I Chanbaek You fanfic event present
Sincere
.
Chanyeol x Baekhyun
.
.
Aku bertahan hanya karenamu….
.
.
.
Cahaya matahari pagi yang mengintip melalui celah-celah tirai jendela membuat seorang lelaki mungil terpaksa harus membuka matanya. Dengan perlahan ia mengerjap, menyesuaikan mata mengantuknya untuk terbuka lebar. Ia terdiam sebentar, berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran yang dimilikinya.
Namun hanya beberapa saat ketika seluruh kesadarannya sudah terkumpul, ia langsung berjingkat dari kasur empuknya dan dengan tergesa-gesa berlari ke kamar mandi. Beberapa kali pula mulut kecilnya mengumpat karena demi apapun, ia lupa kalau memiliki kelas pagi hari ini. Ia sedikit merutuki kegiatannya semalam yang malah bermain game hingga berlarut-larut dan inilah akibatnya. Ia bangun kesiangan hari ini.
Hanya tinggal 30 menit lagi waktu tersisa sebelum kelas pagi dimulai. Dan jarak tempuh dari rumahnya ke universitas yaitu sekitar 20 menit, atau bisa dipercepat menjadi 15 menit jika berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena demi apapun, waktu 5 menit akan menjadi sangat berharga dalam keadaan genting seperti ini.
Ia kemudian menuruni tangga dengan tergesa, bahkan ia sempat tersandung kakinya sendiri. "Ibu, aku berangkat!" teriaknya ketika menyadari bahwa ibunya sedang mencuci piring di dapur.
Tapi tunggu, jika ibunya sedang mencuci piring, itu berarti ibu dan ayahnya sudah selesai sarapan dan dengan tidak adanya eksistensi ayahnya di rumah ini, berarti ayahnya sudah berangkat ke kantor lebih dulu.
"Kau tidak sarapan dulu, Baekhyun?" tanya ibunya sembari melepas sarung tangan pencuci piring berwarna pink. Kemudian ia menoleh dan melihat putranya itu sedang menghampirinya dengan wajah ditekuk.
"Tidak ada waktu lagi untukku sarapan, bu. Aku terlambat dan jangan bilang kalau ayah sudah berangkat?" Tebak Baekhyun walaupun ia sendiri sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut ibunya.
"Ayahmu ada rapat pagi ini, nak. Dan itu salahmu sendiri karena kau tidak segera bangun sementara ibu sudah menggedor pintu kamarmu sejak tadi pagi." Ibunya berkata dengan nada menyebalkan membuat Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. Serius, kenapa ibunya ini terlihat seperti tidak peduli pada anaknya sendiri.
"Ibu… lalu bagaimana ini? 20 menit lagi kelasku akan dimulai dan aku tidak mau terlambat. Ini salah ibu karena tidak memperbolehkanku belajar mengendarai mobil dan ibu juga tidak menyewa seorang supir untukku." Baekhyun merengek sambil menghentakkan kakinya kesal. Otaknya benar-benar buntu sekarang, jika ia naik bus, itu sama saja karena jarak rumahnya dengan halte memakan waktu 10 menit jika ia jalan kaki.
Chae Won hanya terkekeh, membuat Baekhyun semakin kesal. Bagaimana bisa ibunya justru tertawa di tengah keadaan genting anaknya? "Menyewa supir itu mahal, Baekhyun." Ucap ibunya kemudian, membuat Baekhyun berdecih karena demi apa, ayahnya bahkan mempunyai beberapa cabang perusahaan di Seoul dan di luar Seoul. Bahkan ayahnya juga berniat membuat cabang perusahaan lainnya di luar negeri. Bukannya ia berniat menyombongkan diri, tapi memang itulah kenyataanya. "Lagipula kau kan punya Chanyeol yang bisa menjadi supirmu setiap saat."
Ini bukan pertama kalinya Baekhyun mendengar godaan ibunya tentang Chanyeol, ia pun memutar bola matanya jengah. "Terserah ibu. Aku berangkat." Mungkin seharusnya Baekhyun berangkat sedari tadi jika pada akhirnya ia terpaksa harus berjalan kaki menuju halte bus begini, daripada menghabiskan waktu berdebat dengan ibunya.
"Berangkatlah dengan Chanyeol, Baekhyun!" teriakan Chae Won terdengar ketika Baekhyun sudah sampai di gerbang rumahnya, Baekhyun mendengus sebentar mendengar teriakan itu. Ia membuka gerbang dan sudah siap-siap berlari ke halte bus tapi semua itu tertahan ketika ia melihat sebuah mobil sport berwarna abu-abu yang keluar dari gerbang rumah tetangganya, rumah Tuan Park.
Baekhyun tahu betul siapa yang berada di balik kemudi mobil abu-abu itu, dia pasti Chanyeol, lelaki yang sempat disebut-sebut oleh Ibu Baekhyun tadi. Mobil itu juga berhenti, mungkin karena pengendaranya melihat Baekhyun yang baru saja keluar dari gerbang. Baekhyun tidak bisa menangkap bagaimana ekspresi si pengendara saat ini karena kaca mobil Chanyeol gelap.
Lama terdiam dengan posisi berdiri di depan gerbang, membuat Baekhyun sadar kalau dirinya hanya membuang-buang waktu (lagi), jadi ia segera mengalihkan pandangan dari mobil itu dan mengambil ancang-ancang untuk berlari menuju halte.
Tapi sekali lagi, baru beberapa langkah yang ia dapatkan, langkahnya terpaksa harus berhenti karena mobil abu-abu itu berhenti tepat di sampingnya. Kemudian si pengendara menurunkan kaca mobil membuat Baekhyun akhirnya bisa melihat Chanyeol di balik kemudi. "Baekhyun, naiklah. Atau kau bisa terlambat nanti."
Baekhyun termenung sebentar, sebenarnya dia bisa saja langsung menolak tawaran Chanyeol seperti yang biasanya ia lakukan. Tapi dalam kondisi darurat seperti ini, terlebih kelas paginya adalah kelas musik, ia tidak ingin absen di kelas kesayangannya. Ia juga tahu kalau Chanyeol juga ikut di kelas musik, jadi dia juga terlihat terburu-buru sekarang.
Maka setelah beberapa detik berperang dengan batinnya, Baekhyun pun masuk ke dalam mobil Chanyeol. Ia dapat merasakan kalau lelaki tinggi itu tengah tersenyum kecil. "Jangan besar kepala, aku menumpang mobilmu hanya agar aku tidak terlambat." Ucap Baekhyun.
"Aku tahu, Bee." balasnya masih dengan senyum kecil yang tercipta di bibirnya.
Kemudian setelah itu, mobil abu-abu Chanyeol melesat dengan kecepatan tinggi dan mereka sampai di universitas tepat semenit sebelum kelas musik dimulai.
.
.
Terkadang, Baekhyun membenci dirinya yang seperti ini. Ketika perasaan bersalah mulai hinggap di hatinya hanya karena melihat sebuah cincin perak yang tersemat di jari tengah Chanyeol. Cincin itu melingkar dengan indah dan berkilau ketika Chanyeol mengemudi tadi.
Sementara kini Baekhyun hanya diam dan menatap tangan kirinya, tidak ada cincin yang seharusnya melingkar diantara salah satu jarinya. Ia menghela napas pelan, perasaan seperti ini bukan yang pertama kalinya ia rasakan. Ia sering sekali merasa bersalah kepada Chanyeol tapi rasa bencinya selalu mengalahkan segalanya. Jika Chanyeol melihat tangannya tadi, apakah ia telah melukai perasaan Chanyeol?
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan lelaki tinggi yang tampan itu. Hanya saja, sejak kecil Baekhyun selalu iri dengan Chanyeol, lelaki tinggi itu bisa merebut perhatian seluruh orang termasuk ibu dan ayah Baekhyun sendiri. Orang tuanya itu pasti akan mengkhawatirkan keadaan Chanyeol daripada keadaan anaknya sendiri.
Kebencian Baekhyun terhadap Chanyeol semakin bertambah ketika kedua orang tuanya menjodohkan dirinya dengan Chanyeol dengan alasan bahwa orang tuanya dan orang tua Chanyeol adalah teman di masa muda mereka, dan mereka sudah berjanji akan menikahkan anak mereka nanti. Alasan yang klasik memang, tapi itulah kenyataannya.
Lama Baekhyun termenung sendiri di dalam kelas, ia memutuskan untuk bangkit. Niat awal Baekhyun adalah menuju ke kantin, ia baru saja akan mengajak Kyungsoo untuk menemaninya tapi tiba-tiba pemuda bermata doe itu berdiri dari kursinya. "Kyungsoo, ayo kita ke kantin." Ajak Baekhyun sebelum Kyungsoo pergi dari kelas.
Kyungsoo menoleh ke Baekhyun dan tersenyum, "Ayo, aku tadi juga sudah mengajak Chanyeol."
Ucapan Kyungsoo tersebut membuat Baekhyun tersentak, "Ah, kalau begitu aku akan pergi sendiri saja." Ia tidak mau makan satu meja dengan Chanyeol. Kyungsoo mengerutkan keningnya dan membuat Baekhyun sedikit berharap kalau Kyungsoo akan membatalkan acara makan siangnya dengan Chanyeol dan lebih memilih dengannya. Namun respon Kyungsoo selanjutnya hanya membuat Baekhyun menyesal karena telah berharap terlalu tinggi.
"Oh baiklah kalau begitu. Hati-hati, Baekhyun." Lelaki bermata doe itu melenggang pergi setelah sempat melambaikan tangan padanya.
Demi apapun ini membuat Baekhyun kesal, bahkan teman akrabnya pun lebih memilih Chanyeol daripada dirinya. Ia menyesal karena beberapa menit yang lalu ada perasaan bersalah yang hinggap di hatinya, karena pada akhirnya Chanyeol tetaplah sesorang yang menyebalkan yang selalu merebut perhatian semua orang terdekatnya.
.
.
"Baekhyun?"
Baekhyun yang tengah asik bermain game di ponselnya menoleh ke arah ibunya. "Hm?"
Chae Won menarik tangan kiri Baekhyun, membuat ponsel di tangannya terlepas dan terdengar suara game over dari ponselnya itu, Baekhyun mengerucut sebal. "Baekhyun, berkencanlah dengan Chanyeol sesekali." Baekhyun mengerutkan dahi, bingung kenapa ibunya secara tiba-tiba berkata tentang kencan dengan Chanyeol. "Lihatlah, kau bahkan tidak memakai cincin pertunangan kalian. Kalau Chanyeol tahu hal ini, ia pasti akan merasa sedih Baekhyun."
Lelaki mungil itu menghela napasnya pelan, topik ini membuat perasaan bersalah Baekhyun kembali muncul. Tapi itu hanya sedikit karena Baekhyun memang pribadi yang keras kepala jadi ia dengan cepat menyangkal perkataan ibunya. "Lagipula aku memang tidak menyukai Chanyeol, ibu dan ayah yang memaksaku untuk menjadi pendamping hidup Chanyeol. Jadi itu bukan salahku kalau sikapku seperti ini sekarang." Baekhyun menarik tangannya dari genggaman ibunya.
"Justru karena kau tidak menyukai Chanyeol, maka ibu menyarankanmu untuk mencoba berkencan dan menghabiskan waktu berdua dengannya, Baekhyun. Kalian sudah bertunangan jadi sudah seharusnya hubungan kalian menjadi lebih dekat. Apalagi kalian akan segera menikah setelah kalian lulus kuliah nanti." Ujar Chae Won dengan suara yang lembut, mencoba membujuk anaknya yang keras kepala ini memang sulit. "Dan apa kau selama ini tidak menyadari semua perhatian yang Chanyeol berikan kepadamu? Dia lelaki yang baik, Baekhyun. Hanya cobalah untuk membuka hatimu kepadanya dan hilangkan semua pikiran burukmu tentangnya. Ibu dan ayah hanya mencoba memilihkan pendamping hidup yang baik untukmu." lanjutnya.
"Inilah yang membuatu semakin membencinya! Ibu selalu saja memikirkan Chanyeol tapi apakah ibu tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya? Tidak, pokoknya aku tidak mau berkencan dengan Chanyeol!" Baekhyun berdiri dari sofa dan kemudian berjalan ke tangga dengan menghentakkan kakinya. Lalu beberapa menit kemudian terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras.
Chae Won menghela napasnya, jika terus seperti ini, bagaimana bisa Chanyeol dan Baekhyun melanjutkan ke tahap pernikahan nanti? Ia menjadi semakin tidak enak hati kepada keluarga Park. Chanyeol pasti juga kecewa dengan sikap Baekhyun yang seperti ini. Chae Won bahkan ragu kalau Chanyeol dan Baekhyun pernah saling menyapa satu sama lain.
.
.
Baekhyun memikirkan semua perkataan ibunya, ia tahu betul tentang apa yang dimaksud 'perhatian Chanyeol kepada dirinya' yang diucapkan ibunya tadi. Memang selama ini, entah itu semenjak pertunangan mereka ataupun sejak dulu, Chanyeol selalu berbaik hati menawarkan tumpangan kepadanya ketika Baekhyun harus menunggu bus karena ayahnya sudah berangkat lebih dulu ke kantor. Atau ketika Chanyeol membantunya dalam bermain gitar di kelas musik, Baekhyun selalu menolak tapi dengan caranya sendiri, Chanyeol berhasil membuat Baekhyun luluh dan berakhir dengan Baekhyun yang mendapat nilai cukup memuaskan padahal sebelumnya dirinya bahkan gemetar ketika memetik senar gitar. Atau ketika Chanyeol diam-diam menaruh jus strawberry di lokernya. Dan masih banyak lagi dan itupun hanya beberapa dari yang Baekhyun sadari.
Baekhyun tahu itu semua tapi sekali lagi, Baekhyun tidak ingin mengakuinya. Ia jadi memikirkan apakah ia harus mencoba membuka hatinya untuk Chanyeol? Mungkin saran ibunya ada baiknya juga. Lagipula orang tuanya pasti akan tetap menikahkannya dengan Chanyeol nanti, mungkin Baekhyun memang harus mencoba sebelum semuanya terlambat. Tentunya ia tak mau kalau nanti harus mempunyai suami yang sama sekali tidak dicintainya.
Jadi mungkin mencoba mulai sekarang adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
Ia meraih ponselnya,mencari nomor seseorang yang sama sekali tidak pernah ia sentuh. Baekhyun pikir ia menyimpannya hanya untuk formalitas saja karena bagaimanapun Chanyeol itu tunangannya.
Setelah memantapkan hatinya, ia mencoba menghubungi nomor tersebut. Hanya dalam rentan waktu dua detik, sambungan itu berhasil terhubung.
"Halo, Bee. Ini benar kau?" Baekhyun yakin kalau Chanyeol sedang terperangah disana.
"Ya." Jawabnya singkat, karena jujur saja Baekhyun bingung harus memulai darimana. Ini terasa sangat canggung dan fakta bahwa Baekhyun yang menghubunginya lebih dulu tidak membantunya sama sekali.
"Serius ini kau? Baekhyun, ini seperti mimpi."
Baekhyun memutar bola matanya malas, "Aku juga berharap ini mimpi tapi sayang sekali ini nyata." Ada sedikit penyesalan setelah ia mengucapkan kalimat itu. Apa Chanyeol tersinggung dengan kalimatnya barusan? "Ada yang ingin kukatakan padamu."
"Hm? Apa itu?" bahkan setelah kalimat buruk yang ia sampaikan, nada suara Chanyeol masih terdengar lembut.
Hening cukup lama, Baekhyun kesulitan untuk merangkai kata-katanya. Haruskah ia mengajak Chanyeol kencan secara langsung atau haruskah ia sedikit berbasa-basi terlebih dahulu? Ah, persetan. Ia hanya harus mengatakan tujuannya dan segera menutup sambungan telponya agar suasana canggung ini cepat berakhir. "Ayo kita pergi berkencan. Besok, dan kau yang menentukan tempat dan waktunya." Baekhyun tidak tahu kenapa tapi ia bisa merasakan hawa panas yang kini menjalar ke pipinya. Ia sepertinya lupa kalau ia tadi sempat menolak mentah-mentah saran ibunya.
Terlebih ketika ia tidak mendengar sahutan lagi dari Chanyeol. Baekhyun jadi berpikir apakah tunangannya itu sedang terkejut atau justru ingin menertawakannya. Oh tidak, apakah ia baru saja menyebut Chanyeol dengan 'tunangannya'?
"Tentu saja, ayo kita bersenang- senang besok." Akhirnya setelah beberapa detik terdiam, Baekhyun bisa mendengar jawaban Chanyeol. Suara Chanyeol terdengar lembut dan berat. Ada sensasi tersendiri yang membuat Baekhyun harus menahan senyumannya karena suara itu.
Baekhyun hampir saja mematikan sambungan teleponnya ketika ia mendengar Chanyeol berucap dengan begitu manis. "Selamat malam, Bee."
Hal itu membuat senyum yang Baekhyun tahan kini terukir dengan indah di wajahnya. Hanya senyuman kecil dan itupun Baekhyun segera membulatkan mataya setelah sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Astaga, kenapa aku tersenyum?" ujarnya lalu segera membenamkan wajahnya di bantal kesayangannya.
.
.
Chae Won meletakkan secangkir kopi di meja makan di hadapan suaminya, Byun Ji Yeong. Hari ini adalah weekend yang berarti suaminya itu sedang libur bekerja. Kemudian ia duduk di hadapan Ji Yeong dan mengoleskan selai pada selapis roti untuk dirinya dan Ji Yeong.
"Bagaimana? Apakah tidak ada perkembangan antara Baekhyun dan Chanyeol?" tanya Ji Yeong setelah menerima roti dari istrinya.
Chae Won mendesah pelan, "Anakmu itu terlalu keras kepala. Aku merasa sangat bersalah kepada kelurga Park kalau terus seperti ini. Mereka pasti kecewa terhadap Baekhyun."
"Huh, jadi selama ini aku pergi ke kantor lebih dulu juga tidak berhasil mendekatkan mereka?"
"Baekhyun bahkan lebih memilih naik bus daripada menerima tumpangan Chanyeol."
Kedua pasang suami istri itu mendesah lelah. Tidak habis pikir bagaimana bisa mereka menjadikan Baekhyun dan Chanyeol sebagai tunangan dulu padahal kedua anak itu tidak ada dekatnya sama sekali.
"Jika terus seperti ini, bagaimana bisa kita menikahkan mereka berdua nanti?" ujar Chae Won lesu. "Kita tidak mungkin memaksakan anak kita untuk menikah dengan seseorang yang tidak ia cintai. Tapi jika kita membatalkan pernikahan mereka, kita sama saja melanggar perjanjian kita dengan keluarga Park sewaktu kita muda dulu." lanjutya.
Sementara ji Yeong juga membenarkan perkataan istrinya. Dulu ia pikir Baekhyun bisa mencintai Chanyeol dengan mudah karena semakin dewasa, Chanyeol menjadi semakin tinggi dan tampan, serta pemuda yang baik dan ramah pula. Ia tidak menyangka kalau ternyata anaknya tidak terpengaruh dengan semua itu dan malah berkata kalau dia membenci Chanyeol.
Kegiatan kedua orang tua itu terintrupsi olehsuara langkah kaki yang menuruni tangga. Chae Won mengerutkan dahi melihat penampilan rapi anaknya. Padahal ini weekend dan biasanya Baekhyun akan tiba di meja makan dengan tampilan acak-acakan dan piyamanya yang kebesaran. "Baekhyun kau mau pergi kemana?" tanya ibunya.
Baekhyun mengambil dua helai roti dan mengoleskan selai stroberi disana. "Aku akan mencobanya."
Jawaban singkat Baekhyun tersebut membuat Ji Yeong mengerutkan dahinya. Sementara Chae Won terlihat sedang berpikir maksud dari uacapan Baekhyun tersebut. Baekhyun hanya bisa terkekeh dalam hati melihat raut kedua orang tuanya.
Ia menghabiskan rotinya dengan cepat dan kemudian berniat segera melenggang pergi tapi suara pekikan ibunya membatalkan niatnya. "Baekhyun kau serius?! Kau benar-benar menuruti perkataan ibu semalam?!" Chae Won berdiri dan menghampiri Baekhyun, ia menempelkan punggung tangannya di dahi anak tunggalnya itu. "Kau demam? Apa kau menyalakan AC semalaman, huh?"
Baekhyun memutar bola mataya malas, lalu ia melepaskan tangan Chae Won dari dahinya. "Ibu, please. Ketika aku sudah menuruti ibu, ibu malah seperti ini. Sudahlah, bu. Aku berangkat." lalu ia menoleh ke ayahnya, "Ayah, aku pergi." Ayahnya hanya mengaggukkan kepala tanpa tahu sebenarnya anaknya itu mau pergi kemana.
Ketika Baekhyun sudah menghilang di balik pintu, Chae Won menoleh ke Ji Yeong dengan rahang yang masih terbuka lebar. "Wow, aku tidak percaya ini."
"Ada apa sebenarnya? Aku merasa seperti orang bodoh disini karena tidak mengetahui apapun. "Memang apa yang kalian bicarakan semalam?"
"Intinya adalah… Baekhyun akan pergi berkencan dengan Chanyeol sekarang!" ujar Chae Won sambil melompat girang membuat Ji Yeong terkejut karenanya. Tapi tak lama kemudian mereka akhirnya tertawa bersama mengetahui kemajuan anaknya itu.
.
.
Baekhyun masih menunggu di depan gerbang rumahnya. Ia sedikit ragu haruskah ia menghampiri Chanyeol di rumahnya atau ia tetap menunggu disini. Tapi ini sudah lima menit berlalu dan tidak ada tanda- tanda kalau pagar yang ia tatap sejak tadi terbuka dari dalam.
Ia baru saja akan melangkah kepagar rumah Chanyeol sebelum suara derit pagar itu sendiri mengagetkannya. Mobil abu-abu sport milik Chanyeol menyapa penglihatannya. Entah kenapa Baekhyun jadi gugup seperti ini, ia hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dengan kaos putih polos di dalamnya. Ia berharap penampilannya ini tidak terlalu berlebihan ataupun terlalu sederhana. Bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya Baekhyun pergi keluar bersama Chanyeol walalupun ia bertunangan dengan lelaki tinggi itu sudah sejak tiga bulan yang lalu.
Chanyeol keluar dari mobilnya, lelaki tinggi itu mengenakan hoodie berwarna toska. Sangat sederhana tapi entah kenapa Chanyeol terlihat sangat tampan dengan itu semua. "Bee, kau sudah menunggu lama? Kenapa kau tidak masuk saja ke rumah?" tanya Chanyeol. Mereka kini berdiri berhadapan di depan mobil Chanyeol.
"Tidak, aku baru lima menit disini." Baekhyun menjawabnya sambil menunduk. Oh, ayolah, ia bahkan memepertanyakan dimana dirinya yang sangat membenci Chanyeol. Sekarang ia justru terlihat seperti tunduk di bawah tatapan pria tinggi itu.
"Baiklah, ayo kita berangkat." Baekhyun masuk ke dalam mobil Chanyeol dengan lelaki tinggi itu yang membukakan pintu untuknya.
Sebenarnya jika Baekhyun bisa berpikir lebih positif, perhatian Chanyeol yang seperti ini memang terlihat tulus. Dia bahkan tidak terlihat seperti sedang merebut perhatian orang-orang tersayangnya, tidak karena Chanyeol memang selalu seperti ini dimanapun dan kapanpun. Baekhyun jadi takut kalau selama ini sikapnya memang sangat keterlaluan kepada Chanyeol.
"Kemana tujuan awal kita, bee?" tanya Chanyeol tiba-tiba, membuat Baekhyun langsung tersentak dan menoleh ke pria itu.
"Bukankah aku sudah mengatakan kalau kau yang menentukan tempatnya?"
"Aku memikirkan Namsan Tower, apa kau tidak keberatan?" Baekhyun menahan senyumannya ketika ia mendengar Namsan Tower, ah, ia sudahlaa sekali tidak mengunjungi menara itu. Terakhir kali yang diingatnya yaitu waktu ia masih berusia 11 tahun.
Baekhyun menganggukkan kepalanya semangat yang mana membuat Chanyeol terkekeh karena tingkah menggemaskan tunangan mungilnya. Si mungil itu sendiri tertegun karena ia baru pertama kali mendengar tawa Chayeol yang disebabkan oleh dirinya. Itu menimbulkan sedikit rasa menggelitik di perutnya dan baekhyun menyukainya.
.
.
Baekhyun tak henti-hentinya membuka mulutnya untuk berdecak kagum. Namsan memang masih sama seperti dulu, hanya saja kini lebih banyak bangunan baru yang Baekhyun tidak lihat dulu. Dan karena hari ini adalah weekend, banyak sekali pengunjung yang dating di tempat ini.
"Bee, ayo kita naik cable car." ajakan chanyeol tersebut tentunya segera diangguki dengan semangat oleh Baekhyun. Ia tidak sabar melihat pemandangan dari puncak menara.
Ketika mereka sampai di cable car, mereka harus rela berdesakan saking banyaknya pengunjung. Baekhyun agakrisih dengan hal itu tapi karena ada dua tangan Chanyeol yang setia merengkuhnya jadi ia tidak apa-apa meskipun tersenggol oleh pengunjung lain.
Entah kenapa hal kecil seperti itu sekarang membuat jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Setengah hatinya merasa bersyukur jika ia memang sudah berhasil untuk membuka hatinya untuk Chanyeol.
Mereka kini sampai di puncak menara. Baekhyun sempat kesal tadi karena ia tidak bisa dengan leluasa melihat pemandangan dari cable car karena terus berdesakan. Tapi rasa kecewanya kini langsung hilang ketika ia melihat gembok-gembok cinta yang terkkunci dip agar. Dulu ia juga melihatnya tapi masih belum sebanyak sekarang.
"Chanyeol," Baekhyun mencicit pelan. Memanggil nama Chanyeol secara langsung adalah sesuatu yang jarang ia lakukan. "Ayo kita membeli gembok dan menuliskan sesuatu."
Chanyeol tersenyum teduh, dan rasanya Baekhyun seperti tenggelam karena senyuman itu. Lelaki tinggi itu kemudian menarik tangan Baekhyun pelan. "Ayo."
Baekhyun memilih gembok berwarna biru dengan gambar hati di tengahnya. Ia melihat kalau Chanyeol juga memilih gembok yang sama dengannya. Kemudian ia menuliskan sesuatu disana, dan ia berharap kalau apa yang ditulisnya bisa terkabul di kemudian hari. Ia sebenarnya juga penasaran dengan apa yang Chanyeol tulis, tapi ia ragu ingin menanyakannya.
Jadi setelah selesai dengan itu semua, Chanyeol kembali menarik tangan Baekhyun menuju kumpulan gembok-gembok yang sudah terkunci lainnya. Kemudia merek mulai mengunci gembok mereka disana juga. "Kau sudah selesai, Bee?" tanya Chanyeol.
"Ya, sudah."
"Kalau begitu ayo kita lemparkan kuncinya bersama-sama." kini Chanyeol tidak menarik tangan Baekhyun, melainkan menggenggam telapak tangan mungil itu dan menautkan jari-jari mereka disana. Bersamaan dengan doa dari dalam hati mereka, mereka melemparkan kedua kunci bersama-sama.
'Semoga Chanyeol mau menunggu sampai aku juga mencintainya.'
.
.
"Bee, kau ingin makan sesuatu?"
Mereka masih berada di kawasan Namsan. Setelah melemparkan kunci tadi, mereka turun lagi dengan cable car. Suasana masih saja ramai tetapi Baekhyun tidak perlu khawatir karena Chanyeol masih saja menjaganya dari desakan pengunjung di cable car.
Chanyeol masih setia mengenggam tangan Baekhyun, Baekhyun juga tidak menolak karena jujur saja ia nyaman dengan itu. Tangan Chanyeol terasa sempurna untuk membungkus tangan kecilnya.
"Aku ingin es krim." jawabnya singkat.
"Baiklah, ayo kita cari es krim."
Tak lama kemudian, mereka menemukan penjual es krim. Chanyeol langsung memesan es krim stroberi kesukaan Baekhyun. Yang lebih mungil menerimanya dengan diam dan segera menjilat es krim dengan rasa kesukaannya itu.
Bahkan Chanyeol hanya memesan untuknya saja, lelaki tinggi itu tidak membeli es krim untuk dirinya sendiri dan membiarkannya menikmati sendirian. "Chanyeol kau mau?" tanya Baekhyun sambil menyodorkan es krimnya.
Chanyeol sedikit menunduk ke bawah guna menatap Baekhyun, kemudian ia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bee. Kau nikmati saja es krim mu." kemudian sebelah tangannya yang tidak menggemgam jemari Baekhyun mengusak rambut anak itu dengan gemas.
Kemudian mereka berdua berjalan-jalan lagi sambil menghabiskan waktu. Tidak ada pembicaraan khusus di antara keduanya. Hanya pertanyaan-pertanyaan biasa yang sesekali ditanyakan Chanyeol maupun Baekhyun sendiri.
Baekhyun pikir ini akan sedikit keterlaluan jika kencannya dengan Chanyeol hanya diisi oleh kecanggungan. Atau hanya dirinya saja yang merasa canggung disini karena sebenarnya Chanyeol memang diam tapi Baekhyun tidak melihat kalau lelaki tinggi itu tengah kikuk ketika bersamanya.
"Chanyeol, bagaimana kalau setelah pulang dari sini, kita makan di kedai ddeopeokki milik Paman Kim?" usul Baekhyun. Ia rasa ia akan lebih banyak menghabiskan waktu disana nanti untuk lebih dekat dengan Chanyeol.
"Tentu saja, Bee. Apapun untukmu."
.
.
Kedai ddeopokki milik Paman Kim memang selalu ramai. Baekhyun sering kesini karena Jongdae, anak Paman Kim, adalah salah satu teman dekatnya di universitas. Ia sedikit lelah setelah berjalan-jalan di Namsan tadi.
Kencannya hari ini bisa dibilang sempurna, hanya saja sedikitnya interaksi antara ia dan Chanyeol menambah nilai min baginya. Lagipula Baekhyun sudah mulai merasa nyaman dengan Chanyeol. Ia hanya harus menghilangkan segala pkiran negatif tentang Chanyeol jadi ia bisa mudah membuka hatinya kepada lelaki tinggi itu.
"Chanyeol, aku ingin soju juga." ujar Baekhyun setelah ia mendengar kalau Chanyeol hanya memesan ddeopeokki saja.
"Bee kau tidak bisa minum alkohol." Baekhyun sedikit meringis karena Chanyeol tahu segala tentangnya sementara ia tidak tahu apapun tentang Chanyeol.
"Hanya sedikit, please." Baekhyun tanpa sadar mengeluarkan jurus puppy andalannya dan itu telak membuat Chanyeol tidak bisa menolak.
"Baiklah, hanya sedikit. Janji?"
"Hmm, janji."
Baekhyun mulai memakan ddeopeokki ketika hidangan kue beras itu sudah berada tepat di hadapannya. Ia lansung mendesis merasakan sensasi pedas dari ddeopokki itu. Ia kemudian menyadari kalau sejak tadi Cahnyeol hanya memandangnya dan tidak menyentuh ddeopokkinya sama sekali. Jadi Baekhyun pun mengambil satu ddeopokki dengan sumpitnya lalu menyodorkannya kepada Chanyeol. "Kau juga harus makan. Tidak enak tahu hanya makan sendiri. Buka mulutmu."
Lelaki tinggi itu terkekeh pelan lalu membuka mulutnya. Baekhyun senang bisa mendengar kekehan itu lagi. Kemudian Chanyeol menuangkan soju ke gelas dan memberikannya ke Baekhyun, ia menuang lagi dan soju itu langsung ditegnggak untuk dirinya sendiri.
Baekhyunpun akhirnya mengikuti Chanyeol. Ia meminum segelas sojunya dalam sekali tegukan. Lalu ia menyodorkan gelasnya lagi, meminta Chanyeol untuk menuangkan segelas lagi. "Ingat janjimu, Bee. Kau tidak boleh minum terlalu banyak."
"Aku tahu." Ia menenggak sojunya, lalu menyodorkan gelasnya lagi ke Chanyeol. "Satu lagi saja, hehe…"
Chanyeol pun menuang soju lagi, mereka bahkan sudah mengabaikan ddeopoeokki yang masih tersisa. Cahnyeol sedikit menghela napas ketika menyadari kalau wajah Baekhyun sudah mulai memerah. Huh, anak itu bahkan sudah mabuk hanya dengan tiga gelas soju.
"Baekhyun kau sudah mulai mabuk. Ayo kita pulang."
"Tidak, Chanyeol. Aku masih sadar kok." ujar yang lebih mungilsambil mengerucutkan bibirnya. Ia menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu terpekik senang ketika mendapati benda yang dicarinya ada disana. Sebuah gitar Paman Kim yang memang selalu tersedia disana. Ia mengambil gitar itu dan menyerahkannya ke Chanyeol. "Chanyeol bermainlah!"
Chanyeol mendesah, "Tidak, Baekhyun. Ayo kita pulang saja."
"Chaneyol, please." jurus puppy Baekhyun memang selalu berhasil meluluhkan Chanyeol. Jadi Chanyeol pun menerima gitar itu.
Ia mulai memetik senar gitarnya dan mulai menyanyikan lagu Bye Babe. Baekhyun tersenyum mendengar itu dan iapun pada akhirnya juga mulai ikut menyanyi dan menjadikan sumpit ddeopeokkinya tadi sebagai mic gadungan.
Chanyeol yang melihat itu menghentikan suaranya, ia membiarkan Baekhyun bernyayi dan menikmati bagaimana Baekhyun kini tengah menyanyikan lagu tersebut sambil tersenyum. Sontak senyuman Baekhyun itupun menular ke Chanyeol dan membuatnya tersenyum lebih lebar.
.
.
Hari ini adalah hari Minggu dan Baekhyun terbangun dari tidurnya dengan sedikit mual. Ia ingat kalau kemarin ia sempat minum dan ia jadi sedikit mabuk. Baekhyun juga menyesal karena niatnya untuk lebih tahu tentang Chanyeol harus batal begitu saja hanya karena dirinya yang mabuk. Setelah bernyanyi kemarin, Baekhyun ingat kalau Chanyeol langsung mengantarnya pulang.
Ah, rasanya ia ingin kencan lagi dengan Chanyeol. Ternyata saran ibunya memang tepat, ia jadi bisa membuka hatinya untuk lelaki tinggi itu.
Baekhyun pun segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Hari ini ia berniat pergi ke perpustakaan kota untuk mencari buku yang akan ia gunakan sebagai referensi untuk ujiannya nanti.
Beberapa menit kemudian, Baekhyun sudah siap berangkat dan ia harus menerima beberapa pertanyaan dari ibunya tentang kencannya dengan Chanyeol kemarin. Baekhyun tidak mempedulika itu dan segera melenggang pergi menuju halte bus.
Hanya berselang lima menit, bus yang ia tunggu tiba. Ia pun langsung masuk ke dalam. Baekhyun sedikit merutuki keputusan ibunya yang tidak mau menyewa supir. Pasti itu hanya akal-akalan ibunya agar setiap hari ia bisa menumpang Chanyeol. Ia mendengus pelan.
Ketika ia sudah sampai di perpustakaan kota, ada hal yang membuat Baekhyun menolak untuk masuk. Di trotoar jalan, ia melihat seorang wanita yang menggelanyuti lengan Chanyeol. Baekhyun bahkan terheran-heran melihat Chanyeol sepagi ini sudah keluar, dengan seoramg wanita pula. Siapa wanita itu? Kenapa Chanyeol terlihat tidakkeberatan sama seklai?
Entah kenapa Baekhyun merasakan hatinya berdenyut, ia tahu kalau ia sudah mulai menerima Chanyeol tapi kenapa saat ini sudah terjadi, Chanyeol harus melakukan ini padanya?
Kemudian ia tersadar saat namanya dipanggil, Baekhyun mendongak dan tau-tau Chanyeol sudah berjalan ke arahnya. Maka dengan cepat Baekhyun pun berlari menyebrang jalan tanpa mempedulikan suara-suara protes dari para pengendara.
Baekhyun pikir ia sudah terbebas dari kejaran Chanyeol tapi semua itu terpatahkan ketika ia mendengar bunyi klakson mobil lagi. Iapun menoleh dan mendapati Chanyeol yang berada di tengah jalan sementara dari arah yang lain ada sebuah mobil melaju denga kencang.
Mendadak pikiran Baekhyun menjadi kosong. Tidak, ia memang membenci Chanyeol tapi itu dulu. Ia memang tidak suka ketika melihat Chanyeol dengan wanita yang menggelanyuti lengannya tadi. Tapi dibalik semua itu, ia tidak akan pernah membiarkan Chanyeol pergi sebelum lelaki itu tahu kalau ia juga sudahmulai mencintainya.
Jadi dengan kemantapan hatinya, Baekhyun segera berlari ke arah tunangannya itu dan sekuat tenaga mendorong Chanyeol. Lalu beberapa detik kemudian, suara terakhir yang dapat ia dengar adalah suara Chanyeol yang menyerukan namanya.
.
.
"Baekhyun, aku bertahan hanya karenamu. Jika kau seperti ini terus, maka aku akan lebih memilih mengakhiri hidupku."
.
.
.
.
.
Baekhyun membuka matanya bersamaan dengan air mata yang mengaliri melewati ujung matanya. Ia mengedarkan pandangannya walalupun kepalanya terasa sangat berat. Dan rasa haus yang membuatnya sulit untuk mengeluarkan sepatah kata tidak membantunya sama sekali.
Tapi yang ia sadari, kalau ia berada di rumah sakit sekarang. Dengan selang oksigen yang membantu pernapasannya dan alat-alat lainnya yang mungkin digunakan untuk menunjang hidupnya.
Kemudian ia mendengar suara derit pintu, Baekhyun berharap itu adalah seseorang yang sangat ingin ditemuinya. Tapi harapannya pupus seketika kala sosok ibu dan ayahnya lah yang terlihat dalam pandanagnnya.
Ibu dan ayahnya memekik terkejut melihatnya telah membuka mata, ayahnya segera berlari keluar memanggil dokter sementara ibunya menghampiri diriny adan mengelus tangannya dengan lembut.
"Baekhyun, kau sudah sadar sayang? Ada yang kau butuhkan, hmm? Katakana pada ibu nak."
Baekhyun berusaha menggerakkan bibirnya perlahan, mencoba dengan susah payah menemukan kembali suaranya. "Chan-Chanyeol.."
Baekhyun sungguh berharap kalau ibunya menjawab pertanyaannya sesuai dengan pa yang ingin ia dengar.
.
.
.
.
.
Hari berlalu dan keadaan Baekhyun semakin membaik. Kini ia berada di taman rumah sakit dengan seseorag yang mendorong kursi roda di belakangnya.
Ibunya bilang kalau ia koma selama satu bulan setelah kecelakaan itu. dan kini ia ingin berbiacara denga Chanyeol.
"Chanyeol, siapa wanita yang waktu itu."
Chanyeol berjongkok di depan Baekhyun, "Ia sespupuku, Bee. Namanya Yeri."
Baekhyun tertegun, ia sudah cemcuru tanpa alasan yang jelas. "Chanyeol, aku bermimpi, jika aku tidak bangun dari komaku, kau kaan bunuh diri. Jadi karena itulah aku bangun. Stelah bangun dari komaku dan tidak mendapatimu dimanapun, aku takut kalau aku terlambat dan aku sudah kehilanganmu."
"kau bermimpi seperti itu?" Baekhyun mengangguk. "Apapun itu, terima kasih sudha bangun, Baekhyun. Aku sangat mencintaimu dan aku takut kehilanganmu."
"Chanyeol, aku juga… aku juga mencintaimu." Ucapan Baekhyun membuat Chanyeol tertegun. "Aku menyesal karena dulu aku sempat membencimu."
Baekhyun merasakan kalau tubuhnya tertarik dan membentur dada Cahnyeol. Chanyeol memeluknya dan Baekhyun terkejut mengetahui betapa hangatnya pelukan Cahnyeol.
"Tidak apa-apa, Bee. Aku tahu saat itu kau hanya butuh waktu untuk membuka hatimu."
Baekhyun menyamankan dirinya dalam oelukan Chanyeol. "Chanyeol aku penasaran dengan apa yang kau tulis di gembok waktu kita pergi ke namsan."
Cahnyeol terkekeh pelan. "Kau akan mengetahuinya saat kita kesana lagi nanti." Ucap Cahnyeol dan kemudian ia langsung memberikan kecupan di bibir mungil Baekhyun. Menghujami wajah tunangan mungilnya dengan kecupan-kecupan penuh ketulusan.
.
.
.
.
.
Chanyeol menulis kata 'forever' di sisi depan gembok dan kata 'Chanyeol love Baekhyun' di sisi belakang gembok.
.
.
.
The End
.
Hello good people! Kalau berkenan, kalian bisa meninggalkan review ya ^^ Disamping menambah motivasi Author dalam menulis, event ini juga akan mengambil dua readers login sebagai pemenang Readers Tercyduk! Good luck!
.
This fanfic is belongs to the real author. Please give your best support to our writers who have work hard! Thankyou!
