu Korra bahkan belum berubah."

Seth tidak berbicara.

"Kau ingat cerita Old Quil? Tentang serigala paling kecil dan paling tidak diperhitungkan, yang berhasil menumbangkan kekuasaan tiran kepala suku yang membantai keluarganya." Jacob melihat Seth mengangguk. "Aku ingin kau menjadi mentor serigala itu. Kau harus hidup untuk membimbing Korra dan Collin."

Seth masih diam, membuang muka.

"Berjanjilah, Seth."

Jeda sangat lama sebelum akhirnya Seth berujar, sangat lirih. "Baik, aku berjanji."

"Bersumpahlah!" tuntut Jacob.

"Aku bersumpah."

Jacob merasakan kepahitan dalam kata-kata Seth dan sadar bahkan Seth tidak menyatakan isi sumpahnya. Ia tahu Seth pasti akan merencanakan mangkir pada saatnya. Maka ia bangkit. Mengambil sebuah kerikil tajam. Dan sejurus kemudian mengulurkan tangannya pada Seth.

"Lakukan Sumpah Darah," paksanya.

Mata Seth membeliak.

"Ini Titahku, Seth. Lakukan Sumpah Darah."

Dan dengan itu Jacob menggenggam kerikil itu dalam kepalan tangannya dengan erat. Kerikil itu tidak hancur, tapi melesak masuk menggores telapak tangannya. Jacob membukanya di hadapan Seth. Darah menetes dari telapak tangannya.

Dengan enggan Seth mengulurkan tangannya, mengambil kerikil tajam itu dari tangan Jacob. Ia menggores telapak tangannya sendiri, sebelum menyatukannya dengan telapak tangan Jacob yang masih mengeluarkan darah.

"Ulangi ucapanku," ujar Jacob tegas. "Demi darah, harga diri, dan kehormatanku, aku, Jacob Black, dengan ini mengadakan sumpah dengan Seth Clearwater..."

"Demi darah, harga diri, dan kehormatanku, aku, Seth Clearwater, dengan ini mengadakan sumpah dengan Jacob Black..."

"Bahwa sepeninggalku..."

"Bahwa sepeninggalnya..."

"Akan melakukan segala yang ia bisa untuk ada bersama dan menjaga kawanan..."

"Akan melakukan segala yang aku bisa untuk ada bersama kawanan dan menjaga mereka… "

"Serta menempatkan kesetiaan tertinggi pada Coraline Black dan Collin Littlesea..."

Seth terlihat ragu.

"Katakan, Seth!" paksa Jacob.

Ia menghela napas sebelum berujar, "Serta menempatkan kesetiaan tertinggiku pada Coraline Black dan Collin Littlesea..."

"Membimbing dan melindungi mereka...

"Membimbing dan melindungi mereka..."

"Hingga saatnya mereka mampu mengambil alih kekuasaan."

"Hingga saatnya mereka mampu mengambil alih kekuasaan."

Seth merasakan sesuatu yang mengalir masuk padanya, gelombang panas yang aneh, benang-benang yang memasuki urat nadinya dan lantas menyelusup dari pori-pori kulitnya, mengikatnya dalam tiap kata yang ia ucapkan. Dan seketika ia tahu, ia tak bisa berbalik.

Jacob menarik tangannya. Darahnya kering dan lukanya sudah menutup. Sebagai gantinya, ada segel hitam di telapak tangannya. Bentuk tato kecil dalam ukiran tribal yang dikelilingi oleh lingkaran yang tersusun atas bentuk bulat-bulat kecil yang saling bertaut bagai rantai. Segel Sumpah.

"Jika ada yang bertanya apa yang kita sumpahkan, kau tahu apa yang harus kaukatakan..." ujar Jacob.

Seth mengangguk.

"Dan jangan katakan apapun pada kawanan. Tentang Sumpah atau isi pembicaraan dengan kawanan lain. Jangan sampai mereka merasakan ancaman hingga saatnya tiba."

Seth mengangguk lagi, kendati senyum kecut menghiasi wajahnya.

"Kau yang paling bisa menyelimuti pikiranmu, Seth, aku yakin kau bisa menjaga rahasia ini..."

Seth membelalak, menatap Jacob nanar. Tapi kemudian wajahnya kembali teduh. Sendu. Dan sambil membuang muka ia berkata, sangat lirih, "Ya. Aku yang paling bisa berahasia..."

.


.

Mereka masih di hutan ketika semak tersingkap dan sosok-sosok serigala itu muncul.

Serigala Ben keluar pertama kali. Diikuti Collin dan Pete. Gerakan Ben dan Pete kaku dan tegang, jelas sangat antisipatif. Collin, sebaliknya, tampak bagai jenderal yang kalah perang atau tawanan yang hampir dihukum mati. Ia menunduk dalam hampir sepanjang perjalanan, langkahnya gontai. Dan seketika Jacob tahu mengapa ia pulang sampai harus dikawal dua temannya. Bukan mereka menangkap Collin untuk diseret ke hadapannya. Mereka menjaga Collin, jangan sampai Jacob melakukan sesuatu pada sahabat mereka.

Jacob tidak langsung menghampiri. Ia memberi kode agar ketiganya mengikutinya ke perkemahan. Wajah dan gesturnya jelas mengancam. Ben dan Pete menoleh pada Seth, seakan minta bantuan. Tapi Seth hanya mengangguk, memberi kode agar ketiganya menuruti perintah Jacob, sebelum menyusulnya.

Ketiga serigala itu berubah di batas hutan, langsung berpakaian. Kecuali Collin, tentu saja. Pakaiannya hancur pada detik ia berubah atas panggilan Adam. Namun gemetar di sekujur tubuhnya jelas bukan karena kedinginan, tapi takut dan bingung.

Menghela napas, Jacob melangkah lebar menuju tenda, dan keluar dengan selembar celana pendek miliknya di tangan. Ia melempar celana yang baru diambilnya dari tas itu pada Collin, tanpa melihat untuk kedua kali. "Pakai!" perintahnya tanpa ekspresi. Lantas ia sendiri duduk di batu besar dengan tangan bersidekap. Gesturnya jelas menunjukkan bahwa ia ingin Collin cepat menghadapnya.

Collin menurut, tanpa banyak bicara memakai celana itu dan menghampiri Jacob. Mukanya masih tertunduk dalam.

Jacob bangkit dan mendekat ketika Collin berada satu meter di depannya. Lantas tanpa pemberitahuan, ia mengarahkan tinjunya ke wajah Collin. Terdengar derak mengerikan saat kepalan tangannya bersentuhan dengan rahang si Ranger Merah, dan seketika tubuh itu limbung, tersuruk ke tanah.

Collin sama sekali tidak melawan, ataupun menghindar. Ia pastinya sudah mengantisipasi hal ini. Dan ia tidak memasang penjagaannya yang biasa.

"Kau kusuruh menjaga Korra! Bukan meninggalkannya!" teriak Jacob berang.

Collin diam selagi berusaha bangkit. Wajahnya masih menunduk tatkala ia menghapus darah dari hidungnya. Itu sangat tidak seperti dia yang biasanya, kalau Jacob mau mengakui. Biasanya dia akan membalas sambil berteriak-teriak, memaki dan memulai perang kata, bahkan mungkin dengan sukarela langsung turun ke kancah pertarungan satu lawan satu dalam wujud serigala.

"Itu bukan salah Collin, Jake!" satu suara maju ke muka.

Tidak, Collin tidak membela diri. Dan bukan juga Ben atau Pete yang membelanya. Melainkan Seth.

"Apa maksudmu bukan salahnya?" Jake menggeram tidak percaya.

"Kau lihat memori Adam pada saat kejadian. Cole sudah berusaha mati-matian melindungi Korra dan Billy. Ia memimpin langsung pertempuran dan bertarung dengan gagah berani."

"Apa yang melindungi? Jelas ia kehilangan orang yang harusnya ia lindungi!" bantah Jacob. Lalu ia menghadap Collin, amarah membuat wajahnya merah padam.

Seth berdiri di pihak Collin, jelas berusaha melindunginya dari amukan Jacob. Dan itu hanya membuat Jacob makin mendidih.

"Kau benar-benar parah!" teriaknya pada Collin. "Tidak hanya sebagai pengawas, penjaga... Kau juga parah sekali sebagai komandan!," ia mengamuk. "Untuk apa kau pakai menggiring mereka ke cadas segala? Kau sudah dapat bantuan! Dan kau juga seharusnya memanggil kami! Kalian bisa menang bahkan walau tidak memojokkan para vampir ke ladang pembantaian lain!"

Oh, tunggu sampai Jacob tahu bahwa Collin melepaskan salah satu vampir.

"Ia tidak memanggil kita karena ia tahu kita dalam pembicaraan serius dengan kawanan lain," bela Seth lagi. "Dan ia memancing para vampir menjauh dengan alasan tepat. Karena ia sadar jika mereka terus bertempur di situ, salah satu lintah mungkin akan mendekati Korra atau Billy."

"Kalau begitu ia pastinya tahu dengan ia pergi, ia mengekspos Billy dan Korra pada bahaya langsung tanpa penjagaan!"

"Itu karena ia tahu si serigala emas akan menggantikannya!"

Jacob menggeram, kali ini pada Seth. Namun ia membuang muka, tahu alasan Seth rasional.

"Kumohon Jake, jangan bertindak emosional..." nada Seth kembali turun. Menenangkan seperti biasa.

"Apa kau harus terus membela Beta-mu, Seth?" desis Jacob.

"Aku akan membela siapapun yang menurutku benar!" Suara Seth tenang, tapi kalimatnya tegas.

"Seth, ia bertindak arogan! Ceroboh! Sebagai komandan ia mengambil keputusan yang membahayakan tidak hanya dirinya, tapi juga orang yang ia lindungi!"

"Ia tidak arogan ataupun ceroboh, Jake... Ia mempertimbangkan banyak hal. Yang ia tidak pertimbangkan hanya kemungkinan Korra pergi."

Jacob melotot.

"Apa maksudnya Korra pergi? Korra mungkin diserang vampir!" ia menggemeretakkan gigi.

"Aku tidak tahu tapi ada kemungkinan Korra pergi sendiri, Jake…"

"Dari mana kau tahu?" kernyit Jacob.

"Aku bilang aku tidak tahu. Itu hanya salah satu kemungkinan."

"Kalau begitu harusnya ia bisa mengendusnya! Entah Korra pergi kapan, yang jelas kalau itu terjadi, seharusnya kalian bisa tahu!"

"Itu masalahnya, Jake..." kali ini bukan Seth yang bicara, melainkan Ben. "Seisi hutan dipenuhi bau Korra. Semua sama pekat, jelas ia merambah berkali-kali. Kami tidak tahu yang mana baunya yang terbaru. Kami tidak bisa melacaknya."

"Apa maksud kalian tidak bisa melacaknya?!" amuk Jacob keras. "Korra bukan vampir. Ia tidak punya kemampuan menghapus jejak!"

Semua anak berpandangan.

Agak takut-takut Pete berujar, "Bagaimana jika... kau tahu Jake... Korra tergigit dalam pertempuran dan ternyata..." ia menelan ludah. "Korra mungkin punya bakat... kau tahu... menutupi jejak atau semacamnya..."

"Itu bisa jadi, Jake..." Ben juga menyumbang pemikirannya. "Mungkin metabolismenya membuat prosesnya bekerja lebih cepat, karena dia separuh Quileute, jadi..."

Ia tidak tahan lagi.

"Korra calon serigala, Bodoh! Ia tidak akan jadi vampir! Ia tidak butuh waktu sekian jam atau hari untuk proses apapun. Detik ia tergigit, ia mati!" tanpa sadar Jacob mengeluarkan pikiran yang sedari tadi berusaha ia usir.

Ben dan Pete tampak bergerak gelisah di tempatnya berdiri. Seth membeku. Dan Collin tampak sangat merana.

Jacob juga mendadak merasakan dingin menjalari sekujur tubuhnya. Ia berusaha menghalau perasaan itu. Meyakinkan pada diri sendiri, tak ada hal buruk yang terjadi pada adiknya.

"Aku tidak mau tahu tapi kalian harus menemukan Korra!" teriaknya. Kau, Collin!" ia menghadap Collin, "Kau tidak boleh berubah balik hingga adikku ditemukan!"

"Jacob, kau tidak boleh semena-mena!" peringat Seth.

"Aku menghukum Collin untuk kesalahannya, Seth! Bahkan kau pun tidak bisa melawanku dalam hal ini!" tegasnya. "Kau dengar Titahku, Collin! Kau harus mencari Korra! Kau kularang keras berubah balik hingga Korra kembali!"

Collin tak bersuara. Ini bukan hanya karena Jacob menurunkan Titah. Sudah jelas Collin memang sudah merana sejak hilangnya Korra. Malah bisa jadi ia berharap Jacob membunuhnya saja.

"Oke kalau begitu," Seth kembali bersuara. "Tidak apa-apa. Aku akan menemani Cole."

Jacob menatap tajam Seth, lebih tidak percaya ketimbang sebelumnya. "Kau tidak perlu membela Collin sampai taraf itu, Seth! Aku tidak akan mencabut Titah!" tekannya.

"Memang tidak. Tapi kalau kau menganggap Betaku tidak kompeten, maka aku ikut menanggung kesalahan bawahanku," tegas Seth. "Dan aku juga ikut bertanggung jawab. Aku yang menempatkan Cole dalam penjagaan."

Jacob menggeram, tapi ia tahu Seth tidak akan mundur.

Collin kelihatannya sudah akan membela Seth, tapi Seth memberi kode menyuruhnya diam.

"Baiklah, Seth," Jacob menyerah. "Terserah apa maumu. Kalau kau mau menemani Collin mencari Korra, terserah. Yang jelas aku ingin adikku kembali. Tanpa kurang suatu apa."

"Ya, Jake. Itu keinginan kita semua…"

.


.

Setelah persidangan singkat itu, Seth menyuruh Ben dan Pete melanjutkan pencarian mereka, sementara ia, Jacob, dan Collin mendekati Billy.

Billy masih dalam kondisi shock. Ia hanya duduk diam di depan gunungan api unggun, mengamati jilatan api. Bahkan teriakan Jacob selama persidangan Collin sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Dad..." sapa Jacob hati-hati.

Di belakangnya, Collin tampak gemetar. Tapi ia memberanikan diri maju lamat-lamat ke muka, lantas bersimpuh di depan kursi roda Billy, meletakkan tangan di pangkuannya.

"Uncle Bill..." bisiknya.

Billy memutus tatapannya dari api, mengalihkannya pada Collin.

"Coley..." ia balas berbisik.

"Maafkan aku, Uncle..." ujar Collin pelan. "Ini salahku. Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian."

"Tidak, Coley... Kau sudah melakukan yang terbaik..."

"Aku akan menemukan Korra, Uncle... Aku berjanji..."

Billy mengangguk, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke api, kembali hilang.

Jacob maju, ikut berlutut di hadapan ayahnya, memaksa Collin bangkit dan menyingkir.

"Dad, Cole akan mengantarmu pulang... karena truk kita hancur. Kau tidak apa kan, Dad? Ini mungkin pertama kali bagimu menunggangi salah satu dari kami. Tapi aku akan memastikan ia berlari hati-hati," ujarnya. Di belakangnya Collin mengangguk menguatkan.

Billy mengangguk lemah.

Seth mengambil alih Billy dari Jacob dan mendudukkannya di punggung Collin yang sudah berubah, duduk bertelekan pada kedua kaki depannya di rerumputan lembab di dekat batas pepohonan.

"Buat dirimu senyaman mungkin, Billy..." katanya sambil tersenyum. Tapi tak urung Billy melihat tanda di telapak tangan Seth sewaktu ia menepuk tengkuk Collin menyuruhnya bangkit. Dan tiba-tiba ekspresinya berubah.

"Kau..." ia tampak nanar. "Kalian mengikat Sumpah..."

Seth tersenyum masam, agak malu, menarik tangannya buru-buru dan memasukkannya ke saku. Di belakangnya Jacob memasang tampang marah.

Billy mendesah, lantas memandang tajam pada putranya kemudian kembali pada Seth. "Kuharap kalian tahu benar situasi kalian saat kalian memutuskan mengikat Sumpah."

Seth menegang merasakan kengerian Billy, tapi Jacob terlihat santai, hampir bosan malah, ketika ia melangkah mendekat dan menepuk punggung Collin, menyuruhnya pergi.

"Kami tahu, Dad, kau tenang saja..." katanya.

Seth merasakan kekhawatiran Billy yang tak juga pudar ketika ia berpaling membalikkan tubuh mengawasi mereka, ketika Collin bergerak menjauh, menyelinap ke balik pepohonan. Dan seketika ia merasa ketakutan Billy merasukinya juga.

"Apa maksud Billy, Jake?"

Tapi Jacob hanya berdecak. "Biasalah Tetua... kerjanya cuma menambah pusing saja..."

.