Yooo~
Waduh... saya bener-bener telat update sungguhan... ==a Yah, mau gemana lagi, sodara... soalnya kalo saya libur, hari paling sibuknya saya bukan hari biasa lagi tapi justru hari Minggu! Wewwww... nggg... jadi saya mau pengumuman nih sodara... Mulai sekarang, saya ubah jadwal updatenya jadi hari Selasa, ya? Mungkin sampe saya masuk kuliah lagi, saya bakal tetep update hari Selasa... Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini... *halah!*
Reply Review~
IXA Cross: Wkwkwkw... udah saya reply di email, kan? XDDDD
Mocca-Marocchi: Wuah! Hebat! Itu emang Jiang Wei! (Sebenarnya yang muncul di chap sebelumnya itu SEMUA chara DW plus-plus) Wkwkwkwkw...
Fansy Fan: Ah, yes... ^^ it's alright now and now he will be continuing his journey to Shu! ^^v
Putri: Wkwkwkwk... emang pernah... Dan, yup... chap ini dari POVnya Yangmei... ^^
Wokey... seperti chap yang tentang Zhao Yun itu, chap ini juga adalah chap lepas... Soalnya saya merasa chap2 di flashback arc ini kebanyakan bercerita dari POVnya Lu Xun doank... Jadi, kali ini saya ubah dari sudut pandangnya yang lain. Tapi, kalo dibilang cuma dari Yangmei sih salah juga... Jadi, chap ini bakal dibagi dari 2 POV yang TIDAK AKAN SAYA KASIH TAHU SIAPA. Sodara tebak sendiri, ya~ XDDDDD
BTW, berhati-hatilah karena seperti chapnya yang Zhao Yun dulu, chap ini SANGAT membingungkan. Dan bukan cuma membingungkan tapi banyak kejutan2 juga. So, Proceed with Caution... *niru2 omongannya Mocca-Marocchi di Parody versionnya... XDDDDDD*
(NOTE: BTW, berhubung saya cara nulisnya kalo Lu Xun merefer ke Feng (dan begitu juga sebaliknya), setiap kata ganti orang ketiga 'dia' ato 'ia' ato 'nya', semuanya kan di-italic. Nah, di sini antara Yangmei ama Huang juga sama. Kalo Yangmei merefer ke Huang (dan begitu juga sebaliknya) setiap kata ganti orang ketiga 'dia' ato 'ia' ato 'nya', semuanya juga di-italic...)
"Hei, jelek! Siapa kau?"
"Kau sendiri yang lebih jelek! Hei, kau tahu tidak? Aku dulunya cantik sekali!"
"Oh, begitu? Asal tahu saja, dulu aku juga cantik sekali! Kau tahu, dulu aku punya rambut yang panjang berwarna perak, mata yang juga berwarna perak, dan yang terpenting, orang yang dulu paling aku sayangi mengatakan aku paling cantik!"
"Hei, bagaimana bisa begitu? Aku juga dulu punya rambut panjang berwarna perak meski sudah kupotong pendek, mata yang juga perak! Dan sama juga, orang yang dulu paling aku sayangi mengatakan aku paling cantik!"
"..."
"Kalau begitu, kenapa kau bisa jadi jelek?"
Kalau membicarakan tentang siapa yang paling cantik, aku juga tidak tahu. Tapi, orang yang paling penting untukku selalu bilang aku paling cantik setiap kali aku membandingkan diriku dengan bunga-bunga di taman. Ya, Feng pasti bilang aku lebih indah dibandingkan semua bunga di taman itu digabung menjadi satu.
"Gong zhu! Gong zhu!"
Hmmm... tapi aku tidak pernah bertanya pada Feng. Kalau aku dibandingkan dengan bunga-bunga memang aku lebih cantik, lebih indah, lebih baik, dan lebih segalanya karena aku bisa bergerak bebas, aku bisa bernyanyi, aku bisa tersenyum, dan banyak hal lagi yang bisa kulakukan!
Tapi kalau dibandingkan dengan orang yang lain...?
Misalnya, orang yang sedang berlari-lari ke arahku ini. Yahhh... karena dia laki-laki, dia bukan cantik, sih ya? Hehehe... Tapi bagaimanapun, Jian Bing orang yang baik sekali! Dia benar-benar menyenangkan. Jarang sekali senyum di bibirnya itu pudar. Wajahnya selalu riang gembira seperti anak kecil yang diberi permen, meski dia bukan anak kecil. Rambutnya yang berwarna putih memang pendek, tapi aku suka melihat rambutnya itu beterbangan saat angin berhembus melewatinya.
"Gong zhu! Lihat apa yang kubawa!"
"Gong zhu?" Aku memiringkan kepalaku. "Apa itu Gong zhu?"
Jian Bing tersenyum sangat lebar, sampai deretan giginya terlihat. "Gong Zhu itu cara orang-orang di Ren Huan memanggil putri mereka!" Jawabnya sambil mengangkat satu jari. "Aku rasa, daripada dipanggil 'nü-shi', kau lebih cocok dipanggil 'gong zhu'!"
"Hah? Bagaimana bisa begitu?" Aku memiringkan kepala karena bingung.
"Iya!" Balasnya sambil mengangguk bersemangat. "Karena, gong zhu-gong zhu di Ren Huan sangat dimanjakan! Keinginannya selalu dipenuhi, setiap hari selalu memakai pakaian yang indah-indah, pokoknya mereka adalah gadis-gadis yang paling disayangi oleh seluruh rakyat!" Jelasnya panjang lebar. Aku mangut-mangut mendengarkan penjelasannya seperti anak kecil mendengarkan cerita anak kecil lainnya. "Nah, Huang nü-shi kan juga begitu! Huang nü-shi sangat-sangat-sangat-sangat-sangat-sangat- disayangi oleh Feng xun-jue! Makanya lebih cocok kau dipanggil 'gong zhu', bukan 'nü-shi'!"
Aku mengangguk sambil ber-'ohhh' ria. Yah... kadang aku juga bingung, sih... Kenapa ya Feng bisa sayang sekali padaku? Dan entah benar atau tidak, rasanya dia mengistimewakan aku lebih dari teman-temannya yang lainnya. Bayangkan saja, dia bahkan sampai membuat dirinya tidak bisa menyembuhkan diri sendiri. Dan kekuatannya itu diberikan untukku! Cuma untukku! Jadi, cuma aku yang bisa menyembuhkannya. Dan yang bisa menyembuhkanku kalau aku terluka juga cuma dia.
Senang sekali sih dimanjakan seperti itu. Aku selalu tersenyum lebar kalau mengingatnya...
"Oh, iya! Aku hampir lupa, gong zhu!" Panggilnya dengan panggilan barunya itu. "Ini ada sesuatu dari Feng xun-jue untukmu!"
Sebuah kotak yang ukurannya cukup besar diletakkan di atas pangkuanku. Yah, bukan kotak juga, sih... bentuknya seperti peti berbentuk kubus yang berwarna-warni ditaburi kaca berwarna. Bahkan hanya untuk kotak pembungkus hadiahnya saja, Feng sampai menyiapkan sesuatu yang luar biasa indah seperti ini...
"Ngomong-ngomong, kok tumben kau yang menyerahkan?" Tanyaku. "Biasanya, kalau mau memberikan sesuatu, Feng sendiri yang akan memberikannya untukku!"
Jian Bing menggaruk kepalanya sambil tersenyum lemah. "Sebenarnya, tadi Feng xun-jue sendiri yang mau memberikannya. Tapi aku bilang biar aku saja! Soalnya aku juga penasaran dengan isi kotak ini! Dan lagi, aku ingin melihat wajah gong zhu yang senang menerima hadiah Feng xun-jue!"
Aku tertawa kecil. "Ah, bisa saja kau ini, Jian Bing!"
Jadi, dengan masih tetap duduk di bawah pohon menghadap pada sebuah kolam, aku membuka peti itu sementara Jian Bing melihat dengan mata lebar di sampingku.
Yahhh... Sekali lagi, kalau membicarakan tentang siapa yang lebih baik, lebih indah, lebih cantik, lebih bagus dariku, ada banyaaaaaakkkk... sekali! Menurutku, Jian Bing jauh lebih baik dariku. Dan bahkan, Feng yang memberikan hadiah ini jauh lebih segalanya daripada aku. Jadi, kalau memang aku tidak ada baiknya dibandingkan dengan dia, kenapa dia bisa sayang sekali padaku, ya?
Aku tidak bisa menggambarkan Feng itu seperti apa. Pokoknya dia luar biasa sekali! Aku suka rambutnya yang emas, matanya yang emas, seperti matahari! Kalau dia berjalan, sering kulihat sepasang burung atau lebih mengikutinya dan pada akhirnya bertengger di atas jarinya. Kalau dia bernyanyi, suaranya itu bisa membuat hati siapapun merasa damai. Dia punya senyum yang lembut sekali! Bahkan kalau aku bersamanya, aku selalu bisa merasa semua akan baik-baik saja. Bukan hanya itu, kalau aku melihatnya mengayunkan pedang, aku selalu melihat kobaran api pancaran cahaya dari senjatanya itu.
Tapi, semua itu masih belum ada apa-apanya.
Satu hal yang membuatnya benar-benar luar biasa bukan wajahnya, caranya bertarung, bernyanyi, atau berjalan. Yang paling hebat darinya adalah kebaikan hatinya. Bukan hanya untukku, tetapi juga untuk orang-orang yang lain! Selain aku, dia satu-satunya yang memiliki kekuatan menyembuhkan. Dia sering mengajariku menggunakan kekuatan ini untuk menyembuhkan siapapun yang memerlukan! Dia benar-benar peduli dengan teman-temannya di Ren Huan maupun di Tian Shang.
Tidak terasa, akhirnya kotak ini terbuka juga!
Saat penutup kotak itu terbuka, aku benar-benar terkejut bukan buatan!
Jian Bing apalagi...
Dari kotak itu, aku melihat pancaran tujuh cahaya yang lembut tetapi terang sekali! Bahkan bukan hanya itu, dari kotak itu sejumlah burung-burung menyeruak keluar, begitu juga berpuluh-puluh kupu-kupu yang sayapnya berwarna-warni! Mereka mengelilingiku, dan juga Jian Bing! Ada yang hinggap di tangan, di kepala, di pundak, bahkan di hidung!
"Wahhh... bagus sekali..." Gumam Jian Bing.
"Feng memang benar-benar baik!" Aku benar-benar senang! Sungguh! Aku benar-benar senang dengan hadiah ini sampai ingin menangis karena terlalu senang rasanya! Dadaku sampai sesak. "Kenapa Feng memberikan hadian ini padaku, ya?"
Jian Bing sekali lagi buka mulut. "Feng xun-jue bilang..." Katanya. "Pernah suatu kali gong zhu berjalan bersamanya. Kemudian burung-burung datang mengitarinya. Lalu gong zhu berkata ingin burung-burung itu juga mengitari gong zhu! Karena itu sekarang Feng xun-jue memberikan kejutan ini pada gong zhu!"
Aku tertegun.
Tuh, kan? Feng memang baik sekali! Dia selalu bilang, apapun yang aku inginkan, asal itu memang baik untukku, dia pasti akan memberikannya!
Tapi, di sisi lain, ada sebuah perasaan yang muncul di hatiku.
Kenapa apapun yang kulakukan, sepertinya aku selalu bergantung pada Feng, ya? Ahhh... ini benar-benar membuatku seolah tidak bisa melakukan apapun! Aku jadi benar-benar tidak berguna! Hmmm... kalau begini, mungkin suatu saat aku harus mencoba melakukan sesuatu sendirian tanpa bantuannya...
Sekarang, aku akan mencoba mencari burung-burung sendiri! Nanti aku akan menunjukkan pada Feng kalau aku bisa juga sepertinya!
-o-o-o-o-o-o-
Wah... menegangkan! Ini pertama kalinya aku berpetualang di Ren Huan sendirian! Kalau aku kembali nanti, aku harus menceritakan ini pada Feng! Kalau nanti aku menemukan tempat bagus, aku akan mengajaknya ke sini! Soalnya, selama ini selalu dia yang menunjukkan tempat yang bagus, dan aku sepertinya benar-benar tidak tahu apa-apa...
Eh, tapi tempat yang kulalui sekarang sama sekali tidak bagus. Hutan ini gelap sekali... padahal hari masih menjelang sore. Aneh, dari sini aku tidak bisa melihat matahari terbenam yang indah yang kulihat bersama Feng dulu...
Pohon yang di sini jelek. Dahan-dahannya cuma menyisakan sedikit daun. Sudah begitu, daunnya tidak berwarna hijau melainkan coklat. Kelihatannya sudah layu dan sebentar lagi akan mati. Wahhh.. Kalau begini, mana ada burung-burung yang bisa kutemui dan kuajak bermain, ya? Ah, tapi sebaiknya aku melanjutkan berjalan terus saja! Siapa tahu aku bisa menemukan tempat yang indah di balik sini...
Sampai beberapa saat lamanya, aku menemukan seseorang di sana.
Wah, ada seorang anak kecil sedang duduk di bawah pohon!
Sambil berlari kecil, aku menghampirinya.
"Hai, adik kecil!" Sapaku sambil melambaikan tangan di depannya. Menyadari kedatanganku, dia melonjak kaget. "Kau tersesat?"
Bocah ini memang benar-benar lucu sekali! Rambut hitamnya yang bergelombang diikat bawah. Wajahnya benar-benar polos sekali! Wah, anak-anak di Ren Huan semuanya lucu-lucu, ya? Eh, tapi... ada satu hal yang membuatku agak takut melihatnya. Bukan apa-apa, sih... aku cuma agak takut dengan matanya yang berwarna merah darah...
"Oh?" Anak laki-laki itu menoleh-noleh ke segala arah, seperti kebigungan. "Aku tidak tersesat, kok... aku sedang menunggu seseorang..."
"Seseorang?"
"Iya!" Jawabnya sambil tersenyum lebar. "Katanya ada seseorang yang ingin pergi ke tempat burung-burung tinggal. Jadi, aku menunggu di sini untuk mengantarnya nanti!"
Wah! Benar-benar kebetulan yang sangat tepat! Jangan-jangan yang ditunggunya adalah aku! Kan memang benar aku sedang ingin mecari tempat burung-burung berada? Kalau aku sudah punya pemandu sepertinya, maka menemukan burung-burung itu cuma urusan waktu saja!
"Mungkin yang kau tunggu adalah aku!" Jawabku sambil menunjuk diri sendiri. "Kalau begitu, antar aku ke tempat burung-burung itu, ya?" Sahutku sambil mengamit tangannya.
Dia mengangguk dan melemparkan seulas senyum lebar. "Baiklah! Jangan sampai tersesat, ya?"
Jadi, aku mengikutinya. Anak itu kelihatan bersemangat sekali! Dia berlari dengan lincah dan kadang memanggilku kalau aku tertinggal di belakang. Yahhh... bagaimana mungkin tidak ketinggalan? Semakin lama hutan ini semakin lebat saja! Banyak pohon-pohon dan semak-semak yang menghalangi jalanku. Lagipula, tempat ini makin lama makin gelap saja rasanya. Jadi susah untuk melihat...
Berhenti di depan sebuah pohon, anak itu berbelok. "Kita sampai!"
Akhirnya sampai juga! Aku pun segera mempercepat langkahku dengan tidak sabar. Hore! Akhirnya aku bisa bermain bersama burung-burung! Aku harap kalau aku bertemu dengan mereka, mereka tidak akan menjauhiku.
Aku berhenti di belakang anak itu. Dia sedang membelakangiku, jadi aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang. "Mana burungnya...?"
Ahhh...!
A-apa ini...?
Ada ratusan, bahkan ribuan makhluk yang bersayap di depanku. Tapi aku tidak tahu mereka itu burung atau bukan. Yang jelas, burung-burung ini aneh... Sayapnya berwarna hitam pekat, bukan sayap yang dipenuhi bulu berwarna-warni seperti yang biasanya kulihat. Mata mereka berwarna merah, sama seperti mata anak itu.
Saat itulah, ketakutan mulai memenuhi otakku.
Aku tahu aku harus lari... tapi...!
"Kita sampai..." Anak itu tersenyum simpul. Matanya sekarang menatapku tanpa ekspresi, dengan tatapannya yang gelap itu. Kedua tangannya menarik tanganku. "Bagaimana? Menyenangkan, bukan? Ayo main sama-sama..."
Seharusnya aku melepaskan tangannya, kan? Aku harusnya lari. Atau kalau tidak, mungkin aku bisa menggunakan piao-ku untuk melawan makhluk-makhluk ini.
Tapi... rasanya aneh. Anak ini baik, kok... dan lagipula, burung-burung itu mulai mendekatiku, rasanya ingin mengajakku main.
Hmmm... aku bingung, kenapa ya Feng menyuruhku agar tidak dekat-dekat dengan kegelapan? Kenapa dia sepertinya benci sekali pada kegelapan? Padahal, tempat ini menyenangkan, kok... Tuh, kan? Sekarang aku sedang bermain-main dengan burung-burung ini, dan anak itu juga ikut. Ini sih tidak kalah dari waktu-waktu menyenangkan yang kuhabiskan bersama Feng.
Ahhh... nanti aku harus mengajaknya kemari. Dia pasti senang berada di tempat ini...
Eh, iya, kan?
-o-o-o-o-o-o-
Wah, dimana ini? Gelap sekali...
Hah? Ada seseorang di sana. Dia sedang tidur. Ahhh... kasihan sekali. Tempat ini kan dingin dan gelap? Apa dia tidak punya rumah untuk tidur, ya? Memangnya enak tidur di tempat seperti ini? Kalau aku jadi dia, aku pasti akan bermimpi buruk karena takut. Hmmm... sebaiknya kubangunkan saja dia.
Selangkah demi selangkah aku makin mendekatinya. Oh, ternyata seorang gadis.
Hah? Gadis ini... kenapa mirip sekali denganku? Rambutnya berwarna perak, sama sepertiku! Bedanya, rambutku kan panjang? Rambutnya pendek sekali, dan hanya menyisakan dua helai rambut yang dikepang di belakangnya.
Ah, siapapun dia, dia harus kubangunkan.
"Hei..."
Saat tanganku hampir akan menyentuhnya, tiba-tiba sesuatu terjadi padanya!
Hah! Bukan hanya padanya tetapi padaku juga!
Badanku rasanya... sakit sekali! Rasanya berjuta-juta jarum ditusukkan ke dadaku. Sangking sakitnya, pandanganku sampai mengabur dengan sendirinya. Seolah itu masih belum cukup, sesuatu keluar dari tubuhku! Dari dadaku, timbuh sebuah bola yang bercahaya! Bola cahaya itu pergi meninggalkan tubuhku...
Sebagai gantinya, kegelapan di sekelilingku inilah yang memenuhiku! Bukan hanya memenuhi pandangan mataku tetapi juga menggantikan bola cahaya itu! A-aku... aku sama sekali tidak tahu apa maksudnya ini! Tapi... ini pasti sesuatu yang buruk...
...
Ahhh... akhirnya perasaan itu hilang juga...
Aku tidak kemana-mana. Gadis itu juga tidak kemana-mana. Kami tetap di sini.
Tapi, dia sekarang berubah total! Rambutnya yang tadi perak itu sekarang berubah jadi hitam! Kulitnya yang tadi bersih, sekarang memiliki tanda-tanda yang bersorak seperti ular dan duri di sekujur tubuhnya. Dan satu hal lagi yang jauh lebih mengejutkan, bukan hanya dia yang mengalaminya! Aku... aku juga! Astaga... k-kenapa ini...?
"Hei, bangun!" Cepat-cepat kubangunkan gadis yang tertidur itu. "Bangunlah...! Apa yang terjadi dengan kita?"
Tapi anak itu tidak juga bangun.
Celaka... kenapa aku bisa seperti ini? Sama seperti wajah gadis itu yang sekarang dipenuhi berbagai corak-corak anek, pasti sekarang wajahku juga...
Ahhh... Bagaimana ini...? A-aku pasti jelek sekali...
Pasti Feng tidak mau lagi bertemu denganku kalau seperti ini...
"Bodoh kau, gong zhu..."
Aku berbalik.
Ahhh... rupanya Jian Bing! Jian Bing ada di sini!
"Jian Bing!" Aku segera berlari-lari menghampirinya. Tetapi anehnya, saat aku mendekat, dia justru menjauhiku dan memandangku dengan jijik! Kenapa bisa begini? Aku kan temannya? "Jian Bing, ada apa?"
"Apa yang kau lakukan, gong zhu!" Bentaknya dengan suara lantang. Sejujurnya, baru kali ini aku melihat Jian Bing marah. Aku sampai terpaku menatapnya. Jian Bing selalu tersenyum, selalu ceria, selalu tertawa. Tetapi Jian Bing marah? Aku tidak pernah melihatnya. "Gong zhu... kau memang gila."
Perkataannya itu pasti akan kubalas dengan tawa kalau dia bercanda. Sayangnya, dia tidak sedang bercanda. Dia sedang benar-benar serius.
"M-memang..." Aku berusaha menelan bulat-bulat ketakutanku. "... memang apa yang kulakukan, Jian Bing?"
Dia tidak menjawab untuk waktu yang sangat lama. Cuma menunduk. Cuma menunduk lama sekali. Sampai tidak tahu berapa menit kami lalui, aku mendengar suara pelannya yang sedang sesenggukan. Jian Bing menangis. Dan aku yakin, akulah yang membuatnya menangis.
"Jian B...?"
"Kenapa, gong zhu!" Dia memotong ucapanku. Kepalanya sekarang terangkat, kedua tangan berusaha mengeringkan matanya yang berair. "Kenapa gong zhu tidak mendengarkan perkataan Feng xun-jue? Kenapa gong zhu lebih memilih kegelapan?"
Suaranya yang mulanya keras itu semakin lama semakin pelan, kemudian kembali keheningan itu merasuki kami. Namun, seperti alunan musik, keheingan itu tiba-tiba berakhir dengan sebuah penutup yang keras. Sebuah hentakan.
"Aku benci gong zhu!"
J-jian Bing... Jian Bing benci padaku?
"J-jian Bing..." Aku menggigit bibir, sambil berusaha menelan kemarahanku. Tunggu. Ini bukan kemarahan. Aku tahu aku salah. Mungkin saja... mungkin saja aku hanya sedang berusaha menutupi rasa bersalahku dengan kemarahan yang dibuat-buat ini... "Kalau kau benci padaku, kenapa masih memanggilku gong zhu? Kalau hanya di sini untuk mengejek dan menyalahkanku, sebaiknya kau pergi saja!" Bentakku tak kalah sengit.
Dia tidak pergi. Tetap berada di sana. Kedua tangannya masih sibuk menyeka airmatanya yang tak kunjung berhenti seperti seorang anak kecil.
"A-aku..." Suaranya tertahan. "Aku tetap memanggilmu gong zhu karena..." Hening sejenak. "Karena tidak peduli apapun yang gong zhu lakukan, Feng xun-jue tetap menganggapmu seorang gong zhu!"
Hah...? Benarkah itu?
"Aku benci! Benci sekali pada gong zhu sampai sakit rasanya! Zhi Ming juga! Meng Zhang juga! Apalagi Ling Guang! Semuanya benci pada gong zhu!" Kedua tangannya terkepal di depan dadanya, seolah sedang menahan sakit yang begitu luar biasa. "Aku benar-benar membenci gong zhu sampai aku rasa lebih baik mati daripada menahan sakit seperti ini!"
"Tapi Feng xun-jue..." Lanjutnya. Suaranya yang tadi berapi-api sekarang berubah tenang sekali. Teduh. Tetapi tetap bergetar karena menahan tangis. "... Feng xun-jue tetap saja sayang pada gong zhu. Dan Feng xun-jue juga merasa sakit karena gong zhu... Bukan sakit oleh rasa benci, tapi karena sayang..."
Pidato pendeknya yang terbata-bata dan spontan itu akhirnya berakhir. Tangisnya lagi-lagi pecah. Bibirnya bergetar seperti suara yang dikeluarkannya tadi.
Bodoh... Jian Bing benar-benar bodoh, ya?
Kenapa dia berkata begitu padaku? Sebenarnya dia sayang padaku atau benci padaku, sih? Kalau dia memang benci padaku, kenapa harus mengatakan hal itu padaku? Justru kalau dia memberitahuku Feng masih tetap sayang padaku, aku akan senang. Dan kalau dia benci padaku, dia pasti tidak akan memberitahukannya. Ya, kan?
Tapi... saat Jian Bing bilang Feng tetap sayang padaku, aku sama sekali tidak merasa senang.
Justru, perasaan bersalah yang sudah kukubur dalam-dalam ini keluar lagi, dan malah semakin besar! Apalagi saat melihatnya menangis...
Namun, sama halnya kalau perasaan bersalah itu makin besar, maka kesombonganku untuk tidak mengakuinya pun ikut makin besar.
Aku... aku masih dengan sombongnya membalas perkataannya...
"Haha... tentu saja..." Aku berusaha tertawa. Tapi tawa itu terdengar aneh sekali. "Aku kan orang yang benar-benar disayangi Feng... Baginya, aku yang paling cantik, yang paling indah, yang sangat penting untuknya..." Ahhh... payah, meski aku bilang begitu, airmataku juga ikut mengalir tanpa bisa dikendalikan. "A-aku... aku bukan sepertimu, Jian Bing... juga bukan seperti Zhi Ming, Meng Zhang, Ling Guang... aku jauh lebih dari kalian semua, makanya dia tetap sayang padaku!"
Benar, kan? Benar tidak, ya?
"Apa...?" Jian Bing bergumam pelan. Matanya perlahan naik menatapku. Tatapannya gelap dan tajam. Benar-benar mengerikan... "Kau masih belum sadar, gong zhu? Kau itu kotor! Kau itu menjijikkan! Mana mungkin kau bisa lebih dariku? Dengan... dengan anjing yang ada di depan gerbang kota saja kau lebih rendah!"
"Bagaimana bisa begitu!"
Mataku melebar. Nafasku memburu. Ini benar-benar kurang ajar! Apa maksudnya itu! Aku... aku lebih rendah dari anjing katanya! Bagaimana mungkin hanya dengan melakukan itu, aku seketika langsung lebih rendah dari anjing? Kata-katanya itu lebih dari sekedar penghinaan!
Tapi, Jian Bing tidak akan pernah menjawab pertanyaanku sampai aku mengerti. Dia jatuh di atas kedua lututnya. Kakinya sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi. Aku tidak bisa mengerti dalamnya kesedihannya, atau perasaan apapun itu yang ada padanya. Dia cuma menjawab dengan satu kalimat pendek saja. Kalimat yang aneh...
"Karena... karena Feng xun-jue tidak perlu menyelamatkan anjing... anjing tidak jatuh dalam kegelapan..."
Aku tertegun.
Mulutku terkatup rapat. Benar-benar bisu aku rasanya.
Tidak ada satu katapun yang aku mengerti. Di sela-sela pikiranku yang membuatku berdiri kaku seperti patung, aku melihatnya yang perlahan-lahan menghilang. Sampai terakhir aku melihatnya, tangisnya tetap tidak akan berhenti.
Entah berapa kalipun aku memanggilnya, aku tahu dia tidak akan kembali. Jadi aku cuma diam.
Langkah kakiku kembali pada gadis yang masih tertidur itu.
"Hei, kau juga jatuh, ya?" Aku terdiam sejenak. "Ah... tentu saja. Kau kan juga aku."
Dia masih tidak bergerak.
Aku duduk sambil memeluk lututku di sebelahnya. "Kita ini lebih parah dari anjing, ya? Hahaha..." Aku tertawa pahit. Tapi jawaban yang kuterima cuma gema dari ucapakanku saja. "Kalau aku memang lebih parah dari anjing, kenapa dia masih menolong aku, ya? Sebenarnya aku ini seberharga apa untuknya?"
Sebuah jawaban terdengar.
"Seberharga ini, Huang..."
Kepalaku kuangkat.
Di depanku, aku melihatnya, melihat Feng! Tapi, mataku ini tidak bisa benar-benar jelas melihatnya. Di tengah kegelapan ini, juga mataku yang telah terbiasa di dalamnya, aku melihat cahaya yang begitu kuat. Cahaya yang membutakanku! Jadi, yang bisa kulihat samar-samar hanya sosoknya yang sedang membelakangiku.
Dia pun berbalik.
Tadinya, kulihat kedua tangannya seolah sedang menadah sesuatu yang berbentuk seperti permata. Tetapi aku salah. Kali kedua aku melihatnya dengan baik, dia tidak sedang memegang sesuatu, tetapi sedang menggendong seseorang.
Feng sedang menggendong seseorang yang sedang tertidur di tangannya. Yah, tidak jauh berbeda denganku. Ada seseorang yang juga sedang tidur di dekatku.
Laki-laki yang tidur di atas kedua tangannya itu benar-benar mirip dengannya. Sama miripnya seperti antara aku dengan gadis yang tertidur ini. Wajahnya, tubuhnya, matanya, bibirnya, semuanya sama. Yang beda hanyalah rambut laki-laki itu yang lebih pendek dan berwarna coklat...
Pasti itu... dirinya yang seorang lagi. Diri Feng yang seorang lagi, yang sangat-sangat disayanginya seperti dia menyayangi dirinya sendiri. Yahhh... karena memang dia adalah dirinya sendiri.
Tapi, yang dilakukan Feng saat itu aneh sekali.
Dia melempar anak laki-laki yang digendongnya itu ke arahku, seolah dia membuangnya begitu saja. Dan aku... aku benar-benar terkejut bukan main!
Hanya saja, bukan hanya tindakannya itu yang mengejutkanku.
Barulah aku sadar, di antara aku dan Feng ada sebuah tembok pelindung yang memisahkan kami seperti kaca transparan. Saat itulah, ketika dia melemparkan tubuh dirinya yang seorang lagi ke arahku, pelindung itu pecah berkeping-keping, seperti kaca yang pecah ketika dilempar sesuatu.
Kedua tanganku sekarang menutup mulutku yang terbuka lebar.
Feng... melakukan itu pada... pada dirinya yang seorang lagi? Tidak mungkin! Ini... ini bohong, kan? Bagaimana mungkin dia melakukan itu? Feng sayang sekali padanya! Ya, sebab kalau dia tidak sayang pada dirinya yang seorang lagi, sama saja dengan dia tidak sayang pada dirinya! Aku tahu, apapun yang dia lakukan pada dirinya yang seorang lagi, sama saja dengan apa yang dia lakukan padanya...
Baru aku sadar sesuatu... apa benar laki-laki itu dalam gendongannya itu tidur? Dan apa benar gadis di sebelahku ini juga tidur?
Tapi aku sudah tidak melihat hal itu lagi.
Yang kulihat sekarang cuma Feng yang sedang mengulurkan tangannya. Airmata tidak berhenti mengalir, tetapi senyumnya pun tidak pudar. Dia sedang menungguku untuk menyambut tangannya. Tembok itu sudah tidak ada. Tidak ada lagi yang memisahkan kami berdua.
Dan kalau sudah begini, cuma satu hal yang aku tahu.
Aku menyambut uluran tangannya.
Satu kali aku menatap dirinya yang seorang lagi. Hanya sejenak.
Untuk menyelamatkanku, dia apa dia harus melakukan itu? Membuang dirinya yang seorang lagi? Dia kan benar-benar sayang pada dirinya yang seorang lagi, sama seperti menyayangi dirinya sendiri?
Lagi-lagi aku terdiam...
Baru sekarang aku sadar sesuatu...
Feng lebih sayang padaku daripada kepada dirinya sendiri...
Gelap...
Tempat apa ini?
Aku tidak bisa melihat apapun. Yang aku tahu sekarang adalah aku pasti bukan di suatu tempat yang menyenangkan. Tempat ini dingin, menyeramkan.
Saat aku berusaha bergerak untuk pergi, aku sadar sesuatu. Aku bukan hanya tidak bisa melihat, tetapi juga tidak bisa bergerak. Aku seperti orang yang terbaring lumpuh di atas... ranjang? Ah, bukan. Kalau ranjang sih enak. Aku terbaring di atas sesuatu yang kasar dan keras. Sekujur tubuhku sakit semua, rasanya seperti dililit sesuatu yang berduri...
Bahkan rasanya untuk bernafas saja sulit sekali...
Aku bukan hanya tidak bisa bergerak karena terikat di tempat ini. Kekuatan saja aku tidak punya. Yang aku bisa cuma tergeletak tak berdaya saja. Suaraku terlalu serak dan pecah untuk bisa terdengar orang lain.
Jadi, tidak mungkin ada yang bisa menolongku.
Perlahan, airmataku meleleh. Tapi aku tidak terisak-isak. Bagaimana bisa? Untuk bernafas saja aku kesulitan.
Sampai tiba-tiba, aku mendengar sesuatu dari jauh.
Ada seseorang yang datang. Suara langkah kaki yang cepat dan tergesa-gesa.
Dari jauh, aku bisa mendengar suaranya berteriak memanggil-manggil namaku, diselingi dengan nafasnya yang terengah-engah dan putus-putus. Siapa gerangan yang datang?
Sampai kemudian, suara itu berhenti seluruhnya. Sebagai gantinya, aku merasakan sesuatu.
Uluran tangan seseorang. Tangan itu sepertinya melakukan sesuatu. Ya, perlahan dia melepaskan tubuhku, kepala, leher, tangan, kaki, semuanya dari duri yang menjerat tubuhku. Sentuhan tangannya sangat lembut, sangat amat berbeda dari benda-benda yang mengekangku ini.
Dia tidak berhenti cuma sampai di sana. Satu tangannya mengangkat kepalaku, sementara yang lainnya melepaskan sesuatu. Ahhh... ternyata ada selembar kain yang diikat untuk menutup mataku. Sekarang, kain itu sudah tidak lagi membutakanku. Aku bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas!
Ternyata, memang benar dugaanku. Aku berada di tempat yang sangat mengerikan! Tempat ini masih saja gelap, seperti malam hari dimana bulan dan bintang bersembunyi, dan angin yang membekukan bertiup dari arah utara. Aku terbaring di atas semak-semak duri, sementara semak-semak duri yang lain yang lebih tinggi melilit tubuhku, sampai aku tidak bisa bergerak sedikitpun.
Tapi itu tadi.
Sekarang aku sudah sudah bebas bergerak.
Sayangnya, aku masih tidak punya kekuatan untuk pergi dari tempat ini. Aku benar-benar tidak mau berada di sini barang sedetik lebih lama lagi! Tapi, mau bagaimana? Meski sudah terlepas, tapi kalau tidak punya kekuatan untuk lari, sama saja bohong, kan?
Untunglah, semuanya tidak berakhir seperti itu.
Tangan yang tadi melepaskanku sekarang terulur di depanku. Aku cuma bisa memandangnya lama sekali sebelum menerima uluran itu. Di dalam pandanganku yang masih kabur ini, aku bisa melihat sebagian tangannya tertutup sesuatu berwarna merah. Saat kutajamkan pandanganku, aku sadar kalau cairan merah itu adalah darah. Yah, tangannya pasti terluka saat menyentuh duri-duri itu. Duri-duri yang besar, tajam, mengiris, sebagian masih menusuk luka-lukanya.
Lalu aku menengadah, menatap siapa yang sebegitu gilanya sampai terjun di kolam semak duri ini cuma untuk menyelamatkanku.
Ahhh...
Mataku sulit sekali melihatnya.
Bukan apa-apa, tapi mataku ini sudah lama tertutup, dan yang kulihat cuma gelap dan gelap saja. Sekarang, aku seperti melihat cahaya yang terang. Setelah mengerjap-ngerjapkan mataku beberapa kali, baru aku bisa melihatnya. Bodohnya aku, aku tidak tahu siapa dia.
Hei, tunggu. Bagaimana aku bisa tidak tahu siapa dia? Dia itu kan orang yang dekat sekali denganku!
Tapi, siapa ya?
Rambut pendeknya yang sehalus benang sutra melambai tertiup angin, mata emasnya yang teduh seperti Danau Barat, wajah lembutnya yang dihiasi senyum tulus. Rasanya aku pernah mengenal wajah itu. Tetapi kapan, aku lupa. Rasanya sudah lama sekali, seperti sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya.
Namun, aku berani menerima uluran tangannya itu. Di dekatnya saja, aku merasa aman, aku merasa semuanya akan baik-baik saja. Jadi sekarang, dengan sisa-sisa kekuatanku yang terakhir, aku membiarkannya membawaku kemanapun dia mau. Yah, aku tidak peduli lagi. Pokoknya aku cuma mau pergi dari tempat ini dan aku tidak akan protes dan banyak cing-cong padanya.
Dia menggendongku. Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya, begitu juga kedua tanganku di lehernya. Di sini, semak duri itu tidak cukup tinggi untuk menusukku. Apalagi tangannya juga memelukku dengan erat, menahanku dengan kuat agar aku tidak jatuh.
Sayangnya, kalau dia menggendongku seperti ini, aku jadi tidak bisa melihat ke depan. Aku jadi tidak tahu apa yang sudah dan sekali lagi akan dia tempuh untuk membawaku keluar dari tempat ini. Yang bisa aku lihat cuma apa yang sudah dilaluinya. Pandangan mataku jatuh ke bawah, ke tanah yang dipijaknya. Hei, kakinya itu tidak menyentuh tanah begitu saja. Masih ada semak-semak duri yang menunggu untuk menusuk dan merobek kulitnya. Yang bisa kulihat dari apa yang tertinggal adalah darah saja.
Satu lagi. Dia menggendongku seperti ini, mungkin bukan cuma supaya aku tidak bisa melihat apa yang akan dijalaninya. Kalau aku digendong seperti ini, seandainya ada bahaya dari belakang, aku bisa langsung melihatnya dan pada saat yang sama, dialah yang duluan akan menerima serangan itu.
Aneh... apa dia perlu melakukan sebanyak ini untukku?
Dan yang lebih aneh lagi, aku tidak bisa tersenyum. Bahkan tersenyum sebagai ucapan terima kasih saja tidak. Aku malah merasa sedih sekali. Gara-gara aku, aku sampai membuat seorang sepertinya menderita. Bibirku kugigit kuat-kuat. Aku tidak tahu apakah suara isakanku yang tertahan sampai di telinganya atau tidak. Tapi aku tahu dia pasti sadar saat aku membenamkan wajahku dalam-dalam di bahunya, kemudian membiarkan airmataku tumpah ruah begitu saja membasahi pakaiannya yang indah.
Tangannya yang lembut itu membelai rambutku.
"Sudah, tidak apa-apa..." Bisiknya di telingaku. "Kau tidak akan kesakitan lagi..."
Bodoh... justru itulah masalahnya! Demi membuatku tidak kesakitan, kau malah membiarkan dirimu sendiri yang menanggung kesakitan itu! Begitulah pikirku dalam hati. Tapi aku terlalu lemah untuk mengatakannya, dan juga tidak berniat untuk melakukannya.
Kalau tahu aku akan menyakiti orang lain supaya aku bebas, lebih baik aku tetap di tempat itu saja, kan?
Tapi, ahhh... aku ini sombong sekali, ya? Tadi saat di sana, aku begitu memohon-mohon agar seseorang datang membantuku. Tapi sekarang, saat sudah bebas, aku malah bilang aku lebih baik tetap di sana.
Payah sekali aku ini...
Tanpa tahu apa lagi yang harus kulakukan, aku cuma bisa diam saja. Sungguh, aku benar-benar merasa bersalah...
Di tengah kesunyian ini, sementara kepalaku masih tertunduk dan wajahku terbenam di bahunya, aku merasakan langkahnya yang semakin melambat. Ahhh... kurasa dia sedang mendaki sesuatu. Sesekali aku merasakan tangannya yang berdarah memelukku bergetar dan hampir terlepas, tetapi itu tidak pernah terjadi. Peluh di wajahnya membasahi ujung-ujung rambutku. Dengan sepenuh hati aku berharap agar tangannya itu tidak pernah melepaskanku, supaya aku tidak jatuh. Tapi dengan sepenuh hati pula aku berharap agar dia akhirnya menyerah dan menjatuhkanku, supaya dia tidak perlu merasakan kesakitan lagi karena menolongku.
Sesudah waktu yang seolah tidak pernah habis, sementara mataku masih tertutup rapat, aku merasakan suatu perubahan. Angin yang tadinya berhembus kencang dan dingin, membawa serpihan-serpihan daun yang tajam, sekarang berubah. Angin sepoi-sepoi yang lembut dan hangat membawa bau rumput yang tumbuh di musim semi. Udara yang hangat melimpahi tubuhku yang masih menggigil.
Langkahnya berhenti.
"Kita sampai!"
Suaranya kelihatan gembira sekali, seolah luka-lukanya itu sama sekali tidak dirasakannya. Yah... seolah dengan mengetahui dia berhasil membawaku keluar dari tempat itu, kesakitannya hilang seketika. Aku pun mengangkat wajahku dan membuka mata.
Wah...
Tempat yang indah sekali...
Sepanjang mataku melihat, yang ada cuma padang rumput yang hijau. Beberapa pohon buah Tao yang rimbun dan lebat berdiri menjulang membayang-bayangi cahaya matahari yang masuk. Yahhh... memang tempat yang indah, sih... sangat berbeda jauh dari tempat yang tadi. Tapi, dengan keadaanku yang sangat kotor dan menyedihkan ini, rasanya aku tidak pantas berada di tempat seperti ini.
Kemudian, dia menurunkanku dari gendongannya. Aku sekarang duduk di tepi sebuah sungai dengan air yang sangat jernih. Kakiku yang tercelup di air bisa merasakan betapa menyegarkannya air itu, meski luka-lukaku juga terasa perih. Air yang tadinya jernih berubah sedikit demi sedikit menjadi merah karena terkena darahku.
Sesudah itu, barulah aku bisa melihat keindahan yang sesungguhnya di tempat ini. Saat aku menengadah ke atas, aku akhirnya bisa melihatnya sepenuhnya. Satu orang itu saja mengalahkan semua keindahan tempat ini. Senyum lembut yang tidak pernah pudar dari wajahnya yang terlihat lelah. Tangan kanan menyeka keringat yang membasahi dahinya. Pakaiannya, sebuah jubah sutra yang berwarna putih, meski ujung lengannya sudah sobek-sobek dan berwarna merah karena darah, tetap saja terlihat indah. Jubah luarnya lebih indah lagi. Merah, warna jubah luarnya merah seperti darahnya. Bordiran emas yang berkilau, seperti matanya. Sebuah kain sutra putih diikatkan di pinggangnya.
Dia melepaskan kain putih itu. Kain itu dicelupkan seluruhnya di air , sebelum ia menggunakannya untuk membersihkan tubuhku dari segala macam kotoran dan darah yang menutupinya. Ahhh... kain sutra itu... padahal kain itu bagus sekali! Dan sekarang kain itu sampai kotor di sana sini karena digunakan untuk membersihkan tubuhku!
Tentu saja, aku langsung protes.
"Eh! Tidak perlu!" Seruku sambil menggenggam pergelangan tangannya. "Jangan lakukan itu! Aku..."
Dia memotong ucapanku dengan senyumnya, sebelum menjawab. Satu tangannya di bawah daguku, mengangkat wajahku agar dia bisa melihatnya dengan jelas, sementara tangannya yang lain membersihkannya. "Kalau aku tidak membersihkanmu, apa kau bisa membersihkan dirimu sendiri?"
Aku langsung terdiam. Iya juga, sih... aku kan tidak punya kain bersih untuk bisa mengelap tubuhku. Dan menceburkan diri ke aliran air ini rasanya gila sekali. Lukaku bisa main perih! Jadi, aku cuma bisa diam saja membiarkannya melakukan apa yang dia mau.
Sesudah itu, dia melakukan sesuatu yang mengejutkan lagi. Yah, mungkin pikirnya semua tindakannya itu belum cukup mengagetkan untukku. Dia berlutut di depanku, sampai kedua matanya bertemu pada satu garis lurus dengan mataku. Dia melepaskan jubah luarnya itu hanya dalam waktu sekejap mata, dan dia... dia... dia memelukku!
Astaga...!
Yang benar saja!
Yah, memang sih aku sudah bersih. Tapi kan bukan berarti aku sudah pantas untuk diperlakukan seperti ini?
Akhirnya, pertanyaanku terjawab.
Dia memelukku bukan cuma untuk menunjukkan kalau dia sayang padaku! Pada saat yang sama, aku merasakan sesuatu keluar dari tubuhku, sesuatu yang terus-menerus menyesakkan dadaku dan membuat rasa sakit di tubuhku tidak kunjung hilang. Aku tidak tahu apa sebenarnya itu, yang kulihat cuma aura-aura seperti asap berwarna hitam. Dan asap hitam itu... masuk ke dalam tubuhnya...
Sebagai gantinya, dari tubuhnya juga keluar sesuatu seperti cahaya putih. Aura-aura yang sangat indah dilihat, dan mereka masuk ke dalam tubuhku. Saat itulah, ada perubahan luar biasa padaku! Tadinya aku merasa kedinginan, kesakitan, lumpuh, dan tidak berdaya. Sekarang, sebaliknya, aku merasa luar biasa! Seolah aku baru saja bangun tidur di pagi yang cerah dan menyegarkan, dengan tenaga yang masih penuh meluap-luap dalam tubuhku!
Pelukan itu perlahan terlepas.
Baru saja aku mau mengatakan terima kasih padanya ditambah kalau bisa menanyakan apa yang dia lakukan padaku, tiba-tiba saja kedua tangannya mendarat di atas bahuku! Kedua tangannya bergetar, seolah berusaha menahan bebannya di atas bahuku sebagai penopang. Dan bukan hanya itu, jubahnya yang tadi berwarna putih bersih itu sekarang dipenuhi bercak-bercak berwarna hitam yang kotor.
"Hei!" Seruku terkejut sambil berusaha membantunya duduk dengan tegak. Kudengar suara nafasnya yang berat dan tidak teratur. "Kau tidak apa-apa?" Aneh, padahal tadinya dia kuat sekali. Sekarang dia kelihatan rapuh dan lemah. Yahhh...
... sama sepertiku tadi.
Dia menggeleng pelan. Di bibirnya sekarang senyum itu perlahan pudar. Wajahnya tidak lagi secerah tadi. Kelihatan sekali kalau dia sedang menahan rasa sakit. Dalam keadaan seperti itupun, dia masih berusaha menjawab. "Tenang saja... jangan khawatirkan aku..."
Tangannya berusaha menggapai jubah merahnya, jubah luar yang tadi dilepaskannya. Sesudah itu, dia memakaikannya padaku!
A-apa...?
Bagaimana aku bisa mempercayainya?
Dia bercapek-lelah mencariku ke dalam lembah penuh semak duri itu. Dia melepaskan satu persatu duri yang melilitku dan membawaku pergi dari tempat itu. Membersihkan luka-lukaku, mengambil seluruh kegelapanku dan menukarkannya dengan cahayanya sendiri. Dan terakhir... dia... memberikan jubahnya untukku...
Aku jadi tidak tahu harus merasakan apa. Aku terlalu senang, terlalu senang sampai bahkan tersenyum pun tidak bisa. Dan pada saat yang sama aku sangat sangat sedih, sampai setetes airmata pun tidak ada yang keluar. Apa... apa sebenarnya yang harus aku rasakan?
Jadi, aku cuma bisa tertunduk dalam-dalam. Kedua tanganku menutup wajahku. "Terima kasih..."
Cuma itu saja yang bisa kulakukan.
Untuk waktu yang sepertinya lama sekali, tidak ada suara apapun, tidak ada gerakan apapun. Yang ada hanya kesunyian. Sampai akhirnya, aku merasakan sentuhan tangannya di pergelangan tanganku. Dia menariknya dengan lembut. Sekali lagi, aku melihat wajahnya.
"Meimei..." Bisiknya dengan setengah suara. "Jangan menghilang lagi, ya?"
Aku tidak tahu apa artinya itu. Aku pun teringat sesuatu. Ah, iya... aku kan sudah menukarkan kekuatan cahayaku untuk kekuatan kegelapan? Tapi, aku baru tahu kalau ternyata bukan cuma kekuatan semata yang menjadi pertukaran. Seluruh keberadaanku ternyata juga jadi pertukaran, bukan? Makanya itu aku bisa terikat di tempat mengerikan itu, dan dia harus pergi untuk menolongku.
Hembusan angin semilir menggelitik telingaku, membuyarkan lamunanku seketika. Di depanku aku melihat sebuah pemandangan yang mungkin tidak akan pernah kulupakan selamanya. Seperti sebuah lukisan maha karya yang sangat indah. Dia masih terduduk lemah di sana. Wajahnya seperti menahan sakit. Sebagai latar belakang adalah langit senja dengan matahari yang nyaris terbenam. Cakrawala tidak berwarna lembayung seperti pada umumnya, melainkan mengeluarkan warna merah, merah seperti darah. Warna merah yang sama dengan darah yang mengalir dari luka pada tangan dan kakinya.
Dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya. Bukan dia menyuruhku mengubahnya juga, sih.
Sampai pada suatu saat, di ujung padang rumput itu, tepat di belakangnya, aku melihat cahaya sangat terang! Luar biasa terangnya sampai seolah matahari sendiri yang datang ke arah kami! Bahkan bukan hanya cahaya saja yang kulihat, tetapi juga panas... api yang panas sedang mendekat!
Suara langkah-langkah mendekat, membuatku takut setengah mati. Begitu juga dengan orang yang menolongku ini. Bedanya, dia tidak terkejut. Dia cuma menunduk dalam-dalam, kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar erat-erat. Ahhh... apa yang terjadi setelah ini?
Sangking kuatnya cahaya yang menimpaku, aku sampai terjatuh ke belakang, dengan kedua tanganku menutupi wajahku. Kalau aku melihatnya lebih lama lagi, aku pasti akan buta!
Sambil perlahan memberanikan diri untuk mengintip melalui sela-sela jariku, kulihat seseorang masih berada di posisi yang sama di tempat sebelum aku terjatuh tadi. Masih menatap ke depan. Betapa terkejutnya aku melihat seorang gadis yang sangat mirip denganku! Yang pasti, rambutnya berwarna perak sepertiku. Tetapi rambutnya panjang dan ikal, tidak seperti rambutku yang pendek. Dari sudut ini, aku tidak bisa melihat wajahnya.
Tapi aku tahu apa yang dia lakukan sesudah itu.
Diriku yang satu lagi berdiri, kemudian berlari menghampiri cahaya itu. Dari mulutnya ia berseru berulang kali, "Feng! Feng!", tetapi tidak ada jawaban yang ia terima dari cahaya itu.
Dan tidak hanya itu. Ketika dia hampir saja sampai, dia terpelanting jatuh ke samping, seolah ada tembok transparan yang memisahkannya dari cahaya itu. Diriku yang satu lagi, dengan mata berkaca-kaca, masih memanggil cahaya itu berulang-ulang, hanya untuk tidak didengarkan sedikit pun. Cahaya itu tetap saja berjalan makin dekat ke arahku... semakin dekat...
Wujudnya semakin terlihat jelas di mataku. Betapa terkejutnya aku melihat... melihat wajahnya yang begitu mirip dengan wajah orang yang menolongku! Rambut panjangnya yang berwarna emas itu saja yang berbeda. Wajah lembut yang sama, sepasang mata seperti danau emas yang sama. Hanya saja, tidak ada senyum yang tersungging di bibirnya. Dengan auranya yang seperti api yang begitu panas, bibirnya yang tidak menyunggingkan sedikitpun senyum, tatapan mata yang tajam, dan sebilah pedang di tangan kanannya, siapa yang tidak tahu kalau dia sedang membawa amarah yang seperti api yang menghanguskan?
Dia berhenti saat berada di depanku. Pedang itu berada di tangannya.
Aku benar-benar takut. Apa yang akan terjadi denganku sekarang?
Sebelum terjadi sesuatu, aku mendengar sebuah panggilan. Arahnya pasti dari laki-laki yang menolongku. Dia memanggil dirinya yang satu lagi dengan sebuah panggilan yang... sangat dekat... setidaknya bergitulah kedengarannya untukku...
"Tai Yang...!"
Orang yang dipanggilnya Tai Yang itu menoleh menatapnya. Dan, tahu apa yang kulihat sesudah itu? Hanya untuk sepersekian detik lamanya, sang Tai Yang itu menunjukkan wajah yang benar-benar terpukul saat melihatnya, seolah sewaktu-waktu ia bisa saja jatuh dan menangis hanya karena melihat dirinya yang seorang lagi. Aku mengerti benar akan hal itu. Bagaimana tidak? Dia pasti benar-benar menyayangi dirinya yang satu lagi, kan? Bagaimanapun, dia adalah dirinya sendiri.
Tetapi yang tidak aku mengerti adalah yang dia lakukan sesudah itu.
Hanya sepersekian detik saja! Hanya sekejap kedipan mata saja ekspresi terpukul itu bertahan, sebelum berubah seratus delapan puluh derajat! Tatapan matanya sekarang sangat tajam dan menusuk, wajahnya menunjukkan rasa jijik. Tatapan matanya seperti melihat sampah yang kotor. Siapapun yang menerima tatapan seperti itu tentu akan merasakan hatinya seperti dihujam pisau es, dan dia bukan pengecualian.
Kepalanya tertunduk dalam-dalam, tidak ada sepatah katapun keluar.
"Zua..." Kata-kata itu berhenti di situ. Mulutnya terkatup kembali, urung mengatakan apa yang ingin diucapkannya. Tatapannya yang tajam itu kembali padaku, dengan pedang yang sudah berkilat-kilat di tangannya. Ujung pedang itu teracung ke arahku!
Jantungku seakan berhenti. Celaka... aku... aku akan mati sebentar lagi...
Tetapi aku baru saja sadar. Ujung pedang itu ternyata tidak benar-benar terarah padaku, melainkan satu titik di depanku.
"Tai Ya... Ah!"
Laki-laki itu hampir saja memanggil dirinya yang seorang lagi, tetapi cepat-cepat menutup mulutnya dan menunduk lagi. Masih dalam posisi berlutut, kedua tangannya sekarang menjadi tumpuan tubuhnya di lantai. Barulah aku sadar... posisinya... posisinya seperti orang sedang berkowtow... aneh sekali...
Kenapa dia perlu berkowtow pada dirinya yang seorang lagi?
"Kau," Tanpa sedikit pun menatapnya, orang yang tadi dipanggilnya 'Tai Yang' itu berkata dengan suara yang dingin. "Lakukan apa yang harus dan mau kau lakukan."
Sebagai balasan, dia mengangguk pelan, kemudian berusaha untuk berdiri. Ingin sekali rasanya aku membantunya. Tetapi sangking takutnya aku, seluruh persendian tubuhku rasanya lumpuh, menolak untuk digerakkan. Cuma indra pengelihatanku saja yang tetap berjalan, melihatnya berdiri, kemudian berjalan dan baru berhenti di depanku, di tempat dimana ujung pedang itu mengarah.
Dia menatapku sekilas.
Tatapan matanya benar-benar nanar dan penuh kepedihan. Siapapun yang melihat itu tidak mungkin bisa menahan airmatanya.
Baru sesudah itu, dia berbalik menghadap kepada dirinya yang seorang lagi.
Kedua tidak mengatakan apapun! Bertatap matapun tidak! Yang satu tertunduk dalam-dalam karena rasa malu yang aku juga tidak mengerti kenapa, sementara yang satu lagi membuang muka karena enggan melihat dirinya yang seorang lagi.
Tapi keadaan itu tidak bertahan lama. Perlahan laki-laki itu, dia yang karena menolongku sampai tidak dipandang oleh dirinya yang seorang lagi, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar! Aku hanya bisa memandangnya dengan mata terbelalak lebar dan mulut menganga. Ya Tian... apalagi yang akan terjadi...?
Berdiri di depanku seperti itu, membelakangiku dan berhadapan dengan dirinya seorang lagi yang menggenggam sebilah pedang di tangannya, dia kelihatan seperti sedang...
... sedang melindungiku.
Aku hanya bisa menutup mataku rapat-rapat. Aku benar-benar ingin sekali menghilang dari tempat ini, pergi dari tempat ini sejauh-jauhnya! Ugh... kenapa...? Kenapa aku harus menukarkan diriku sendiri dengan kekuatan kegelapan yang akhirnya membuatku jatuh sendiri? Dan kenapa dia harus menolongku? Kalau dia tidak menolongku, dia tidak perlu mengalami ini! Ya, kan?
Sementara tangisanku teredam dalam tanganku, aku hanya bisa mendengarkan suara dengupan jantungku yang bertambah kencang.
Sesudah itu, sebuah suara teriakan.
Lalu, tidak terdengar apa-apa lagi...
Aku perlahan membuka mataku, hanya untuk tidak bisa mempercayai pengelihatanku. Dia masih berdiri di atas kedua kakinya. Tetapi lututunya tidak lagi tegak melainkan tertekuk. Sepertinya kedua kakinya tidak lagi menahan beban tubuhnya. Sebuah tangan yang mencengkram erat bahunya, itulah satu-satunya yang mempertahankannya tetap berdiri. Sementara kedua tangannya yang tadi terentang sekarang terkulai lemah di sisi-sisi tubuhnya.
Tapi, jauh dari semua itu, yang tidak bisa aku percayai adalah punggungnya.
Ujung pedang yang berlumuran darah itu menembus punggungnya.
Rasanya kurang menyakitkan kalau hanya tusukan seperti itu, kemudian dia ditinggalkan, bukan? Jadi, orang yang menyerangnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dirinya yang seorang lagi, mencabut pedangnya itu. Kemudian dengan satu kibasan tangan yang kuat, dia melemparkan dirinya yang seorang lagi. Melemparkan! Melemparkannya seperti boneka kain yang sudah rusak! Melemparkannya seperti sampah...
Aku terlalu terkejut untuk berpikir bahwa sekarang sebaiknya aku menghampirinya dan melakukan sesuatu untuknya, apapun asal bisa meringankan sedikit kesakitannya! Tetapi aku terlalu takut, terlalu lumpuh untuk melakukan apapun.
Sementara itu, orang yang membawa pedang itu mengembalikan tatapan matanya padaku.
Sekarang aura yang panas seperti api itu tidak ada lagi. Aneh. Begitu cepatnya berubah.
Dan wajahnya juga berubah. Bukan kemarahan, bukan rasa jijik, bukan kejengkelan dan kekecewaan.
Tapi kesedihan dan kepahitan yang tidak bisa aku katakan. Saat itulah aku mengerti. Meski dia sudah menusuk dirinya yang seorang lagi dengan pedangnya, bagaimanapun dia adalah dirinya yang seorang lagi! Aku tahu, memandangnya seperti itu, menusuknya, dan melemparkannya seperti sampah begitu sangat sulit untuknya. Dia seperti melakukan semua itu pada dirinya sendiri.
Airmata yang mengaliri wajahnya begitu jelas terlihat. Dan tidak ada gunanya berusaha membersihkannya. Airmata itu selamanya tidak akan pernah berhenti mengalir.
Tapi, dengan sebuah senyuman, dia mengatakan sesuatu padaku.
Sesuatu yang membuatku yakin, sejak awal dia tidak pernah akan membunuhku. Sejak awal pedang itu ada hanya untuk menancap pada dirinya yang seorang lagi.
"Cahayamu benar-benar indah sekali... Seperti cahaya Zuan Jin dulu..."
Indah? Cahayaku?
Sebelum aku sempat protes, dia sudah berbalik meninggalkanku.
Cahayaku? Ini bukan cahayaku! Aku ini cuma makhluk rendahan yang sudah menukarkan keberadaanku dengan kegelapan! Aku ini sebenarnya terikat di dalam jurang yang gelap dan penuh semak duri itu! Kalau bukan karena orang yang kau panggil 'Zuan Jin' itu, aku tidak akan pernah keluar! Dan cahaya ini... ini cahaya Zuan Jin-mu! Bukan cahayaku!
Tapi terlambat, dia sudah pergi...
Dari kejauhan, aku bisa melihatnya berhenti dan melihat ke samping. Matanya masih basah. Airmatanya masih mengalir. Tapi senyumnya itu tetap ada saat dia melihat diriku yang seorang lagi. Sambil melemparkan pedangnya, dia memeluk diriku yang seorang lagi.
Tembok itu sudah tidak ada...
Tanganku terkepal erat. Betapa tidak adilnya ini untuk dia...
Pelukan itu tidak pantas untuk diriku yang seorang lagi! Pujian itu , bahwa cahayaku indah, juga tidak pantas untukku! Yang pantas menerimanya cuma dia... si 'Zuan Jin' itu, dirinya yang seorang lagi yang benar-benar disayanginya...
Sebaliknya, pedang itu harusnya ditusukkan padaku, dan pada diriku yang seorang lagi! Tatapan penuh rasa jijik itu, dibuang seperti sampah begitu, tidak pantas untuknya!
Di tengah-tengah badai pikiranku yang bergelora ini, aku mendengar sebuah suara yang pelan. Suara yang bergetar dari arahnya. Dari suara itu, aku tahu dia pasti sedang menahan rasa sakit yang tidak bisa dibayangkan. "G-gelap... gelap sekali..."
Kutengadahkan kepalaku ke atas. Ya, sudah malam. Tapi sama sekali tidak gelap, kok. Langit malam ini benar-benar luar biasa cerah! Jutaan bintang-bintang di langit bercahaya seolah saling bersaing menjadi yang paling terang. Bulan bersinar dengan warna peraknya yang pucat tetapi indah. Langit yang benar-benar cerah, tidak ada satupun awan yang menutupinya. Malam yang paling terang yang pernah kulihat, lebih terang daripada festival musim semi dimana ribuan kembang api meletus di langit. Yah, setidaknya itulah yang kulihat di mataku.
Dengan perasaan sedih, tetapi juga bingung, aku menyeret kakiku perlahan ke arahnya. Dia masih terbaring di tempat itu.
Wajah yang sama. Kesedihan yang tidak bisa dilukiskan. Airmata yang tidak bisa dibendung seperti sungai Chang Jiang. Tapi, ada sebuah senyum di wajahnya saat melihat dirinya yang seorang lagi memeluk gadis berambut perak itu, diriku yang seorang lagi. Cuma itu yang aku lihat sebelum tanganku menggapai kedua belah pipinya yang basah.
Aku juga menangis.
Saat melihatnya, aku baru tahu kenapa dia berkata tempat ini gelap...
Matanya yang berwarna emas itu tidak lagi bercahaya! Tatapan matanya gelap dan kosong. Yah, mungkin dia bisa melihat apa yang terjadi, tetapi tidak ada cahaya pada matanya, tidak ada pantulan cahaya yang membuat matanya bening seperti Danau Barat seperti yang tadi kulihat. Tahu apa artinya itu? Dia bukan cuma ditusuk pedang itu oleh dirinya yang seorang lagi, dan bukan cuma dibuang! Kedua matanya, kedua matanya yang selama ini cuma pernah melihat cahaya, untuk pertama kalinya tertutup awan gelap. Ya, kegelapan yang tadinya membuatku tidak bisa melihat cahaya, sekarang membuatnya tidak bisa melihat dirinya yang seorang lagi...
Bagaimana aku tidak bisa menangis?
Melihatku seperti ini, dia berjuang mati-matian mengangkat tangannya, kemudian menggunakannya untuk menghapus airmataku.
"Meimei, jangan menangis..." Katanya dengan suara yang hampir habis. "Aku dan Tai Yang... melakukan ini untukmu..."
Untukku? Untukku! Justru itulah yang membuatku menangis! Gara-gara aku, dia dan dirinya yang seorang lagi sampai menderita seperti ini! Aku membuat si 'Tai Yang' terlihat begitu kejam dam jahat, sama sekali tidak berbelas kasihan meskipun kepada dirinya yang seorang lagi! Aku membuatnya harus mematikan perasaannya sendiri! Karena aku, dia sampai harus terlihat seperti tokoh jahat yang tidak punya perasaan dalam suatu cerita! Sementara pada saat yang sama, aku harus membuat si 'Zuan Jin' terlihat begitu memalukan dan menjijikkan di depan orang yang benar-benar disayanginya, di depan dirinya sendiri! Aku membuatnya harus menerima perlakuan seperti itu! Aku membuatnya menjadi korban!
Ohhh... permata yang dihanguskan dalam api, apa kau tahu? Jerami akan dilahap api hanya dalam sekejap mata. Tetapi kau, permata yang tidak terhingga nilainya, tidak akan pernah hangus...
Kurasa dia tahu itu.
Dan karena itu dia melakukannya...
"Oh iya! Feng memanggil dirinya yang seorang lagi dengan 'Zuan Jin', kan? Kalau begitu, boleh aku memanggilmu 'Zuan Mi'? 'Gui Jin, Tian Mi'! Berharga seperti emas, manis seperti madu! Dari perkataan itu, boleh kan aku memanggilmu 'Zuan Mi', Yangmei yang manis?"
"Boleh saja!"
-...Tapi dia tidak pernah tahu. Aku sudah bukan Yangmei yang manis seperti dulu lagi. Aku cuma seperti racun yang pahit dan mematikan...-
"Lu Xun juga memanggil dirinya yang seorang lagi dengan 'Tai Yang'! Artinya 'Matahari'! Kalau begitu kau kupanggil 'Tai Yin', boleh kan, Huang? Kau kan yang seperti bulan yang memantulkan cahayanya pada malam hari?"
"Tentu saja boleh!"
-...Tapi dia tidak pernah tahu. Aku sudah bukan Huang yang memancarkan cahaya pada saat malam seperti dulu lagi. Aku cuma gambut hitam yang tidak ada harganya saja...-
That's all...
Wkwkwkwk... nggak susah kan menebak itu dua POVnya siapa? XDDDDDD
(BTW, 'Mi' itu artinya 'Madu'. Sementara 'Tai Yin', menurut aliran apa getu pokoknya yang ada baguanya, Tai Yin itu bulan...)
Selanjutnya, sesudah chap ini, semua akan berjalan sesuai dengan awalnya lagi, kok... XDDDDD Dan saya janji POVnya nggak melulu dari Lu Xun... XDDDDD
Wokey... Next updatenya Selasa, ya? Bukan minggu... Jangan lupa, loj...
