New Savior : Rise Of Hell Boy
.
.
Naruto bukan kepunyaanku ya…
.
An Old Friend
.
Konohagakure, kantor Hokage.
"Jadi benar dugaanku kalau Naruto bersama Enma?" Tanya Minato pada Fukasaku yang kini berdiri di atas meja kerjanya.
"Gamakyu chan mengatakan kalau Enma sendiri yang menyambutnya. Ia tidak melihat keberadaan Naruto, tapi Enma mengakui kalau Naruto bersamanya" jawab Fukasaku.
"Begitu yah.. Tapi kenapa ia pergi tanpa mengatakan apapun padaku? Apa ia berniat meninggalkan Konoha dan menjadi Ninja pelarian?" Gumam Minato bingung.
"Enma tidak akan mungkin menerima Naruto di tempatnya jika ia bukan lagi seorang Ninja Konoha, atau berpikir untuk menjadi Ninja pelarian. Enma itu seorang yang loyal pada Konoha, sama seperti kami para katak. Hanya saja egonya terlalu tinggi" komen pelan Fukashaku.
"Jadi apa alasan yang sebenarnya, kenapa ia tidak melapor sebelum melakukan itu. Ia akan menemui masalah besar jika ia kembali nanti karena telah melanggar aturan Konoha." Gumam Minato sedikit kesal.
Akan sangat menyulitkannya jika para tetua dan civilian council mengetahui tentang kepergian Naruto pamit, bukan di culik. Pasalnya semua orang menduga kalau Naruto sekarang di culik. Council akan kembali memaksa Minato untuk memberikan hukuman berat bagi si rambut merah karena kesalahannya ini. Ia tidak ingin melakukannya, tidak setelah ia mencoba membunuhnya dengan mengeluarkan kyuubi dari dalam tubuhnya.
Luka dalam Naruto belum sembuh, tapi ia harus menerima kembali luka baru dari seorang Blonde yang sama. Hal ini akan menambah kebencian Naruto padanya dan misinya untuk membahagiakan Naruto gagal. Ia berutang pada Kushina, dan belum bisa membayarnya, melainkan ia akan menambah penderitaan keturunan Kushina. Ia berada di jalan buntu untuk saat ini.
"Mungkin ia memiliki alasan kuat yang memaksanya untuk pergi tanpa meninggalkan pesan pada kalian. Atau mungkin juga ia terlalu terburu-buru sehingga lupa memberitahukan kalian" komen Fukashaku.
"Apapun alasannya, pasti akan memberatkannya di mata council. Aku sendiri bisa saja memakluminya, tapi tidak council dengan kondisi tegang seperti saat ini. Jika aku tidak menuruti keinginan mereka, maka aku akan semakin di pojokkan, sebaliknya jika aku menurutinya maka Naruto akan semakin membenciku" ungkap Si Blonde itu khawatir. Ia sedang galau...
"Aku tidak terlalu mengerti persoalan yang kau hadapi, tapi aku bisa membayangkan seberapa susahnya kau mengambil keputusan itu" komen Fukashaku.
"Hai.. Aku tidak ingin melepaskan Naruto kun begitu saja, juga aku tidak ingin melanjutkan perselisihanku dengan dewan council. Tapi permasalahan ini akan benar-benar menyuliykanku jika aku tidak menemukan alasan yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini." Gumam serius Minato.
"Apa kau menghawatirkan tentang Naruto?" Tanya Fukasaku.
"Hai... Aku sangat menghawatirkannya akan kembali menjalani Hukuman seperti 5 tahun yang lalu." Jawab Minato.
"Kurasa kau terlalu menghawatirkannya Minato. Dari yang kutau, bocah Naruto itu bukan lagi seperti yang dulu. Aku bisa merasakan kebencian di dalam dirinya meski tidak terlalu tampak, beda seperti dulu" ucap Serius Minato.
"Apa maksud anda, Fukasaku Sama?" Tanya Minato penasaran.
"Jika ia berada di tempat Enma untuk latihan, maka ia tidak akan bisa dianggap sebagai Shinobi biasa lagi. " Minato menatap kebingungan akan arah penjelasan Fukashaku. "Sasuke Sarutobi dan Hiruzen Sarutobi mendapatkan gelar terhebat mereka setelah melakukan latihan di tempat Enma. Menurut cerita Jiraiya, Hiruzen hanya kuat selama 6 bulan dan Sasuke hanya 1 tahun. Itupun dengan kembali dua kali selama satu minggu ke Konoha.
Jiraiya Chan tidak berhasil mendapatkan informasi sedikitpun tentang Naruto selama ini. Berarti ia selama hampir tiga tahun berada di tempat Enma. Katak pembawa pesan mengatakan kalau tempat itu memiliki suhu diatas rata-rata. Hanya dua menit waktu yang dibutuhkan Gamakyu sebelum ia akan sesak napas dan harus segera kembali. Kau bisa bayangkan bagaimana jika Naruto bertahan selama ini bukan" fukasaku menyelesaikan penjelasannya.
"Dia akan menjadi Shinobi yang tidak bisa dibayangkan sebelumnya. Apa Enma juga mengetahui tentang Senjutsu?" Tanya bingung Minato.
"Aku tidak tau akan hal itu dan tidak pernah mendengarnya. Jika mengetahui tentang teknik itu, maka sudah pastilah diantara Hiruzen atau Sasuke akan menjadi seorang Sage. Kami para Kuchiyese menggunakan chakra Senjutsu yang kami serap di tempat kami untuk bertarung. Jika chakra itu telah hilang, maka waktu kami juga selesai. Kurasa begitu juga dengan Kuchiyese lainnya, meski aku sangat ragu kalau Enma bisa mengajarkan Senjutsu. Ia adalah kuchiyese jenis senjata, bukan petarung." Jelas Fukasaku.
"Begituyah... Bisakah anda menyuruh Katak pembawa pesan kembali ke tempat Enma dan memerintahkan Naruto untuk kembali segera ke desa?" Tanya Minato.
"Maaf, tapi Enma sudah tidak ingin menerima siapapun lagi di tempatnya. Terakhir ia mengancam Gamakyu yang akan di bunuh jika ia kembali kesana lagi. Sudah kubilang, Enma bukanlah Jenis Kuchiyese yang bisa berkompromi dengan orang yang tidak berhubungan dengannya." Jelas Fukasaku.
"Jadi kita hanya bisa menunggu kepulangannya, meski belum pasti?" Tanya Minato agak depresi di kursinya.
"Aku khawatir hanya itu yang bisa kita lakukan untuk saat ini." Jawab Fukasaku dengan nada suara sedikit menyesal tidak bisa melakukan apa-apa untuk Minato.
Bersama Naruto.
Dia kini berdiri saling berhadapan dengan Enma di bawah pohon tempat si raja kera biasanya menggantung. Naruto mengenakan jubah hitam polos panjang, menutup mulai dari leher sampai batas mata kakinya. Hanya terlihat belahan di bagian depan jubah itu, tapi tetap dalam keadaan tertutup rapat. Ia mengenakan sepatu Shinobi yang bolong pada bagian Jari kaki berwarna Hitam polos.
"Apa kau sudah mempersiapkan seluruh barang-banrangmu?" Tanya Enma datar
"Hai... Semua sudah kukepak dan kusegel dalam gulungan." Jawab Naruto, mengangkat lengan kanannya, memperlihatkan sebuah gulungan kecil berwarna merah.
"Apa kau sudah menentukan dimana kau akan muncul? Kau tentu tidak ingin menarik perhatian dunia dengan muncul tiba-tiba" tanya Enma.
"Aku sudah mempersiakannya Sensei. Sebelum kesini, aku telah memerintahkan bunshinku untuk menentukan posisi kemunculan yang aman bagiku. Aku sudah merencanakan semuanya dengan baik" jawab Naruto.
Si raja kera mengangguk. 'Ia bahkan telah mempersiapkan semua ini sebelumnya. Ia sangat yakin kalau ia akan menguasai jutsu itu, jutsu yang hanya di miliki oleh Yondaime seorang. Hiruzen, ia bagaikan perpaduan dirimu dengan Minato jika ia tidak menggunakan Doujutsunya.' Pikir Enma. Selama Naruto melakukan latihan di tempat ini, ia juga melatih menggunakan warisan ibunya, Hiraishin. Awalnya Enma sangat terkejut karena ia bisa menciptakan formula yang begitu komplex seperti Hiraishi. Namun ketika Naruto menjelaskan kalau itu adalah warisan ibunya, dan Naruto hanya sebagai penyempurna dan pengguna saja, Enma akhirnya menerimanya.
"Kupikir kau akan tetap di sini sampai kau benar-benar menguasai dengan baik Hiraishinmu itu." Komen Enma.
"Awalnya aku juga ingin seperti itu Sensei. Aku tidak suka menggunakan tekhnik yang belum kukuasai dengan sempurna. Tapi itu bukanlah masalah besar karena aku tidak akan menggunakannya di pertarungan dalam waktu beberapa bulan kedepan. Kau tau juga kalau aku bukanlah tipe Shinobi yang bertarung dengan cara menghilang seperti itu." Jawab Naruto.
"Jadi apa yang akan kau lakukan pada bangsat siluman ular itu? Hiruzen tidak pernah tega untuk melakukan apapun padanya dulu, bahkan jika ia melakukan kesalahan besar" tanya Si kera Besar.
"Pasti Jiji sangat menyayanginya?" Tanya balik Naruto.
"Hai.. Dia adalah murid kesayangannya, sangat genius dan menyerap apa yang diajarkan dengan baik. Kurang lebih sama sepertimu" jawab Enma.
"Kurasa aku tau kenapa Jiji begitu meyangiku.. Mungkin aku mengingatkannya pada siluman Ular sialan itu." Lagi-lagi Enma merespon dengan sebuah anggukan. "Jika aku bertemu dengannya kali ini, aku pasti akan memberikan sapaan terbaik dari seorang adik seperguruan" lanjut si Rambut merah dengan mengepal erat tangan kanannya.
"Hai.. Aku tau itu... " Enma berhenti sejenak. "Tentang Kuchiyese, selama kau disini, kau tidak pernah berlatih untuk menggunakanku seperti Hiruzen. Kurasa kau harus segera memikirkan warisan Hiruzen." Ungkap Enma serius.
"Hai.. Kurasa sekarang Konohamaru sudah menjadi Genin. Jika aku di Konoha nanti, aku akan segera mencarinya dan menyerahkan Kontrak Kuchiyese padanya sebagai pemegang yang sah, sekaligus melepaskan diriku dari kontrak. " Jelas Naruto.
Ia bukanlah seorang yang cocok menjdi pemegang Enma. Dia bukan tipe petarung menggunakan tongkat, ia pengguna katana atau kunai. Konohamaru akan menjadi pemegang selanjutnya sesuai perkataan Hiruzen Sarutobi, dan akan membiarkan Enma sendiri yang melatih pemegang berikutnya seperti yang ia lakukan pada Hiruzen dan Sasuke.
"Sangat di sayangkan kau tidak suka menggunakanku dalam pertarungan. Aku yakin tidak akan ada lagi penerus kuchitese Enma yang bisa menggapai level latihanmu seperti saat ini." Ungkap bangga Enma yang menilai pencapaian Naruto sangat luar biasa.
"Semua ini juga karenamu, Sensei. Aku hanya melakukan yang terbaik dan tidak ingin membuat Enma Sensei kecewa akan keputusan yang telah kau buat. Kau telah bersedia melanggar aturan dan membawa orang yang tidak memiliki darah Sarutobi ke tempat ini dan melatihku dengan baik. Aku tidak mungkin membayar pengorbananmu dengan kegagalan" jawab Naruto.
"Meskipun begitu, aku hanya membantu sebagai lawan sparing dan memberikan beberapa instruksi saja. Selebihnya semua adalah usaha kerasmu sendiri. Aku bangga pernah melatihmu" puji Enma yang menyentuh punggung Naruto.
"Arigatou, Sensei.. Aku tidak tau harus mengatakan apa, selain.." Naruto berlutut di hadapan Enma saat itu, lalu menundukan wajahnya. "Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku selama ini. Aku tidak akan pernah melupakannya" lanjutnya tegas.
"Sudahlah.. Sekarang pergilah dari sini. Waktumu berada di tempat ini telah selesai dan sekarang pergilah lanjutkan apa yang telah kau rencanakan" tegas Enma.
"Arigatou sensei, tapi.. Aku tidak tau apa nama tempat ini sejak pertama kali kau membawaku. Kau belum pernah memberitahukanku, tebayou. " Gumam Naruto sedikit menggerutu sambil berdiri.
Enma membelakanginya."Lembah Suallian, itulah nama tempat ini. Sekarang pergilah.."Perintah Enma. Naruto kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.
"Arigatou, dan jaga dirimu, sensei" dengan itu Naruto menghilang dengan Hiraishinnya, tanpa meninggalkan bekas sesikitpun. Seperti di telan oleh udara saja, bahkan tidak ada angin efek dari perpindahannya.
"Hati-hati yah, Naruto... Semoga sukses" gumam Enma menatap ke langit. 'Paling tidak sudah ada yang berhasil menyelesaikan latihan yang tidak pernah bisa di lakukan oleh siapapun juga selama ini. Aku tidak tau akan menjadi seperti apa kau Nantinya Naruto, tapi aku bangga pernah menjadi Gurumu dan kau menjadi muridku' lanjut sang kera dalam batinnya.
.
.
.
Di Lembah terakhir,
Naruto muncul di atas patung Madara Uchiha, tepatnya di atas kepalanya. Disana ada sebuah Kunai, dengan lambang Uzumaki di mata Kunai itu. Itu adalah lambang Hiraishin Naruto yang sengaja ia tempelkan sebagai tempat dimana ia akan muncul nantinya. Ia memilih Lembah Terakhir karena dari sana, Otogakure sudah tidak terlalu jauh lagi. Memang sejak awal, ia telah menargetkan Oto sebagai tempat pertama yang akan ia kunjungi.
"Akhirnya aku bisa menghirup indahnya udara segar kembali setelah sekian lama berada di Neraka Dunia." Gumam si rambut merah yang sebentar lagi akan berusia 17 tahun itu, sambil menatap kearah air terjun. "Sepertinya tempat ini pernah di jadikan arena pertarungan." Lanjutnya menatap kearah bagian tubuh patung Hashirama. Ia kemudian menatap kembali ke air terjun itu.
'Pertarungan Hashirama Senju dan Uchiha madara pastilah sangat luar biasa sampai menciptakan Lembah Terakhir ini. Aku ragu jika masih ada pertarungan di era ini yang bisa merivali keduanya' pikir remaja itu.
Ia sangat mengagumi kekuatan, terutama kekuatan pendahulunya. Hashirama Senju dan Uchiha madara adalah dua Shinobi yang menggegerkan dunia akan kekuatan mereka. Ia ingin menjadi kuat, paling tidak seperti mereka berdua. Ia tidak tau sekuat apa ia sekarang karena tidak bisa mengukur kekuatannya sendiri. Yang harus ia lakukan adalah mencari lawan terkuat untuk bisa mengukur sejauh mana kemampuannya.
'Sekarang saatnya mengunjungi si Ular sialan itu. Aku sudah tidak sabar lagi untuk mencoba kekuatan baruku. Akan kupastikan kali ini kalau ular itu tidak akan lolos dari mautnya' pikir Naruto sambil menyeringai sendiri sudah tidak tahan untuk melakukan pertarungan. Ia kemudian mengangkat penutup kepala jubahnya, lalu langsung melompat dari patung itu ke arah hutan, menuju ke tempat tujuan utamanya, Otogakure.
.
.
.
Beberapa Menit kemudian,
Di tengah hutan terlihat tiga Shinobi Iwagakure sedang melompat-lompat dari dahan ke dahan. Mereka terlihat sangat terburu-buru, seperti mendapatkan misi yang sangat penting. Sementara tidak jauh di hadapannya, seorang berlari cepat memegangu bahu kanannya yang tengah terluka. Darah dari lengannya yang menggantung berceceran di atas tanah.
Sosok tersebut adalah seorang Anbu dari Konohagakure. Ia memiliki rambut ungu sepinggang dan mengenakan topeng kucing (Neko) yang tengah menjalankan solo misi, tetapi terlebih dahulu di cegat oleh Shinobi Iwagakure. Keadaan masih belum jelas bagi kedua pihak, atau bisa dibilang mereka bukan teman, tapi bukan musuh resmi. Iwagakure sangat membenci Konoha, terlebih Yondaime Hokage. Dengan senang hati mereka akan menjadikan Anbu ini sebagai mainan mereka, melampiaskan kekesalan mereka pada Hokage.
"HEY.. JANGAN LARI KAU SAMPAH KONOHA.." Teriak salah satu ninja Iwa, melemparkan Shuriken kearah Neko. Serangan itu tidak berhasil menyentuh Neko yang semakin mempecepat gerkannya, dan hanya berhasil menancap di atas tanah saja. "Sial... " Gumam Iwa Nin bertubuh besar itu. Neko melanjutkan pelariannya dan semakin mempercepat langkahnya. Ia berusaha keras untuk melarikan diri kejaran tiga Ninja Iwa yang tetap gigih memburunya.
"Sial.. Kita harus segera mendapatkannya, sebentar lagi kita akan memasuki wilyah Negara api... " Ungkap Ninja iwa yang berada di bagian tengah. Postur tubuh biasa, dengan kumia hitam tipis menghias wajahnya.
"Hai.. Jika kita masuk di Negara api, maka penjaga perbatasan pasti tidak akan senang. Terlebih jika ia mengetahui kalau kita mengejar salah satu Anbu dari Konoha." Respon Ninja Lainnya yang mengenakan Kacamata. Mereka bertiga mengangguk lalu memutuskan untuk berpencar menjadi tiga bagian. Si Kacamata ke kiri, badan besar ke kanan dan si kumis di bagian tengah, tetap mengejar Neko.
Bersama Neko.
'Jika begini terus aku akan tertangkap. Sial... Mereka tidak memberikanku kesempatan untuk menghentikan pendarahanku. Jika begini terus, mala darahku akan habis' pikirnya terus berlari sambil memegangi lukanya.
Ketika ia melangkah, matanya melebar saat melhat sebuah kunai melayang di hadapannya dari sisi Kiri. Neko melebarkan mata dari balik topengnya, kemudian melompat ke sisi kanannya. Reflek untuk seorang Anbu bukanlah hal yang bisa di remehkan begitu saja. Ia telah memiliki pengalaman dari sekian banyak misi yang ia lakukan, sehingga menciptakan reflek sempurna.
Tapi sayang, di bagian kanan sudah ada yang menunggunya. Ketika ia menyadari, seseorang itu, ia membalikkan wajahnya ingin melihat siapa orang itu dan..
Brukkk...
Ia merasaka sesuatu yang keras mendarat di pipi kirinya, menghancurkan topengnya seketika. Tubuhnya terlempar ke atas permukaan tanah, terpantul beberapa kali di atas tanah sebelum akhirnya di hentikan oleh batang pohon di sana.
"Sudah kubilang kalau kau tidak akan lolos dari kami. " Suara terdengar dari atas dahan pohon yang menghentikan tubuh Neko, disana terlihat si Kumis berdiri, sementara kedua rekannya melompat ke atas tanah.
"Kami adalah team pencari jejak terbaik dari Iwagakure, sekali kami merasakan chakramu, maka kau tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi" tambah si Kacamata.
Potongan topeng yang menutupi wajah Neko pada sepertiga wajah bagian kiri kanan wajahnya terjatuh ketika Neko bergerak. Terlihatlah paras manis dengan poni menutup kening seorang Uzuki Yugao, dan tentu saja menarik hasrat ke tiga pria itu untuk menikmatinya.
"Hoh... Hoh... Hoh... Lihatlah apa yang kita dapatkan.. " Ucap Si Kumis, melompat ke samping Neko yang sudah tidak berdaya lagi dan hanya bisa menatap Shinobi Iwa ini. "Seorang gadis cantik yang bersembunyi di balik topeng Nekomata." Lanjutnya menjongkok dan memegangi dagu Neko.
Neko menatapnya dengan tatapan menjijikkan, tapi itulah yang ia tunggu. Tangan kanannya yang sudah memegang kunai ia gerakan cepat ke arah leher si Kumis. Mata si Kumis melebar, tidak menyangka akan Neko yang telah merencanakan ini semua.
Tap..
Lengan Neko dihentikan oleh sebuah tangan yang cukup besar, sebelum kunai itu berhasil menyayat leher si Kumis. Di sana terlihatlah si badan besar yang menangkap pergerakan Neko, sekaligus menyelamatkan timnya.
"Huh... Hampir Saja.." Gumam Si kumis menarik napas lega. Ia perlahan mengambil kunai di tangan Neko itu.
"Kau mau mencoba memanfaatkan situasi untuk menjebakku dalam perangkapmu yah, Gadis manis.." Gumam Si kumis, mengarahkan Kunai itu ke leher Neko.
"Bagaimana kalau kita lakukan sesuatu yang indah padanya" komen Si Kacamata sambil menyeringai. Kedua temannya mengerti maksudnya, juga menyeringai.
Neko yang tau apa maksud seringaian ke tiga Ninja Iwa itu langsung gelisah, benar-benar sangat Gelisah. Ia mencoab memaksa tubuhnya untuk bergerak tapi lukanya terlalu parah. Terlebih ketika munculnya dua belenggu dari tanah yang menahan kedua kaki, di bagian paha dan betisnya. Si badan besar menyentuhkan lengan Neko yang ia tahan ke atas tanah, dan belenggu yang sama pada kakinya muncul.
Pelaku adalah si Kacamata, dengan handseal ramnya. Si Kumis kini melakukan tugasnya dengan mengarahkan tangan lainnya ke atas tanah, sama seperti yang dilakukan rekannya si badan besar. Neko mencoba melawan, tapi tubuhnya sudah sangat lemah. Tenaganya terkuras habis dan lukanya memaksanya untuk tidak bisa melakukan apa-apa. Akhirnya lengannya juga terikat, posisi tersalib di atas tanah.
"Ap-apa yang akan kalian la-kukan" ungkap Horor Neko, ketakutan melihat tampang ketiga Ninja Iwa yang telah berubah menjadi sangat mesum.
"Kau tanya apa yang akan kami lakukan... " Jawab si Kumis sedikit menggoda Neko. "Apa yang akan kami lakukan Katamu.. TENTU SAJA KAMI AKAN BERSENANG-SENANG DENGANMU... HAHAHHAHHA" tawa keras mereka bertiga terdengar sangat mengerikan, terlebih dari dalam mulut mereka mengeluarkan lendir, menambah kengerian mereka.
"To-tolong.. Bu-Bunuh saja aku.." Gumam Neko ketakutan.
"Bunuh Katamu... " Gumam Si kaca mata berlutut di samping Noke. "Kenapa kami harus membunuhmu, Manis.. Kamu akan bermain dulu sampau puas denganmu" gumamnya sambil menyeringai membelai pipi Neko.
Neko menggerakkan pipinya tidak suka di menerima perlakuan seperti itu. "Kalian bangsat... Lepaskan Aku.. Lepaskan Aku, SIALAAAANNNN... " Teriak Horor Neko meronta, berusaha untuk meloloskan diri dari belenggu tanah menggunakan seluruh sissa tenaganya.
"Hohoho.. Kau begitu agresif sayang... Aku suka Wanita yang agresif.. " Ucap Ninja berbadan besar, menarik Armor Anbu Neko dari tubuhnya. Ia kemudian mengambil kunai, kemudian di aliri chakra dan memotong pada gantungan Armod di kedua bahu Neko, dan melewati bagian tulang rusuk. Neko meronta, berusaha mengganggu proses pemotongan. Tapi tetap saja kekuatannya tidak bisa menghentikan si bdan besar.
"GAHAHAHAHAHA... LIHTLAH.. INDAH SEKALI BADANNYA..." Teriak si badan besar melemparkan Armor Anbu Neko yang sudah terpotong. Terlihatlah pakaian dalam Neko, ketat tanpa lengan dengan balutan kulit mulusnya. Ukuran dada sekitar 34 B, sangat seksi dan serasi dengan tubuhnya.
"Hohoho.. Lihatlah aku sudah tidak sabar lagi untuk menikmatinya. Hahahaha..." Gumam si Kumis yang perlahan menggerakkan tangannya menyentuh tubuh bagian leher Neko.
"LEPASKAN AKU.. LEPASKAN AKU.. LEPASKAN AKU... JANGAN SENTUH TUBUHKU DENGAN TANGAN KOTORMU BANGSAT.." Teriak Yugao Histeris. Ia sudah tidak meronta lagi, digantikan air mata yang mulai menetes.
"Semakin kau melawan, aku semakin tergila-gila padamu Manis... Aku semakin ingin menikmatimu.. Gahahaha.." Ungkap senang si kumis membayangkan akan menikmati tubuh Yugao. Sangat langka bisa menikmati tubuh gadis secantik Yugao, terlebih ia adalah Seorang Anbu.
"Aku datang Sayang aku akan sangan menikmati tubuhmu itu.." Gumam Si Kacamata mengangkat kedua tangannya, mengarahkan telapak tangannya mendekati tubuh Yugao, di sertai dengan seringa mesum yang sudah tidak tahan lagi untuk menikmati tubuh calon korbannya. Begitu juga kedua rekannya yang sudah bersiap menunggu giliran mereka.
Waktu terasa bergerak lambat, di tengah desas-desus napas Yugao yang sesak, membayangkan hal terburuk yang akan ia alami. Tubuhnya tidak bisa lagi bergerak, tenaganya telah habis, juga darah yang terus keluar dari lukanya. Pandangannya kemudian buram dan tubuhnya sudah tidak bisa merespon lagi.
"Jadi begini kelakuan Shinobi Iwa... Memalukan.." Suara terakhir yang bisa ia dengarkan sebelum akhirnya pingsan tak sadarkan diri lagi.
Ketiga Ninja iwa, membalikkan wajah mereka mencari tau siapa pemilik suara yang tengah berani mengganggu kesenangan mereka itu. Di sana mereka hanya bisa menemukan seorang dengan jubah hitam polos menutup seluruh tubuhnya, lengkap sampai kepalanya.
"Siapa kau.. Apa kau ingin menjadi pahlawan kesiangan?" Ejek si kaca mata. Kedua rekannya tertawa tipis menatap ke sosok berjubah itu.
"Aku bukan siapa-siapa... Mungkin juga seperti perkataanmu, seorang Pahlawan Kesiangan." Jawab sosok itu.
"Huh... Apa kau benar-benar begitu bodoh?" Tanya si kumis. Kedua rekannya kembali menertawai Sosok itu.
"Banyak orang yang bilang begitu sih sebenarnya... " Jawab sosok itu yang malah menganggap itu sebagai candaan.
"Aku kan mengurusnya, pastikan kalau aku mendapatkan giliranku setelah menyelesaikannya" ungkap si badan besar penuh percaya diri, melangkah mendekati sosok itu.
"Lakukan cepat, atau kau tidak akan menjadi yang terakhir.. " Komen si Kacamata sambil menyeringai, kembali membelakangi rekannya dan jongkok melanjutkan kegiatan pertama mereka.. Si badan besar hanya mendecih dan meneruskan langkahnya.
"Sebaiknya kalian jangan menyentuhnya, atau kalian benar-benar akan sangat menyesal." Ucap Sosok itu serius
"Bisakah kau bereskan dia secepatnya agar aku bisa mulai me"- belum sempat ia menyelesaikan perkataannya, rekannya yang berbadan besar telah terlempar cepat di antara mereka berdua.
Brukkk..
Tubuh si badan besar itu berhenti ketika menabrak batang pohon yang langsung tumbang. Mata ke dua Ninja Iwa lainnya melebar, menatap ke arah rekan mereka. Kondisinya sudah tidak bernyawa lagi, tersandar sadist dengan bola mata melebar hampir keluar. Mati seperti itu pastilah merasakan sakit luar biasa sebelum menemui ajalnya.
"Ap-apa yang... " Gumam si Kumis sangat terkejut. Ia tau kemampuan rekannya itu dan tidak mungkin begitu mudahnya dapat di kalahkan. Dia dan rekannya perlahan membalikkan wajahnya, menatap ke arah sosok berjubah di belakang mereka.
"Aku sudah katakan jangan menyentuhnya atau kau akan menyesal" gumam sosok itu dengan mata merah tiga tomoe dalam kegelapan penutup kepala Jubahnya.
"I-itu... " Ucap terbata si Kumis, melebarkan kedua matanya ketika menatap langsung sepasang doujutsu itu.
"Sharingan?" Gumam rekannya meneruskan perkataan si kumis. Mereka kemudian berdiri dan langsung mengambil kunai di kantong mereka, waspada akan terjadinya pertarungan. "Si-siapa kau sebenarnya?" Tanyanya lanjut.
"Aku tidak berhutang penjelasan pada kalian, sedikitpun tidak. " Sosok itu berhenti sejenak lalu menatap Yugao. "Aku sedang tidak ada mood untuk bertarung dengan orang lemah seperti kalian. Aku memberikan kalian dua pilihan. " Lanjut Sosok itu.
"Apa itu?" Tanya si Kacamata serius.
"Pertama, menyerahkannya baik-baik, lalu kembali ke Iwa dengan selamat." Sosok itu menunjuk kearah Yugao. " Atau yang kedua, aku akan merebutnya dengan paksa, dan kalian kembali ke Iwa dalam keadaan tubuh yang tidak lengkap. 10 detik, dimulai dari sekarang." Lanjutnya.
Tentu saja kedua iwa itu langsung gundah gulana mendengar pilihan itu. Si kumis melirik kearah rekannya yang tersandar tak bernyawa di batang pohon. 'Siapapun dia, dia bukanlah orang yang bisa di anggap remeh. Ia bisa mengalahkan Rushime semudah itu menjadikannya sangat berbahaya. Terlebih ia memiliki Sharingan' pikir Si Kumis.
'Siapa dia? Seorang misterius pengguna Sharingan, berarti ia adalah seorang Uchiha dari Konoha. Hanya ada 4 orang yang memiliki Sharingan saat ini, Sasuke Uchiha yang kini berada si Utogakure bersama Orachimaru. Itachi Uchiha, dia adalah Ninja pelarian dari Konoha bersama dengan Takaji Uchiha, jadi tinggal satu orang saja.' Pikir Si Kacamata, menatap sosok itu penasaran.
"Apa kau, Uzumaki Naruto?" Tanyanya. Si Kumis langsung meliriknya, sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh rekannya.
"Apa mksudmu dia Naruto Uz-uzumaki?" Tanya terkejut ai Kumis.
"Tinggal empat orang pengguna Sharingan di dunia ini, semua berasal dari Konoha. Dua pertama adalah ninja pelarian dan tidak mungkin akan menyelamatkan Shinobi Konoha, Uchiha Itachi dan Uchiha Takaji. Yang ke tiga bersama dengan Orachimaru, Uchiha Sasukem. Sissa satu orang lain yaitu.. Uzumaki Uchiha Naruto" jelas panjang lebar si Kacamata.
'Jika mereka mengetahui tentang Sasuke, berarti selama ini Oto masih terus berhubungan dengan iwa. Kenapa aku tidak begitu terkejut?' Pikir Sosok itu. "Aku tidak memberikan pilihan pada kalian untuk menebak siapa aku, dan waktu kalian telah Habis" suara itu terdengar di belakang dua ninja Iwa yang langsung melebarkan kedua mata mereka.
"Ap-apa yang terjadi.. " Ungkap shok si Kumis.
"Genjutsu... Tapi kapan?" Komen si Kacamata menyadari kalau mereka telah terpeeangkap di dalam Genjutsu Shatingan.
"Kalian melakukan sesuatu yang menjadi pantangan saat melawan seorang Uchiha.." Jawab sosok itu menjongkok di samping kiri Neko kemudian menyentuh permukaan tanah. "Jangan pernah menatap langsung Sharingan..." Lanjutnya. Belenggu yang menahan tubuh Yugao kemudian kembali ke dalam tanah.
Kedua Ninja iwa itu tidak berani berbalik dan hanya melebarkan kedua mata mereka sangat terkejut. Tidak pernah ada di kepala mereka sebelumnya bahwa bertarung dengan seorang pengguna Sharingan akan membuat mereka seperti bocah akademi, sangat mudah terperangkap dalam Genjutsu. Terlihat Sosok itu menggendong tubuh Yugao bridal style, lalu berdiri, membelakangi dua Ninja Iwa yang juga membelakanginya.
"Ngomong-ngomong kalian telah melanggar kesepakatan, jadi kuanggap kalian mengambil pilihan kedua." Gumam Sosok itu.
Deg...
Jantung kedua ninja Iwa berdetak sangat kencang, seperti akan keluar dari dada mereka. Begitu juga kedua mata mereka yang langsung melebar mendengarkan suara dingin itu. Takut, sudah pasti mereka sangat ketakutan akan apa yang akan terjadi.
"Aku akan membiarkan kalian kembali ke Iwa dalam keadaan selamat." Kedua Ninja iwa itu akhirnya menarik napas lega. "Tapi tidak dalam keadaan lengkap.." Dengan itu sosok uchiha misterius itu menghilang via Shunshin meninggalkan ke dua Ninua iwa.
"Huft.. " Gumam si kumis memegangi dadanya. "Kukira kita akan tewas dengan sa- GAAAHHHHHH" belum selesai Ucapannya, ia kemudian merasakan sakit yang luar biasa dari kaki kanannya. Sedangkan si Kaca mata juga langsung beeteriak sambil memegangi paha kirinya. Mereka berdua perlahan menatap ke bawah, ke kedua kaki mereka yang sudah tidak lengkap lagi. Mereka hanya berdiri menggunakan satu kaki saja, dengan kaki lainnya telah terpotong di bagian lutut.
"KAKIKUUUUUUU... " Teriak Horor si Kumis yang kemudian terjatuh, kehilangan keseimbangan karena berdiri menggunakan satu kaki saja. Ia kemudian di susul rekannya yang juga meringis kesakitan, memegangi sissa kakinya. Terdengarlah suara Horor kepedihan mereka, membahana di tengah hutan, suara sakit yang sangat luar biasa pastinya sampai seperti itu.
.
.
.
Dua hari kemudian.
Udara pagi bersinar terang menyinari bumi. Suara kicauan burung-burung kecil bernyanyi di pagi itu terdengar jelas. Suasana ceria pagi hari semakin sempurna tak kala tetesan-tetesan embun di dedaunan terjatuh ke atas bumi, memnasahi permukaan tanah. Siklus yang sering terjadi di tengah Hutan perbatasan Negara Api dan Negara Tanah.
Di sebuah mulut Gua, terlihat di dalamnya seseorang terbaring di tumpukan jerami. Seorang Wanita cantik dengan balutan perban putih di tubuhnya dan hanya di lapisi sebuah kimono se paha. Perban itu mdi seluruh bagian dada dan ke lengan kirinya. Ada bekas luka di pipi dan di ieningnya, lebam seperti terkena pukulan.
Mentari pagi menelusup masuk ke dalam Gua itu, langsung menyinari wajah Gadis itu. Terlihat kelopak mata Gadis manis itu bergerak, seperti ada yang mengganggu tidur indahnya. Mungkin di alam mimpinya ia sedang bertarung atau semacamnya.
"GAAAAHHH... " Teriak histeris wanita itu, langsung duduk di sana dengan napas tersengah-engah. Ia baru saja mengalami mimpi buruk yang mungkin menjadi teror selama hidupnya. Matanya melebar seperti sangat ketakutan menerima kentataan tentang dunia ini.
"Baguslah... Kau sudah siuman." Suara seorang pria menarik perhatiannya. Wanita itu melihat langsung punggung pria pemilik suara itu yang kebetulan berada di depannya. Pria itu mengenakan pakaian berwarna merah gelap dengan leher bundar. Ia langsung merespon dengan mencoba bergerak, waspada pada pria itu.
"Akh... " Rintih kesakitan wanita itu, ingin bergerak tapi tidak mampu. Tubuhnya terlalu lemah, begitu juga luka-lukanya yang belumlah sembuh betul.
"Kau jangan memaksakan diri untuk bergerak dulu. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri." Sosok itu kembali bersuara. Ia tidak berbalik, dan hanya melakukan sesuatu di depan api.
"Si-siapa kau.. Dan apa yang kau lakukan padaku.. " Tanya Yugao dengan nada mengancam.
"Jadi kau tidak ingat sedikitpun tentang apa yang terjadi padamu?" Tanya kembali Sosok itu.
'Apa yang terjadi.. ' Pikir Yugao penasaran, mencoba mengingat apa yang terjadi. Matanya kemudian melebar dan langsung melihat ke badannya yang penuh perban. "Si-siapa kau.. Apa yang telah kau lakukan ke tubuhku?" Tanyanya masih dengan nada mengancam.
Sosok itu hanya tertawa tipis. "Menurutmu apa yang kulakukan padamu, Neko San?" Tanya balik Sosok itu, memiringkan wajahnya, dan melirik Anbu itu. Terlihat tiga irirsan Whisker di pipi kanannya saat itu.
Tentu saja wanita itu sangat terkejut. Tidak ada yang mengenalinya jika ia sedang menjadi Neko di divisi anbu, dan ia menyadari kalau sekarang ia tidak mengenakan topeng anbunya. Tapi ada hal lain yang membuatnya sangat teerkejut. 'Suara itu... Aku seperti mengenal suara itu, tapi dimana?' Pikirnya. Beberapa detik kemudian matanya kembali melebar. 'Rambut merah.. Dan whisker di pipinya... '
"Ka-kau... Na-Naruto Uzumaki kan?" Gumam terbata Yugao menebak identitas sosok misterius yang ada di depannya. Di punggung sosok itu ada lambang Uzumaji yang ditopang oleh pegangan Kipas
"Aku senang kalau kau masih mengenaliku, Neko San.. " Jawab sosok itu, berdiri lalu berbalik. Di tangan kanannya ada mangkok berisi mie instan di tambah beberapa taburan sayuran di dalamnya. Juga paha ayam pangganh di atas tumpukan mie. Di atas panggangan itu, terlihat ayam hutan sedang berbaring tanpa pakaian dalam keadaan Gosong. (Hahahaha).
"Na-naruto.. Ka-kau benar-benar Naruto.." Gumam sangat terkejut Yugao. Semua orang tau kalau Naruto menghilang selama ini secara misterius dan kini ia ada di hadapannya, siapa yang tidak terkejut. 'Oh kamu sama.. Dia telah tumbuh menjadi seorang pria... ' Lanjut Di benaknya dengan wajah memerah, terpesona menatap wajah si bocah Uzumaki.
"Apa ada sesuatu di wajahku? Matamu bisa saja keluar dari tempatnya jika kau terus menatapku seperti itu." Yugao menunduk malu ketahuan sedang menatap bocah remaja di sepannya. Sebuah senyuman tipis pecah dari wajah pemilik rambut merah itu. Ia lalu melangkah mendekati Yugao. "Makanlah dulu, ini bisa mengembalikan tenagamu. Kau belum makan selama dua hari ini, jadi wajar saja tubuhmu sangat lemah." Ucap Naruto memberikan mangkok itu bersama sumpit di bawahnya.
Yugao ingin menolak, tapi keburu di dahului suara keroncongan perutnya."Te-terima kasih..." Jawabmya agak ragu, menyambut Mangkok itu. "Apa kau yang membuat ini?" Tanynya lanjut melirik ke arah panci yang menggantung di samping ayam Kampung.
"Begitulah.." Jawab Naruto, melangkah ke samping Yugao, sekitar 1,5 meter, lalu duduk di atas batu. "Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya.
"Lumayan... Tidak terlalu sakit seperti terakhir kali aku yang bisa kuingat" jawab Yugao yang perlahan memasukkan makan ke dalam mulutnya.
'Humph.. Ia pasti sangat lapar, tapi ia tetap bisa menjaga imagenya. Wanita memang benar-benar makhluk yang susah di pahami, lebih susah di bandingkan Enma Sensei' pikir Naruto sedikite tertawa tipis melihat cara Yugao makan.
"Apa ada sesuatu di wajahku.. Kau terus saja memandangiku sejak tadi." Ungkap Yugao.
"Tidak ada.. Hanya saja aku ingin tau bagaimana rasa makanan percobaanku itu." Ungkap Si rambut merah.
Yugao berhenti makan sejenak dengan kedua bola matanya yang langsung putih. "A-apa ini bi-bisa di makan?" Tanyanya
"Awalnya aku ragu, tapi melihat kau memakannya begitu lahap, aku jadi yakin kalau itu bisa di makan" jawab Naruto menyeringai. Yugao langsung naik darah dengan kedua telinganya mengeluarkan asap.
"BAKA... APA KAU INGIN MENJADIKANKU KELINCI PERCOBAANMU..." Teriak horor Yugao.
Naruto hanya tersenyum lebar melihat reaksi berlebihan sang Anbu. "Aku hanya bercanda... Itu adalah ramen biasa yang kusulap menjadi mie ayam.. Enak bukan" ungkap bocah Uzumaki itu.
"Jerk... Kau hampir saja membuatku mati keselek" gumam Yugao yang kemudian melanjutkan makannya, sedangkan Naruto hanya menyeringai, merasa bahagia telah berhasil melakukan kejailannya pagi ini. "Apa kau menemukanku setelah setelah bangsat-bangsat itu melakukan nafsu bejat mereka?" Tanya Yugao agak sedih, dengan pandangan ke arah api unggun
"Tidak... Ketika aku muncul, aku masih merasakan chakramu yang berarti kau masih sadar." Yugao mengangguk mengerti.
"Lalu dinana pakaianku? Kenapa aku mengenakan pakaian seperti ini?" Tanya nya lagi penasaran. Pakaiannya itu hanya sebatas pahanya saja, sangat seksi.
"Pakaianmu penuh dengan darah, jadi aku membuangnya dan tentang pakaian itu, aku menemukannya di dalam gulungan, bersama dengan perlengkapan medicmu, jadi.. Yah begitulah.." Jelas Naruto.
Yugao berhenti makan sejenak dan menggerakkan wajahnya sangat nerves menatap si Uzumaki. "Ap-apa kau yang me-memerbanku?" Tanyanya dengan wajah memerah.
"Kau pikir siapa lagi? Hanya aku dan kau yang ada di tempat ini. Aku hanya melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. "Jawab malas Naruto.
"Ap-apa kau me... " Yugao berhenti sejenak, sedangkan Naruto menatapnya penasaran. "Ka-kau me-meenyentuhku?" Tanya Yugao kembali semakin memerah.
"Tentu saja aku menyentuhmu tebayou.. Bagaimana mungkin aku memerbanmu tanpa harus menyentuhmu.. Dan kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit atau semacamnya?" Tanya tak berdosa Naruto.
'TCH.. BAKA INI.. IA BARU SAJA MENGATAKAN MENYENTUH TUBUH SEORANG WANITA DAN REAKSINYA SEOLAH TIDAK MELAKUKAN APAPUN. DASAR BODOH..' Teriak Inner Yugao. "Apa kau hanya menyentuhku saat memerbanku dan tidak melakukan yang lainnya?" Tanya Yugao kembali sangat Nerves.
"Huh.. Apa maksudmu yang lain?" Tanya bingung Naruto.
'Oh.. Aku lupa kalau ia memang benar-benar baka... ' Pikir Yugao Sweet drop. "Tidak apa-apa, lupakan saja dan anggap aku tidak pernah mengatakan apapun" ungkapnya.
"Jerk.. Wanita benar-benar aneh.." Jawab malas Naruto.
Yugao kemudian melanjutkan makannya, dan Naruto melangkah mendekati api unggunnya kembali, membalik ayam chan sarapannya. "Dari mana saja kau selama ini? Kau menghilang selama hampir tiga tahun, tanpa kabar apapun juga. Kami kira kau di culik bersama Sasuke oleh Orachimru" tanya Yugao penasaran.
'Jadi Sasuke telah melakukan sesuai rencananya.. Tidak buruk untuk seorang arrogan sepertinya' pikir Naruto. "Aku berada di suatu tempat yang aman. Aku sengaja tidak meninggalkan pesan karena tidak ingin di ganggu oleh siapapun juga" jawab Naruto.
"Oh.. Apa kau akan kembali ke Konoha setelah ini?" Tanya Yugao.
"Tidak.. Belum untuk saat ini" jawab Naruto berneti sejenak, mengangkat ayam Hutannya yang telah matang.
"Lalu kemana kau akan pergi?" Tanya lagi Yugao.
"Aku akan mencari Orachimaru dan mencabut nyawanya dengan kedua tanganku ini. " Jawab simple Naruto.
Yugao melebarkan matanya terkejut akan jawaban yang ia dapatkan. "Ja-jangan bilang kalau kau akan ke Oto" gumam Yugao menebak apa yang akan Naruto lakukan.
"Yah.. Aku akan kesana. Aku akan menghancurkan ular itu di kandangnya" komen Naruto menarik paha ayam itu dan mulai melahapnya.
"Jangan bodoh Naruto... Keadaan Konoha dan Oto sedang genting, mereka hanya akan membunuhmu dan me"- peekataan Yugao langsung berhenti tak kala melihat sepasang Sharingan tiga tomoe.
"Aku tidak perduli... Aku akan mencari Orachimaru dan menyeretnya ke pintu masuk Shinigami" jawab Naruto penuh ambisi di wajahnya.
"Kau masih dendam atas apa yang dilakukan pada Sandaime Sama?" Tanya Yugao.
"Aku tidak tau apa ini di sebut dendam atau tidak, tapi aku tidak akan pernah membiarkan siluman ular itu bernapas lega. Aku akan memburunya seperti seekor predator pada mangsanya. Aku tidak akan menarik perkataanku" tegas Naruto.
Yuao hanya bisa mengangguk karena ia tau kalau jika Naruto sudah mengatakan tidak akan menarik perkataannya, maka ia akan benar-benar melakukannya. Ia tau itu karena selama ini mengikuti Sandaime sebagai bodyguar sang Veteran Kage.
"Aku tau kalau kau tidak mungkin akan mengubah keinginanmu itu. "Gumam Yugao dan mendapatkan anggukan persetujuan dari Naruto. "Apa kau melihat katanaku? Katan itu sangat spesiak bagiku." Lanjutnya dengan nada sedih.
"Oh.. Ada di belakangmu... Aku seperti pernah melihat katana itu, jadi aku mengambilnya bersmamu" jawab Naruto pelan.
"Katana ini milik seseorang yang sangat berarti untukku.. " Gumam Yugao mengambil katana itu dan memegangnya erat. 'Katana ini milik Hayate Kun, dan aku tidak akan pernah membiatkannya hilang' lanjutnya di dalam benaknya.
"Kita akan beristrahat di sini sampai besok, dan aku akan ke Oto, lalu kau kembali Ke desa. Perjalanku telah terhenti selama dua hari dan aku tidak ingin membuang waktu lagi" ungkap Si Bocah Uzumaki Seroius.
"Terima kasih telah menyelamatkanku" komen pelan Yugao.
"Kau adalah salah satu orang penting bagiku. Kau pernah menjadi pelindungku sewaktu aku kecil dulu, aku tidak mungkin membiarkanmu begitu saja. Jika saja orang lain, aku tidak akan membuang-buang waktuku selama berhari-hari denganmu" ucap ketus Naruto
rnr
