BECAUSE YOU ARE MINE
—BETH CERY—
Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.
KIM JONGIN—OH SEHUN
It's HUNKAI.
Previous
"Terima kasih, Mr. Oh," petugas valet memancarkan rasa senang dengan kasen Inggris yang kental. "Jangan kuatir mobilnya akan dikembalikan dengan sangat cepat. Saya akan melakukannya sendiri."
"Kau tidak perlu kuatir. Mobilnya akan dikembalikan sesegera mungkin," kata Sehun bingung sambil meraih tangan Jongin.
"Ya, seperti yang anda katakan. Anda tidak perlu kuatir. Mobilnya akan di kembalikan sesegera mungkin." kata pria itu mengulangi dengan keras dan dengan lirih beberapa kali.
"Aku tidak akan kuatir, Mark." kata Sehun dengan senyum kecil.
.
.
.
BAB 35
Percakapan pendek dengan petugas valet nampaknya meringankan suasana hatinya. Sehun menyadari Jongin mengangkat alisnya dan ekspresi ingin tahu saat mereka masuk ke elevator. "Aku bilang pada Mark aku akan mencobanya di ruang suratku—jika dia belajar bahasa Inggris. Dia punya paman dan bibi di Chicago dan punya mimpi besar tentang Amerika."
Jongin tersenyum saat mereka melangkah keluar dari elevator.
"Hati-hati, Sehun."
Sehun menatap ke samping pada Jongin saat pria itu mengunakan kunci untuk membuka kamar suitenya.
"Kau memperlihatkan sisi lembutmu."
"Kau pikir begitu?" Sehun bertanya tanpa peduli, saat dia membukakan pintu agar Jongin masuk. "Kupikir aku bisa menjadi sangat praktis. Aku orang pertama yang mengetahui betapa pekerja kerasnya Mark. Dia berusaha keras untuk melayani disaat yang lain berbuat sebaliknya."
"Dan tentu saja kau selalu menginginkan siapapun untuk melayanimu dengan rela."
"Ya," kata Sehun, mengenali sindiran dalam suara Jongin. Sehun membawa Jongin ke kamar tidur di suitenya dan berbalik menghadapnya. "Apa kau menghadapi kesulitan dengan hal itu, Jongin?"
"Dengan apa?" Jongin bertanya, kebingungan.
"Dengan memasuki perjanjian di mana tujuan utamanya adalah menyenangkanku."
"Aku melakukannya untuk menyenangkan diriku sendiri," kata Jongin mengangkat dagunya.
Sehun menatap geli pada wajah Jongin. "Ya," gumam Sehun, menyentuh rahang Jongin dengan lembut. Jongin gemetar. "Dan itulah yang membuatmu begitu spesial. Karena menyenangkan aku juga akan menyenangkanmu."
Jongin mengerutkan dahi. Sesuatu yang Sehun katakan merambah topik yang membuatnya tidak nyaman tentang dominasi dan kepatuhan.
Sehun tersenyum dan menurunkan tangannya. "Aku lebih suka kau tidak terlalu banyak melawan dengan hal-hal dasarnya, manis. Tidak ada hal memalukan tentang sifatmu. Faktanya, aku menganggapmu sangat cantik. Kau sunguh tak tahu kenapa aku ingin memilikimu bagaimanapun resikonya, benar, kan? Kualitas dalam dirimu hanya bisa dilihat oleh pria seperti aku…"
Sehun berhenti saat dia menyadari kebingungan di wajah Jongin. Sehun menghembuskan napas berat. "Mungkin yang dibutuhkan olehmu hanya waktu. Itu saja, dan latihan."
Jongin mengerjap saat dia melihat kilatan di mata Sehun.
"Tolong lepas pakaianmu dan pakailah jubah. Sisir rambutmu, tapi biarkan rambutmu diikat di belakang. Duduk di ujung ranjang. Aku akan bersamamu sebentar lagi. Kita butuh beberapa hal untuk pelajaran yang sangat penting ini."
————
Kau sungguh tak tahu kenapa aku ingin memilikimu bagaimanapun resikonya, benar, kan?
Kata-kata Sehun bergema di kepalanya saat Jongin melakukan apa yang Sehun minta, ditambah menyikat giginya.
Duduk dan menunggu di sudut ranjang pasti meningkatkan kegelisahannya. Jongin tidak perlu merasa senang, kalau dia ingin sekali memuaskan hasrat seksual Sehun, memberikan kenikmatan yang Sehun berikan kepadanya, tapi ia cukup jujur untuk mengakuinya pada dirinya sendiri. Rupanya Jongin tidak punya hak untuk menjelek-jelekkan Sehun tentang pilihannya saat ia sendiri memiliki gairah gelap yang sama.
Pikirannya terpotong saat Sehun berjalan masuk ke kamar memakai celana panjang hitam, tubuh dan kakinya telanjang dan membawa tas plastik kecil. Jongin menatapnya, tidak bisa bernapas karena menatap tubuh Sehun yang hampir telanjang. Pernahkah Sehun mengijinkannya menyentuh dan mengusap dan mencumbu seluruh kulitnya yang halus, otot yang menonjol dan kulit yang lembut?
Puting Sehun kecil sekali dan hampir selalu tegak—sejauh yang Jongin amati. Sehun meletakkan tas di salah satu kursi di ujung ranjang. Sehun mengambil benda dengan tali pengikat yang tidak bisa Jongin kenali, bersama benda yang dia kenali : borgol kulit.
Sehun melangkah ke arahnya, benda itu ada di tangannya.
"Kenapa aku harus mamakai borgol untuk pelajaran ini?" Jongin bertanya, kekecewaan terdengar dari suaranya. Jongin pikir akhirnya ia mendapat kesempatan untuk menyentuh Sehun.
"Karena aku bilang begitu," kata Sehun lembut. "Sekarang berdiri dan lepaskan jubahmu."
Jongin turun dari ujung tempat tidur dan melepas jubahnya. Udara terasa sedikit dingin di kulit telanjangnya. Putingnya mengetat saat ia melemparkan jubahnya di ujung ranjang.
"Sekarang dingin, tapi kupikir aku akan segera membuatmu merasa hangat. Berbalik," kata Sehun.
Sekali lagi, Jongin harus menahan dorongan kuat untuk menatap ke balik bahunya dan melihat apa yang Sehun lakukan di belakangnya.
"Letakkan pergelangan tangan di punggungmu." perintah Sehun.
Kewanitaan Jongin seketika bergairah ketika ia merasakan gesper Sehun menekan di sekeliling pergelangan tangannya, mengikat lengan Jongin di belakang punggungnya.
"Sekarang berbalik."
Jongin sedikit terkesiap saat ia melihat botol kecil yang Sehun pegang. Kehangatan menyerbu diantara pahanya. Jongin menjadi terkondisi pada botol kecil yang berisi krim itu. Tubuhnya merespon hanya dengan melihat botol itu.
Sehun berhenti, seolah mengerti reaksi Jongin saat matanya melembut.
"Aku berkenalan dengan dokter pengobatan Cina di Chicago yang merekomendasikan obat perangsang ini, tapi aku belum pernah memakai ini sebelumnya. Aku punya kesan yang sangat jelas kalau kau menyetujuinya," kata Sehun, bibirnya membentuk senyum kecil.
Sehun berjalan ke arahnya dan Jongin menahan napas—mengerti apa yang akan terjadi. Sehun memasukkan jarinya diantara labia Jongin dan menggosok klitoris Jongin, melapisinya dengan obat perangsang. Jongin menggigit bibir bawahnya untuk mencegah dirinya menjerit penuh gairah. Mungkin ini hanya khayalannya tentang apa yang akan terjadi, tapi ia mulai terbakar.
Sehun menurunkan tangannya. Jongin menatap gelisah saat Sehun mengambil sebuah benda bertali hitam yang ia lihat sebelumnya.
Ada kabel tipis yang melekat pada benda itu, dengan panel kendali yang berukuran kecil.
"Apa itu?" Tanya Jongin, sedikit waspada.
"Ini adalah sesuatu yang diciptakan murni untuk kenikmatanmu, manis. Jangan takut." kata Sehun sambil menuju ke arahnya. "Ini adalah vibrator tanpa kendali tangan," jelas Sehun, memasang tali pengikat yang dapat disesuaikan disekeliling pinggang Jongin dan mengencangkannya. Jongin menatap terpesona juga bergairah saat ia melihat Sehun menekan benda itu pada labia dan klitorisnya, dengan jelas, ujungnya runcing, seperti kolom. Sehun mengatur panel kendali dengan memutar pada tepi ranjang. "Aku tidak suka membuatmu tidak nyaman, tapi karena kau kurang berpengalaman, pelajaran pertamamu pada hal ini mungkin sekedar… mencobanya sampai kau terbiasa. Aku ingin kau merasa kenikmatan sementara kau mempelajari tentang diriku. Ini akan menjadi lebih mudah untukmu. Mungkin."
"Aku tidak mengerti," kata Jongin saat Sehun mempererat tali pada vibrator sampai pas dan melangkah mundur, memeriksa hasil pekerjaannya. Seolah Jongin memakai pakaian dalam yang sangat kecil dengan vibrator kecil yang terjepit diantara labianya.
Vaginanya telah meremang hanya oleh tekanan kecil dan krim klitoris, dan Sehun bahkan belum menyalakan alatnya.
Sesaat Sehun memperhatikan ketenangan Jongin, putingnya mengetat saat tatapan Sehun tidak mau pergi dari payudaranya.
"Kebetulan aku sangat menuntut kalau berurusan dengan fellatio."
"Oh," kata Jongin, tak mampu memikirkan hal lain untuk dikatakan. Sehun mengucapkan itu hampir seperti permintaan maaf.
"Aku tidak pernah mengajarkan wanita melakukan ini. Kukira aku akan gagal menenangkanmu saat melakukan aktivitas ini, tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mempertimbangkan ini dengan matang."
"Apa maksudmu?" Jongin semakin lama semakin bingung.
Apakah mereka membicarakan sesuatu yang sama? Sehun berkata fellatio, begitu juga dirinya, tapi tetap saja…
"Ini sedikit membingungkan. Aku tak mampu mengubah sifatku yang suka menuntut, dan aku ragu aku bisa melakukannya meskipun aku berusaha sekeras mungkin, sama seperti ketertarikanku padamu."
Jongin merasa pipinya memanas. Terkadang, Sehun bisa mengatakan hal yang manis dan sepertinya tidak menyadari bagaimana ucapan sederhananya mempengaruhi Jongin.
"Pada sisi lain, aku mengerti ketika wanita diperkenalkan untuk memberikan oral seks itu akan memberi dampak besar, apakah dia akan menikmati atau tidak dalam jangka panjang, jadi aku harus benar-benar mempertimbangkan hal ini."
"Aku tahu," bisik Jongin. Dia tidak percaya mereka melakukan percakapan ini. Ia belum pernah memikirkan bagaimana cara melakukannya... tapi kejantanan Sehun… luar biasa. Tatapan Jongin bertemu dengan tatapan Sehun dan melihat Sehun mengamati wajahnya.
"Aku membuatmu bingung," kata Sehun, mendesah. "Seperti yang kukatakan, aku tidak ingin menghancurkanmu. Terutama sejak aku membayangkan kau memasukkan kejantananku ke dalam mulutmu saat pertama kali aku melihatmu. Aku menginginkan itu sesering mungkin, Jongin, dan aku lebih suka jika kita berdua saling memuaskan."
Jongin merona tak terkendali. Krim itu mulai terasa geli dan terbakar di klitotisnya.
"Ok," kata Jongin.
"Berlutut," kata Sehun singkat.
Sehun menyangga pundaknya sementara ia berlutut, karena pergelangan tangan Jongin tertahan di belakang tubuhnya. Jongin menengadah dan menelan dengan berat. Wajahnya langsung berada di depan selangkangan Sehun. Kenapa dia tidak menyadari kancing yang tidak biasa di celana hitam yang Sehun pakai? Ia terlalu asyik menatap dada telanjang Sehun—dan sesuatu yang diambil dari tas—untuk mengamati penutup celana persegi di atas ereksi Sehun. Jongin mengamati, terpesona. Saat dia membuka beberapa kancing dan penutup itu merosot.
Sehun meraih celana pada kaki kirinya dan mencabut batang ereksinya.
Sehun menjatuhkan selembar kain ke ranjang, sesuatu yang baru saja Jongin sadari, karena ia hanya beberapa inci dari ereksinya yang bebas dan bolanya. Dia begitu keras, tidak sekeras seperti yang ia lihat pada saat yang lalu tapi tetap terangsang. Dia begitu indah.
TBC
